FROM THE DARKEST SIDE 4

BY SANTHY AGATHA

Pagi itu diawali dengan teriakan histeris seorang pelayan, dan kemudian semuanya berjalan dengan begitu membingungkan bagi Kyuhyun.

Dia terbangun karena teriakan itu, dan langsung keluar kamar, mencoba mencari tahu apa yang terjadi. Di pintu, dia berpapasan dengan Siwon yang sepertinya terbangun juga oleh jeritan itu, bersama-sama dengan beberapa pelayan lain mereka melangkah ke arah jeritan dan keributan yang mulai terdengar,

"Apa-apaan ini?", Siwon melangkah di depan Kyuhyun, jelas sekali jengkel dengan keributan yang mengganggu tidurnya. Lalu di ujung tangga langkahnya mendadak terhenti hingga Kyuhyun menabrak punggungnya,

"Oh Tuhan! Tidak…", Siwon berusaha mencegah Kyuhyun menengok, "Jangan lihat "

Tapi Kyuhyun sudah terlanjur melihat, …..di bawah sana, di ujung paling bawah tangga, ibunya terlentang dengan posisi aneh. Tangan dan kakinya patah, mencuat ke arah yang berlawanan, darah menggenang di belakang kepalanya, di mulutnya, di wajahnya, di dagunya hingga membasahi gaun tidur putihnya….. dan matanya melotot…. Penuh dengan ketakutan…

Tubuh Kyuhyun langsung lunglai, hingga Siwon harus menopangnya.

"Telepon polisi", Kyuhyun lamat-lamat mendengar suara Siwon memberi perintah kepada beberapa pelayan yang mulai berkerumun, "Panggil dokter!", perintah Siwon lagi… lalu kemudian kesadaran Kyuhyun menghilang.

Kyuhyun terbangun di kamarnya, dengan dokter membungkuk di atasnya, memeriksanya, tampak lega ketika melihat dia sadar,

"Dia sudah sadar Tuan Siwon".

Lalu Siwon mendekat, tampak pucat dan cemas,

"Kau tidak apa-apa?", kecemasan tampak jelas di matanya, emosi pertama yang dilihat Kyuhyun dari Siwon sejak perkenalan pertama mereka.

"Jin-Ri….", suara Kyuhyun menghilang.

Siwon menggenggam kedua tangan Kyuhyun, tampak sedih,

"Aku menyesal Kyuhyun, aku sangat sangat menyesal….. Aku tidak tahu kenapa semua ini bisa terjadi, polisi ada di bawah… dan menurut mereka Jin-Ri terpeleset di tangga, mungkin dia mengantuk….. aku…..", suara Siwon tampak tertelan, "Aku…. menyesal Kyuhyun"

Kyuhyun mengamati kesedihan di mata Siwon dan air mata mengalir di matanya.

Ibunya telah tiada. Seberapapun buruknya hubungan mereka berdua, Jin-Ri tetap ibunya, dan Kyuhyun masih selalu menyimpan harapan kalau suatu saat nanti ibunya akan mencintainya. Sekarang Jin-Ri telah tiada, dan harapan Kyuhyun seolah-olah dipadamkan dengan kejam.

Tangis Kyuhyun muncul, semula hanya isakan pelan, tapi makin lama makin keras tak tertahankan, dan Siwon langsung memeluknya menenangkannya. Mereka berdua berpelukan dalam kesedihan

Siwon melangkah memasuki kamarnya, letih. Kyuhyun sudah tidur, dokter terpaksa memberikan obat penenang karena Kyuhyun tidak henti-hentinya menangis.

Polisi sudah membawa jenazah Jin-Ri ke rumah sakit untuk pemeriksaan lebih lanjut. Para pelayan langsung bergerak cepat dengan instruksi Hankyung, karpet yang penuh darah langsung diganti dan disimpan bersama barang-barang lain yang diminta, untuk diserahkan kepada pihak kepolisian. Selain itu semuanya di bersihkan, barang-barang Jin-Ri yang masih tersimpan di kamarnya dibereskan dan dikemas dalam satu kotak. Dalam sekejap rumah itu sudah tampak seperti semula, seolah-olah tidak ada yang mati beberapa saat lalu di sana.

