Sex(y) Love
Main cast : Baekhyun And Find by yourself
Genre : Romance & Drama
Rate : M
WARNING! : NO CHILD
Cerita mengandung unsur dewasa, bagi yang belum cukup umur mohon pikir (minimal 3kali) dahulu sebelum membaca /nahlo/ BENERAN CIYYUSSS, SAYA WARN KALIAN!
Judul mungkin gak nyambung sama cerita.
Typo(s) everywhere
Fanfic : GENDERSWITCH (DON'T LIKE DON'T READ) TIDAK MENERIMA BASHING!
Disclamer : Semua cast milik Tuhan dan Keluarganya
Summary
Baekhyun tidak bisa dipanggil dengan sebutan gadis baik-baik. Karena tidak ada gadis baik-baik di dunia ini yang rela membiarkan tubuh nya di jamah oleh orang lain dengan imbalan Dollar.
.
.
.
.
.
Tidak ada yang memulai percakapan satupun, keduanya hanya duduk bersandingan dalam diam. Sebenarnya Baekhyun merutukki dirinya, untuk apa ia menghampiri Luhan dan duduk di sebelah namja itu di depan Grand Piano seperti sekarang ini. Baekhyun bukanlah orang yang pintar berbasa-basi, bahkan ia sendiri tahu betul seperti apa ia itu. Baekhyun tidak pandai bicara, apalagi untuk sekedar bercakap-cakap.
Luhan pun sama, dia juga namja yang terlalu pendiam. Beberapa kali Luhan mencuri-curi pandang pada Baekhyun, karena sedari tadi yeoja itu juga betah berdiam diri.
"Maaf" Ucap Luhan lirih memecah keheningan yang mengelilingi kedua manusia itu dan membuat Baekhyun mengangkat kepala lalu menoleh kearahnya.
"Eh?" Mata Baekhyun mengerjap bingung.
"Maaf, aku mengambil tempatmu. Biasanya kan kau yang duduk disini" kata Luhan canggung.
"Kenapa harus minta maaf? Piano ini bukan milikku"
Baekhyun tersenyum pada Luhan. "Permainanmu sangat bagus" Lanjutnya berujar lembut.
Demi seluruh makhluk Tuhan di bumi ini. Luhan bisa meleleh sekarang juga. Benarkah Baekhyun memujinya.? Dan senyuman itu. Itu adalah senyuman terindah yang pernah ia lihat.
Luhan baru saja ingin membuka mulutnya jika saja suara mahasiswa lain tidak terdengar sudah memasuki gedung musik. Namja itu akhirnya menghela nafas lirih menyadari pergerakan dari sebelah tempat duduknya.
Baekhyun beranjak dari sana sebelum Kai -teman Luhan- menghampirinya. Namja berkulit sexy itu agaknya terheran-heran mendapati Baekhyun barusaja berinteraksi dengan Luhan. Dengan wajah penasaran Kai membuka mulutnya sambil menatap bodoh kepergian Baekhyun. Tangannya menunjuk Baekhyun lalu menoleh lagi kepada Luhan meminta penjelasan.
Masih dengan wajah bodohnya Kai bertanya.
"Hei Bung, Apa yang dilakukannya barusan? Oh Astaga! Dia Byun Baekhyun kan?" Dan Ekspresi Kai itu berlebihan sekali dimata Luhan.
Namja yang ditanyapun memilih diam tak menjawab, Luhan malah menyeret tas punggung Kai agar megikutinya menuju salah satu bangku di deretan pertama.
"Ya! Ya! Lu Han. Lepasssshhhhkan. leherku! Ya Ampuuun..." Seru Kai hampir kehilangan nafasnya karena kelakuan sahabatnya.
.
.
.
Baekhyun mengumpat lirih mendapati kedua ban belakang mobilnya kempes. Seingatnya saat berangkat tadi semua baik-baik saja. Tapi bagaimana mungkin sekarang bisa kempes tak ada isi sama sekali. Sial, Baekhyun terlalu kesal untuk menyadari bahwa ada seseorang yang sengaja mengerjainya. Dengan sedikit menggeram ia mengambil ponselnya dan menghubungi bengkel, menyuruh montir untuk memperbaikinya. Jadi... terpaksa ia harus pulang naik taksi.
