Kim Jongsoo a.k.a KJ-27 is back!
Hai! Now I'm here with my new story that took too much days to make it perfect for me.
With some touch (call it an editing please) from Eclaire Oh, this ff finally done for part one.
This whole story was inspired by Amnesia - 5SOS. The lyrics was truly deep and for me that was fvckn deep.
Oh! some part of this ff are based on the true story, which one? A-a, I won't tell you. That's a secret.
Take your time to read this one! Hope you like my new story with Kaisoo (as always) inside the story.
Welcome to my fanfict world and enjoy!
- KJ-
Kai terlihat cukup sibuk pagi ini. Sejak dua jam lalu, ia tidak keluar dari dapur dan itu membuat Changmin penasaran.
"Apa yang sebenarnya kau kerjakan disana, Kai? Jangan menghancurkan apartemenku!" teriaknya sambil berjalan ke arah pintu apartemennya yang baru saja diketuk oleh tamu. "Siapa yang datang sepagi ini?"
"Annyeong, Uisa!"
Dan seketika Changmin tersenyum jahil. "Begitu rupanya. Aku mulai paham." gumamnya. "Ah, masuklah gadis kecil. Kai sedang mencoba menghancurkan dapurku sejak dua jam lalu. Bisakah kau kesana dan menghentikan usahanya membuat dapurku lebih hancur?"
Gadis kecil yang jadi tamu pertama Changmin pagi ini itupun masuk dan langsung mengarahkan pandangannya menuju dapur dan melakukan apa yang diminta Changmin. Menghentikan Kai menghancurkan dapur apartemennya.
"Ya Tuhan Kai! Kau sedang apa?"
Namun sang pemuda yang sedang asik berjoget sambil entah melakukan apa itu tak menggubris teriakan gadis mungil itu. Dan ketika sang tamu sadar bahwa lawan bicaranya sedang memakai earphone, gadis itu pun langsung melepas earphone yang menyumpal telinga kanan Kai dan berteriak tepat di sampingnya.
"Kaaaai"
Sontak Kai yang kaget pun melemparkan beberapa bahan makanan yang akan ia masukkan ke dalam panci saat suara merdu tapi sedikit mengganggu milik sang tamu menyapa telinganya.
"Hwaaa! Kenapa kau sudah datang?" tanya Kai sambil membalik badannya dan berusaha menghalangi Kyungsoo melihat lebih lanjut kehancuran yang ia buat di dapur Changmin. Matanya teralih pada sosok Changmin yang sedang menahan tawanya di ruang tamu. "Ya Hyung, kenapa kau tidak memberitahuku kalau Kyungsoo datang? Aish!"
Changmin melepas tawa bodohnya dengan bebas. "Aku sudah meneriakimu sejak setengah jam lalu tapi kau tidak menjawab. Ya sudah, aku tinggal kau ke kamar mandi. Eh, ternyata gadis kecil ini sudah datang. Jangan menyalahkanku, Kai. Lagipula apa sih yang sedang kau lakukan? Membuat ramuan pengembali ingatan?" godanya.
Kai membalik tubuh kecil Kyungsoo yang sejak tadi penasaran dengan perbuatannya di dapur Changmin. "Sudah, Kyung. Kau di sana saja bersama Changmin Hyung. Aku belum selesai dengan ini." tuturnya. "Jika aku bisa, sudah kuracik sejak pertama kali aku tinggal disini, Hyung. Jadi aku tidak perlu mendengar dengkuran tidurmu tiap malam selama enam bulan penuh!" tambah Kai sambil bergegas berbalik menuju kerajaan sementaranya tatkala Changmin sudah bersiap melemparkan bantal sofa padanya.
"Lihat itu, Kyung. Kau bisa bayangkan bagaimana hidupku selama enam bulan ini ketika harus tinggal dengan anak sialan seperti dia, kan?" tanya Changmin pada Kyugsoo yang terlihat menahan tawanya.
"Pasti bahagia kan, Hyung? Aku kan manusia pembawa bahagia~" dendang Kai asal.
"Bahagia pantat kuda? Dasar. Masih untung kau tidak ku tendang dari sini karena kau menyebalkan bocah sialan."
"Oh ayolah Hyung, kau pasti kesepian jika tidak ada aku. Lihat saja ketika aku nanti ingat masa laluku dan malah tidak mengingatmu. Kau pasti merindukanku!"
Kyungsoo terkekeh pelan mendengar perdebatan dua pemuda tampan ini. Ia semakin yakin bagaimana ramainya apartemen ini selama enam bulan belakangan. Kedatangannya yang hanya dua hari sekali setiap minggu saat Changmin sedang bekerja, tidak bisa membantunya menganalisa situasi apartemen Changmin ketika dua pemuda ini ada di satu tempat. Dan kali ini, rasa penasrannya terjawab sudah.
