Pon De Ring.
Gintama Fanfiction by Maplerivers
Disclaimer: Sorachi (si tukang PHP)
Yosha. Saya kembali Minna, Shogun Ass-arc udah mau selesai dan saya sudah kembali dari feels-trip, mari kita selesaikan urusan kita di sini..
Kalau masalah panasnya cuaca, Kabuki-cho tidak kalah panas. Mungkin juga karena terpacu oleh penipisan ozon, penumpukan gas rumah kaca yang semakin membuat distrik padat itu semakin panas.
Atau mungkin juga tidak.
Apalagi ketika melihat seorang pemuda kesayangan sedang berduaan dengan orang asing. Tidak, tidak gadis berambut panjang itu bukan orang asing.
Sebenarnya penjelasan itu malah semakin bikin panas.
Adalah Kagura yang semakin mengutuk panasnya Kabuki. Dirinya seolah mendidih, dan lihat kepalanya sudah sampai mengeluarkan asap.
Ya sebenarnya salahnya dia juga sih karena telah menyalahi kodratnya sebagai Yato dan keluar di siang bolong di Bumi. Sebagaimana kita ketahui para Yato lemah terhadap sinar matahari.
"Ochisuite, Kagura-chan," ayahnya mengingatkan setelah putri kesayangannya itu menumbangkan tiang listrik tempat mereka bersembunyi hanya dengan sekali tinju.
Sang Umibouzu kemudian membenahkan tiang yang sempat putus itu dan mengelasnya supaya paling tidak dia tidak ditangkap polisi bumi karena merusak peralatan umum. Tidak usah bertanya dia dapat darimana alat lasnya, bayangkan saja parasol serbagunanya itu juga bisa buat mengelas.
"Oi, sebenarnya apa masalahnya sih?" Gintoki memandang dua Yato kurang kerjaan itu. Masih belum mengerti apa tujuan utama mereka bersembunyi di pinggir jalan raya Kabuki itu. Mereka sih memang tidak terlihat dari depan, tapi punggung mereka itu benar- benar terekspos ke khalayak ramai.
Kalo Kagura, Gintoki gak nyalahin sih, gadis itu mana mungkin mengerti soal taktik, tapi itu si Umibouzu kok ya enggak ngajarin...?
Yah terserah deh, gumam Gintoki dalam hati. Ga peduli lagi kalau mereka terlihat mencurigakan dengan mencoloknya.
Yang penting lagi, itu ada orang yang mereka cari-cari dari dulu. Si Putra pertama sekaligus kakak laki-laki yang telah meninggalkan mereka dan memutuskan jadi penjahat(perompak). Kenapa mereka malah bersembunyi dan menguntitnya. Kenapa gak langsung konfrontasi aja.
"Ano baka nii-chan, aku mengkhawatirkannya selama ini dan apa yang dia lakukan? Ini tidak bisa di terima!"
"Kagura-chan apa maksudmu?"
"Bagaimana dia bisa santai-santai makan donat seperti itu papi?" Manggilnya udah bukan Hage lagi, berarti Kagura memang lagi bener-bener KZL.
"Ya kalau dia emang lapar..?" jawaban Umibouzu logis juga untuk diberlakukan bagi Kamui.
"Papi tidak mengerti juga ya?" *JDUAK!* Kagura uppercutting Papinya. "Bukannya dia itu penjahat? Perompak se galaksi nan luas sekali ini? Dia itu WANTED, Papi. Kenapa dia santai-santai makan donat, Papi?" *JAB* *JAB* *PUNCH*
Ah, jadi begitu. Seolah ada yang menyalakan saklar di kepala Gintoki, semuanya jadi jelas bagi si kepala perak.
Heh, setelah habis-habisan mengejek Shinpachi tentang Siscon-nya.
Tahu gini Gintoki ngajakin Shinpachi.
"Oi Kagura, membohongi diri sendiri itu gak baik loh buat kesehatan,"
"Apa maksudmu Gin-chan?"
"Kamu gak rela kan kalo kakakmu punya pacar?" kata Gintoki santai sambil ngupil.
...
Sempat hening sejenak diantara ketiganya. Dimana jelas sekali Kagura tidak bisa menyembunyikan motif aslinya karena pipinya itu memerah seperti tomat.
"Oh, Naruhodo," ayahnya memukul telapak tangannya sendiri pertanda baru mengerti.
" 'Oh, begitu' apaan! Enggak Gin-chan. Bagaimana kau bisa menyimpulkan begitu aru ne..? Dan Hage, jangan mudah percaya sama Gin-chan, Gin-chan mah Madao,"
"Kenapa bawa-bawa Hasegawa-san segala. Kalo begitu cuba deh, apa alasanmu kenapa mengkhawatirkannya?"