Gadis itu melirik arlojinya, sepertinya waktu sudah hampir menunjukan pukul 6 malam. Lama ia menunggui taksi namun lagi-lagi kesialan menghinggapinya. Tidak ada taksi yang lewat satu pun. Hampir saja ia ingin menyebrangi jalan menuju halte bus sebelum sebuah mobil mewah yang tidak ia kenal menghentikannya. Kaca mobil itu terbuka dan menampilkan seseorang yang akhirnya ia kenali.
"Luhan" Panggil Baekhyun kaget.
"Apa kau butuh tumpangan Baekhyun?"
.
.
Seseorang tengah berlari terburu-buru menuju parkiran untuk memeriksa targetnya. Tapi sialnya dia sudah kehilangan jejak gadis itu. Bahkan mobil yang sengaja ia kempeskan bannya tadi sudah tidak ada disana. Namja itu mengumpat kasar karena datang terlambat.
"Brengsek, Apa dia sudah pergi?!"
Karena masih diliputi rasa penasaran akhirnya dia berlari menuju gerbang. Berharap gadis itu masih ada di depan sana karena kebingungan untuk pulang. Namun lagi-lagi namja itu mengumpat.
Gara-gara kelas terakhirnya tadi ia jadi terlambat menemui gadis itu.
.
.
Baekhyun tersenyum senang begitu Seogogi mereka matang. Tadi ia mengajak Luhan untuk mampir makan dulu. Ia mengaku lupa memakan makan siangnya. Akhirnya sekalian ia ingin mentraktir Luhan yang berbaik hati memberinya tumpangan pulang. Jujur saja, tadi itu Baekhyun sudah sangat kelaparan.
"Terimakasih Luhan, Makanlah yang banyak. Tenang saja aku yang metraktirmu"
Entah sejak kapan, kecanggungan antara mereka sepertinya sudah tidak mendominasi. Baekhyun tampak santai berbicara padanya. Dan Luhan tidak malu-malu menanggapinya.
"Terimakasih Baekhyun"
Luhan lebih dulu menyantap Seogogi yang sengaja Baekhyun letakkan di atas mangkuk nasinya.
"Eumm, ini enak sekali" Binar Luhan sambil mengunyah makanannya.
Baekhyun semakin tersenyum lebar, lalu kembali sibuk membakar dagingnya.
"Makanlah dulu Baek, bukankah tadi kau bilang lapar. Biar aku saja yang memanggangnya."
Luhan berniat meraih piring berisi daging mentah itu untuk ia masukkan di atas api. Tapi Baekhyun segera mencegahnya.
"Makanlah itu masih banyak" ujar Baekhyun kembali.
Baekhyun membungkus Seogogi dengan daun selada segar yang menjadi pelengkapnya. Matanya terpejam begitu merasakan sensasi lezat daging panggang itu.
"Uwaaaaa Mashitta!"
Luhan tidak pernah membayangkan jika ia bisa sedekat ini dengan gadis cantik itu. Tak bisa dipungkiri sedari tadi jantungnya sudah menggila tidak karuan.
Baru tiga suap Baekhyun menikmati makanannya. Ponselnya berdering menandakan ada panggilan masuk. Ia menghentikan kegiatan sebentar untuk menerima telepon itu.
"Iya halo."
"Baekhyun. Kau dimana?"
Baekhyun sedikit terheran untuk apa Chanyeol mencarinya jam-jam segini. Biasanya namja itu masih sibuk bekerja.
"Aku sedang makan diluar, Ada apa?"
"Apa masih lama? Aku ada di rumahmu"
"Tidak, aku akan pulang lima belas m!enit lagi"
Hanya percakapan singkat yang terjadi. Baekhyun tahu Chanyeol tidak suka menunggu dan tanpa bicarapun Ia sudah sangat paham maksud namja itu. Maka ia harus segera pulang sekarang. Persetan dengan perutnya yang belum terisi kenyang.
Luhan menatapnya heran sedari Baekhyun berbicara pada ponselnya tadi, dan dahinya semakin berkerut bingung melihat Baekhyun membereskan barang-barangnya.
"Baekhyun kau mau pulang?" Tanya Luhan saat Baekhyun mengangkat tas dan berdiri dari duduknya.
"Aku harus segera pulang, maaf Luhan temanku menunggu dirumah. Aku akan membayar ini dulu"
Baekhyun berjalan menuju kasir dan memberikan beberapa lembar Won kepada si pemilik restoran itu. Luhan mengikuti dari belakang.
