Sex(y) Love

Main cast : Baekhyun And Find by yourself

Genre : Romance & Drama

Rate : M

WARNING! : NO CHILD

Cerita mengandung unsur dewasa, bagi yang belum cukup umur mohon pikir (minimal 3kali) dahulu sebelum membaca /nahlo/ BENERAN CIYUSSS, SAYA WARN KALIAN!

Judul mungkin gak nyambung sama cerita.

Typo(s) everywhere

Fanfic : GENDERSWITCH (DON'T LIKE DON'T READ) TIDAK MENERIMA BASHING!

Disclamer : Semua cast milik Tuhan dan Keluarganya

Summary

Baekhyun tidak bisa dipanggil dengan sebutan gadis baik-baik. Karena tidak ada gadis baik-baik di dunia ini yang rela membiarkan tubuh nya di jamah oleh orang lain dengan imbalan Dollar.

Note : Chap ini panjang dan membosankan

...

SEX(Y) LOVE

Pagi itu cuaca sedikit mendung. Tidak ada matahari yang menampakkan sinar nya tanpa malu-malu. Hanya ada sekumpulan awan tebal dan membuat langit sedikit redup.

Ditaman belakang Rumah sakit Sehun sedang bercengkerama dengan Ibu nya. Namja itu terlihat sangat telaten memijit kaki Ibunya yang sedang duduk di kursi roda.

Mungkin dia orang terbahagia sekarang ini dikarenakan wanita yang sangat ia rindukan akhirnya bangun dari tidur panjang nya. Ya, dia adalah Ibu nya. Wanita yang kini terlihat sedikit lebih hidup daripada dua hari yang lalu.

Namanya Merry, Dia adalah Ibu kandung Chanyeol dan Sehun. Wanita keturunan Korea Amerika yang dipaksa menikah dengan anak dari seorang pengusaha kaya Park Corporation atas nama balas budi.

Namun sayang, pernikahan yang ia percayai hanya akan dilakukan sekali seumur hidup nya itu harus berakhir menyakitkan. Suaminya yang bernawa Siwon itu sama sekali tidak mencintai nya. Bahkan lelaki itu berusaha sangat gigih untuk menyingkirkan nya dari pernikahan mereka. Alasan nya sangat ia tahu, karena Siwon telah memiliki kekasih.

Ia tidak pernah marah mengetahui hal itu, walau setiap hari nya ia selalu diperlakukan tidak menyenangkan oleh Siwon. Mungkin lebih tepatnya tidak di anggap sama sekali. Tetapi seperti janji nya kepada mendiang ayah nya ia akan tetap bertahan dengan pernikahnya apapun yang terjadi.

Dua tahun usia pernikahan nya berlangsung, ia masih belum bisa mengambil hati suaminya. Dia manusia, juga mempunyai rasa lelah. Hari itu ia pikir benar-benar telah menyerah mempertahankan rumah tangganya yang sama sekali tidak bisa disebut 'rumah tangga'. Dengan tekat bulat ia berniat untuk mengajukan surat cerai nya pada Siwon. Jika saja memang dia harus mengingkari janjinya, ia sudah siap dihukum karena menjadi putri tak berbakti. Tetapi belum juga niatnya terealisasikan, wanita itu harus mengubur dalam-dalam keinginannya saat mengetahui fakta bahwa ia tengah mengandung Chanyeol.

Seperti keajaiban yang bertubi-tubi menghampiri. Siwon sedikit melembut kepadanya. Sikap keras dan dingin yang selama itu ditunjukkan padanya berangsur-angsur mencair setelah mengetahui bahwa dirinya tengah mengandung anak lelaki itu. Ia tidak akan pernah melupakan moment yang dirasa sangat istimewa dalam hidup nya hari itu, dengan terang-terangan Siwon membatalkan kencan dengan kekasih nya demi menuggui dirinya yang sedang demam. Harusnya ia tidak harus merasa sebahagia itu mungkin, karena bagaimana bisa ia membiarkan suaminya tetap berhubungan dengan kekasihnya saat ia juga masih sah menjadi istri lelaki itu. Tetapi sakali lagi, ia bukanlah wanita penuntut sebisa mungkin ia akan menahan kesedihan nya seorang diri.

Setelah Chanyeol berusia satu tahun, petaka itu datang lagi. Siwon kembali menunjukkan sikap dingin kepadanya. Bahkan lebih parah, lelaki itu mulai berani memukulnya. Ia tidak tahu kenapa suaminya memiliki mood yang sangat menakjubkan. Ia bahkan tetap tidak tahu mengapa, walau setelah ia disalahkan tanpa penjelasan oleh Siwon.

"Kau wanita sialan, gara-gara aku menikah dengan mu aku jadi kehilangan kekasihku"

Ia menangis semalan sambil memeluk Chanyeol yang masih bayi. Malam itu Siwon meninggalkan nya dirumah hanya dengan Chanyeol ditengah badai petir. Rasa sesak itu datang lagi, ketika suaminya kembali menghujatnya karena mengetahui bahwa kekasih Siwon juga akan dijodohkan dengan seseorang.

Keesokan harinya Siwon pulang kerumah dalam keadaan berantakan. Lelaki itu terlihat acak-acakan dengan bau alkohol yang menyengat. Hujan badai sudah berhenti semalam, tetapi petir seolah tertinggal dan kini menyambar nya.

Lelaki itu mengajukan gugatan cerai kepada nya.

"Aku tidak akan bisa menikahi Victoria jika kau masih menjadi istriku, cepat tanda tangani surat cerai ini agar aku bisa segera menikahi kekasihku dihadapan orang tuanya"

Entah darimana lagi datang nya malaikat pelindungnya. Detik itu juga dan tanpa disangka-sangka, Tuan Park atau yang bisa disebut mertuanya datang dengan wajah menyeramkan. Lelaki paruh baya itu tampak nya sudah mengetahui keinginan gila putranya untuk menceraikan istrinya. Dengan penuh murka Tuan Park menghajar anak nya sampai sekarat. Wajah tua itu memaki tanpa ampun, memaki betapa brengseknya Siwon yang telah memperlakakukan Merry dengan sangat tidak baik selama ini. Lalu setelah melepaskan semua amarahnya Tuan Park menyeret menantunya agar ikut dengan nya meninggalkan Siwon yang tergeletak entah hidup atau mati. Tuan Park menangis minta maaf pada wanita itu atas sikap putra brengsek nya selama ini.

Setelah itu Merry tinggal bersama keluarga Park, dan ia baru tahu ternyata kedua mertuanya sangat menyayanginya. Nyonya Park memperlakukan nya dengan sangat baik, membatunya merawat Chanyeol sama-sama. Ia bisa bernafas lega, agaknya kebahagiaan yang selama ini ia impikan akan memeluk nya. Walau setelah insiden hari itu, ia tidak bisa melihat Siwon lagi, karena suaminya sedang menjalankan bisnis ayahnya di China.

Mungkin Siwon memang tidak akan pernah mencintainya. Bahkan saat Chanyeol sudah menginjak usia setahun setengah, laki-laki itu masih enggan menunjukkan kasih sayang kepada sang istri. Tetapi yang tak pernah ia sangka adalah bahwa Siwon masih saja menyimpan dendam padanya. Siwon mengetahui bahwa ia pernah menjalin hubungan dengan Donghae, sepupu nya. Ia memang pernah berpacaran dengan Donghae, Tetapi ia bersumpah, mereka telah putus setelah dikabarkan bahwa ia akan segera dijodohkan dengan Siwon sepupu dari Donghae sendiri.

