Note :

Chapter 8 is UP! Ahh, emang geh bukan author yang baik dan benar ==

Don't Like? DONT DON READ!

Disclaimer : SM Entertainment (Semua Milik yang maha Esa)

Genre: Teserahlah ~

"Ketika SuJu disentuh Dbsk"

-DrarryLova-

Beberapa hari berlalu setelah perginya anak-anak Suju-M ke Changsa yang dipimpin oleh Hankyung dengan anggotanya Kyuhyun, Zhoumi, Henry, Donghae, Ryeowook dan Siwon.

Suatu hari, terjadi keributan di dorm yang lain…

"Choi Minho Hyung!" teriakan itu melengking di ruang tengah dorm Shinee. Nampak Jonghyun yang sedari tadi duduk manis di sofa yang ada di ruang tengah itu hanya memandang cuek pada Taemin yang kewalahan mengejar Minho yang terus menggodanya. "Hyung, aku mohon kembalikan." Kini Taemin sudah menyerah dan berhenti untuk mengatur nafas yang terpengal-pengal.

Melihat Taemin yang menyerah, Minho menghentikan langkahnya tepat di depan pintu masuk dorm. "hohoho, untuk apa kau koleksi benda seperti ini? Kau mau jadi Key-umma? Jaejoong-hyung, huh?" Minho melambai-lambaikan sebuah bando berwarna pink yang tengah dipegangnya sambil terus menggoda Taemin. Taemin yang kelelahan hanya bisa melihat bando yang di berikan Key beberapa hari lalu dengan hati sedih. "atau, kau mau jadi Heechul-hyung yang super cantik dan ganjen itu kalau dekat namja?" Terang Minho dan tiba-tiba saja…

Blettak! Sebuah tamparan kipas mendarat di kepalanya sehingga Minho yang mengadu kesakitan menoleh kebelakang karena merasa pintu dorm terbuka. Tersangka langsung merebut bando yang di genggam Minho.

"Siapa yang kau bilang ganjen, hah?!" Ujar suara baritone itu dengan tatapan mengancam.

"Eh, Hee-Heechul-hyung!" Ujar Minho sambil tertawa merajuk. "Ampuuuuuun!" Dengan segera Minho berlari menjauh dari Heechul dan menuju kearah Taemin. Ia langsung menggotong tubuh maknae Shinee itu kearah tangga.

"Hee! Kalian mau kemana?!" Teriak Heechul yang tidak tega melihat wajah Taemin.

"Taemin tidak boleh mendapatkan bando itu sebelum aku grepe-grepe, hyung! Hahaha!" jerit Minho sambil tertawa jahat dan mengeratkan pegangannya pada Taemin agar Taemin tak berontak.

"APAA?! Lepaskan aku, hyung! Lepaskan aku!" Berontak Taemin. Namun, kedua namja itu hilang di balik tikungan lantai bertangga tadi. Sementara Jonghyun yang sedari tadi menutupi telinganya, dengan gaya cool masih terus membaca novelnya. Ia mulai membuka telinganya ketika menurutnya keributan sudah selesai sekarang.

Heechul duduk di samping Jonghyun ketika Minho dan Taemin mulai menghilang dari ruangan ini. Jonghyun melirik namja cantik itu yang sesekali membuang nafas lelah dengan gaya feminim.

'Minho benar, orang ini bukan namja.' Decaknya dalam hati sambil menutup novel yang di bacanya pagi ini. "Ada apa hyung pagi-pagi sudah kemari?" Tanya Jonghyun takut-takut. Yap, dia merasa aneh melihat hyungnya satu ini. Namja yang begitu cantik melebihi yeoja sekalipun. Jonghyun sampai-sampai plin-plan melihatnya.

"Tidak apa. Hanya di suruh Leeteuk-hyung untuk melihat keadaan kalian." Ujarnya sambil bercermin dengan kaca bundar yang memang di bawa Heechul sejak tadi di dalam tasnya.

