Sex(y) Love
Main cast : Baekhyun And Find by yourself
Genre : Romance & Drama
Rate : M
WARNING! : NO CHILD
Cerita mengandung unsur dewasa, bagi yang belum cukup umur mohon pikir (minimal 3kali) dahulu sebelum membaca /nahlo/ BENERAN CIYUSSS, SAYA WARN KALIAN!
Judul mungkin gak nyambung sama cerita.
Typo(s) everywhere
Fanfic : GENDERSWITCH (DON'T LIKE DON'T READ) TIDAK MENERIMA BASHING!
Disclamer : Semua cast milik Tuhan dan Keluarganya
Summary
Baekhyun tidak bisa dipanggil dengan sebutan gadis baik-baik. Karena tidak ada gadis baik-baik di dunia ini yang rela membiarkan tubuh nya di jamah oleh orang lain dengan imbalan Dollar.
.
.
.
.
.
Baekhyun pergi dengan terburu-buru setelah menyeruakan penolakan atas pernyataan cinta Luhan pada nya. Tetapi tidak tahu kenapa kini perasaan nya sedikit bimbang. Ini bukan dirinya, seharusnya ia tidak akan memikirkan ini berlarut-larut apalagi mengganggap nya serius. Selama dia bisa makan kenyang, dia bisa shopping dan dia bisa hidup dengan senang. Asal kan ada uang. Maka ia tidak perlu memikirkan cinta. Dirinya tidak butuh cinta. Berkali-kali Baekhyun meyakin kan hatinya bahwa cinta hanya membuat manusia menjadi lemah. Dan ia sudah menekan kan itu dengan jelas pada jalan hidupnya.
"Baekhyun Aku menyukai mu"
Baekhyun hampir tersedak ludah nya sendiri begitu mendengar pernyataan Luhan barusan. Matanya membeliak tidak percaya.
"Apa yang kau bicarakan Lu Han" Ulang Baekhyun lagi dengan ragu. Ia takut salah dengar.
Luhan meraih tangan nya dan menggenggenggam nya begitu erat. Namja itu memancarkan pandangan serius. Membawa Baekhyun larut dalam kejujuran di setiap kalimat nya. Luhan ingin menunjukkan, menunjukkan bahwa ia begitu mengagumi gadis yang sedang berada dihadapan nya itu.
"Baekhyun... Aku menyukaimu... atau bahkan aku sudah mencintaimu..."
Dan sekali lagi Baekhyun yakin jika pendengaran nya bermasalah.
"Luhan aku..." Baekhyun menatap intens jemarinya yang sedang Luhan genggam. Secepat yang Baekhyun bisa ia melepaskan genggaman tangan Luhan dengan kasar. Gadis itu berdiri dan beranjak menjauhi Luhan.
"Tidak Luhan, aku tidak bisa menerima pernyataan mu... maaf" Putus Baekhyun tegas setelah percaya kalau ini nyata.
Ia hendak berbalik namun Luhan dengan cepat menangkap kembali pergelangan tangan nya.
"Kenapa... ?" Tanya Luhan begitu lirih. Membuat Baekhyun bergetar mendengarnya. "Apa kau sudah memiliki kekasih?"
Luhan mengebalkan hatinya. Namja yang ia lihat kemarin, namja yang mencium Baekhyun nya. Ia ingin mendengar dari Baekhyun sendiri bahwa namja waktu itu bukanlah kekasihnya. Mungkin menghibur hatinya sendiri. Ia begitu mengagumi Baekhyun. Luhan selalu memperhatikan gadis itu cukup lama. Luhan yakin, bahwa Baekhyun mungkin belum memiliki kekasih.
Baekhyun tidak berbalik. Mengepalkan sebelah tangan nya yang bebas dan membuang nafas nya kasar.
"Kau tidak mengenalku Luhan. Dan sekali lagi ku katakan, aku tidak bisa menerima pernyataan mu"
Dengan gerakan cepat Baekhyun menarik tangan nya lagi lalu benar-benar malangkah pergi dari sana. Tidak perduli pada Luhan yang memanggil namanya pilu. Tidak perduli pada Luhan yang mungkin kini merasakan patah hati. Baekhyun tetap berjalan lurus tanpa menoleh kebelakang.
Ia mengacak rambutnya seperti orang gila. Kenapa ia harus merasa bersalah? Ia tidak melakukan apa-apa. Ia juga tidak meminta Luhan menyukai nya. Lalu kenapa? Kenapa menolak pernyataan cinta Luhan membuatnya kalut. Luhan adalah namja baik-baik. Dan namja baik-baik tidak pantas menyukai gadis sepertinya. Baekhyun membimbing hatinya agar tidak tersentuh perasaan cinta selama ini. Ia selalu membuang jauh-jauh hal -yang menurutnya- konyol itu. Tapi kenapa begitu ada orang setulus Luhan menyatakan cinta padanya ia harus goyah. Apa Baekhyun sudah tidak waras?
