Pon De Ring.

Well, sebenarnya sih kemarin pengin jadiin one-shot, tapi emang rasanya cukup melihat ahogenya Kamui cuma dalam satu episode..?

Disclaimer: Enggak.

Menjelang senja di kapal Harusame skuad ke tujuh. Ada sedikit perbedaan di banding hari-hari sebelumnya mereka berlabuh di pelabuhan Edo, bukan karena senja kali ini terlihat lebih romantis dengan burung camar yang bertautan. Hah, bro mereka Amanto, tidak peduli dengan burung camar atau kelelawar yang tinggi melayang, bersahutan di balik awan, membawa angan-angan siapapun jauh meniti buih.

Tapi karena admiral muda mereka yang terlihat lebih santai dari biasanya. Beberapa bawahan-bawahannya yang melihatnya berjalan dengan gagah dengan parasol ungunya itu hanya terheran-heran.

Itu Kamui-dancho kan? Itu apa yang ada di sudut bibirnya?

Bukan, yang dimaksud bukan senyumnya yang merupakan trademarknya itu, namun sesuatu kemerahan di sudut bibirnya.

"Oi, dancho kemana saja. Aku mencarimu kemana-mana. Kau benar-benar membuatku pusing kali ini, menghilang sesuka hati, kalau memang kau tidak mau menghadapi rapat antar kapten ga masalah, biar aku yang hadir. Tapi menghilang berjam-jam seperti ini-"

"Oh ya udah, besok kamu lagi ya yang hadir di rapat itu, Abuto," kata Kamui santai.

"Eh.. enak aja, kamu ngapain..?"

"Tadi bilang ga masalah kalau kamu yang hadir"

"Emang aku bilang gitu, enggak ya. Eh dengerin gak sih...?"

"Mmhm.."
Kamui hanya mendehem menanggapi Abuto yang bawel itu. Eh dia bener dengar loh kalau Abuto menawarkan diri buat hadir di rapat itu, awas aja kalau dia pura-pura lupa besok..

"Oi dancho, sebenarnya dari mana saja kau ini, kapten skuad 8 mencarimu tadi," info Abuto, mengekor Kamui yang masih berjalan tegap tidak menyadari sesuatu di wajahnya yang membuat anak buahnya yang mengepel lorong itu sampai menoleh dua kali.

"Hmm?" Kamui sebenarnya tidak ada niat menjawab pertanyaan-pertanyaan tidak penting dari Abuto itu, tapi karena suasana hatinya sedang bagus dia menyempatkan diri untuk mendehemi Abuto.

"Kau mendengarnya dengan jelas, pertanyaanku. Kemana kau pergi selama ini..?"

Kamui tetap tutup mulut dan hanya menggeleng, tapi senyuman di bibirnya semakin melebar, seperti anak kecil yang merahasiakan keisengannya dari pengasuhnya.

"Masaka, jangan-jangan kau memburu samurai-samurai itu.." kata Abuto curiga, dia kemudian menepuk dahinya sendiri, kalau Kaptennya itu benar-benar melakukannya, dapat banyak masalah si Abuto..
Akhirnya Kamui berhenti berjalan dan menatap Abuto lama, masih dengan senyumnya yang lama-lama ngeselin itu dia kemudian berkata,"Hmmmm, enggak kok,"

Saat berdehem itu hampir membuat wakil kaptennya itu spot jantung, tapi kemudian Abuto hanya memasang tampang datar mendengar jawaban si admiral nicompoop. Apapaan dia ini.

"Lalu kenapa kamu terlihat senang sekali? Dan bisakah kau berhenti tersenyum?" aku jadi pengen nampar deh.

Kamui memutar bola matanya ke atas, terlihat berfikir. Abuto sudah mulai curiga, jangan-jangan Kamui benar-benar memburu samurai-samurai itu. Kalau benar, harinya yang sudah melelahkan akan tambah melelahkan karena harus berurusan dengan Kiheitai untuk membersihkan ulah kaptennya ini.

