Sex(y) Love
Main cast : Baekhyun And Find by yourself
Genre : Romance & Drama
Rate : M
WARNING! : NO CHILD
Cerita mengandung unsur dewasa, bagi yang belum cukup umur mohon pikir (minimal 3kali) dahulu sebelum membaca /nahlo/ BENERAN CIYUSSS, SAYA WARN KALIAN!
Judul mungkin gak nyambung sama cerita.
Typo(s) everywhere
Fanfic : GENDERSWITCH (DON'T LIKE DON'T READ) TIDAK MENERIMA BASHING!
Disclamer : Semua cast milik Tuhan dan Keluarganya
Summary
Baekhyun tidak bisa dipanggil dengan sebutan gadis baik-baik. Karena tidak ada gadis baik-baik di dunia ini yang rela membiarkan tubuhnya di jamah oleh orang lain dengan imbalan Dollar.
.
.
.
.
.
Sehun melompat turun dari tempatnya berdiri, letak grand piano itu berada di atas panggung yang dibangun sedikit tinggi beberapa senti dari tempat Baekhyun berdiri.
Namja itu berjalan dengan santai menghampiri Baekhyun yang masih memandanginya diam. Membuat Sehun mulai berpikir macam-macam.
Baekhyun masih berpikir keras, mengira-ngira apa benar Sehun orang yang mengiriminya hadiah selama ini, seperti dugaannya. Tapi lamunan itu dibuyarkan oleh Sehun yang kini sudah persis di hadapannya. Masih tetap dengan senyum menyebalkan.
"Ku dengar kau mencariku? Jadi... Kau mau bilang bahwa kau menerima tawaranku?" Tanya Sehun dengan ekspresi bangga.
Baekhyun mendelik tajam begitu mendengar apa yang baru saja Sehun katakan.
"Apa kau gila? Dalam mimpimu!" Jawab Baekhyun sarkatis.
Sehun tertawa. "Lalu... untuk apa kau mencariku kalau begitu?" Sambil berjalan semakin mendekat kearah Baekhyun, membuat gadis itu mundur beberapa langkah.
Sebenarnya Baekhyun ingin menyelesaikan masalah yang berhubungan dengan Tao, tetapi sepertinya ada hal yang lebih menarik yang ingin lebih dulu ia tanyakan.
Masih dengan wajah sinisnya, Baekhyun menatap Sehun tajam. "Apa kau orang yang meletakkan mawar di lokerku?"
Dalam hati Baekhyun berharap jawaban itu adalah 'iya' agar ia dapat segera membuang semua barang-barang yang dipikirnya tak berharga itu.
Sehun menaikkan sebelah alisnya. "Bunga?" lalu mengernyit bingung.
"Ooh, jadi kau ingin bunga? Ku kira gadis sepertimu hanya menyukai uang, ternyata kau menyukai hal-hal cheesy seperti itu juga" Jawab Sehun menahan tawa.
"Atau bahkan, perlu aku membelikan toko bunganya juga?"
Baekhyun sudah berancang-ancang untuk menendang orang menyebalkan itu. Sebelum Sehun kembali berbicara dan membuat emosinya semakin meninggi.
"Oh iya, yeoja penjual bunga itu," Sehun menampilkan smirknya. "Kurasa suatu kebetulan sekali, aku mengenalnya."
"Apa maksudmu? Aku yakin kau memang sudah gila. Dan jauhi Tao!" bentak Baekhyun dengan mata menyalang.
"Hei, tidak usah melotot seperti itu, sepertinya memang begitulah takdir kita. Kebetulan itu sangat menyenangkan."
Sehun melangkah lagi semakin mendesak Baekhyun ke tembok belakangnya. Baekhyun tentu saja sedikit kelabakan karena tidak ada celah untuknya.
"Jangan berani mendekati Tao!"
Walau saat ini gadis itu sudah terdesak, tapi itu tidak menciutkan nyalinya sama sekali. Suaranya masih saja sama, penuh penegasan.
"Kau tidak tahu ya kalau yeoja itu menyukaiku" Balas Sehun begitu percaya diri. Seringaian tak luntur sedikitpun dari wajahnya.
Baekhyun membelalak saat Sehun memberitahunya suatu kenyataan yang sangat ia risaukan.
"Atau... kau punya penawaran untukku?" Sehun menaikkan sebelah alisnya. Saat ini dia sedang menikmati wajah tegang gadis yang sudah berada di kukungan lengannya.
"Menjauh dariku sekarang!"