"Tidak Baekhyun, cinta itu konyol, cinta itu hanya dimiliki oleh orang-orang yang hidupnya sempurna" Bukan seorang pelacur murahan seperti dirimu.
Ia memilih pergi meninggalkan Luhan di taman Rumah sakit lalu menuju mobilnya. Tapi Baekhyun masih punya logika, ia tidak mungkin bisa menyetir jika pikiran nya sedang kacau. Alhasih ia hanya berdiam diri kurang lebih seperempat jam didalam mobilnya. Setelah merasa pikiran nya sedikit membaik, Baekhyun menjalankan mobil nya.
Di jok sebelah ponsel nya bergetar menandakan ada sebuah panggilan masuk. Baekhyun mengangkat telepon nya dengan segera, karena mengetahui si penelpon adalah sahabat nya, Tao. Baekhyun kira ia bisa menemui gadis keturunan China itu setelah ini.
Tapi ide itu terdengar bagus sebelum ponsel nya tersambung dan suara gadis menangis menyapa telinganya.
"Baekhyun, hiks... tolong aku"
Baekhyun mendelik begitu mendengar suara Tao disertai isak tangisan. Setelah bertanya dimana sahabatnya sekarang berada, lantas ia segera menuju ke tempat yang Tao sebutkan.
.
.
.
Baekhyun berlari sambil menoleh kekiri dan kanan untuk mencari ruang Emergency yang Tao beritahukan padanya.
Tak perlu berkeliling jauh akhirnya Baekhyun sampai disana.
"Tao, apa yang terjadi katakan padaku"
Serbu Baekhyun begitu mendapati sahabatnya sedang meringkuk. Penampilan nya berantakan bahkan baju nya kotor.
"Baekhyun... hiks"
Bukannya menjawab dulu. Tao malah segera menubruk tubuh Baekhyun yang lebih kecil darinya.
"Baekhyun, bagaimana ini d-dia dia terluka parah Baek"
"Apa, siapa maksud mu Tao. Demi Tuhan, tenangkan dirimu"
"Dia, dia tertikam pisau"
Baekhyun menahan nafas. Dengan pelan ia membimbing Tao menuju ke sebuah bangku, mengelus punggung sahabat nya agar merasa lebih baik. Karena menurutnya percuma membiarkan Tao yang masih kalap berbicara, yang ada ia malah pusing mendengar ceritanya.
.
.
.
Setengah jam yang lalu seorang yang Tao tangisi keluar dari ruang operasi. Wajah namja yang semula putih itu semakin terlihat pucat, mengingat apa yang baru saja Dokter sampaikan bahwa namja itu kehilangan banyak darah akibat luka tikaman diperut nya, dan hal itu terjadi saat si namja mencoba menyelamatkan Tao dari rombongan perampok. Membuat Tao semakin menyalahkan dirinya berkali-kali atas apa yang terjadi pada namja itu.
Baekhyun tentu tidak akan sepening ini jika namja itu bukanlah namja kurang ajar yang terus mengejar-ngejarnya. Ia tentu tidak akan ikut resah seperti Tao jika saja dia bukan Sehun. Heol, tapi namja itu benar-benar Sehun. Dan Baekhyun hanya bisa menahan luapan emosi nya begitu tahu bahwa Sehun sudah menyelamatkan nyawa sahabat nya.
Dan sempat-sempatnya Baekhyun mengira bahwa semua ini bukanlah kebetulan, tetapi seperti sudah direncanakan.
Sekarang Baekhyun sedang duduk diruang rawat Sehun seorang diri. Bukan karena Baekhyun ingin disana, tentu saja tidak. Melihat Tao bagitu kacau benar-benar membuat nya ikut uring-uringan. Akhirnya ia menyuruh Tao untuk pulang dulu, setidak nya membersihkan dirinya. Lalu menyuruhnya kembali setelah perasaan nya tenang. Dengan janji Baekhyun akan disana sampai sahabatnya kembali, Well menunggui Sehun.
Hampir saja ia juga mencecar Tao dengan berbagai pertanyaan yang mengisi otak nya. Namun sepertinya bukan sekarang waktu yang tepat. Tao sudah seperti orang gila tadi, dan memberondong nya dengan pertanyaan sepertinya bukan ide yang bagus.
Lama Baekhyun duduk merenung disana, sesekali ia menoleh kearah ranjang tempat namja itu berbaring untuk memastikan kondisinya. Sampai ketika ia menyadari ada pergerakan dari seseorang disebelah nya itu, Baekhyun segera mendekat.
Sehun siuman.
.
.
.