Donghae mungkin masih mencintai Merry, begitupun sebaliknya. Tetapi wanita itu tidak akan sebrengsek Siwon yang akan menjalin hubungan rahasia bahkan setelah menikah. Merry berusaha menghapus lelaki masa lalu nya, mengubur nya dalam-dalam dari hatinya. Karena ia hanya akan fokus pada masa depannya. Pernikahan nya.

Namun dasar nya brengsek, Siwon menggunakan kesempatan itu untuk menjebak istrinya. Dia membuat Merry bertemu dengan Donghae dan membiarkan sepupunya itu menyentuh istrinya. Dan dia akan menggunakan alasan itu untuk mendepak istrinya dari rumah. Ayah nya pasti akan murka jika mengetahui menantu kesayangan yang selama ini dibelanya ternyata hanya wanita tidak bermoral.

Rencana itu gagal lagi. Siwon terlambat dalam segala rencananya, ternyata kekasihnya sudah kembali ke Negara asalnya dan menikah disana. Semua rencana yang telah ia susuh akhirnya hancur berantakan. Lelaki itu semakin kacau atau bahkan mendekati gila.

Jebakan yang Siwon rencanakan untuk menyingkirkan istrinya telah berbuah seorang bayi laki-laki. Dia adalah Oh Sehun, anak yang lahir hasil hubungan tak di sangka antara istrinya dan Donghae.

Merry tidak pernah tahu keadaan Sehun kecil, karena sedari lahir putranya diurus oleh Donghae dan dibawa pergi jauh tanpa jejak.

Akhirnya Wanita itu merawat putra sulungnya bersama sang suami sampai Chanyeol hampir tamat dari sekolah dasar. Selama itu pernikahan nya bisa dibilang sedikit berjalan normal. Siwon tidak pernah marah-marah atau mengamuk kepadanya lagi, mungkin bisa dibilang lelaki itu menjadi sedikit manusiawi. Suaminya menjadi lelaki yang giat bekerja dan sangat disiplin. Mungkin Siwon merubah dirinya demi anaknya, bukankah Ayah harus menjadi contoh yang baik untuk putranya.

Ketika benih-benih cinta mulai tumbuh diantara keduanya, Donghae kembali lagi dalam hidupnya. Merry tidak ingin menghiraukan nya, tetapi lelaki itu kembali dengan membawa putranya, Sehun, darah dagingnya. Walau sekuat apapun ia mencoba tidak perduli tapi jiwanya tetaplah seorang Ibu yang ingin merawat anaknya.

Sudah jelas bahwa ini semua adalah kesalahan Siwon, bagaimana istrinya bisa memiliki anak dari laki-laki lain itu juga karena nya. Tapi bukan Siwon namanya jika merasa bersalah. Lalaki itu malah meracuni hati anaknya yang polos untuk membenci Ibu kandungnya dengan cerita yang ia karang. Hingga ia harus merencanakan segala cara agar Chanyeol jatuh ketangan nya. Siwon membawa Chanyeol pergi ke Luar Negeri agar sebisa mungkin melupakan sang Ibu.

Sampai saat itu tidak ada kesempatan untuk Merry menjelaskan kejadian yang sebenarnya kepada Chanyeol kecil.

"Ibu, kau melamun?" tanya Sehun lirih melihat ibunya yang sedari tadi diam tak bersuara.

Ibunya terhenyak dari lamunan panjang nya. Wanita itu akhirnya tersadar kedunia nyata setelah terlempar begitu jauh dari bayangan masa lalu. Chanyeol, putranya membenci dirinya itu karena Siwon, dan parahnya sampai sekarang putranya tidak bisa memaafkan nya.

Wanita itu berdehem kecil sebelum menjawab pertanyaan Sehun.

"Sehun, ternyata kau pintar memijit eoh?"

Ujar nya sambil tersenyum, entah kenapa ia malah mengelak dari pertanyaan yang dilontarkan putranya.

Sehun berdecak, Ibunya masih saja sama, selalu sok-sok an menyimpan rahasianya sendiri. Tapi sayang sekali, Sehun sudah mengetahui semua masa lalu Ibunya dari mendiang Ayah nya. Bagaimana selama ini ibunya hidup dengan perlakuan tidak menyenangkan oleh Ayah dari Park Chanyeol.

Akhirnya dia memilih duduk disebelah Ibunya lalu merenggangkan otot-otot badannya yang sedikit kaku.

"Aku capek bu, aku istirahat ya?" Tanyanya terlihat seperti meminta ijin.

Ibunya mengangguk mengiyakan.

Setelah itu Sehun sibuk dengan ponsel nya, tanpa sadar namja itu senyum-senyum sendiri. Seperti sedang sibuk mengirim pesan dengan seseorang. Ibunya melirik Sehun dengan alis menyatu.

"Apa itu ada hubungan nya dengan yeoja yang selalu kau sebut-sebut Sehunie?"

Sehun menoleh memasang wajah bodoh mendengar pertanyaan dari sang Ibu. Lalu secepat kilat ia menyimpan ponselnya kembali dalam saku.

"Apa yang Ibu bicarakan?"

"Jangan mengelak, selama ini Ibu memang tidur, tetapi Ibu masih bisa mendengarmu bicara"

Ibunya tersenyum jahil mendapati wajah gugup Sehun

Sebenarnya putranya itu benar-benar cute. Dan jika sekarang ini Sehun berubah menjadi sosok brengsek, ia mengira itu murni kesalahan nya. Karena ia telah gagal mendidik Sehun dengan baik.

"Emmm, Ibu lupa nama nya, siapa ya...?" Ucap wanita itu lagi, kini terlihat (pura-pura) berfikir keras.

"Ahhhh, Ibu berhenti membicarakan itu, mungkin Ibu hanya kebanyakan bermimpi sampai mengira nya kenyataan"

Jawab Sehun terdengar kesal sedangkan malah membuat ibunya terkikik geli.

.

.

.

.

.

"Baekhyun, apa kau belum ingin pulang?"

Baekhyun berkedip tanpa menoleh kearah Luhan yang sedang menatap nya cemas. Sudah dua hari semenjak kejadian dimana ia di hajar oleh Chanyeol waktu itu, Baekhyun tinggal dirumah Luhan, awalnya Luhan bingung saat ia meminta namja itu untuk membawa nya pergi.

Baekhyun hanya takut, takut jika Chanyeol datang lagi dan menghajarnya habis-habisan tanpa ampun. Mungkin bisa disebut trauma.

Selama tinggal dirumah Luhan, Baekhyun memilih menjadi pendiam. Gadis itu hanya akan bicara jika diperlukan dan berdiam selebihnya.

Luhan tak bisa berhenti menghela nafas beratnya menghadapi keadaan Baekhyun yang seperti ini.

Baekhyun menoleh kearah Luhan yang kini terlihat sangat lesu. Namja itu begitu baik pada nya, bagaimana mungkin ada wanita yang tidak akan tersentuh oleh kelembutan nya. Tak terkecuali Baekhyun, gadis itu merasa bahwa ia mulai terhanyut akan sikap menenangkan dari Luhan.