"Itu karena... Aku kenyang," kata Kamui kemudian, dia lalu melanjutkan langkahnya meninggalkan Abuto yang sudah setengah kesal setengah tidak percaya itu.
Kamui? Kenyang? Habis berapa kilo nasi dia?

Menyadari sesuatu, Abuto buru-buru mengejar Kamui. Kalau Kamui bisa kenyang pasti bakalan ada nota bon yang datang menagih makanan yang dihabiskannya dan mungkin kerusakan properti karena Kamui mengamuk minta tambah nasi.

Hal itu pernah terjadi sebelumnya, jadi Abuto hanya ingin memastikan kalau Kamui membawa dompetnya kali ini. Namun langkah Abuto tiba-tiba berhenti karena Kamui yang juga tiba-tiba berhenti berjalan.

"D-dancho..kau membawa uang kan kali ini..?"

"Mmhm, tenang aja.. nih." Jawab Kamui sambil menunjukan kantong uang yang dia bawa sedari tadi.

"Ne, Abuto, apa ada sesuatu di wajahku..? Kenapa orang-orang melihatku dengan aneh dari tadi..?"

"Tunggu, ini kan.."

"Abutoo.."

"Iya, itu ada noda di dekat mulutmu, kau makan apa sih tadi sampai bisa celametan begitu," komentar ibu pada anaknya-eh salah komentar Abuto pada Kamui.

Kamui mencoba meraih sesuatu di ujung bibirnya itu dengan lidahnya. Manis. Selai Strawberry. Dan senyumannya kembali terkembang lebar mengingat apa yang baru saja dia jilat. Krim filling dari donatnya tadi.

"Nobutats-"

"Dancho, ini dompetku! Apa yang kau lakukan...?! kenapa sudah berkurang setengah..?!-eh apa kau bilang?"

Gedung elit, di kawasan elit Edo berdiri dengan elitnya. Markas dari kesatuan polisi elit itu seolah menantang siapapun yang melewatinya. Kecuali satu, seorang gadis yang mengendap-endap untuk masuk ke gedung itu. Rambut birunya ia jadikan satu di pundak kirinya, sementara tangannya sibuk memegangi katananya agar tidak menimbulkan banyak suarDia

Dia tidak mau ada orang yang mengetahuinya kembali. Gadis itu menghembuskan nafas lega sesudah mengawasi lobi. Aman, tidak ada Isaburo maupun kapten-kapten skuad.

"Nobutatsu, darimana saja kau ini..?" Satu suara khas yang diseret-seret dari Bossnya itu sukses membuatnya kaget setengah mati, dia langsung berbalik menatap Isabuto.

Ternyata selama Nobume sibuk mengendap-endap, bossnya itu sudah berada di belakangnya dari tadi.

"Mail-mu kan sudah kubalas," jawab Nobume sambil merapihkan seragamnya. Tentu Isaburo terheran-heran dengan jawabannya. Dia loh membawa satu kotak donat favorit wakilnya itu, kok dia belum diserang? Dalam artian Nobume mengagresi donat di tangan kanannya itu.

"Yang bikin aku khawatir itu adalah, aku sudah memberimu kabar kalau aku punya donat untukmu sebagai hadiah atas kerjamu, tapi kau tidak segera pulang dan baru pulang jam segini," kata pemimpin keluarga Sasaki itu sambil memakan salah satu donat di tangannya. "Darimana saja kau?"

Dan lihat, Nobume bahkan tidak merespon apa-apa.

Gadis itu langsung berbalik dan meninggalkan Isaburo tanpa berkata apa-apa. Tanpa diketahui oleh Isaburo, sebenarnya Nobume berbalik untuk menutupi pipinya yang mulai merona.

Karena pertanyaan dari Isaburo memang sukses membuat Nobume kembali mengingat seorang pemuda Yato dengan rambut berkepang yang telah menyuapinya donat tadi. Nobume tidak mau kalau dia nanti keceplosan kalau dia habis (semacam) nge-date dengan Kamui.