Baekhyun segera kembali kedalam dimana kamar rawat Sehun berada. Dokter dan bebarapa suster sudah selesai memeriksa keadaan Sehun. Memberitahukan bahwa keadaan namja itu sudah mulai stabil.
Sehun terlihat memejamkan matanya. Pelan-pelan Baekhyun menutup pintu dan berjalan mendekati ranjang namja itu. Tidak bermaksud membangunkan Sehun, yang ia kira teridur lagi. Tapi begitu ia sudah persis disisi ranjang, Sehun menunjukkan tanda-tanda terjaga.
Sehun tersenyum dengan matanya yang masih terpejam.
"Apa kau mengkhawatirkan ku?"
Baekhyun hampir terlonjak begitu mendengar Sehun berbicara.
Perlahan-lahan mata namja itu terbuka. Masih dengan senyum yang dikulum dari belah bibir nya. Sehun mendapati wajah kaget Baekhyun yang terlihat lucu dimatanya.
"Kenapa kau kaget? Aku tidak sedang mengigau. Aku berbicara pada mu, Baek-Hyun"
Terang Sehun dengan suaranya yang sedikit parau.
Semakin lama matanya terbuka sempurna dan memberi tatapan sayu dalam artian berbeda. Bukan tatapan sayu menggoda seperti yang biasa dia perlihatkan pada Baekhyun. Tapi dari tatapan mata seperti menahan rasa sakit.
Baekhyun segera mengubah air mukanya yang semula terlihat kaget menjadi tenang dengan tatapan tajam.
Jujur saja sekarang Baekhyun tidak tahu apa yang harus ia lakukan disini. Lebih baik jika Sehun tidak bangun maka ia akan menungguinya dengan tenang. Tidak jika namja itu sadar. Karena pasti hanya akan memancing emosinya.
"Kau sudah sadar. Kurasa aku sudah tidak ada alasan disini" Ujarnya sedikit terdengar sangar.
Baekhyun meraih tas jinjing nya berniat pergi dari sana. Karena sebentar lagi ia akan menelpon Tao agar segera kembali kemari.
Keningnya mengernyit karena tidak mendapat balasan dari namja itu. Batin nya berpikir, apakah Sehun masih kesakitan. Tapi ia menggeleng-gelengkan kepala berusaha menampik pikiran bodoh nya. Untuk apa ia mencemaskan Sehun.
Masih sempat menoleh sebelum memutar kenop pintu itu. Sedangkan Sehun masih tersenyum seperti tadi menatap kepergian nya tak bergeming.
Dan menyisakan otak Baekhyun menerka-nerka apa yang orang itu rencanakan. Ia pasti akan mengurusnya, itu pasti. Tapi nanti karena tidak mungkin ia menyerang seseorang yang masih setengah hidup.
Untung saja Tao sudah sampai dirumah sakit. Mereka tidak sengaja bertemu dilantai satu. Setelah menyampaikan bahwa Sehun sudah siuman pada Tao Baekhyun segera pamit untuk pergi.
"Kenapa kau terburu-buru Baek?" Tanya Tao dengan wajah imut. Gadis itu saat ini sudah terlihat lebih segar dari pada beberapa jam yang lalu.
"Aku harus pulang, ada urusan" Jawab Baekhyun yang pasti bohong.
"Baiklah, terimakasih sudah membantuku menjaganya. Hati-hati dijalan"
Baekhyun berdecak sebentar sebelum memilih melanjutkan langkah nya. Sepertinya memang benar Tao ada hubungan apa-apa dengan Sehun. Ia akan menanyakan nya nanti.
.
.
.
"Sehun! Kau mau kemana?"
Tao Baru saja ia memasuki kamar rawat Sehun di buat cemas setengah mati mendapati namja itu hendak turun dari atas ranjang nya. Buru-buru ia menghampiri Sehun yang hampir kehilangan keseimbangan gara-gara kaget mendengar pekikkan nya barusan.
"Kau mengagetkan ku"
Balas Sehun dengan nada khas nya, dingin.
Tao memapah tubuh tinggi itu agar duduk kembali. Bibir nya mengerucut kesal oleh jawaban Sehun. "Kau yang membuatku kaget, kata Baekhyun kau baru saja sadar. Kau sudah mau turun ranjang sebenarnya kau mau kemana?"
Tao pura-pura memasang wajah galak gagal nya.
"Aku mau kekamar mandi, tidak mungkin kan jika aku buang air disini"
"Seharusnya kau memanggil suster, bagaimana kalau tadi kau terjatuh"
"Sebelum kau datang dan menggetkan ku semua baik-baik saja"
Gadis itu mendengus. "Dasar keras kepala, ya sudah aku akan membantumu"
Sehun mulai berdiri lagi dengan sebelah pundak nya yang dipapah oleh Tao.