'Centil banget.' Tambah Jonghyun dalam hati lagi. Baginya, sudah cukup melihat Key saja yang seperti itu! Sebenarnya, Jonghyun sedikit eneg melihat namja model-model begini. Dia juga tahu kalau setiap sebulan sekali pak Soo Man selalu menyuruh Leeteuk-hyung untuk mengecek dorm mereka. Dan sepertinya, Leeteuk-hyung sekarang sedang sibuk sehingga menyuruh namja cantik di Su-Ju ini yang datang.

~Rokkugo! Rokkugo!~

Nada ponsel Heechul bordering. Jonghyung langsung ngeneh ketika mendengar ringtone itu. Itukan kolot banget, batinnya.

"Jaaaa~ Hankyunnie!" Jerit Heechul histeris dengan wajah sedikit bahagia. Jonghyun Cuma bisa geleng-geleng kepala. Sementara Heechul sedang antusias dengan ponselnya, Jonghyun memutuskan untuk mengambil minuman dan meninggalkan ruang ini.

0o0

Sementara di hotel tempat anak-anak Suju-M menginap…

Mereka baru saja selesai dari konser terakhir hari ini. Kyuhyun langsung murung kembali menatap koper yang berisi alat-alat kesayangannya seperti pertama kali mereka menginjak Changsa, di dalam hotel, hanya itu yang Kyuhyun lakukan. Tapi kalau sudah mulai konser, Kyuhyun berubah pro dan menyembunyikan kesedihannya itu. Entahlah, ia sedih mungkin karena perlakuan Sungmin yang tidak sengaja 'mengusir' maknae Su-Ju ini.

Siwon dan Hankyung langsung mojok dan beromantis ria dengan ponsel mereka masing-masing. Entahlah, setiap ada waktu luang, hal pertama yang dilakukan Siwon dan Hankyung adalah menelepon malaikat mereka, Kibum dan Heechul.

Donghae langsung molor setiap kali sampai di kamar hotel. Memang pemuda yang paling simple dan tak bermasalah. Padahal, dia yang paling nangis-nangis ketika akan menuju Changsa.

Dilihat lagi, Zhoumi memang paling suka mendekati Henry. Terkadang, ia suka membawa kabur paksa Henry entah kemana. Ke kamar mandi, mungkin?

Dan Wookie? Ia menghela nafas panjang melihat rekan-rekannya masing-masing sudah sibuk sendiri. Rasanya, seperti tidak ada yang memperdulikan si tubuh mungil ini. Melihat punggung Siwon dan Hankyung saja yang menyempil-nyempil di pojokan dinding kamar, ia bisa tahu kalau mereka tengah berbahagia! Hmm, mungkin Siwon tidak terlalu, karena ia tak begitu berlama-lama telepon. Kibum pasti sibuk dengan jadwalnya.

Wookie merogoh ponselnya. Dia seperti kehilangan sesuatu semenjak tiba disini. Padahal, ini sudah hari-hari terakhir mereka akan berada di Changsa. Dia juga tidak pernah merasakan hal ini sebelumnya. Tapi, ia merindukan sesuatu… seseorang lebih tepatnya. Seseorang yang biasanya selalu mengganggunya dimanapun ia berada baik langsung maupun lewat ponsel. Ya, seseorang yang pasti akan meneleponnya jauh-jauh hari.

Wookie merasakan ponsel yang di genggamnya bergetar dan 1 pesan di terima.

From : _Max_

Hyung? Bagaimana? Sukses, kan?

Jangan lupa sama aku, ya~

Jangan lupa oleh-olehnya, hyung ^o^v

Lagi-lagi pesan dari Changmin. Pesan itu memang terlihat seperti memalak seperti pesan-pesan Changmin sebelumnya. Tapi, berkat bocah berumur kecil berbadan besar itu, Wookie merasa kelelahannya disini cukup berkurang. Dia seperti di pedulikan. Bahkan Sungmin yang paling akrab dengannya sampai hari inipun belum bisa meneleponnya, dan hanya mengirim satu pesan agar tetap semangat. Tak seperti biasanya, mungkin ini bisa di pastikan kalau Sungmin benar-benar sedang sibuk.

"Kalau dia… padahal, biasanya dia yang tak pernah absen meneleponku…" Desah Wookie miris.

