Sex(y) Love

Main cast : Baekhyun And Find by yourself

Genre : Romance & Drama

Rate : M

WARNING! : NO CHILD

Cerita mengandung unsur dewasa, bagi yang belum cukup umur mohon pikir (minimal 3kali) dahulu sebelum membaca /nahlo/ BENERAN CIYUSSS, SAYA WARN KALIAN!

Judul mungkin gak nyambung sama cerita.

Typo(s) everywhere

Fanfic : GENDERSWITCH (DON'T LIKE DON'T READ) TIDAK MENERIMA BASHING!

Disclamer : Semua cast milik Tuhan dan Keluarganya

Summary

Baekhyun tidak bisa dipanggil dengan sebutan gadis baik-baik. Karena tidak ada gadis baik-baik di dunia ini yang rela membiarkan tubuh nya di jamah oleh orang lain dengan imbalan Dollar.

...

SEX(Y) LOVE

...

Baekhyun merasakan pening melanda kepalanya. Rasanya sangat berat untuk membuka mata nya, tetapi kesadaran yang perlahan-lahan mendorongnya mau tak mau membuatnya untuk bangun. Ia mencoba melihat sekeliling nya. Dimana dirinya berada? Bukankah tadi dia di Bar. Oh ya Tuhan! Bar, secepat kilat matanya terbuka lebar merasa panik. Karena paksaan pada tubuhnya Baekhyun bangun disertai pekikan ketika sakit kepala langsung menyerang.

Sambil memegangi kepalanya yang berdenyut-dengut nyeri. Bibirnya meringis kesakitan, Oh Ya ampunn, 'apa tadi aku benar-benar mabuk?' Gumamnya pada diri sendiri.

Tak lama berselang seseorang memasuki kamar itu. Baekhyun menajamkan matanya yang masih sedikit kabur.

"Tao?" Panggil Baekhyun kaget. Ya dia Tao sahabatnya, tapi bagaimana bisa gadis itu disini? Seingatnya Baekhyun belum sempat menghubungi Tao.

Yang dipanggil pun segera lari tergopoh menghampiri Baekhyun. Wajahnya penuh kecemasan. Tao segera menghempaskan tubuhnya di samping Baekhyun berada.

"Baekhyun, bagaimana perasaanmu? Apa kau sudah baikan. Ya ampun apa kau gila mabuk-mabukan sampai pingsan begini?"

Serbu Tao menggebu-gebu, tak dipungkiri sahabatnya itu sangat-sangat khawatir, ngomong-ngomong.

Baekhyun mengerjap bingung. Ia harus menjawab apa? ia tidak ingat apa-apa? Yang ia ingat hanya saat berada di bar, minum lalu semua menjadi gelap.

"Oh Zitao, bagaimana kau bisa berada disana?" Baekhyun kembali menoleh mengamati sekitar nya, seperti dugaan nya kamar itu adalah kamar nya. Dan itu berarti Tao kan yang membawa nya kemari.

"YA! jawab dulu pertanyaanku!" Bentak Tao dengan kesal.

"Tao, aku tidak ingat apa yang terjadi padaku. Tadi aku hanya minum lalu tiba-tiba kepalaku sangat pusing. Setelah itu..."

Baekhyun menggumam. Memaksa otaknya untuk mengingat, tapi tetap saja percuma. Dia tidak ingat apa-apa.

"Tao cepat katakan bagaimana kau bisa kesana?" Desak Baekhyun tak mau kalah.

Karena jujur saja, sekarang Baekhyun benar-benar bingung.

Tao membuang nafas. Wajahnya berangsur-angsur melembut, bukan ekspresi kekhawatiran yang membuncah seperti tadi. Sepertinya Baekhyun benar-benar tidak tahu apapun.

"Benar kau tidak ingat apa-apa Baek?"

Baekhyun menjawab nya dengan menggeleng pasti.

"Kemarin malam saat aku selesai mandi ada seseorang yang menelponku. Ku kira itu kau, karena disana menggunakan nomermu. Setelah ku angkat ternyata bukan. Orang itu bilang bahwa kau mabuk dan pingsan, tentu saja aku segera kesana"

"Benarkah?"

"Tentu saja benar, setelah aku sampai disana aku segera membawamu pulang. Dan kau tahu Baek. Kau muntah di bajuku" Jelas Tao panjang lebar. Oh jangan lupakan tatapan mengerikan pada akhir kalimat nya.

Tetapi Baekhyun tidak mau repot-repot menanggapinya. Gadis itu malah melengos. Membuat sahabatnya menggerutu karena kesal.

"Untung kau tidak diperkosa beramai-ramai disana"

Tao mendengus keras lalu beranjak dari sana, karena dirasa Baekhyun sudah baikan. Buktinya sahabatnya itu sudah mulai menyebalkan lagi (menurut Tao sendiri sih) Dia kan tidak suka diacuhkan.