Sedikit masalah dengan wartawan, Siwon mengernyit. Mereka langsung berbondong-bondong mencoba mencari berita, seperti semut merubungi gula. Tapi pengamanan rumahnya yang ketat menyebabkan wartawan-wartawan itu hanya tertahan sampai pintu gerbang. Siwon hanya mengizinkan wartawan yang memperoleh kualifikasi dari kepolisian untuk meliput TKP.

Sekarang Siwon berdiri di depan cermin mengamati wajahnya dengan tajam.

Sosok di cermin itu tersenyum kejam, sedikit mengejek, sosok Andrew,

"Bravo…. Akting yang sangat hebat Siwon", gumamnya lambat-lambat penuh tawa.

"Brengsek!", Siwon memaki, tidak bisa menahan kemarahannya.

Andrew terkekeh, tidak mau repot-repot menyembunyikan kepuasannya, "Jangan marah padaku, bukankah aku menolongmu? Kau kan tahu sendiri, kemarin Jin-Ri melihat album foto yang penuh berisi foto-foto Kyuhyun sejak dia berusia delapan tahun sampai sekarang"

"Kau tidak perlu membunuhnya! ", desis Siwon geram.

Andrew mengangkat bahu, "Lalu apa yang harus kita lakukan untuk membungkam mulutnya? Kalau dia mencari tahu sedikit lebih dalam lagi, dia akan menemukan semuanya….. maksudku, semuanya Siwon… Termasuk apa yang kita lakukan pada kakek dan nenek Kyuhyun, dan kau pikir apa yang akan terjadi kalau Kyuhyun sampai tahu? Aku melepaskanmu dari kesulitan dengan mengambil jalan termudah, kau harusnya berterimakasih padaku", gumam Andrew sombong.

Siwon menatap geram pada bayangan di depannya,

"Ralat kata-katamu! Kau bilang 'Apa yang kita lakukan pada kakek dan nenek Kyuhyun'? , Kau yang melakukannya! Kau dengan kegilaanmu yang tak berperikemanusiaan, dan jangan bertingkah seolah-olah kau menyelamatkanku! Kau hanya mencoba menyelamatkan dirimu sendiri!",

Senyum Andrew tak pudar juga meski dibentak seperti itu, malah semakin lebar,

"Menyelamatkan kita berdua, ingat itu Siwon, kita berdua", gumamnya puas, membuat Siwon kehabisan kata-kata. "Aku tidak berniat melakukan itu kepada kakek Kyuhyun, tetapi dia mulai menyadari tentang kita dan hendak membawa Kyuhyun menjauh. Jadi aku harus menyingkirkannya.. mengenai nenek Kyuhyun.. dia terlalu ingin tahu, seperti Jin-Ri, mengorek-ngorek informasi mengenai kematian suaminya. Aku harus bertindak. Memangnya kau punya cara lain?"

Siwon terdiam mendengar pertanyaan Andrew, membuat tawa Andrew makin keras. "Lihat kan? kau tidak bisa membantah… seharusnya kau berterimakasih padaku", Andrew terdiam menunggu.

Tapi Siwon tak bergeming sehingga Andrew terkekeh lagi, "Ah, percuma mengharapkan terimakasih darimu", tatapan Andrew berubah tajam ketika dia mulai berpikir, "Sekarang tanpa adanya Jin-Ri, segalanya akan lebih mudah untuk mendapatkan Namjaku"

"Dia bukan Namjamu!", potong Siwon marah.

Andrew menatap Siwon penuh perhitungan, lalu tersenyum, "Cemburu Siwon? Kau juga menginginkannya kan? Aku tahu itu, tak ada yang bisa kau sembunyikan dariku, aku bisa merasakannya, perasaan ingin memiliki ketika kau menatap Kyuhyun dari kejauhan….. ", tawa Andrew membahana di ruangan itu. "Kita lihat saja nanti, akan jatuh cinta kepada siapa Kyuhyun, kepadamu dengan kekakuanmu yang membosankan itu, atau kepadaku dengan segala pesonaku".

Ucapan itu bagai sebuah janji, menggema dari sudut yang gelap, janji yang menakutkan…..

Ketika Kyuhyun terbangun, rasanya masih seperti mimpi, dia mandi, berpakaian dan berjalan seperti robot, mengernyit ketika menyadari bahwa tasnya memang benar-benar tidak ada. Dia harus pergi dari rumah ini.. segera. Selain karena dia sudah tidak sepantasnya berada di rumah ini lagi, kenangan itu…. Kenangan akan tubuh Jin-Ri yang tergeletak di bawah tangga dengan mata menyiratkan ketakutan yang amat sangat itu…..

