Lelaki itu menatap Hankyung lalu mengalihkan pandangan ke api yang menyala, membakar tumpukan dedaunan kering yang sudah dikumpulkan oleh tukang kebun. Di balik tumpukan daun-daun itu, ada tas cokelat Kyuhyun yang berisi pakaiannya.
"Jangan sampai ada yang tersisa, pastikan itu." gumamnya tegas.
Hankyung menganggukkan kepalanya, "Baik, Tuan Andrew."
Lelaki itu mengernyit mendengar panggilan itu, lalu tertawa terbahak-bahak, "Betapa aku merindukan panggilan itu. Dan hanya kau, Hankyung, pelayanku yang setia yang berani memanggilku seperti itu."
"Saya selalu setia kepada anda berdua." Jawab Hankyung, suaranya masih datar. Andrew tersenyum lambat-lambat, kebiasaannya, kalau dia ingin memerangkap seseorang.
"Benarkah? Mungkin kau memang setia pada Siwon. Tapi padaku?" dengan pelan Andrew beranjak tepat di hadapan Hankyung yang mulai kehilangan topeng datarnya, pelayan tua itu mulai kelihatan gelisah.
"Saya setia kepada anda berdua, saya pastikan itu." jawab Hankyung cepat-cepat.
"Kau memang harus setia kepadaku," gumam Andrew dengan nada malasnya yang biasa,
"Karena kalau tidak... Aku akan marah. Dan kalau aku marah... Ah tidak perlu kujelaskan, kau sudah tahu bukan?" Andrew tersenyum sangat manis.
Wajah Hankyung pucat pasi, keringat dingin mulai mengalir di pelipisnya. Dia tidak suka kalau harus terpaksa mendampingi dan berbicara dengan tuannya yang satu ini. Rasanya seperti berhadapan dengan serigala buas, yang memutuskan untuk bermain-main dulu sebelum memangsa korbannya.
Ah... Kenapa Tuan Siwon tidak muncul-muncul?
"Saya bersumpah tidak akan berkhianat." gumam Hankyung akhirnya.
Andrew terkekeh. "Ya... Ya... Karena kalau tidak, aku akan pastikan tidak akan ada yang selamat dari kecelakaan yang kedua kalinya," Andrew menoleh, senyumnya hilang dan menatap Hankyung tajam, "Kecelakaan yang pertama itu hanyalah peringatan. Menunjukkan apa yang bisa kulakukan kepada keluargamu kalau kau sampai berani berulah lagi, tapi aku tidak akan main-main pada kecelakaan yang kedua, kau tentunya mengerti kan?"
Hankyung mengernyit, lalu cepat-cepat menganggukkan kepalanya. Anak gadisnya dan menantunya mengalami kecelakaan parah di jalan pulang menuju rumah mereka tiga tahun lalu. Sebuah mobil dengan sengaja menabrakkan diri ke mobil mereka. Pengemudi mobil itu mati seketika, tetapi anak dan menantunya bisa diselamatkan meskipun terluka parah. Dan semua itu terjadi setelah Hankyung mencoba mengingatkan kakek Kyuhyun bahwa ada bahaya yang mengintai cucu mereka.
Senyum Andrew muncul lagi melihat kernyitan Hankyung , dia lalu menatap Hankyung ramah, "Bukankah kau seharusnya berterimakasih padaku karena kebaikan hatiku?" gumamnya ramah.
Hankyung segera menganggukkan kepalanya, takut kalau dia tidak segera menjawab, tuannya yang menakutkan ini akan marah, "Te... Terima kasih Tuan Andrew ."
Andrew terkekeh mendengarnya, tampak puas. "Dan kudengar anak perempuanmu baru saja melahirkan seorang bayi laki-laki ya? Cucu pertamamu?"
Hankyung langsung pucat pasi begitu Andrew mengucapkan hal itu di depannya. Tidak mungkin kan tuannya ini tega menyakiti bayi kecil yang tidak berdaya? Tapi Hankyung kemudian menatap mata yang bersinar keji itu dan menyadari kalau Andrew pasti mampu melakukannya. Lelaki ini tidak punya setitikpun belas kasihan di hatinya.
"Saya bersumpah akan setia kepada anda Tuan Andrew . Tapi saya mohon, jangan sakiti cucu saya. Dia masih kecil."
