Sex(y) Love

Main cast : Baekhyun And Find by yourself

Genre : Romance & Drama

Rate : M

WARNING! : NO CHILD

Cerita mengandung unsur dewasa, bagi yang belum cukup umur mohon pikir (minimal 3kali) dahulu sebelum membaca /nahlo/ BENERAN CIYUSSS, SAYA WARN KALIAN!

Judul mungkin gak nyambung sama cerita.

Typo(s) everywhere

Fanfic : GENDERSWITCH (DON'T LIKE DON'T READ) TIDAK MENERIMA BASHING!

Disclamer : Semua cast milik Tuhan dan Keluarganya

Summary

Baekhyun tidak bisa dipanggil dengan sebutan gadis baik-baik. Karena tidak ada gadis baik-baik di dunia ini yang rela membiarkan tubuh nya di jamah oleh orang lain dengan imbalan Dollar.

...

Note : CHAP INI LEBIH PANJANG !

...

Sex(y) Love

...

"Apa yang sedang Bing bing lakukan?"

Tanya Baekhyun begitu memasuki kamarnya. Yeoja itu meletakkan tasnya di atas nakas lalu menguncir rambutnya asal-asalan. Huh, Beijing sungguh panas hari ini. Dan dia baru saja pulang dari kelas mengajar musik. Perlu diketahui bahwa sekarang ini Baekhyun adalah seorang guru musik sekaligus vocal di sebuah perusahaan Entertaint terkenal di Beijing. Karena hari ini adalah sabtu, jadi Baekhyun hanya mengejar setengah hari.

Rasa lelah tentu saja ada, tapi semua terbayarkan begitu mendapati anak serta suami tercintanya datang untuk menjemputnya pulang.

Sang suami sedang sibuk melepas dasinya yang masih mengalung di leher, sepertinya jika di katakan siapa yang lelah disini, bukan hanya Baekhyun saja tentunya, malahan bisa dibilang namja itu terlihat lebih lelah.

"Bing bing sedang menggambar, kau tahu setelah memenangkan lomba menggambar di sekolahannya tadi dia menjadi semangat sekali"

Jawab suaminya sambil tersenyum.

Setelah dasi serta kemejanya lepas dan hanya menyisakan kaos berwarna merah yang sangat cocok di tubuhnya, namja itu segera menarik lengan Baekhyun hingga jatuh ke pangkuannya.

Untuk sedetik Baekhyun cukup kaget, tapi tak berapa lama yeoja itu ikut tersenyum ketika sang suami memeluknya. Bukan hanya memeluk tetapi mulai mengendus tubuhnya.

"Baekhyun ah, aku sangat merindukanmu," Tutur namja yang memangkunya itu manja, dan semakin menenggelamkan kepalanya di ceruk leher sang istri.

Baekhyun tidak bisa untuk tidak terkekeh. "Aku tahu, lalu apa yang sudah kau janjikan pada Bing bing?"

"Aku akan mengajaknya membeli es krim setelah ini"

Baekhyun melotot begitu mendengar jawaban singkat itu. Setelah bibirnya di kecup sekilas oleh suaminya, Baekhyun segera protes.

"Ya! Luhan, apa kau tidak lelah? kau baru saja pulang dari Nanjing, kenapa tidak mengajaknya lain kali saja?" Omel Baekhyun sambil memperlihatkan wajah galaknya.

Baekhyun benar, Luhan baru saja pulang dari perjalanan bisnisnya ke Nanjing selama tiga hari, tapi tadi masih namja itu sempatkan menjemput anaknya kesekolah lalu ke tempat kerja Baekhyun.

Dan apa lagi ini, mengajak Bing bing makan es krim itu artinya mereka akan seharian berkeliling Mall.

"Emh wae? kau lelah? kau bisa istirahat yeobo"

"Bukan aku, tapi kau!" Balas Baekhyun semakin kesal. Benar-benar Luhan adalah namja super aneh di matanya.

"Aku tidak akan lelah, apapun jika itu untuk anakku..."

Sambil mengerling genit.

"dan juga kau"

Tidak ingin membangkitkan jiwa ibu-ibunya Baekhyun sekarang. Detik itu juga Luhan segera membungkam bibir istrinya dengan ciuman yang dalam. Ia tahu, Baekhyun itu sangat cerewet, sangat-sangat cerewet malahan. Tetapi dia juga punya penangkal yang ampuh.

Baekhyun akhirnya menghela nafas dalam hati. Ia memilih membalas ciuman panas suaminya, Luhan selalu memperlakukannya lembut seperti ketika tangan nakal yang sedang menangkup dadanya. Tangan itu bergerak pelan membuat Baekhyun semakin memejamkan matanya, Luhan masih setia membelainya dengan lembut dan sensual. Tanpa sedikitpun menyakitinya.

Baekhyun pernah dengan iseng bertanya kepadanya, kenapa Luhan tidak pernah meremas dadanya, dan Luhan menjawabnya sambil tersenyum idiot 'aku tidak tega melakukannya'.

Luhan tentu tidak sepolos yang kalian pikirkan, oh ayolah mana ada namja yang hampir berumur 25 tahun masih memiliki otak polos. Apa lagi jika dia memiliki istri sexy dan menggoda seperti Baekhyun.

Sungguh demi Tuhan, berapa lama pun mereka tinggal bersama. Luhan akan selalu memperlakukan Baekhyun seperti tuan putri.

Luhan mungkin akan kehilangan akalnya sebentar lagi, terlebih saat lengan istrinya sudah mengalung indah di lehernya. Memeluknya begitu mesra. Ia memiringkan kepalanya berlawanan arah dengan Baekhyun, bermaksud mencari akses agar pagutan itu semakin dalam dan liar, sebelum...

"Papa.!"

Suara bocah cilik yang sangat familiar memanggilnya dan mengacaukan semuanya.

Luhan segera tersadar begitu mendengar suara putrinya memanggil, dengan tergesa ia menjauhkan kepalanya dari Baekhyun. Dan hal yang pertama kali dilihatnya adalah.

Anaknya berdiri di depan kamar mereka sedang menatap polos pada apa yang baru saja dia dan istrinya lakukan. Oh Damn!

Luhan beranjak dari atas ranjang, yang sebelumnya menyuruh Baekhyun untuk turun dari pangkuannya. Dan segera menghampiri anaknya yang masih menatapnya dengan mata melebar. Ya Tuhan, Luhan tidak boleh meracuni otak polos anaknya.

"Hai, Xiao Bing, sudah selesai menggambarnya?" Tanya Luhan sambil mensejajarkan tubuhnya pada tinggi badan putrinya. Terlihat sekali betapa kikuknya dia.

Yang ditanyai hanya mengangguk sebagai jawaban, tetapi mata itu masih mengamati wajah tampan ayah serta ibunya bergantian.

Wajah kedua manusia dewasa itu tengah merona karena malu. Tapi Bing bing tak tahu artinya.

"Baiklah, kajja kita berangkat sekarang" Ajak Luhan lagi, sambil meraih putrinya ke dalam gendongan.

Sebelumnya ia sempatkan menoleh kearah belakang, dimana Baekhyun yang masih memerah sempurna. "Baek, kau jadi ikut?" Tawar Luhan begitu saja.

Sama seperti Bing bing, yeoja itu juga hanya membalas pertanyaan Luhan dengan anggukan singkat.

"Baiklah, kami tunggu di mobil"

Ujar Luhan sebelum benar-benar pergi menuju garasi membiarkan Baekhyun bersiap-siap sebentar.


"Park Chanyeol, sampai kapan kau akan disini?"

Satu lagi kegiatan yang berhasil memancing emosi sahabatnya siang itu.

Park Chanyeol, siapa yang tidak kenal pasien keras kepala yang serig keluar masuk Rumah sakit itu.

"Sampai itu habis" Jawab Chanyeol santai sambil menolehkan kepalanya ke kursi sebelah nya, dimana telah ia letakkan sebungkus rokok yang mungkin masih tersisa 3 batang.

Kris, atau yang biasa disapa Dokter Wu itu menggeram kesal. Lama-lama ia akan berang juga menghadapi pasien plus sahabatnya yang bebal itu, jika stok kesabaran nya sudah habis bisa dipastikan Chanyeol tidak akan bisa tertawa lagi besok.

"Seharusnya aku mendengarkan Ayahku 4tahun yang lalu, agar aku menyeretmu kemeja operasi saat itu juga,"

Balas Kris terlihat begitu kesal, sungguh menghadapi Chanyeol itu seperti berbicara kepada orang tuli. Mau melihat nya tapi tidak mau mendengar.

"Kau kira aku tidak bisa melawan mu Dokter Wu? Kau kira aku lemah?" Balas Chanyeol tak mau kalah.

Kris mengamati Chanyeol dari atas kebawah, tetapi wajahnya sarat akan ejekan.

"Jika dilihat kau memang tidak selemah yang aku pikirkan, jadi tidak ada pilihan. Maka aku harus membiusmu terlebih dahulu."

Chanyeol terkekeh geli, namun tak menghentikan aktivitasnya sedikitpun.

"Sudahlah Dokter Wu, jangan pikirkan aku, kembalilah ketempatmu. Jam makan siangmu hampir usai."

Mencoba mengusir Dokter pribadinya itu agar berhenti mengoceh. Apa lagi jika sudah membicarakan 4 tahun yang lalu. Sungguh demi apapun Chanyeol tidak akan pernah mau mengungkit-ungkit hal yang menyangkut kejadian 4tahun lalu, karena setelah hari dimana 4tahun lalu itulah petaka terjadi.

Kris berdecak lagi. "Apa kau bukan manusia? Jika kau tahu ini jam makan siang bukankah seharusnya kau juga pergi makan?"

"Apa kau tidak lihat aku sedang makan?"

"Apa?"

Kali ini Chanyeol yang berdecak. Memilih mengacuhkan Kris dan menghisap putung rokoknya yang masih panjang.

