Sex(y) Love
Main cast : Baekhyun And Find by yourself
Genre : Romance & Drama
Rate : M
WARNING! : NO CHILD
Cerita mengandung unsur dewasa, bagi yang belum cukup umur mohon pikir (minimal 3kali) dahulu sebelum membaca /nahlo/ BENERAN CI YUSSS, SAYA WARN KALIAN!
Judul mungkin gak nyambung sama cerita.
Typo(s) everywhere
Fanfic : GENDERSWITCH (DON'T LIKE DON'T READ) TIDAK MENERIMA BASHING!
Disclamer : Semua cast milik Tuhan dan Keluarganya
Summary
Baekhyun tidak bisa dipanggil dengan sebutan gadis baik-baik. Karena tidak ada gadis baik-baik di dunia ini yang rela membiarkan tubuh nya di jamah oleh orang lain dengan imbalan Dollar.
.
.
.
.
.
Baekhyun kurang memahami situasi seperti ini. Ia sedikit shock ketika namja itu tiba-tiba menariknya dan bersembunyi dibalik tubuh polosnya. Dan selanjutnya ia hanya bisa diam membiarkan Chanyeol terisak didadanya.
Mungkin Chanyeol sedang ada masalah, Baekhyun menunggu sampai Chanyeol tenang.
"Dia akan pergi" Ucap Chanyeol lirih masih setia mendekapnya.
"Apa?"
Baekhyun mengernyit bingung, kurang bisa mendengar dengan jelas apa yang Chanyeol ucapkan. Bukan karena telinganya bermasalah, tapi karena suara Chanyeol teredam oleh selimut yang menutupi tubuhnya.
"Wanita itu akan pergi... Dia..., memilih mati tanpa ada seorang pun yang mengetahuinya"
Baekhyun semakin bingung pada setiap kata yang Chanyeol ucapkan.
"Wanita? siapa...?"
Lambat laun isakan itu sudah tidak terdengar lagi.
Chanyeol merubah posisinya. Melepas pelukannya dan sedikit menggeser tubuhnya agak menjauh dari Baekhyun.
Baru sadar apa yang ia lakukan mungkin, namun karena emosinya yang sudah menguasai tubuhnya, maka tanpa diperintah pun tubuhnya bertindak demikian.
Salahkan dia yang telah menenggak berbotol-botol vodka sebelum kemari. Dan sekarang kepalanya pun terasa pening. Hingga membuatnya mengatakan sesuatu yang seharusnya tidak perlu ia bicarakan.
Sedangkan Baekhyun yang terlanjur mendengar kalimat terucap darinya. Membuat gadis itu menatapnya penuh tanda tanya. Tidak! Baekhyun tidak menuntut apapun kelanjutan cerita Chanyeol. Baekhyun hanya... penasaran.
Wanita? Siapa yang Chanyeol maksud.
Karena setahu Baekhyun, Chanyeol tidaklah memiliki kekasih atau sebagainya. Selama ini Chanyeol hanya menggunakan nya. Bahkan Chanyeol pernah membela dia mati-matian dihadapan Ayahnya. Dulu. Jujur, Baekhyun sendiri tidak tahu mengapa Chanyeol mau susah-susah melindunginya saat itu.
Tapi, jika kini Chanyeol punya kekasih lantas apa masalahnya baginya. Baekhyun harusnya ingat, dia bukan siapa-siapa Chanyeol. Kecuali boneka pemuas nafsu namja itu saja.
Menyadari itu membuat Baekhyun tersenyum kecut dalam hati.
Cukup lama Baekhyun menunggu jawaban dari Chanyeol. Namun tidak ada tanda-tanda akan adanya jawaban, akhirnya ia menarik selimutnya dan mulai mencoba memejamkan matanya, memilih tidur daripada harus menunggu kediaman namja di hadapan nya itu lebih lama lagi. Tapi mata itu terbuka lagi setelah Chanyeol kembali berbicara.
"Ibu..."
Sekejap Baekhyun kembali menoleh kearah namja itu. Tercenung.
"Wanita itu adalah Ibuku" Lanjut Chanyeol lirih.