Lagi pula ini sudah pagi dan dia mungkin harus segera pulang. Tao tentu tidak lupa harus membuka toko.

"Baiklah, sepertinya tugas ku sudah selesai. Aku akan menunggu kau membalas budi padaku"

Baekhyun mendongak mendengar penuturan Tao. Gadis itu tersadar dari pikiran-pikirannya, akhirnya menampilkan tersenyum manis. Baekhyun tahu Tao sedang merajuk.

"Gomawo Tao, aku akan membelikanmu koleksi gucci terbaru nanti" Balas Baekhyun sambil tersenyum lebar. Itu adalah cara terampuh untuk membujuk sahabatnya. Lihat saja...

"Jeongmalyo?"

Pekik Tao antusias.

"Hemmm emmm..." Jawab Baekhyun tak lupa terkekeh. Tao benar-benar mudah ditakhlukan.

"Baiklah aku tunggu itu. Tapi aku harus pulang dulu, aku sudah memasak bubur gingseng untuk mu. Sebaiknya kau cepat mandi dan makan sarapan mu sebelum dingin"

Ini yang Baekhyun sukai dari Tao. Sahabatnya itu selain menggemaskan, dia juga sangat perhatian.

"Terimakasih Tao kau memang yang terbaik" Ujar Baekhyun.

Tao menggumam lirih menanggapinya. Begitu gadis itu sudah berada di depan pintu Tao tergoda untuk bertanya.

"Tapi sepertinya namja itu tidak kesini hari ini. Rumahmu sepi sekali"

"Maksudmu Chanyeol?"

"Tentu saja dia, memangnya kau punya berapa banyak mesin ATM?" Jawab Tao yang malah terdengar sindiran telak. Baekhyun mendelik sebentar, sahabatnya itu, benar-benar.

Tao yang hampir memutar kenop pintu kamar Baekhyun lalu membalikkan tubuhnya lagi.

"Dan Baekhyun, sejak kapan kau memanggil 'dia' dengan sebutan 'oppa'?"

"Oppa?"

"Ya Oppa, semalam kau terus saja mengigau Oppa... Oppa... Oppa..."

Jelas Tao berusaha meniru apa yang di ucapkan Baekhyun tadi malam.

"Apa saat bercinta kau mendesahkan namanya begitu? akh, Oppa..."

Baekhyun yang semula mendengar nya dengan bingung segera menyadari apa yang baru saja dikatakan sahabatnya. "YA! HUANG ZITAO!"

.

.

.

Baekhyun baru saja selesai mandi. Tubuhnya masih dililit oleh bathrobe putih. Baekhyun berjalan kedapur. Dan yang pertama kali didapatinya adalah semangkuk bubur gingseng yang lumayan menggiurkan. Sayang nya asap nya sudah tidak mengepul.

"Tentu saja Byun Baekhyun, kau terlalu lama mandi" Gerutu Baekhyun menyalahkan dirinya. Selanjutnya ia segera meraih sendok dan buru-buru menyantap bubur itu jika tidak mau nantinya semakin dingin.

Rasanya lumayan enak, tidak sia-sia ia pernah mengikuti pelajaran tataboga dikelasnya bersama Tao dulu. Tao jadi pandai memasak, walau dirinya malah sangat payah.

Ia makan dengan lahap seperti orang kelaparan. Mungkin perutnya sudah sangat kosong dan minta di isi. Bukankah tadi Tao bilang jika semalam ia muntah, jadi wajar kalau sekarang Baekhyun kelaparan.

Ketika bubur itu tinggal sedikit lagi Baekhyun menghentikan suapan nya. Tiba-tiba ia merasa kenyang hanya karena teringat sesuatu.

Baekhyun membuka bagian atas bathrobe nya. Ada tanda merah berbekas keunguan disana. Karena letaknya di belakang punggung alhasil ia tidak menyadari nya. Tetapi saat mandi tadi Baekhyun tak sengaja mendapatinya. Ia tentu tak cukup bodoh untuk tidak mengetahui bekas apa itu.

Jika kissmark yang dibuat Chanyeol, mungkinkah? Tapi Chanyeol kan sedang di Spanyol seminggu lebih. Lagipula tanda itu terlihat masih baru.

Lalu? Apa benar telah terjadi apa-apa saat dibar semalam.

Baekhyun bergidik ngeri memikirkan hal-hal negatif. Apa mungkin Baekhyun diperkosa. Tetapi menurutnya itu juga tidak mungkin. Ia merasa baik-baik saja. Dan tidak merasakan apa-apa, tidak ada yang aneh pada tubuhnya. Ia tentu sangat tahu rasanya setelah bercinta itu seperti apa.

Gadis itu memijit kepalanya sebentar. Mungkin mengakui jika semalam ia benar-benar ceroboh. Dia tidak akan mengulangi untuk kedua kali.

