Mawarku adalah Cintaku
Disclamer : Naruto by Masashi Kishimoto
Mawarku adalah Cintaku by Chisato Ootsuki
Character : Uzumaki Naruto / Hyuuga Hinata / Namikaze Minato / Uzumaki Kushina
Genre : Romance / Drama
Rate : T
Warning : OOC (mungkin atau sangat), typo or miss typo yang bertebaran, kurang dalam feel dan lainnya.
Summary : Tiba-tiba, seorang wanita cantik berambut merah panjang -Uzumaki Kushina- datang menghampiri kamarnya. Wanita itu pergi ke arah jendela untuk membuka tirai agar cahaya matahari masuk ke dalam kamar dan Naruto terbangun.
A/N : Cerita ini tentang kesedihan dan kebahagiaan yang datang dalam satu paket. Menampilkan sisi lain Naruto.
Dedication : Event Manis Pahitnya Coklat
.
.
Hope you like this. :D
.
.
.
Happy Reading…..
.
.
Pagi yang begitu cerah. Burung-burung berkicau dengan merdunya. Seorang laki-laki berambut kuning dengan tiga garis tipis di masing-masing pipinya belum terbangun di pagi yang cerah itu. Laki-laki itu tidak lain adalah Uzumaki Naruto.
Tiba-tiba, seorang wanita cantik berambut merah panjang -Uzumaki Kushina- datang menghampiri kamarnya. Wanita itu pergi ke arah jendela untuk membuka tirai agar cahaya matahari masuk ke dalam kamar dan Naruto terbangun.
Naruto merasa silau akan sinar matahari yang berada tepat di depannya. "Ahh .. silau sekali". Naruto langsung menutupi sekujur tubuhnya dengan selimut.
"Anak ini benar-benar." Gerutu Kushina sambil melihat Naruto. Kushina menghampiri Naruto yang masih berada di tempat tidur. Dia kesal melihat anaknya yang tidak kunjung bangun.
"Naruto ... Ayo bangun. Ini sudah pagi, kau kan harus mengajar di akademi." Kushina mengatakannya sambil menarik selimut yang membalut di tubuh Naruto.
"Ya ampun. Memang sudah pagi, tapi masih pagi sekali. Ucap Naruto sambil meraih jam beker yang berada di meja samping tempat tidurnya. "Nih lihat jam ini." Ucap Naruto sambil menunjukkan jam bekernya ke Kushina.
"Tetap saja kau harus bangun pagi." Kushina mulai kehilangan kendali dan ingin memarahi Naruto.
"Tidak mau. Aku ingin menunggu jam beker yang berbunyi bukan ibu." Ucap Naruto dengan santainya.
"UZUMAKI NARUTOOO .." Kushina tidak bisa menahan amarahnya dan menjungkir balikkan tempat tidur Naruto. (Rambut kushina melayang ke atas)
"GYAAAA ..." Teriak Naruto yang sudah tertimpa tempat tidur.
Pria dewasa yang memiliki wajah tampan dan berambut kuning yang memiliki gelar sebagi Hokage ke-4 –Namikaze Minato- santai saja mendengar keributan yang terdengar dari kamar Naruto. Dia malah asik menyantap sarapannya.
"Sudah sering ibu melakukan ini, tapi kau tidak kapok juga." Ucap Kushina penuh emosi. Rambutnya berkibar-kibar keatas bagaikan ekor Kurama yang melambai lambai.
"Ba, baiklah bu, aku akan bangun." Ucap Naruto sambil menatap ibunya dengan rasa ngeri.
Naruto segera mengambil handuk yang ada di gantungan baju di belakang pintu dan bergegas menuju kamar mandi. Saat di depan kamar mandi Naruto menggerutu, "Aku bisa merenggang nyawa kalau cara ibu seperti ini."
Kushina keluar dari kamar Naruto dengan rasa kesal. Lalu menghampiri suami tercintanya -Namikaze Minato- yang baru saja selesai makan. "Minato, tolong kau bereskan tempat tidur Naruto. Aku ingin pergi ke pasar." Ucap Kushina.
Minato membalas, "Baiklah, aku sudah terbiasa membereskan tempat tidur Naruto yang kau jungkir balikkan itu."
Kushina memberikan tatapan sinis karena suaminya berbicara seperti itu.
Minato hanya terdiam dan merinding melihat istrinya menatap dengan tatapan sinis.
Kushina menghampiri Minato dan berbisik ditelinganya, "Aku ingin membeli bahan untuk membuat kue coklat..."
"Tumben sekali kau berbicara dengan bisik-bisik." Ucap Minato sambil menatap istrinya.
"Sudahlah tidak usah banyak bicara, aku belum selesai." Ucap Kushina.
"Ya baiklah." Ucap Minato.
Kushina melanjutkan bisikannya, "Ini kan hari valentine. Aku ingin membuat kue cokelat untuk Naruto. Aku ingin memberi kejutan padanya saat pulang mengajar nanti. Itulah sebabnya aku bisik-bisik.
"Kenapa hanya Naruto yang diberi kejutan ? Aku juga ingin." Ucap Minato iri.
"Anakku adalah Naruto bukan dirimu." Ucap Kushina jutek.
"Huft .." Minato hanya menghela nafas.
Kushina hanya tersenyum melihat wajah Minato yang kecewa. "Janganlah kau kecewa seperti ini. Waktu dulu aku sering memberimu kejutan. Sekarang saatnya aku memberi kejutan pada anakku." Ucap Kushina sambil memeluk Minato dari belakang.
"Iya aku mengerti." Ucap Minato penuh perhatian.
"Oh ya, jangan kau beritahukan pada Naruto. Kalau kau memberitahunya aku akan menelanmu." Ucap Kushina sambil melotot.
'Glek'
Minato membalas, "Ba, baiklah." Minato menurut saja. "Cepat sekali sifatnya berubah. Baru saja kata-kata yang keluar dari mulutnya penuh dengan perhatian dan sekarang yang keluar dari mulutnya kata-kata penuh ancaman." Gumam Minato.