"Dan dia... sekarat"
Baekhyun melihat itu. Melihat kerapuhan sosok Park Chanyeol yang belum pernah ia lihat selama ini. Dan itu semua terjadi karena, Ibunya.
"Chanyeol..."
Entah keberanian dari mana hingga membuat jemari lentik itu terulur pada pipi basah Chanyeol. Mengusapnya perlahan, tanpa sadar matanya pun ikut memanas.
Secepat kilat Chanyeol malah menarik kedua pergelangan tangan Baekhyun hingga tubuh gadis itu merapat padanya. Pandangan mata itu terasa menusuk. Secepat itukah emosi Chanyeol berubah.
"Wanita itu memang brengsek. Mereka tidak pernah memikirkan betapa orang lain sangat peduli untuk membuatnya tetap tinggal. Dan aku membenci itu"
Belum sempat Baekhyun mencerna kalimat Chanyeol. Gadis itu dikejutkan lagin ketika bibirnya yang dilumat kasar oleh si namja. Baekhyun tidak bisa bernafas tentu saja, karena Chanyeol tak memberinya celah sedikitpun untuk menyiapkan diri.
Chanyeol benar-benar memperlakukan nya kasar, bahkan tak membiarkan Baekhyun menghirup oksigen sedikitpun. Namja itu terus mendesaknya dengan ciuman teramat panas. Baekhyun mengerang sakit, bukan nikmat lagi saat bibirnya digigit kuat oleh Chanyeol.
Tangan lebar namja itu sudah membuang kasar selimut yang semula membungkus tubuh Baekhyun. Meremas dadanya kuat-kuat sampai membuat Baekhyun menitikkan air mata.
"Chaaannnhhh...aakhh..." Desis gadis itu menahan perih. Ia tidak bohong bibirnya mungkin sudah koyak, bahkan Baekhyun bisa merasakan bau anyir darah dari belah bibirnya. Sedangkan dadanya masih diremas tanpa perasaan oleh Chanyeol.
Seolah tuli akan rintihan sakit gadis itu, Chanyeol kini malah memposisikan penis nya dihadapan kewanitaan Baekhyun. Entah bagaimana bisa milik nya itu sudah berdiri lagi. Dengan dorongan kasar akhirnya penis Chanyeol berhasil masuk sepenuhnya kedalam lubang hangat milik Baekhyun. Saat itu juga air mata Baekhyun ikut jatuh.
Toleransi untuk malam ini. Mereka akan melakukannya sekali lagi.
.
.
.
.
.
Baekhyun pergi ke kampus diantar Chanyeol. Namja itu menawarkan tumpangan untuknya dikarenakan mobil Baekhyun yang masih berada di bengkel. Jujur sebenarnya tubuh gadis itu terasa remuk, tapi sekali lagi ia ingat. Ia sama sekali tidak diberi kesempatan untuk menolak semua keinginan Chanyeol.
Saat selesai melepas sabuk pengamannya Baekhyun menoleh kearah Chanyeol sebentar. Namja itu juga tidak sengaja menoleh kearahnya.
"Ada apa?" Tanya Chanyeol kelewat dingin begitu mendapati Baekhyun menatap dirinya seperti ingin menyampaikan sesuatu.
"Aku hanya ingin menyarankan sesuatu padamu," Ujar Baekhyun santai.
Membuat Chanyeol mengernyitkan dahinya bingung.
"Temuilah Ibumu, Aku kira kau akan menyesal jika kau tidak menemuinya"
Lanjut gadis itu berbicara sangat lancar.
"Aku tidak perlu melakukan itu" Chanyeol membuang mukanya keluar jendela mobil. Sebisa mungkin mengabaikan Baekhyun yang sedang berbicara padanya. Ck, Sikap keras kepalanya masih sangat melekat.
"Andai saja dia Ibuku. Maka aku pasti akan menyesal seumur hidup jika tidak ada kesempatan sama sekali bertemu dia setelahnya. Karena mengikuti sifat kepala batu sepertimu"
Namja itu menoleh dengan wajah marah. Namun tak membuat Baekhyun gentar sedikit pun. Gadis mungil itu tetap saja melanjutkan kalimatnya.
