Summary : Naruto mendapat misi dari Kami dan Yami untuk melindungi manusia di Highschool dxd universe. Apa yang akan terjadi selanjutnya? Silahkan dibaca
Disclaimer : Masashi Kishimoto (Naruto) & Ichiei Ishibumi (Highschool dxd)
Pair : Naruto & Issei
Genre : Adventure, Supernatural
N W O
New World Order
Hari ini adalah hari yang buruk untuk memulai kembali aktivitas setelah melakukan istirahat yang cukup. Begitu pun dengan pemuda pirang yang saat ini telah membuka kedua matanya, hal pertama yang dilihatnya adalah atap apartemennya yang berwarna putih polos. Untuk sejenak, Naruto hanya berdiam diri saja dengan posisinya itu, kemudian pandangannya beralih pada jam dinding disamping kirinya, terlihat waktu telah menunjukkan pukul 06.27. Seperti biasa ia tidur diatas sofa, sedangkan satu-satunya kamar di apartemen tersebut dipakai oleh gadis yang yang tinggal bersamanya, Ayase Kamiyugi.
Tidak terasa waktu telah menunjukkan pukul 06.49 dan sekarang Naruto telah mengenakan seragam Kuoh. Pemuda pirang itu langsung berjalan ke arah meja makan dan mengambi dua onigiri untuk sarapan. Perlahan tatapannya beralih pada Ayase, seperti biasa gadis itu selalu duduk diatas sofa yang menghadap televisi.
"Ada berita apa pagi ini?" seru Naruto
"Perampokan sebuah Minimarket dan usaha pembunuhan yang berhasil digagalkan seorang petugas keamanan" ujarnya
"Hm, sepertinya mulai sekarang aku harus berhati-hati jika akan pergi ke Minimarket. Berbahaya juga jika sampai aku dijadikan sandera" ucap pemuda pirang itu sambil menopang dagu
"Aku yakin mereka cukup pintar memilih mana yang berguna dan tidak berguna untuk dijadikan sebagai sandera" sanggah Ayase
"Hah, ucapanmu itu memang selalu pedas. Sebenarnya kau memiliki dendam apa padaku?" ujar Naruto
"Hm, dendam? Aku mengatakan semua ini sesuai dengan fakta yang kutangkap oleh indera penglihatanku" balasnya
Keduanya kembali fokus pada kegiatannya masing-masing, gadis itu kembali memfokuskan tatapannya pada acara TV dihadapannya, sedangkan Naruto sudah mengambil tasnya dan bersiap berangkat sekolah.
"Oh ya Ayase, besok aku akan mendaftarkanmu di Kuoh Academy, dengan begitu kau akan memiliki kegiatan untuk dijalani. Karena jujur saja, kau seperti penunggu apartemenku" kemudian pemuda pirang itu berjalan keluar lalu menutup pintu apartemennya dari luar. Sedangkan Ayase hanya melihat pintu tersebut, seolah keberadaan pemuda pirang itu tetap berada disana.
"Aku tidak meminta untuk disekolahkan" ucapnya dan dia kembali memfokuskan dirinya pada acara TV dihadapannya
Memang seperti itulah interaksi mereka berdua sehari-hari, interaksi yang terkesan seadanya. Interaksi itu pun terjadi kalau ada hal-hal penting dan untuk selebihnya mereka hanya akan mengerjakan kegiatannya masing-masing.
Saat ini Naruto sedang berjalan menuju sekolahnya sambil merutuki dirinya sendiri karena tidak membawa persiapan dikala cuaca sedang tidak bersahabat seperti saat ini. Pemuda pirang itu terus melangkahkan kakinya sambil sesekali mengalihkan tatapannya ke atas hanya untuk melihat rentetan awan gelap yang sepertinya tidak lama lagi akan menurunkan bebannya, dan entah kenapa hal ini malah mengingatkannya tentang kejadian itu.