"Kau bicara apa barusan ?" Ucap Kushina yang heran melihat Minato bergumam sendiri.
"Ooohh .. Ti, tidak. Mungkin kau salah dengar." Jawab Minato yang berkeringat karena gugup. Mengerikan sekali membayangkan Kushina yang sedang marah. Dalam batin Minato ia mengatakan, 'Mengerikan ...' Minato langsung merinding.
Kushina bergegas merapihkan penampilannya dan bergegas ke arah pintu depan. Minato menemani istrinya yang begitu terburu-buru.
Kushina membuka pintu dan memberi salam "Minato aku berangakat."
Minato menjawab sambil melambaikan tangan, "Baiklah. Hati-hati di jalan." Minato menutup pintu dan kembali ke meja makan untuk membereskan piringnya sehabis makan.
.
.
.
.
.
Setelah selesai mandi, Naruto bergegas ke kamarnya. Dia memerhatikan kamarnya dengan seksama. "Ka, kamar ini bagaikan terkena badai angin yang besar. Kenapa ibu galak sekali ?" Naruto masih merinding membayangkan ibunya.
"Untung calon istriku lemah lembut. Pokonya berbeda sekali dengan ibu. Aku sangat bersyukur." Ucap Naruto sambil memegang dadanya yang bernafas lega. Naruto segera mengeluarkan pakaian yang akan dikenakannya dari dalam lemari dan mengenakannya. Dia juga mengambil tasnya yang tersimpan di dalam lemari. Naruto bergegas ke meja makan dan meletakkan tasnya di bangku. Dia tidak melihat sang ibu, yang dilihatnya hanya sosok sang ayah yang habis mencuci piring.
"Dimana ibu ?" Tanya Naruto pada Minato. "Ibu sedang pergi belanja ke pasar." Jawab Minato sambil duduk untuk menemani anaknya makan.
Naruto segera duduk di samping Minato dan memakan makanan yang telah disiapkan di atas meja. Naruto makan dengan lahapnya.
Minato melihat Naruto yang sedang makan sambil tersenyum. Minato sangat senang ketika melihat sang anak makan dengan lahapnya.
"Uhuk-uhuk ..." Naruto tersedak karena saking lahapnya.
"Berhati-hatilah Naruto." Ucap Minato sambil menepuk-nepuk punggung Naruto. "Makan lahap itu bagus. Karena berarti kau doyan makan. Tapi jangan terburu-buru sekali seperti ninja yang sedang dikejar musuh." Ucap Minato yang masih menepuk-nepuk punggung Naruto.
Naruto langsung meminum air yang di letakkan di sebelah piringnya. "Baiklah ayah." Ucap Naruto yang menanggapi nasihat sang ayah. Setelah merasa baikan, Naruto melanjutkan makannya kembali. Kali ini dia makan lebih hati-hati.
Minato hanya melihat Naruto dengan perasaan lega. Karena keadaan anak tersayangnya sudah membaik.
.
.
.
.
.
.
'Ting tong..' bel berbunyi.
Naruto yang sedang asik makan berhenti sejenak dan heran, "Ada tamu ? Ini kan masih pagi ?"
"Tidak usah dipikirkan. Biar ayah yang membuka pintunya. Lanjutkanlah sarapanmu." Ucap Minato sambil berdiri dan menatap ke arah Naruto.
"Baiklah." Respon Naruto kepada sang ayah. Naruto melanjutkan kembali makannya.
Minato pergi ke arah pintu. Dia membuka pintu dan terkejut. Karena yang berada di balik pintu itu adalah calon menantunya -Hyuuga Hinata- yang membawa 2 buah bingkisan.
"Selamat pagi paman." Salam Hinata sambil membungkuk.
"Ternyata kau Hinata. Selamat Pagi." Balas Minato. "Mari masuk, Naruto ada di dalam sedang sarapan. Apakah kau ingin ikut sarapan bersama ?" Ucap Minato.
"Ti, tidak paman. Te, terimakasih." Ucap Hinata agak malu.
Hinata masuk ke dalam rumah. Bagi Hinata rumah keluarga Namikaze bagaikan rumah ke-2. Karena Hinata merasa nyaman setiap kali datang ke rumah itu. Dia merasakan ada kehangatan di dalamnya. Hatinya selalu merasa senang setiap ada di rumah itu.
"Paman, dimana bibi Kushina ?" Tanya Hinata sambil menengok-nengok mencari keberadaan Kushina.
"Dia sedang pergi ke pasar." Jawab Minato. Minato menengok ke arah dapur lalu berbisik pada Hinata. " Kushina sedang membeli bahan-bahan untuk membuat kue cokelat. Dia mau membuat kue cokelat untuk Naruto di hari valentine ini. Jangan bilang pada Naruto ya, ini rahasia."
"Baiklah paman. Aku tidak akan menceritakannya." Balas Hinata. Membicarakan tentang cokelat, Hinata ingat dengan bingkisan yang dibawanya.
"Oh ya paman, hampir saja aku lupa. Terimalah ini. Selamat hari valentine. Ini cokelat untuk paman dan bibi." Hinata menjulurkan coklat sambil ternsenyum malu.
"Wah .. terima kasih Hinata. Tentu saja aku akan menerimanya. Oh ya, selamat hari valentine." Ucap Minato sambil melihat ke dalam bingkisan dan tersenyum. "Apa kau yang mebuatnya ?" Tanya Minato.
"I, iya. Aku yang membuatnya. Semoga rasanya enak sehingga paman dan bibi menyukainya." Ucap Hinata yang pipinya sudah berubah merah.
"Masakanmu selalu enak, tidak pernah gagal. Aku dan Kushina pasti menyukainya." Ucap Minato sambil tersenyum.
"Terima kasih paman sudah memujiku." Ucap Hinata malu-malu.