"Aku memang tidak berhak mengaturmu, apa lagi menasehatimu. Aku sangatlah tidak pantas" Baekhyun tersenyum miring.
"Tapi aku harap bisa membantumu sebelum kau benar-benar hancur dengan penyesalan nanti, Jadi... lebih baik kau pikirkan lagi. Setidaknya ikuti kata hatimu"
Kata-kata yang terucap dari bibir gadis itu melukai harga diri Chanyeol mungkin, tapi jika dipertimbangkan, semua itu ada benarnya.
Setelah menyelesaikan kalimatnya Baekhyun segera keluar dari mobil itu. Meninggalkan Chanyeol yang malah membatu. Perkataan Baekhyun agaknya sudah meracuni otaknya. Membuat kepalanya pusing.
Diluar Luhan melihat Bakehyun keluar dari sebuah mobil mewah. Namja tampan itu menatap penasaran. Dalam hati ia menerka-nerka siapa orang yang telah mengantarkan Baekhyun.
Sejenak Luhan menyadari sikap bodohnya, akhirnya ia memutuskan kembali berjalan menuju kelasnya. Jika begini ia terlihat begitu ingin tahu urusan orang lain. Sedangkan dia sadar, dirinya tidak ada hubungan apapun dengan gadis mungil itu.
Begitu kaki panjangnya akan berbelok telinganya menangkap sebuah suara yang menggelitik hatinya untuk berbalik arah.
"Byun Baekhyun"
Baekhyun menghentikan langkahnya begitu seseorang memanggil namanya dengan lantang. Namja itu bergerak menghalangi jalannya. Dan ia langsung mendengus melihat orang itu adalah namja menyebalkan yang ia temui kemarin. Baekhyun menatap namja tinggi itu tak suka.
"Apa yang kau lakukan?" Tanya gadis itu dengan nada ketus. Ia tidak perlu repot-repot menanyakan darimana namja itu tahu nama lengkapnya. Sedangkan ia sama sekali tidak mengenal makhluk tinggi yang menurutnya sangat menyebalkan itu.
"Apa kau baru saja di antar oleh kekasihmu? atau..."
Namja itu sengaja menggantung kalimatnya sembari menunjuk mobil Chanyeol yang hampir menghilang di balik pagar Kampus dengan dagunya.
"Pelangganmu?"
Baekhyun melebarkan mata sipitnya begitu mendengar perkataan namja itu, benar-benar kurang ajar, dengan marah ia mengepalkan tangannya kuat-kuat. Tapi ia mencoba menahan diri tidak mau memperlihatkan kemarahan nya sekarang.
"Bukan urusanmu!" Jawab Baekhyun ketus. Lalu melanjutkan berjalan acuh melewati tubuh tinggi si namja. Tapi lagi-lagi orang itu menghadangnya.
"Oh, ayolah bukankah kubilang tidak usah jual mahal. Aku tahu siapa dirimu" Ucap namja itu begitu dekat dengan wajah Baekhyun.
"Apa maumu!?"
Namja itu tersenyum puas mendengar pertanyaan yang sangat ingin ia dengar akhirnya terucap juga.
"Tidur denganku. Aku pasti akan membayarmu, kau tenang saja" Bisiknya sensual.
Baekhyun mengangkat tangan bersiap untuk menampar wajah namja di hadapannya, tapi gerakannya lebih dulu dihentikan oleh namja itu.
Grep~
Sret~
Dengan sekali hentakan tubuh Baekhyun sudah terpenjara oleh tangan namja itu. Ia tidak bisa bergerak karena dihimpit oleh pilar penyangga bangunan disana. Nafas Baekhyun naik turun menahan geram dan emosi.
"Lepaskan Aku brengsek!"
"Kenapa kau begitu keras kepala heum? Apa namja itu begitu kaya hingga kau betah dengan nya?"
"Tutup mulutmu! Ku bilang lepasshh..."
Baekhyun masih meronta hebat, dan ia tidak bohong cengkeraman pada pergelangan tangannya sangat kuat.
"Lepaskan Baekhyun!" Teriak seseorang tiba-tiba.