Baekhyun menggertak, baru menyadari jika sekarang ia sudah terpojok dan namja itu terus mendesaknya semakin sesak. Dengan pasti wajah Sehun sudah persis di hadapannya.
Tidak ini bukan Baekhyun, Baekhyun yang biasanya tidak akan terintimidasi seperti ini. Masih mencoba bergerak namun lagi-lagi gagal, bahkan kakinya pun sudah terhimpit oleh kaki berotot milik Sehun.
"Apa kau tidak sadar, bahwa ada 'kebetulan' yang lain diantara kita" Sehun menjilat bibirnya sebentar. Sepertinya dia juga bisa gila mendapati bibir ranum Baekhyun yang hanya berjarak beberapa senti saja, siap santap.
Sehun mulai melancarkan aksinya. Namja itu mendekatkan wajahnya ingin meraup bibir Baekhyun.
Sebisa mungkin Baekhyun memberi perlawanan pada Sehun dengan menggeleng-geleng brutal, ia sibuk meronta tetapi Sehun terlalu kuat mencengkeram tubuh mungilnya. "Brengggsssekkk, menjauh dariku"
Semakin Baekhyun memberontak, semakin bertambah pula semangat Sehun untuk merasakan bibir itu. Ya, sangat menantang.
Praaaangg~
Suara benda pecah menggema didalam sana. Karena keget, Sehun melepaskan cengkeraman tangannya pada tubuh Baekhyun. Begitu dirasa punya kesempatan lepas Baekhyun tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. Segera ia dorong tubuh besar Sehun dengan sekuat tenaga agar menjauh darinya. Nafasnya memburu karena marah.
Sebuah bola basket menggelinding mendekati tempat mereka berdiri. Wajah Sehun berubah kesal mendapati sebuah benda bulat itu. Dan tak berapa lama disusul seseorang namja memasuki gedung musik setengah berlari.
"Luhan" Gumam Baekhyun lirih.
Sedangkan Sehun sudah mengeluarkan aura hitam nya karena Luhan, lagi-lagi menggagalkan rencananya.
"Maaf. Aku tidak sengaja memecahkan kaca jendela, dan aku kemari untuk mengambil bolaku"
Ujar Luhan terlampau santai. Bahkan namja itu perlu menjelaskan apa yang telah ia perbuat tanpa ditanya.
Setelah bola itu sudah di tangannya, Luhan tersenyum sekilas, tidak lupa menoleh kearah Sehun orang yang menatapnya jengkel.
"Aku harus pergi sekarang"
Luhan lalu pergi dari sana dengan senyum kemenangan yang disembunyikan.
Baekhyun sedang duduk menekuk lutut diatas sofa rumahnya. Gadis itu membiarkan televisi menyala tanpa niat menontonnya. Karena saat ini ia sedang sibuk meringis kesakitan mencengkeram perutnya yang seperti diremas-remas tanpa ampun
"Ahh... sakit sekali" Rintihnya seorang diri. Bahkan kedua matanyanya memerah menahan tangis. "Ya Tuhaaaaannn, sakit sekali"
Baekhyun ingin bergerak mencari apapun yang bisa membuat sakit perutnya mereda. Tetapi apa yang di akan dia lakukan malah membuat penderitaannya bertambah. Rasa nyerinya semakin sakit, dan akhirnya ia hanya bisa meringis sambil mempertahankan posisinya. Menekuk lututnya erat-erat.
Tak berapa lama tedengar suara pintu rumahnya terbuka. Disana menampilkan sosok Park Chanyeol memasuki rumah sambil membuka jasnya yang sedikit basah. Sepertinya diluar sedang hujan. Namja itu baru pulang dari kantornya. Dan dia kemari tentu untuk meminta jatah.
Namja itu berjalan menuju lemari pendingin untuk mengambil botol air. Ia sudah tahu kalau disana ada Baekhyun. Tapi Chanyeol tidak tahu kalau yeoja itu sedang kesakitan. Dan setelah matanya mendapati keanehan itu, ia mengerutkan keningnya ingin tahu. Chanyeol berjalan mendekati tempat Baekhyun meringkuk dia atas sofa. Membatalkan niatnya mengambil air sejenak dan memilih menghampiri gadis itu terlebih dahulu.
"Kau kenapa?" Tanya Chanyeol begitu sudah berada di samping Baekhyun. Chanyeol menaikkan sebelah alisnya ketika Baekhyun mengangkat wajah dan meringis menatapnya.
"Perutku sakit" Jawab Baekhyun singkat, lalu selebihnya memilih meringkuk lagi.