"Biar aku mengantarmu pulang"
Gadis itu segera menoleh mendapati Luhan sudah berada di belakangnya.
"Tidak Luhan, terimaksih. Aku pergi sekarang" Dan setelah mengucapkan itu Baekhyun sudah memasuki taksi pergi dari sana.
Luhan lagi-lagi hanya bisa menghela nafasnya.
.
.
Chanyeol sedang tiduran di sofa ruang tamu rumah Baekhyun. Beberapa kali ia merenggangkan otot kepalanya yang terasa kaku. Beruntung hari ini pekerjaannya berakhir cepat, jadi ia punya banyak waktu 'bermain'.
Lima belas menit menunggu itu adalah waktu yang cukup lama menurutnya. Ia sudah menggeram karena mulai frustasi akibat melihat koleksi video yadongnya bersama Baekhyun tempo hari yang sempat ia rekam. Ya! Chanyeol memang suka merekam kegiatan panasnya saat bercinta dengan Baekhyun. Tidak peduli sekalipun yeoja itu mau protes atau marah padanya. Toh, ia sudah membayar Baekhyun. Jadi suka-suka dirinya 'kan?
Namja itu mengelus gundukan di balik jeansnya yang mulai tegang akibat melihat blow job yang Baekhyun lakukan di video itu. Ini gila, Baekhyun benar-benar pintar membuatnya melayang. Bahkan hanya dengan melihat dalam rekaman itupun Chanyeol sudah merasa sangat hard. "Sial, Berapa lama lagi jalang itu datang!" Chanyeol mengerang karena dirasa ia sudah mulai mengeluarkan precum pada penisnya.
Namun kegiatannya diganggu oleh suara ponsel di sakunya yang bergetar. Dengan mengumpat ia mengangkat telepon mengganggu itu.
"Apa mau mu?"
Ucap Chanyeol sangat kesal.
"Aku ingin bertemu dengan mu SEKARANG! Hyung."
Klik,
Hanya itu saja, karena setelah itu sambungan ponselnya terputus.
Sial, Bocah itu mengganggu saja. Chanyeol merasa pusing, sekarang apa ia harus pergi dalam keadaan horny seperti ini? Tapi tidak ada pilihan baginya. Atau bocah sialan itu akan mengacau.
Dengan sebal ia meraih kunci mobilnya dan keluar dari rumah Baekhyun.
.
.
"Hal gila apa yang membuatmu menghubungiku malam-malam begini?" Ucap Chanyeol ketus begitu mendapati batang hidung adiknya sedang duduk santai dengan kaki dilipat di dalam apartementnya.
"Kau dari mana Hyung? Oh Ayolah ini belum malam, baru jam setengah delapan," Ucap namja yang lebih muda sambil mengangkat bahunya cuek. "Aku mencarimu di kantor dan Sekretarismu bilang kau pulang awal, jadi..." Lanjutnya masih menggantung kalimatnya.
"Aku pulang karena ingin beristirahat jadi cepat katakan apa mau mu?"
"Dimana?"
"Bukan urusanmu Oh Sehun! Cepat katakan apa maumu sialan, sebelum aku menendangmu dari sini!"
Namja bernama Sehun tadi tersenyum mengejek. "Menendangku? Aku yakin kau tidak akan tega melakukan itu pada adikmu sendiri Hyung."
Sumpah, bocah itu pintar sekali membakar emosi kakaknya. Lihatlah, Chanyeol sudah mengepalkan tangannya erat-erat. Matanya menatap menyalang. Lengah sedikit mungkin Sehun akan menyesal dengan kelakuannya.
Sadar atmosfir menjadi semakin panas akhirnya Sehun menghela nafasnya. Berbasa-basi dengan Chanyeol itu tidak asyik. Kakaknya terlalu emosional.
"Baiklah-baiklah, Aku hanya ingin bilang bahwa Ibu sudah sadar, dia ingin bertemu denganmu sebelum pergi."
Mendengar kata Ibu membuat Chanyeol segera mengubah air mukanya. Perasaan bersalah, sedih, marah dan kecewa menjadi satu.
"Apa maksudmu pergi?"