Baekhyun tersenyum kecut, lagi-lagi menyadari bahwa dirinya tak akan pantas berada di dekat orang-orang tulus seperti Luhan. Luhan memang bilang mencintainya, tetapi Baekhyun tak bisa untuk menerimanya.

"Luhan"

Panggil gadis itu lirih, seketika membuat namja disebelahnya yang semula menunduk segera mendongakkan wajah.

Luhan mencoba tersenyum menatap wajah Baekhyun yang juga menatap nya.

"Jauhi aku"

Namja itu mendelik sempurna begitu mendengar kalimat yang baru saja terlontar dari bibir Baekhyun.

"Apa maksudmu?" Tanya nya dengan nada penuh kebingungan.

"Kau pasti akan jijik padaku setelah tahu betapa kotornya aku"

Baekhyun meremas tangan nya gusar, kenapa ia berubah menjadi gadis lemah.

Apa karena pertahanan nya telah hancur setelah mendengar semua makian kasar dari seorang Park Chanyeol tempo hari.

"Aku adalah seorang pelacur"

Jawab Baekhyun lalu menunduk dalam. Demi Tuhan, masihkan ia punya muka.

"A-apa yang kau katakan Baek?" Tanya Luhan tergagap dengan pandangan tak percaya.

Perasaan aneh muncul begitu Baekhyun kembali menatap wajah Luhan.

"Rumah, uang, mobil dan semua harta yang aku punya, itu ku dapatkan dari Park Chanyeol. Aku telah menjual tubuhku padanya"

Luhan ternganga ditempatnya, mata rusanya telah melebar sempurna. Ia ingin mengelak bahwa yang didengarnya hanya karangan, tetapi melihat Baekhyun menumpahkan air mata nya membuat kepercayaan dirinya memudar.

Ia tidak tahu apa yang harus di katakan. Mulutnya terbuka namun tidak ada satu kalimatpun yang berhasil lolos.

Baekhyun tersenyum getir, ini sudah berakhir. Dengan kasar ia hapus air mata nya lalu beranjak dari tempat nya. Tidak perduli kepada Luhan yang masih tak bergeming setelah mendengar pengakuan nya barusan. Baekhyun mungkin sudah tidak punya muka lagi untuk bertemu dengan namja itu nanti.

Kemudian hari, ia hanya akan menjadi sampah yang tidak ada gunanya.

Tapi perkiraan nya salah. Belum sempat Baekhyun melangkah kan kakinya menjauh lengan nya ditarik kencang oleh Luhan hingga membuat tubuh itu kembali jatuh terduduk. Luhan menatap nya tak terbaca, Baekhyun benar-benar tidak tahu akan lelaki dihadapan nya. Ditambah lagi ia langsung di kejutkan oleh ciuman tiba-tiba dari Luhan.

Awalnya ia tersentak. Mata nya terbuka namun tatapan nya sayu berbeda dengan Luhan yang kini memejamkan matanya dan menyesap bibir tipis itu begitu dalam. Luhan memperdalam ciuman nya, mencoba mengundang Baekhyun agar membalas ciuman nya. Namun sayang nya itu percuma. Baekhyun tetap diam tanpa bergeming sedikit pun.

Ciuman itu terlepas dengan menyisakan benang saliva diantara belah bibir mereka.

Luhan menatap Baekhyun cemas. Ia merasa sangat keterlaluan setelah menyadari apa yang baru saja ia lakukan. Ia tidak ada maksud untuk meleceh kan Baekhyun, Luhan hanya,

Takut kehilangan gadis itu.

"Baek, maafkan aku" Ujarnya lirih sambil menggapai pipi Baekhyun yang basah karena air mata.

"Maaf kan aku, tetapi aku tetap mencintaimu"

.

.

.

.

.

Ibu Sehun menatap putra nya cemas-cemas. Perasaan takut langsung menghampiri nya begitu Sehun mencetuskan bahwa dia akan menghancurkan kakak nya seperti apa yang telah dilakukan padanya.

"Sehun, katakan pada ibu sekarang. Apa yang telah kau rencanakan?"

Desak wanita paruh baya itu tampak kalut. Sungguh demi apapun, ia akan menggagalkan bagaimanapun caranya rencana yang telah Sehun siapkan.

Jika belum terlambat.

"Aku akan membuat Chanyeol kehilangan sesuatu yang dianggapnya penting karena tangan nya sendiri"

Sehun menoleh kearah ibu nya dengan wajah tersirat penuh emosi. "Jika Chanyoel hancur, maka Siwon juga akan ikut hancur, bukankah begitu bu?" Jelas namja itu sambil menaikkan sebelah alisnya.

"Tolong bantu aku membawa dia ke kamar no 194"

Ujar namja yang masih menopang tubuh Baekhyun kepada seorang pelayan disana.

Pelayan itu mengangguk dan meraih tubuh mungil Baekhyun dalam gendongan nya. Lalu di ikuti namja tadi mengekori dibelakangnya menuju kamar yang baru saja disebut kan. Senyum licik terpatri diwajah tampan nya.

"Maaf harus melibatkan mu, hanya ini cara untuk menghancurkan nya"

gumam namja itu seorang diri mengiringi langkah ringannya menuju kamar yang akan ia gunakan untuk misi besarnya.

Sehun mengucapkan terimakasih kepada pelayan yang telah membantu nya membawa Baekhyun kedalam kamar. Ia pasti kuat jika hanya membobong tubuh se mungil Baekhyun, tapi itu jika dirinya sedang tidak terluka. Luka tikam diperutnya belum sepenuhnya mengering. Ia tentu saja tidak akan mengambil resiko untuk membuat luka nya semakin lebar bukan?

Sehun menatap tubuh yang tak sadarkan diri itu dengan seringaian licik. Memikirkan betapa malang nya nasib gadis itu. Tapi Sehun tidak merasa kasihan, sama sekali tidak, selama ini dia mendekati Baekhyun bukan karena dia tertarik pada pelacur kakaknya itu. Sehun melakukan nya agar semua lebih menarik.

Pelan-pelan dia menaiki ranjang dimana Baekhyun tertidur, sebelum nya ia sudah memasang kamera yang sudah dipersiapkan nya.

"Mungkin kau akan terkejut setelah melihatnya besok, Baekhyun" ujar nya lirih pada gadis tak sadarkan diri itu.

Sehun mulai melepas semua kancing baju milik gadis itu dengan gerakan cepat. Ia bersumpah akan tergoda oleh tubuh gadis yang sudah dijamah oleh Chanyeol. Sehun masih bisa menahan hasrat nya walaupun seperti manahan nafas didalam air. Sangat sulit.

Akhirnya ia bisa bernafas lega setelah kemeja itu lolos dari tubuh si mungil. Sehun kemudian masuk kedalam selimut juga setelah melepas kaos dan melemparnya asal. Namja itu merengkuh tubuh Baekhyun agar mendekat padanya. Membelai wajah terlelap itu begitu sensual agar terlihat meyakinkan.

Setelah yakin kamera dalam keadaan on, namja itu segera melancarkan aksinya.

Namun diluar kendalinya saat Sehun berhasil menciptakan sebuah tanda keunguan di punggung Baekhyun. Tubuh itu benar-benar wangi.