"Enak saja! Berharaplah terus sampai matahari terbit dari selatan, Kai!" tukas Changmin sambil menyalakan pemutar musik di apartemennya dan membiarkan alunan musik Maroon 5 mengalun memenuhi sudut apartemennya dibarengi tawa puas Kai menggoda Changmin.
"Jadi, apa gadis kecilku ini mulai menunjukkan tanda-tanda berpaling dari Tuan-Serba-Sempurna itu, hm?" tanya Changmin pada Kyungsoo.
Kyungsoo yang tidak mengerti maksud Changmin hanya mengernyitkan dahinya. "Maksud Uisa?"
"Lupakan. Apa tujuanmu datang kemari? Berkencan dengan Kai?"
"Hyung aku mendengarnya."
Changmin terkekeh dan kembali menatap wajah merah Kyungsoo, menunggunya memberi jawaban. "A-aku hanya memintanya menemaniku mencari buku untuk tugas makalahku, Uisa."
"Tugas makalah? Kenapa kau tidak minta temani Joonmyeon? Bukankah dia kekasihmu? Memangnya Joonmyeon tidak akan cemburu jika dia tahu kau jalan dengan Kai?"
Walau lirih, tapi Kai masih bisa mendengar apa yang Changmin tanyakan pada Kyungsoo. Dan seketika, dadanya nyeri. Seolah apa yang dikatakan Changmin memang apa yang harusnya terjadi. Dengan cemas, ia menunggu jawaban Kyungsoo karena ia sendiri juga sempat terkejut ketika kemarin lusa saat mengantar Kyungsoo pulang ke apartemennya, gadis itu dengan ragu-ragu memintanya untuk menemaninya mencari buku untuk tugas makalahnya.
Isi kepalanya dipenuhi pertanyaan Changmin dan persetujuan atas itu. "Benar juga. Kenapa dia mengajakku?" gumamnya penasaran.
"A... Itu karena Oppa sibuk dengan urusan pekerjaannya dan aku tidak mau mengganggunya. Bi-biar sajalah, Uisa. Kadang Oppa menyebalkan, tidak mau meluangkan waktunya untukku." jawab Kyungsoo yang kemudian mengerucutkan bibirnya lucu.
Changmin menganggukkan kepalanya tanda setuju. "Anak itu memang kadang sok sibuk." Sahutnya. "Ya sudahlah, untuk hari ini lupakan kalau ada Joonmyeon. Jadi kau jalan-jalan saja dengan bocah itu, tak usah khawatir tentang Joonmyeon. Mana ponselmu?"
"Untuk apa Uisa menanyakan ponselku?"
"Supaya Joonmyeon tidak mengganggu acara jalan-jalanmu. Kemarikan. Ponselmu boleh kau ambil malam ini, disini, sekalian kau makan malam disini. Nanti biar aku yang masak." ucapnya sambil mengambil ponsel Kyungsoo dan memasukkannya ke sakunya.
"Tadaaa. Ini untukmu. Maaf ya jika rasanya aneh, aku baru belajar memasak singkat tadi pagi dan resep itu pun baru aku dapat tadi malam."
Kyungsoo dan Changmin menoleh dan mengernyitkan dahi mereka bersamaan ketika Kai tiba-tiba hadir diantara mereka dengan membawa sebuah...
"Strawberry cheese cake?"
Kai mengangguk pasti. "Selamat ulang tahun, Kyung. Semoga kau menyukainya."
Dan seketika Kyungsoo mendongak dan melihat raut wajah bahagia Kai. "Ba-bagaimana kau bisa tahu hari ini ulang tahunku?"
Changmin ikut penasaran. Hampir saja ia kelepasan bertanya jika ia tidak ingat bahwa ia tidak bisa membuka apa yang ia tahu di depan mereka.
"Aku juga tak tahu. Kemarin siang saat aku tidur, tiba-tiba aku bermimpi memberimu kue ini pada hari ini. Makanya aku membuatnya." jawabnya polos. "Kau tidak suka? Biar kubuang jika begitu."
Gerakan tidak setuju dari Kyungsoo menimbulkan percikan rasa bahagia dalam hati Kai. "Dasar sok tahu. Aku suka, kok. Terima kasih, ya?"
"Jadi, sedari pagi kau berkutat di dapur dan menghancurkannya itu demi kue ini? Aku jadi penasaran seperti apa rasanya." ejek Changmin sambil berniat mencomot satu slice cake yang sedang Kyungsoo pegang. Namun dengan cepat tangan Kai menampik tangan Changmin.
"Yang boleh makan kue itu hanya Kyungsoo. Hyung makan angin saja."