"Maksudmu dengan makan adalah ini? Memakan asap maksudmu?"

Tanya Kris yang sudah kesal setengah mati.

Chanyeol memutar bola matanya malas melihat Kris yang tengah mengangkat bungkus rokoknya sambil melotot.

"Ini enak kau tahu, cobalah aku yakin kau akan suka."

"Kupikir kau bukan hanya mengidap sakit secara medis, tetapi kau juga ada gangguan kejiawaan Park Chanyeol,"

Jawab Kris sarkatis.

"Dan tidak terimakasih, aku masih menyayangi kesehatanku, aku masih menyukai nasi dan masakan istriku."

"Ya sudah" Jawab Chanyeol sekenanya.

Namja berjubah putih itu sudah mengeluarkan aura tak baik. Wajah nya memarah karena menahan dongkol. Akhirnya Kris menghembuskan nafasnya berkali-kali agar tidak tersulut oleh sifat bebal Chanyeol, Kris mencoba menenangkan dirinya.

Setelah berhasil merebut rokok yang berada ditangan Chanyeol, Kris segera menginjak nya sampai mati. Tidak hanya itu Kris juga membuang rokok yang masih ada dibungkusnya pada tempat sampah disebelah pohon taman itu. Lalu melenggang pergi begitu saja tanpa mempedulikan Chanyeol yang tengah mengumpatnya.

"Ya! Kris Wu sialan kau!"

.

.

.

Kris berjalan tergesa menuju ruang kerjanya. Dari dulu sampai sekarang mengurus Chanyeol itu adalah yang terberat lebih dari apapun. Jika saja bukan karena rasa solidaritas dan persahabatannya mungkin Kris akan menyerah jauh-jauh hari.

Namja itu dibuat berdecak lagi ketika menoleh kebelakang dimana Chanyeol masih berada.

"Benar-benar orang itu" Geramnya seorang diri, bagaimana tidak bertambah kesal jika mendapati Chanyeol yang kini sedang menyalakan pematik pada rokoknya lagi.

Dan bagaimana bisa?

Hampir saja ia berbalik lagi dan benar-benar akan menyuntikkan anestesi pada si bebal itu, jika suara yeojanya tak segera menegur.

"Wu fan!"

Panggil yeoja manis yang juga memakai pakaian dokter sama sepertinya.

Kris menoleh kearah yeoja itu. Istrinya.

"Yixing, ada apa?"

"Aku mencarimu ke ruanganmu dan kata asistenmu kau sedang mengurus Chanyeol, apa lagi yang dilakukan bocah nekat itu?"

Tanya Yixing dengan wajang lembutnya yang kini terlihat sangat penasaran.

Kris tak kunjung menjawab, tetapi malah memberi tahu istrinya apa yang terjadi dengan menunjukan dimana Chanyeol sedang duduk.

"Astaga! Jangan bilang kalau namja itu kumat lagi," Ucap Yixing sambil membeliakkan matanya.

"Dia memang kumat,"

Balas Kris terlihat begitu jengkel.

Yixing tersenyum geli, Chanyeol memang selalu berulah dan sering membuat suaminya sakit kepala. Tetapi Yixing harus bangga dengan suaminya itu. Karena Kris masih bisa bertahan menghadapi namja berkepala batu seperti Chanyeol sajauh ini.

Sebenarnya Chanyeol selalu menolak untuk dirawat di rumah sakit, kalau saja kemarin Kris tidak mendapati namja bebal itu pingsan di rumahnya. Entah apa yang sudah dilakukan Chanyeol hingga membuatnya kelelahan. Saat bertanya kepada Sehun pun, baik Yixing maupun Kris tak mendapat jawaban.

"Dan aku hampir menyerah mengurusnya," Lanjut Kris setengah mendesah disela-sela wajah kesalnya.

Terdengar helaan nafas berat dari namja tinggi yang sudah dinikahinya selama hampir 2 tahun itu.

Yixing mendekati Kris dan merangkul lengannya. Memberi dukungan dengan senyum terbaiknya "Jangan begitu Kris, Chanyeol masih bisa bertahan selama ini karenamu. Aku tidak akan bisa bayangkan jika kau tidak mau membantunya lagi"

Mendengar jawaban istrinya, sakali lagi Kris mencoba menekan egonya dalam-dalam. Istrinya benar, jika bukan karenanya yang begitu gigih mengobati Chanyeol mungkin namja di taman itu sudah mati.

"Tapi Yixing, operasi tidak menjamin bahwa Chanyeol akan bertahan lebih lama."

Kris menoleh lagi kearah Chanyeol yang sama sekali tidak terlihat seperti orang sakit. Atau karena namja itu telah mati rasa.

"Walau Chanyeol di operasi berkali-kali pun itu juga hanya untuk menyelamatkan nyawanya sementara. Bukan menyembuhkannya secara total"

Yixing juga tahu itu.

"Yang penting kau sudah berusaha semampumu. Chanyeol adalah sahabat kita dan sekarang hanya kita yang bisa menolongnya"

"Sel kanker itu sudah hampir menggerogoti seluruh hatinya, dan bodohnya Chanyeol masih tidak bisa di cegah untuk berhenti menghisap zat adictif itu. Aku rasa ini semua karena yeoja it.u"

Kris mengusap wajahnya kasar. Melihat keadaan Chanyeol yang terpuruk 4 tahun lalu benar-benar membuatnya miris. Ia rasa Tuhan memang sedang menghukum Chanyeol waktu itu, belum lama seteleh yeoja yang sempat menggegerkan kewarasan Chanyeol itu pergi, Ibu nya juga meninggal di bulan yang sama. Kasus yang sama, karena Ibu Chanyeol juga mengidap kanker hati stadium akhir dan tidak ada pertolongan yang berarti untuk menyelamatkan nyawa ibu dari dua anak itu.

"Itu bukan salah Baekhyun, Wu Yi Fan, kenapa kau menyalahkan yeoja manis itu. Jika aku boleh menebak semua itu juga kerana salah Chanyeol" balas Yixing setengah membentak.

"Hah, mungkin jika kita bisa menemukan Baekhyun, Chanyeol bisa diselamatkan" Imbuh Yixing, tiba-tiba wajahnya ikut-ikutan terlihat lesu.

"Aku takut kita akan terlambat Yixing-ah."


"Xiao Bing, Jin dian gao xing ma?"

-Xiao Bing, Apakah hari ini bahagia?-

Tanya Luhan kepada anaknya.

Dia mengintip sebentar melalui kaca mobil pada putri cantiknya yang sedang duduk di jok belakang mobil.

"Hen gao xing!"

-Senang sekali-

Jawab gadis kecil secepat kilat dan terdengar begitu antusias. Membuat ibunya hanya bisa geleng-geleng kepala. Sepertinya Bing bing merasa sangat puas hari ini.

"Bagaimana tidak senang jika tadi Bing bing hampir menghabiskan satu kotak es krim stroberi seorang diri eoh?" Timpal Baekhyun dengan bahasa koreanya. Karena jujur ia tidak akan bisa nimbrung jika menggunakan bahasa asli suaminya.

"Padahal kotak es krimnya besar sekali" Tandas nya lagi. Membuat putrinya manyun seketika.

"Baekhyun, jangan begitu. Memangnya 'maniak stroberi' siapa yang ditiru?"

Ujar Luhan disampingnya yang sedang fokus menyetir terdengar membela Bing bing.

Baekhyun berdecak kecil, karena kalah dalam lawan.

Karena mendapat dukungan, bocah yang sedang duduk di jok belakang itu segera merangkul leher ayah nya lalu mengecup pipinya sekilas.

Chu~

"wo ai ni, Papa❤"

Coletuk anak manis nya terlihat begitu gembira mendapatkan pembelaan.

"Nado saranghae chagi" Balas Luhan dengan senyum lebarnya.

Dan Baekhyun? Yeoja itu lagi-lagi hanya bisa berdecak, dia tidak mendapatkan hal sama seperti yang Luhan dapatkan.

Mereka sedang dalam perjalanan pulang kerumah. Bukan tanpa alasan Luhan bela-belakan mengajak anaknya pergi ke Mall seharian, karena ia sudah berjanji jauh-jauh hari sebelum putrinya mengikuti lomba menggambar disekolahnya.

Luhan menjanjikan akan membelikan es krim dan mengajak putrinya bermain sampai puas jika bisa mendapatkan peringkat bagus. Dan, Bingo! Hari ini Bing bing mendapatkan nya, gadis cilik itu memenangkan perlombaan menggambar. Dan sudah sepantasnya Luhan memberikan hadiah nya bukan? Luhan begitu memanjakannya. Karena menurut Luhan, kehadiran Bing bing lah yang telah membuat Baekhyun merasa bahagia.

Untuk ukuran bocah seusia Bing bing, anak itu begitu cerdas. Bahkan di umurnya yang baru menginjak 4 tahun dia sudah fasih berbicara mandarin dan korea. Tentu saja sebagai anak yang lahir di daratan China mengharuskannya untuk berbicara bahasa daerah nya.

Jika bahasa korea, itu karena di rumah mereka masih menggunakannya setiap hari. Baekhyun tidak begitu menguasai bahasa china sehebat putrinya. Sedangkan putrinya benar-benar telah mahir.

Baekhyun tidak akan tahu menahu jika kadang kala dirinya sedang di jadikan bahan bullyan dari Ayah dan Anak yang begitu kompak itu.

Setelah menempuh perjalanan hampir satu jam akhirnya mereka sampai dirumah. Oh, astaga hari-hari weekend sungguh mengerikan macetnya. Terbukti dari jarak tempuh yang biasanya ditembus Luhan dengan durasi 20 menit kini malah menjadi hampir satu jam.

Baekhyun berjalan lebih dulu memasuki kamar anak nya dan menyalakan lampu. Sedangkan Bing bing sudah tertidur pulas dalam gendongan Luhan.