"Apakah bingkisan yang satunya kau pegang itu untuk Naruto ?" Minato menggoda Hinata.
"I, iya paman." Jawab Hinata yang pipinya memerah.
Minato hanya tersenyum melihat pipi Hinata yang memerah. "Baiklah aku akan meletakkannya di kulkas. Kau duduklah di sofa. Aku akan memanggil Naruto." Ucap Minato sambil tersenyum.
"Baiklah paman. Terima kasih." Balas Hinata sambil duduk di sofa ruang tamu.
"Ya ampun aku lupa. Kau ingin minum apa ?" Tanya Minato.
"Tidak usah paman, terima kasih. Setelah Naruto selesai, kami akan segera berangkat." Jawab Hinata dengan sopan.
"Oh begitu. Baiklah aku mengerti." Ucap Minato.
Minato berjalan ke arah dapur dan menuju ke kulkas. Dia melewati Naruto yang sedang makan. Naruto yang sedang asik makan tidak menyadari ayahnya lewat. Minato membuka kulkas dan meletakkan cokelat pemberian Hinata di dalamnya. Setelah meletakkan cokelat, dia menghampiri Naruto yang sedang makan.
"Cepatlah Naruto. Hinata sedang menunggumu di ruang tamu. Tidak baik membiarkan wanita menunggu lama." Ucap Minato.
Naruto terkejut, "Jadi yang datang itu Hinata ? Baiklah." Ucap Naruto sambil melahap makanannya dengan cepat. " Aku sudah selesai makan dan sudah minum." Naruto bergegas berdiri dan meraih tas miliknya yang berada di bangku lalu mengenakannya. Ia bergegas ke arah ruang tamu untuk menghampiri Hinata.
Minato hanya heran melihat anaknya bergegas. Dalam hati ia berkata, 'Saat Hinata datang, baru dia mau bergegas. Jika ibunya yang menyuruh sama sekali tidak dihiraukan. Makannya saja tidak tersedak. Sungguh anak yang ajaib.' Minato membereskan piring yang habis digunakan Naruto.
.
.
Naruto menghampiri Hinata dan memanggilnya, "Hinata ..."
"Naruto .." Hinata langsung berdiri dan menengok ke arah Naruto.
"Pagi-pagi sekali kau datang. Ada apa ?" Ucap Naruto yang sangat bahagia melihat Hinata.
"Aku ingin memberikan ini." Hinata dengan pipinya yang merona begitu hebat menjulurkan bingkisan yang dibawanya pada Naruto.
"Wah apa ini ?" Tanya Naruto yang begitu senang.
"I, ini cokelat buatanku. Semoga kau menyukainya." Ucap Hinata sambil menunduk dan mengetukkan ke dua jari telunjuknya karena malu.
"Wah ... terima kasih Hinata. Sudah pasti aku menyukainya." Naruto begitu senang dan tanpa sadar memeluk Hinata.
Tiba-tiba Minato muncul dan terkejut. Pipi Minato berubah menjadi merah karena melihat sesuatu yang seharusnya tidak dilihatnya.
Hinata juga terkejut melihat Minato. Hinata langsung melepaskan pelukan Naruto dan mendorongnya hingga jatuh ke sofa.
"Ya ampun ... Untung di belakangku sofa. Kau ini kenapa Hinata ? Untung cokelatnya juga tidak jatuh." Ucap Naruto yang terkejut sambil melihat keadaan cokelat Hinata.
"Paman Minato ?" Hinata sangat malu dan pipinya sangat merah.
Naruto menengok ke arah belakang, pandangan matanya berubah menjadi pandangan yang penuh dengan kekesalan. Naruto berkata dalam hati, 'Kenapa ayah muncul di saat yang tidak tepat.' "Menyebalkaaan .." Teriak Naruto.
"Eeem .. Aku tidak melihat apa-apa kok tenang saja." Minato memeberikan alasan yang standar.
"Ma, maaf paman. Kau melihat yang barusan." Ucap Hinata malu-malu sambil memandang Minato.
"Aaaah .. Ti, tidak. Aku kan sudah bilang tidak melihat apa pun." Ucap Minato gugup.
Naruto langsung berdiri dan bicara pada Minato dengan perasaan yang kesal, "Ayah, kau sungguh memberikan alasan yang tidak masuk akal. Sudah jelas ayah berdiri di situ dengan ekspresi terkejut. Apa namanya kalau tidak melihat ?"
"Hehe .. Maaf. Ayah tidak sengaja melihatnya." Ucap Minato yang hanya dapat tertawa kecil.
"Ayah ini benar-benar mengganggu suasana." Ucap Naruto sambil memberi tatapan sinis.
"Hehehe ..." Minato hanya membalas dengan tawa kecil.
Naruto melirik ke arah Hinata yang sedang menunduk dengan wajah yang merah. "Lihatlah, ayah membuat gadisku berubah menjadi seperti tomat."
Minato menengok ke arah Hinata dan tersenyum. 'Anak ini begitu manis. Naruto beruntung mendapatkan gadis seperti dia.' Ucap Minato dalam hati.
"Sudahlah. Ayo kita berangkat Hinata. Nanti kita terlambat." Ajak Naruto yang masih sedikit kesal.
"I, iya." Balas Hinata.
"Ayah kami berangkat dulu." Pamit Naruto.
"Permisi paman." Pamit Hinata.
"Baiklah. Kalian berhati-hatilah di jalan." Ucap Minato sambil mengikuti mereka ke depan pintu.
Setelah Naruto dan Hinata pergi meninggalkan rumah, Minato menutup pintu rumah.
"Naruto itu agresif ya." Gumam Minato sambil tersenyum malu.
.
.
.
.
Di perjalanan menuju akademi, Hinata terdiam sejenak karena teringat akan satu hal. Naruto bingung melihat Hinata yang tiba-tiba saja terdiam.
"Hinata, ada apa ? Apa ada hal yang mengganggu pikiranmu ?" Tanya Naruto yang penuh keheranan.