Kyuhyun menggeleng-gelengkan kepalanya, mencoba menghilangkan pikirannya yang mulai melantur jauh. Suara gaduh di luar membuatnya tertarik, dia melangkah ke pintu dan mengintip, para pelayan tampak sibuk kesana kemari.

"Kau sudah bisa bangun rupanya"

Suara itu membuat Kyuhyun terlonjak kaget, dia menoleh, dan di sana, sambil bersandar di dinding lorong, dengan pakaiannya yang hitam-hitam, Siwon berdiri dengan menatapnya geli.

Kyuhyun menghembuskan nafas panjang, ah astaga, sepertinya laki-laki ini memang sangat suka membuatnya terkejut.

"Oh… iya… saya…"

"Hari ini pemakaman Jin-Ri, karena wartawan ada banyak sekali di sana, aku sarankan kau tidak usah hadir, semua sudah diurus", sela Siwon seolah tak tertarik dengan kata-kata Kyuhyun.

Kyuhyun menelan ludah, kenapa lelaki ini tampak begitu dingin? Bukankah Jin-Ri adalah calon isterinya? Setidaknya bukankah seharusnya ada setitik perasaan sedih yang tersirat di sana?

"Saya eh… sedang berpikir untuk segera pergi dari rumah ini", guman Kyuhyun lemah, entah kenapa kehadiran Siwon yang hanya berdiri di sana terasa begitu mengintimidasi.

"Kenapa?", alis Siwon tampak mengernyit.

"Karena saya sudah tidak sepantasnya tinggal disini, lagipula, saya memang tidak berencana pergi terlalu lama…."

"Tidak". Suara Siwon berubah, kelam dan gelap. Ekspresi wajahnya pun berubah, seolah-olah orang lain yang berdiri di situ.

"Apa?", Kyuhyun mengamati wajah Siwon, tiba-tiba merasa takut entah kenapa.

"Kau tidak boleh pergi dari rumah ini." Lelaki itu melangkah maju dengan pandangan mengancam.

Kyuhyun melangkah mundur dengan gerakan refleks, "Kenapa?"

"Karena…." Lelaki itu mengerutkan keningnya, tampak berpikir, "Para wartawan masih berkeliaran mengawasi rumah ini, mereka akan memangsamu seperti piranha mengerubuti mangsanya kalau mereka tahu tentangmu."

"Tetapi… mereka tidak tahu tentang saya, saya akan menyelinap diam-diam di malam hari, mereka mungkin akan mengira saya salah satu pelayan di rumah ini."

"Jangan merendahkan dirimu." Siwon mengerutkan keningnya, tak suka ketika Kyuhyun menyamakan dirinya sebagai pelayan, "Ibumu sudah tidak ada, jadi tidak akan ada yang bisa merendahkan dirimu lagi. Aku sudah memastikannya."

Kyuhyun menatap Siwon, dan mengerutkan keningnya lagi. Lelaki itu tampak berbeda, dia tampak menakutkan. Dan dia mirip dengan laki-laki dalam mimpinya…. laki-laki yang mengatakan bahwa namanya adalah Andrew…

Tiba-tiba perasaan takut menyelimuti Kyuhyun, dan Siwon tampaknya mengetahuinya, entah kenapa lelaki itu tampaknya bisa mengendus ketakutan dalam diri Kyuhyun.

"Kenapa Kyuhyun?" ada senyum di situ, senyum yang lembut, tetapi tampak menakutkan, "Kenapa wajahmu pucat? Kau teringat sesuatu?" Lelaki itu melangkah maju, mulai mendekat

"Tidak… tidak. Saya hanya sedikit pusing." Itu memang benar. Semua hal ini membuat kepalanya pusing.

"Karena itulah kau tidak boleh pergi dari rumah ini dulu. Aku tidak akan mengizinkanmu." Siwon berhenti mendekati Kyuhyun, untuk kemudian melangkah mundur, "Istirahatlah."

Dan dengan tenang, lelaki itu melangkah pergi. Meninggalkan aura ketakutan memancar di belakangnya.

"Kau harus menyebarkan kabar itu kepada para wartawan." Siwon berbicara dengan dingin kepada seseorang di seberang telepon. "Hembuskan kabar bahwa Jin-Ri memiliki anak gelap."