Ibu Chanyeol adalah Ibu kandung Sehun juga. Itulah alasan mengapa Ia begitu mengagungkan keinginan Sehun. Bukan memanjakan adiknya, Chanyeol melakukan ini semata-mata adalah cara menebus rasa bersalah pada Ibunya yang masih tak berani ia ungkapkan dengan kata-kata. Walau sebenarnya semua karena salah Ayahnya. Park Siwon lah yang membuat semuanya menjadi serba keliru, dan tidak berjalan semestinya.
Chanyeol dan ibunya sudah tidak akur sejak ia duduk dibangku kelas 6 SD. Chanyeol membenci Ibunya yang meninggalkan dirinya demi laki-laki lain. Perasaan bencinya meningkat ketika mendengar bahwa ibunya telah memiliki anak yang lebih muda 2tahun darinya. Jadi selama itu Ibunya berselingkuh?
Namun saat ia beranjak remaja Chanyeol mendengar semua kenyataan yang sebenarnya, Semuanya hanya rekayasa Ayahnya. Tapi itu sudah terlambat, ia terlanjur tidak punya muka untuk bertemu Ibunya sendiri. Maka dengan menebus semua rasa bersalahnya ia merawat Sehun dengan baik. Membiayai dan memfasilitasi semua kebutuhan Sehun agar hidup Ibu dan adiknya itu layak. Hingga 4 bulan yang lalu ia mendengar bahwa ibunya mengidap kanker hati yang parah. Dalam benaknya ia takut, takut jika saja ia akan kehilangan Ibu untuk kedua kalinya. Dari itu Chanyeol berusaha keras menemukan pengobatan yang bisa menyembuhkan penyakit Ibunya. Tapi itu terdengar impossible, Dokter bahkan bilang umur Ibunya tidak akan lama lagi. Awalnya Chanyeol marah, memangnya siapa Dokter itu? Apa dia seorang Tuhan yang bisa memutuskan umur orang seenak kepalanya sendiri.
Tapi lagi-lagi kenyataan menamparnya telak. Ibunya koma berbulan-bulan pasca operasi.
"Dia bilang akan pulang ke Amerika. Aku tentu tidak bisa menjaganya lagi Hyung, Aku tidak mungkin ikut Ibu."
Chanyeol terdiam. Berusaha mencerna semua perkataan adiknya. Apa Ibunya benar-benar ingin meninggalkannya untuk kesekian kalinya? Setelah semua yang telah Chanyeol lakukan untuknya. Ketika Dokter memvonis bahwa umurnya tidak akan lama lagi, lalu memilih mati dan mengubur jasadnya sendiri jauh dari anak-anaknya.
"Aku tidak mau bertemu dengannya."
Suaranya bahkan tercekat. Hampir-hampir ia menangis di hadapan Sehun. Tapi sekuat hati ia menahannya. Chanyeol tidak boleh memperlihatkan kelemahannya pada siapapun.
Biarlah ia egois, biarlah ia menjadi anak durhaka. Bukankah Ibunya lah yang lebih dulu mencampakannya. Biarlah ia pura-pura tidak tahu dan menganggap semua ini hanya mimpi panjang yang segera berakhir.
Setelah berperang melawan hatinya Chanyeol memilih pergi dari sana. Dengan langkah cepat penuh emosi ia keluar dari apartementnya meninggalkan Sehun yang menatapnya tercengang.
.
.
.
.
.
Baekhyun memilih segera menaiki ranjangnya, tidak mau terlalu pusing mencari keberadaan Chanyeol. Walau ia penasaran kemana namja itu pergi. Ia yakin Chanyeol memang sempat kerumahnya jika dilihat dari cup kopi yang baru saja Baekhyun bereskan dari meja ruang tamunya.
Apa jangan-jangan Chanyeol pergi karena terlalu lama menunggunya. Ahh, masa bodo, lebih baik ia tidur sekarang. Lagi pula jika namja itu menginginkannya, pasti Chanyeol menelpon lagi.
10 menit memejamkan matanya hampir saja Baekhyun terlelap namun saat ini tidurnya terganggu oleh seseorang yang sedang membelai lengannya sensual. Ia bahkan bisa merasakan hembusan hangat yang menyapu daerah tengkuk ya. Aroma yang sangat dikenalnya menguar disana, tapi ada yang membuat Baekhyun mengernyit heran, bau Alkohol? Chanyeol mabuk-mabukan?