"Hei... Kau menghinaku," Andrew terkekeh, "Aku sedang berpikir untuk mengirimkan kartu ucapan dan hadiah untuk anak dan cucumu. Lagipula kau tidak berpikir aku tega menyakiti anak kecil bukan?" Hankyung menatap Andrew dan bulu kuduknya berdiri. Andrew mampu, dan dengan kata-katanya yang tersirat itu, Andrew memastikan kalau Hankyung tahu bahwa Andrew mampu menyakiti anak kecil yang paling tidak berdosa sekalipun.
"Bagus," Andrew tampak puas dengan sikap diam Hankyung , "Aku ingin kau setia kepadaku, bukan kepada Siwon." Andrew merenung lalu menatap tas pakaian Kyuhyun yang terbakar habis, "Menjijikkan sekali pakaian itu, pakaian murah yang membuat kecantikan Namjaku lenyap," tiba-tiba Andrew menoleh kepada Hankyung, "Kau juga berpendapat begitu bukan?"
Hankyung langsung mengangguk.
"Ibunya, perempuan murahan itu memperlakukan anaknya dengan sangat buruk, ibu paling pendengki yang pernah aku tahu, dan menurutku..." api di mata Andrew menyala, "Ibu semacam itu sebaiknya tidak ada di dunia ini."
Hankyung makin pucat ketika melihat api di mata itu. Itu api yang sama yang muncul ketika Tuan Andrew memerintahkan untuk melenyapkan orang-orang yang tidak berdoa, untuk Jin-Ri . Apapun yang direncanakan Tuan Andrew padanya, Hankyung berharap agar Tuan Siwon bisa membujuk Tuan Andrew untuk membatalkannya. Kalau itu tidak berhasil, yah... semoga Tuhan melindungi Jin-Ri.
Ruang makan itu kosong. Sarapan hangat sudah disiapkan di meja, dan belum tersentuh sekalipun. Kyuhyun mengernyit, tadi Siwon mengatakan akan menunggunya sarapan, tapi kenapa ruangan ini kosong? Lagipula di mana ibunya?
"Kau Indah sekali." Sekali lagi, suara itu mengejutkan Kyuhyun hingga kyuhyun langsung memutar badannya, dia berhadapan dengan Siwon yang baru memasuki ruangan. Siwon berhenti dan menatap lekat-lekat ke arah Kyuhyun, dari ujung kepala sampai ujung kakinya,
"Ah...maaf, sekali lagi aku mengejutkanmu." Siwon tersenyum, "Baju itu cocok untukmu." sambungnya.
Kyuhyun menundukkan kepalanya, "Te... Terima kasih." gumamnya pelan lalu menengok ke arah pintu. Tidak ada tanda-tanda kehadiran Jin-Ri di sana.
"Jin-Ri tidak pernah sarapan, dia terbiasa bangun siang, kesibukannya sebagai artis sudah mengubah pola tidurnya," gumam Siwon tenang. Lalu mendahului kyuhyun ke meja makan, "Duduklah, kita sarapan bersama, banyak yang ingin kutanyakan kepadamu."
Dengan patuh Kyuhyun duduk, aura lelaki ini berubah. Kali ini aura berwibawa dan penuh kharisma, bukan aura menakutkan seperti tadi pagi. Mereka menyantap sarapan dalam diam sampai Siwon membuka percakapan, "Selama ini kau dirawat oleh kakek dan nenekmu?"
Kyuhyun mengerjap mendengar pertanyaan itu. "Iya... Jin-Ri terlalu muda ketika melahirkan saya. Jadi kakek dan nenek saya mengambil alih tugas untuk membesarkan saya," Kyuhyun tersenyum, membayangkan kakek neneknya, "Saya tidak menyesalinya, mereka pengganti orangtua yang terbaik."
Siwon ikut tersenyum lembut melihat ekspresi Kyuhyun, "Kau pasti sangat menyayangi mereka."
Kyuhyun mengangguk, "Tentu saja."