Changmin melotot dan hampir saja menepuk kepala Kai dengan bantalnya jika Kyungsoo tidak mencegah. "Untung ada Kyungsoo, jika tidak, kau bisa kuhabisi sekarang dasar bocah sialan. Sudah sana cepat pergi, kembali sebelum makan malam, aku akan mengajak Taemin untuk ikut makan disini"
"Wah, ada Noona? Pasti seru. Baiklah, kami akan kembali sebelum makan malam. Pastikan masakanmu enak, ya, Hyung!" tukas Kai sambil berlari kecil menuju kamarnya; berganti pakaian.
"Kau juga harus ikut makan malam, oke?"
"Tapi, Uisa, Oppa bagaimana?"
Changmin menghela nafasnya kasar. "Aku sudah bilang padamu, hari ini lupakan sejenak bahwa Joonmyeon itu kekasihmu. Lupakan permintaan-permintaan bodohnya yang memintamu menghubunginya tiap jam, harus makan malam bersamanya di rumahnya dan lainnya. Hari ini hanya ada kau dan Kai serta aku dan Taemin."
Kyungsoo terkekeh pelan. "Uisa terlihat kesal sekali pada Oppa. Dia sebegitu menyebalkannya, kah?"
"Dia sudah tengil sejak kuliah. Untung Tuhan memberinya otak cerdas, jika tidak sudah ku tendang dia ke Sungai Han dari pertama dia loncat semester."
Kyungsoo memperlihatkan wajah kagumnya. "Oppa loncat semester?"
"Ya, dan bagi kami para senior itu menyebalkan karena dia jadi anak kesayangan beberapa dosen yang sudah lebih dulu kami targetkan untuk kami minta kerjasamanya demi tugas akhir. Tapi untung dia tidak begitu tengil setelah sahabatku, Yunho memberi wejangan padanya."
"Sudah ngobrolnya? Kau mengurangi jatahku, Hyung. Berarti nanti aku boleh terlambat." Potong Kai cepat.
Kyungsoo dan Changmin menoleh bersamaan. "Memangnya kenapa?"
"Jatahku jalan-jalan bersama Kyungsoo itu dari... jam 10 tadi sampai sebelum makan malam. Dan kau sudah mengambil... 15 menit."
Changmin memasang muka malasnya dan benar-benar melempar Kai dengan bantal sofa. "15 menit pun kau hitung? Dasar pelit. Sudah sana cepat pergi, jangan lupa mantelmu. Kau bawa mantel kan, Kyung?"
Kyungsoo mengangguk bersamaan dengan Kai. "Kami pergi dulu, Hyung."
Lambaian tangan dan teriakan Changmin mengantar Kyungsoo dan Kai keluar apartemennya. Selepas mereka pergi, Changmin terlihat mencari ponselnya dan menelepon seseorang.
"Bisakah kau ke sini dan membantuku memasak? Aku berencana makan malam bersama beberapa teman disini nanti. Aku mengajak Taemin tapi mungkin Minho tidak. Aku tidak ingin keributan terjadi malam ini. Belum waktunya."
Dan setelah memastikan lawan bicaranya menjawab 'iya' dengan berbagai kalimat pertanyaan dibelakangnya, Changmin menghela nafasnya lega dan bergantian mengambil ponsel Kyungsoo dan memisahkan sumber kehidupan semua ponsel, yakni baterainya dengan ponsel itu sendiri.
"Maaf Joonmyeon, khusus hari ini, tidak ada waktu Kyungsoo untukmu. Dia sedang sibuk dengan masa lalunya dan perasaannya padamu yang sering kau sia-siakan itu saat ini sedang dihidupkan kembali oleh orang yang kau celakai. Jadi, jangan mengganggunya hari ini. Cherio!"
The pictures that you sent me, they still living in my phone
I'll admit I like to see them, I'll admit I feel alone
And all my friend keep asking why I'm not around
It hurts to know you're happy, yeah it hurts that you moved on
It's hard to hear your name, when I haven't seen you in so long
It's like we never happened, was it just a lie?
If what we had was real, how could you be fine?
Cause I'm not fine at all
.ahaya matahari mulai menyapa kamar itu setelah sekian lama hanya gelap yang menaunginya. Perlahan tapi pasti, kamar itu terasa kembali hidup layaknya sang pemilik sudah kembali.
Tangan-tangan mungil milik sang pembuka kamar mulai bekerja menelusur sudut-sudut kamar itu, mencari beberapa barang yang mungkin bisa membantunya untuk mengembalikan ingatan seseorang yang mulai kembali membuatnya nyaman.
Namun setelah hampir setengah jam mencari, ia tak kunjung menemukannya.
"Tak biasanya Jongin menyimpan barang-barang itu di tempat yang sulit kugapai. Di mana ya?"
Sang pembuka kamar memulai kembali pencariannya di dalam lemari pakaian sang pemilik namun ia tak menemukan barang-barang mereka di sana. Lalu ia beralih menuju meja nakas kecil tepat di samping tempat tidur sang pemilik kamar, tapi nihil. Ia justru menemukan telepon genggam dan dompet sang pemilik kamar disitu.