Gadis itu ingin membalik tubuhnya untuk menatap namja yang kini berusaha melucuti baju tidurnya. Tapi namja itu menahan pergerakannya, memberi isyarat agar bertahan pada posisi semula. Akhirnya Baekhyun menurut. Dan membiarkan tangan kekar itu menggoda tubuhnya yang kini half naked. Chanyeol sudah melempar entah kemana baju tidurnya. Menyisakan dadanya yang kini sudah telanjang, karena Baekhyun tidak pernah memakai underwear saat tidur.
Hampir saja Baekhyun memekik saat tiba-tiba saja Chanyeol meremas dadanya keras dengan tempo cepat lalu kemudian melambat, ia menggigit bibir bawahnya menahan desahan yang sebentar lagi pasti lolos.
"Ahhhhh, Chanyeolllhhh..."
Serangan itu masih terus Chanyeol lancarkan pada tubuhnya, memberinya kenikmatan yang kian lama membakar libidonya. Baekhyun lagi-lagi hanya bisa mendesah saat lidah basah namja di belakangnya sedang menjilati tengkuk kemudian beralih pada cuping telinganya. Baekhyun yakin ia sudah basah di bawah sana. Sentuhan Chanyeol selalu berhasil membuat nafsunya membara.
Jemari lentiknyanya ikut menggenggam tangan Chanyeol yang masih senantiasa meremas dadanya.
"Euuuughhhhh... ssshhhh"
Tak bisa dipungkiri, Chanyeol juga tidak akan bertahan lama jika sudah mendengar suara desahan yang mengalun dari bibir slutnya itu. Chanyeol sangat terangsang sekarang.
Setelah puas dengan cuping telinga Baekhyun, bibir Chanyeol beralih pada bahu putih nan mulus milik Baekhyun. Bahkan dibawah cahaya remang seperti ini saja bekasnya kemarin masih terlihat sangat jelas. Dan sepertinya namja itu sedang tidak ingin bermain kasar kali ini. Ia jilat dan kecupi basah bekas kissmarknya yang belum memudar itu. Berfikir jika begitu maka tanda itu akan menghilang dengan cepat. Tapi bukankah itu tidak mungkin?
Baekhyun tidak tahan lagi. Ia bisa saja cepat orgasme jika permainan Chanyeol selembut ini.
Atas instingnya sendiri tangan Baekhyun meraih resleting celana namja dibelakangnya, membukanya dan mencari kenikmatan untuk dirinya. Sedikit kerepotan karena ia membelakangi tubuh itu. Tapi Chanyeol segera mengerti. Namja itu membantu Baekhyun melepaskan celana jeansnya dan membiarkan Baekhyun memberikan oral pada penisnya.
Chanyeol sudah sampai pada belahan paha Baekhyun. Melepas celana dalam Baekhyun lalu membelai liang kewanitaannya, begitu yeoja itu mulai mengurut miliknya pelan, saat itulah ia memasukkan satu jarinya kedalam kewanitaan Baekhyun.
Gadis itu memekik bersamaan Chanyeol yang mengerang frustasi. Keduanya berusaha memberi kenikmatan pada tubuh mereka satu sama lain. Chanyeol menambah satu jarinya dan mulai menciptakan gerakan acak, menyodok semakin dalam tangannya kedalam kewanitaaan Baekhyun yang sangat basah. Baekhyun masih setia mengeluarkan desahan-desahan sexynya. Chanyeol terus menambah jari-jarinya yang panjang menjamah vaginanya. Tangannya juga tidak tinggal diam, semakin cepat gerakan Chanyeol maka semakin bersemangat ia mengocok kejantanan Chanyeol yang juga sudah mulai mengeluarkan precum.
"AAaaaakhhh... Chanyeolllhhhhh!"
Baeekhyun menggerang pada orgasme pertamanya. Bisa Chanyeol rasakan jari-jarinya terjepit begitu ketat di dalam dan basah karena cairan Baekhyun melumer pada tangannya. Ia sudah tidak tahan dengan miliknya yang semakin mengacung tegak, segera namja itu posisikan penisnya pada bibir kewanitaan si gadis.
"Eughhhhh..."
Desahnya bersama, saat penis itu berhasil masuk. Baekhyun tak kalah bergairah darinya. Gadis itu meremas rambut Chanyeol yang bersembunyi pada ceruk lehernya. Meremasnya kuat seakan ikut melampiaskan gairahnya ketika penis Chanyeol menyodok vaginanya semakin cepat. Ranjang itu berdecit mewarnai pergumulan panas percintaan mereka. Chanyeol mengangkat satu kaki Baekhyun masih pada posisi menyampingnya, mencari titik kenikmatan milik gadis itu. Menubruknya semakin beringas dan brutal.