Kedua orang yang sibuk berdebat tadi menoleh bersamaan begitu suara namja menginstrupsi mereka. Dia Luhan, dan dia benar-benar tidak bisa diam saja mendapati Baekhyun diperlakukan kasar oleh orang lain.
Dengan cekatan Luhan menarik tangan Baekhyun agar mendekat padanya lalu memberikan death glare andalannya pada namja kurang ajar yang saat ini menatapnya tidak suka.
"Hei Bung, Jaga sikapmu! Apa kau tidak punya malu memperlakukan yeoja sekasar itu?"
Namja tinggu itupun mendesis marah karena urusannya digangu oleh orang lain. "Bukan urusanmu, memangnya kau siapa?" tanyanya menantang.
"Aku teman Baekhyun, dan aku tidak suka temanku diperlakukan kasar seperti itu!" Jawab Luhan cepat.
Baekhyun menoleh sebentar kearah Luhan. Apa yang baru saja Luhan katakan teman? Sejak kapan status tabu itu mengikat mereka?
Ah sudahlah yang penting sekarang dia aman. Terbukti dari namja tinggi menyebalkan itu mulai pergi dari sana. Entahlah Baekhyun tidak terlalu fokus mendengar perdebatan antara Luhan dan namja tadi. Setidak nya kedua laki-laki itu tak sampai berkelahi.
Luhan mengangkat pelan pergelangan tangan Baekhyun yang sedari tadi terus gadis itu usap-usap.
"Apa kau tidak apa-apa Baek?"
"Aku baik-baik saja"
.
.
.
.
.
Sehun berlari sepanjang lorong rumah sakit untuk menemukan dimana orang yang baru saja menghubunginya berada. Tadi dia sedang berada di kampus, ketika kakaknya tiba-tiba menelpon mengabarkan berita buruk padanya.
Nafas namja itu terengah-engah karena terlalu terburu-buru berlari. Setelah menangkap keberadaan Park Chanyeol, Sehun mulai bisa menstabilkan nafasnya.
"Hyung!"
Sehun memanggil Chanyeol hingga membuat namja yang berstatus sebagai kakaknya yang sedari tadi melamun segera mengangkat kepalanya.
"Bagaimana keadaan Ibu Hyung, Apa dia baik-baik saja?" Tanya Sehun tak sabaran. Raut khawatir tergambar jelas dari namja muda itu.
Bagaimana tidak, jika orang yang sedang berjuang hidup itu adalah Ibu kandungnya, orang yang selama ini merawatnya sampai dia tumbuh dewasa. Walau tak dipungkiri Chanyeol pun memiliki perasaan khawatir sama besar seperti Sehun, namun Chanyeol terlalu pintar memanipulasi ekspresinya.
"Dia pingsan lagi, dan langsung dibawa ke ER. Aku bahkan belum sempat melihatnya" Jawab Chanyeol santai seolah tanpa beban. Sangat berbanding terbalik dengan hatinya yang sangat ingin menangis. Cemas? tentu saja. Ia bahkan berulang-ulang berfikir jika saja Ibu nya benar-benar meninggalkan nya dengan perasaan bersalah yang masih setia menghantui. Maka, seperti kata Baekhyun. Ia akan menyesal seumur hidup nya jika dirinya masih bertahan dengan sikap egois itu.
Dan hari ini Chanyeol benar-benar datang kerumah sakit untuk menemui Ibu nya. Entah karena perkataan Baekhyun tadi pagi atau,
"Aku tidak menyangka kau mau menemuinya. Ku kira kau sungguh-sungguh tidak peduli dengan Ibumu sendiri," Sindir Sehun telak. Jika boleh jujur Sehun sangat membenci orang dihadapan nya ini. Andai saja ia tidak menuruti keinginan Ibunya untuk berdamai dengan Chanyeol, mungkin saat ini Sehun lah yang menjadi musuh besar kakak nya itu.
"Aku kemari untuk mengucapkan selamat tinggal. Bukankah kau bilang dia ingin bertemu denganku?" Chanyeol beranjak dari kursi tunggu. Namja itu berdiri menghampiri Sehun. Ekspresinya begitu menjengkelkan dimata Sehun.