"Jangan-jangan password-nya masih sama?" gumamnya sambil mencoba mengingat dan memasukkan empat digit angka password ponsel itu setelah lebih dulu men-charge-nya.
Dan dugaannya benar. Password ponsel itu masih sama dengan apa yang ia perkirakan.
"Anak ini benar-benar. Kenapa kau tidak menghapus semuanya, Jongin? Kenapa kau masih menyimpannya?" lirihnya ketika tangannya mulai menekan beberapa tombol yang mengarahkannya ke folder penyimpanan foto-foto di ponsel itu.
"Ya Tuhan, kenapa dia masih mencintaiku?" gumamnya sendu. Ia mulai melihat satu persatu foto-foto lama yang bahkan sudah tidak tersisa di ponsel maupun laptopnya. Foto-foto yang kadang ia rindukan tapi tak bisa ia lihat lagi karena ia sudah berniat menghapus masa lalunya, masa lalu tentang kisah kasihnya dengan pemuda bertubuh proporsional yang punya mata tajam layaknya elang dan senyum ramah layaknya anak kecil.
Merasa tak bisa lagi melihat semua foto-foto yang sudah hampir hilang dari memorinya itu, ia beralih membuka dompet sang pemilik kamar. Dan ia kembali terkejut ketika menemukan foto pertamanya dengan sang pemilik kamar ini, ada dan masih ada disana tak berubah sejak hampir empat tahun lalu.
"Bodoh. Kenapa masih menungguku?" ucapnya tak berbalas. Senyum getir perlahan muncul di wajahnya. Lama-lama nyeri juga melihat beberapa barang yang cukup lama tak ia jumpai. Jika ia tidak mulai bingung dengan perasaannya sendiri saat ini, mungkin ia tak akan ke Park's House untuk menemui Chanyeol dan lalu kemari untuk melihat kembali satu kamar yang pernah ia kunjungi hampir tiap hari selama dua tahun, dulu.
Ia menutup dompet itu dan memasukkannya kembali ke laci meja nakas beserta ponsel yang sudah ia matikan kembali. Ia tak ingin ada yang berubah disini. Ia tak ingin sang pemilik tahu bahwa ia pernah kembali mengunjungi tempat ini bahkan ketika sang pemilik sendiri tidak ingat dia adalah empunya kamar ini.
Merasa cukup dengan petualangannya di kamar tidur sang pemilik apartemen ini, ia melangkahkan kaki mungilnya ke sofa tamu dan duduk disana. Ia menghela nafasnya kasar lalu mulai bergumam tak jelas hingga tak sadar bahwa cairan bening perlahan mulai turun membasahi kedua pipi gembulnya.
" Kenapa kau muncul lagi di hidupku dengan cara begini? Kenapa kau membuatku merasa sangat bodoh?" cicitnya pelan.
"Harusnya kau tidak datang ke taman malam itu, Jongin. Harusnya kau masih baik-baik saja dan kau sedang bersenang-senang di Jepang saat ini. Tapi kenapa kau tetap memilih merayakan hari bodoh itu? Kenapa?" tangisnya tak berkesudahan.
"Kau menyebalkan, Jongin. Kau bilang kau tak akan mencari penggantiku sampai kapan pun? Tapi sekarang kau malah dekat dengan gadis bawel itu. Kau pembohong, Jongin!" teriaknya lagi.
Ia mengeluarkan satu foto dari saku mantelnya, foto dimana ada seorang pemuda dan seorang gadis yang sedang tertawa cukup bahagia. Tangan kekar sang pemuda terlihat merangkul sang gadis hingga jarak diantara mereka jadi sangat dekat. Dan dengan satu gerakan, foto itu robek tepat memisahkan sang pemuda dan sang gadis.
"Kau membuatku mencintai Kai, dan sekarang kau membuatku berharap ia adalah kau." keluhnya sambil mengusap air matanya yang mulai berhenti mengalir.
Setelah puas meluapkan perasaanya, ia memilih untuk segera beranjak dari kamar itu dan kembali pulang. Foto yang tadi sempat ia robek, ia buang ke tempat sampah di samping TV dan setelah memastikan tidak ada yang berubah dari kamar itu, ia pun keluar dan turun menuju lobby melalui lift yang ada di ujung lorong apartemen.
Seorang pemuda menampakkan wajah terkejutnya dari jauh saat melihat sosok Kyungsoo, "Kyungsoo? Sedang apa dia di apartemen Jongin? Ah, apa anak itu sudah menyuruhnya kemari?" tanyanya tak berbalas. Seringai kecil muncul di wajahnya, "Rupanya ada yang sudah tak sabar menanti pulihnya ingatan seseorang, hm? Maafkan aku, Gadis kecil. Tapi belum waktunya untuk bocah itu mengingat semuanya."