"Tidak usah memaksakan dirimu, kau tahu Aku berat"
"Aku tahu, kau sangat berat sekali"
Luhan menjadi lebih pendiam dari biasanya. Ia juga terang-terangan mengacuhkan Kai yang mengajak nya makan siang dikantin. Dengan wajah lesu dan langkah lunglai ia memilih kembali kekelas untuk beristirahat.
Luhan banyak mengira, apa mungkin Baekhyun marah padanya? Marah karena dia telah lancang menyatakan perasaan nya. Setelah insiden dan perbincangan terakhirnya dengan Baekhyun sepekan yang lalu, ia sangat jarang melihat Baekhyun muncul dihadapan nya.
Ia ingin sekali menemui Baekhyun, tapi sepertinya rasa percaya dirinya sedikit mengendur. Ditambah akhir-akhir ini Luhan sangat jarang melihat Baekhyun memasuki kelas musik. Seperti memang sengaja menghindarinya, Dan dia sendiri belum memiliki keberanian cukup menemui gadis itu lagi.
Akhirnya ia menggeram frustasi. Bebarapa hari ini Luhan kehilangan nafsu(?) tidur nya. Bukan hanya karena terlalu sibuk dengan kuliah. Tetapi tentang Baekhyun, gadis itu berhasil merasuki alam tenang nya hingga membuat Luhan kewalahan. Pikiran nya berkecamuk dan semua rongga otaknya sudah dipenuhi dengan satu nama itu.
"Apa tidak ada kesempatan untuk ku Baekhyun" Gumamnya lirih lalu memilih mengubur wajahnya dalam lipatan tangan.
Sofa itu berderit menemani pergumulan mereka yang begitu intim. Suhu ruang tamu yang semula hangat kini menjadi semakin panas dibakar gairah. Bahkan jam dinding menjadi saksi betapa bersemangatnya cumbuan namja itu kepada gadis dibawah nya. Satu minggu tidak bercinta, itu sama denga makan tanpa lauk. Bagi Chanyeol hanya Baekhyun yang benar-benar bisa memuaskan hasratnya.
Desah sexy tak pernah lolos sedikitpun dari bibir tipis itu. Mata nya tertutup rapat oleh rasa nikmat dan frustasi. Saraf nya mengejang tatkala Chanyeol menghisap kulit dadanya yang setengah telanjang. Dan akal nya akan benar-benar hilang karena area sensitifnya telah dijamah tanpa ampun. Baekhyun hanya bisa semakin mendesah pasrah.
Dengan gerakan lambat Chanyeol menurunkan celana panjang Baekhyun hingga melorot kelantai. Membelai kewanitaan si gadis, mendapati bahwa disana sudah basah maka Chanyeol tak akan membuang banyak waktu lagi. Chanyeol sangat menginginkan (lubang) Baekhyun sekarang juga.
"Brengsek, kau tahu aku hampir gila karena tidak bisa menyentuhmu"
Gumam Chanyeol setengah sadar. Dia sudah memasukkan penisnya kedalam lubang surga milik gadis dibawahnya. Menggenjotnya dengan tempo pelan dan juga cepat semakin menggetarkan tubuh Baekhyun.
Tidak berhenti disana, tangan nya yang menganggur pun ia gunakan untuk meremas gemas bongkahan bokong sexy Baekhyun. Chanyeol menggeram dan melontarkan beberapa kata-kata kotor berkali-kali. Setiap desahan yang tercipta dari bibir tipis Baekhyun selalu berhasil membakar libido nya. Chanyeol bisa gila, ia bisa benar-benar gila.
"Aaaahhhh Chaannnnhhyeoollh fuck me more..."
Baekhyun mengencangkan cengkeraman nya pada bantalan sofa. Nafas nya memburu seperti habis lari marathon berkilo-kilo meter. Baekhyun sangat tahu, Chanyeol pasti akan seperti orang kesetanan jika telah lama tidak mencubunya. Hingga desah panjang keduanya menandai bagaimana menakjubkan nya puncak kegiatan mereka.
...
"Oppa, mau kemana?"
Tanya gadis kecil dengan bandana imut yang bertengger manis diatas rambut halus nya. Wajahnya sangat ingin tahu begitu mendapati teman kecil yang selama ini menemaninya bermain terlihat mau pergi.
"Aku minta maaf Baekki, Oppa akan pergi. Oppa tidak tinggal disini lagi"
Jawab bocah laki-laki itu sambil menampilkan wajah muram dan menyesal. Pasalnya sebelumnya ia sudah pernah berjanji bahwa akan menjaga gadis bernama Baekki itu sampai kapan pun. Dan hari ini ia akan mengingkari janjinya karena Ayah nya mengajak pindah ke Luar Negeri.
Gadis kecil itu menjatuhkan air matanya. Tidak berani terisak tetapi bulir-bulir kristal itu begitu deras menetes.