Setelah membereskan mangkuk bubur dan membersihkan meja akhirnya Baekhyun memilih memasuki kamar untuk berpakaian. Lalu akan segera berangkat ke kampus.

Saat mencari baju nya dilemari Baekhyun mendapati kotak mungil berwarna pink berada di tumpukan baju. Bukan kah itu miliknya, satu-satunya benda masa kecilnya yang masih ada. Wajah nya berubah cerah saat kotak itu terbuka. Harmonikanya, dan tutup kaleng cola. Baekhyun meringis, ia merasa konyol masih menyimpan benda seperti itu hingga sekarang.

Tadi saat Tao bilang tentang 'oppa' membuat Baekhyun teringat seseorang. Tentu saja yang di maksud 'oppa' itu bukanlah Chanyeol. Apa ia sudah gila.

Seperti lupa akan rencananya berganti pakaian. Baekhyun membawa kotak kecil itu ke atas ranjang. Mengambil harmonikanya, lalu dengan ragu memainkannya.

Harmonika itu adalah pemberian dari 'oppa' nya saat ia berulang tahun yang kedelapan. Sebelum sang 'oppa' meninggalkannya ke Luar Negeri.

Belakangan ini ia sering sekali memimpikan anak laki-laki itu. Apa Baekhyun mengharapkan 'oppa' nya itu kembali untuk menepati janjinya? Hah, benar-benar pemikiran yang konyol.


"Tuan, apa keadaan anda benar-benar sudah membaik? Apa anda yakin?"

"Aku tidak pernah meragukan keputusanku. Jadi Anda tidak perlu khawatir, Aku bisa menjaga diriku dengan baik. Sampaikan pada Ayah aku akan pulang hari ini"

Orang itu hanya bisa mengangguk setuju. Bagaimana pun juga ia tidak bisa melarang seorang Park Chanyeol. Walau pekerjaan nya adalah mengobati orang sakit, tetapi dia bekerja untuk keluarga besar Park. Dia tidak bisa memutuskan apa-apa jika orang yang bersangkutan sudah berkata 'iya' & 'tidak'

Setelah menuliskan sesuatu di kertas kecil orang itu menyerahkannya kepada Chanyeol.

Dan tanpa menuggu banyak waktu lagi Chanyeol segera bergegas keluar dari ruangan itu.

"Aku akan pulang, kurasa aku benar-benar merindukanmu pelacur manisku" Gumamnya sambil melewati pintu keluar dengan senyum mengembang.


Luhan sepertinya baik-baik saja. Setelah menyatakan perasaan nya waktu itu rasanya beban di pundaknya sudah berkurang. Walaupun Baekhyun tidak membalas perasaannya, setidak nya ini sudah cukup membuatnya bernafas lega. Atau ia akan di cap sebagai orang tidak tahu malu jika masih menuntut.

Baekhyun masih mau berteman dengannya dan hubungan mereka semakin akrab. Itu saja sudah membuatnya bahagia.

Seperti biasanya mereka sedang nongkrong berdua di gedung musik. Setelah kelas mereka selesai, Baekhyun dan Luhan memilih untuk tetap tinggal disana.

yeah~

wooo~

ping shen mo yao shi wang cang yan lei dao xin zhang

wang shi bu hui shuo huang bie gen ta wei nan

wo men liang ren zhi jian bu xu yao zhe yang

wo xiang

xiu lian ai qing de xin suan

xue hui fang hao yi qian de ke wang

wo men na xie xin yang yao wang ji duo nan

yuan ju li de xin shang jin ju li de mi wang

shei shou tai yang hui zhao dao yue liang

bie ren you de ai wo men bu ke neng mo fang

xiu lian ai qing de bei huan

wo men zhe xie nu li bu jian dan

kuai le lian cheng lei shui shi yi zhong yong gan

ji nian qian huan xiang ji nian hou de yuan liang

wei yi zhang lian qu yang yi shen shang

bie jiang xiang nian wo wo hui shou bu liao zhe yang

Suasana gedung musik yang semula senyap setelah mahasiswanya keluar kini mulai ramai lagi oleh suara piano yang sedang dimainkan Luhan. Seperti biasa nadanya mengalun begitu indah. Dengan tempo lambat berharmonisasi.

Suaranya tak kalah dengan seorang penyanyi papan atas. Luhan sungguh mengagumkan.

wooo~

xiao zhe shuo ai rang ren feng kuang

ku zhe shou ai rang ren jian qiang

wang bu liao na ge ren jiu tou jiang

wooo~

Baekhyun terkikik geli melihat Luhan begitu serius dengan permainan pianonya. Bahkan mata rusa itu sampai terpejam menghayati lagu yang sedang dinyanyikannya

Karena mendengar gadis di sebelahnya sedari tadi terkekeh membuat Luhan menghentikan kegiatan nya.

Sambil menoleh bodoh ia bertanya. "Wae Baekhyun, tertawa terus?" Lalu menampilkan wajah merajuk yang di buat-buat karena merasa di ejek.