"Sakit? Kenapa? Apa kau tidak makan?" Tanya Chanyeol lagi, ia ingat jika Baekhyun memiliki penyakit maag kronis setahun yang lalu. Yang sudah tidak tahu untuk sekarang, kerena gadis itu sudah lama sekali tidak mengeluhkannya. Chanyeol tentu juga tidak mau pusing-pusing mencari tahu.
"Aku sedang datang bulan"
Chanyeol membeliakkan matanya. "Apa?" Namja itu mengerjap-ngerjap tidak percaya.
Baekhyun memilih diam. Gadis itu sudah sekuat tenaganya menahan sakit. Ia tidak mau buang-buang tenaga untuk berbicara lagi.
Cukup lama Chanyeol mengamati Baekhyun. Sudah hampir seperempat jam gadis itu masih saja meringkuk -terlihat- begitu kesakitan. Akhirnya Chanyeol menghela nafas panjang. Kembali ia mendekati Baekhyun. Sebenarnya dia sudah berniat pergi mandi. Tapi rasa tidak tega tiba-tiba bangun dari dalam dirinya.
"Apa rasanya begitu sakit?" Ucapnya dengan nada dingin. Tidak ingin memperlihatkan bahwa sebenarnya ia lumayan khawatir. 'apa ada orang yang mati karena sakit perut saat datang bulan?' dan pertanyaan konyol itu terus saja berputar-putar di kepalanya. "Apa kau tidak punya obat untuk mengatasinya?" Tanya Chanyeol mulai terlihat frusatasi. Dan lebih frusatasi lagi ketika matanya mendapat gelengan kepala dari Baekhyun sebagai jawaban.
Chanyeol berkacak pinggang sambil mendengus sebentar. Lalu menghembuskan nafasnya dengan kasar. Namja itu beranjak pergi dari sana. Dia meraih sebuah jaket yang tersampir di sebelah televisi. Chanyeol keluar dari rumah Baekhyun setelah meraih kunci mobilnya.
Baekhyun menatap kepergian Chanyeol dengan mata menyipit. Ia kira Chanyeol pulang ke rumahnya. Karena percuma datang kemari jika mendapatinya sakit. Ia tentu tidak bisa melayani namja itu. Tapi apa iya? Sejak kapan Chanyeol menjadi pasrah dan tidak menuntut? Entahlah, Baekhyun tidak mau menebaknya.
Ia tidak pernah merasakan nyeri seperti ini ketika menstruasi. Baekhyun ingat, ia selalu menapatkan mensnya rutin tiap bulan. Dan selama itu, semua baik-baik saja. Tidak ada yang namanya nyeri sesakit ini sebelumnya, dan sekarang saat tiba-tiba ia mengalami nyeri saat haid, Oh Tuhan ini sangat menyakitkan, ia tidak tahu cara mengatasinya. Obat? Tentu saja Baekhyun tidak menyimpan benda-benda seperti itu karena ia kira tidak memerlukan.
Baekhyun tidak beranjak dari tempatnya, tepatnya setengah jam sudah berlalu. Ia mencoba membiarkan nyeri itu reda dengan sendirinya. Tapi sepertinya usahanya sia-sia. Karena sampai sekarang sakitnya tak kunjung hilang.
Chanyeol datang lagi. Baekhyun sudah tidak mau memperhatikan apapun disekitarnya. Tidak menoleh saat Chanyeol kembali mengahampirinya. Baru ketika sebuah suara botol kaca beradu dengan meja gadis itu mengangkat kepalanya.
"Itu, minum lah"
Chanyeol menunjuk sebuah botol dalam kantong plastik yang baru saja dibelinya. Obat penghilang nyeri haid.
Baekhyun hanya bisa menatapnya tanpa berkedip. Apa Chanyeol di hadapannya ini yang baru saja bicara? Apa Chanyeol ini juga yang sudah pergi keluar untuk membelikan obat untuknya ditengah hujan deras begini. Oke, untuk sesaat Baekhyun tertegun tidak percaya.
"Di dalamnya juga ada coklat. Aku dengar kalau coklat bisa meredakan nyeri pada perutmu" Lanjutnya.
'Aku dengar?' Oh Ayolah. Chanyeol itu ternyata pintar sekali berbohong. Mana ada waktu bagi orang sibuk sepertinya untuk sekedar mendengar obrolan seputar keluhan wanita saat datang bulan. Ck, dasar Park Chanyeol. Padahal ia mengetahui semua itu dari internet. Saat perjalanan ke supermarket tadi dia sibuk browsing di di Internet cara mengatasi nyeri saat datang bulan. Well, pantang baginya untuk berkata jujur. Itu melukai harga dirinya.