"Maafkan Oppa Baekki" Si bocah laki-laki mendekat dan memeluk erat si gadis kecil. Mengelus kepalanya sayang, dia tahu pasti Baekki tentu sangat sedih, atau bahkan marah padanya.
Akhirnya isakan gadis itu lolos juga. Ia ingin marah kepada Oppanya karena mengingkari janji untuk menjaganya, namun Ia tak punya keberanian.
"Hiks... Oppa jahat" Isak Baekki semakin kencang. Selama ini ia hanya memiliki bocah laki-laki itu sebagai teman nya. Bahkan mereka baru bersama dalam kurun waktu kurang 2 bulan, dan kini Oppa nya bilang akan meninggalkan nya. Hati anak kecil mana yang tidak akan sedih.
"Maaf kan Oppa Baekki" Ucap bocah itu lagi-lagi semakin terlihat menyesal. Dengan gerakan cepat ia menghapus air mata yang masih mengalir di pipi bulat sahabat manisnya itu, tapi percuma air matanya tetap menetes.
Bocah kecil itu mengambil sesuatu dari saku celananya. Meraih tangan si gadis dan memasangkan sesuatu dijemari mungil itu.
Baekki mengerjap beberapa kali lalu mengamati benda yang tersemat di jari tengahnya. Hidungnya memerah karena menangis. "Ini apa?" Tanya Baekki masih sesenggukan.
Benda itu adalah sebuah tutup kaleng cola.
"Oppa berjanji kepada Baekki, nanti kalau Oppa besar Oppa akan mengganti itu dengan cincin sungguhan. Oppa akan mencari Baekki kembali dan akan menikahi Baekki"
...
"Oppa"
Baekhyun terjaga karena mimpinya. Kepalanya menoleh kekiri dan ke kanan memastikan dimana dia sekarang. Ternyata ia baru saja bermimpi. Baekhyun menghirup oksigen dengan rakus begitu merasa dadanya terasa kosong tiba-tiba. Ia seperti terbang jauh sekali kemasa kecil nya. Anak laki-laki di mimpi itu. Kenapa tiba-tiba Baekhyun merindukan nya.
Setelah cukup lama berkecimpung dengan mimpinya, Baekhyun akhirnya menyadari kalau ia masih disofa tempat nya bercumbu dengan Chanyeol beberapa menit yang lalu. Astaga, apa ia tertidur setelah acara bercinta nya barusan. Ughh, itu memalukan.
Ia ingin beranjak tapi Baekhyun merasakan ada yang sedikit berbeda disana. Sebuah selimut melingkar hangat di tubuhnya. Baekhyun menyentuh lembut selimut tipis yang menutupi tubuh polos nya, merasa aneh karena seingatnya tadi semua pakaian nya terlepas entah kemana. Ia bergumam bingung, mungkinkah Chanyeol yang melakukan ini?
"Apa yang kau lakukan?"
Pikiran nya di buyarkan seseorang, membuat Baekhyun mendongak kaget. Ternyata Chanyeol berdiri tak jauh darinya, sambil melirik sinis mendapati wajah bodohnya saat ini.
"Bisa-bisa nya kau tertidur pulas setelah bercinta, ck, bahkan sempat-sempat nya bermimpi" Ucap Chanyeol dengan nada meremehkan seperti biasanya.
Baekhyun tidak terlalu menanggapi perkataan Chanyeol yang lebih disa dibilang cibiran. Ia malah sibuk menatapi Chanyeol dengan dandanan rapinya. Siapa saja tahu bahwa sekarang ini sudah malam, apa iya Chanyeol akan pergi ke kantor bekerja.
Menyadari tatapan penuh tanya dari gadis disebelahnya Chanyeol segera memberi tahu gadis itu. "Aku akan pergi" Sambil memasang dasinya. "Aku ada penerbangan malam ini, Ada pekerjaan di Spanyol"
Jelas Chanyeol rinci.
Jadi itu alasan nya.
"Ooh" Baekhyun menjawab singkat. Jujur saja tidak tahu mau menjawab apa. Chanyeol akan pergi, tentu saja dalam hatinya merasa senang.
Luhan buru-buru berlari begitu mendapati gadis yang sudah menyita perhatian nya belakangan ini terlihat memasuki pelataran kampus.
"Baekhyun!"
Panggil Luhan disertai deru nafas nya yang yang terasa pendek. Namja itu terlihat ngos-ngosan karena mengejar Baekhyun sampai ke gedung musik.
Baekhyun menoleh dengan wajah datar, seolah-olah tidak pernah terjadi apa-apa di antara mereka. 'Memang tidak ada yang terjadi' batin Baekhyun berbicara.
Tidak sopan jika tidak menanggapinya. Baekhyun menampilkan senyum kecil.