Lama Chanyeol memaju mundurkan pinggangnya semakin cepat dan bergairah. Nafasnya terengah menyamai atlet marathon. Matanya terpejam menikmati remasan kuat kewanitaan gadis yang seperti menelan penisnya dalam. Baekhyun juga tak diam saja, sedari tadi ia sudah mendesah tak karu-karuan.
Baekhyun rasa sebentar lagi ia akan sampai pada orgasme keduanya. Gadis itu mengerang semakin sensual, namun Chanyeol berbisik lirih pada telinganya.
"Eugghh... tahannnhhh, Baekkhh..."
Suara Chanyeol memang berat yang terkesan sexy, dan saat ia mendesah begitu suaranya semakin membuat akal Baekhyun melemah. Ia mengangguk mengerti bahwa Chanyeol menyuruh menahan orgasme. Yang berarti bahwa namja itu juga akan orgasme sebentar lagi.
"AAkkhhhh... AAkkkkhhhhh...AAkkhhhhhh!"
Chanyeol mengerang untuk pertama dan Baekhyun sudah tidak bisa menahan orgasmenya lagi. Akhirnya Baekhyun lebih dulu mengeluarkan cairan kenikmatannya, karena selang tak berapa lama diikuti oleh Chanyeol.
Nafas keduanya memburu, peluh sudah tidak terhingga membasahi tubuh telanjang yang baru menikmati masa-masa pasca orgasme luar biasa itu.
.
.
Baekhyun kira Chanyeol sudah tidur dalam posisi memeluknya. Setelah acara bercinta itu mereka memutuskan menarik selimut dan tidur bersama.
Walau mereka sering bercinta tapi mereka tidak pernah melakukannya lebih dari sekali. Paling-paling jika Chanyeol lama tidak bertemu, 3ronde itu yang paling panjang. Mereka bukan pasangan yang suka menghabiskan waktu semalaman untuk seks beronde-ronde. Toh mereka melakukannya hampir setiap hari.
Gadis itu mengernyit menyadari pergerakan kecil dari namja dibelakangnya. Akhirnya ia putuskan untuk membalik badannya menghadap Chanyeol. Pipi Baekhyun memanas. Jika saja mereka adalah pasangan kekasih, maka ini menjadi hal yang sangat manis. Tapi Baekhyun segera menampik jauh-jauh pikiran bodohnya. 'Berhenti berpikir gila Baekhyun!' runtuknya dalam hati.
Bahu Chanyeol bergetar. Berhasil membuat Baekhyun melebarkan mata sipitnya. Ada apa dengan namja itu?
Baekhyun menggelengkan kepalanya. Chanyeol menangis?
Bersambung...
...
Annyeong haseyo chingyuuuuthhhhhh...
Saya balik dengan FF Sex(y) Love
Ada yang masih nungguin? Pasti ada /pede/ hahaha
Secara saya baru saja puas sama refreshing otak nya, kkkk~ Satu bulan Ching... Kayaknya itu udah cukup yah ^-^ saya juga udah sangat merindukan kalian Readers nim /plak/ yo yo yo !
Oiya pingin nya sih aplod tadi malam yah, secara bertepatan banget tanggalnya genap sebulan tercampakan(?) oho! tapi karena ketiduran jadi nya g jadi #eh?
bytheway...
Happy Born Day Uri Rillakuma's Dad we love you eeeemmmmwooooaaahhh... :*
Semoga semakin berjaya di EXO dan tambah akur yah sama Istrinya (read: Baekhyun)
hohohoh
Maaf kalo NC nya lagi-lagi g memuaskan, dan lagi-lagi saya jelasin, karena saya bukan pakarnya *paece*
Dan juga buat bapak nya Chanyeol, maaf saya mengganti marga Mas Siwon disini demi kelancaran FF nya. Nanti bapak nya Sehun juga, ehehe. Tapi kalo buat emak nya, saya pake OCC disini. Saya tidak rela Siwon ku dipasangin sama cewek manapun. hikseu...
Sekian dulu saja and Selamat menikmati.
I still need your review anyway...
~byebye~