Sadar kerena Baekhyun menatapnya heran, lantas ia memilih segera pergi dari sana. "Cepat minum obatmu dan beristirahat lah. Aku mau mandi!"
Lalu benar-benar pergi memasuki kamar.
Pagi ini adalah hari minggu dan Chanyeol sudah merencanakan menghabiskan hari liburnya disni. Ia kira bisa bercinta sampai puas tadi malam, tapi nyatanya dia malah harus mengubur hasratnya dalam-dalam.
Chanyeol melihat Baekhyun keluar dari kamarnya dengan mengenakan kemeja kaos sebagai atasannya dan kaki jenjangnya dibalut celana hot pant di atas paha. Mengira bahwa Baekhyun baru saja mandi jika dilihat dari sisa titik-titik air diujung rambut gadis itu. Sebisa mungkin Chanyeol mengalihkan perhatiannya pada tubuh seksi Baekhyun. Tentu ia ingat jika masih belum bisa mengajak Baekhyun bercinta sekarang.
Dan itu benar apa adanya. Semalam Chanyeol manahan hasratnya untuk tidak menyentuh pelacur mungilnya. Dia memilih tidur sendiri daripada tidur seranjang dengan Baekhyun, karena kalu itu terjadi Chanyeol tak bisa menjamin akan kuat menahan nafsunya yang cepat sekali merasuki otaknya.
"Semalam kau tidur dimana?"
Baekhyun menghampiri Chanyeol lalu menyerahkan semangkuk sereal plus susu coklat yang baru saja dibuatnya kepada namja itu.
Baekhyun tahu bahwa semalam Chanyeol tidak tidur di sampinnya. Karena merasa kesakitan akhirnya semalam ia memilih tidur lebih awal. Dan tak menyangka bahwa Chanyeol benar-benar tidak mengganggunya.
Mereka memang sering menghabiskan sarapan bersama. Dan ini bukanlah hal baru lagi mendapati kedua orang itu menikmati sarapan satu meja.
"Aku tidur di kamar tamu" Jawab Chanyeol singkat lalu memakan serealnya.
"Aku tentu tidak segila itu membiarkanmu mati karena bercinta saat datang bulan. Aku juga masih punya moral" Jawab Chanyeol terdengar frontal, tapi berhasil membuat Baekhyun diam-diam tersenyum mendengarnya.
Setelah itu tidak ada percakapan lagi antara mereka. Kedua orang itu memilih menghabiskan sarapanya tanpa obrolan yang berarti. Baekhyun lebih dulu menyelesaikan makannya, gadis itu beranjak untuk mencuci mangkuknya di wastafel dapur. Ia ada janji sebentar lagi, dan sepertinya setelah ini Baekhyun akan segera meninggalkan rumah.
Begitu Ia selesai mengelap tangan basahnya menggunakan serbet, lalu Chanyeol memanggilnya.
"Kemarilah!" Perintah Chanyeol sambil mengayunkan tangannya. Dan Baekhyun hanya bisa menurut.
Namja itu segera menarik pergelangan tangan Baekhyun hingga tubuh rampingnya jatuh di pangkuannya.
Chanyeol melirik sekilas kaos Baekhyun yang melorot. "haahhh aku bisa gila" Gumamnya lirih mendesah frustasi.
Tanpa menunggu reaksi dari Baekhyun, Chanyeol sudah melahap bibir tipis di hadapannya itu. Sungguh, dia sudah tidak bisa menahannya. Chanyeol sangat tersiksa dengan itu. Ciumannya begitu basah dan panas, Chanyeol tidak bisa untuk berbuat pelan, namja itu terlihat sangat tergesa seolah-olah jika terlalu lambat maka Baekhyun akan raib darinya.
Baekhyun pergi kerumah sakit hari ini. Seperti janjinya yang ia buat minggu lalu dengan Dokternya, Dokter itu juga mengetahui secuil aib yang sedang ditanggung nya. Dokter itu mengetahui bahwa ia adalah Gadis yang menjual tubuhnya demi uang.
Ia berjalan sambil terus melamun sepanjang jalan, otaknya sibuk memikirkan perkataan Dokter tentang masa depannya. Baekhyun sendiri juga bingung dengan apa yang akan ia lakukan nanti. Saat ini hidupnya begitu enak, tak perlu bekerja dengan payah bahkan uang akan datang menghampirinya.