"Apakah anda ingin semua wartawan berbondong-bondong datang ke rumah ini?". Itu suara Kangin, salah satu anak buah kepercayaan Siwon yang sangat setia.

"Ya. Buatlah kekacauan. Aku akan memastikan Kyuhyun tahu tentang itu semua."

"Saya akan menyebarkannya. Para wartawan akan berpesta pora."

"Bagus." Daren tersenyum. "Lakukan dengan baik."

Telepon ditutup, dan Siwon menghela napas. Dia harus mempertahankan Kyuhyun dulu di rumah ini. Setidaknya sampai dia bisa mengambil hati Kyuhyun. Sampai Kyuhyun tertarik kepadanya dan tidak mau pergi dengan kemauannya sendiri.

Tetapi hal itu tampaknya tidak mudah. Ketika Andrew muncul dan menguasainya, Kyuhyun tampak ketakutan, Siwon memperhatikan ketika Kyuhyun melangkah mundur dengan refleks untuk melindungi dirinya dari aura mengancam Andrew.

Dia menatap ke arah cermin dan melihat bayangannya. Bayangannya yang dalam benaknya kini tampak tersenyum mengejek dan jahat, senyuman Andrew.

"Dia tidak menyukaimu. Kalau kau tidak mau membuatnya kabur dan lari ketakutan, kau harus menyingkir."

Andrew tersenyum sinis, "Dan kau pikir dia lebih menyukaimu?"

"Dia lebih tenang kalau aku yang ada di depannya." Siwon menatap Andrew tajam, "Aku sedang berusaha membuatnya bertahan di tempat ini. Jangan mengacaukannya!"

Andrew terkekeh mendengar perkataan Siwon, "Aku tidak janji." Lalu bayangan lelaki itu menghilang dalam kegelapan, dan Siwon menatap kembali wajahnya sendiri di cermin. Menghembuskan napasnya dengan kesal.

Siwon tidak memiliki Andrew di dalam dirinya sejak lahir. Dulu dia anak yang normal dan biasa-biasa saja. Kemudian ketika usianya enam tahun, di saat kedua orang tua kandungnya masih hidup, Siwon mulai merasakannya. Ada sesuatu yang gelap dan menakutkan tumbuh di dalam dirinya. Sesuatu yang kejam dan mengerikan.

Dia pernah tersadar ketika memegang seekor kelinci yang telah dimutilasi dengan kejam. Kelinci itu masih utuh, tetapi tangan dan kakinya dipotong, dan mata serta organ dalam tubuhnya dikeluarkan, berceceran di tanah. Siwon yang masih berumur tujuh tahun tersentak dan membuang kelinci itu ke tanah, berlari ketakutan.

Rupanya itulah saat pertama Andrew bisa muncul dan menguasai tubuhnya.

Kejadian-kejadian lain tak kalah mengerikannya. Andrew selalu membawa aura kemarahan dan kebencian. Dan selalu muncul di saat-saat yang tidak terduga.

Di masa sekolah dasarnya, Siwon selalu di skors di sekolah untuk hal-hal kejam yang dia tidak tahu, memukul teman sekelasnya dengan penggaris logam, menggores pipi teman perempuan

nya dengan pisau cutter, membunuh anjing peliharaan penjaga sekolah yang selalu mengonggonginya… dan semua hal itu, bahkan Siwon tidak merasa pernah melakukannya.

Siwon kebingungan, merasa difitnah dan diperlakukan kejam oleh orang-orang di sekelilingnya, semua orang takut kepadanya. Bahkan mama kandungnya sendiri mulai takut kepadanya dan menjauhinya, bersikap gugup kalau Siwon ada di dekatnya. Begitu juga ayahnya, yang memang sejak semula bersikap dingin dan menjauh. Meskipun ada perubahan besar dalam diri ayahnya, ayahnya sangat kejam dan tegas, dan tidak segan-segan memukul Siwon kalau Siwon melakukan sesuatu yang menurutnya salah dan tidak sesuai dengan standarnya, tetapi sepertinya ayahnya sudah berhenti memukulinya.

Pertama kali Andrew berkomunikasi padanya adalah suatu malam di usianya yang ke sepuluh. Siwon melihat bayangan di depannya bisa membalas perkataannya. Dan memperkenalkan diri.

"Aku Andrew." Katanya waktu itu. "Bisa dikatakan kita berbagi rumah yang sama."