"Kenapa kau memanggil ibumu dengan Jin-Ri? Kenapa bukan 'ibu atau mama'?" Siwon bertanya dengan cepat, membuat tangan kyuhyun yang sedang mengarahkan sendok ke mulutnya membeku. Pengalihan topik pembicaraan secara mendadak itu sejenak membuat Kyuhyun terpaku bingung, tetapi dia segera menemukan jawaban,
"Ah... Mungkin karena saya kurang begitu dekat dengannya. Anda tahu. Kami jarang bertemu, dan usia kami cukup dekat hingga rasanya aneh kalau saya memanggilnya ibu," Kyuhyun berbohong, dan entah kenapa dia merasa kalau Siwon tahu bahwa Kyuhyun berbohong.
"Anak baik," gumam Siwon sambil menyesap kopinya, tapi matanya menatap lekat ke arah kyuhyun, "Kau melindungi ibumu meskipun ibumu sama sekali tidak peduli padamu. Aku tahu kalau Jin-Ri tidak mau dipanggil ibu olehmu, dia tak mau terdengar begitu tua karena ada Pria seumurmu memanggilnya dengan sebutan ibu," Siwon langsung melemparkan kebenaran telak itu ke hadapan kyuhyyun. Membuat Namja itu tidak mampu berkata apa-apa.
"Katakan," sambung Siwon sambil meletakkan cangkir kopinya, "Apakah kau menyayangi ibumu?"
Kyuhyun langsung mengangguk. "Tentu saja, meskipun kami tidak terlalu akrab. Dia tetap ibu saya."
Wajah Siwon tampak datar mendengar jawaban itu. "Lalu, kalau misalnya terjadi sesuatu pada ibumu, akankah kau merasa sedih?"
Kyuhyun mengernyit. Sekali lagi laki-laki di depannya ini melemparkan pertanyaan yang begitu aneh. "Tentu saja." jawabnya langsung.
Siwon terdiam, tampak berpikir, lalu menarik napas. "Apapun yang terjadi nanti, kau harus tahu bahwa kesedihanmu adalah hal terakhir yang kuinginkan." gumamnya pelan. Lalu melanjutkan menyantap sarapannya dalam keheningan.
Sementara itu di ujung meja yang satunya Kyuhyun sibuk berpikir, menelaah semuanya. Pertanyaan-pertanyaan Siwon benar-benar membuatnya kebingungan, dan kalimat terakhir Siwon tadi... Apa maksudnya?
Jin-Ri terbangun hampir menjelang siang, dia segera mandi dan berdandan secantik mungkin. Hatinya berbunga-bunga. Matanya memandang sekeliling kamarnya, kamar ini mewah, bukan yang terbaik memang, Jin-Ri mendengus, tapi kemudian segera tersenyum lagi.
Sebentar lagi. Dia hanya harus bersabar sebentar lagi, lalu dia akan menempati kamar terbaik di rumah ini : Kamar Siwon .
Seulas senyum puas tersungging di bibirnya, membayangkan masa depannya nanti. Hidupnya akan dipenuhi kemewahan, dan suaminya nanti. Jin-Ri menyeringai di cermin, suaminya adalah lelaki yang akan membuat wanita-wanita lain mati karena cemburu pada adalah calon suami paling potensial untuknya, dia melihat lelaki itu dalam acara amal yang kebetulan mengundang Jin-Ri sebagai artis pengisi acara di sana. Saat melihat Siwon pertama kalinya, Jin-ri langsung terpesona dan memutuskan untuk mencoba merayu.
Ternyata perasaannya tidak bertepuk sebelah tangan, Siwon juga tertarik kepadanya, dan tiga bulan setelah mereka menjalin hubungan, lelaki itu melamarnya. Tentu saja Jin-Ri tidak menolak. Hanya wanita bodoh yang akan menolak lamaran lelaki seperti Siwon .
Well ...Cuma ada satu permasalahan, Siwon selalu menolak tidur dengannya, padahal Jin-Ri sudah jelas-jelas memberikan isyarat bersedia lebih dari sekedar bercumbu secara panas. Lagipula, bagi Jin-Ri , jika mereka tidur bersama, ikatan mereka bisa lebih kuat. Jin-Ri perlu memastikan bahwa Siwon tidak akan meninggalkannya sampai ikatan mereka sah dalam pernikahan nanti. Tapi Siwon benar-benar tak tergoyahkan, lelaki itu hanya mencumbu Jin-Ri dengan keahliannya yang membuat Jin-Ri hampir gila, tetapi selalu mundur ketika hampir melewati batas.
Malam ini aku harus berhasil mengajaknya tidur denganku.