"Kau pergilah tidur sekarang, aku akan memakaikan popok Bing bing sebentar"

Titah Baekhyun begitu Luhan sudah menidurkan putrinya di atas ranjang. Dia sedang membuka lemari mencari baju tidur untuk Bing bing.

"Bukankah Bing bing tidak mau memakai popok lagi?"

"Tidak ada pilihan Lu, dia terlalu banyak makan es krim tadi. Dan aku rasa aku sudah mengantuk, bisa jadi aku takut lupa mengantarnya ke kamar mandi nanti malam"

Luhan akhirnya mengerti. Melihat Baekhyun menguap dari tadi membuatnya jadi tidak tega.

Tanpa menunggu -kemungkinan- omelan dari yeoja di sampingnya itu, lantas Luhan segera melepas baju anak nya untuk diganti dengan baju tidur.

"Biar ku bantu" Jawab Luhan, seolah tahu apa yang akan Baekhyun ucapkan.

"Sudahlah Lu ini tidak apa-apa, pergilah tidur"

"Agar lebih cepat"

Putus Luhan final.

.

.

.

Sepertinya penyakit insomnia itu sedang melandanya seorang yeoja yang sedang berbaring menyamping memunggungi seorang namja disebelah nya. Rasa mengantuknya menguar begitu saja entah kemana setelah Luhan memberi tahunya sesuatu.

Mereka akan pindah Ke Seoul secepat nya!

Pembangunan swalayan baru milik perusahaan Ayah Luhan akan membuka cabang di Korea. Dan berhubung saat ini Luhan lah yang bertanggung jawab pada proyek baru itu, alhasil Luhan harus kesana pada saat yang sudah ditentukan. Lalu sudah dipastikan bahwa Luhan akan menetap lama disana, makanya Luhan menawari untuk memboyong keluarganya ikut.

Baekhyun belum siap pulang Ke Korea, dia belum siap ketemu 'namja itu'

Bagaimana kalau tanpa sengaja mereka bertemu? Bagaimana kalau Baekhyun benar-benar bertemu Chanyeol nanti? Demi Tuhan. Baekhyun tidak siap.

"Baek, kau belum tidur?"

Pikiran Baekhyun yang sedari tadi sibuk berkelana di usik oleh suara disebelahnya.

Baekhyun membalik tubuhnya dan mendapati Luhan yang juga belum tertidur. Apa sedari tadi ia berisik, perasaan Baekhyun tidak bergerak sedikitpun.

"Kau masih memikirkan untuk pergi ke Seoul ya?"

Dan pertanyaan itu begitu tepat sasaran.

"Maaf karena memberitahu mu mendadak, tadi Papa juga baru membicarakannya padaku. Senin aku sudah harus tiba di Korea karena selasa akan diadakan rapat"

Ya Ampun, sekarang sudah hari sabtu, dan jika yang dimaksud Luhan hari senin nanti, bukan kah itu tinggal lusa.

"Atau aku bisa mencarikan mu tiket pesawat untuk lain hari kalau kau pikir itu terlalu mendadak. Dengan begitu kau bisa menyiapkan barang-barang Bing bing lebih dulu"

Bukan itu masalahnya, untuk masalah packing Baekhyun bahkan tak memerlukan waktu sehari Baekhyun bisa menyelesaikannya.

"Tidak, bukan itu. Bukankah kau juga sudah pernah membicarakan ini dengan ku. Aku juga sudah meminta surat kepindahan Bing bing dari sekolah nya"

Ini bukan salah Luhan, Luhan sudah pernah memberi tahunya akan kemungkinan hari ini terjadi berbulan-bulan lalu adalah fakta, namun karena belum pasti tanggalnya kapan Baekhyun tak terlalu memikirkan nya, jadi Baekhyun pikir itu masih lama. Namun nyatanya?

Apa dia saja yang terlalu sibuk sampai lupa waktu.

Luhan bergeser untuk merapat kepada yeoja nya. Namja itu tersenyum manis walau matanya terlihat sedikit sayu, karena kantuk.

Tebakannya Baekhyun tentu tak akan keberatan untuk meninggalkan pekerjaan mengajar musik nya karena Luhan yakin di korea masih banyak pekerjaan yang sama. Jadi Luhan tahu betul apa yang membuat istrinya gusar.

"Bukan kah aku sudah berjanji untuk menjaga mu Baek? Kau lupa?"

"ne?"

"Kau memikirkan namja itu" Bisik Luhan sangat dekat dengan telinga Baekhyun, setelah sepenuhnya memeluk tubuh mungil itu.

"Aku tidak tahu kau mencemaskan nya dalam pandangan apa, tapi kau milik ku Baekhyun, maka aku akan menjaga mu" Sambung Luhan mencoba menyampaikan apa yang ingin ia katakan.

Baekhyun ingin merintih, sesak sekali mendengar kalimat Luhan barusan. Bagaimana masih dia meragu untuk memberikan sepenuh hatinya pada namja itu, sedangkan sekarang mereka benar-benar telah menikah.

"Maaf" Gumam Baekhyun tidak terlalu terdengar kerena suaranya teredam tubuh Luhan yang memeluknya posesif.

"Aku mencintaimu Baekhyun"

Ucap Luhan lirih namun sarat akan ketegasan. Seolah memberi Baekhyun kode bahwa yeoja itu sudah tergembok permanen dengan nya.

"Aku juga"

'Tapi kau lebih mencintainya'

Lanjut Luhan menahan rasa pahit itu.


Mereka sudah tinggal kurang lebih satu minggu di Seoul. Dan tebak bagaimana bahagianya salah satu dari anggota keluarga kecil itu ketika mereka baru sampai di sana.

Bing bing, bocah kecil itu tidak pernah berhenti mengatakan betapa senangnya tinggal di Seoul. Memiliki Rumah yang dekat dengan taman, begitu menguntungkan bocah itu.

Luhan membeli satu unit rumah mewah yang tidak terlalu besar untuk menampung istri serta anak nya tinggal. Mereka memutuskan tidak menempati rumah lama Luhan yang dahulu karena Baekhyun bilang tidak yakin jika tinggal disana akan merasa nyaman. Rumah Luhan begitu besar dan sangat jauh dari keramain kota. Baekhyun beralasan bahwa takut-takut putrinya tidak akan mempunyai teman bermain nantinya.

Hari itu baru saja sehari Luhan singgah dirumah barunya, dan dia sudah harus pergi ke Luar kota untuk pembangunan cabang Swalayan pertama di daerah Daegu.

Bing bing yang semula sudah sangat tidak sabar untuk mengajak ayahnya berkeliling kompleksa terpaksa harus mengurungkan niatnya.

.

Hari ini hari minggu, tetapi karena jadwal Luhan begitu padat hingga membuatnya tidak bisa pulang, bahkan yang kini rumahnya hanya berada di daerah Dongdaemun sekalipun.

"Hei, Xiao Bing. Bagaimana sekolah mu? Apa menyenangkan?" Tanya Luhan sambil melambai-lambai di depan kamera komputernya.

Mereka sedang melakukan vicall seperti hari-hari biasanya. Demi mengobati rasa rindu pada anak dan istrinya, Luhan selalu membela-belakan tidur larut malam karena meninggalkan pekerjaan nya sebentar demi melihat wajah kedua wanita yang begitu ia cintai.

"Aku mendapatkan teman banyak!"

Jawab putrinya sambil tersenyum bangga.

Dan selalu begitu, jika yang berbicara adalah putrinya lebih dulu maka tidak ada jatah Baekhyun untuk mengobrol dengan Luhan, kecuali ucapan selamat malam saja.

"Papa, kapan pulang? Bukankah papa janji akan mengajak Bing bing jalan-jalan?"

"Maaf sayang, secepatnya jika pekerjaan papa selesai. Kita ke Namsan Tower Arajji?"

Balas Luhan sambil menampilkan ekspresi menyesalnya kepada sang putri. Lagi-lagi ia telah mengecewakan nya.

"Apa tidak ada tempat lain selain Namsan Lu?" Timpal Baekhyun ikutan nimbrung, Baekhyun sangat heran akan ke 'maniak' kan Luhan pada Namsan. Padahal namja itu selalu berteriak ketakutan ketika menaiki Cable car.

"Mama, aku sedang mengobrol jangan mengganggu" Protes anaknya telak. Anak gadisnya menatap nya sambil melipat tangan didada dan memasang wajah galaknya.

Luhan terkekeh melihat pemandangan didepan layar monitornya. Mungkin karena Luhan terlalu memanjakan nya, Bing bing menjadi lebih memilihnya dari pada ibu nya sendiri.

Oh tentu itu bukan hal baru yang diterima Baekhyun. Baekhyun berdecak malas, tapi tidak terlalu mengambil hati. Itu sudah -sangat- biasa. Putrinya memang selalu membela ayahnya ketimbang dirinya.

Selanjutnya Baekhyun tak mau mengganggu lagi, ia memilih menuju tempat tidur dan mengubur tubuhnya dalam selimut. Karena percuma memperhatikan ataupun merecokkan anak dan suaminya mengobrol.

Mereka sedang berbicara dalam bahasa China.

So,

Tidak ada kesempatan untuknya.

Ck! poor Baekhyun.


Hari Senin yang cerah.

Baekhyun sedang sibuk di kamar anaknya, sudah seminggu mereka tinggal di rumah baru tapi bahkan sampai hari ini ia belum selesai membongkar semua isi koper milik anaknya. Gadis kecil nya sungguh merepotkan menurut Baekhyun, karena apa, karena Bing bing membawa semua mainannya kemari. Padahal Luhan sudah membujuknya akan membelikan yang baru setelah sampai di Seoul. Tetapi dasarnya anak kecil keras kepala. Bing bing bersikeras menolak.

Baekhyun mengudal seluruh koper-koper berisi mainan milik Bing bing, lalu menatanya di dalam lemari yang sudah disediakan. Yeoja itu mendengus habis-habisan mendapati sudah tiga koper ia selesaikan, ia kira sudah selesai, tetapi ternyata masih tertinggal satu lagi dengan ukuran paling besar.