"Aku lupa mengatakan sesuatu padamu." Jawab Hinata.
"Apa yang mau kau katakan ?" Tanya Naruto lagi.
"Selamat Hari valentine Naruto." Ucap Hinata sambil tersenyum malu.
"Aaah ? Apa sekarang tanggal 14 Februari ?" Naruto bingung dan terkejut.
"Iya, sekarang tanggal 14 Februari. Apa kau lupa ?" Ucap Hinata yang menatap Naruto.
"Kau pergi duluan ke akademi. Aku akan menyusul. Aku ada sedikit urusan." Ucap Naruto yang bergegas pergi meninggalkan Hinata.
Hinata hanya bingung dan terdiam. Dia menuruti apa kata Naruto. Hinata langsung pergi ke akademi sendirian.
Naruto berlari menuju toko bunga Ino. Dia bergumam, "Itulah mengapa dia memberiku cokelat hari ini. Bodohnya aku bisa lupa."
.
.
.
.
Hinata tiba di akademi. Tiba-tiba Naruto muncul di hadapan Hinata. Hinata terkejut dan hampir terjatuh. Naruto langsung meraih tangan Hinata agar tidak terjatuh.
"Maaf Hinata, aku telah mengejutkanmu sampai hampir terjatuh." Ucap Naruto yang juga terkejut.
"Tidak apa-apa Naruto. Yang penting aku tidak jatuh kan." Ucap Hinata tersenyum. Hinata melihat bunga mawar di tangan Naruto. "Itu bunga untuk apa Naruto ?"
"Bunga ini untuk orang yang istimewa dalam hidupku selain kedua orang tuaku." Jawab Naruto.
Hinata hanya terdiam mendengar Naruto bicara seperti itu.
"Ini untukmu. Orang yang istimewa dalam hidupku selain kedua orang tuaku adalah kau." Ucap Naruto sambil menjulurkan bunga ke Hinata. "Selamat hari valentine. Maaf kalau aku lupa. Begitu membicarakan valentine, aku langsung ke toko bunga Ino untuk membelinya."
"Te, terima kasih." Ucap Hinata dengan pipi yang merah sambil menerima bunga dari Naruto.
"Maaf Hinata, sudah membuat pipimu merah lagi. Gawat kalau murid-murid melihatnya. Aku takut kalau kau diejek." Naruto begitu cemasnya.
"Ti, tidak apa-apa. Nanti juga hilang." Ucap Hinata lembut.
"Syukurlah." Naruto mengucapkan dengan perasaan yang lega.
"Oh ya .. Ayo kita makan sama-sama coklat buatanmu. Bel belum berbunyi kan ?" Ucap Naruto sambil menarik tangan Hinata.
"Ba, baik." Ucap Hinata pelan.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Tibalah waktunya untuk Naruto pulang ke rumah. Naruto yang biasanya pulang bersama Hinata, hari ini tidak bersama. Karena Naruto memiliki urusan sehingga pulang lebih lambat dari biasanya. Jadi Naruto menyuruh Hinata untuk pulang lebih dulu.
Di jalan, Naruto mampir ke toko bunga Ino. Dia merasa 'Masa aku memberikan bunga pada Hinata tapi tidak pada ibuku sendiri.'
.
.
.
.
Naruto tiba di rumah. Dia membuka pintu dan memberi salam, "Aku pulang ..."
Tiba-tiba ... "Kejutan" teriak Minato dan Kushina pada Naruto
Naruto terhentak karena sangat terkejut. Naruto sangat senang melihat di tangan ibunya ada kue cokelat bertuliskan 'Happy Valentine Day'. Dia hanya tersenyum lebar.
"Selamat hari valentine Naruto". Ucap Kushina sambil mencium kening Naruto.
"Selamat hari valentine." Ucap Minato sambil mengusap kepala Naruto.
"Selamat hari valentine ayah ibu." Naruto mengucapkannya dengan penuh kegembiraan. "Aku membawakan bunga untuk ibu." Sambil menjulurkan bunga pada Kushina.
"Wah .." Kushina senang anak semata wayangnya memberikan bunga mawar. Kushina reflek memberikan kue coklatnya pada Minato dan menerima bunga dari Naruto.
"Ayah tidak dapat hadiah ?" Minato merasa kecewa.
"Maaf ayah. Aku tidak tahu apa yang harus kuberikan pada ayah." Naruto hanya menggaruk kepala sambil nyengir.
"Sudahlah Naruto. Ayah tidak apa-apa." Ucap Minato yang ekspresi wajahnya masih kecewa.
"Lihatkan. Naruto lebih sayang padaku." Kushina memamerkan bunganya sambil menjulurkan lidah.
"Sudahlah. Kalian seperti anak kecil saja. Lebih baik kita makan kue cokelatnya." Ucap Naruto berusaha melerai.
"Kau benar juga." Ucap Minato.
Minato memepersiapkan piring, sendok dan pisau. Kushina menaruh bunga mawar yang diberikan Naruto di vas. Naruto menaruh tasnya di dalam kamar dan pergi mandi. Setelah beres, mereka semua berkumpul di ruang makan. Kushina memotong kue cokelat dan memberikannya pada Minato terlebih dahulu. Kemudian diberikan pada Naruto. Yang terakhir untuk Kushina sendiri. Sambil makan mereka tertawa bersama.
Tiba-tiba Naruto termenung dan muncul di dalam benaknya, 'aku merasa ini kebahagiaan yang tidak bisa ditukar dengan apa pun juga. Rumah yang penuh kehangatan dan orang tua yang selalu memahamiku. Betapa bahagianya aku.'
"Kau kenapa Naruto ? Apa ada yang menganggu pikiranmu ?" Tanya Minato sambil menatap Naruto.
"Tidak ada yang menganggu pikiranku. Aku hanya memikirkan kebahagiaan yang kita rasakan sekarang ini." Ucap Naruto sambil tersenyum bahagia.