Jin-Ri bukan orang suci, dan dia tidak pernah berpura-pura sebagai orang suci. Reputasinya sebagai aktris sudah penuh dengan berbagai skandal dan gosip perselingkuhan. Tujuh tahun sejak kebodohannya yang melahirkan seorang anak yang sama sekali tidak diinginkannya, dia menikah lagi dengan seorang pejabat kaya yang kemudian diceraikannya setelah dua tahun pernikahan. Perceraian yang menghebohkan karena marak dengan spekulasi perselingkuhan dan tuduhan- tuduhan lainnya. Jin-Ri mengerucutkan bibirnya yang indah, waktu itu dia memang selingkuh. Yah suaminya waktu itu sudah tua, sedangkan dia masih muda dan cantik. Jadi wajar-wajar saja kan kalau dia selingkuh? Setelah perceraiannya itu, dia hidup dengan bebas dan bahagia, sampai dia bertemu Siwon. Pria yang akan mewujudkan seluruh impiannya untuk menjadi ratu yang akan membuat iri semua orang.
Setelah mengenakan gaun merahnya yang paling sexy, jin-Ri melangkah keluar kamar dan melalui lorong yang sepi untuk mencari Siwon
Siwon pasti akan terpesona dengan kecantikanku.
Senyum Jin-Ri makin membuncah penuh percaya diri. Dengan langkahnya yang gemulai dia melewati lorong demi lorong rumah mewah itu menuju ruang kerja Siwon.
"... Harus menyiapkan yang terbaik untuk Tuan Kyuhyun."
Langkah Jin-Ri langsung terhenti mendengar suara itu.
"Itu instruksi langsung dari Tuan Siwon, semua harus yang terbaik untuk Tuan kyuhyun. Apakah kiriman sepatu-sepatu dan pakaian yang dipesan kemarin sudah datang?"
Suara itu… Jii-ri mengernyit, itu suara Hankyung , Kepala pelayan di rumah ini. Tapi apa Jin-Ri tidak salah dengar? Yang terbaik untuk kyuhyun?Kyuhyun?
Dan apa yang dia dengar tadi? Sepatu- sepatu dan pakaian? Jin-Ri langsung tersenyum lebar. Calon suaminya itu pasti berniat untuk memberinya kejutan , dengan memberi sesuatu seolah-olah untuk Kyuhyun! Ah! Siwon memang benar-benar mencintainya.
Dengan senyum lebar, otak Jin-Ri berputar….. dia punya rencana. Dia harus membuat Siwon lebih mencintainya lagi sehingga tidak bisa hidup tanpanya. Malam nanti, dia akan menyusup ke kamar Siwon dengan gaun malam sexy dan menyerahkan dirinya. Siwon pasti tidak akan menolak lagi. Tidak pernah ada yang menolak pesona Jin-Ri sebelumnya
Jin-Ri mematut dirinya di cermin terakhir kali sebelum melangkah keluar kamar, mau tak mau dia mengagumi kecantikannya sendiri. Rambutnya yang diwarnai kemerahan oleh salon ternama tergerai panjang dan berkilauan indah, kulitnya yang sangat halus bagai sutera – hasil perawatan salon ternama – tampak bercahaya dan lembut. Wajahnya sangat cantik, semua orang mengakuinya. Di usianya yang ke-36, Jin-Ri telah mencapai puncak sebagai wanita matang dan percaya diri. Dia sudah berpengalaman menaklukkan hati lelaki, dan malam ini dia bertekad menaklukkan Siwon.
Setelah mengenakan jubah kamar tipisnya, pelengkap gaun tidurnya yang sexy, Jin-Ri melangkah keluar kamar diam-diam. Saat itu tengah malam, lorong itu bercahaya temaram, dan dengan senyum sensual, membayangkan apa yang akan terjadi nanti, Jin-Ri melangkah menuju kamar Siwon .
Diketuknya kamar itu pelan, tidak ada jawaban. Dengan ragu Jin-Ri memegang handle pintu dan mencoba membukanya. Tidak dikunci. Apakah Siwon masih di ruang kerjanya?
Pikiran itu membuat Jin-Ri tersenyum. Kalau begitu kejutannya akan berjalan sempurna. Dia akan berbaring di ranjang dengan pose sexy, dan ketika Siwon memasuki kamar lalu melihatnya, pasti akan senang sekali.