"Kau mau pergi kemana, Kai?"
"Eh, Hyung. Aku mau menjemput Kyungie, dia baru pulang dari kampus. Dan dia minta aku menjemputnya, mumpung aku hari ini sedang tidak bekerja, jadi ya, ku jemput saja. Kenapa, Hyung?"
Changmin melenggang masuk ke kamarnya dan keluar lagi membawa sebuah tas plastik belanjaan lalu memberikannya pada Kai.
"Kau membelikanku ini? Tumben sekali, Hyung. Apa aku harus melakukan sesuatu setelah ini?" tanya Kai sambil tertawa separo.
"Berterima kasihlah pada Taemin karena menyuruhku memberikan itu padamu sekarang." ucapnya serius. "Jelas kau harus lakukan sesuatu." Tambahnya datar. "Aku mau kau mencoba untuk berhenti mendekati Kyungsoo."
Dan jantung Kai terasa seperti ditusuk berjuta-juta pedang. Menjauhi Kyungsoo? Kenapa? Apa yang salah? Apa karena Kyungsoo milik Joonmyeon? Tapi kan mereka sedang gencatan senjata?
"Mwoya? Wae geurae? Yang benar saja, Hyung. Jangan bercanda."
Changmin terkekeh pelan sekarang. "Kenapa mukamu jadi memberengut begitu? Kenapa memangnya jika ku minta kau menjauhinya? Kau ini mau jadi perebut kekasih orang atau bagaimana? Dan lagipula, mau kau kemanakan gadis bawel rekan kerjamu itu?"
Kai memilih duduk di sofa dan menghela nafasnya kasar. "Aku tidak berniat menjadi perebut kekasih siapapun, hyung. Tapi..."
"Kau tahu dia milik Joonmyeon. Dan kau juga tahu dia mencintai Joonmyeon. Dan lagi, kau mau menghancurkan perasaan Baekhyun? Kau tahu dia sayang padamu, kan?"
Kai mengusap wajahnya kasar. "Aku juga menyayangi Baek, jujur saja. Dia memang menyebalkan dan cerewet, tapi aku nyaman berada di sampingnya." Tutur Kai. "Aku merasa seperti punya kakak perempuan yang menyayangiku dengan cara cerewet. Tapi entah kenapa semua terasa berbeda jika Kyungsoo yang ada di sampingku, Hyung. Kepalaku ini, terus-terusan memunculkan bayangan tentang Kyungsoo. Terkadang aku sampai tidak kuat dan akhirnya kuminum saja obat darimu itu."
"Ingatanmu mulai pulih?"
Kai menggeleng. "Belum. Tapi beberapa kali ketika pergi ke beberapa tempat bersama Kyungsoo, aku merasa sangat familiar dan tiba-tiba kepalaku terasa pening dan bayangan-bayangan tentang tempat itu muncul bersama dengan Kyungsoo disana."
Changmin mengetuk-ketukkan jari jemarinya di sofa dan menekuk dahinya seperti orang berfikir.
"Hyung, apa mungkin Kyungsoo itu bagian dari masa laluku? Tapi kenapa dia bersikap seperti tak mengenalku jika dia memang bagian dari masa laluku?" tanya Kai dengan mimik serius kali ini. "Kau tidak menyembunyikan sesuatu dariku, kan, Hyung?"
Changmin menghabiskan soda di depannya sekali tenggak lalu meremas kalengnya. "Biarkan ingatanmu sendiri yang menjawab semua pertanyaanmu, Kai. Biarkan secara alami, otakmu sendiri yang memproses apapun yang kiranya masih penting untuk kembali padamu. Sekarang, kau tak perlu khawatirkan apa pun. Aku tak mau kau koleps hanya karena kau banyak pikiran. Kondisimu sudah jauh lebih baik sekarang. Jadi, pertahankan itu." Titah Changmin tegas.
Kai menatap Changmin dengan raut penuh tanya. Tapi disimpannya kembali semua pertanyaannya dan memilih mengulum senyum simpulnya. "Baiklah, aku pergi dulu."
Changmin mempersilahkan pemuda itu pergi tapi kemudian ia memanggilnya dan mengucapkan satu kalimat yang membingungkan bagi Kai.
"Jika kau mencintai Kyungsoo, maka lakukanlah hal-hal yang akan membuat cintamu terbalas dengan seimbang. Tapi jika kau sudah tidak mencintainya lagi, maka kau lebih baik seperti ini selamanya."
.
.
.
Sebuah mobil Audy hitam yang baru saja diganti covernya dengan warna hitam yang lebih gelap itu berhenti dengan mulus di lahan parkir University of Seoul. Tak sampai lima menit, sang pengemudi keluar dan berjalan masuk menuju taman utama universitas.
"Kau dimana, sih, Soo?" ucapnya gemas. Ia mengedarkan pandangannya ke beberapa penjuru taman dan berhenti sejenak ketika menemukan seseorang yang dicarinya.