FLASHBACK
Hari itu adalah hari yang cukup buruk untuk berjalan-jalan diluar. Namun apa boleh buat, ini bukanlah keinginannya sendiri, melainkan karena tuntutan bahan persediaan makanan yang sudah menipis. Dengan langkah gontai, pemuda pirang itu keluar dari Minimarket dengan membawa barang belanjaan ditangan kanan serta sebuah payung hitam ditangan kiri. Sejenak ia hanya berdiam diri didepan pintu keluar hanya untuk melihat hujan yang semakin deras. Walaupun ia memang membawa sebuah payung, tapi dirinya terlalu malas untuk berjalan ditengah gemericik air. Ia melihat beberapa orang berlalu lalang dihadapannya, ada yang sendirian, ada yang berpasangan, bahkan ada juga yang membawa sanak keluarganya, dan masing-masing dari mereka memiliki cara tersendiri untuk membuat tubuhnya tetap kering, seperti memakai payung atau jas hujan.
Berniat untuk menunggu, pemuda pirang yang diketahui bernama Naruto Namikaze itu menyimpan barang belanjaannya serta payung yang dibawanya disalah satu sudut pintu keluar, kemudian ia mengeluarkan sebuah lollipop dari saku celananya, membukanya dan membuang bungkusnya sembarang arah. Pertama kali saat lollipop itu menyentuh indera pengecapnya, yang dirasakannya adalah rasa manis seperti strawberry. Sekilas ia melihat jam ditangan kirinya dan waktu sudah menunjukkan pukul 14.48. Pemuda pirang itu mulai melangkahkan kakinya melewati hujan yang cukup deras mengguyur kota Tokyo. Untunglah ia sudah cukup mengenal budaya hidup didunia ini, karena pada dasarnya memang tidak terlalu berbeda jauh dengan cara ia hidup di Konoha. Beberapa menit berselang Naruto menghentikan langkah kakinya diantara kerumunan orang-orang, ia melihat seorang perempuan yang duduk sambil memeluk lututnya disalah satu sudut bangunan disamping kirinya. Pemuda pirang itu langsung berjalan mendekat ke arahnya lalu mengapitkan gagang payung ditangan kirinya diantara leher dan bahunya untuk mengambil dua buah koin senilai 10 yen dari saku celananya yang kemudian ia lemparkan dihadapan perempuan tersebut. Sedangkan perempuan itu hanya diam saja memandang dua koin logam dihadapannya, namun kemudian terlihat raut wajahnya mulai mengeras. Apakah dirinya sehina itu dihadapan orang lain sehingga ada yang menganggapnya sebagai seorang pengemis? Dia langsung memungut kedua uang logam tersebut, lalu berdiri dan melemparkannya pada kepala pemuda pirang yang kini berjarak 3,4 meter darinya.
"Ittai" hanya itulah keluhan dari Naruto
Pemuda pirang itu langsung mengalihkan perhatiannya ke bawah dan mendapati dua buah koin senilai 10 yen. Dengan langkah cepat ia menghampiri si pelaku untuk meminta pertanggungjawaban.
"Baru kali ini aku bertemu dengan orang yang tidak tahu terima kasih. Walaupun kata-kata itu tidak keluar dari bibirmu, tapi hargailah pemberian orang lain. Dasar pengemis tidak tahu diri" ujar Naruto
'PLAKK' Pemuda pirang itu tidak tahu apakah harus marah atau berterima kasih, karena tamparan tersebut telah memberikan sedikit kehangatan ditengah udara dingin yang menyeruak. Namun ada satu hal yang membuatnya sedikit menyesal dengan kejadian barusan, karena saat ini ia hanya bisa melihat lollipop yang tadi berada dalam mulutnya, kini tergeletak diatas susunan bata merah.
"Aku bukan pengemis"
Untuk sejenak Naruto hanya diam saja melihat perempuan dihadapannya, namun kemudian sebuah senyuman mengembang diwajahnya, sebuah senyuman rubah yang sangat jarang ia perlihatkan di universe ini.