"Eehhh?"
Kagura gelagapan ga bisa menjawab pertanyaan menantang dari Gin itu.
"Haha! Jawabannya karena kamu punya brother complex, Kagura-chaaan..~" Gintoki malah semakin menggoda Kagura. Dan tentu saja si gadis china itu tidak bakalan terima dibilangi begitu.
"Buat apa aku khawatir padanya, Gin-chan baka..! A-aku cuma kecewa aja. Kalo dia santai-santai begini gak perlu aku latihan keras buat melawannya nanti. Bu-bukan karena aku mengkhawatirkan dia ato apa aru.."
"Beeuh, lama-lama kamu udah sesuai aja sama julukan seiyuu-mu Kagura,"
"Jadi kamu bilang aku ini tsundere?" Gin mengangguk.
"Trus aku bohong kalo aku sebenarnya khawatir sama si Baka nii-chan itu..?" Gin-chan masih menggangguk.
*burning knuckles* *jduak!*
"Begitu-begitu aku masih Yato, Gin-chan. Hati-hati aja kalo bicara sama aku, aru"
Meskipun telah mendapat tonjokan tepat di hidungnya, tapi Gintoki malah semakin ingin menggoda Kagura.
"Hah, menggunakan kekerasan untuk menutupi kebohongan he, Kagura..?"
"JDUAARRRR...!"
Sebelum Kagura bisa menutupi rasa malu, coret, alibinya dan melayangkan german suplex bagi ayah nomor duanya, itu terdengar suara nyaring tidak jauh dari tempat mereka bersembunyi yang adalah di depan cafe toko donat ternama di Kabuki itu. Kepulan asap melayang dari ujung gang di seberang jalan.
Dan dari kepulan asap berbau amunisi pekat itu muncul sang pangeran sadis menenteng bazooka andalannya.
Okita Sougo yang tumben sedang melaksanakan tugasnya, yang sebenarnya malah merusak sepanjang Kabuki-cho, sebelumnya tidak menyadari kehadiran keluarga cemara-eh keluarga Yato itu. Tapi karena teriakan emosional dari seseorang, khususnya dari seorang gadis China, do-S bishounen itu menolehkan kepalanya ke arah toko donat.
Dan tentu saja dia menghampiri mereka.
"Danna, apa yang kau lakukan?" satu hal yang pasti, Sougo sangat menyukai Gintoki, apapun yang dia lakukan terlihat menyenangkan dan dia juga ingin mencobanya.
"Oh, Souchiro-kun, waktu yang tepat! Bisakah kau lepaskan aku dari monster ini?" kata Gintoki di sela-sela pitingan Kagura.
Okita kemudian menghunuskan pedangnya, bersiap untuk 'membantu' Gintoki.
"Jangan ikut campur, Sadist! Atau kamu akan merasakan akibatnya. Papi, mumpung aku sibuk mengurusi Gin-chan, bisa bantu aku menghilangkan Sadis kecil ini dari muka bumi?"
"Oh, bouzu-san, sebaiknya anda jangan melakukannya, atau nanti anda harus berurusan dengan putri yang patah hati,"
"Apa maksudmu, kora teme. Aku tidak akan menangis sedikit pun untuk makhluk sepertimu,"kata Kagura gemes sendiri, rambu kriwil Gintoki dia jambak-jambak.
"Yosh, China-musume kau di tangkap karena percobaan pembunuhan dan karena telah menyakiti hati seorang pemuda tampan ini,"
"Nani Sadist..!?" dan di mulai lah perang dunia ke 3. Tentu saja Gintoki yang jadi korban pertama semenjak kepalanya masih dalam jangkauan Kagura. Umibouzu pun meskipun tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi ikut-ikutan karena dia merasa perlu mengetes Okita. (mungkin karena insting kebapakannya mengatakan Okita terlalu agresif)
"ARRGh, atama ga chigiru, hiki chigiru...!" jerit Gintoki kesakitan di sela-sela amukan Kagura. "Seseorang, hentikan ini. Seseorang, lakukan sesuatu sebelum kepalaku lepas. Seseorang, panggil polisi...!"
"Danna, ore keisatsu nandeskara."*
...
Ah, duduk berduaan, saling menatap dengan tanpa sekalipun mengalihkan pandangan satu sama lain bahan perang dunia ketiga terjadi di teras depan saja tidak mengganggu keasikan dua sejoli ini. Kamui menatap Nobume. Nobume menatap Kamui.
Tidak, mereka sedang tidak lovey-dovey.