"Baekhyun aku ingin berbicara denganmu"
.
.
.
Jika biasanya mereka akan memilih memainkan piano bersama-sama, maka tidak untuk kali ini. Benar mereka sedang di dalam gedung musik dan benar mereka sedang menghadap grand piano seperti biasanya. Tapi baik Luhan maupun Baekhyun malah sibuk dengan pikiran masing-masing.
Luhan masih mencoba mengumpulkan keberaniannya untuk berbicara dan Baekhyun yang diam entah memikirkan apa.
Luhan menoleh kearah Baekhyun yang menatap kosong tuts piano cantik yang biasa ia mainkan. Sedikit menerka apa gerangan yang Baekhyun fikirkan. Bukankah tadi saat mereka bertemu Baekhyun terlihat biasa-biasa saja. Kenapa sekarang gadis itu seperti kehilangan mood nya tiba-tiba.
"Baekhyun" Panggil Luhan lagi, sambil memberanikan diri menggenggam tangan Baekhyun.
Diluar dugaan nya, ternyata Baekhyun masih memasang majah datar nya seperti tadi.
"Hmm..."
Belum sempat Luhan membuka mulutnya untuk berbicara Baekhyun menoleh lalu menarik tangannya yang digenggam Luhan.
"Luhan maafkan aku, tetapi aku tetap tidak bisa"
Seolah tahu apa yang ingin Luhan katakan. Begitulah Baekhyun menjawab.
"Kau tahu Luhan, aku bukan lah gadis baik-baik seperti yang kau kira. Dan kau akan sangat menyesali perasaan mu jika tahu siapa diriku yang sesungguhnya"
"Baekhyun, tapi..."
"Aku yakin kau bisa menemukan yeoja yang lebih pantas untuk mu"
Masih terus menyela ucapan Luhan. Entah kenapa Baekhyun tak ingin Luhan terluka nantinya. Baekhyun juga menyadari ia merasa anehdengan perasaannya sediri.
Luhan merasa jantungnya seperti tertusuk pedang. Ia bahkan patah hati sebelum jatuh cinta. Dengan pandangan nanar ia kembali ketempat duduk nya. Sungguh, jika saja ia bukan seorang namja mungkin dengan tak tahu malu ia akan menangis dihadapan Baekhyun.
"Kau tahu Baekhyun" Ucap Luhan lirih sambil menunduk dalam.
"Aku tidak pernah merasakan perasaan seperti ini sebelum nya. Selama ini satu-satu nya yeoja yang aku cintai didunia ini hanyalah ibu ku. Tapi itu sebelum aku melihat mu untuk pertama kali. Ku kira jika itu hanya perasaan kagum melihat mu begitu bersinar daripada yang lain"
Baekhyun tidak berani menjawab, ia hanya bisa merenung kosong menelaah setiap kalimat yang dilontarkan oleh Luhan.
Chanyoel tersenyum menatap boneka beruang berukuran medium di dalam kamar hotel nya. Tidak biasanya seorang Park Chanyeol tersenyum tidak jelas seperti itu. Kecuali jika dia tengah lupa ingatan dan mulai gila.
Satu minggu ia di Spanyol rasa nya ia sudah merindukan rumah, Oh tidak! Atau mungkin lebih tepat nya gadis pemuas nafsu nya. Sedikit heran menyadari keanehan dalam dirinya yang bisa bertahan tanpa belain gadis itu beberapa hari ini.
Jujur, Chanyeol benar-benar tidak menjadi brengsek lagi dalam hal sex bebas setelah ia mengenal Baekhyun. Entahlah, tidak ada perasaan sexualitas yang melintas sedikit pun dalam dirinya kini ketika berhadapan dengan wanita yang kadang terang-terangan menggodanya. Tidak seperti jika ia melihat Baekhyun, bahkan hanya mendengar deru nafas gadis itu saja bisa membuat libido nya meningkat sampai titik paling maximum.
Gadis yang malang menurut Chanyeol. Bagaimana bisa gadis sepolos Baekhyun bisa terperangkap dalam lingkarang seorang iblis seperti dirinya. Ia cukup mengasihani gadis itu, tetapi dengan cara yang berbeda. Karena Chanyeol memiliki tingkat 'Gengsi' yang teramat tinggi.
Besok ia akan pulang ke Korea. Kesenjangan bebarapa hari ini membuat Chanyeol memikirkan banyak hal. Mungkin juga bisa dikatakan ia memberikan waktu bebas untuk gadis itu selama ia berada di sini. Lumayan menyadari jika dirinya terlalu mengekang Baekhyun agar selalu dibawah lingkup nya. Walau bukan berati mengawasi gerak-geriknya, tapi Chanyeol tahu bahwa Baekhyun hanya memiliki sedikit waktu di dunia luar. Dan itu semua karena ke egoisan nya.