"sekarang aku tambah khawatir," ucap Isaburo sewaktu ditinggal Nobume. Sempat melirik kuping kanan Nobume yang memerah. Karena rambut panjang Nobume masih di pundak kirinya maka Isaburo bisa melihatnya dengan jelas.

Makan malam elit di markas elit kesatuan elit Mimawarigumi, tidak ada yang bisa lebih elit dari pada para polisi yang dinnernya jamuan makan rijsttafel (beuh).

Berbeda dengan para anggota Mimawarigumi lainnya yang dengan senang hati menikmati makan malam yang sudah di tawarkan satu-satu oleh pelayan itu, seorang pemuda tampan dengan baju rapi nan wangi terlihat melamun.

Pemuda yang diketahui adalah wakil kapten skuad 2 kesatuan polisi Mimawarigumi itu, matanya tak henti memandangi objek yang menikmati makannya di meja di seberangnya. Tepat di depannya.

Oh, ternyata pemuda itu bukan melamun, ia hanya tidak bisa berhenti memandangi wakil komandannya. Sepertinya dia telah jatuh hati dengan Imai Nobume.
Sasaki Isaburo, sang Komandan elit dari kesatuan elit Mimawarigumi menghambil kesimpulan demikan setelah beberapa hari ini mengawasi anggotanya itu.

Terlihat gugup ketika Nobutatsu lewat, hilang konsentrasi ketika Nobutatsu satu ruangan dengannya dan tentu seperti sekarang ini, tak berkedip memandang Nobutatsu.

Dia hanya ingin tahu sejauh apa pemuda itu akan berusaha untuk mendekati Nobutatsu. Sasaki tahu kalau seharusnya Nobutatsu tahu dia sedang diawasi, dia kan anggota paling elit dan seorang assassin elit, tentu 'sense' Nobutatsu sangat tajam.

Hanya saja yang jadi masalah adalah Nobutatsu sedang aneh sejak beberapa jam terakhir. Ibarat ponsel yang kecemplung di bak kamar mandi, sepertinya Nobutatsu sedang konslet.

Bukti yang tidak terbantahkan dari teori itu adalah: Nobutatsu menolak donat yang ia berikan tadi.

Sebenarnya karena Nobume sudah eneg. Baru satu kali ini Nobume benar-benar eneg dengan donat. Kamui menjejalkan semua donat manis dari toko yang dia booking itu ke mulutnya-Plus manis senyum Kamui yang ikut masuk juga ke dalam relung hatinya-

Tapi sepertinya perkiraan Isaburo meleset, Nobume sepertinya benar-benar mengabaikan perhatian dari pemuda itu. Gadis itu malah meninggalkan meja makannya dan bahkan tidak menyentuhnya sama sekali. Kalau sudah begini tidak ada cara lain selain turun tangan.
...

Sebagai wakil komandan satuan kepolisian, Nobume tentu punya banyak tugas yang harus dia selesaikan. Bukan hanya tugas lapangan dengan menjadi assassin, tapi juga tugas formalnya. Berkas-berkas yang harus dia tanda-tangani maupun yang harus dia sortir untuk diberikan pada Isaburo.

Kertas-kertas membosankan itu sudah menumpuk di meja kerjanya sejak kemarin. Tapi sepertinya gadis berambut panjang itu tidak juga punya motivasi untuk mengerjakannya.

Nobume malah memilih untuk mencorat-coret kertas di hadapannya itu. Namun demikian, gadis itu sepertinya masih berada dalam lamunannya. Pena di tangan kanannya itu seolah bergerak dengan sendirinya. Menggambar sebuah payung sederhana dengan dua buah kelinci berteduh di bawahnya. Satu kelinci dengan rambut merah panjang berkepang.

Gadis itu terlihat menghembuskan nafasnya meskipun wajah imutnya itu masih terpangku di tangan kirinya. Bibirnyapun mengerucut.