"Gomen, aku tidak tahu" ucap Naruto yang kini melihat perempuan itu tengah memeluk dirinya sendiri, seolah menghilangkan rasa dingin yang menusuk kulitnya.
Namun kemudian perempuan itu tersentak kaget saat pemuda pirang dihadapannya tiba-tiba menyerahkan barang belanjaan padanya. Dan dengan tangan kirinya yang sekarang bebas, Naruto lagsung menggenggam tangan kanan perempuan itu untuk mengikuti langkahnya.
"Apa yang kau lakukan? Lepaskan tanganku"
"Diam!" satu kata itu telah membuatnya tidak mengatakan apa-apa lagi dan hanya mengikuti langkah orang disamping kanannya.
Naruto terus berjalan sambil menggenggam tangan gadis itu, sesekali ia melihat ke samping kiri dan mendapatinya tengah menggigil kedinginan. Bukannya Naruto tidak mengerti, namun dirinya juga hanya memakai kaos putih polos berlengan panjang disertai celana jeans hitam dan sepasang sepatu kasual.
Mereka berdua terus berjalan hingga melewati sebuah gang sempit dan dihadang oleh tujuh orang yang berpakaian layaknya seorang anak jalanan, empat orang dari mereka membawa pemukul baseball sedangkan tiga orangnya membawa handgun. Bagaiman pun juga jalanan itu memang dikenal sepi, apalagi ditengah cuaca yang tidak bersahabat seperti saat ini.
"Hehe, lumayan juga. Serahkan barang bawaan dan juga uangmu, serta gadis dibelakangmu itu!" seru salah salah seorang anak jalanan
Naruto langsung menyerahkan payung dalam genggamannya pada gadis disamping kirinya dan kemudian ia langsung melihat ke arah kumpulan orang yang menghadangnya, juga senjata yang mereka bawa.
"Kau yakin tidak butuh bantuan?"
"Tidak"
"Baiklah" dan satu-satunya perempuan ditempat itu langsung mengambil langkah aman
'Handgun tipe FN-FNP 45, kecepatan peluru kurang lebih 350 m/s dengan jarak jangkauan 50 meter' ucap Naruto dalam hati disertai seringai iblis yang terlukis diwajahnya, dan sedetik kemudian sebuah kunai langsung muncul dari dalam lengan baju kanannya
Sebagai seorang shinobi, mencari informasi merupakan kebutuhan dasar dalam menentukan keberhasilan suatu misi, dan hal ini telah diterapkan oleh pemuda pirang satu ini. Ia telah mendapatkan berbagai informasi dari jurnal-jurnal yang ia kumpulkan dan data-data lainnya, termasuk tentang tipe senjata yang berkembang didunia ini. Dirinya sempat kaget saat pertama kali mengetahuinya, tipe senjata yang berkembang didunia ini memiliki tingkat keakuratan mendekati 100%. Bahkan dari sebagian jurnal yang masuk dalam kategori arsip dokumen rahasia menyebutkan tentang senjata pemusnah massal yang dalam penggunaannya bisa mengakibatkan kejahatan perang, dan lebih buruk lagi adalah kejahatan manusia yang tentu saja sangat bertentangan dengan Human Rights. Entah kenapa pemuda pirang ini memiliki pendapat bahwa senjata pemusnah massal sama burukya dengan mugen tsukuyomi.
Naruto langsung mengambil langkah zig-zag guna membuyarkan konsentrasi bagi tiga orang pembawa handgun dihadapannya, dan tepat ketika dirinya berjarak 1,5 meter dari tujuh anak jalanan tersebut, ia langsung bertarung dengan empat orang pembawa tongkat baseball.