"Apa? aku hanya merasa lucu karena tidak tahu artinya sama sekali. Cepat lanjutkan permainanmu" Balas Baekhyun cuek. Sepertinya ia mencoba tidak mengindahkan gelagat merajuk namja di sampingnya.

"Hhuufft..." Luhan mendengus pelan lalu melanjutkan bermain piano. Ia jadi lupa sampai dimana lagunya tadi 'kan!

Tiba-tiba Baekhyun teringat harmonika yang dibawanya dari rumah tadi.

Luhan menoleh kearah Baekhyun yang terlihat menggeledah isi tas.

"Kau membawa harmonika?" Tanya Luhan begitu mendapati Baekhyun mengeluarkan alat musik kecil itu dari tas nya lalu memilih meninggalkan pianonya.

Baekhyun mengangguk.

"Itu milik Ibu mu kah?"

"Hm? Aniyo ini milik ku. Seorang teman dulu memberikan untukku"

"Teman?"

Sepertinya mereka akan lebih memilih mengobrol dari pada bermain musik seperti rencana awal nya tadi.

Luhan bergeser mendekati Baekhyun. Kepalanya melongok kearah harmonika yang berada ditangan Baekhyun.

"Apa teman spesial?" Tanya Luhan sambil mendongak.

"Eh?"

"Apa dia namja? Lihat ini" Luhan mengambil harmonika itu dan membalik sisi badan nya.

"My Princess Baekki" Luhan bedecak. "Astaga~ Baekhyun nama kecil mu lucu sekali" Akhirnya namja itu tidak bisa menahan diri untuk tidak terkekeh.

Baekhyun mendengus kesal, dengan gerakan cepat ia merebut harmonika nya kembali.

"Ya! jangan mengejek" Ucap Baekhyun ketus dengan pipi menggembung marah. Dan bukan nya menyesal, Tetapi yang ada malah membuat Luhan semakin tergelak.

"Aigoo~ Baekki merajuk eoh?"

"Ya! Lu Han!"

"kkkkk~ Araseo, maaf-maaf" Balas Luhan meminta maaf dengan wajah yang sama sekali tidak menunjukan penyesalan. Ia sampai terbatuk karena tertawa. Gaje sekali.

"Jadi Baekki-"

Hampir saja ia keceplosan jika Baekhyun tidak segera men death glare nya.

"Oops, maksudku Baekhyun. Dia pacarmu ya?" Canda Luhan terdengar jenaka.

"Pacaran apa, sudah kubilang dia teman ku" Balas Baekhyun cepat.

Mereka kembali tenang. Luhan sudah kembali keposisinya walau sekarang malah memilih menyamping menghadap Baekhyun.

Baekhyun menarik nafas banyak-banyak lalu mulai memainkan harmonikanya. Berharap mengacuhkan Luhan akan membuahkan hasil.

Tapi tidak sadarkah Baekhyun, apapun yang kau lakukan selalu membuat Luhan terpesona.

Dan tak terkecuali sekarang ini. Luhan menatap Baekhyun sambil tersenyum aneh. Sepertinya perasaan kagum itu semakin meningkat, dan rasa cintanya semakin bertambah.

Sayang, Baekhyun tidak memiliki perasaan seperti dirinya.

Menyadari kediaman dari namja disebelah nya, Baekhyun berhenti memainkan harmonikanya. "Waeyo Luhan?"

"Entah hanya perasaanku saja atau bukan, Baekhyun terlihat semakin cantik jika sedang memainkan alat musik apapun" Jawab Luhan terlampau jujur.

Biasanya Baekhyun hanya akan mengabaikan kata-kata pemanis seperti itu. Baginya semua namja hanya suka membual. Tetapi tidak tahu mengapa sekarang dengan bodohnya ia malah merona mendengar Luhan memujinya.

Baekhyun dan Luhan menoleh bersamaan ketika indra pendengaran nya menangkap suara ponsel berdering. Milik Baekhyun rupanya.

Gadis itu merogoh isi tas nya untuk mengambil ponselnya. Keningnya mengernyit heran begitu tahu siapa yang menghubunginya.

"Halo"

"Bisa Kau pulang SEKARANG!"

Baekhyun mengerjap-ngerjap kaget mendengar suara Chanyeol. 'Chanyeol sudah pulang?' tanyanya dalam hati. Jika didengar dari seberang sana sepertinya suara itu terdengar tidak santai. Apa Chanyeol tidak bisa menunggunya sampai pulang kuliah.

Baekhyun mendesah berat membayangkan apa yang sebentar lagi terjadi kepadanya, mengingat betapa bernafsunya Chanyeol kepada tubuhnya. Dengan lesu ia membereskan barang-barangnya. Jujur saja ia masih ingin disini.