"Chanyeol mencintai yeoja itu, tetapi dia begitu bodoh untuk menyadarinya, dan dengan mengetahui apa yang telah yeoja itu lakukan maka Chanyeol akan menendang yeoja itu pergi, lalu tiba waktu nya untuk menyesali semua kelakuannya disaat yang sangat terlambat"

Sehun memang tidak begitu dekat dengan kakak nya. Tetapi sepertinya namja yang lebih muda beberapa tahun dari Chanyeol itu lebih memahami siapa Chanyeol yang sebenarnya.

"Dia pasti akan sangat menyesal"

Ibu nya tidak mampu berbicara setelah mendengar semua apa yang putra nya bicarakan. Bagaimana bisa Sehun tumbuh menjadi namja licik seperti itu.

"Oh Sehun bagai ma-"

"Jadi begitu cerita sebenarnya?"

Sehun dan ibu nya pun segera menoleh kesumber suara yang tiba-tiba mengintrupsi pembicaraan mereka. Bukan hanya Sehun yang kaget, bahkan Ibu nya bertubi-tubi lebih kaget.

Disana, tak jauh dari mereka duduk telah berdiri seorang Park Chanyeol dengan kemeja serta jas rapinya. Tapi bukan itu yang membuat mereka terpaku, melainkan aura hitam yang mengelilingi Chanyeol. Mata nya terlihat menyalang, dan tangan nya mengepal sampai buku jarinya memutih. Ibunya tahu, itu bukan pertanda baik.

Sang Ibu mencoba memanggil Chanyeol, sebelum firasat buruk itu jadi

Buagh!

Belum sempat bibir wanita itu berucap, jantungnya sudah dibuat terpacu oleh pemandangan dihadapan nya.

Setelah satu bogem mentah menghantam keras pipi putra bungsunya kini yang lebih tua kembali menerjang tubuh Sehun dan menghajar nya membabi buta.

"BRENGSEK! KAU TAHU APA YANG KAU PERBUAT HAH?"

Buagh!

"AKU BERSUMPAH AKAN MEMBUNUHMU BAJINGAN"

Buagh!

"Chanyeol hentikan!" Teriak satu-satunya wanita disana dengan tangan mencoba menggapai baju Chanyeol agar menyudahi tinju nya. Tapi apa daya dia belum bisa hanya sekedar menyeimbangkan tubuhnya untuk berdiri. Wanita itu kelabakan diatas kursi roda tanpa bisa berbuat apa-apa melihat putra nya berkelahi.

"DIA BAHKAN HAMPIR MATI, SIALAN!"

Semua umpatan kasar terlontar dari bibir Chanyeol, dan oh, jangan lupakan tinjunya yang mematikan itu. Sudah tak terhitung berapa kali bogem itu mendarat di wajah adik nya. Yang jelas sekarang emosinya sudah tak bisa dibendung. Chanyeol tentu saja akan melakukan apapun untuk menuntasakan nya.

Dicengkeram dengat kuat kerah baju Sehun sampai membuat namja itu tercekik. Wajahnya sudah babak belur, pelipisnya pun berdarah begitu juga bibirnya. Chanyeol memang gila, dia tidak akan tanggung-tanggung untuk menyalurkan kekasalan nya dengan pukulan mematikan, terbukti dari Sehun yang sudah tidak berkutik. Si namja yang lebih muda terlihat tak berdaya, dan itu tidak menumbuhkan sedikitpun perasaan kasihan dari diri Chanyeol, dia masih saja menghajar Sehun kesetanan.

Buagh!

"PERGILAH KE NERAKA BRENGSEK!"

Braaak!

Hampir saja satu tinju lagi melayang dari kepalan Chanyeol, sebelum suara tubrukan keras dari belakang punggungnya menghentikan aksinya.

Ibunya jatuh dari kursi roda, wanita itu masih mencoba menggapai-gapai walau mustahil.

"Andwe Chanyeol, kau bisa membunuh adikmu" Ujar wanita itu sekuat tenaganya. Keadaan nya yang masih begitu lemah, sangat tidak memungkinkan nya untuk berdiri. Wanita itu merintih kesakitan, demi menggagalkan anaknya yang akan saling membunuh.

Sedangkan Sehun terkapar begitu saja, setelah Chanyeol melepaskan cengkeraman nya. Ia terbatuk-batuk sebentar. Sehun ingin menghampiri ibunya, tapi ia tak memiliki cukup tenaga.

"uhuk! ... Ibu..."

.

.

.

.

.

"Aku tidak pernah pergi kemanapun selama ini Lu, Aku hanya pergi kuliah, lalu menghabiskan selebihnya waktuku di rumah"

Ujar Baekhyun dibarengi senyuman yang begitu manis saat menoleh kearah sampingnya.

Luhan sedang fokus menyetir, walau sesekali menoleh untuk melihat gadis yang sedang berceloteh disebelahnya. Ia tidak mau mati konyol karena kecelakaan hanya di kerenakan melihat senyuman Baekhyun yang selalu berhasil membuatnya salting.

"Lalu, kau ingin kemana sekarang?"

"Molla, bukankah kau yang mengajakku keluar. Kau saja yang memutuskan"

Luhan mengecheck arlojinya sekilas sebelum menjawab.

"Araseo, kita akan ke Namsan tower, bersiaplah untuk kencan pertama kita"

Balas Luhan dengan senyum lebar, lalu menambah kecepatan laju mobil nya.

Baekhyun tak akan pernah bisa tahu orang seperti apa Luhan itu. Yang ia tahu saat ini tentang Luhan adalah namja yang sangat tulus.

Mencintainya.

Luhan benar-benar menepati kata-katanya. "Aku menyukai mu dengan tulus Baekhyun, Aku tidak akan pernah memperdulikan seperti apa masalalu mu. Ayahku selalu bilang bahwa sebagai lelaki sejati yang mencintai gadis nya, mereka tidak akan pernah meninggalkannya hanya kerana cerita masalalu"

Masih ada sedikit perasaan yang mengganjal dihati Baekhyun, tentang perasaan nya saat ini. Apa tidak terlalu kejam jika ia membiarkan Luhan seolah-olah mencintainya seorang diri. Apakah Baekhyun tidak bisa membalasnya.

"Aaaahhhhh, Ya Ampuuuunnnn! Namsan begitu indah, Aku sangat menyesal melewatkan waktuku sia-sia dirumah selama ini"

Gumam Luhan terlihat sangat gembira. Namja itu merentangkan tangan nya lebar seolah ingin terbang. Mereka baru saja melewati cable car dan telah sampai di Namsan Tower. Satu fakta yang baru saja Baekhyun ketahui, ternyata Luhan takut ketinggian. Alhasil ia menertawai namja itu habis-habisan tadi.

Namja itu menoleh ke kiri kekanan, sebenarnya ia bingung karena ini baru pertama kalinya kemari.

Luhan menoleh kebelakang dimana Baekhyun sedang berjalan mengikutinya. "Kemana kita sekarang?" Tanya Namja itu sambil menggaruk tengkuk nya.

"Jangan tanya padaku, aku tidak tahu apa-apa" Jawab Baekhyun cepat begitu mendapati wajah penuh tanya dari Luhan.

"Mwo? Apa maksudmu Baek?"

Baekhyun menghela nafasnya pelan lalu memilih berjalan didepan Luhan.

"Aku sudah lupa tempat ini, bukankah sudah ku bilang aku tidak pernah kemana-mana lagi selama ini"

Baekhyun tetap berjalan tanpa menggubris Luhan yang sedang berkicau memanggil namanya dari belakang.