Melihat pemandangan seperti itu, Senmaru Iba, wakil kapten skuad 2 Mimawarigumi semakin klepek-klepek hatinya. Pemuda itu telah berdiri di depan ruangan Nobume sejak tiga puluh menit yang lalu. Isaburo yang menyuruhnya.

Komandannya itu tiba-tiba menyuruhnya untuk memberikan laporan pada Nobume secara langsung di ruangannya dengan tambahan pesan, "tanyakan keadaannya, sepertinya dia sedang tidak enak badan" kata komandannya itu, dia benar-benar mengingat detail kata-katanya karena setelah mendengarnya, dia mengerti bahwa komandannya itu sedang memberikan kesempatan emas.

"Apa lagi yang kau tunggu..?" Isaburo muncul sedikit mengagetkannya.

"Kyokucho..!"

Isaburo kemudian ikut mengintip keadaan Nobume, gadis itu masih sama seperti beberapa menit terakhir, melamun dengan bibir mengerucut.

"F-fukucho benar-benar terlihat aneh, aku malah tidak berani mengganggunya.."

'katakan saja kamu cuman berlama-lama mau melihat wajahnya itu'

"Kyokucho 'kan masih ingat, Fuku-cho kalau diganggu saat seperti itu malah bakalan 'berserk'.."

"benar juga, aku jadi benar-benar penasaran apa sebenarnya yang mengganggu pikirannya, ah?"

tiba-tiba saja Nobume mengeluarkan ponselnya. (well Nobume kan elit, dia bisa langsung ganti ponselnya) Sepertinya dia mendapat mail baru. Wah, senangnya dapat mail buddy baru, Isaburo jadi pengin tahu siapa teman mail Nobume. Bukan, bukan karena dia juga pengen punya mail buddy yang mengirimi mail duluan, tapi karena Nobume bisa tersenyum lebar setelah membaca mail itu.

Karena bagaimana pun juga Nobume adalah anak perempuan, dan sebagai orang tua Isaburo harus mengawasi dan melindunginya dari para abg-abg yang tidak bisa mengendalikan hormonnya itu.

"Ah.. maaf tapi aku harus mengatakannya, sepertinya sudah tidak ada kesempatan bagimu.." Isaburo tiba-tiba berkata sambil meninggalkan Senmaru.

"Ha..? apa maksudnya Kyokucho..?"

"Lihat, sepertinya Nobutatsu sudah punya pacar, dia senyam-senyum dari tadi setelah mendapat mail.."

"T-tapi.."

"tenang, aku tidak bilang kalau itu benar-benar dari pacarnya, karena aku tidak melihat isi mailnya. Jadi kalau kau masih ingin berusaha mendekati Nobutatsu silakan saja, tapi aku kasih tahu selera gadis itu sedikit lebih tinggi dari para elit, jadi mungkin kau harus berusaha keras mencari kado yang sesuai dengannya.."

"...apa itu..?"

"Kepala pemimpin Joui-shishi, Katsura Kotaro atau pimpinan Kihetai.. Shiroyasha juga tidak buruk.."

Setelah Komandan elitnya itu benar-benar menghilang dari pengelihatannya, Senmaru baru bisa menutup mulutnya yang menganga setelah mendengar 'syarat' untuk mendekati Nobume.

Syarat itu lebih tinggi dari atap istana Shogun.

Apakah itu berarti hanya yang terkuat yang bisa mendekati Nobume? Sebuah kilatan muncul dari mata Senmaru, seorang laki-laki sejati tidak akan mudah menyerah dengan tantangan seperti itu.

'Besok. Toko donat. Jam 4.'

Nomornya belum terdaftar di Ponsel Nobume, namun gadis berambut panjang itu tahu dari siapa ajakan bertemu itu. Meski senang Nobume tidak bisa langsung menyetujui, sedikit jual mahal sepertinya.