"Siapa?" Tanya Luhan tiba-tiba dan berhasil membuat Baekhyun segera tersadar akan keberadaan Luhan yang masih disana.

"Teman, Aku harus pulang sekarang Lu, sampai jumpa besok"

Gadis itu segera beranjak dari duduknya dan keluar gedung musik dengan langkah cepat. Menyisakan Luhan yang menatap kepergiannya dengan wajah masam. Luhan bisa mendengar suara laki-laki yang baru saja menghubungi Baekhyun.

"Apa yang kau sembunyikan Baekhyun?"


Seorang wanita paruh baya tampak pucat dengan pipi yang semakin tirus. Walau tidak berdandan sedikitpun tetapi itu tidak mengurangi gurat-gurat kecantikan alami diwajahnya yang mulai menua.

Wanita itu membelai lemah sebuah kepala yang bersandar disisi ranjangnya. Bunyi alat-alat penyangga kehidupan yang menyokongnya begitu membuat hatinya berdesir. Di usia senja pun dia tetap saja merepotkan orang lain. Apa masih pantas dirinya hidup. Lalu untuk apa?

Menyadari sebuah pergerakan kecil di kepalanya membuat namja yang semula tidur itu segera bangun. Matanya tampak melebar keget.

"Ibu"

Pekiknya setelah sepenuhnya sadar dari alam mimpinya.

Yang dipanggil Ibu pun membalasnya sambil tersenyum dari balik masker nebulizernya. Tapi jelas sekali wanita itu masih begitu lemah.

.

.

.

Sehun tampak tidak berpikir untuk menghubungi kakaknya hari ini. Ibunya sudah sadar dan dia begitu bahagia. Saat ia mengambil ponsel berniat mendial nomor Chanyeol, Namun Sehun segera tersadar, ia menghentikan kegiatannya sejenak.

"Untuk apa aku menghubungi si brengsek itu"

Perasaannya tiba-tiba berubah mengeras. Ia mengurungkan niatnya menghubungi kakak kandungnya. Karena hal itu begitu menyulut emosinya.

Setelah melihat Dokter dan beberapa suster keluar dari kamar Ibunya Sehun segera berlari menghampiri sang Dokter.

Tak perlu menunggu lama setelah Dokter memperbolehkan dirinya menengok Ibunya lagi, Sehun segera bergegas masuk kedalam.

Wanita paruh baya itu bersandar pada kepala ranjang. Beruntung nya dia memiliki seorang Anak yang kaya raya hingga membuat kehidupan nya begitu mudah. Tinggal di kamar VVIP dengan ruangan dan fasitilas yang sangat mewah. Perawatan intensive untuk menyelamatkan nyawanya.

Ranjang itu langsung berhadapan dengan jendela memudahkannya itu untuk menatap kota Seoul yang sudah lama tidak ia lihat.

Semua alat-alat berisik itu sudah dilepas dari tubuh nya. Hanya menyisakan satu jarum infus yang masih lengkap dengan selang nya untuk menunjang kondisi fisik nya.

"Ibu" Panggil Sehun lirih begitu matanya mendapati Ibunya bersender dengan santai.

Mendengar suara seseorang memanggil langsung membuat Ibunya menoleh kearahnya.

Ibu nya, begitu pucat. Sehun miris melihatnya. Kemudian dengan pelan ia melangkah mendekati ranjang Ibunya berada. Diraihnya tangan kurus itu untuk ia genggam hangat. Sehun mulai berkaca-kaca.

"Hei, kenapa malah menangis? Apa kau tak senang Ibu bangun?" Gumam Ibunya berusaha mencairkan suasana sendu disana.

Sehun menggeleng kecil, namja itu meletakkan kepalanya diatas pangkuan Ibunya. Demi apapun ia merindukan Ibunya. Ia kira tidak akan bisa melihat Ibunya lagi.

Wanita paruh baya itu mengelus sayang kepala putra nya. Setidak nya masih ada seseorang yang membutuhkan nya didunia ini. Dan mungkin dia harus bersyukur masih diberikan kesempatan hidup.

"Sehunie, sudah berapa lama Ibu tertidur?" Tanya wanita itu pelan.

Menyadari betapa pegalnya tubuhnya saat ini, sepertinya memang cukup lama dia tertidur. Dan selama ini yang bisa dilihatnya hanyalah mimpi-mimpi kosong yang selalu menemani tidur panjangnya. Mimpi yang selalu membuatnya tidak bisa merasakan damai.

"Sehun, bagaimana kabar Chanyeol?" Tanya wanita itu lagi. Dia pura-pura kesal karena malah diacuhkan oleh anaknya.

Mendengar nama itu disebut langsung membuat Sehun tegak dari posisinya. Wajahnya terlihat tidak suka.

"Ibu, dia tidak pernah memikirkanmu. Untuk apa mengkhawatirkannya" Jawab Sehun penuh dengan nada kesal.