"Baekhyun itu apa?" Tunjuk Luhan pada stand penjual makanan yang terlihat lumayan ramai. Nafasnya sedikit tersengal karena mengikuti laju Baekhyun yang sangat cepat, padahal jalanan itu bertingkat dan menanjak tinggi.

Baekhyun mengikuti arah telunjuk Luhan sekilas. "Itu penjual potato twist, kau mau?"

Tawar gadis itu malah terlihat seperti seorang Ibu yang sedang mengajak anak nya jalan-jalan.

Tentu saja Luhan tak akan melewatkannya sedikitpun. Dengan cepat ia mengangguk antusias.

Akhirnya Baekhyun dan Luhan memilih istirahat di stand penjual potato twist. Sepertinya namja itu benar-benar menikmati makanannya. Mereka duduk dibawah pohon yang sebelumnya disediakan kursi untuk pengunjung. Bulan ini sudah mulai memasuki musim gugur langit pun terlihat sedikit mendung. Kurang lebih dua puluh menit mereka disana. Menikmati potato mereka sambil bersenda gurau.

Sebelum mereka beranjak dari sana, masih sempat-sempatnya Luhan mengajak Baekhyun mengambil selca. Awalnya Baekhyun tidak mau, namun akhirnya gadis itu juga tak kuasa menolak.

Gadis itu geleng-geleng mendapati semangat Luhan yang sangat antusias.

Baekhyun lalu menarik tangan Luhan untuk pergi dari sana. Ia sebenarnya juga merindukan Namsan, terakhir kemari ia pergi bersama orang tuanya adalah saat kelulusan Sekolah Dasar. Dan setelah itu, tidak ada kesempatan lagi untuk nya berkunjung kemari. Sampai hari ini.

Diam-diam Luhan tersenyum dalam langkahnya. Saat Baekhyun menggenggam tangan nya begitu erat, telah berhasil membuat jantung nya berpacu. Sepertinya Luhan benar-benar telah jatuh cinta.

Mereka sampai di menara Namsan, Luhan tak henti-hentinya berdecak kagum akan keindahan kota Seoul yang bisa dia lihat darisana. "Aku janji akan lebih sering kemari setelah ini" Gumam namja berparas tampan itu pada dirinya sendiri.

Banyak sekali gembok yang memenuhi pagar menara Namsan. Luhan membeli satu gembok cantik berwarna biru dengan gambar hati putih didalam nya. Sedangkan Baekhyun, tentu saja ia tidak menyukai ide konyol Luhan, tetapi walau begitu ia juga tidak menggagalkan rencana sang namja.

Baekhyun melongok kearah Luhan yang sedang sibuk menulisi gemboknya. Namja itu terlihat serius sekali sampai-sampai mengacuhkan nya.

"Luhan, cepatlah sedikit aku sudah lelah aku ingin pulang" Rengek Baekhyun manja. Membuat Luhan segera tersadar dari aktivitasnya.

"Aku akan segera menyelesaikan nya" Jawab Luhan singkat sambil ia sempatkan mengusak rambut Baekhyun. Tentu saja berhasil membuat gadis itu mempoutkan bibirnya semakin kesal.

"Baekhyun" Panggil Luhan sebentar.

Baekhyun lalu menoleh tanpa menjawabnya.

"Apa benar kita telah pacaran?"

Tetapi mata sipit itu memicing begitu mendengar apa yang Luhan katakan.

Luhan terkekeh lalu menyelesaikan menulis digembok miliknya. Tanpa menunggu jawaban dari gadis di sebelahnya, ia malah memutuskan menjawab pertanyaan nya sendiri. "Tentu saja kau pacarku, karena aku tidak memberimu pilihan untuk menolak"

Namja itu akhirnya beranjak untuk mengunci gemboknya di pagar yang telah disediakan. Tak lupa ia juga menggandeng Baekhyun yang kini terdiam seperti orang bodoh.

"Luhan & Baekhyun, forever!" Ujar Luhan lirih, di iringi kekehan geli dari bibirnya sendiri.

Baekhyun melirik pada gembok yang baru saja Luhan pasang itu. Banyak sekali tulisan digembok itu dan Baekhyun tidak terlalu bisa membacanya. Bukan karena tulisan Luhan yang berantakan, tetapi karena ukuran nya terlalu kecil.

Entahlah, seperti ada sensasi aneh dalam dirinya. Baekhyun memegangi dadanya yang menghangat. Pipinya pun ikut memanas. Aigoo~

Baekhyun tidak menyadari bahwa Luhan kini telah begitu dekat dengan nya. Namja itu menggenggam jemari mungil nya dengan sebelah tangan. Karena yang sebelah nya lagi telah Luhan gunakan untuk menangkup pipi Baekhyun. Gadis itu lalu mengerjap beberapa kali ketika menyadari tangan Luhan sangatlah hangat menyentuh kulitnya.

Ia sudah menjelaskan, menjelaskan semuanya kepada Luhan, bagaimana ia hidup setelah orang tuanya meninggal sampai ia yang yang menjadi gadis pencinta dolar. Baekhyun tidak men skip sedikitpun cerita masalalu nya kepada namja itu. Berharap bahwa Luhan akan jijik kepadanya. Atau melupakan semua apa yang pernah Luhan rasakan padanya.

Tapi pada kenyataannya segigih apapun Baekhyun mencoba lari, Luhan tetap berusaha menangkapnya. Luhan sudah memperlihatkan semua kelembutan padanya, Luhan menerimanya. Dan malah meminta Baekhyun menjadi kekasih nya.

"Apa kau mempercayaiku?"

Baekhyun tak bergeming mendengarnya,

mempercayai?... apa...?

Luhan tahu, bahwa mungkin saat ini Baekhyun masih belum bisa membalas cintanya. Tapi jauh didalam hatinya telah tertanam keyakinan kalau suatu saat nanti dia pasti berhasil memenangkan hati gadis cantik itu.

"Bahwa aku akan menjagamu"

Sorot mata Luhan membuat Baekhyun gila. Baekhyun memejamkan matanya sejenak seolah tak sanggup lagi mendengar.

Dengan gusar namja itu membuka bibirnya. Ia sudah yakin dengan keputusan nya, namun yang menghantuinya adalah penolakan dari gadis itu.

"Bisakah aku minta sesuatu padamu Baek?"

Luhan menarik nafas dalam dan mengumpulkan keberanian nya.

"Pergilah bersama ku, dan tinggalkan namja itu"

Baekhyun tak kuasa menahan matanya yang mulai perih. Bukan ia tidak percaya pada Luhan, itu tidak mungkin. Bahkan orang bodoh pun akan tahu jika semua yang diucapkan Luhan bukanlah bualan. Namja itu tak akan pernah berbohong akan ucapan nya. Tapi Baekhyun takut, bagaimana ia bisa meninggalkan Chanyeol. Sanggupkah dia. Seharus nya ia bisa, tetapi nyatanya sesuatu dalam hatinya seolah mendorongnya untuk menolak.

Tak Baekhyun sadari ia malah menggeleng lirih. Jujur itu bukan pilihan yang mudah baginya. Paling tidak ia harus memikirkan jauh hari. Tapi setiap mengingat Luhan, namja yang begitu tulus menginginkannya selalu berhasil membuatnya hilang arah.

Luhan menahan nafas nya sejenak. Matanya ikut memanas. Jantungnya serasa sesak, seperti tersumpal benda yang menghentikan pernafasan nya.