Jin-Ri masuk ke dalam kamar Siwon, lalu menutup pintu di belakangnya. Kamar itu gelap dan temaram, Jin-ri mengernyit menyadari bahwa ini pertama kalinya dia masuk ke kamar calon suaminya itu. Diedarkannya pandangannya ke sekeliling ruangan. Kamar ini luas, mewah, dan indah. Tetapi terlalu 'laki-laki'.
Jin-Ri mencibir, begitu mereka menikah nanti, hal pertama yang harus dilakukannya adalah mendekor ulang kamar ini. Karpet Persia mahal warna emas akan dipasangnya di lantai untuk menggantikan karbet bulu warna abu-abu yang sekarang diinjaknya. Dia pasti akan mendekor ulang kamar ini hingga tampak seperti kamar raja dan ratu.
Dengan puas Jin-Ri melangkah mengelilingi ruangan, memikirkan perubahan-perubahan apa yang akan dilakukannya. Sampai ketika dia melangkah ke meja kayu di samping ranjang Siwon , langkahnya terhenti.
Tumpukan album foto?
Tertarik, Jin-Ri membuka album foto yang sangat tebal itu. Ada kira-kira delapan album foto di sana, dengan sampul kulit yang sangat tebal dan berukuran besar. Dan foto-foto yang ada di dalam album itu membuat Jin-Ri ternganga.
Album foto itu penuh dengan gambar-gambar Kyuhyun! Ada Kyuhyun yang sedang berjalan di trotoar sambil membawa keranjang belanjaan, Kyuhyun yang sedang duduk dan minum teh di sebuah rumah makan, Kyuhyun yang sedang menyapu di depan rumah, Kyuhyun yang sedang bercakap-cakap dengan seorang ibu setengah baya di tepi ranjang...
Jin-Ri membuka semua album foto itu. Kedelapan-delapannya, dan wajahnya langsung pucat pasi. Delapan album foto itu, semuanya berisi foto Kyuhyun sejak dia masih kanak-kanak sampai sekarang!
Ada apa ini? Kenapa Siwon punya album foto seperti ini? tangan Jin-Ri mulai gemetaran.
Dan tiba-tiba saja suara itu terdengar dari belakangnya, "Ada yang bilang, kalau kau lancang memasuki teritorial terlarang seseorang karena rasa ingin tahu yang berlebihan, maka keingintahuanmu itu bisa membunuhmu."
Suara itu begitu dingin, berbisik seperti dihembuskan angin, tapi seperti petir di telinga Jin-Ri . Dia begitu terperanjat hingga menjatuhkan salah satu album foto itu ke lantai dengan suara berdebum keras. Siwon ada di sana, muncul begitu saja dari kegelapan, matanya menatap Jin-Ri lalu beralih ke album foto yang tergeletak di lantai, wajahnya tampak tidak senang.
"Sebelum kita berbicara," suaranya lembut mengalir, "Maukah kau ambil album foto di lantai itu dan meletakkannya kembali di meja, sayang?"
Menakutkan...
Itulah pikiran pertama yang terlintas di pikiran Jin-Ri ketika mendengarkan suara Siwon. Suara itu biasa saja, diucapkan dengan sangat lembut, tetapi entah kenapa terasa menakutkan.
Siwon bilang apa tadi? Ah ya! Album foto...
Dengan sedikit gemetar, Jin-Ri mengambil album foto itu dan meletakkannya kembali di tersenyum puas melihatnya, dan tersenyum. "Siwon…. Apa maksud semua ini ? Kenapa kau…"
"Stttt..." masih tetap tersenyum Siwon meletakkan telunjuk di bibirnya sendiri, meminta Jin-Ri untuk berhenti bersuara, "Saat aku bilang kita akan berbicara, berarti aku yang akan berbicara, bukan kau sayang."
Bibir Jin-Ri gemetar, gelisah, dan bulu kuduknya tetap merinding. Kenapa Siwon terasa berbeda? Padahal di matanya penampilan Siwon tampak sama, begitu tampan, tetapi lelaki ini terlalu penuh senyum. Senyum yang aneh... sedikit keji, dan auranya begitu berbeda.