Tapi ia juga ingat, itu tak mungkin berlangsung selamanya. Mungkin nanti ada kalanya Chanyeol akan bosan dengannya. Dan ia akan dibuang bagai sampah yang tak ada gunanya. Lalu setelah itu apa yang bisa ia lakukan?
Baekhyun bahkan belum sempat memikirkan jawabannya.
Karena tidak memperhatikan jalan tanpa sengaja Baekhyun menabrak seseorang yang juga sedang berjalan berlawanan arah dengannya.
Bruukkk~
Mereka bertubrukan cukup keras hingga membuat Baekhyun merintih merasakan bokongnya yang mencium lantai dengan tidak elit. Dan saat ia menoleh untuk melihat siapa orang yang ditabraknya, ia lebih dulu dipanggil orang itu.
"Baekhyun?"
Luhan menarik tangan Baekhyun pelan membawanya ke suatu tempat. Namja itu tampaknya tidak peduli jika Baekhyun akan menolak sewaktu-waktu. Luhan tetap menggandeng pergelangan tangan gadis itu tanpa penjelasan apapun.
Mereka pergi menuju ke ruang perawatan pasien. Baekhyun tidak yakin dengan tempat itu, pasalnya saat dirinya melewati lorong tadi disana begitu sepi. Luhan menoleh menyadari kebingungan Baekhyun yang mengikutinya karena dibawa kemari olehnya. Luhan tersenyum sekilas lalu melepaskan genggamannya.
"Maaf kan aku karena membawamu kemari. Aku hanya ingin menunjukkanmu sesuatu tapi..." Luhan menatap gadis itu sekilas. "Jika kau mau."
"Kemana?"
Luhan tidak menjawab dan memilih melanjutkan berjalan. Baekhyun mengekori debelakangnya, sudah terlanjur penasaran dengan sesuatu yang ingin Luhan tunjukkan padanya.
Baekhyun tertegun begitu pintu ruangan di hadapannya terbuka. Matanya menajam dan tidak teralihkan sedikitpun pada seorang wanita yang tengah duduk sambil tertunduk ditepi ranjangnya. Luhan masuk lebih dulu, namja itu mendekati wanita yang berada didalam tadi. Baekhyun tidak tahu harus masuk atau tetap berdiri mematung disana menonton Luhan yang kini sudah berjongkok di hadapan wanita itu.
Tenggorokan Baekhyun tercekat tatkala mendengar bagaimana Luhan memanggil wanita itu.
"Mama..."
Cukup lama Baekhyun berdiri ditempatnya. Bahkan ia tidak beranjak kemana-mana dari tadi, ia hanya disana dan melihat semuanya dalam diam. Mendengar bagaiman Luhan menyeruakkan kata 'Mama' berkali-kali tetapi wanita di hadapannya sama sekali tidak memberinya respon.
Tidak ada yang bisa memberitahu Baekhyun tentang kenapa Luhan yang kini terlihat begitu rapuh. Namja itu terus memanggil si wanita yang masih enggan berbicara.
"Mama... wo xiang ni, maafkan Luhan karena jarang kemari"
Luhan menggenggam tangan wanita itu.
"..."
"Apa Kau baik?"
"..."
Tapi wanita itu masih tak memandangnya.
"Luhan sangat baik ma"
Luhan meringis mendapati Ibunya tidak meresponnya barang sedikit pun. Memang ini sudah biasa, dan Luhan sangat sedih karena itu. Ia merindukan Ibunya, Ibu yang mengasihinya lebih dari siapaun di dunia ini.
"Apa Mama marah karena Luhan jarang kemari lagi?"
Luhan sudah tidak bisa menangis sekarang. Sudah terlalu lama ia mendapati keadaan Ibunya yang demikian, dan Luhan sangat ingat apa penyebabnya.
Sedangkan Baekhyun masih memandang terpaku pada wanita disana. Bagaimana paras wanita itu, wajahnya cantik. Walau kelihatan umurnya sudah menua, pipinya terlihat sangat tirus dan penampilannya berantakan. Lama ia memandangi setiap inci detail wanita itu. Sampai pandangannya tertuju pada sesuatu yang membuat matanya tak bisa teralihkan dari sana.
"Dia Ibumu?" Tanya Baekhyun lirih. Sebenarnya tanpa bertanya pun Baekhyun sudah tahu jawabannya. Karena ia melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana Luhan memanggil wanita tadi.