Dengan diliputi rasa lelah dan ingin segera istirahat, maka cepat-cepat ia menarik koper itu mendekat padanya. Sebentar lagi putrinya akan pulang sekolah dan ia harus cepat menyelesaikan beres-beres karena harus segera pergi memasak. Bing bing pasti merengek kelaparan nanti.

Baekhyun dibuat berdecak lagi begitu mendapati isi koper terakhir. Koper itu berisi semua boneka, mulai dari boneka pisang, monkey, tikus dan masih banyak lagi. Anaknya itu benar-benar.

Tanpa membuang banyak waktu lagi, segera Baekhyun membongkar semua boneka itu untuk ia pindahkan ke lemari. Astaga! bahkan lemari sebesar itu kini sudah hampir penuh oleh mainan Bing bing.

Baekhyun terkekeh kecil. Luhan memang gila, Namja itu tidak akan tanggung-tanggung untuk memborong semua mainan yang berada di toko jika Bing bing menginginkannya.

Baekhyun kadang masih tidak percaya akan adanya manusia sebaik Luhan disisinya. Karena menurutnya selama ini orang-orang yang pernah dijumpainya hanyalah manusia-manusia tak berperasaan.

Tapi tiba-tiba senyum nya memudar begitu mendapati boneka terakhir dalam koper itu.

Boneka beruang Chanyeol yang ia bawa dahulu. Dengan tangan bergetar Baekhyun mengambil boneka itu, matanya menatap nanar boneka beruang yang kini sudah mulai lusuh dan warnanya tidak bersih lagi. Oh tidak, bukankah dari dulu boneka beruang itu sudah lusuh, bahkan ada bekas jahitan memanjang di punggung nya. Dan Baekhyun sendirilah yang menjahitnya nya.

Kini boneka itu menjadi milik anak nya. Bing bing bilang ingin merawatnya seperti bonekanya yang lain.

Bodoh, untuk apa Baekhyun harus memikirkannya lagi. Setidaknya Baekhyun tidak berharap akan bertemu dengan Chanyeol lagi. Ia Mengantisipasi kemungkinan sekecil mungkin dengan meminta Luhan membeli rumah di daerah Dongdaemun yang jauh dari Cheongdam dong, rumahnya dulu.

Hampir-hampir Baekhyun lupa waktu karena memandangi boneka itu, jika saja telepon rumahnya tidak berdering nyaring. Sambil menoleh ke jam di dinding kamar itu sekilas ia lalu segera melesat ke ruang tamu.

"Iya Hallo"

"Apa benar ini Ibu dari Bian Ca?"

Tanya suara di seberang telepon. Baekhyun segera tahu bahwa mungkin itu telepon dari sekolah putrinya.

"Iya, saya sendiri"

"Nyonya, putri anda mengalami kecelakaan"

"APAAA?"

Bagai disambar petir di siang bolong, Baekhyun terkejut bukan main.

.

.

.

Baekhyun hampir-hampir gila kalau suster tidak segera datang menjelaskan padanya bahwa putrinya baik-baik saja. Walau nyatanya anaknya tidak sedang baik-baik seperti yang suster katakan padanya, namun setidaknya Baekhyun harus banyak bersyukur karena putrinya tak mengalami luka yang serius.

Wali kelas dari sekolahan Bing bing juga meminta maaf sebanyak-banyaknya akan kelalaian mereka. Mereka bilang bahwa Bing bing terserempet mobil saat hendak menyebrangi jalan menuju mobil jemputan anak-anak. Karena siang itu jalanan sangat padat hingga terjadilah tabrakan yang menimpa putri nya.

Bing bing sedang tertidur pulas diatas ranjang rumah sakit. Perban kecil menutupi di kepalanya yang masih terlihat sangat rapuh itu. Baekhyun tidak bisa menahan kesedihannya begitu melihat keadaan putrinya terbaring lemah. Lain kali ia harus memantau Bing bing lebih baik lagi, agar tidak terjadi hal-hal yang tak di inginkan.

Kali ini ia benar-benar mengantuk, terlihat dari ia menguap berkali-kali. Semalam dia tidak tidur karena harus menjaga Bing bing yang sedang demam. Gadis kecil itu memang tidak mendapat luka serius, hanya kepala nya terbentur kecil dan tangan kanan nya keseleo. Dokter bilang bahwa Bing bing demam dikarenakan syok.

Baekhyun mengambil ponselnya sebentar untuk melihat jam. Sudah hampir pukul sembilan pagi, dan dia tidak tidur sama sekali. Rasanya mata itu sangat berat untuk terbuka, mungkin pulang untuk mandi sebentar agar lebih fresh bukan ide yang buruk, lagi pula suster sudah memberitahunya kalau Bing bing sudah tidak demam dan bisa ditinggal.

Baekhyun juga ingat bahwa harus memasak untuk anak itu, sejak kemarin putrinya selalu menolak makan apapun. Karena Bing bing tidak terlalu menyukai makanan luar, apa lagi makanan rumah sakit. Itu pasti sangat tidak mungkin Baekhyun membiarkan putrinya kelaparan. Jadi pulang dan memasak makanan untuk putrinya adalah hal pertama yang harus dilakukan.

Baekhyun juga belum sempat menghubungi Luhan sejak kemarin. Ia tidak mau membuat suaminya ikut-ikutan gugup jika dia menelpon dalam keadaan kalut.

Didekati ranjang anaknya hati-hati tidak bermaksud untuk mengagetkannya, lalu mengusap kecil kepala Bing bing yang tidak diperban dengan lembut.

Setengah berbisik ia memanggil putrinya yang mulai membuka mata bulatnya.

"Mana yang sakit?" Tanya Baekhyun dengan wajah khawatir mendapati putrinya mulai terjaga.

Bocah cilik itu menggeleng lemah, tidak mau membuat Ibunya memarahinya.

Sepertinya bocah itu salah paham. Dia mengira Ibunya akan mengomelinya karena tidak bisa hati-hati. Jujur saja, dia terserempet mobil karena salahnya sendiri, Kemarin saat akan menuju mobil jemputan Bing bing terlalu bersemangat hingga tidak menyadari jika ada mobil kencang sedang melaju kearahnya. Makanya dari semalam Bing bing tidak berani mengeluh sakit sedikitpun. Takut dimarahi.

"Mama mau pulang sebentar untuk memasak, sekalian mengambilkan pakain dalam untuk ganti, Bing bing mau makan apa?"


Bing bing sedang duduk gelisah diatas kursi roda, menanti suster yang tadi membawanya kemari. Dia baru saja menjalani pemeriksaan X ray dilantai dasar. Sudah hambir setengah jam ia menunggu suster yang mengantarnya tadi, suster itu menyuruh Bing bing untuk menunggu disana. Tapi sampai sekarang suster itu belum datang juga. Dan Bing bing sudah tidak sabar.

Dengan dibekali keberanian kecilnya, bocah itu turun dari kusi roda untuk berkeliling mencari kamar nya. Dia bahkan tidak ingat menaiki lift dari sebelah mana. Alhasil bukannya berhasil kembali kekamar, bocah itu malah tersesat.

"Ya Ampun, bagaimana ini. Dimana kamarku"

Tanyanya bingung sambil menggaruk kepalanya kebingungan.

"Bagaimana kalau Mama datang dan tahu aku tidak dikamar"

Bocah itu semakin lari kelabakan tanpa arah.


"Selamat pagi kakak ipar, bagaimana kabarmu?"

Sapa seorang yeoja bermata panda yang sedang meletakkan sekeranjang buah di atas nakas kamar rawat Park Chanyeol.

Yeoja itu adalah Huang Zitao adik iparnya yang telah resmi menjadi istri dari Oh Sehun tiga tahun yang lalu.

"Hyung, bagaimana kabarmu?"

Sapa Sehun yang juga ikut berjalan mendekati ranjang Chanyeol.

Namja yang disapa itu sedang duduk bersandar di atas ranjang. Menyimpan ponselnya yang sedari tadi dimainkan begitu tahu mendapatkan kunjungan.

"Aku baik-baik saja, kalian saja yang bersikeras menyatakan aku sakit"

Jawab Chanyeol ketus.

"Dan Tao, kau tidak perlu membawa buah jika kemari"

Kata-kata itu ditunjukan pada adik iparnya. Yang selalu membawakan nya sekeranjang buah jika datang. Demi Tuhan, bahkan Chanyeol sangat malas memakan nya.

"Ya! Hyung, jika tidak sakit kenapa kau pingsan kemarin. Sudahlah jangan keras kepala! menyusahkan saja"

Balas Sehun tak kalah kesal. Heran sekali kepada orang sekarat di hadapannya itu.

Chanyeol mendengus keras, tapi memilih tidak menjawab. Akhirnya ia menyerah dan meraih satu buah pisang yang baru saja dibawa Tao untuknya. Chanyeol memakannya dengan sangat nikmat.

Sehun hanya bisa menahan diri untuk tidak mengejek kakaknya. Tapi dia memilih diam.

Bukan Chanyeol tidak mengetahui siapa itu Tao, dulu saat masih ada Baekhyun, mereka pernah beberapa kali bertemu. Ya, walaupun hanya saling tatap dan tidak pernah bertukar sapa sekalipun.

Dan setelah hari dimana Sehun meminta maaf kepadanya atas semua yang telah namja itu lakukan hingga membuat kesalah pahaman rumit antara dirinya dan Baekhyun. Tao ada disana, berdiri di samping Sehun yang ternyata memang sudah sah menjadi sepasang kekasih.

Chanyeol tentu mengingat wajah Tao, hingga membuatnya yang begitu kalut menodong Tao dengan berbagai pertanyaan. Mengira bahwa Tao tahu dimana keberadaan Baekhyun. Sedangkan Tao tidak tahu apa-apa sama sekali.