Ponsel Wookie bergetar lagi. Ia langsung memandang layar ponselnya dan tersenyum kecil melihat nama panggilan yang tertera disana. Dari orang yang entah kenapa di tunggunya sampai saat ini.

"A-Anyeong, hyung…" Ujar Wookie gugup ketika ia baru saja mengangkat panggilan itu.

"Mianhae, Wookie-ah~~ aku baru bisa meneleponmu sekarang TT-TT. Kau sudah makan? Masih sibuk? Capek, ya? Kau baik-baik saja kan? Kau sedang apa?" Tanya orang di seberang bertubi-tubi.

"Ne, Yesung-hyung. Gwenchana. Aku sudah makan, kami sudah menyelesaikan konser terakhir kami. Tidak begitu melelahkan, kok. Aku baik-baik saja, aku hanya sedang duduk. Wae?" Ujar Wookie biasa saja namun tetap memberikan senyum simpul yang begitu membahagiakan.

"Hum?" Yesung balik bergumam. Mungkin, dia tidak mendengar jelas kata terakhir atau memang tak mengerti mengapa Wookie berkata 'wae?'.

"A-ah, hmm, maksudku, ke-kenapa baru telepon?" Tanya Wookie dengan malu-malu. Entahlah, Wookie begitu merindukan suara khas hyung-nya ini.,

"Ouh. Mianhae Wookie~ aku banyak jadwal, sungguh padat sekali. Jeongmal mianhe." Terang Yesung merasa bersalah. Wookie tersenyum masam. Apa Yesung tidak tahu kalau ternyata dia merasa rindu pada namja berkepala besar itu?

"Sibuk sekali, ya? Jadwal apa, hyung?" Tanya Wookie sedikit sinis. Wookie merasa kesal kalau namja yang menjadikannya korban pelecehannya itu lebih mementingkan jadwal daripada dirinya. Padahal Wookie kira di setiap sentuhan yang Yesung lakukan padanya adalah memang karena Yesung menginginkan dan mencintainya. 'Sarange' biasanya Yesung selalu mengucap itu walaupun Wookie berusaha untuk tidak menanggapinya.

"Anu, aku mengisi original soundtrack film SBS lagi. Mianhae, Wookie…" desis Yesung lagi yang merasa bersalah. Ia juga heran kenapa ia tak sempat menelepon atau mengirim pesan pada angelnya itu? Ahh, dia tahu, Yeoja-yeoja itu masalahnya!

Lama tak terdengar suara dari seberang sana. "Wookie-ah? Kau sibuk?" Tanya Yesung takut-takut. Tak ada lagi respon dari seberang telepon sana selain desahan nafas. "Wookie-ya?" Tanya Yesung lagi dengan sedikit mengiba.

"Nde… aku hanya…" suara Wookie terdengar lagi namun seketika dia diam dan terdengar tarikan nafas. Membuat Yesung menunggu kata yang akan di keluarkannya dengan sabar. "Aku hanya… ash, mungkin aneh mengatakannya! Hanya saja, aku… aku rindu. Aku rindu semua tentangmu. Semua yang ada padamu, hyung…" suara Wookie semakin lama semakin mengecil. Namun, Yesung bisa mendengar jelas kata kejujuran disana.

Yesung tersenyum tulus. "Ya, aku juga. Kau tidak nakal, hm?" Tanya Yesung dengan nada menggoda dan begitu terdengar dewasa. Wookie langsung gugup dan blushing mendengar pertanyaan itu. Tentu saja ia mengerti maksud Yesung.

"Nao! Aku tidak mungkin…" Ucap Wookie merengek. Terdengar Yesung tertawa renyah di seberang sana. Membuat Wookie membenamkan wajahnya diantara syalnya. Tak lama, Yesung mendengar sahutan dari sana dan Wookie menjawab sahutan itu. Yesung yakin yang tadi suara dari Siwon. "Hyung… anu, aku…"

"Ya, aku tahu. Jangan terlambat makan, ya. Sarange." Wookie tertegun mendengar kalimat terakhir yang biasanya dia dengar dari Yesung ini. Namun, kali ini berbeda, ia merasa berdebar-debar. Biasanya, ia tak mengindahkan kalimat ini dan langsung menutup telepon seperti biasanya, tapi sekarang?