"Bertanya-tanya ya, Jin-Ri sayang?" Siwon terkekeh pelan. Jin-ri menggeleng, lalu mengangguk, kebingungan, membelalakkan matanya dan mencoba membuka mulut untuk bersuara. "Sttttt..." Siwon meletakkan telunjuk di bibirnya lagi, "Kita tidak mau membangunkan seisi rumah kan? Ini sudah tengah malam." suara Siwon berbisik, matanya penuh canda, seperti anak kecil yang mengajak temannya berkompromi melakukan suatu kenakalan rahasia.
Mau tak mau Jin-Ri menahan suaranya, menunggu. Suasananya begitu menekan, menakutkan, sementara Siwon terus berdiri di situ menatapnya dengan senyum manisnya yang terlalu manis.
"Sebenarnya ini di luar rencana. Aku tidak ingin melakukan semuanya secepat ini." Lelaki itu melirik ke album foto di meja kayu itu, "Siwon akan marah, tapi seperti kubilang tadi, ketika rasa ingin tahumu membawamu memasuki teritorial terlarang, Kau… bisa... terbunuh." kata-kata terakhir itu diucapkan dengan penuh penekanan.
Jin-Ri mengernyit, Siwon akan marah? Apa maksudnya, bukankah lelaki yang sedang berbicara dengannya ini adalah Siwon? Apa maksud kata-kataSiwon tadi? Jin-ri mencoba mencerna, tetapi otaknya yang gelisah tidak bisa diajak berpikir.
"Kita harus memikirkan sesuatu, jalan keluar dari permasalahan ini," Siwon bersedekap. Pura-pura serius, "Kita bisa memakai pisau, tapi darahnya terlalu banyak, dan aku sedang tidak ingin repot-repot membersihkan darah yang berceceran. Lagipula aku harus menggali lubang untuk mengubur mayat di belakang. Hm…. Tidak, pisau terlalu merepotkan. Harus memakai cara lain." Dahi Siwon berkerut seolah berpikir, "Harus dibuat seperti kecelakaan." tiba-tiba Siwon menatap tajam ke arah Jin-Ri sambil tersenyum, lalu melangkah maju mendekatii Jin-Ri.
Otomatis Jin-Ri melangkah mundur, tapi terhenti karena menabrak meja di belakangnya.
"Bagaimana JIn-Ri ? Aku mendapat ide bagus, kecelakaan dengan tersetrum di dalam bathtub sepertinya menyenangkan. Tidak ada darah, paling cuma sedikit kesakitan. Tapi aku harus merelakan bathtub di salah satu kamarku tidak dipakai selamanya," dahi Siwon berkerut seperti tidak senang karena bathtubnya tidak akan bisa dipakai selamanya. Lalu dia tersenyum lebar seperti mendapatkan ide cemerlang, "Ah! Ya, aku tahu. Jatuh dari tangga. Rasa sakitnya sedikit, paling hanya kesakitan ketika tangan atau kaki patah, dan ketika kepala menyentuh lantai dengan keras, tidak ada kesakitan lagi karena nyawamu akan langsung melayang. Kita harus berharap nyawamu langsung melayang karena kalau tidak kesakitannya akan tidak tertahankan. Hm...banyak darah mungkin, tapi aku bisa mengatasinya,"
"Siwon ... kau sedang bicara apa?" suara Jin-Ri terdengar berbisik, sedikit tercekik di tenggorokan karena ngeri. Kata-kata Siwon yang panjang dan lebar itu begitu mengerikan, dan tidak ada korelasinya dengan apa yang seharusnya mereka bicarakan.
Siwon menatap langsung ke mata Jin-Ri , makin mendekat, senyum tidak pernah hilang dari bibirnya. "Membicarakan apa katamu? Jin-Ri, kau ini bodoh atau apa?" Lelaki itu menggeleng-gelengkan kepalanya, berpura-pura kebingungan, "Aku maklum, semua artis biasanya bodoh." Siwon sudah berdiri satu langkah tepat di depan Jin-Ri, tangannya terulur meraih pipi Jin-Ri dan mengusapnya lembut, "Ah…Jin-Ri sayang, tentu saja aku sedang membicarakan cara kematianmu."
Wajah Jin-Ri pucat pasi, shock. "Apa?"