Meski sama-sama bertatapan ada satu perbedaan mendasar antara keduanya. Ekspresi yang jelas berbeda, Kamui masih ekspresi kekanakannya dan Nobume yang datar. Tapi meski begitu, ketika diperhatikan dengan seksama, mata bulat Nobume terlihat lebih besar dari biasanya. Dan nampaknya pula, tidak seperti biasanya posturnya yang tenang itu terpecahkan. Gadis itu gusar.
"Nobutatsu, oi Nobutatsu.." panggil Kamui, melambai-lambaikan tangannya. "Ha? Aneh, kenapa dengannya?"
Ne, Kamui-kun, kamu tidak bisa mengharapkan semua gadis untuk langsung bersorak kegirangan setelah kamu berkata, "Sukiatte kudasai..?
Apalagi yang mengatakannya adalah cowok tampan dengan senyum mempesona-ya-walaupun-adalah-seorang-psikopat. Bahkan kalau Abuto yang adalah 'Tough-Guy' mendengar kalimatmu barusan dia juga pasti bakalan pingsan, Kamui.
"Mou ichidou?"
"Sukiatte kudasai?"
"Mou ichidou?"
"Sukiatte kudasai."
"Mou ichidou?" bahkan sampai mendengarnya sampai ketiga kalinya Nobume juga tidak percaya.
"Tapi, memang ada sedikit masalah kecil sih. Kau kan baru mengenalku kemarin, kau juga pasti tidak tahu kan kalau aku kapten Skuad 7 Harusame. Yah~ gak apa-apa kan, kita bisa saling mengenal satu sama lainnya sambil jalan..hehe.." Kalau kamu mengabaikan bencana yang terjadi di luar kafe, memang hanya itu sih masalahnya.
Tanpa diduga-duga, Nobume langsung mengeluarkan pedangnya. Dua sekaligus. Dia langsung menghunuskannya, sangat dekat, nyaris mengenai hidung Kamui.
"Abunai ja ne ka?" tanya Kamui, kaget.
"Aku tahu kau adalah Villain, makanya aku kaget kau menembakku.."ucap Nobume, sedikit tersipu meskipun pedangnya tidak bergerak dari tempatnya awal. Di depan hidung Kamui.
"Ah, maaf-maaf..." ucap Kamui, menaikan kedua tangannya, difensif. "Kau tahu siapa aku?"
"Ya, aku melihat database di kantor," dan terkejut karenanya, kau terlalu imut buat jadi villain.
"Oh..."dengan pelan Kamui kemudian menurunkan pedang yang ditujukan padanya itu. Melihat Nobume yang bergeming, Kamui mulai melangkah mendekati Nobume, kedua tangannya melepaskan jemari Nobume dari ganggang katananya dengan amat pelan.
"Waduh, bahaya dong. Padahal aku ingin PDKT tanpa memberitahumu siapa aku sebenarnya. Polisi dan penjahat 'kan gak cocok," kata Kamui, kedua tangan Nobume sudah dalam genggamannya, dia berhasil melepaskan katana-katana itu.
...
"Tunggu, apa yang akan dia lakukan?" Senmaru panik sendiri melihat Kamui menurunkan pedang Nobume. Menyamar menjadi salah satu pengunjung cafe itu, pemuda itu sedari tadi mengamati wakil komandannya itu dengan serius. Meski jarak mereka lumayan jauh, dia tidak bisa mengambil resiko karena Nobume tetaplah Nobume.
Senmaru masih tidak tahu siapa pemuda berkepang itu, tapi dia mulai penasaran bagaimana skill Kamui sampai-sampai Nobume bisa berkompromi dengannya. Oh boy, you should know what you asked for..
Dari tempat dia duduk, dia melihat Kamui mengeluarkan sesuatu setelah sebelumnya berhasil menenangkan Nobume.
...
"Nobutatsu, karena kamu sudah tahu siapa sebenarnya aku, maka aku akan langsung mengungkapkan apa yang ingin kukatakan sebenarnya," ucap Kamui. Pemuda itu mengeluarkan sebuah hairpin, aksesoris rambut. Sejenis pasak sanggul, sangat simple desainnya, tapi cantik. Dua buah mutiara bergantung di rantai kecil yang tersemat di ujung batang kayu berwarna pekat itu. Terlihat ukiran tipis yang pasti sangat rumit untuk benda berukuran seperti itu.
Nobume mengernyitkan alisnya melihat benda rapuh itu berada di tangan Kamui. "Di tempat asalku gestur ini berarti aku menghendakimu sebagai pasanganku," aku ingin bercerita kalau rambut panjangmu lah yang membuatku mengingat tradisi remeh itu.