"Kyungsoo!"
Dan sang gadis yang dipanggil pun menoleh lalu berpamitan dengan teman-teman yang sedang bersamanya dan berjalan dengan santai menuju pemuda berkemeja biru berdasi itu.
"Oppa? Tumben datang tanpa meneleponku? Ada apa?"
Bukan menjawab, pemuda itu langsung menggandeng tangan mungil Kyungsoo dan cenderung menariknya dengan paksa menuju mobilnya.
"Oppa, sakit!"
Dan pemuda itu berhenti tanpa melepas pegangannya. "Kau yang memaksaku begini. Jika kau tidak susah dihubungi dan tidak bertingkah mencurigakan, aku tak mungkin begini, Soo."
"Mencurigakan? Apanya yang mencurigakan? Oppa, lepas!" teriak Kyungsoo kesakitan.
Bersamaan dengan itu, datanglah pemuda lain dengan berlari menuju mereka berdua.
"Kyungsoo!" teriaknya dari kejauhan. "Suho-hyung?"
"Kau lagi. Mau apa kau kemari?"
Pemuda yang baru datang itu menatap Kyungsoo dengan lembut, seolah menanyakan ada apa sebenarnya.
"Aku mau menjemput Kyungsoo. Dia yang memintaku. Hyung sendiri?"
Suho menatap pemuda itu dengan mimik wajah cemburu yang mulai naik ke ubun-ubun. "Aku menjemput kekasihku." Jawab Suho dengan menekan nadanya saat mengucap kata kekasihku. "Aku menjalankan kewajibanku sebagai kekasihnya. Kau pulanglah, tak ada gunanya kau di sini. Kyungsoo akan pulang bersamaku."
Kyungsoo masih berusaha meronta dan akhirnya ia bisa melepas genggaman Suho dan memilih bersembunyi di balik tubuh proporsional Kai. "Aku tidak mau pulang dengan Opaa. Aku tahu Oppa sedang marah jadi lebih baik aku tidak pulang dengan Oppa."
Suho berdecih pelan. "Soo, aku tidak marah. Aku hanya khawatir padamu karena kau susah dihubungi. Ayo pulang, jangan seperti anak kecil. Kau tahu aku tidak suka jika kau bersikap seperti anak kecil."
Kai tersenyum setengah. "Dia sudah menolakmu, jadi pulanglah sendiri Hyung. Ayo Kyung, kita pergi." tukas Kai sambil berbalik dan menjauhkan Kyungsoo dari jangkauan Suho.
Tapi nampaknya keputusan Kai mengabaikan Suho adalah kesalahan.
"Kai,"
Dan detik berikutnya kepalan tangan Suho mendarat dengan cepat di pipi kanan Kai dan membuatnya sedikit terhuyung karenanya. "Bermimpilah terus untuk mendapatkan Kyungsoo karena sampai kapan pun, aku tidak akan melepaskannya." ucapnya sembari kembali menarik Kyungsoo menuju mobilnya.
Kai yang masih sedikit pusing memaksa bangun dan mengejar Kyungsoo serta Suho sambil memijat pipinya yang berdenyut. Namun tiba-tiba, ia ambruk.
"Kai!"
.
.
.
"Kau itu bodoh atau bagaimana, hah? Jelas-jelas kepalanya masih bermasalah, malah kau pukul keras. Otak cerdasmu itu kau jual ke pengecer atau bagaimana?" seru Changmin pada pemuda bertinggi rata-rata itu.
"Dia membuat Kyungsooku menjauh. Bagaimana aku tidak lepas kontrol?"
Changmin memijat pelipisnya pelan. "Tapi tindakanmu itu bodoh, Joonmyeon. Dan satu lagi, Kyungsoo menjauh bukan karena Kai. Tapi karena kau sendiri. Kau bilang kau sayang padanya tapi kau jarang meluangkan waktumu untuknya? Mengharuskan dia melakukan apapun yang kau ucapkan, jarang mengabarinya dan membuatnya khawatir terus menerus?" tanya Changmin seraya menunjuk Suho dengan pena yang ia bawa. "Gadis mana yang akan tahan denganmu jika kelakuanmu seperti diktator, Joonmyeon? Wajar saja Kyungsoo mencari Kai yang notabene lebih punya hati dibanding kau."
Suho mengepalkan kedua tangannya. "Tapi dia kekasihku! Aku berhak memintanya melakukan apapun. Tidak ada urusannya dengan Kai ataupun kalian."