"Kita akan selalu bahagia bersama-sama." Ucap Kushina sambil menatap Naruto.
Tiba-tiba mata Naruto sakit seperti kelilipan debu sehingga ia menutup matanya. Naruto menggosok-gosok matanya dengan tangan. Saat membuka mata, kedua orang tuanya menghilang. Naruto duduk sendirian.
"Apa-apaan ini ? Apa yang terjadi ?" Naruto begitu heran.
"Ayah ... Ibu ..." Naruto terus mamanggil kedua orang tuanya. Dia mengelilingi rumahnya untuk mencari Minato dan Kushina.
"Rumah ini seperti rumah kosong. Tidak ada siapapun selain diriku." Gumam Naruto. Lama-kelamaan dirinya merasa menjauh dari rumah. Naruto berlari, tetapi tidak bisa mendekati rumahnya.
"Apakah aku terkena genjutsu?" Pikir Naruto. Naruto berlari dan terus berlari sampai lelah, tetapi rumahnya tidak terkejar. Rumahnya semakin menjauh seolah-olah berlari untuk menghindari Naruto.
"Ayah ... Ibu ..." Naruto terus memanggil kedua orang tuanya.
"Aku tahu ini genjutsu. Perbuatan siapa ini. Ayo keluar. Jangan bersembunyi dariku. Dasar kau pengecut." Teriak Naruto. Rumahnya semakin menjauh sampai tidak terlihat lagi.
"TIDAK ... AYAH ... IBU ..." Teriak Naruto.
Tiba-tiba Naruto terbangun di rumah kecilnya. Naruto baru menyadari kalau yang dialaminya barusan hanyalah sebuah mimpi. Kebahagiaan bersama oang tuanya hanyalah mimpi belaka.
"Yang tadi itu hanya mimpi ?" Naruto merasa sangat kecewa.
"Tentu saja. Ayah dan ibu kan sudah meninggal." Ucap Naruto yang mulai mengeluarkan air matanya.
"Rumah yang penuh kebahagiaan itu tidak pernah ada. Aku tidak pernah tinggal di sana bersama kedua orang tuaku. Aku selalu tinggal sendirian di rumahku yang kecil ini." Ucap Naruto.
"Kenapa aku diberi mimpi seperti itu ? Kebahagiaan yang baru saja kurasakan menghilang begitu saja bagaikan angin yang berhembus. Aku lebih memilih untuk tidak bangun dari tidurku dan terus bermimpi tinggal di rumah yang penuh kehangatan bersama ayah dan ibu." Ucap Naruto yang begitu kalut.
"Kenapa tiba-tiba aku memimpikan tentang valentine ? Biasanya memikirkannya saja tidak." Naruto masih saja menangis.
.
.
.
.
Akhirnya Naruto berhenti menangis. Walaupun berhenti menangis, hatinya masih terasa kalut.
"Lebih baik aku mandi dan pergi jalan-jalan agar tidak terbayang mimpi itu lagi." Ucap Naruto sambil mengusap bekas air mata di pipinya.
Naruto bergegas mengambil handuk dan pergi mandi.
.
.
.
.
.
Setelah selesai, Naruto pergi keluar rumah agar tidak memikirkan mimpinya lagi. Tapi Naruto tidak bisa membohongi dirinya sendiri. Dia tetap saja tidak bisa berhenti memikirkannya. Dia berjalan dengan wajah yang murung.
Fans yang ingin memberi cokelat padanya tidak dihiraukan. Padahal Naruto orang yang ramah terhadap fans.
Naruto berjalan seperti tanpa arah. Naruto seperti sosok tubuh tanpa jiwa. Naruto sama sekali tidak merasakan lapar yang biasanya sering ia rasakan. Yang biasanya berhenti di kedai Ichiraku untuk sarapan ramen, dia hanya melewatinya.
Naruto terus berjalan tanpa arah. Tiba-tiba Naruto menyadari kalau dia sampai di depan gerbang akademi. Naruto hanya heran. Kenapa dia bisa sampai di akademi. Naruto merasa hatinya tenang saat di depan akademi. Dia mengikuti kata hatinya dan masuk ke dalam. Naruto merasa seolah-olah hati kecilnya berkata jika ia masuk ke dalam, dia akan menemukan ketenangan masuk ke dalam, hanya ada kesunyian. Tidak ada murid yang datang. Naruto baru ingat kalau akademi sedang di liburkan.
Di dalam, Naruto melihat semua temannya. Di sana ada Hinata, Sakura, Choji, Shikamaru, Ino, Sai, Kiba, Lee, Tenten dan Shino yang sedang berkumpul membicarakan perilaku muridnya. Entah mengapa Naruto tersenyum saat melihat Hinata. Tanpa disadarinya, Naruto langsung berlari ke arah Hinata dan memeluknya. Naruto mengerti yang dimaksud hati kecilnya. Ketenangan itu memang ada di dalam akademi. Ketenangan itu tidak lain adalah Hinata.
"NARUTO... apa yang kau lakukan ? Tidak sopan tiba-tiba datang dan memeluk wanita seenaknya. Kau harus lebih sopan pada wanita." Sakura sangat marah melihat sikap Naruto yang seperti itu.
Tapi Naruto tidak menghiraukan perkataan Sakura. Di pikirannya saat ini hanyalah mimpi yang baru saja ia alami. Tiba-tiba Naruto menangis di pelukan Hinata. Hinata terkejut ketika pundaknya basah terkena air mata Naruto. Isak tangisnya cukup keras, sehingga semua temannya terkejut melihat Naruto yang tidak seperti biasanya.
"Naruto, kau kenapa ?" Sakura merasa bersalah.
"Kau ini kenapa hah ? Aneh sekali." Ucap Shikamaru yang bingung.
"Sudahlah jangan ditanya lagi. Sepertinya Naruto sedang kalut. Bisakah kalian pergi. Biarkan Naruto seperti ini dulu." Ucap Hinata lembut.