Dan tentu saja Kamui melewatkan keinginannya untuk segera melihat Nobume bersanggul. Karena terakhir kali dia melihat wanita bersanggul, ibunya terlihat sangat cantik.
"Kenapa..?" tentu Nobume bingung, bingung dengan semua yang serba tiba-tiba ini. Dan tentu saja bingung bagaimana menggunakan benda itu. Apa benda itu bisa digunakan untuk menusuk donat?
"Aku akan berpergian ke tempat yang jauh, dan untuk waktu yang lama, kau tentu tidak melupakan fakta bahwa basis Harusame adalah semesta luas ini kan? Ini salah satu cara untuk menandai bahwa kau sudah..-"
"...bertunangan?" sahut Nobume. Siapa sangka Kamui bisa romantis.
Abuto benar-benar akan pingsan kalau tahu ini.
DHUARRR!
"Kamui..! Ke sini dan selesaikan dulu masalah di rumah sebelum kau bertindak yang aneh-aneh...!" teriakan dari Kagura itu langsung membuat semua pengunjung ketakutan setelah sebelumnya pintu cafe itu diledakannya.
Sontak ekpresi Kamui berubah, senyumannya menghilang ketika tahu siapa yang berada di depan cafe itu. Ayah dan adiknya.
Meskipun ekspresi ayahnya terlihat lebih lembut, dia mungkin terkejut melihat Kamui berduaan dengan seorang gadis. Daddy-is-proud-kind-of-feeling. Jangan tanya bagaimana ekpresi Kagura.
"mengganggu saja," ucap Kamui, nada bicaranya sangat serius, sepertinya dia benar-benar kesal. "Ayo kita pergi dari sini," ucapnya, pasak sanggul itu kemudian beralih tangan.
"Ah, mungkin kita bisa bersenang-senang.." pikir Kamui, senyumannya kembali, dia kemudian melirik Nobume. "Kau tahu arti bersenang-senang kan?"
Lebih kurang berarti 'menghancurkan-sekeliling-dan-mungkin-sedikit-massacre-dan-sedikit-roundhouse-kick' dalam kamus Kamui. Nobume hanya mengangguk.
"Kau tidak mengharapkan kalau cara PDKT ku seperti ini kan?" dia terlihat ceria seolah telah memberinya surprise yang menggembirakan.
'Sebenarnya aku mengharapkannya..' ungkap Nobume dalam hati.
Beberapa tendangan, pukulan, bazooka meluncur, dan bentrokan antar katana kemudian..
"Matte Kora Kamui, kamu mau melarikan diri lagi, dasar pengecut..?"
Dua tangan menghentikan Kagura di masing-masing bahunya. Milik Gin-chan dan Papi.
"Biarkan dia menyelesaikan kencannya dulu..." ucap papinya..
Tbc..
a/n:
Hahahaha(tawa garing) apa yang telah kulakukan..?!
Sila bejek-bejek, menerima kritik maupun saran. Kamui terlalu OOC, aku tahu.(aku sengaja) beberapa head-cannon buat Kamui kumasukin semuanya disini.
Right, seseorang telah mengingatkanku buat ngasih arti dari frasa2 yang kupakai(Sumimasen deshita, lupa bangaat!)
Ochisuite: Mohon tenang.
Atama ga chigiru, hiki chigiru: Kepala mau copot. (aku kasih arti singkatnya, soalnya aku juga Cuma belajar dari dengerin di animenya XD)
Danna, ore keisatsu da: Boss, aku polisi.
Sukiatte kudasai..?: kurang lebih artinya 'please date with me' aku nyari translate-an yang tepat dlm bahasa indonesia ga ngajakin pacaran gitulah..
Mou ichidou?: Sekali lagi?
Abunai ja ne ka?: (itu) bahaya kan?
Yah, seperti itulah kurang lebihnya. Terima kasih udah mengingatkan...:))
Terima kasih buat semuanya yang udah view doang, review ataupun yang meninggalkan jejak follow, ga bisa memberikan apa-apa selain cerita yang malah butuh saran ini..
Dan sudah lama banget gak update fic-fic-ku disini.. Maafkan hamba, bukannya hamba dikejar-kejar debtcollector dan harus melarikan diri ke third world country tapi... ah ya sudahlah.. (meh, permintaan maaf macam apa ini?!)
Tapi meskipun begitu saya juga ga bisa janji bisa update secara reguler.. tapi tetep saya akan usahakan..Terima kasih atas kesabaran kalian semua minna..
Ja, see you next chapter, yoroshiku nee..