"Apa aku terlalu kasar selama ini?" Tanya Chanyeol pada benda mati di hadapan nya.
Seperti orang gila namja itu berbicara dengan boneka beruang nya itu.
"Oke, bagaimana kalau aku merubah sedikit sifat kasar ku pada mu"
Dan ternyata tidak jauh dari tempat Chanyeol duduk, dua botol wine sudah bertengger kosong disana.
Dentuman musik keras itu sangat bertolak belakang dengan hobby nya. Biasa nya jika ia bermain musik maka mereka akan mengalun lembut dan indah. Bukan suara bising yang memekakan telinga seperti ini.
Baekhyun sedang berada di bar, mungkin sudah hampir dua jam disini. Bisa dihitung dari berapa botol bir yang bertengger manis menemaninya. Dan kebanyakan dari botol itu sudah tidak ada isinya.
Bukan berarti Baekhyun suka minum. Ia bahkan baru dua kali ini pergi ke Bar. Pertama kali saat Chanyeol berada di Jepang tahun lalu dan yang kedua adalah sekarang ini. Jika saja pikiran gadis itu tidak sedang kacau mungkin ia akan lebih memilih duduk manis di atas sofa rumahnya sambil menonton film favoritnya. Baekhyun sudah terbiasa di rumah, dan ia tidak terlalu menyukai dunia luar.
Memikirkan dunia luar itu sangat membebaninya. Setiap kali ia mencoba menghirup udara bebas, semua kenangan akan orang tuanya akan dengan lancang memenuhi pikiran nya. Banyak hal yang tidak Baekhyun ingin lihat, mungkin itulah alasan nya selalu mengurung dirnya di rumah. Bukan karena Chanyeol yang memberinya batas bergerak, bukan karena itu. Ini adalah tentang emosi dari dalam diri Baekhyun.
Bar bukan gayanya. Maka dari itu yang bisa ia lukukan hanya berdiam diri didepan meja bartender sambil memasan minuman beralkohol yang bisa membantu meringan kan tekanan di otak nya.
Banyak juga pria hidung belang yang memanfaatkan kesendirian nya dengan berani mendekati dan merayu dengan berbagai cara. Tapi bukan Baekhyun namanya jika dengan mudah dilecehkan. Di bekali perangaian galaknya Baekhyun menepis kasar tangan-tangan nakal yang mencoba menggerayanginya. Dia bukan gadis murahan, begitulah selalu kata-kata yang ia lontarkan kepada pria-pria mesum itu.
Baekhyun kembali menenggak minuman nya. Sudah tiga bobol kosong berjejer disana dan masih dua botol lagi tersisa. Baekhyun tidak yakin jika ia akan kuat berdiri dan pulang setelah ini. Tapi sekali lagi akal nya sudah mulai mengabur bersama berbotol-botol cairan alkohol yang menyapa kerongkongan nya.
"Aku menyukai mu dengan tulus Baekhyun, Aku tidak akan pernah memperdulikan seperti apa masalalu mu. Ayahku selalu bilang bahwa sebagai lelaki sejati yang mencintai gadis nya, mereka tidak akan penah meninggalkan nya hanya kerana cerita masalalu"
"Aku akan tetap menunggumu. Kapan pun kau mau membuka hati untuk ku. Karena aku tak pernah menuntutmu menyukai ku. Aku hanya ingin menyampaikan ini padamu, kurasa aku sudah tidak bisa menyimpan nya secara diam-diam lebih lama lagi"
"Kau tahu apa alasan aku memberi mu semua perhiasan itu. Konyol memang, aku selalu berusaha meniru apa yang Ayah lakukan untuk menarik perhatian Ibu. Semua usaha Ayah agar bisa mendapatkan cinta dari Ibu"
Baekhyun tertawa geli memingat semua kalimat yang Luhan sampaikan padanya. "Hah... benar-benar namja yang bodoh" Gumam nya lalu meminum bir nya lagi.
Tiba-tiba seseorang yang sedang berjalan dibelakangnya tak sengaja menabarak tubuhnya hingga membuat Baekhyun menoleh karena kaget. Hampir saja gadis itu mengeluarkan umpatan kasar untuk orang itu kerana telah mengagetkan nya. Tapi untung saja orang itu segera meminta maaf pada nya. Akhirnya Baekhyun hanya bisa mendengus kesal lalu memilih berbalik mengambil minuman nya.
Tanpa ia sadari seseorang telah menukar botol bir nya dengan botol yang lain saat ia menoleh kebelakang tadi.