"Ya baiklah." Ucap Shikamaru dengan gayanya yang cool.
"Ternyata seorang pahlawan bisa menangis seperti ini juga." Ledek Kiba.
"Ya ampun .." Tenten lelah melihat sikap Kiba.
"Sudahlah. Ayo kita pergi. Mungkin perasaannya sedang tidak enak." Ucap Sakura yang heran melihat Naruto.
"Oke." Ucap Lee.
Semuanya pergi meningglakan Hinata dan Naruto. Hinata membalas pelukan Naruto dengan memeluknya kembali dengan penuh kehangatan. Naruto masih menangis di pelukan Hinata. Dalam benaknya Hinata berkata, 'apa yang mengganggumu sampai seperti ini Naruto?' Hinata sedih melihat Naruto yang sedang kalut.
"Sudah, tidak apa-apa. Menangislah. Keluarkan semua yang ada dalam benakmu." Ucap Hinata sambil mengelus kepala Naruto.
.
.
.
.
Beberapa saat, Naruto melepaskan pelukannya.
"Maaf Hinata. Bajumu jadi basah." Ucap Naruto dengan mata yang sembab.
"Tidak apa-apa. Nanti juga kering. Kau sudah merasa baikan sekarang ?" Tanya Hinata sambil memegang tangan Naruto.
"Tentu saja aku sudah baikan. Ketenangan hatiku ada padamu." Naruto tersenyum.
"Apa benar aku ini ketenangan hatimu ?" Ucap Hinata tersenyum balik pada Naruto.
Naruto hanya bisa membalas dengan anggukan kepala.
"Apa sekarang kau sudah bisa cerita ?" Tanya Hinata sambil mengusap air mata Naruto.
"Aku rasa sudah." Ucap Naruto dengan suara pelan. Naruto pun bercerita.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
"Sepertinya kau merindukan orang tuamu." Hinata memandang Naruto dengan perasaan sedih.
"Payaaah .. Aku hanya bisa merayakan hari valentine dengan mereka lewat mimpi saja. Aku tidak bisa mewujudkannya secara nyata. Ini hanya membuatku sedih saja." Ucap Naruto sambil berlinang air mata.
"Apa maksudmu Naruto ? Kau tidak payah. Tentu kau bisa merayakannya." Ucap Hinata yang penuh harapan sambil mengusap air mata Naruto.
Naruto hanya termenung dan bertanya, "Maksudmu ?"
"Sekarang ikut denganku." Ajak Hinata sambil menarik tangan Naruto.
Naruto hanya mengikuti langkah kekasihnya itu. Sampailah mereka di toko bunga Ino. Hinata menyuruh Naruto membeli 2 tangkai mawar.
"Belilah 2 tangkai mawar. Kata orang, mawar adalah bunga pelambang cinta. Setelah itu berikan ke makam kedua orang tuamu yang sangat kau cintai." Ucap Hinata menarik Naruto masuk ke dalam toko bunga.
Naruto terdiam melihat Hinata yang berusaha membuat Naruto ceria kembali. Dalam hatinya berkata 'Aku beruntung memiliki kekasih seperti dirimu.' Naruto hanya tersenyum.
"Selamat datang." Sapa penjaga toko bunga yang tidak lain adalah Ino. "Ehh .. Naruto. Kau sudah tidak apa-apa ?" tanya Ino penasaran.
"Iya. Terima kasih sudah bertanya." Jawab Naruto dengan senyum yang memaksa.
"Kau ini kenapa bersikap seperti tadi Naruto ?" Tanya Ino penasaran.
"Aku hanya sedang merindukan orang yang ku cintai selain Hinata." Balas Naruto dengan penuh perasaan.
'Naruto' Hinata berkata dalam hati sambil memandang Naruto.
Ino hanya bingung karena tidak mengerti. "Oh ya. Kau kesini ingin beli bunga kan ?" Tanya Ino.
"Iya. Aku ingin 3 tangkai mawar." Ucap Naruto.
"Kenapa 3 ?" Hinata bingung.
"Sudahlah Hinata." Naruto hanya menjawab Hinata dengan singkat.
"Baiklah. Untuk siapa bunga ini ?" Ucap Ino sambil melirik Hinata.
"Untuk mereka." Ucap Naruto.
"Mereka ?" Ucap Ino bingung. "Ini mawarnya." Ino menjulurkan mawarnya kepada Naruto.
Naruto menerima bunganya lalu membayarnya.
"Terima kasih. Sering-seringlah datang kemari." Ucap Ino sambil melambaikan tangan.
"Ya sama-sama." Jawab Naruto.
Hinata hanya membalas Ino dengan senyuman.
Mereka segera bergegas ke makam Minato dan Kushina.
.
.
.
.
.
.
.
"Nah .. Sudah sampai." Ucap Naruto.
"Iya. Aku akan menunggu di sini sambil melihat dirimu dari jauh. Aku tidak ingin mengganggumu." Ucap Hinata.
"Baiklah jika itu maumu. Duduklah di bawah pohon di belakangmu. Aku tidak tega jika kau kepanasan hanya untuk menungguku." Cemas Naruto.
"Ba, baiklah." Ucap Hinata dengan pipi yang merah.
Hinata duduk menunggu Naruto di bawah pohon. Sedangkan Naruto menghampiri makam kedua orang tuanya. Naruto berdiri di hadapan makam kedua orang tuanya. Dia meletakkan masing-masing satu tangkai mawar. Tangkai mawar yang satunya ia pegang.
Tiba-tiba semilir angin berhembus. Bersamaan dengan itu, muncul sosok transparan pria berambut kuning dan wanita berambut merah di depan makam. Siapa lagi kalau bukan Minato dan Kushina.
"Naruto.. Itu adalah mawar yang sangat cantik." Ucap Kushina.
"Dia sudah tumbuh dewasa sekarang." Ucap Minato.