Awalnya Tao balas ingin marah kepada Chanyeol setelah tahu apa yang sudah namja itu lakukan pada sahabatnya. Tapi yeoja bermata panda itu urung melakukan nya. Apa lagi setelah melihat betapa terpuruknya Chanyeol saat itu, ada penyesalan yang amat dalam di diri Chanyeol. Namun Tao tidak terlalu bisa membacanya.

"Dimana Jackson Apa dia tidak ikut?" Tanya Chanyeol terlihat mencari sesuatu dibelakang badan kedua adiknya itu.

Jackson adalah putra sulung Sehun yang kini hampir menginjak usianya yang ke tiga tahun.

"Dia sedang dihadang para suster"

"Lagi?"

Sambung Chanyeol antara tak percaya dan takjub.

Selalu seperti itu, bahkan untuk bocah berumur tiga tahun saja sudah bisa mengacau di Rumah sakit.

"Tentu saja hyung, kau tidak lihat betapa mempesonanya Ayahnya?"

Timpal Sehun menyombongkan diri.

"Tapi dia mengganggu para suster yang seharusnya bekerja bodoh!"

Jawab Chanyeol eneg mendengar betapa pedenya sang adik.

Tao hanya terkekeh mendengar perdebatan antar saudara itu. Itu sudah menjadi hal biasa.

"Sehun ah, Kakak ipar benar, bawa Jackson kemari"

Perintah Tao yang memahami maksud Chanyeol ada benarnya. Anaknya pasti sudah mengacau di pos suster sana.

Sehun pun akhirnya hanya bisa mengiyakan keinginan Tao. Dia tentu tidak akan tega membiarkan istrinya yang tengah hamil 6 bulan untuk menggendong putra hyperaktif nya itu.

Sepeninggal Sehun, Tao lalu mencari pisau di dalam lemari kecil di bawah meja. Mengupas buah untuk Chanyeol.

Dan Chanyeol sudah kembali memainkan poselnya dalam diam. Bermain game adalah hobi barunya, paling tidak untuk saat ini. Lagi pula dia sudah tidak perlu repot-repot memikirkan perusahaan toh jabatannya sudah di pegang oleh adiknya sekarang.

Tao hampir memotong tangannya sendiri ketika telinganya mendapati suara tangis nyaring dari luar. Itu pasti Jackson, akhirnya setelah meletakkan apel yang baru saja di kupas pada Chanyeol, ia segera pamit untuk melihat anak nya.

Yeoja itu berjalan tergesa-gesa hingga tak sengaja membuatnya bertabrakan dengan anak kecil saat baru mau berbelok dari kamar Chanyeol. Tao membulatkan matanya begitu mendapati seseorang yang ditabraknya adalah anak kecil, sedang terluka pula.

Tao segera menundukkan dirinya walau agak susah karena perutnya yang lumayan besar hingga menyamai tubuh gadis cilik itu. Karena sangking paniknya Tao tidak sadar jika telah berbicara dalam bahasa China.

"Dui bu qi, gwenchanayo?

-maaf-

Tanya Tao dengan raut khawatirnya, takut-takut bocah itu akan menangis sebentar lagi.

Namun dugaannya salah begitu bocah itu memanggilnya.

"Jie jie"

-kakak-

"Ha?"

Tao melongo, mengira salah mendengar. Anak itu memanggilnya dalam bahasa nya.

"Ni gang shuo jie jie ma? Ni shi Zhongguo ren ma?"

-Apa kau baru saja bilang kakak? Kau orang China?-

Gadis itu mengangguk kecil. Matanya berbinar cerah, akhirnya menemukan orang baik. Bing bing kira dia bisa minta tolong pada yeoja di hadapannya itu untuk mengantarkannya ke kamar.

"Jie jie ke yi bang wo zhao wo de fangjian pa? wo wang ji zai na li"

-kakak bisa membantuku mencari kamarku? aku lupa dimana-

Tao pasti mau saja menolong bocah itu, bibirnya sudah akan menjawab 'iya' jika suara anaknya yang tengah memanggil namanya sambil berteriak tidak segera mengingatkan nya apa yang tadi ia tuju.

Tao menoleh kearah Chanyeol yang sedang berada di dalam kamarnya. Tampak nya sedari tadi namja itu juga mengamati nya dan anak kecil itu berbicara. Terlihat dari betapa bodohnya tatapan Chanyeol sekarang.

"Mei mei, ni wen na ge shu shu hao bu hao? Jie jie zai ci, dui bu qi!"

-adik, bisakah kau bertanya pada paman itu? kakak sedang buru buru, maaf-

Ujar Tao sambil menunjuk kerah Chanyeol, lalu tanpa menunggu bocah itu meng'iya'kan ia sudah melenggang pergi. Anak nya lebih berbaya dari apapun jika sedang menangis.

Bing bing menoleh kerah dalam kamar Chanyeol sambil menatapnya bingung. 'Apa namja itu' batin nya dalam hati. Gadis kecil itu akhirnya memilih memasuki kamar Chanyeol sambil memasang wajah polos nya.

Chanyeol tentu tidak tuli, dia mendengar sendiri bahwa anak itu berbicara bukan dengan bahasanya. Jika mau bertanya pada nya? 'Hahaha itu konyol, bahkan aku tidak tahu menahu bahasa China'

Chanyeol malah menertawakan dirinya dalam batin.

Bing bing berjalan menghapirinya, dan dia tak tahu harus malakukan apa. Mata gadis kecil itu menatap nya polos sedangkan Chanyeol balas menatapnya sambil melongo.

"Ahjussi"

Panggil Bing bing untuk pertama kalinya.

Chanyeol berkedip berkali-kali mendengarnya. Bocah di depan nya memanggil apa 'Ahjussi?'

Tidak salah dengarkah?

Karena tidak medapat respon dari seseorang yang dipanggilnya, Bing bing mengerutkan kening bingung, bocah itu menggaruk kepalanya sambil bergumam tak jelas, intinya mengira bahwa ia salah memanggil sebutan.

"Ya! kau baru saja memanggilku 'ahjussi' apa kau mengerti artinya?"

Tanya Chanyeol pada akhirnya, walau ragu untuk memperdulikan bocah di depan nya itu, karena takutnya bocah itu tidak mengerti dengan apa yang ia ucapkan.

.

.

.

"Ya! Ahjussi kau mau membantuku tidak sih?"

Sudah hampir lima belas menit Chanyeol dikuntili bocah cilik itu. Bahkan saat ia memilih keluar ke taman untuk menyalakan rokonya gadis itu juga mengekori nya.

Satu yang Chanyeol tangkap dari bocah itu, bocah cilik yang cerewet dan tidak mau menyerah.

"Bukankah tadi aku bilang tidak mau kan, kenapa kau malah mengikutiku?"

Jawab Chanyeol tanpa perasaan, yang hanya bermaksud mengusili anak itu saja.

"Atau jika kau menunggu ku paling tidak sampai ini habis"

Lanjutnya sambil pura-pura menghitung sisa putung rokok didalam bungkusnya.

"Tiga buah lagi, setidaknya akan selesai dalam tiga puluh menit kedepan"

Lanjut Chanyeol hampir terkekeh begitu mendapati wajah jengkel Bing bing.

"Ayolah Ahjussi, Mama pasti akan memarahi Bing bing nanti"

Rengek bocah itu masih tidak mau menyerah, berharap berhasil membuat Ahjussi menyebalkan itu untuk membantu mencari dimana kamarnya.

Sebenarnya jika mau dia bisa saja meminta tolong pada suster di tempat Chanyeol dirawat tadi, tapi melihat semua suster sedang sibuk masing-masing, membuat Bing bing memilih mengurungkan niatnya. Dan malah mengikuti Chanyeol kepanapun namja itu pergi.

Bing bing semakin dibuat merengut karena seolah-olah dia tidak di indahkan sama sekali.

Namja disebelahnya malah semakin memperlihatkan betapa nikmatnya benda berbau tidak enak itu.

"Ahjussi, bukankah di Rumah sakit dilarang merokok?"

Celetuk Bing bing lagi, dia duduk disamping Chanyeol di samping Chanyeol sambil menggoyangkan-goyangkan kaki nya bosan.

Chanyeol bergumam dalam hati, sebanarnya bocah di sampinya itu begitu manis dan menggemaskan, tetapi setelah tahu bahwa bocah yang menyebut dirinya sebagi 'Bing bing' itu begitu cerewet, akhirnya Chanyeol malah mencuekkinya. Biar saja, Chanyeol paling malas mengurusi urusan orang yang tidak ia kenal, menurutnya merepotkan.

Chanyeol tidak pernah dekat dengan anak kecil, makanya ia tidak tahu caranya berinteraksi dengan benar.

"Di sekolahku yang dulu selalu di ajarkan untuk tidak boleh merokok sembarangan, mereka memasang papan yang suaangaat besar untuk peringatan"

Oceh Bing bing lagi-lagi di ikuti dengan gerakan tubuhnya saat menyebuktan 'suaangaat besar' sambil merentangkan sebelah tangan nya yang tidak sakit.

"Hei bocah, disini tidak ada larangan merokok kau tahu!"

Jawab Chanyeol tidak mau terlihat salah dan disalahkan, bahkan oleh anak kecil itu.

"Tapi kan Ahjussi sedang sakit, bagaimana kalau nanti Ahjussi tidak sembuh-sembuh"

Deg~

Ucapan sederhana barusan itu berhasil membuat Chanyeol terpaku sesaat. Itu memang alasannya, karena tahu bahwa dia tidak akan sembuh makanya Chanyeol memilih jika penyakit itu segera membawa nya pergi.

Dengan kematian.

Chanyeol menoleh kearah Bing bing ketika telinga nya mendengar suara berisik dari sebelah.

Bing bing mengulurkan sesuatu padanya dengan tangan kirinya yang tidak di dililit perban.