Seperti dugaannya. Ternyata kedua putranya masih belum bisa berdamai.

"Sehun, apa kalian tidak bisa berbaikan? Kenapa kalian harus saling bermusuhan, Ibu tidak mau kedua putraku seperti itu"

"Tapi Bu, dia sudah menyakitimu. Dia membuang Ibu"

"Sehun, apa yang kau bicarakan. Chanyeol tidak seperti itu. Bagaimana bisa kau bilang begitu sedangkan sampai saat ini Ibu masih bisa bernafas karenanya"

Jawab wanita paruh baya itu sedikit tersentak. Perasaan sedih langsung membuncah. Bagaimana bisa Sehun masih menyimpan paham yang salah sampai sekarang.

"Asal kau tahu Hunnie, jika semua kesalahan yang kau maksud selama ini. Itu bukan salah Chanyeol, Ibu lah yang pantas disalahkan"

"Tidak Bu, Chanyeol tetap bersalah dan dia tidak pantas hidup bahagia" Sahut Sehun cepat. Matanya berkilat marah membayangkan bagaimana tersiksa hati Ibu nya selama ini. Benar bukan dalam hal fisik, karena nyatanya hidup mereka senang, Chanyeol selalu melimpahi mereka dengan harta yang banyak. Tapi Sehun selalu melihat Ibu nya tertekan. Tersiksa oleh Ayah dan Anak keluarga Park. Dan Sehun berjanji, Chanyeol harus merasakan sakit yang sama.

"Ibu selalu bermimpi kalian saling membunuh. Ku mohon Sehunie jangan melakukan sesuatu yang dapat mamancing emosi hyung mu"


Baekhyun bersenandung kecil sambil menuju rumahnya. Saat memasuki pelataran kecilnya. Matanya mendapati mobil Chanyeol berada didalam membuatnya berasumsi bahwa namja itu benar-benar telah menunggu nya.

"Jadi benar-benar sudah pulang ya?" Baekhyun menggedikkan bahunya sebentar lalu memilih segera memasuki rumahnya.

Jantungnya merasa berdebar aneh. Sudah hampir satu minggu tidak bertemu Chanyeol, apakah namja itu masih akan bermain kasar pada nya. Baru saja menyadari apa yang sedang di pikirkan Baekhyun menggeleng-geleng keras. Dia mungkin sudah gila jika berpikir Chanyeol akan berubah.

Saat pintu rumah nya terbuka mata sipit itu hampir keluar dari tempatnya mendapati keadaan isi rumah yang hancur berantakan. Baekhyun membungkam mulutnya, mungkinkah itu perampok. Baekhyun mau berjalan masuk tetapi ia mengurungkan niat nya. Bagaimana kalau perampok itu bersenjata? Tiba-tiba ia teringat Tao yang hampir dirampok bebarapa hari yang lalu.

Gadis itu akhirnya memilih berlari keluar melapor kepada satpam kompleks perumahan nya jika saja suara Chanyeol tidak lebih dulu menghentikan langkahnya.

Dia terperanjat kecil melihat kehadiran Chanyeol keluar dari dalam kamarnya. Penampilan nya acak-acakan. Astaga! Apa Chanyeol yang melakukan semua ini.

Chanyeol memanggil namanya dengan suara berat. Bukan nada berat seperti biasanya. Baekhyun mengernyit heran melihat Chanyeol yang terlihat kacau dan...

menakutkan.

Belum sempat Baekhyun berkedip, Chanyeol sudah berjalan cepat kearahnya. Dengan gerakan yang sedikit kasar tangan kekar itu merengkuh tubuh mungil Baekhyun hingga merapat padanya. Baekhyun meringis merasakan lengan nya yang terasa sakit.

Chanyeol, mencengkeramnya sangat kuat.

Baekhyun tidak tahu kenapa Chanyeol terlihat begitu murka. Tatapan matanya merah menyalang.

"Channh, Apa yang kau lakukan"

Ringis gadis itu menahan perih yang mendera tangan nya.

"Apa sudah puas bersenang-senang nya Gadis jalang!"

Itulah kaliamat pertama kali yang terlontar dari mulut Chanyeol. Yang berhasil membuat Baekhyun melotot kaget. Lalu tanpa aba-aba namja itu mendorong tubuhnya begitu keras.

Braakk~

Dengan sekali gerakan Chanyeol menghempaskan tubuh mungil Baekhyun cukup jauh. Hampir saja gadis itu menabrak meja jika tangan nya tidak siaga menopang tubuhnya.

"Apa yang kau lakukan Park Chanyeol?" Teriak Baekhyun antara kaget dan tidak percaya. Bukan hanya perih dilengan nya tetapi kakinya juga terasa ngilu karena terantuk kaki meja.

"Kau benar-benar pelacur murahan yang menyedihkan" Balas Chanyeol berdecih disertai tatapan marah dan merehkan.