Changmin susah payah menahan emosinya agar tidak lepas begitu saja. "Kau ini minta ku bunuh sekarang atau bagaimana? Aku menasehatimu supaya otak cerdasmu itu berfungsi merasionalkan hal-hal yang harusnya kau lakukan." Tutur Changmin penuh penekanan pada setiap katanya. "Pertimbangkan juga dengan hatimu apa itu baik untuk batin Kyungsoo atau tidak. Jangan membantah, Joonmyeon. Kyungsoo butuh perhatianmu, bukan untuk kau jadikan pengalihan lelahmu. Dia gadis manis yang patut mendapat satu cinta besar yang mampu membuatnya bahagia, bukan cinta separo yang malah membuatnya nelangsa begini."
Suho diam. Mencerna kata-kata Changmin yang cukup telak memukulnya sampai ke ulu. Ia melihat langit-langit ruang kerja Changmin dan mengingat-ingat apa yang berbeda dari hubungannya dulu dan sekarang.
Cinta.
Apa dia benar-benar mencintai Kyungsoo? Apa dia benar-benar menginginkan Kyungsoo menjadi miliknya? Atau jangan-jangan ia hanya sekedar mencari pengalih lelahnya seperti yang barusan Changmin katakan? Pengalihan dari masa lalunya yang menyakitkan dan pekerjaannya yang menyebalkan? Masih samakah cintanya sekarang pada Kyungsoo dengan cintanya yang dulu ketika pertama kali mereka bertemu dan menjalin kata-kata yang menyamankan hati?
"Mungkin aku perlu minta maaf pada mereka."
Changmin tersenyum kecil. "Bukan mungkin, Bodoh. Memang harus. Kau bersalah pada mereka, terutama Kyungsoo."
Suho mengangguk patuh. Ia beranjak bangun dari duduknya dan menepuk bahu Changmin pelan. "Terima kasih telah menasehatiku, Hyung. Aku janji akan lebih memperhatikan Kyungsoo."
Changmin tersenyum kecil. "Apa yang akan kau jaminkan padaku ketika kau tidak memenuhi janjimu?"
Suho menunduk lalu melayangkan pandangannya ke arah luar ruang kerja Changmin. "Mungkin aku akan melepas Kyungsoo untuk Kai atau orang lain yang bisa lebih memperhatikannya dan membuatnya lebih bahagia daripada aku,"
Dan Changmin semakin melebarkan senyumnya kali ini seraya menepuk pucuk kepala Suho. "Itu baru adikku yang baik. Sana, cepat masuk ke kamar Kai dan segera minta maaf. Aku pegang janjimu hari ini, Kim Joonmyeon.
Suho menatapnya malas. "Baiklah, Hyung. Kenapa kau mulai cerewet seperti Luhan, sih?"
Dan satu pena dengan telak mengenai dahi Suho yang kini hanya mampu meringis kesakitan dalam langkahnya menuju kamar Kai.
"Hah, semakin membingungkan tapi menarik. Mau kaulabuhkan di mana hatimu, Kyung? Pada adikku yang baru saja berjanji menjagamu itu, atau pada masa lalumu yang sedang menggelayutimu lagi saat ini?"
Changmin menutup pintu ruang kerjanya bersamaan dengan menghilangnya sosok Suho dari pandangannya.
.
.
.
"Tanganmu baik-baik saja kan?"
"Tidak apa-apa. Jangan khawatirkan tanganku, khawatirkan kepalamu, Kai."
Kai tertawa kecil mendengar jawaban Kyungsoo. "Kepalaku baik-baik saja, buktinya aku masih bisa mengingatmu, mengingat Changmin-hyung." balasnya. "Mana Suho-hyung?"
Kyungsoo mengendikkan bahu tanda tak terlalu peduli dengan sosok yang ditanyakan Kai. Melihat itu Kai hanya tersenyum kecil dan mengusak pucuk kepala Kyungsoo. "Jangan begitu, dia tetap orang yang kau pilih untuk menemanimu sekarang, kan?"
"Tapi, Oppa menyebalkan! Memukulmu hanya karena aku memilih pulang bersamamu? Kekanakan!"
Kai meletakkan telunjuk kanannya di bibir tebal Kyungsoo yang langsung membuat pemilik bibir bentuk hati itu terdiam; tercengang.
"Diamlah dan jangan menggerutu tentangnya. Baik buruknya Suho-hyung itu satu paket yang kau terima saat kau memutuskan menerimanya jadi kekasihmu. Lagipula aku baik-baik saja, hanya sedikit pusing tadi. Tapi sekarang aku baik-baik saja. Jangan khawatirkan aku." Tegas Kai panjang lebar.
"Dan jangan marah padaku, Soo."
Kai menoleh ke arah pintu kamar inapnya dan mendapati Suho sudah berdiri disana dengan muka yang lebih baik—tersenyum.
"Bagaimana keadaanmu?" tanya Suho pada sang pemuda yang sedang berbaring lemas itu.
"Aku baik. Tapi gadismu ini tidak. Kalian berdua bicaralah, aku akan keluar sebentar." sahutnya sambil beranjak bangun. Tapi usahanya dicegah oleh Kyungsoo yang menahan tubuh Kai sekuatnya.