Lalu semuanya jelas bagi Siwon, Andrewlah yang melakukan semua kekejaman itu. Andrew adalah sisi lain dirinya, alter egonya yang sangat kejam dan tidak berperikemanusiaan. Lelaki itulah yang dirasakannya menyelinap bagai bayangan gelap dan menakutkan bertahun lalu, seakan menunggu saat untuk meledak dan menguasainya.

Siwon tidak mau Andrew lepas dan tak terkendali, lalu merusak hidupnya. Siwon lalu dengan sekuat tenaga berusaha menekan Andrew dalam-dalam, mengendalikannya, membuatnya tertidur jauh di dalam dirinya. Sampai kemudian kedua orang tuanya tewas dalam kecelakaan pesawat itu dan Siwon diambil oleh keluarga angkatnya, sebagai wali Siwon. Sampai dia berusia 21 tahun dan boleh menerima warisan keluarga secara hukum, yang ditunjuk oleh ayah Siwon, mereka adalah sahabat Ayah Siwon. Dan mereka memberikan suasana keluarga yang hangat dan menyenangkan bagi Siwon, jauh dari suasana dingin dan kaku yang ada di rumah Siwon sebelumnya.

Bahkan Andrewpun sepertinya menyadari kebaikan keluarga angkat itu, karena dia jarang memberontak muncul dan mengganggu. Semua tampak berjalan lancar, sampai entah kenapa Siwon lengah dan Andrew berhasil menguasai tubuhnya. Lalu menciptakan sebuah kejadian yang membuat mereka sama-sama terobsesi kepada Kyuhyun.

Obsesi itu yang membuat Andrew semakin lama semakin kuat dan bisa muncul kapanpun sesuai kemauannya sendiri. Keinginan Andrew memiliki Kyuhyun begitu kuat sehingga Siwon sendiri tidak mampu membuatnya tertidur lama-lama

Andrew memasuki kamar Kyuhyun, dengan langkah tenang dan tidak terlihat, seperti yang biasanya dilakukannya kalau dia menyelinap ke kamar pria itu.

Kyuhyun tertidur dengan lelap, mungkin obat penenang dari dokter itu membuatnya tenggelam dalam mimpi yang dalam. Bagus. Itu berarti Andrew bisa leluasa.

Lelaki itu duduk di pinggiran ranjang dan menyentuhkan jemarinya menelusuri pipi Kyuhyun. Benarkah Pria ini takut kepadanya? Kenapa Kyuhyun takut kepadanya? Dalam benak Andrew. Kyuhyun adalah Peria satu-satunya yang melihatnya apa adanya. Mata polos itu dulu pernah menatapnya, menatapnya dengan perhatian ketika dia telah membunuh orang dengan mengerikan.

Bahkan Kyuhyun waktu itu menawarkan plester untuk lukanya. Andrew saat itu sudah siap membunuh Kyuhyun. Baginya tidak masalah membunuh anak kecil, apalagi anak kecil yang merupakan saksi mata. Tetapi dia mengurungkan niatnya karena anak kecil itu menawarkannya plester untuk menyembuhkan lukanya. Sebuah tindakan yang konyol… tetapi menyentuh hati Andrew yang gelap. Dan di hari itu, Andrew menyadari bahwa dia harus bisa memiliki Kyuhyun. Apapun akan dilakukannya untuk memiliki Kyuhyun. Namja itu memberikannya kekuatan. Semakin lama semakin kuat. Hingga mungkin dia bisa menyingkirkan Siwon dari tubuh ini, dan menguasainya sepenuhnya.

Andrew menunduk dan mengecup bibir Kyuhyun yang sedang tertidur pulas. Bersyukur atas obat penenang yang diberikan oleh dokter itu sehingga Kyuhyun tidak akan sadar kalau dia bertindak sedikit lebih jauh. Jemarinya membuka kancing kemeja Kyuhyun, menyentuh dadanya, dan meremasnya lembut. Gairahnya naik, seperti biasanya. Kalau berhubungan dengan perempuan dan Namja, Andrew hanya mengetahui satu hal : nafsu. Dia tidak pernah tahu cara lain untuk menggambarkan perasaannya kepada perempuan dan Namja.