"Mama membawakan Bing bing permen, ini untuk Ahjussi. Pasti lebih enak dari pada itu"

Ujar Bing bing menunjuk rokok ditangan Chanyeol.

Namja itu menatap lamat-lamat dua butir permen ditangan Bing bing, sebelum benar-benar menerimanya.

Entah kenapa, Chanyeol menuruti perkataan bocah cilik itu. Ia mematikan rokoknya dan menginjak sampai halus.

Bing bing jelas saja tersenyum senang melihat Chanyeol mengambil permennya.

Tak mau membuang banyak waktu lagi Chanyeol segera membuka bungkus bermen berwarna ke emasan itu dan segera melahap isinya. Biarlah, lagi pula apa tidak malu jika dilihat orang sedang berdebat dengan anak kecil. Tanpa sadar ia malah melempar asal bungkus permennya hingga menjadi sampah yang akan mengotori taman.

"Isssh... Ahjussi ini, dilarang membuang sampah sembarangan"

Bing bing mendengus melihatnya. Dengan tampang kesal bocah itu turun dari kursinya lalu memungut bungkus permen yang baru saja dibuang sembarangan itu ke tempat sampah.

Wow! dan Chanyeol benar-benar takjub dengan anak itu sekarang.

"Jadi kapan Ahjussi bisa megantarku?"

"Sekarang!"


Baekhyun baru saja datang kerumah sakit. Saat mendapati kamar tidur putrinya kosong, oke itu cukup membuatnya penasaran. Didalam kamar mandi juga kosong tidak ada siapa-siapa. Hanya di ranjang sebelah Bing bing ada pasien yang sedang tertidur pulas.

Tidak ada pilihan lain, tanpa membuat dirinya semakin khawatir Baekhyun segera melenggang ke pos suster untuk bertanya.

"Suster, pasien dikamar no 7 dimana anak itu sekarang?"

"Bukankah pasien ada di kamar nyonya?"

Jawab suster itu sedikit bingung, hari ini bukan tugas nya untuk mengatur obat di kamar Bing bing. Jadi ia tidak terlalu tahu.

"Di kamar hanya ada pasien sebelah ranjang anakku"

Suster itu menoleh kerah rekannya yang tadi seingatnya bertugas di kamar no 7.

"Oh, kalau begitu tunggu sebentar nyonya, akan aku tanyakan pada Suster Yoon, dia yang mengantarkan pasien menjalani pemeriksaan tadi"

.

Bing bing tidak bisa menahan senyum nya dari tadi. Karena apa? karena saat ini bocah itu sedang dalam gendongan 'Ahjussi' yang ditemuinya tadi. Benar seperti dugaan nya, Ahjussi itu memang baik, buktinya dia akhirnya mau mengantar Bing bing mencari kamar nya. Walau awalnya memang sangat susah membunjuknya.

Chanyeol sadar jika gadis yang sedang digendongnya itu tidak berhenti menatap nya dari tadi. Jujur saja sebagai lelaki dia pasti juga merasa ke ge-eran.

Bahkan pada anak kecil sekalipun?

"Aku tahu, aku memang tampan, tapi jangan harap aku akan mau ditaksir bocah bayi seperti mu"

Ujar Chanyeol terdengar sekali jiwa kepedean nya keluar.

Bing bing berdecak.

"Mana mungkin aku naksir Ahjussi, Ahjussi ini bau rokok, Bing bing tidak suka namja perokok"

Jawab bocah itu dengan gurat sedikit malu karena ketahuan mengamati wajah Chanyeol dari tadi.

"Cih, anak kecil memangnya tahu apa"

Bing bing tidak menanggapi perkataan yang terdengar seperti pertanyaan itu.

Setelah nya tidak ada obrolan diantara mereka lagi, Bing bing memilih diam dari pada harus ribut terus dengan ahjussi yang menggendong nya. Jujur sih, ahjussi itu memang tampan, dan juga wangi kalau saja ahjussi itu tidak merokok. Tapi benar kata Chanyeol barusan, tahu apa anak kecil memang?

Mungkin Bing bing menyukai Chanyeol karena menganggapnya seperti ayah nya sendiri.

Oh, Tuhan, Anak itu sedang merindukan Luhan.

"Di sebelah mana kamar mu?" Tanya Chanyeol begitu keluar dari lift dan sampai ke lantai dua. Namja itu menurunkan Bing bing dari gendongan nya.

"Molla ahjussi, aku lupa"

Jawab Bing bing sambil menggaruk kepalanya, matanya diedarkan keseluruh lorong mengingat-ingat kamar nya.

Baru saja Chanyeol mau protes lagi, namun bocah disamping nya sudah berlari sambil memanggil seseorang.

"Ma...maa !"

Pekik Bing bing begitu melihat Ibunya sedang berada di pos suster. Bocah itu tiba-tiba saja sudah berada di hadapan Ibunya dan memeluk kaki Baekhyun.

Chanyeol hanya bisa memelototkan matanya karena anak itu pergi begitu saja tanpa berterimakasih. Ia kesal sekali.

Matanya juga menangkap sosok yang baru saja di panggil bocah kecil tadi sebagai 'Mama'

'jadi itu ibunya' gumam Chanyeol lirih. Dia tidak bisa melihat wajah Ibu dari bocah tadi karena yeoja itu sedang membelakanginya.

Chanyeol menghela nafas nya sebentar sebelum memilih langsung memasuki lift yang sudah terbuka untuk turun kelantai satu. Chanyeol ingat, Kris pasti akan mengomel kalau tidak mendapatinya dikamar saat jam terapinya sebentar lagi.

.

Bing bing melepas pelukan Ibunya karena teringat oleh seseorang, dia ingin memberi tahu Baekhyun tentang ahjussi yang mengantarnya kemari barusan.

Ketika ia menolehkan kepalanya kesamping tetapi Bing bing sudah tidak mendapati Chanyeol disana.

"Bing bing dari mana saja kau, jangan membuat Mama cemas"

Cecar Baekhyun secepatnya. Yang benar saja, ia sudah berpikiran buruk, bagaimana kalau anak nya hilang dan diculik orang.

Bing bing tidak langsung menjawab nya, kerena bocah itu tengah menatap tajam seorang suster disebelah Baekhyun. Suster yang meninggalkannya di lantai bawah tadi.

Tahu jika dirinya bersalah, lantas sang suster segera meminta maaf pada bocah cilik itu.


Karena dia masih anak kecil, jadi tetap saja jiwa nya masih sangat suka bermain. Maka dari itulah saat ini Bing bing bisa berdiri di depan kamar Chanyeol.

Tapi Bing bing bukan anak nakal yang tidak penurut. Bocah itu sangat takut pada Ibunya, dan jika Baekhyun bilang 'kalau mau keluar Bing bing harus pamit kepada suster, Arraji?'

Maka dia akan melakukan apa yang di perintahkan Baekhyun.

Dia baru saja pamit kepada suster yang sedang berjaga dan begitu ia mendapatkan ijin maka tidak perlu menunggu detik berganti menit ia segera melesat kesini.

Kali ini sambil membawa boneka beruang usang kesayangan nya. Milik Ibunya dulu lebih tepatnya.

Namun setiba didalam kamar Chanyeol bocah itu mengerut bingung. Ahjussi nya tidak ada di dalam, Gadis kecil itu berbalik hendak bertanya kepada suster di depan sebelum ia teringat sesuatu.

"Asssahhh!"

Pekiknya girang sebelum berlari kecil menuju tempat yang ia tebak pasti tepat sasaran.

Taman.

Ternyata bukan hanya enerjik dan bawel. Bocah berusia empat tahun itu juga sangat jenius, ingatan nya yang kuat membawanya kemari dan menemukan yang dia cari.

"Ahjussii!" Panggil Bing bing begitu sudah berada dalam jarak kurang dari semeter dengan Chnayeol.

"Dia lagi" Gumam Chanyeol terlihat bosan melihat bocah cilik yang sedang menatapnya antusias. Ia memilih tidak menggubrisnya dan melanjutkan kegiatan nya.

"Ahjussi merokok lagi"

Chanyeol menoleh kesamping sengaja tidak merespon bocah yang menurutnya bawel itu.

Bibir bocah itu semakin merengut kesal ketika pertanyaan nya tidak di indahkan. Bing bing manyun maksimal, tapi masih nekat menghampiri Chanyeol.

Sambil bersedekap dada -yang terlihat sangat kerepotan kerena membawa bonekanya- Bing bing kini berada dihadapan Chanyeol memasang wajah galak.

"Ya Bocah, kenapa wajahmu seperti itu?" Tanya Chanyeol menanggapi tatapan kesal dari bocah itu.

"Ahjussi, sudah kubilangkan kalau orang sakit tidak boleh merokok"

"Kau ini anak kecil kenapa bawel sekali? Untuk apa kau kemari?"

Bing bing tersenyum penuh arti setelah mendapati Chanyeol menanggapi kedatangan nya sepenuhnya.

Jujur saja niat awalnya hanya mencari perhatian.


Baekhyun berjalan sedikit tergesa menuju lift. Dia baru saja pulang untuk membawakan putrinya makanan, kali ini sekotak bento sudah terbungkus rapi didalam kantong plastik biru.

Namun Baekhyun harus dibuat mendesah kesal karena lift nya keburu naik sebelum ia sempat masuk.

"Aih Jinjja" Runtuknya sambil menghentak-hentakkan kaki.

Tetapi sepertinya ia sedikit mujur, karena tak berapa lama Baekhyun mendengar bunyi Ting! Dari arah lift sebelah. Tanpa menunggu ketinggalan lagi Baekhyun segera berlari memasukinya.

Hampir saja Ia menjatuhkan kantong plastik itu begitu dirinya persis di depan pintu lift, Baekhyun membulatkan matanya kaget mendapati seseorang.

"Baekhyun?"


"Apa orang tuamu tidak sanggup membelikan es krim, makanya kau harus pergi mencariku?"