"Hmmm,"Siwon menggeleng-gelengkan kepalanya dengan dahi berkerut seperti sedang memarahi anak kecil, "Kau sudah mendengarnya dengan jelas tadi. Aku tidak mau mengulang lagi, sayang."
"Siwon," Jin-Ri mulai merengek, kalau saat ini Siwon sedang bercanda, maka candanya sudah keterlaluan. Jantung Jin-Ri seperti mau meledak karena ketakutan.
"Siwon," Lelaki itu menirukan rengekan Jin-Ri dengan nada mengejek. "Panggil saja nama itu terus, tidak akan berhasil, kau sedang tidak beruntung sayang, karena sekarang kau harus berhadapan denganku." gumam Siwon misterius.
Entah karena tatapan Siwon yang keji, entah karena nada suara Siwon, detik itulah Jin-Ri sadar kalau Siwon tidak main-main, lelaki ini benar-benar akan membunuhnya!
Jin- Ri berusaha melangkah dan berlari, tapi dengan mudah Siwon menahannya, tiba-tiba Jin-Ri menyadari ada sesuatu yang berkilat di tangan kiri Siwon, itu…. Sebuah pisau!
"Well. Ya...Ini memang pisau, kalau kau bertanya-tanya," Siwon mengangkat pisau yang kelihatan sangat tajam itu ke depan wajah jin-Ri , membuat Jin-Ri memejamkan matanya dengan ngeri, "Kalau kau mencoba mengusik kemarahanku, aku terpaksa menggunakan pisau ini. Bukan masalah karena pada akhirnya kau akan mati juga, tapi kau tahu tidak," senyum Siwon tampak lambat-lambat dan puas, "Tertusuk dengan pisau rasanya sangat menyakitkan," Mata Siwon berkilat-kilat senang, "Pada awalnya, ketika perutmu tertusuk oleh pisau ini, tidak akan terasa sakit, tapi ketika aku mencabutnya, mungkin sambil membawa sebagian organ dalammu keluar. Sakitnya tidak tertahankan, tapi tentu saja aku tidak akan berhenti di situ, aku akan menghujamkan lagi, mencabutnya lagi. Terus menghujamkan dan mencabut pisau itu berkali-kali, dan ketika aku selesai, percayalah... kau akan lebih memilih jatuh dari tangga."
Seluruh tubuh Jin-Ri gemetar oleh rasa ngeri mendengar penjelasan gila Siwon itu. "Kau tidak akan berani melakukannya! Polisi… polisi akan…"
"Oh, apa aku lupa bilang soal mengubur mayat di kebun belakangku yang begitu luas?"
Wajah Jin-ri pucat pasi, "Kalau aku menghilang begitu saja, polisi akan mencariku!" Jin-Ri mencoba mengancam.
"Aku punya banyak koneksi untuk mencegah hal-hal semacam itu terjadi, sedikit uang di sana sini, dan kau akan berakhir dengan cerita 'Artis Park Jin-Ri kabur keluar negeri setelah meninggalkan calon suaminya yang kaya raya sebelum pernikahan mereka, dan membawa kabur koleksi perhiasan yang tak ternilai harganya dari rumah calon suaminya itu," Siwon mengernyit, "Meskipun kalau memang harus terjadi seperti itu, nantinya akan sedikit merepotkanku. Oleh karena itu demi kebaikan kita, sebaiknya kita lebih memilih 'tangga'." Senyum mempesona Siwon muncul lagi, "Bukankah kau harus berterimakasih karena aku begitu baik hati?"
Wajah Jin-RI pucat pasi. Berterimakasih? Apa maksud Siwon ? Pria ini tersenyum begitu manis, tetapi tatapannya begitu keji seperti orang gila, dan Jin-Ri yakin Siwon tidak segan-segan melakukan apapun yang tadi dideskripsikannya dengan begitu mengerikan,
"Siwon ," air mata mulai muncul di sudut mata Jin-Ri mengalir melewati pipinya, "Aku tidak tahu apa yang terjadi, tapi kau menakutiku… ada apa ini sebenarnya?"