Bibirnya turun ke leher Kyuhyun, meresapi harumnya pria itu yang menggoda seluruh saraf tubuhnya. Dan Andrew mengecupnya, mencecap setiap rasanya. Ketika bibirnya sampai ke bagian paling atas dada Kyuhyun dan menggoda, Andrew mengecup lebih dalam, melumat kulit halus itu, sehingga meninggalkan tanda kemerahan di sana, membuat Kyuhyun sedikit menggeliat dan mengerutkan kening dalam tidur pulasnya. Dia menegakkan tubuh dan tersenyum puas melihat hasilnya. Ini sama seperti seorang pejantan yang memberi tanda kepada betinanya.

Dengan tenang dia mengancingkan kembali piyama Kyuhyun, dan merapikan kembali selimutnya. Dalam senyuman dia mengecup bibir Kyuhyun untuk terakhir kalinya, sebelum meninggalkan Namja itu terbaring lelap di ranjang.

Sekarang belum saatnya memiliki Kyuhyun. Nanti, kalau waktunya sudah tepat. Andrew akan mengambil Kyuhyun, menundukkannya, menguasainya dan mempermainkannya sesukanya, sampai dia bosan.

Ketika Kyuhyun terbangun keesokan harinya, hujan turun dengan derasnya di pagi hari yang muram itu. Menghantamkan air ke jendela kaca kamarnya, membuat suasana makin gelap dan murung. Kyuhyun melangkah turun dari ranjang. Pelayan biasanya sudah datang dan menyiapkan peralatan mandinya, tetapi kali ini tidak ada yang datang. Kyuhyun berpikir mungkin Siwon memerintahkan mereka untuk tidak mengganggu tidurnya.

Dengan gontai, masih setengah mengantuk Kyuhyun melangkah ke dalam kamar mandinya. Dia melepaskan piyamanya dan berdiri telanjang di bawah pancuran air hangat. Dia sedang tidak ingin berlama-lama di kamar mandi, karena itu dia sama sekali tidak melirik ke arah bathtub. Selesai mandi dan merasa segar akibat siraman air hangat ke tubuhnya, Kyuhyun berdiri di depan cermin dan mengambil sikat gigi dari tepi wastafel. Dia mulai menyikat giginya dan tertegun.

Kyuhyun tertegun melihat bayangan yang terpantul di kaca kamar mandinya. Di bagian atas dada, ada tanda merah yang sekarang sudah sedikit membiru. Dengan bingung digosoknya tanda itu, tidak sakit. Apakah bekas gigitan serangga? Kenapa tidak terasa gatal dan sakit?

Lama Kyuhyun mengerutkan keningnya sambil memandang tanda itu. Tetapi kemudian dia menarik napas dan melanjutkan menggosok giginya. Mungkin memang hanya ruam di kulitnya yang sekarang sudah sembuh. Pikirnya dalam hati.

Siwon memintanya datang ke ruang keluarga setelah sarapan, jadi Kyuhyun menurutinya meski sedikit enggan, berduaan dengan lelaki itu terasa sedikit mengintimidasinya. Tetapi tentu saja Kyuhyun tidak bisa menolaknya.

"Kemarilah." Lelaki itu duduk di sofa dan menepuk tempat di sebelahnya dengan ramah, membuat Kyuhyun mau tak mau mengambil tempat duduk di sebelah Siwon.

Di depan mereka ada sebuah televisi besar yang dinyalakan. Menayangkan berita gosip.

"Lihatlah berita itu." gumam Siwon datar.

Kyuhyun melihat berita itu dan mengernyit. Para wartawan sedang berdiri di depan tempat yang dia kenal. Tempat itu… tempat itu adalah rumahnya! Rumah tempat tinggalnya dengan kakek dan neneknya. Kenapa para wartawan berdiri di depan rumahnya?

"Mereka entah darimana mendapatkan kabar bahwa Jin-Ri mempunyai seorang Putra yang dirahasiakan." Siwon bergumam sambil mengamati berita di televisi itu, "Dan sekarang mereka menyerbu ke rumahmu, mencari tahu. Untung saja rumah itu kosong karena kau ada di sini, kalau tidak mereka akan menyerbumu."

Kyuhyun masih tertegun. Tiba-tiba merasa takut, para wartawan itu sama persis seperti yang dikatakan Siwon, mereka seperti piranha yang kelaparan, berusaha mengerubuti dan mengejar mangsa mereka. Hidupnya dulu tenang, dan Kyuhyun nyaman berada di dalamnya, kenapa hidupnya bisa berubah seperti ini?