"Apa kau mencintainya Baek?"

.

.

.

.

.

Baekhyun pulang ke rumah nya, sudah dua hari ia tidak pulang. Dan itu tentu tidak baik baginya. Hal pertama kali yang ia dapati saat memasuki rumah adalah keadaan nya masih berantakan seperti dua hari yang lalu. Baekhyun tersenyum miris melihat semuanya, sekelibat bayangan tentang Chanyeol yang menghajar serta memakinya tempo hari dengan lancang mengusik otak nya.

Dengan pelan ia melangkahkan kaki nya kearah boneka beruang yang masih disana. Baekhyun memungut boneka itu lalu membuka plastiknya. Di usap nya boneka itu lembut, matanya kembali memanas. Apakah mungkin boneka itu akan Chanyeol berikan pada nya. Jika iya, apakah maksud dari semua itu.

Baekhyun merasa jantungnya sangat sesak. Kenapa semua harus terjadi dihari yang sama. Foto itu, ia sangat yakin jika Sehun telah menjebak nya. Tapi untuk apa?

Agar Chanyeol menghajarnya?

Oh Tuhan, Baekhyun baru menyadari kebodohan nya. Sehun yang selalu mengganggu dan mengetahui rahasia tentang nya. Lalu foto itu, jadi Sehun mengenal Chanyeol?

Tapi ia tidak perduli, semu sudah terlambat. Menyesalpun tak akan ada gunanya.

Baekhyun beranjak menuju kamarnya. Apa selama dua hari ini Chanyeol tak mencarinya? Apa namja itu masih marah padanya?.

Ya, Ampun apa yang kau pikirkan Baekhyun. Apa perduli mu jika Chanyeol marah.

babo!

Luhan... Nama itu kembali menghampirinya.

Kenapa rasanya sangat sulit untuk menyetujui permintaan Luhan, benarkah... 'Aku mencintai Chanyeol' Gumam Baekhyun lirih. Seolah meminta jawaban dari hatinya sendiri. Dan selanjutnya Baekhyun tertawa seperti orang bodoh. Ternyata benar, gadis itu telah jatuh cinta. Tetapi kenapa harus kepada orang yang salah?

Banyangan itu melintas diotak nya. Dimana pertama kali ia bertemu Chanyeol. Saat itu Baekhyun tengah melarikan diri dari kepungan orang-orang jahat yang berusaha menangkapnya untuk menjual nya ke Luar Negeri.

Baekhyun tidak habis pikir dengan adik dari Ayah nya. Mereka bahkan telah menendangnya dari rumahnya sendiri hingga Baekhyun menjadi gelandangan. Namun nyatanya paman dan bibinya masih belum puas membuatnya menderita. Bahkan dengan tega mereka menyuruh seseorang untuk menculik dan menjual Baekhyun agar pergi sejauh mungkin.

Saat itu ia tak sengaja bertemu Chanyeol, namja itu menolongnya seperti pahlawan. Baekhyun tak terlalu mengingat bagaimana Chanyeol menghajar semua orang suruhan paman nya hingga terkapar tak berdaya. Yang tidak akan ia lupakan adalah ketika Chanyeol menghampirinya yang meringkuk ketakutan dengan wajah sangat menangkan.

Baekhyun mengira bahwa Chanyeol tulus menolong nya. Tapi tak ia sangka namja itu ternyata sangat menakutkan. Chanyeol membawa nya kerumah yang sangat besar, dan Baekhyun yakin rumah itu adalah milik namja itu.

Chanyeol menampung nya semalam, sebelum namja itu mengusirnya secara halus.

"Aku tidak mungkin menampung mu lebih lama disini" Ujar namja itu sambil menyalakan rokok dengan pematik yang baru saja ia ambil dari atas nakas.

Chanyeol mendekati Baekhyun yang duduk dengan takut-takut. "Tapi akan lain lagi ceritanya jika kau mau menerima tawaran ku"

Baekhyun segera mendongak dengan tatapan waspada. Dia tidak menyangka jika namja itu menolongnya karena menginginkan imbalan.

"Menjadi teman tidurku, kau mau?"

Baekhyun pikir jika saat itu Chanyeol memang memanfaatkan keadaan nya yang hancur untuk keinginan bejatnya. Tapi bukankah ia juga tak kalah bejat, dengan menyetujui tawaran itu.

Cukup untuk semalam Baekhyun berpikir atas tawaran Chanyeol, Ia putus asa dan tidak tahu apa yang harus ia lakukan nanti. Hingga keesokan harinya Baekhyun mendapati dirinya benar-benar telah kehilangan keperawanannya.

Baekhyun merebahkan tubuhnya ke atas ranjang. Kepalanya pusing, sepertinya hari ini ia terlalu banyak berpikir. Sudah larut malam, mungkin sudah waktunya ia tidur. Setidaknya rumahnya yang berantakan akan ia bersihkan esok hari. Sekarang Baekhyun sungguh merasa lelah.

Belum berapa lama ia berbaring, Baekhyun merasakan ranjangnya bergoyang, baru saja ia akan memejamkan matanya akhirnya ia urungkan. Mata sipit itu terbuka lagi, dengan pencahayaan minim, Baekhyun mengira ia sudah tertidur, atau mungkin mengigau. Samar-samar ia melihat siluet namja yang begitu dikenalnya sedang berbaring dihadapan nya. Entah lah, karena Baekhyun yang terlalu mengantuk atau apa. Gadis itu mulai memejamkan matanya lagi. Ia rasa akhir-akhir ini terlalu banyak bermimpi.

Tapi sentuhan itu bukan mimpi. Secepat kilat Baekhyun membuka matanya lagi. Dan benar saja, dihadapan nya itu adalah Chanyeol.

Chanyeol tersenyum masam menyadari wajah kaget Baekhyun karena melihatnya. Dia bahkan tersentak kecil. Gurat ketakutan samar-samar terbingkai di wajah cantik itu dan Chanyeol menangkapnya. Seakan tak ingin membuat Baekhyun semakin ketakutan, dengan pelan Chanyeol merayap semakin mendekat. Tangan nya terulur untuk membelai pipi Baekhyun, sekedar memberitahu gadis itu bahwa ia tak akan melukainya.

Baekhyun tidak bergerak atau menghindar sedikitpun, matanya bergerak resah kekiri dan kekanan. Seperti terserang stroke mendadak. Baekhyun merasakan seluruh tubuhnya lumpuh.

Chanyeol semakin mendekat hingga yakin tak ada jarak sedikitpun diantara mereka. Kedua bibir itu bertemu dan mengecap lembut milik gadis yang masih termangu diam. Chanyeol ingin Baekhyun nya, sekarang.

Ciuman itu semakin panas, tak terhitung sudah berapa lama mereka saling melumat satu sama lain. Gairah sudah menjalar ketubuh Chanyeol dan merasuki saraf nya. Niat nya ingin memperlakukan Baekhyun lembut kandas begitu saja setelah mendengar desah sexy dari bibir gadis di bawahnya. Ia hanya perlu menuntaskan keinginan nya detik ini juga.

Tanpa melepas ciuman nya, Chanyeol mulai melucuti semua pakaian Baekhyun. Membelai tubuh itu sensual dari detail terkecil yang selalu berhasil membangkitkan gelenyar panas dalam tubuh. shit! Chanyeol merasa celananya menyempit.