Waktu sudah menunjukan jam sepuluh malam, terhitung tiga jam lamanya Baekhyun berada di bar itu. Berpikir kalau saja ia tidak bisa pulang maka ia akan menelpon Tao untuk menjemputnya kemari. Dan mungkin hanya itu jalan satu-satu nya yang bisa ia lakukan sekarang. Sambil merogoh isi tas nya mencari ponsel. Tiba-tiba saja kepalanya mendadak pusing. Baekhyun memang sudah mabuk tapi ia biasanya tidak akan merasa sepusing ini. Ia hanya menghabiskan tiga setengah botol bir nya, bahkan biasanya ia yang menghabiskan lima botol sekaligus masih bisa berjalan cukup normal, dengan sedikit terseok tentunya.
Baekhyun sudah tidak bisa menopang berat badan nya lagi, kepalanya pusing seperti ingin pecah. Tangan nya mencari apapun untuknya berpegangan. Ia bahkan belum sempat menelpon Tao, mau jadi apa ia kalau pingsan disini. Baekhyun tidak bisa membayangkan kemungkinan terburuknya yang akan terjadi padanya nanti.
Seseorang namja yang sedari tadi duduk disebelahnya dengan sigap menangkap tubuhnya saat Baekhyun mulai limbung. Dengan sedikit kesadaran nya yang perlahan-lahan mengabur Baekhyun masih sempat membuka matanya untuk melihat siapa orang itu, tetapi yang ia lihat hanya buram dan semua nya menjadi gelap.
"Tolong bantu aku membawa dia ke kamar no 194"
Ujar namja yang masih menopang tubuh Baekhyun kepada seorang pelayan disana.
Pelayan itu mengangguk dan meraih tubuh mungil Baekhyun dalam gendongan nya. Lalu di ikuti namja tadi mengekori dibelakangnya menuju kamar yang baru saja disebut kan. Senyum licik terpatri diwajah tampan nya.
"Maaf harus melibatkan mu, hanya ini cara untuk menghancurkan nya"
gumam namja itu seorang diri mengiringi langkah ringannya menuju kamar yang akan ia gunakan untuk misi besarnya.
Hi, Annyeong... Readers nim I'm back, membawa Chap 6 yang semakin ancur. Maaf karena apdet nya molor, saya gak ada ide bebarapa hari belakangan. Semoga kalian wahai readers yang baik hati enggak ngambek ya *bbuing-bbuing*
.
Kenapa saya pake Luhan yang notabene nya Uke jadi Seme.?
Ini masih sering saya temukan di kotak review, hihihi dear, saya pake Luhan ini emang sangaja mau menghadirkan yang berbeda(?) /apalah/ disini. Kenapa gak Kai atau Kris ? meraka udah mainstream banget jadi slight nya BBH.
Jujur sih niat awalnya pake Luhan karena waktu itu lagi ngelamun(?)in Luhan, terus secara spontan punya ide bikin ff, dan gak tahu kenapa napsu banget bikin Luhan jadi cowok. Sesekali lah gapapa donk /duh alesan nya g elit banget/
Saya kangen sama dia ching, dan itu tidak bisa dibantah.
Satu point lagi, Luhan emang Uke ya, tapi masih cocok kalau dia menggagahi(?) Baekhyun. wuahahahaha~ Maksud nya jadi seme nya si BBH.
Dan iya, Ini 'Angst' /Duh garuk tembok karena baru ada yang nyadar kalau ini ff Angst/ Akan ada death chara nya. Tapi belum tahu siapa yang bakal di matiin(?) tergantung mood deh nanti /plak/
Kalau menghadirkan Xiumin? Eumm, masih bingung mau nambah cast apa enggak nantinya. Wong ini yang fokus sama Baekhyun aja udah ada sinyal-sinyal low gini nulisnya. Jadi ga bisa janji bakal munculin orang baru disini.
ssstt... bahkan saya yang ngomong disini bakal nya HunTao aja, gak ada niat bikin moment mereka /tripleslap/
Tapi kalau mau lihat peran nya uri Umin, baca aja FF sebelah /promosi/ disana saya pake Umin dalam porsi(?) lumayan. hohohoh
Ya sudah sekian dulu ya, tak lupa ucapin neomu-neomu gamsahamnida for you my beloved Readers yang udah mau baca & review.
Thanks to:
ladywufan - kmskjw21 - baekhaan - devrina - pennsylvania thasia - Sniaanggrn - GIRLIEXO - LynKim - khamyauchiha23 - Jj - SooJung-ie - neli amelia - LordChanyeol - she3nn0 - nurhasanah putri 146 - happines delite - Chan Banana - karwurmonica - ShinJiWoo920202 - shindhiro - danactebh - narsih hamdan - yoyoye - nanacputri1 - parkbyun0627 - vitCB9 - Rly C JaeKyu - chanbaekyu - ling-ling pandabear - AuliaPutri14 - OhByunSoo - luphbepz - indi1004
Thanks juga buat yang follow dan favorit
You're All Jjang!
bye~