15 menit berselang
Kini pemuda pirang itu hanya berdiri diantara tujuh orang yang tengah tidak sadarkan diri, terlihat luka goresan dipipi dan bahu kanannya akibat ia lambat memprediksi arah datangnya peluru. Dirinya hanya diam saja dengan keadaannya sekarang ini dimana seluruh pakaiannya telah basah oleh tetesan air hujan. Ia hanya menghela nafas mengingat semua yang telah ia lakukan semenjak berada di universe ini, dengan data yang menunjukkan bahwa populasi di dunia ini lebih dari 6,6 milyar jiwa dan dimana setiap jiwa itu memiliki karakter dan pribadi yang berbeda antar satu dengan yang lainnya. Benarkah ia sang child of prophecy itu? Entah kenapa dirinya merasa ragu dengan semua ini. Mungkinkah karena IQ otaknya yang tidak berbeda jauh dengan seekor Simpanse? Sehingga tidak dapat menangkap maksud perkataan dari Kami-sama. Kalau seperti ini, ia lebih memilih menjadi seorang judas saja.
Tiba-tiba pemuda pirang itu tidak merasakan lagi air hujan yang menerpa tubuhnya dan ia mendapati sosok perempuan tersebut kini berada disamping kirinya.
"Ayase Kamiyugi"
"Naruto Namikaze"
"Lalu apa yang akan kau lakukan setelah ini?"
"Kita pulang" ucap Naruto dengan senyuman hangat yang terlukis diwajahnya
END OF FLASHBACK
Sudah 30 menit berlalu semenjak bel jam pelajaran terakhir berbunyi, dan kini Issei sedang berjalan menuju Occult Research Club meninggalkan Naruto dan Asia yang menunggunya didepan gerbang sekolah. Berbicara soal Asia, dia sudah bersekolah di Kouh Academy sejak beberapa hari yang lalu. Perlahan, pemuda berambut coklat itu membuka pintu ruang klub dan mendapati semuanya sudah berada disana.
"Selamat siang buchou" seru Issei
"Ah, selamat siang Issei. Oh ya, Jika kau berhasil membuat sebuah kontrak hari ini. . .
Kemudian Rias berjalan mendekati Issei dan membisikkan sesuatu padanya
". . . kau boleh menyentuh oppai-ku" lanjutnya
"UWAHHH, TIDAK KUSANGKA TERNYATA ADA KOMBINASI KATA-KATA YANG INDAH DALAM BAHASA JEPANG"
"Ara ara, kau terlihat bersemangat sekali, Issei-kun"
"Menjijikkan"
Sedangkan satu-satunya knight ditempat itu hanya bisa tersenyum canggung mendengar komentar barusan. Ia sudah bisa menduga maksud dari pernyataan Issei dan juga komentar yang keluar dari mulut Koneko.
Setelah semua urusannya di Occult Research Club selesai, ia langsung pamit pada Rias karena siang hari ini ada panggilan dari seseorang yang sudah membuat kontrak dengannya. Terlihat seorang pemua berambut coklat sedang berjalan ke arah pintu gerbang dengan setetes keringat yang meluncur hingga mencapai dagunya.
"Naruto-san, bisakah hari ini kau temani aku untuk menemui orang yang akan membuat kontrak denganku?" ucap Issei yang kini sudah berada dihadapan Naruto dan Asia
"Memangnya ada apa" tanya Naruto balik
"Tidak, aku hanya sedikit gugup"
Sedangkan pemuda pirang itu hanya menyipitkan matanya, seolah mencari niat tersembunyi dari kouhai-nya itu
"Baiklah, aku ikut denganmu"
"Issei -san, bolehkah aku ikut denganmu?" seru Asia tiba-tiba
"Tentu saja, Asia-chan"
Akhirnya mereka bertiga langsung pergi ke tempat orang yang telah membuat kontrak dengan Issei. Beberapa waktu berselang, sekarang mereka bertiga telah berada didepan sebuah pintu apartemen yang terlihat cukup minimalis. Dengan degup jantungnya yang kian berdebar-debar, Issei mengarahkan telunjuk tangan kanannya untuk memencet bel dihadapannya.