Sehun ingin sekali menghancurkan Chanyeol. Dan ia akan sangat bersyukur bila keinginannya itu tercapai. Tapi ia tidak cukup bodoh menunjukkan semuanya dengan gamblang. Namja itu, setelah harta yang ditinggalkan mendiang Ayah nya habis. Chanyeol lah yang menghidupi Ibu dan dirinya sampai saat ini. Hidup mewah dan serba kecukupan. Jadi, Sehun masih memiliki toleran yang besar jika mau memusuhi kakak nya. Bahasa kasarnya, dia masih membutuhkan Chanyeol.
Chanyeol merapikan kemejannya yang tadi di kelinting lalu mengecek arlojinya. "Ku rasa aku harus segera pergi" Lalu menepuk bahu Sehun sambil berjalan melewatinya. "Kuharap dia cepat sadar"
'Tuhan, jika boleh meminta selamatkanlah Ibu ku' batin Chanyeol menjerit.
Sebelum Chanyeol semakin pergi jauh, Sehun kembali memanggilnya.
"Hyung!"
Dan Chanyeol berbalik lalu memiringkan kepalanya.
"Aku ingin meminta sesuatu padamu" Ujar Sehun sengaja memancing Chanyeol.
"Apa yang kau inginkan?"
"Mainanmu" Jawaban Sehun terdengar sangat ambigu, bahkan membuat Chanyeol mengernyit bingung.
"Gadis bernama Baekhyun itu. Aku ingin memilikinya."
Seketika itu juga raut wajah Chanyeol berubah mengeras.
"Jangan bercanda denganku. Siapa yang kau maksud?"
Sehun menatap Chanyeol menantang, kaki jenjangnya ia seret mendekati kakaknya.
"Aku sudah melihatnya Hyung, yeoja itu bahkan kau mengantarnya ke kampus pagi ini. Dia satu kampus denganku, dan aku tertarik padanya"
Chanyeol meredam amarahnya. Sebisa mungkin ia tidak akan terpancing oleh kata-kata Sehun. Atau ia hanya akan membuat kekacauan disini.
"Ajukan permintaan lain. Dan jangan harap aku akan memberikanmu untuk hal satu itu"
Tanpa diduga Sehun malah tertawa renyah. Seperti mendapati kakaknya sedang bergurau dengan wajah tegang seperti itu. Hatinya tergelitik geli.
"Kenapa Hyung? Bukankah kau memiliki kekuasaan besar di dunia ini. Jadi ku kira hanya yeoja seperti dia bisa kau beli dengan mudah. Bahkan dalam jumlah banyak sekaligus"
"Berhenti berbicara konyol dengan ku. Aku tidak punya waktu untuk meladenimu. Aku harus pergi sekarang" Chanyeol benar-benar berbalik dan memilih melangkah lebar-lebar segera pergi dari sana. Meninggalkan Sehun yang menatap nya mengejek.
"Jadi dugaanku benar Hyung?"
Sehun menyeringai puas.
.
.
.
.
.
"Namanya Oh Sehun"
Baekhyun menghentikan sejenak acara bermain pianonya. Gadis berwajah imut itu menoleh kearah Luhan dengan pandangan bertanya.
Luhan dan Baekhyun sedang berada di ruang musik. Seperti biasanya mereka selalu memilih datang lebih awal dari mahasiswa yang lain. Apa lagi sekarang mereka menjadi semakin dekat. Tidak ayal kalau mereka memilih menghabiskan waktu berdua disini.
"Namja tadi, Aku pernah sekelas dengannya dulu. Tapi Baek, apa kalian saling mengenal?" Luhan memutar tubuhnya yang tadi duduk menyamping sampai menghadap kearah Baekhyun.
Tahu siapa yang dibicarakan Luhan, Baekhyun hanya menganggapinya datar. Gadis itu terlalu sibuk memikirkan bagaimana namja yang Luhan sebut dengan Oh Sehun itu seperti mengetahui banyak tentangnya.