"Maaf Baekhyun karena membawamu pergi begitu saja. Yaa, dia adalah Ibuku. Wanita itu yang melahirkanku"
Jawaban Luhan begitu lemah membuat Baekhyun bisa memahami perasaan Luhan sekarang ini. Namja itu terlihat murung.
Sekarang mereka sedang duduk di taman belakang rumah sakit. Setengah jam yang lalu Luhan meninggalkan ruangan tempat Ibunya berada. Dan tidak tahu mengapa sampai sekarang Baekhyun masih terus mengikutinya.
Baekhyun menoleh kearah Luhan yang masih sibuk menunduk. "Ibumu cantik" Ujarnya lembut.
"Dia memang sangat cantik, -sepertimu-"
"Apa kau mau menceritakan sesuatu padaku?"
Baekhyun memiringkan kepalanya dan tersenyum amat manis dan Luhan tentu tak bisa mengabaikan gadis cantik itu barang sedikit pun.
Luhan mengangguk kecil. Selama ini ia tidak pernah menceritakan tentang keluarganya pada siapapun. Tapi saat Baekhyun menyatakan diri bersedia mendengarkan ceritanya ia tak akan kuasa menolak.
"Ibuku gila... Dia mengalami depresi saat aku baru berumur 10 tahun, Ibu melupakanku"
Awalnya gadis itu kaget mendengar pengakuan Luhan, tetapi Baekhyun memilih untuk tetap diam, telinganya sudah siap mendengar tentang kehidupan masa lalu namja itu. Entahlah sebelumnya Baekhyun tidak pernah tertarik dengan cerita siapapun. Tapi pada Luhan, sepertinya itu pengecualian.
"Ibuku tertekan karena rasa penyesalannya"
Luhan menghela nafasnya berat seolah-olah untuk membuka lamanya memerlukan kekuatan yang besar pada tubuhnya.
"Dia menghianati Ayah. Ibuku berselingkuh dengan seseorang dimasa lalunya"
Namja itu semakin menunduk dalam. Fikirannya berkecamuk tidak karuan.
"Mereka menikah karena perjodohan, Ibu tidak mencintai Ayahku. Dan diam-diam masih berhubungan dengan kekasihnya"
"..."
"Aku tidak bisa membayangkan rasanya menjadi Ayah kala mengetahui semua fakta itu. Tapi Ayahku begitu mencintai Ibu, dan dia memaafkan semua kesalahan yang Ibu perbuat. Bahkan tetap memaafkan Ibu ketika dia mengaku tengah mengandung aku... dengan namja lain"
Mata Luhan teralihkan pada ujung sepatunya yang kini terlihat lebih menarik dari apapun.
"Ibuku merasa sangat bersalah hingga membuat hidupnya sendiri seperti ini"
Luhan mengangkat kepalanya. Baekhyun terpaku menatapnya dengan bibir sedikit terbuka. Sepertinya gadis itu tidak bisa percaya dengan apa yang baru saja Luhan katakan.
"Terimakasih telah menemaniku Baekhyun" dan perkataan Luhan menyadarkan Baekhtun seketika.
Gadis itu menjawabnya dengan bergumam lirih.
"Oh iya Baekhyun"
Luhan merogoh sesuatu didalam sakunya. Membuat gadis itu hanya bisa menunggu dengan tatapan penuh tanya. Pandangannya pun tak teralihkan sampai saat Luhan meraih lengan kanannya. Namja itu memasangkan sesuatu pada pergelangan tangannya.
Baekhyun berkedip berkali-kali.
"Ini" Tangannya terulur menyentuh gelang yang baru saja Luhan pasangkan padanya. Baekhyun menoleh dengan wajah kaget.
"Aku mengambilnya lagi dari lokermu, kerena kau tidak mau memakai itu"
"Luhan"
"Benar Baekhyun, aku yang selama ini memberikan semua hadiah itu padamu. Mungkin kau berfikir bahwa aku adalah pecundang"
Selama ini ia kira bahwa hadiah itu dari Sehun, namja menyebalkan yang selalu mengganggunya. Tapi ternyata...
"Apa kau benar-benar tak menyukainya?"
Apa benar Baekhyun tidak menyukainya. Tidak, tadi ia bilang tidak suka karena mengira bahwa orang itu adalah Sehun. Dan ternyata dugaannya salah.
"Baekhyun Aku menyukaimu"
Dan Ucapan yang terlontar dari bibir Luhan semakin membuat Baekhyun kebingungan.
"Luhan aku..."
Bersambung...