'TING TONG'
Perlahan, pintu dihadapan mereka bertiga terbuka dan
"Oh, rupanya sudah datang ya. Tapi diantara kalian bertiga, yang mana yang Akuma-chan"
"Eh hehe, salam kenal, namaku Hyouduo Issei. Akulah akuma yang kau maksud"
Tanpa basa-basi, Naruto langsung menarik tangan kiri Issei dengan tangan kanannya dan mengajaknya ke salah satu sudut apartemen tersebut.
"Apa maksudnya semua ini, Issei?" tanya Naruto dengan kilatan tajam dikedua matanya
"Aku juga tidak tahu kalau orang yang memanggilku adalah makhluk jejadian seperti itu"
"Kau–"
"Kumohon Naruto-san, maukah kau menerima sebagian beban hidupku ini" ucap Issei dengan mata yang berkaca-kaca sambil menggenggam kedua tangan Naruto dengan kedua tangannya juga
"Baiklah"
"Gomen Naruto-san, perlu dua hari dua malam untukku bisa mendapatkan ini semua"
Akhirnya mereka berdua kembali ke tempat dimana Asia berada. Baik Naruto mapun Issei, mereka dapat melihat Asia yang dapat berinteraksi dengan baik bersama sosok dihadapannya. Jujur, hal tersebut membuat dua lelaki tulen itu saling pandang dengan tatapan takjub.
"Oh ya Akuma-chan, temanmu ini enak juga diajak ngobrol nyan. Dan ngomong-ngomong, kau belum mengenalkan temanmu yang satunya padaku nyan"
"Oh ya aku lupa, namanya Naruto Namikaze. Ia adalah senpai-ku di Kuoh Academy"
"Wah, jadi namanya adalah Naru-chwan ya, benar-benar nama yang manis semanis orangnya. Dan untuk namaku, kau boleh memanggilku Miu-tan nyan" ucapnya sambil mengedipkan sebelah matanya
'Chwan!' ucap Naruto dan Issei bersamaan dalam hatinya masing-masing
Naruto hanya bisa mematung melihat makhluk jejadian dihadapannya. Bagaimana tidak, didepannya berdiri sosok yang memiliki tubuh layaknya seorang binaragawan. Namun yang membuatnya terlihat berbeda adalah sosok tersebut memakai pakaian seperti seorang gadis penyihir dengan rambut yang diikat twintail.
"Akuma-chan, tolong kabulkan permintaan Miu-tan hiks hiks. Miu-tan ingin menjadi gadis penyihir"
"Aku tak tahu jika ada akuma yang bisa melakukan itu?"
"Bukan hanya kau, Naruto-san. Tapi aku juga tidak tahu"
Kini, makhluk yang dipanggil Miu-tan itu sedang duduk berhadapan dengan ketiga tamunya didalam apartemennya yang terkesan minimalis, namun semuanya tersusun rapi sehingga enak dipandang.
"Naruto-san, kau ada ide?" ucap Issei pada sosok disamping kirinya
"Gomen Issei, tapi sekarang otakku benar-benar terasa buntu"
"Ano, bagaimana kalau kita melakukan kegiatan yang ia sukai bersama-sama" seru Asia
"Kau hebat Asia-chan" puji Issei
Entah kenapa setelah mendengar ucapan Asia, terlihat senyuman yang mengembang dibibir Miu-tan dan tanpa sadar dirinya langsung berdiri lalu berucap setengah berteriak
"KALAU BEGITU, AYO KITA BER-COSPLAY RIA NYAN!"
Pemuda pirang yang duduk disamping Issei itu langsung melakukan sebuah segel tangan dan mengatakan sesuatu dengan nada suara yang cukup didengar oleh pemuda bermarga Hyoudou disamping kanannya.