"Aku tidak mengenalnya,"
Jawab Baekhyun singkat. Lalu melanjutkan memainkan jemari lentiknya diatas tuts-tuts piano dengan indah. Luhan mendesah mendapati jawaban singkat itu, akhirnya ia memilih ikut bergabung memainkan jarinya di atas piano hingga menghasilkan harmonisasi alunan musik yang merdu.
"Tapi sepertinya dia mengenalmu"
Luhan tetap bermain walau sesekali menoleh kearah Baekhyun.
"Sebenarnya aku tidak perduli dengannya, tapi kurasa dia terlalu ikut campur urusanku"
Baekhyun mulai kehilangan konsentrasinya. Ia salah menekan note yang seharusnya menjadi bagian Luhan, alhasil tanpa sengaja jemari lentiknya bersentuhan dengan jemari kokoh namja itu. Menghasilkan perasaan aneh menjalari pipi nya.
"Ah, maaf" Luhan segera melepaskan tangan nya. Wajahnya berubah canggung.
Baekhyun berdehem sebentar. Lalu membenarkan anak rambut yang mulai memanjang itu kebelakang telinganya. Tidak mau suasana menjadi canggung lantas Baekhyun kembali mamainkan musik dengan piano itu. Tapi belum cukup lama ia menghetikannya lagi.
"Ah sepertinya aku tahu sesuatu" Luhan mendengar Baekhyun seperti bergumam lirih. Dengan hati-hati ia bertanya.
"Apa kau berbicara sesuatu?"
"Beberapa hari yang lalu aku sering menerima hadiah di lokerku"
"Hadiah?" Luhan membeo.
"Ada sebuah kalung dan cincin, sekarang aku berpikir bahwa namja itu mungkin yang meletakkannya disana"
"Apa kau yakin Baekhyun?"
"Selama ini tidak pernah ada yang melakukan hal itu. Jadi kupikir dia orang yang sama"
Baekhyun menoleh kearah Luhan. Menatap bingung namja yang kini seperti sedang bepikir keras.
"Apa yang sedang kau pikirkan Luhan?"
Luhan segera mengangkat kepalanya, tertawa garing.
"T-tidak, lalu akan kau apakan semua hadiah itu?"
Baekhyun tampak berfikir sebentar. Awalnya ia mengira jika orang yang mengiriminya hadiah itu adalah pengagum rahasianya. Tetapi setelah kejadian hari ini, ia dengan lancang menyimpulkan bahwa orang itu mungkin saja adalah Namja kurang ajar di lobby kampus tadi pagi. Mana sudi Baekhyun menyimpan barang dari orang itu.
"Aku akan membuangnya. Ku pikir dia punya niat buruk padaku"
Seketika itu juga Luhan menatapnya kaget. Tapi dia juga tidak berkata apa-apa.
"Baekhyun, mau ku mainkan sebuah lagu yang sangat indah?" Tanya Luhan dengan wajah cerah.
"Lagu apa?"
"Ibu ku yang mengajariku, dulu dia sering memainkannya untukku saat aku sedang sedih dan marah padanya. Dan akhirnya aku akan lupa dengan masalahku, Dan memainkan lagu itu bersama-sama."
Baekhyun menatap Luhan lalu mengangguk sebentar. "Benarkah? dimana Ibumu sekarang?"
Luhan sudah memulai memainkan lagunya. Tiba-tiba wajahnya berubah sedikit muram.
"Ibuku...Sakit"
.
.
.
.
.
Baekhyun tersenyum cerah begitu sampai ditempat tujuan nya. Hari ini entah kenapa tiba-tiba ia teringat dengan sahabat kecil nya dulu. Menurutnya memang lumayan lama dia tidak kemari untuk berkunjung. Hampir 4 bulan mungkin, entahlah dia juga sudah lupa.
Baekhyun mendorong pintu kaca itu hingga bunyi lonceng membuat seseorang didalam nya menoleh kearah nya.
"Selamat data- ... Eh- Baekhyun!"
Seru seorang gadis berperawakan tinggi begitu mendapati sahabatnya datang. Secepat kilat gadis itu segera berlari menghampiri Baekhyun. Mereka berpelukan dan saling melepaskan rindu satu sama lain.