'ngapain?' jawab Nobume singkat. Tidak butuh waktu lama bagi Nobume untuk mendapat balasan, 'datang saja,'

Jawaban yang kurang memuaskan memang, bibir Nobume semakin mengerucut karenanya. Sebenarnya Nobume sedikit berharap pemuda Yato itu akan membalas dengan berkata 'aku ingin bertemu', yah.. dia kan tetap anak perempuan..

"Maaf mengganggu, Fukucho.." seseorang mengetuk pintu ruangannya. Iba, wakil kapten skuad 2.

"Kyokucho menyuruh saya untuk memberikan ini pada anda,"

"Ya, taruh situ aja,"

"Fukucho, kelihatannya ada yang sedang mengganggu pikiran anda, saya perhatikan dari tadi anda melamun,"

"Ah.. aku hanya sibuk memikirkan kerjaan.." aku hanya sibuk memikirkan seseorang, harusnya itu kata-kata yang keluar dari mulut Nobume.

"anoo... mungkin ada yang bisa saya bantu, Fukucho terlihat sudah lelah.." cie modus.

"Tidak, aku bisa menyelesaikannya kapan saja..." Pemuda malang, bahkan dengan senyum peps*dent seperti itu, Nobume tidak meliriknya sedikitpun.

"erm... baiklah kalau begitu.." Senmaru pun berniat meninggalkan ruangan Nobume, namun sebelum benar-benar meninggalkan gadis itu pemuda itu memberanikan diri untuk bertanya.

"Anoo, Imai-san, apa besok anda ada waktu..? Saya... saya ingin mengajak anda keluar.."

"Hm..?" Nobume, karena pikirannya sudah dipenuhi oleh seseorang, tentu tidak mengerti apa maksud sebenarnya Senmaru.

"Aku sudah ada janji tuh dengan seseorang," setidaknya kan kau bisa menolak ajakan itu dengan halus, Nobutatsu.

Sedikit patah arang karena sudah ditolak mentah-mentah Senmaru tetap berdiri tegap. Dia prajurit bukan anak baru gede. "Oh, ya sudah kalau begitu, maaf atas kelancangan saya," pemuda itu kemudian meninggalkan ruangan Nobume. Namun satu hal sudah ada di pikirannya. Dia akan mencari tahu siapa orang yang sudah mendahuluinya itu.

Karena bagaimana pun, tidak ada yang bilang Nobume sudah punya pacar apa belum. Masih ada kesempatan dong buatnya.

Tbc.

"Oi Dancho kamu dengerin gak sih dari tadi..?"
Kamui buru-buru menyembunyikan ponselnya ketika mendengar Abuto mengomel. "Iya aku dengerin kok, jadi sampai di mana tadi?"
"Kau jelas-jelas tidak mendengarkannya kan, pembicaraan ini. Kenapa sih? Kok kayanya kamu sibuk sendiri, dari tadi mainan HP terus," tanya Abuto pada akhirnya, melihat dari tadi Kamui yang senyam-senyum sendiri dengan Hpnya . Kamui memandangi wakilnya itu sambil tersenyum misterius, membuat Abuto terheran-heran. Dari semenjak dia kembali, Kamui terlihat sedang baik suasana hatinya. Untuk bisa bertahan selama ini, pasti benar-benar terjadi sesuatu.
"Hi-mi-tsu.." jawab Kamui sambil meninggalkan tempat kerjanya. Ponselnya sudah di tangannya lagi. "Oi..! Aku belum selesai menerangkan..! Oi dengerin gak sih..?"

Hallo..
Abuto-san, harusnya ingat dulu pas masih muda gimana sih kalau lagi jatuh cinta..

Guest-san, Hontou ni... arigato gozaimasu, sudah memberikan review.. jadi Pon de Ring ada lanjutannya... Yoroshiku nee...:))

Missotaku, ini lanjutannya, semoga makin suka ya. Ya walaupun kayanya di chapter dua ini rada pointless sih.-_- Makasih udah review ya:)

Yosh, terima kasih udah stay tuned ya minna.. walopun update-annya lama. *mandang sinis menk**info*