Baekhyun diam bukan karena ia menerima semua ini. Dia gigit kuat-kuat bibirnya agar tak membuahkan sedikitpun desahan untuk Chanyeol yang sedang mencumbunya. Jika bisa Baekhyun menolak, maka ia akan menolak.

Jantungnya terasa sesak setelah menyadari bahwa ia mencium bau alkohol, namja diatasnya sedang mabuk. Selalu seperti itu, Chanyeol memang tidak pernah menyentuhnya dengan perasaan. Namja itu hanya menginginkan nya atas dasar penyaluran hasratnya semata.

Dan itu membuat Baekhyun semakin merasa nyeri dihatinya. Bukankah seharusnya ia sudah menyadari itu dari dulu.

Baekhyun bodoh!

Dulu Baekhyun tak akan seragu ini menyerahkan tubuhnya kepada Chanyeol, dengan suka rela pasti akan ia berikan apapun sebisa nya untuk memuaskan hasrat namja itu, tapi kini setelah ia tahu bahwa ada namja lain yang lebih menginginkan dirinya tanpa pernah melukainya sedikitpun, telah berhasil membuatnya gusar.

Chanyeol berhasil menanggalkan semua kain yang menutupi tubuhnya. Seketika itu juga hawa dingin langsung menyerbunya. Baekhyun hanya bisa memejamkan matanya menerima semua perlakuan Chanyeol pada nya.

Tangan lebar itu membelai halus dada gadis dibawahnya. Bisa Chanyeol rasakan gerakan gelisah dari Baekhyun, ia tahu gadis itu pasti sedang menggelinjang tak karuan karena cumbuan panas nya pada buah dada itu. Chanyeol menjilat puting sebelah kiri itu dengan lidah basah nya. Lalu meremas pelan dada sebelah kanan nya.

Chanyeol mendongak untuk melihat gadis nya sekilas. Lalu menuruti instingnya melanjutkan kecupan basah diseluruh tubuh gadis itu. Chanyeol memang mabuk, namun ia tak pernah kehilangan akal sehatnya, saat ia menyentuh Baekhyun, dia selalu melakukan nya sepenuh hati. Walau jujur dorongan sexual nya memang meninggi jika tubuh itu adalah milik Baekhyun.

Ciuman nya turun semakin kebawah menuju kewanitaan Baekhyun. Chanyeol membuka belahan pada itu dan tanpa membuang waktu lagi langsung membenamkan kepalanya disana.

"Ssshhh..." Baekhyun menjambak sprei kasur nya acak. Desahannya lolos tanpa kontrol. Baekhyun mencengkeram apapun untuk pelampiasan nya.

Chanyeol mengecap semakin dalam dan basah. Bisa ia rasakan bahwa gadis dibawahnya bergerak resah menandai jika cairan milik Baekhyun mulai mengalir dari liang kewanitaan indah itu. Orgasme pertama yang menakjubkan.

Kembali ia merangkak untuk mempertemukan bibirnya dengan milik Baekhyun. Sambil mengeluarkan penisnya dari dalam celana, Chanyeol segera memasukkan benda kebanggaannya pada vagina Baekhyun yang sudah sangat basah. Tidak ada alasan untuknya mengundur waktu. Penis nya sudah menegang sempurna bahkan tanpa sentuhan sedikitpun dari Baekhyun.

Ia angkat tubuh Baekhyun agar bangun dari posisinya. Membuat penyatuan mereka semakin intim. Baekhyun memeluk lengan Chanyeol yang memangkunya, ia mengikuti semua gerakan Chanyeol hingga gesekan penis dan kewanitaan nya semakin dalam.

Sudah tak terhitung berapa kali Baekhyun orgasme, mereka sudah melakukan nya kurang lebih dua jam. Waktu yang terbilang panjang dari biasanya. Baekhyun juga tidak tahu bahwa sekarang ia masih bertahan walau nafasnya sudah terasa sangat pendek. Chanyeol melakukan nya lebih dari sekali tetapi tidak ada kekasaran sedikitpun, sensasi aneh yang membuat Baekhyun terbuai untuk sesaat. Malam itu Chanyeol memperlakukan nya begitu lembut hingga membuatnya melambung tinggi.

Chanyeol mempercepat genjotan penisnya pada kewanitaan Baekhyun ketika merasa ia akan segera sampai. Itu akan menjadi orgasme nya yang ketiga kali. Menandai betapa bergairahnya ia malam ini.

Tangannya juga tidak tinggal diam, sedari tadi terus meremas dada Baekhyun tanpa henti. Tanda keunguan yang barus saja ia ciptakan payudara ranum itu memompa nafsu nya semakin membara.

Chanyoel tersengal menghadapi detik-detik puncaknya. Kejantanan nya semakin terjepit erat oleh vagina Baekhyun. Gadis itu tengah mengerang gila.

"AAAaaaaaarrgggghh..."

Akhirnya mereka menggapai puncak orgasme nya dan mengerang bersama.

Sperma Chanyeol meluber begitu banyak, sampai-sampai kewanitaan Baekhyun tak mampu menampungnya.

Dengan deru nafas yang masih memburu saat Chanyeol telah ambruk disebelah Baekhyun. Sepertinya namja itu begitu puas dengan orgasme terakhirnya.

Mereka lalu memejamkan matanya untuk menuju kealam mimpi. Baekhyun kira Chanyeol tertidur, karena mata bulat itu telah terpejam damai. Mereka tidur saling menghadap satu sama lain. Baekhyun menyusuri wajah Chanyeol lamat-lamat, lalu tanpa sadar air mata mengalir dari pelupuk mata sipitnya. Baekhyun menangis dalam diam. Rasa remuk tubuhnya tidak sebanding dengan sakit hatinya, ternyata selama ini ia memang telah menyukai namja dihadapan nya itu. Tapi ia tahu Chanyeol adalah manusia yang tak akan pernah membalas perasaannya.

"Betapa bodohnya kau Baekhyun!"

Untuk kesekian kalinya Baekhyun kembali menertawai dirinya sendiri.

.

.

.

.

.

Pagi hari itu Chanyeol terbangun dari tidurnya, kepalanya sedikit akibat pengaruh alkohol. Kemudian ia baru ingat bahwa semalam ia pulang kerumah Baekhyun dan

bercinta.

Setelah sadar apa yang telah ia lakukan semalam Chanyeol segera menoleh sisi ranjang sebelahnya. Baekhyun tidak ada disana.

Apa yang Baekhyun lakukan pagi buta begini. Kemana perginya gadis itu.

Chanyeol meraih boxer dan celana panjang nya dan segera memakainya. Bukankah semalam ia kemari untuk minta maaf, tetapi salahkan hasrat nya yang tak terbendung itu hingga membatalkan niatnya.

Chanyeol hendak mencari Baekhyun keluar jika saja ia tak menemukan hal yang mengusik penglihatan nya.

Ia menyatukan alisnya penasaran lalu menghampiri nakas.

Saat itu juga bagai serangan jantung mendadak bagi Chanyeol ketika matanya menangkap barang-barang di atas nakas kamar itu. Chanyeol menarik secarik kertas disana.

Aku mengembalikan semua barang-barangmu, terimakasih sudah menampung ku selama ini.