"Baekhyun, Astagaaaaa aku sangat merindukanmu" Ujar gadis tinggi itu girang bahkan masih setia memeluk Baekhyun berkali-kali.
"Maafkan aku Tao, Aku sangat sibuk jadi tidak bisa mengunjungimu" Ucap Baekhyun menyesal.
"Kau memang jahat. Tapi baiklah aku memafkan mu, ayo duduk"
Tao menyeret lengan mungil sahabatnya ke sebuah kursi dan menyuruh Baekhyun duduk. Gadis itu pemilik sebuah toko bunga ini, dulu Baekhyun sering kemari sebelum orang tuanya meninggal untuk sekedar menemani dan membantu Tao mengurusi tanaman hias nya itu.
Setelah membiarkan Baekhyun duduk, Tao pamit kebelakang mengambilkan minum untuk nya.
Baekhyun menatap kesekeliling toko bunga itu. Masih sama dengan 4 bulan terakhir dia datang kemari. Setelah ia tinggal dengan Chanyeol, ia memang jarang sekali kemari, bahkan jika tidak salah ia baru 3 kali datang dalam kurun waktu 2 tahun ini.
Lama Baekhyun mengamati sekitar, Tao sudah kembali membawakan minuman segar untuk nya. Sahabatnya itu masih sama, yeoja yang sangat periang dan sederhana.
"Bagaimana kabar mu Tao? Ku rasa kau semakin cantik saja" Celetuk Baekhyun memulai obrolan nya.
Hanya Tao lah sahabat satu-satu nya yang ia miliki di dunia ini. Menurutnya teman-teman nya yang pernah dekat dengan nya dulu hanyalah orang-orang munafik yang tidak berperasaan.
"Aku baik. Bagaiman denganmu Baek?" Tao menopang dagu menggunakan kedua telapak tangan nya. Gadis itu sibuk mengamati Baekhyun lamat-lamat. Jujur saja Tao merasa sangat gembira karena Baekhyun mengunjunginya.
"Jangan menatapku seperti itu, aku bisa tersedak nanti" Celoteh Baekhyun sambil terkekeh. Menghentikan meminum minumannya sejenak. "Oiya Tao, diluar tadi aku melihat sepatu. Apa kau kedatangan tamu?"
Entah perasaan Baekhyun saja atau memang benar Tao langsung salting saat ia bertanya demikian.
"E-eh itu, dia temanku"
Jawab Tao terlihat gugup. Oh Ya Tuhan. Baekhyun menangkap sesuatu disini.
"Huang Zitao, jangan bilang kau sedang berkencan ya?"
"Tidak Baek!"
Lihatlah ekspresi Tao yang kelabakan semakin membuat Baekhyun gencar menggoda nya.
"Aigoo~ Pipi mu memerah Tao" Ujar Baekhyun semangat. Akhirnya tawa nya berhasil meledak saat melihat Tao menutupi pipinya dengan telapak tangan.
"Ya! Byun Baekhyun berhenti menggodaku!"
"Hahahah Araseo, jadi katakan padaku siapa dia?" Tanya Baekhyun dengan wajah sangat penasaran.
Tao membuang nafas nya kasar. "Haih... dia hanya teman, dia kemari mencari bunga untuk Ibu nya yang sedang sakit"
.
.
Hampir satu jam berlalu Baekhyun disini. Sepertinya mereka tidak akan berhenti mengobrol untuk satu jam kedepan. Bahkan Baekhyun sudah menghabiskan jus jeruknya tadi, dan sekarang baru saja Tao membawakan segelas minuman segar lagi. Ahhh Jinjja benar-benar sahabat yang baik.
"Aku tidak tahu apa saja yang sudah kau lakukan dengan pengusaha muda itu Baek, tapi kurasa dia merawatmu dengan baik"
Oceh Tao kembali berbicara cerewet.
"Merawat katamu? Kau kira aku bayi"
"Tentu saja bukan, mana ada bayi sebesar dirimu eoh?" Jawab Tao bercanda, sedangkan sahabatnya itu sudah mempoutkan bibir nya maksimal.
"Dia tidak merawatku Tao, Aku yang merawat diriku sendiri" Balas Baekhyun dengan suara terdengar kesal.