"Henge no jutsu"
Yang kemudian dilihat Issei bukan lagi sosok pemuda pirang yang dikenalnya, melainkan seorang gadis bersurai pirang yang memakai pakaian layaknya seorang gadis penyihir. Dengan mata sapphire yang bulat, hidung mancung dan bibir tipis yang berwarna selembut kelopak sakura, entah kenapa sosok tersebut terlihat begitu sempurna dimata Issei. Bahkan tanpa sadar, pemuda bermarga Hyoudou itu menganggap sosok disamping kirinya sebagai the great onee-sama yang ketiga setelah Rias-senpai dan Akeno-senpai. Namun tiba-tiba khayalan indah itu langsung lenyap seketika saat otaknya merespon sebuah fakta yang menyakitkan, sebuah fakta yang menyatakan kalau sosok tersebut hanyalah makhluk jejadian a.k.a Namikaze Naruto.
"Yosh, ayo kita ber-cosplay ria!" ucap sosok tersebut sambil tersenyum lembut dan mengepalkan kedua tangannya setinggi bahu
"Oh ya, kalau tidak salah Miu-tan memiliki sebuah kamera" ucapnya sambil melangkah untuk mengambil benda tersebut dan kemudian memberikannya pada Issei untuk memfoto dirinya bersama Naru-chwan
Melihat dua sosok dihadapannya, pemuda Hyoudou itu hanya bisa bergumam kecil sambil menggenggam kamera milik Miu-tan. 'Bagai bumi dan langit', itulah pernyataan yang terlintas dibenak Issei saat melihat dua sosok dihadapannya. Sedangkan Asia hanya berdiri disamping Issei dengan senyuman yang terus mengembang dibibirnya, ini merupakan hal pertama baginya semenjak tinggal bersama dengan keluarga Hyoudou, dan entah kenapa banyak sekali perasaan senang yang masuk ke dalam hatinya. Meskipun dirinya tidak diakui lagi, meskipun Gereja tidak akan menerimanya lagi. Tapi dengan dua sosok yang kini telah menempati posisi teratas dihatinya, itu sudah lebih dari cukup.
Tidak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 17.04 dan entah sudah berapa puluh kali Issei memfoto dua sosok dihadapannya dengan pose yang menurutnya aneh dan kadang tidak masuk akal. Bahkan tidak jarang disela acara foto-memfoto tersebut, Naruto yang masih dalam wujud perempuan datang menghampiri Issei dan menggodanya, yang tentu saja membuat wajah pemuda bermarga Hyoudou itu langsung merah padam dan kemudian digantikan dengan sebuah senyuman nista yang terukir dibibirnya. Dan pada saat itulah Asia datang menghampiri mereka dan berkata "Naruto-san, berhenti menggoda Issei-san!".
Sekarang mereka bertiga tengah berjalan pulang, tentunya setelah berpamitan pada Miu-tan. Walaupun hari ini dirinya kembali tidak mendapatkan sebuah kontrak, tapi ada sedikit perasaan senang yang menyeruak didalam hatiya karena telah berhasil menghiburnya, dan tentunya semua ini berkat dua orang yang kini berjalan bersamanya. Sedangkan untuk kabar buruknya, ia tidak bisa meremas oppai buchou-nya.
"Issei, bolehkah aku bertanya satu hal padamu? Ini tentang Asia, dan juga da-tenshi yang mengincarnya. Andai saja yang mengincarnya tidak hanya dari pihak da-tenshi, tetapi ada pihak lain yang mengincarnya dengan kekuatan yang bahkan dapat membunuhmu, membunuhku dan juga membunuh teman-temanmu di Occult Research Club. Apa yang akan kau lakukan?"
"Tidak peduli semulia apapun Dewa itu, meskipun ia datang dengan kekuatan yang membawa kehancuran bagi dunia ini. Namun, jika ia memang berniat menyakiti teman-temanku, pasti akan kuhancurkan dia tidak peduli apapun resikonya"
"Hahaha, tidak kusangka kau dapat mengatakan hal seperti itu. Kali ini aku setuju denganmu, meskipun datang seseorang yang membawa kematian untuk kita. Maka kita akan menantang kematian itu dengan kekuatan yang kita miliki" seru Ddraig
"Issei-san, arigatou" ucap Asia
Tanpa disadari oleh kedua kouhai -nya, terlihat seringaian tipis yang terlukis diwajah Naruto setelah mendengar ucapan Issei. Ada alasan tertentu kenapa ia mengatakan hal itu, sebelum ia bersekolah di Kouh Academy, bahkan sebelum pertemuannya dengan Issei. Ia pernah membaca sebuah artifak yang mengatakan 'mereka yang diberkahi oleh kekuatan Naga adalah orang-orang yang tidak takut mati, bahkan menantang kematian itu sendiri'.