Hanya sepenggal kalimat sederhana itu berhasil menghantam jantung Chanyeol. Antara perasaan marah dan tak percaya Chanyeol meremas kertas tak berdosa itu sampai lusuh. Matanya teralihkan pada semua benda yang berada di meja sebelah nya. Kunci rumah, kunci mobil dan beberapa kartu kredit serta buku tabungan yang ia yakini milik Baekhyun berjejer disana.

Chanyeol menggeram, ia tidak percaya ini. Tidak percaya jika Baekhyun akan benar-benar pergi, bahkan tanpa membawa apapun.

Dengan dikuasai amarah Chanyeol membuka semua laci dan lemari didalam kamar itu. Chanyeol mengacak-acak semua barang-barang yang berada didalam nya seperti orang gila. Semua utuh, tidak ada barang satupun yang Baekhyun bawa.

"AAAaaaaarrrgghhh..."

Namja itu memberantaki semua baju Baekhyun hingga berceceran kelantai semua. Tubuhnya terjatuh begitu saja kelantai mendapati kenyataan itu memang nyata. Baekhyun benar-benar pergi. Chanyeol mengacak rambutnya frustasi, entah kenapa tiba-tiba matanya memanas. Menangis? itu sama sekali bukan gayanya. Apa ia menangis hanya karena ditinggal oleh pelacur kecil nya? konyol, Chanyeol merasa dirinya begitu konyol, ia menertawai dirinya yang terlihat bodoh. Jadi yang dikatakan Sehun itu benar, bahwa ia memang memiliki rasa pada gadis mungil itu.

Seolah merasa tertampar telak kini jika dia mengakuinya.

Chanyeol mengernyit lagi ketika melihat sebuah kotak berwarna merah muda jatuh disebelahnya. Dia tidak pernah melihat benda itu sebelum nya, karena seingatnya ia tak pernah memberi Baekhyun hadiah dengan bungkus berwarna terang itu. Dengan diliputi rasa penasaran akhirnya Chanyeol meraih kotak itu dan membukanya perlahan.

Sebuah harmonika, dan benda apa itu.

Chanyeol menatap bingung benda yang bolong ditengahnya itu dengan seksama. Ia tahu bahwa itu adalah tutup kaleng soda.

Tiba-tibanya matanya terbeliak sempurna. Kepalanya teringat sesuatu dimasa lalu nya.

"Oppa, mau kemana?"

Tanya gadis kecil dengan bandana imut yang bertengger manis diatas rambut halus nya. Wajahnya sangat ingin tahu begitu mendapati teman kecil yang selama ini menemaninya bermain terlihat mau pergi.

"Aku minta maaf Baekki, Oppa akan pergi. Oppa tidak tinggal disini lagi"

Jawab bocah laki-laki itu sambil menampilkan wajah muram dan menyesal. Pasalnya sebelumnya ia sudah pernah berjanji bahwa akan menjaga gadis bernama Baekki itu sampai kapan pun. Dan hari ini ia akan mengingkari janjinya karena Ayah nya mengajak pindah ke Luar Negeri.

Gadis kecil itu menjatuhkan air matanya. Tidak berani terisak tetapi bulir-bulir kristal itu begitu deras menetes.

"Maafkan Oppa Baekki" Si bocah laki-laki mendekat dan memeluk erat si gadis kecil. Mengelus kepalanya sayang, dia tahu pasti Baekki tentu sangat sedih, atau bahkan marah padanya.

Akhirnya isakan gadis itu lolos juga. Ia ingin marah kepada Oppanya karena mengingkari janji untuk menjaganya, namun Ia tak punya keberanian.

"Hiks... Oppa jahat" Isak Baekki semakin kencang. Selama ini ia hanya memiliki bocah laki-laki itu sebagai teman nya. Bahkan mereka baru bersama dalam kurun waktu kurang 2 bulan, dan kini Oppa nya bilang akan meninggalkan nya. Hati anak kecil mana yang tidak akan sedih.

"Maaf kan Oppa Baekki" Ucap bocah itu lagi-lagi semakin terlihat menyesal. Dengan gerakan cepat ia menghapus air mata yang masih mengalir di pipi bulat sahabat manisnya itu, tapi percuma air matanya tetap menetes.

Bocah kecil itu mengambil sesuatu dari saku celananya. Meraih tangan si gadis dan memasangkan sesuatu dijemari mungil itu.

Baekki mengerjap beberapa kali lalu mengamati benda yang tersemat di jari tengahnya. Hidungnya memerah karena menangis. "Ini apa?" Tanya Baekki masih sesenggukan.

Benda itu adalah sebuah tutup kaleng cola.

"Oppa berjanji kepada Baekki, nanti kalau Oppa besar Oppa akan mengganti itu dengan cincin sungguhan. Oppa akan mencari Baekki kembali dan akan menikahi Baekki"

Merasa masih tidak percaya dengan perkiraannya Chanyeol segera meraih harmonika yang masih berada di dalam kotak itu.

Chanyeol ternganga melihat ukiran nama di badan harmonika itu.

My Princess Baekki

"tidak mungkin" Chanyeol menggeleng tak percaya dengan apa yang ia temukan.

"I-ini..."

Perlu diketahui bahwa selama ini Chanyeol tidak pernah melupakan janjinya pada bocah bernama Baekki itu. Walau kerap kali ia merasa konyol dengan dirinya, tapi jauh dalam hatinya Chanyeol ingin bertemu dengan bocah kecil dimasa lalunya suatu hari nanti.

Dan tanpa ia ketahui bahwa orang yang paling ingin ia temui ada di sekitarnya, dekat sekali malahan. Tapi saat ia tahu, semua sudah terlambat. Chanyeol lemas seketika, lututnya terasa lembek seperti jelly.

"Baekhyun adalah Baekki ku" gumam nya lirih.

Baru Chanyeol sadar jika ia tidak bisa membuang banyak waktu untuk berdiam. Chanyeol beranjak dari sana. Ia yakin, Baekhyun pasti belum pergi jauh. Alhasil setelah ia memakai jacket yang ia temukan disana segera ia memakainya dengan tergesa.

"Aku pasti menemukan mu Baekki"

.

.

.

.

.

.

4 Years Later...

Uyonhi chajane

Nalgeuntae ibsogui norael deureoso

Chonseuran banjue gasadu eobjiman

Neon aicheoreom gibbohae-sseotji

Jinsimi damgyeoseo

Naui mami

Dajeonhae jindamyeo

Gakkeum neungeol georimyeo

Nunmureul nulligido haetji

Oraedoen teibsoge

Geudaeui naega

Chambureowoseo geuriwoseo

Uldaga utdaga

Geujeo hanyeo-meobsji inorae deudgoman itkedwae

Babocheoreom

(Old Song, Baekhyun ver)

Baekhyun menoleh kebelakang begitu mendengar suara tepuk tangan heboh dari gadis cilik yang kini sedang berada di gendongan seorang namja tampan berpakaian rapi. Kedua orang yang sangat berarti di hidupnya.

Bocah cilik itu tersenyum lebar begitu juga namja yang sedang menggendongnya. Melihat Baekhyun menghentikan aktivitasnya. Akhirnya Namja tampan itu menurunkan si gadis cilik yang sedari tadi tidak bisa diam itu untuk menghampiri Baekhyun.

Sambil berlari gadis cilik itu menenteng sebuah boneka beruang lucu dalam dekapan nya.

"Ma Maaaa...!"

"Bing bing"

BERSAMBUNG dulu...

see you next chap yosh? *wink*

Bye~