"Tapi dia memberimu uang sangat banyak kan?"
Dan Baekhyun tidak lagi menyangkal, tetapi menatap Tao semakin malas. Gadis itu memilih menyibukan diri dengan mengaduk-aduk minuman nya menggunakan sedotan.
Tao bergumam sebentar. Tiba-tiba gadis bermata panda itu teringat sesuatu yang sangat ingin ia sampaikan kepada Baekhyun.
Dengan lirih ia memanggil sahabatnya. "Baekhyun-ah"
Baekhyun pun mendongak sambil menaikkan alis nya bingung tiba-tiba mendapati wajah serius Tao yang menatap lurus kearah nya.
"Apa kau masih menyukai pekerjaanmu sekarang?" Tao bertanya teramat hati-hati, walau bagaimanapun juga dia tidak mau membuat sahabatnya terluka karena tersinggung.
Tao tahu betul bagaimana kehidupan Baekhyun saat ini. Dan jika kalian bertanya mengapa, itu karena Baekhyun sendiri yang bercerita padanya. Bercerita tentang banyak hal. Termasuk Baekhyun yang sekarang gila akan uang dan rela menjual tubuhnya demi dollar.
Tao tidak melarangnya. Namun berkali-kali gadis itu menasehati Baekhyun agar segera keluar dari dunia kelam itu. Tapi seperti sekarang ini. Baekhyun selalu menolak nya dengan alasan yang sama.
"Aku menyukai uang Tao, dan aku bisa mendapatkan itu dengan mudah melaluinya"
Jawab Baekhyun santai. Memang seperti itulah kata yang selalu ia ucapkan jika sahabatnya kembali mengungkit-ungkit hidup nya. Karena bagi Baekhyun dirinya itu sudah kotor. Dan tidak ada tempat masih layak untuk menampungnya.
"Baek...Tapi aku takut kau akan terluka suatu hari nanti"
Tao menatap cemas.
"Huufftt, baiklahh Baek"
Tao menghela nafas nya, jika begini kata-katanya hanya akan membuat Baekhyun terpuruk. Dia memilih tidak melanjutkan kata-katanya.
Baekhyun bisa tersenyum. Gadis bermata sipit itu berusaha meyakinkan sahabatnya.
"Terimakasih sudah mengkhawatirkanku. Aku benar-benar tidak apa"
"Aku sudah selesai menanam semua bungamu, jadi sekarang berikan aku bunga Daisy itu"
Seseorang tiba-tiba saja muncul dari dalam toko. Membuat Baekhyun dan Tao menoleh karena kaget. Tapi sepertinya hanya Baekhyun yang benar-benar kaget. Karena Tao sudah tahu ada orang disana dari tadi. Dan mata sipit Baekhyun membulat sempurna saat mengetahui siapa orang itu.
"Kau?"
To Bersambung...
Hi. Maaf baru muncul gyuuuth... Saya sedang pusing berat(?) Kepala setiap harinya berdenyut-denyut udah kaya dangdutan/lah/ Nulis pun jadi gak konsen.
Karena telat, pasti banyak yang males baca lagi deh? iya ya? jangan dong! huhuhu T_T
Apalagi gak nepatin yang kemaren ya? Padahal ngomong mau apdet rutin, tapi apa? Oho!
Jeongmal Mianhaeyo :(
...
Yang nanyain pair nya siapa... ChanBaek, LuBaek atau malah HunBaek /plak/ hehehe
Jika penasaran, ikuti aja sampe tamat ya? (walau gak yakin bakal tamat kapan /digiles/)
Tapi...tapi, kalau kalian udah tahu siapa saya (emang lo siapa?) pasti bakal tau Ending ke Siapa(?) hihihi...
Dan saya yakin banyak yang kesel karena gak ada NC disini!
saya hanya mao bilang... Kkaebsoooong~!
Ya sudahlah, itu aja kali. Baca lagi kalau masih minat ya? /kiss/
Thank You so much buat Review kemarin... Saya sarang kalian... 3 mumumumu :*
Wanna Read and Review?
thank you
Bye~