Bing bing sempat menghentikan acara menyendok es krim kemulutnya sejenak begitu mendengar Chanyeol mencibirnya.

Huh, terdengar seperti penghinaan sekali.

"Tidak begitu, Mama melarang ku makan es krim"

Jawabnya asal lalu kembali menyendok es krim ke mulutnya lagi. Mau Chanyeol mengejeknya mana peduli, yang penting sekarang Bing bing bisa makan es krim.

"Isshh, kau masih anak-anak saja sudah maniak es krim bagaimana nanti besar nya"

Chanyeol melirik dua bungkus es krim stick rasa stroberi disebelah tempat duduknya. Dan sekarang bocah cilik itu masih berusaha menghabiskan satu cup lagi.

"Haahhh... enak sekali"

Desah Bing bing puas begitu melahap suapan terakhirnya. Tanpa peduli kepada seseorang yang tengah menatap dirinya seolah-olah ingin menendangnya jauh-jauh.

Tangan mungilnya mengelap es krim yanh bercecer di pipinya dan menjilat sebagian yang masih tersisa di sela bibir mungilnya. Niatnya sih, ingin membersihkan tetapi yang ada pipi bulatnya malah belepotan semua.

Chanyeol menatapnya dengan wajah jijik, tapi dia juga tidak tega, akhirnya dia meraih tisu yang dibelinya tadi dan menyerahkannya kepada Bing bing.

"Lap pipi mu itu dengan ini! lihatlah, bukan hanya bawel ternyata kau jorok juga"

Bing bing meraihnya tanpa membalas ucapan Chanyeol, dia tidak akan sebal seperti tadi. Karena sudah hapal sikap ahjussi menyebalkan itu.

"Ahjussi, kau bisa bermain musik tidak?" Ujar si bocah setelah menyelesaikan kegiatan mengelap pipinya.

"waeyo? jangan bilang kau mau menyuruhku untuk bermain musik. Kau kira aku pesuruhmu"

"Aigoo~ galak nya, ck ck! Aku hanya mau memberitahu Ahjussi, Mama ku pintar sekali bermain musik"

Jawab Bing bing sambil geleng-geleng. Pura-pura heran akan sikap lelaki disebelahnya itu.

Lalu apa hubungan nya dengan Chanyeol, kalau ibunya pintar bermain musik. Chanyeol semakin menatap bocah itu ogah-ogah an.

Tapi Chanyeol tiba-tiba teringat sesuatu, dari kemarin bocah cilik itu hanya membicarakan ibunya saja. Apa jangan-jangan dia tidak punya ayah, makanya dari kemarin anak itu mendekatinya terus.

Baru saja Chanyeol membuka mulutnya untuk bertanya, bocah itu sudah turun melompat dari kursi taman.

Hup!

"Gomawo untuk es krim nya Ahjussi" Ujar Bing bing sambil tersenyum lebar.

"Kapan-kapan jangan memanggil ku bocah terus ya? Namaku Bing bing"

Hah? Kapan-kapan?

"Maksudmu kau masih mau menemuiku? dan mengusik lagi?"

Tanya Chanyeol dengan mata melotot.

"Hehehehe"

Bocah itu malah cengengesan sambil memasang 'V' sign. Jujur saja dia tidak berniat mengganggu Chanyeol, hanya saja menurut Bing bing lekaki dewasa itu mengasyikkan.

"Apa tangan mu sudah sembuh?"

Chanyeol tidak tahu kenapa malah menanyakan hal sia-sia. Matanya teralihkan kepada lengan bocah yang masih di lilit perban coklat itu. Awalnya Chanyeol sempat mengernyit melihat boneka yang bocah itu bawa, tetapi ia tidak ingat bahwa ialah yang membelinya.

Karena Chanyeol hanya sekali melihatnya, sekali menyentuhnya, dan sekali merusaknya.

Bukannya menjawab tetapi Bing bing malah menolehkan kepalanya pada lengan kanan nya yang masih diperban.

"Aku antar kau kekamarmu"

Putus Chanyeol lalu melangkah mengangkat Bing bing dalam gendongan nya. Entahlah, mungkin Chanyeol benar-benar mengira kalau bocah itu merindukan seorang Ayah.

Seseorang ingatkan Chanyeol untuk membenturkan kepalanya ke tembok nanti. Yang benar saja, menjadi melankolis sangat bukan gayanya.


Saat ini Baekhyun sedang duduk sambil menikmati kopi di Caffe Rumah sakit itu. Seseorang yang memanggil namanya tadilah yang mengajak nya kemari. Dan seorang itu adalah.

"Aku baik-baik saja Dokter Zhang"

Dokter yang dulunya adalah tempat konsultasinya melakukan kontrasepsi, Dokter itu adalah teman Chanyeol. Dan Itulah alasan nya kenapa ia sempat terkaget saat tidak sengaja bertemu Yixing. Bagaimana kalau dia...

Membahas Chanyeol.

"Kau kemana saja? Kenapa kau pergi dari rumah Chanyeol?"

Baekhyun menyembunyikan tangannya yang tiba-tiba bergetar di bawah meja. Ada apa dengan nya?

Masih sama, yeoja dihadapannya itu tetaplah wanita yang sangat manis dan lembut, jika saja Baekhyun tidak merasa segan. Pasti sekarang dia akan lari tanpa permisi dari pada harus mengungkit-ungkit masalalunya.

Yixing menyunggingkan senyumnya melihat Baekhyun sepertinya tidak mau menjawab pertanyaannya.

"Baiklah, jadi kenapa kau bisa ada di Seoul?"

Yixing berdehem kecil sebagai jalan pengalihan topik. andai saja perkataan nya bisa diralat, tentu ia tak akan menanyakan tentang Chanyeol di awal obrolan mereka.

Karena membuat obrolan itu menjadi canggung.

"Anak ku sedang di Rawat di Rumah sakit"

Jawab Baekhyun mantap, seolah ingin menjelaskan statusnya sekarang.

Yixing hampir tersedak kopinya sendiri saat mendengar apa yang Baekhyun katakan.

"Apa? Anak?"

"Iya, Anak ku, Aku sudah menikah sekarang"

Jawab Baekhyun lagi.

Lagi-lagi Yixing hanya bisa terbeliak tidak percaya.

"Kau menikah dengan siapa?"

"Tentu saja dengan seseorang yang mencintaiku"

Baekhyun memaksakan tersenyum walau saat ini hatinya terasa diremas. Bodoh! apa yang baru saja ia katakan.

"O-oh, selamat kalau begitu"

Tukas Yixing canggung, awalnya ia sempat mengira bahwa anak yang Baekhyun maksud adalah anak Chanyeol.

Baekhyun mengangguk mengiyakan, yeoja itu lalu meraih cangkir kopinya dan ikut meminum isinya. Sungguh tidak sopan jika dia harus pergi tanpa meminumnya sama sekali. Yaa, sekedar formalitas, karena nyatanya Baekhyun sudah tidak kuat jika harus lebih lama disana.

"Baekhyun, apa kau sudah tahu?"

Yixing berkata dengan hati-hati. Ini adalah kesempatannya bertemu dengan Baekhyun, barangkali yeoja dihadapan nya mau membantu.

"Tentang apa?"

"Tentang Chanyeol"

"Maaf apapun yang berhubungan dengan Chanyeol bukan urusan ku"

Baekhyun segera menarik kursinya mundur, ia harus segera pergi dari situ. Atau Yixing benar-benar akan mengujinya.

"Kukira Putriku akan mencariku nanti, maaf aku tidak bisa berlama-lama disini"

Yixing juga ikut berdiri dan menghentikan pergerakan Baekhyun dengan mencekal pergelangan tangannya cepat.

"Baekhyun, maafkan aku jika aku menyakiti perasaan mu. Aku juga tidak bermaksud mencampuri kehidupan mu sekarang. Aku hanya seorang sahabat yang ingin menolong teman, tolong dengarkan aku sebentar"

Dirasa tidak ada pergerakan perlawanan dari Baekhyun, Yixing segera melepaskan genggaman nya.

"Baekhyun, Chanyeol sedang sekarat"

Deg~

Detik itu juga Baekhyun menoleh dengan wajah kagetnya, matanya memanas tetapi bibirnya berbohong.

"Aku harus segera pergi"

Tanpa menunggu Yixing akan mencegahnya lagi, Baekhyun berbalik dan berjalan tergesa menuju lift. Tangannya yang menganggur ia gunakan untuk menyeka air mata bodohnya.

Baekhyun tidak tahu kenapa ia harus menangis. Seharus nya ia tidak begini, ini salah. Karena dia tidak peduli apapun tentang Chanyeol.

Begitukah?

"Mama"

Suara Bing bing memanggilnya.

Baekhyun mendongakkan kepalanya secepat kilat. Astaga! apa lagi ini.

Bing bing berlari kearahnya dan seperti biasa bocah itu pasti berteriak memanggil namanya walau dalam jarak yang lumayan jauh.

Tapi, bukan itu masalahnya.

"Ch-Chanyeol..."

Ucapnya lirih begitu melihat seseorang pria tinggi yang sedang bersama anaknya.

Dan tidak jauh berbeda dari Baekhyun. Saat ini Chanyeol juga hanya mematung seperti es. Dia bahkan lebih kaget dari yeoja itu.

Apakah dia sedang bermimpi, Baekhyun ada dihadapannya.

Tapi, apa tadi siapa yang anak kecil itu panggil 'Mama?'

"Mama..."

Baekhyun baru tersadar dari keterpakuan nya ketika tangan mungil anak itu mengguncang kakinya.

Dia sudah seperti orang bodoh disini. Semua yang ia alami ini terlalu tiba-tiba. Maka dari itu ia segera menarik tangan anaknya dan pergi dari situ.

Membawa putrinya pergi cepat-cepat tanpa memperdulukan seruan protes dari si kecil.

"Baekhyun"

Panggil namja itu setelah berhasil mengeluarkan suaranya. Ia baru sadar jika yang dilihatnya itu bukan lah mimpi. Yeoja itu adalah Baekhyun,

Baekki kecil nya.