"Kau benar. Naruto kita tumbuh dengan baik walaupun tanpa orang tua di sisinya. Naruto kita juga tumbuh menjadi orang yang tampan." Kushina terharu sehingga meneteskan air mata.
"Sudahlah Kushina." Minato merangkul istri tercintanya itu.
Naruto tidak dapat mendengar ataupun melihat sosok orang tua yang dicintainya. Dia terus menatap makam kedua orang tuanya.
"Ibu .. Ayah .. Selamat hari valentine. Aku sangat merindukan kalian. Aku juga bermimpi tentang kalian." Ucap Naruto sambil tersenyum ke arah makam.
"Tentu saja kau bermimpi tentang kami. Kami sengaja menemuimu lewat mimpi." Ucap Kushina yang bersandar pada Minato.
"Iya benar kata ibumu. Kami menemuimu lewat mimpi. Kami sengaja menemuimu saat valentine. Karena kau belum pernah merasakan valentine bersama kami." Ucap Minato sambil mengeluarkan air mata.
"Kenapa sekarang malah kau yang menangis Minato ?" Ejek Kushina.
"Aku tidak bisa menahan haru." Balas Minato.
"Ya, kau benar Minato. Lebih baik kita dengarkan lagi Naruto kita." Ucap Kushina tidak sabar mendengar anaknya bicara.
"Tapi mimpi itu membuatku sedih saat terbangun. Mimpi itu hanya membuatku bahagia saat tertidur, tapi tidak saat terbangun. Aku menyesal bangun dari tidurku. Kalau bisa memilih, aku lebih memilih untuk tidur selamanya agar bisa bersama kalian di alam mimpi." Naruto tidak bisa membendung air matanya lagi dan menangis dengan suara yang begitu keras.
"Apa maksudmu Naruto ?" Ucap Minato yang heran.
Hinata yang sedang duduk terkejut mendengar Naruto yang menangis begitu keras. Suaranya menggema. Hinata langsung berlari menghampiri Naruto. Saat tiba di makam, Hinata baru menyadari ada sosok pria dan wanita di hadapan Naruto. Hinata tahu kalau itu adalah sosok ayah dan ibu Naruto.
"Naruto, kau tidak apa-apa ?" tanya Hinata sambil menepuk pundak Naruto.
Naruto langsung memeluk Hinata dan menangis lagi di pundaknya. Hinata memeluk sambil mengelus kepala Naruto.
"Naruto .." Kushina berusaha untuk menyentuh Naruto tapi sia-sia.
"Kushina, kita ini makhluk astral yang tidak bisa menyentuh manusia. Kecuali dihidupkan dengan edotensei." Minato sedih melihat Kushina."Siapa gadis ini?" Minato heran melihat Naruto yang memeluk Hinata.
"Aku pikir jika kita datang ke mimpinya, dia akan bahagia karena bisa merayakan valentine bersama. Tapi .." Kushina sudah tidak bisa membendung air matanya dan langsung memeluk Minato.
"Aku juga berpikir sama seperti itu. Aku menyesal. Tidak seharusnya begini. Maafkan ayah dan ibumu ini Naruto." Ucap Minato sambil mengeluarkan air mata.
"Aku tidak ingin menemuinya lewat mimpi lagi. Kasihan Naruto." Kushina begitu sedih.
Hinata yang melihat Minato dan Kushina bersedih melepaskan pelukan Naruto dan berbicara pada Naruto.
"Jangan seperti ini Naruto. Orang tuamu pasti sedih jika melihatmu seperti ini." Bujuk Hinata sambil memegang tangan Naruto yang masih memegang setangkai mawar di tangannya.
"Maksudmu ?" Tanya Naruto yang bingung sambil mengusap air matanya.
"Mungkin kedua orang tuamu itu sengaja datang ke dalam mimpimu untuk memberimu kebahagiaan di hari valentine. Karena selama ini kau tidak pernah merasakannya bersama mereka. Jika orang tuamu melihat keadaanmu seperti ini, mereka akan sedih. Mereka akan menyesal pernah datang ke mimpimu dan tidak ingin datang lagi ke mimpimu." Hinata berusaha menyampaikan kesedihan Minato dan Kushina lewat perkataanya.
Naruto hanya terdiam. Minato dan Kushina terkejut mendengar Hinata berbicara persis seperti yang mereka bicarakan. Akhirnya mereka menyadari bahwa Hinata bisa melihat dan mendengar keberadaan mereka.
"Kau benar Hinata. Aku tidak ingin mereka tidak datang lagi ke mimpiku. Aku berharap mereka sering memberiku kebahagiaan walau hanya lewat mimpi. Setidaknya di mimpi itu, aku dapat merasakan kasih sayang mereka yang selama ini tidak pernah ku dapatkan." Naruto menjadi seseorang yang memiliki harapan kembali.
"Hinata jika kau mendengarku, sampaikan pada Naruto kalau kami mencintainya." Ucap Kushina sambil tersenyum.
"Naruto, jika ke dua orang tuamu mengatakan 'aku cinta padamu' apa balasanmu ?" Hinata menyampaikan perkataan Kushina pada Naruto.
"Balasanku adalah aku juga mencintai kalian. Terima kasih karena kalian telah menjadi ayah dan ibuku." Ucap Naruto sambil memandang makam kedua orang tuaya.
"Kau harus menjadi orang yang kuat. Orang tuamu pasti bangga." Hinata memberi nasihat pada Naruto sambil mengusap air matanya.
Kushina dan Minato memandang Naruto dengan tatapan kebahagiaan.
"Karena kau sudah menyusulku ke sini, aku akan memperkenalkanmu pada ayah dan ibuku." Ucap Naruto sambil menyeringai.
"Na, Naruto .." Pipi Hinata berubah merah.
Naruto memperkenalkan Hinata pada ayah dan ibunya, "Ayah, ibu. Perkenalkan dia adalah Hyuuga Hinata, anak dari Hyuuga Hiashi."