"Apa yang kau ka-" Kata-kata itu terhenti ketika mata sipitnya tidak sengaja melihat beberapa lembar foto di atas meja. "Ini,..." Baekhyun meraih nya dan melihat foto itu dari dekat, kepalanya menggeleng tidak percaya mendapati bahwa dirinyalah yang berada di dalam potret itu.

"Apa masih kurang aku memberimu uang HAH! BAHKAN KAU MASIH PERLU MENJUAL TUBUHMU PADA NAMJA LAIN?!"

Amuk Chanyeol dengan suara bass nya yang meninggi.

Dengan tubuh yang dikuasai amarah tak terbendung Chanyeol menarik rambut Baekhyun dan menjambaknya brutal. "Chanyeol, tidak! aku tidak pernah melakukan itu, aku ti- Akkkhhh..." Belum sempat ia melanjutkan kalimat nya, Chanyeol malah semakin kuat menyiksanya.

"Katakan padaku BERAPA NAMJA ITU MEMBAYARMU! Katakan padaku Apa yang kurang kuberikan pada mu"

"Chanyeol, kau salah paham. Aku tidak tahu apa-apa"

Plaakk~

Satu tamparan mendarat mulus dipipinya, hingga membuat sudut bibir itu mengeluarkan darah karena terkoyak.

Tidak sampai disitu, masih diselimuti kemarahan Chanyeol kini menghempaskan Baekhyun lagi hingga dahi nya berbenturan dengan lemari.

"Apa kau benar-benar tidak punya harga diri? Aku yakin masih banyak lagi namja yang menjamah tubuhmu. KAU SUNGGUH JALANG MURAHAN TIDAK PUNYA HARGA DIRI!"

Nafas Chanyeol memburu saat mengucapkan itu. Ia tahu semua kata-kata kasar itu pasti sudah menancap dihati Baekhyun. Tapi ia mencoba tidak perduli. Emosinya sudah tidak bisa dibendung. Chanyeol marah karena Baekhyun nya disentuh orang lain. Dan parahnya orang itu adalah si brengsek Sehun. Adiknya sendiri.

Jika kalian bertanya apa Baekhyun tidak melawan. Maka jawaban nya adalah 'iya'. Gadis itu memilih diam tidak melakukan apapun untuk menyelamatkan dirinya. Jujur saja semua kalimat yang Chanyeol lontarkan kini bersarang didadanya dan tepat mengenai jatung nya. Itu sudah cukup membuatnya lemas, ditambah ia memang tidak diberi pilihan untuk membela diri.

Baekhyun merasa bodoh mengetahui bahwa ia merasa sangat terluka oleh kata-kata Chanyeol.

Sudut matanya sudah mengalirkan air mata. Baekhyun meringis kesakitan, tetapi sebisa mungkin ia menahan tangisnya hingga membuat nafas nya sesak.

Jadi kemarin itu ia benar-benar dijebak.?

Mendapati kediaman Baekhyun membuatnya semakin murka.

Chanyeol begitu menakutkan saat marah. Bahkan namja itu bisa menghancurkan benda apapun yang disekitar nya. Seperti saat ini, setelah mencaci Baekhyun begitu kasar. Sekarang namja itu sibuk memberantakkan seisi rumah Baekhyun dengan gila-gilaan. Chanyeol berteriak-teriak seperti kesetanan.

Chanyeol menoleh kearah Baekhyun yang meringkuk diam. Masih di kuasai kemarahan akhirnya ia lalu memilih segera pergi dari sana, sebelum emosinya benar-benar tak teratasi dan berakibat fatal pada gadis itu.

Baekhyun mencoba menopang tubuhnya untuk berdiri.

Chanyeol seperti meremukkan semua tulang nya. Apakah ini akhirnya? Sudah berkali-kali Baekhyun mendapat pelecehan dari seorang Park Chanyeol. Tetapi baru hari ini ia merasa begitu terluka. Bukan pada tubuhnya melainkan hati nya.

"Apa yang kau pikirkan Byun Baekhyun, bukan kah ini bagus?" Gadis itu bergumam lirih sambil tersenyum miris. Ia sadar hatinya memang tak seharus nya goyah. Baekhyun harus menguburnya sedalam mungkin, agar perasaan itu tidak pernah muncul lagi.

"Aku memang pelacur" Jeritnya histeris. Baekhyun terjatuh karena merasa lututnya begitu lemas. Hampir saja ia ambruk jika saja kesadaran tidak segera terkumpul lagi setelah menangkap sesuatu di depan pintu kamar nya.

Boneka beruang berukuran medium yang masih terbungkus plastik, tetapi terlihat menyedihkan karena terkoyak sana-sini.

"Chanyeol..."


Luhan terlihat ragu untuk keluar dari mobil nya. Sedari tadi yang ia lakukan adalah berdiam diri disana. Tapi kalu dipikir-pikir mau sampai kapan? Sampai Baekhyun keluar? Itu mustahil, bahkan ia tidak yakin apa Baekhyun akan keluar lagi. Jika sampai besok pagi memang mau dirinya menunggu disana.