"Menyuruhku jangan mengkhawatirkanmu tetapi kelakuanmu membuatku cemas. Maumu apa? Dasar Bodoh. Lagipula aku tidak ingin berbicara dengan Oppa."
Suho tersenyum kecut melihat dengan jelas perhatian Kyungsoo yang dulu sempat ia rasakan kini harus ia relakan terbagi untuk Kai, pemuda antah-berantah yang sialnya jadi korban emosinya saat mengendarai mobil.
"Kyungsoo benar. Kau harus banyak istirahat, Changmin hyung tadi juga titip pesan supaya kau istirahat saja. Dan, jika Kyungsoo memang masih marah padaku, aku memakluminya, Kai. Aku... Aku memang keterlaluan tadi."
Kai tertawa. "Kalian ini. Sudah sana cepat bicarakan masalah kalian. Aku sudah memanggil Changmin-hyung kemari." ucap Kai sambil memperlihatkan jarinya yang tengah menekan tombol panggil langsung ke ruang kerja Changmin.
"Ada apa memanggilku?" tanya Changmin tak lama setelah Jongin melepas kembali tombol emergency itu.
"Nah, lihat? Changmin-hyung sudah datang. Ah, bisakah kau bawa aku ke taman, Hyung? Biar mereka bisa menyelesaikan masalah mereka berdua disini saja, lebih privat." ucap Kai lagi sambil kembali beranjak bangun. Tapi lagi-lagi usahanya digagalkan.
Kali ini Kyungsoo dan Changmin yang melarangnya bergerak banyak.
"Jangan sok pahlawan. Keberadaanmu disini pertanda kepalamu sedang butuh istirahat. Jangan membantah kataku, atau kau benar-benar kutendang keluar apartemen. Dasar keras kepala." Titah Changmin.
"Kau ini menyebalkan sekali. Sudah kubilang istirahat saja." Seru Kyungsoo.
Changmin mengalihkan tatapannya ke Suho. Seperti mentransfer isi pikirannya, Changmin lalu kembali menatap Kai. "Aku akan mengecek tekanan darahmu dan keadaan kepalamu. Jika semua baik, besok pagi kau bisa pulang."
"Harus menunggu satu hari?"
Changmin menghela nafasnya kasar. "Mau membantah lagi?"
Kai menatapnya malas. "Aku hanya bertanya. Ya Tuhan..."
"Baiklah, kalau begitu aku akan keluar saja. Kai... ehm, aku minta maaf soal... kepalamu dan pukulan tadi siang." ucap Suho sambil mendekati Kai dan menjabatnya.
Kyungsoo menatap Changmin saat Suho melakukan semua itu. Dan Changmin hanya membalasnya dengan senyumannya.
"Dan, eum, Soo, bisa kita bicara sebentar?"
Changmin mengangguk saat Kyungsoo menatapnya lagi meminta persetujuan. "Baiklah. Kai aku keluar ya, kau istirahat saja. Malam nanti aku akan kembali kesini."
Senyum ramah Kai dan anggukannya seolah jadi satu hal paling dirindukan Kyungsoo. Hatinya yang sedari tadi bergejolak menahan kesal pada Suho, kini jadi tenang saat menatap raut wajah Kai.
Changmin mengantar dua orang pengunjung ini keluar kamar rawat inap Kai dan menyuruh mereka segera ke taman dan mengobrol disana. "Aku tidak mau pikiran Kai jadi bertambah karena mendengar perbicangan kalian. Pergilah ke taman, dan selesaikan masalah kalian dengan dewasa. Jika anak sialan ini tidak juga minta maaf padamu, Gadis kecil, laporkan padaku biar kucincang dia hidup-hidup. Oke?"
Suho terkekeh kecil dan Kyungsoo pun tersenyum mendengar gurauan serius Changmin. Berjalan beriringan tanpa satupun tautan badan, Suho dan Kyungsoo dengan tenang melakukannya menuju taman rumah sakit. Di dalam masing-masing hati dan pikiran mereka tergambar jelas perbedaan yang ada.
Yang satu memikirkan apakah keputusan tepat untuk terus bersama seseorang yang saat ini berjalan di sampingnya. Satu lagi memikirkan bagaimana cara mengkondisikan seseorang di sampingnya untuk tetap bersamanya apapun yang terjadi.
Dan kadang kala, mereka tetap menyebut itu cinta.
whuala dan muncullah ini part absurd selanjutnya dari ff absurd.
maaf ya lama sekali baru muncul. Seorang mahasiswa bimbingan akhir memang sudah sepatutnya jarang nongol selain untuk urusan tugas akhir. Jadi mohon dimaapkeun.
Semoga reviewnya banyak walau ceritanya absurd. Cherio!
Salam, KJ-27