...
Di salah satu bangunan tertinggi di daerah itu, ditengah gemerlapnya suasana malam hari kota Tokyo. Terlihat dua orang yang memiliki rentang umur cukup jauh, seorang pemuda pirang yang bersandar pada pagar pembatas dengan memakai kaos putih polos berlengan panjang, celana jeans hitam dan sepasang sepatu kasual yang diketahui bernama Namikaze Naruto. Pemuda pirang itu hanya melihat ke arah gemerlapnya lampu yang menghiasi suasana kota malam hari dibawah langit berbintang. Baginya, tempat ini benar-benar terasa indah, damai dan tentram.
"Kita pergi sekarang, Hanza!" ucapnya sambil memakai sepasang sarung tangan berwarna putih polos, kemudian melangkahkan kakinya ke arah dua katana berwarna hitam yang bersandar rapi pada dinding putih dihadapannya. Pemuda pirang itu mengambil katana yang disebelah kiri, sedangkan yang satunya lagi diambil oleh sosok dibelakangnya. Lalu mereka berdua menghilang dalam kepulan asap berwarna putih.
Terlihat tiga orang da-tenshi sedang berjaga disebuah Gereja tua yang sudah tidak dipakai lagi. Dan tanpa mereka sadari, disebuah dahan pohon yang berjarak 50 meter dari tempat mereka berada, berdiri seorang pemuda pirang bernama Namikaze Naruto dan juga wakilnya yang diketahui bernama Hanza. Tidak lama kemudian, sosok disamping Naruto itu langsung mengeluarkan sebuah catatan kecil dari kantong ninja-nya, lalu membuka lembar demi lembar catatan tersebut hingga terlihat tiga nama yang tertulis didalamnya, Dohnaseek, Mittelt dan Kalawarner.
Baik Dohnaseek maupun kedua rekannya, tiba-tiba tatapan mereka bertiga terfokus pada seseorang yang memakai shinobi shozoko berwarna hitam sedang berjalan ke arah mereka.
"Siapa kau? Hentikan langkahmu ata–" belum sempat Dohnaseek menyelesaikan ucapannya, sosok yang diketahui adalah Hanza itu tiba-tiba langsung berada dihadapannya dan menebasnya secara vertikal hingga terbagi menjadi dua bagian.
"Wah wah, kebiasaanmu itu memang tidak bisa berubah ya, Hanza. Kau selalu saja menyelesaikan semuanya begitu saja" ucap Naruto yang berjalan ke arah mereka berempat
"Gomen, Naruto-sama"
Sedetik kemudian, pemuda pirang itu tiba-tiba berada dihadapan Kalawarner dan langsung menusukkan katana dalam genggaman tangan kanannya melewati rongga mulut perempuan dihadapannya kemudian menembus tenggorokannya, lalu merobeknya secara horizontal. Sedangkan Mittelt hanya bergidik ngeri melihat kedua rekannya dibunuh begitu saja dengan cara yang bisa dibilang kejam. Beberapa detik berselang, dan sekarang Naruto melihat Hanza sedang menjambak rambut gadis bersurai pirang itu.