Sebut Luhan naif. Karena nyatanya Luhan merasa konyol pada dirinya sendiri.

Jadi sedari tadi ia menguntit Baekhyun, mengikuti kemana perginya gadis yang disukai nya itu. Alhasil sekarang ia berhasil mengetahui rumah Baekhyun.

Dan bodoh nya dia, mau-maunya tetap berdiam diri disana sampai sekarang.

Luhan tiba-tiba merasa tidak enak, jika Baekhyun mengetahui kalau dirinya dikuntili pasti gadis itu kemungkinan terkecil nya akan marah.

Namja itu menghela nafas nya berat. Mungkin ia pulang saja. Toh Baekhyun sudah sampai dirumah nya itu berarti tidak ada yang perlu dikhawatirkan.

Luhan menyalakan mesin mobilnya dan sudah bersiap-siap melajukannya. Tetapi tak berselang lama Luhan menangkap sesosok namja keluar dari rumah Baekhyun terlihat ingin memasuki mobil. Dilihat dari jarak nya memang tidak terlalu jelas untuk melihat, namun ia yakin ada yang salah dengan namja disana. Penampilan nya terlihat acak-acak an.

Tiba-tiba ia teringat suara seseorang yang bercakap dengan Baekhyun tadi.

"Bisa kau pulang SEKARANG!"

Bukan Luhan bermaksud menguping, tetapi suara ditelepon tadi terdengar sangat jelas ditelinganya. Berterimakasih lah kepada telinganya yang begitu aktif.

Dan kini Luhan perasaannya merasa tidak enak. Segera setelah namja yang dilihatnya tadi sudah meninggalkan rumah Baekhyun. Luhan langsung turun dari mobil berniat menemui Baekhyun.

Dengan langkah sedikit ragu Luhan berjalan menuju kedalam rumah Baekhyun. Langkah nya terhenti sejenak saat melihat pintu rumah itu terbuka lebar.

Karena tidak mau semakin diliputi rasa cemas dan was-was Luhan segera memilih berjalan semakin kedalam.

Mungkin ia bisa dibilang tamu tak tahu malu karena dengan lancang masuk rumah orang tanpa permisi. Luhan sudah memanggil Baekhyun berkali-kali tetapi gadis itu tidak menyahutnya.

Keningnya mengernyit heran mendapati keadaan rumah Baekhyun yang berantakan. Seketika itu juga perasaan khawatir langsung menyerbunya. Luhan berlari untuk menemukan Baekhyun berada. Entahlah, ia merasa gadis itu dalam keadaan tidak baik-baik saja.

Dan mata rusa nya membelalak lebar menangkap sosok mungil Baekhyun tengah bersender pada badan lemari.

"Baekhyun!" Panggil Luhan setengah berteriak. Tanpa aba-aba namja itu sudah berlari dan mengguncang tubuh Baekhyun.

Baekhyun sedikit terkaget melihat Luhan berada dirumah nya.

"Luhan apa yang kau lakukan disini?" Tanya nya lirih dengan sorot mata kaget.

Dan bukan nya menjawab namun Luhan malah menanyai nya balik.

"Apa yang terjadi pada mu. Kenapa bibir mu berdarah. Apa yang terjadi, katakan Baekhyun!"

Bersambung...


Hosh... Semakin Complicated ya? Hahaha itu tanda nya FF ini udah mau tamat ching, bener segera di tamat in aja lah ya, daripada bikin kalian makin ilfeel. Ya gak sih /garukhidung/

- Ini Angst tapi Happy End kok (:

- Minta dipanjangin ? hahaha itu berat ching, masalahnya saya pikir nulis panjang itu banyak kesulitan nya ditambah saya takut kalian malah bosen karena kebanyakan words /alesan/ *smirk*

- Thanks udah suka FF gaje ini *bow*

- Bagi yang gak suka sama cast or ceritanya. Saya minta maaf *bow*

Thanks To :

devrina - Fionny13 - she3nn0 - LordChanyeol - Re-Panda68 -narsih hamdan - Chan Banana - luphbepz - kmskjw21 - baekkiepyon - pcy is my weakness - yunjae q - GIRLIEXO - danactebh - ebellfiks - Diaanastari - khamyauchiha23 - Babylu - indi1004 - karwurmonica - ladywufan - nanacputri1 - happines delite - World of Mind - neli amelia - IndahOiledLee - nia aries - Acha Kim - firdaoktavianti - LynKim - Namu Hwang - Sniaanggrn - pennsylvania thasia - SooJung-ie - ShinJiWoo920202 - bellasung21 - chanbaekyu

Oke, apapun yang kalian katakan itulah yang kalian rasakan. Sekian dulu no comment.

Silakan Review jika berkenan

Bye~