Siwon menoleh menatap Kyuhyun yang masih terdiam, "Mereka juga berusaha mengejarku, tetapi mereka tidak bisa menembus pagar rumahku. Kalau kau mengintip jauh ke luar sana, kau pasti bisa melihat beberapa mobil parkir di sana, mengintip dan berusaha mendapatkan informasi sekecil apapun." Siwon menarik napas panjang, "Mereka tidak tahu kau ada di rumah ini, jadi kau bisa berlindung di rumah ini. Untuk sementara, sampai para wartawan itu tenang."

Kyuhyun menghela napas panjang. Dia sungguh-sungguh ingin pergi. Perasaannya tidak enak dan dia merasa tidak pantas berada di rumah ini. Siwon bukan siapa-siapanya, dan tinggal di sini terasa mengganggu pikirannya. Tetapi kalau situasinya berubah seperti ini, dia tidak bisa bisa menolak bantuan Siwon bukan?

Kyuhyun menghela napas panjang lagi, berusaha mencari cara untuk menghindar, ditatapnya Siwon dengan ragu,

"Mungkin saya bisa mencari teman yang bersedia menampung saya untuk sementara waktu?"

Siwon terkekeh, "Aku yakin teman-temanmu tidak mempunyai pagar yang kokoh dan tak tertembus seperti pagarku. Apakah kau ingin mengganggu kehidupan mereka dengan serbuan wartawan itu? Wartawan itu tak akan berhenti Kyuhyun, kau adalah berita panas yang mereka kejar, dan mereka tidak akan berhenti sampai mereka mendapatkanmu."

Kyuhyun mengernyitkan dahinya, "Tetapi .. saya merasa tidak pantas tinggal di rumah ini. Saya bukan siapa-siapa anda dan…"

"Anggaplah aku temanmu, oke? Rumah ini besar dan bisa menampungmu. Kau akan aman di sini. Tidak ada yang tahu kau di sini. Aku tidak merasa direpotkan olehmu, dan kau bebas pergi setelah keadaan aman." Siwon tersenyum lembut, "Aku akan menjagamu Kyuhyun."

Dan entah kenapa Kyuhyun menyadari ada kejujuran yang tulus di balik kata-kata Siwon itu.

Tetapi Siwon yang sekarang makan malam dengan Kyuhyun sangat berbeda. Lelaki itu berubah, menyebarkan aura ketakutan yang sama seperti yang dirasakan Kyuhyun beberapa waktu yang lalu. Lelaki itu diam sepanjang makan malam yang hening. Hanya melirik Kyuhyun dengan tatapan tajam yang sedikit menakutkan beberapa kali. Membuat Kyuhyun merasa tidak nyaman.

Siwon tidak berusaha memulai percakapan, karena itu Kyuhyun juga diam saja. Membiarkan para pelayan melayani mereka dari sajian pembuka, sajian utama dan kemudian sajian penutup. Ketika sajian penutup sudah selesai dihidangkan, Kyuhyun menatap Siwon yang mulai menuangkan anggur ke gelasnya dengan gugup,

"Saya rasa… saya akan kembali ke kamar dan beristirahat."

Lelaki itu diam saja, menyesap anggurnya dan menatap Kyuhyun dari atas gelasnya. Semakin lama aura lelaki itu terasa semakin menyesakkan dadanya.

Kyuhyun meletakkan serbetnya dengan hati-hati, lalu menganggukkan kepalanya kepada Siwon dan dengan langkah cepat melangkah keluar dari ruang makan itu, berusaha secepat mungkin keluar dari sana, membebaskan diri dari suasana yang menyesakkan dadanya.

Dia sudah membuka pintu ruang makan itu sedikit, ketika tangan Siwon yang ramping dan kuat terulur begitu saja di belakangnya. Telapak tangannya mendorong pintu itu supaya menutup lagi.

Siwon sudah berdiri di belakang Kyuhyun, begitu dekat hingga napasnya berembus hangat di puncak kepala Kyuhyun dan dadanya hampir menyentuh punggung Kyuhyun. Kyuhyun berdiri dengan gugup menghadap pintu, masih membelakangi Siwon, jantungnya berdebar entah kenapa.

Lalu lelaki itu menundukkan kepalanya, berbisik dengan hembusan lembut di telinga Kyuhyun, membuat bulu kuduk Kyuhyun berdiri.

"Kenapa kau begitu buru-buru berpamitan Kyuhyun? Apakah kau takut kepadaku?"

T.B.C