"Na-Nado Sarange." Wookie langsung cepat-cepat menutup teleponnya. 'Aish, rasanya mukaku panas sekali.' Decak Wookie sambil mengipasi wajahnya dengan tangan terbuka. Lalu, ia terdiam dan mengigit ibu jarinya. Terlintas lagi suara yang mengucapkan kalimat itu 'Sarange'. Berkat kalimat ini, Wookie tersenyum kecil. Entahlah, perasaan apa itu. Yang jelas, Wookie sangat merindukan Yesung.

Sedangkan Yesung yang ada di lain tempat…

Tut tut tut… ia masih mendengar suara kontak putus dari ponselnya. Yak! Namja itu terdiam dan membeku dalam posisinya sekarang. Ketika ia menurunkan ponselnya dari telinga, nampak rona merah terlihat di pipinya sekarang.

"Apa? Yang barusan itu…. Benarkah Wookie yang mengtakannya?" Ucapnya tak percaya. Beberapa menit ia terdiam dan…. "WAAA! BERHASIL! BERHASIL!" Teriaknya girang sambil berjingkrak-jingkrak girang. Dari berapa ribu ia mengucapkan 'sarange', baru kali ini Yesung mendengar Wookie menjawabnya. Ahh, bahagianya….

0o0

RING DING DONG, RING DING DONG

"Tsk." Jonghyun mengecam kecil ketika melewati pintu kamarnya. "Kenapa Key selalu menyalakan music player kencang-kencang begini, sih?!" Umpatnya kesal. Diapun mulai memutar kenop pintu kamarnya yang memang di tempati bersama Key itu. Berusaha untuk menegor namja maniak warna pink itu.

Cklek.

"Ugh…" pandangan dua namja yang ada di dalam beralih kearah pintu yang di buka Jonghyun barusan. Saat tahu Jonghyun muncul, Key buru-buru turun dari atas tubuh Onew dan menutupi daerah bawahnya yang terbuka dengan selimut.

"A-ah, Mianhe!" Ucap Jonghyun gelagapan yang sekilas melihat adegan menjijikan tadi. Key pura-pura berpaling dari tatapan Jonghyun dan seakan tidak melakukan apa-apa. Sedangkan Onew yang tadi sedang tiduran dengan 'nikmat', kini mendecak kesal.

"Yak! Jonghyunnie! Kenapa kau tidak mengetuk pintu dulu, hah?!"

"A-ah, mi-mianhe hyung, aku tidak bermaksud mengganggu kalian."

"Kalau begitu, kau ada perlu apa?! Kalau tidak, cepat kembali tutup pintunya!" Perintah Onew.

"Ba-baik, hyung." Dengan sedikit takut, Jonghyun menutup pintu dan tak bermaksud menginteruspi kegiatan mereka. "cih, dasar! Bisa-bisanya mereka bercinta di kamarku!" Gerutu Jonghyun lalu meninggalkan tempat itu. Pantas saja mereka menyalakan music kencang-kencang agar tidak terdengar 'moan-moan' didalam.

0o0

"Minho-hyung, tidak boleh…" Taemin menepis wajah Minho halus dari hadapan wajahnya dengan sedikit ingin menangis.

"Wae. Taemin-ah? Hanya 1 ciuman, hm?" Rajuk Minho sambil merapatkan tubuhnya ke Taemin yang tak berkutik di sisi dinding dapur ini, lalu dia mendekati wajahnya lagi ke Taemin.

"A-ani, hyung…. Jangan…"

"Hei tiang listrik! Taemin sudah bilang tidak mau, kau jangan memaksanya." Suara Jonghyun menginterupsi kegiatan 2min. taemin hampir menangis di buat Minho tadi. Untunglah, hyungnya yang berambut kuning belang itu datang –setidaknya menolongnya.

"Ya! Apa urusanmu?! Kau pendek, bukan tandinganku!" ujar Minho menantang. Jonghyung yang sedang membuat minuman untuk Heechul itu menggeram kesal. Dan pada saat itu, Taemin mulai menangis. Jonghyun yang tau itu dan sudah selesai membuat minuman menarik paksa Taemin agar pergi dari Minho. "Ya! Kau mau bawa Taemin kemana?!"