"Wah .. Hyuuga Hinata." Minato terkejut.
"Anak Hyuuga Hiashi." Kushina lebih terkejut karena Hinata adalah anak Hiashi.
"Dia adalah calon istriku. Dia orang yang dapat menenangkan hatiku di saat seperti ini. Dialah wanita pilihanku. Bagaimanapun kalian harus menyetujui kami. Aku sudah cinta mati padanya dan begitu pula sebaliknya." Naruto seolah-olah meyakinkan kedua orangtuanya.
"Tentu saja aku setuju. Dia gadis yang baik." Jawab Kushina sambil tersenyum.
"Kau benar Kushina." Sahut Minato.
"Naruto .. Aku jadi malu." Pipi Hinata memerah sambil melihat sosok astral Minato dan Kushina.
"Selamat siang, paman dan bibi." Salam Hinata sambil membungkukkan badannya.
"Selamat siang, Hinata." Balas Minato dan Kushina.
"Lihatlah dia. Pipinya selalu merah seperti tomat jika sedang malu." Ledek Naruto.
"Naruto .." Ucap Hinata sambil mencubit perut Naruto.
"Aduuuh .." Ucap Naruto sambil tertawa kecil.
"Kau ini manis sekali." Ucap Naruto sambil memandang Hinata. Hinata hanya tersenyum malu dan memalingkan pandangannya dari Naruto.
"Gadis yang manis." Ucap Minato.
"Jagalah Naruto untuk kami." Kushina tersenyum.
"Aku akan menjaga Naruto sebaik mungkin." Jawab Hinata mantap.
Naruto melihat kagum pada Hinata. Padahal yang sebenarnya, Hinata sedang membalas perkataan Kushina.
"Oh aku lupa cerita pada kalian. Di mimpiku juga ada Hinata." Ucap Naruto sambil menatap makam kedua orang tuanya.
"Bagaimana bisa ?" Tanya Kushina.
"Mungkin itu alam bawah sadarnya. Kita kan membuatnya bermimpi tentang hari valentine. Karena dia memiliki kekasih, jadi kekasihnya juga ada di dalam mimpinya." Jelas Minato. "Aku saja tidak ingat kalau Hinata ada di dalam mimpi."
"Ternyata begitu. Naruto benar-benar mencintai Hinata ya, sayang." Ucap Kushina sambil melihat ke arah Hinata.
"Begitulah." Minato juga memandang ke arah Hinata.
Hinata hanya bisa tersenyum malu saat Kushina dan Minato membicarakannya.
"Karena tidak akan bisa mengatakannya saat kalian menikah, aku akan mengatakannya sekarang. Selamat datang di dalam keluarga Uzumaki." Sambut Kushina.
"Selamat datang, Hinata." Sambut Minato juga.
Pipi Hinata memerah dan tanpa sadar dia berkata, "Terima Kasih untuk paman dan bibi."
"Hinata, kenapa mengucapkan terima kasih pada ayah dan ibu ?" Tanya Naruto heran.
"Ohh .. aku hanya berterima kasih pada ayah dan ibumu karena memiliki anak yang hebat sepertimu." Jawab Hinata gugup.
Naruto hanya tersenyum memandang Hinata. Dan semilir angin pun berhembus membawa sosok astral itu pergi. Mereka pergi dengan wajah yang tersenyum bahagia. Hinata juga mambalas senyumannya.
Tiba-tiba saja Naruto memberikan Hinata setangkai mawar yang ada di tangannya.
"Hinata, mawar ini untukmu." Ucap Naruto sambil mengulurkan mawar yang ada di tangannya.
"Kenapa memberiku mawar ?" Tanya Hinata sambil mencium mawar tersebut.
"Karena hari ini adalah hari valentine. Dan kau bilang bunga mawar itu melambangkan cinta. Cintaku bukan hanya kepada orang tuaku saja, tapi juga pada dirimu." Ucap Naruto sambil menatap Hinata.
"Na, Naruto .." Pipi Hinata memerah lagi seperti biasa.
'Kruuk ..' Perut Naruto berbunyi.
Hinata hanya tertawa kecil mendengar suara perut Naruto.
"Ayo Hinata kita pergi. Aku sudah lapar dan ingin makan ramen ichiraku." Ajak Naruto.
"Baiklah, aku juga sudah lapar." Ucap Hinata sambil tersenyum.
"Hari ini aku akan mentraktirmu." Ucap Naruto sambil menggandeng tangan Hinata.
"Terima kasih Naruto." Ucap Hinata yang senang tangannya digandeng Naruto.
'Aku baru ingat kalau bunga yang ku berikan pada Hinata dan ibu di mimpi adalah bunga mawar. Aku baru tahu mawar itu maknanya cinta. Walaupun di mimpi ayah tidak ku beri mawar. Maaf ya ayah. Tapi di dunia nyata aku memberikannya. Aku tidak mengerti. Kenapa hanya aku yang tidak diberi mawar. Oooh .. aku mengerti sekarang. Mawar melambangkan cinta. Aku memiliki cinta. Jadi tidak perlu mendapat bunga mawar. Karena aku sudah memilikinya. Mawarku adalah Cintaku, yang tidak lain adalah ayah, ibu dan Hinata.' Ucap Naruto dalam hatinya sambil melihat Hinata yang terus memegang mawar pemberiannya.
.
.
.
TAMAT
.
.
.
Chisato : Akhirnya selesai juga pembuatan fic ini. Sulit untuk mencari inspirasinya. Semoga kalian suka fic buatanku. Ini fic solo pertamaku setelah berkolaborasi dengan Widya-chan. Maaf kalau kurang bagus. Saya masih dalam proses belajar. Fic ini juga terinspirasi dari fic nya Widya-chan loh. Makasih Widya-chan. Maaf sebesar-besarnya kalo kalian gak suka. Do'akan supaya bisa jadi lebih baik lagi fic nya. Love you reader.