"Bolehkah aku membawanya, Naruto-sama?" ucap Hanza
"Kau akan menginterogasinya? Kupikir kau adalah seseorang yang mengerti tentang ilmu psikologi. Bagaimana kau akan menginterogasinya dengan kondisinya yang shock seperti itu, bahkan dia baru menginjak usia remaja, sudah dipastikan emosinya masih labil"
"Jika memang benar dia tidak berguna, maka akan kujadikan dia sebagai tambahan koleksiku"
"Terserah kau saja"
"Terima kashi, Naruto-sama" ucapnya dan kemudian menghilang sambil membawa gadis itu dalam kepulan asap
Sedangkan Naruto hanya diam saja ditempat itu, kemudian tatapannya beralih ke arah langit berbintang diatasnya. Perlahan ia mengarahkan tangan kirinya ke atas, seolah ingin menggapai langit yang terlihat dekat dimatanya, namun hatinya mengatakan kalau itu sangat jauh. Sekarang ia sudah mengetahui jawabannya, jawaban yang ia cari semenjak berada di universe ini.
"Issei, kaulah sang child of prophecy itu" ucapnya
Pemuda pirang itu mulai menutup matanya, seolah mencari kebenaran yang tersembunyi didalam dirinya. Dengan konteks dunia yang sekarang ini, ia hanyalah seorang shinobi yang hidup dalam bayangan, melakukan pekerjaan kotor seperti memusnahkan mayat dan semacamnya. Ia tidak peduli dengan itu semua, karena inilah harga dirinya sebagai seorang shinobi. Dan dengan semua yang telah ia lakukan di universe ini, ia memilih perannya sebagai seorang judas.
Waktu sudah menunjukkan 02.10 dini hari, dan tiba-tiba saja Ayase terbangun dari tidurnya dengan nafas yang memburu. Dia mimpi bertemu dengan dua orang pemuda berambut pirang yang memakai pakaian layaknya seorang ksatria, dan masing-masing dari mereka memiliki lima pasang sayap dipunggungnya. Masih jelas dalam ingatannya bagaimana mimpi itu berlangsung.
Sosok pertama, ia memiliki lima pasang sayap berwarna putih bersih dan membawa sebuah katana ditangan kanannya. Sosok itu memperkenalkan dirinya sebagai Naruto Namikaze dengan senyuman hangatnya.
Sosok kedua, ia memiliki lima pasang sayap berwarna hitam legam dan membawa sebuah schyte ditangan kanannya. Sosok itu memperkenalkan dirinya sebagai Yami Naruto Namikaze dengan seringaian setannya.
"Naruto, apa kau pembawa kedamaian atau pembawa kehancuran itu sendiri" ucap Ayase
TBC
OMAKE
"Otou-san, cepatlah!"
"Tch, berisik. Kau sama saja cerewetnya dengan ibumu"
"Mou, itu karena kau lambat, otou-san"
Terlihat dua sosok berambut merah dan juga berbeda gender tengah berjalan diatas lantai putih bercahaya dengan susunan anak tangga yang berada disekitar mereka.
"Lama tidak bertemu, Kurama" ucap seorang perempuan yang memakai kimono putih dengan corak bunga sakura, dia adalah Kami, the creator of life
"Iya, sudah 500 tahun berlalu. Senang bertemu dengan anda kembali, Kami-sama" ucap Kurama sambil membungkuk hormat
"Sebelumnya, maaf karena telah menyita waktumu, Kurama. Namun aku ingin kau menjadi partner-nya sekali lagi. Kupikir, misi yang kuberikan padanya mungkin terlalu berat. Oleh karena itu, aku memintamu untuk kembali berada disisinya" ucap Kami
"Tidak apa. Aku Kurama, dengan senang hati menerima misi dari anda"
"Terima kasih . . "
Kemudian Kami mengalihkan perhatiannya pada sosok disamping Kurama.
". . dan kalau tidak salah, namamu adalah Momiji, bukan?"
"Ya, namaku adalah Momiji, putri dari Kyuubi no Kurama. Dan kalau boleh kutahu, kapan kami akan bertemu dengannya? Soalnya aku penasaran dengan sosok yang sudah tou-san anggap sebagai partner terbaiknya itu" seru Momiji
'Bersiaplah bocah kampret, karena tidak lama lagi kita akan bertemu' seru Kurama didalam hatinya