"Dia menangis, bodoh." Toleh Jonghyun tanpa menghentikan langkahnya.

"Hei! Dia milikku! Tidak ada pair JongMin! Yang ada itu 2min! 2MIN!" Cerocos Minho namun Jonghyun tak menghiraukannya. Lagipula, sepertinya Minho tak mengejarnya. Ia tak mau mencari keributan sekarang karena ada Heechul disini.

0o0

Jonghyun membawa Taemin keruang depan untuk menemui Heechul lagi. Ia merasa tidak enak dengan Hyung seniornya yang sempat mereka cuekin ini.

"Wae? Kenapa kau menangis. Taeminnie?" Heechul sontak ketika melihat Taemin tengah mengusap wajahnya dengan sedikit terisak. "Gwenchana?" Tanya Heechul lagi kali ini sambil memeluk maknae di SM ini.

"Nde, Hyung. Tidak apa." Jawab Taemin berusaha tenang sambil tersenyum.

"Ash! Apakah gara-gara si Keroro itu?!" Gemertak Heechul. Dia terakhir kali melihat Taemin di bopong Minho. "Si mata belo itu grepe-grepe kau?" Tanya Heechul lembut. Taemin terdiam, sebenarnya dia paling takut dengan namja yang bertitle falming charisma itu. Biasanya, dia suka main bersama Key atau juga Onew. Taemin juga tidak terlalu dekat dengan Jonghyun yang memang cuek.

"Iya. Hampir, hyung." Jonghyun yang menjawab pertanyaan Heechul dengan nada dingin.

"Anak itu! Macam-macam dengan maknae! Tidak akan kubiarkan si tiang listrik itu!" Heechul mulai beranjak geram. Dari awal datang kemari, Minho memang sudah membuatnya kesal.

"Jangan, hyung! Sudah, jangan salahkan Minho-hyung." Cegah Taemin.

"Jjong! Kau harus jaga Taemin-ah baik-baik. Jangan sampai si mata belo itu mendekati Taemin!" Saran Heechul dan hanya di jawab anggukan kecil dari Jonghyun. "Omong-omong, Jinki dan Kibum mana?" Heechul mulai menoleh ke sekeliling.

Ucapan terakhir Heechul membuat Jonghyun tertegun. Kenapa Heechul menanyakan Onew dan Key yang sedang… agght.

"Apakah mereka ada di dalam?" Heechul mulai menaiki anak tangga namun buru-buru di cegah Jonghyun.

"Ah! Tidak ada hyung! Mereka keluar." Jawab Jonghyun sekenanya. Taemin dan Heechul mengerutkan dahinya. Namun, mereka tak berkata apa-apa ketika ponsel Heechul bordering kembali. Heechul lalu mengangkatnya.

"MWO?!" Ekspresi Heechul kaget ketika menerima telepon itu. "Ne, aku akan cepat-cepat pulang. Mereka baik-baik saja. Jinki? Oh, dia sedang keluar. Ya kangin-ah, aku akan langsung ke dorm." Celoteh Heechul cepat-cepat. Dan sambunganpun di putus.

"Ada apa, hyung?" Tanya Taemin dengan wajah polos.

"Teuki-hyung sakit." Ujar Heechul pelan. Taemin dan Jonghyun tersentak mendapat kabar buruk itu.

"Ta-tapi, kenapa Kangin-hyung menanyakan Onew-hyung?" Kini Jonghyun bertanya.

"Katanya, Leeteuk ingin berkata dengan Jinki, tapi saat di telepon, ponsel Jinki tak di angkat-angkat." Terang Heechul. "Kalau begitu, aku pulang dulu."

"Hyung, aku boleh ikut?" Pinta Taemin.

"Ne, kajja. Taeminnie!" ajak Heechul buru-buru dan kedua orang yang hampir mirip itupun pergi meninggalkan Jonghyun dan keluar dari dorm Shinee.

TBC

Haduuuh, YeWook moment~~

Mian ya, di chap ini pemunculan SHINee dulu, jadi agak sedikit chapter Su-Junya ^^

Mind To Review?