Dengan santai, Siwon mengambil dasinya, lalu mengikatnya di bibir Jin-RI yang lunglai pasrah dibungkam mulutnya. Bagaimana mungkin dia berani memberontak kalau pisau tajam yang berkilauan itu teracung-acung di mukanya? Siwon mengamati hasil ikatannya, tersenyum puas melihat Jin-Ri tidak bisa berbicara. Kelihatan senang melihat air mata mengalir di pipi Jin-Ri ,
"Hmmm…. Karena kau tidak mau berterimakasih, lebih baik aku mengikat mulutmu, dengan begitu kau tidak perlu berbicara. Aku muak mendengar suaramu, kau tahu itu? Aksen mendesahmu yang dibuat-buat itu menjijikkan di telingaku, kau pikir kau seksi sekali ya?" Siwon mencibir, dan berbisik di telinga Jin-Ri . "Lagipula aku tidak suka kau memanggilku dengan nama Siwon. Kau bisa memanggilku dengan nama Andrew , sayang," Lelaki itu dengan lembut mengusap air mata yang mengalir di pipi JIn-Ri , mata Jin-Ri membelalak, bingung dengan perkataan Siwon barusan, "Aahh kasihan… Kau ketakutan sekali ya, sayang? Aku tak bermaksud membuatmu begitu ketakutan. Tapi kau tahu aku memang terlalu banyak bicara kalau sedang senang, maafkan aku ya?" dengan lembut Siwon mengecup dahi Jin-Ri. Lalu mendorong Jin-Ri pelan-pelan keluar ruangan, menempelkan pisau yang dingin dan keras itu di pinggangnya.
Mereka melewati lorong-lorong remang-remang itu, dan Jin-ri berdoa sepenuh hati, mengedarkan pandangannya ke sekeliling dengan gelisah dan ketakutan.
Kumohon! Siapa Saja! Selamatkan aku!
Tapi doanya sia-sia, rumah itu begitu sepi dan senyap. Sampai mereka berdua berdiri di ujung tangga yang mengarah turun ke pintu utama di bawah. "Ada kata-kata terakhir?" Siwon terkekeh, "Ah! aku lupa, mulutmu diikat ya?" dengan lembut Siwon melepas ikatan di mulu Jin-Ri.
Saat ikatan di mulutnya terlepas, Jin-Ri bertekad untuk berteriak sekeras-kerasnya, membangunkan seisi rumah ini, meminta pertolongan. Tetapi dia baru membuka mulutnya ketika merasakan tubuhnya melayang ke bawah. Siwon sudah mendorongnya.
Tubuhnya terlempar ke bawah melayang-layang sebentar, lalu terjatuh dengan keras. Bunyi tulang-tulang patah berderak terdengar di telinganya disertai rasa sakit yang amat sangat. Bau anyir darah mulai tercium. Terasa hangat dan nyeri menyebar tanpa henti dari belakang kepalanya.
Tapi tidak seperti kata Siwon sebelumnya, rasa sakit itu tidak langsung lenyap, Jin-Ri masih sadar! Dan rasa sakit yang menyerangnya sangat luar biasa, sungguh tak tertahankan lagi. Jin-ri masih bisa mendengar langkah kaki Siwon yang menuruni tangga pelan-pelan lalu membungkuk di atasnya.
"Ah…. Masih hidup?" Siwon tersenyum, mengamati posisi Jin-ri yang terlentang dengan aneh, tangan, dan kakinya tertekuk dengan posisi berlawanan, patah dengan tulang mencuat di kedua sisi. Dan darah segar mengalir dari bagian belakang kepalanya, mulai menggenang membasahi rambutnya, "Jin-ri yang malang, sungguh tidak beruntung, kasihan sekali..." Siwon menggeleng-gelengkan kepalanya pura-pura iba, lalu sekali lagi terkekeh sambil mengamati Jin-ri penuh rasa humor.
Jin-ri mencoba bicara, tapi hanya suara erangan yang terdengar dari tenggorokannya, dia terbatuk dan seketika itu juga darah segar menyembur dari mulutnya, menyembur tanpa henti, menyakitkan sekali, sampai kemudian telinganya mulai berdenging. Jin-Ri mencoba menatap Siwon, mempertahankan kesadarannya. Lelaki itu masih berdiri di sana, tersenyum manis, mengucapkan 'adios' -selamat tinggal- dengan lembut, tetapi kemudian kegelapan itu mulai melingkupinya, menariknya ke dalam pusaran tak tertahankan. Dan benar kata Siwon tadi, semuanya hilang... Semuanya lenyap...
T.B.C
See you…