Chanyeol hendak mengejar Baekhyun yang kini terlihat memasuki lift. Tapi seseorang mencegat dan menghentikan langkah nya.

"Yixing, dia Baekhyun? Apa aku tidak bermimpi?"

Tanya Chanyeol kalut. Wajahnya sudah sangat uring-uringan seperti orang kesetanan.

"A-aku harus mengejarnya, tolong lepaskan tangan mu. Aku ingin berbicara padanya"

"Tidak Chanyeol!"

Chanyeol tersentak, ia sudah hampir memaki yeoja yang sedang menatapnya prihatin itu.

Apa maksudnya dengan 'tidak?'

Apa yeoja itu bermaksud melarangnya bertemu Baekhyun.

"Tidak sekarang. Aku akan berbicara padanya untuk meminta menemuimu nanti, percayalah padaku"


Baekhyun ragu untuk memutar knop pintu kamar itu. Jantungnya berpacu dengan gilanya.

Yixing mengatakan Chanyeol ingin meminta maaf padanya, setidaknya sesakit apapun hatinya dia harus menahan ego sebentar. Walau dalam hati ia juga sangat penasaran dengan apa yang Yixing katakan. Bahwa...

'Chanyeol sedang sekarat'

Baekhyun mengetuk pintu itu sebelum membukanya, hatinya berdesir lagi melihat Chanyeol yang tengah meminum obat. Sepertinya namja itu tidak menyadari kedatangan nya.

Satu yang bisa Baekhyun tangkap, Chanyeol semakin kurus, wajahnya juga tidak secerah dulu.

Astaga, sakit apa sebenarnya orang itu. Rasa cemas tentu ada, karena Baekhyun juga pernah jatuh cinta kepada namja brengsek itu.

Chanyeol yang baru selesai meminum obatnya lalu beranjak naik keranjangnya lagi. Ia tersentak setelah menyadari Baekhyun sudah ada didalam kamarnya.

"Ba-Baekhyun"

.

Mereka duduk dalam diam dan kecanggungan.

Sebenarnya Chanyeol sudah sangat gatal ingin membuka suaranya. Tetapi ia bingung harus memulai darimana.

Ia juga tidak tahu, haruskah ia minta maaf?

Tapi, apa salahnya?

"Kemana kau pergi?"

Dan diluar kendali otaknya ketika bibir itu mengucapkan sesuatu yang bukan ia ingin tanyakan.

Baekhyun sempat tersentak kecil ketika suara berat itu bertanya padanya.

"Aku pergi mencari kehidupan yang lebih baik"

Jawab Baekhyun sedingin mungkin. Bibir tipisnya yang biasanya berkata sangat ringan kini benar-benar merasa kelu hanya untuk berucap.

"Anak itu?"

Baekhyun menoleh. Ia tahu siapa yang Chanyeol maksud, bahkan ia lupa menanyakan pada putrinya bagaimana bisa mengenal Chanyeol.

"Ada apa dengan nya, dia anak ku tentu saja. Karena aku sudah menikah"

Chanyeol merasa ngilu dihatinya, bodoh memang jika mengira Baekhyun tidak bisa bahagia dengan namja lain. Baekhyun pantas mendapatkannya.

Tidak seperti dirinya, manusia brengsek sedunia. Tapi kenapa semua orang bahagia? Kenapa hanya dia yang menderita.

Orang-orang datang kepadanya hanya karena rasa kasihan. Dan Chanyeol tahu saat inipun Baekhyun kemari juga pasti dengan perasaan seperti itu.

Sial, Chanyeol merasa emosi.

"Menikah? Dengan lelaki yang lebih kaya?"

Ya Tuhan, seharusnya Baekhyun tidak akan pernah percaya pada Yixing jika orang disebelahnya itu akan minta maaf. Atau mungkin saja ini hanya akal-akalan mereka.

Harusnya ia sudah menduga.

Dengan tangan yang mengepal emosi, Baekhyun berdiri dari duduk nya. Chanyeol hanya lelaki kurang ajar dan selamanya tidak akan berubah.

"Kurasa keputusanku kemari adalah salah, aku akan pergi sekarang!"

"Tunggu!"

Dan dalam hitungan kurang dari sedetik Chanyeol telah berhasil merengkuhnya. Membalik tubuh Baekhyun secepat kilat sebelum yeoja itu berniat meninggalkannya.

Chanyeol memang sangat sensitif, dan itu bukan tanpa alasan. Tapi begitu ia telah melangkah kejalur salah, ia harus segera berbelok. Chanyeol tidak mau melakukan kesalahan untuk kedua kalinya.

"Maafkan aku Baekhyun, Maafkan aku telah menyakitimu"

Bisik Chanyeol yang sedang merengkuhnya erat. Suara itu terdengar amat pilu.

Baekhyun terperanjat. Matanya melebar menyadari tangan Chanyeol telah melingkari bahunya.

Tuhan, apakah sebentar lagi akan kiamat? Apa yang Chanyeol lakukan ini adalah nyata? Baekhyun membeku, dan kali ini air matanya berhasil menetes.

"Chanyeol, apa yang kau lakukan, lepaskan aku"

Pinta Baekhyun dengan lirih, bibirnya memang mengucap demikian. Namun hatinya menginginkan sebaliknya. Berharap Chanyeol tidak menuruti keinginannya. Mungkin dia gila, tapi biarkan untuk sekali saja.

"Tidak, jika aku melepaskanmu maka kau akan lari dariku"

Sakit sekali. Bahkan Baekhyun yang sehat dan tidak memiliki riwayat penyakit apapun kini tengah mencengkeram dadanya kuat-kuat. Kenapa rasanya ngilu seperti ini.

Hening untuk beberapa saat. Mereka masih saling berpelukan, baik Chanyeol maupun Baekhyun salah satu diantara mereka masih enggan untuk melepaskan diri. Dada Chanyeol berdesir mendapati kenyataan bahwa Baekhyun sedang terisak pilu disana.

'Apa yang harus aku lakukan untuk menebus kesalahanku Baekhyun'

Kalimat itu, Chanyeol terlalu takut untuk mengucapkan nya, ia takut jika Baekhyun akan menjawabnya.

'Biarkan aku bahagia'

Chanyeol tidak bisa.

Karenna itu artinya semua sudah berakhir untuk Chanyeol, membiarkan Baekhyun bahagia, itu sama dengan membiarkan Baekhyun pergi dari nya.

Chanyeol tidak mau itu terjadi, setidaknya disisa waktunya yang tidak akan lama ini saja.

Brengsek, sebenarnya Chanyeol tidak mau mengakui ini. Tetapi ia rasa sat ini ia benar-benar sudah lemah. Penyakit itu menghancurkan nya secara perlahan.

Tanpa melepas pelukannya namja itu meraup bibir milik Baekhyun. Menciumnya hangat dan dalam. Dia sudah memutuskan akan memaksa Baekhyun membalasnya jika yeoja itu menolak.

Biarkan ia menjadi egois, bukankah selama ini Baekhyun tidak pernah menolaknya.

Chanyeol merasa melambung tinggi ketika pugutannya mendapat balasan.

"Baekhyun kembalilah padaku"

Ujar Chanyeol begitu menyudahi ciuman mereka. Jarak mereka begitu dekat hingga hembusan nafas menyapa satu sama lain.

Tunggu sebentar, Baekhyun harus teringat siapa dirinya.

Luhan, Luhan suaminya. Orang yang sudah berkorban banyak hal untuk nya. Tidak, Baekhyun harus sadar posisinya sekarang. Dia harus tegas. Selama tiga tahun pernikahan nya ia bahkan mungkin sedah terlalu banyak mengecewakan Luhan, ia tidak boleh melakakukan itu lagi.

Dengan gerakan tergesa Baekhyun menjauhkan wajahnya dari Chanyeol. Cukup, ia rasa ini sudah melampaui batas.

Tanpa mengucap sepatah katapun Baekhyun berbalik dan hendak keluar dari sana.

Sret~

Bruuk!

Tapi lagi-lagi Chanyeol menghentikannya. Namja itu bahkan telah membantingnya dia atas tempat tidur dan segera memenjarakan tangannya.

"Kau tidak boleh kemana-mana Baekhyun, kau harus tetap menjadi milik ku"

Sorot mata Chanyeol sangat berbeda dari beberapa menit yang lalu.

"Kau mau apa? Chaannnhh lepassssssss!"

Baekhyun meronta sekuat tenaganya begitu menyadari Chanyeol lagi-lagi melecehkannya.

Namja itu tidak menggubris sedikitpun rontaan dari gadis yang tengah ditindihnya. Emosi telah menguasai tubuhnya. Dan Chanyeol sudah hilang kendali.

"Kau hanya menyukai uang kan? katakan harus berapa aku memberimu? Aku yakin kau juga tidak mencintai suami bodoh mu itu, Oh! siapapun dia aku benar-benar merasa kasihan padanya"

Baekhyun menganga mendengar semua penghinaan Chanyeol padanya. Dia menghina Luhan, itu benar-benar menyakitinya.

Setelah mengumpulkan semua kekuatannya Baekhyun berhasil menampar pipi Chanyeol keras-keras. Dan berhasil, namja itu melepaskan cengkeramannya pada Baekhyun.

Begitu merasa longgar Baekhyun segera bangun dari sana. Dadanya naik turun karena menahan emosi, air mata nya telah membanjiri mata sipit itu.

"KAU MEMANG NAMJA BRENGSEK PARK CHANYEOL DAN ITU TIDAK AKAN PERNAH BISA BERUBAH!"

Brak!

Dan pintu kamar itu tertutup tanpa sopan santun. Persetan jika ia akan ditegur suster karena telah membuat keributan di Rumah sakit. Ia tidak peduli, tetap dilangkahkannya kaki itu setengah berlari menjauh sejauh mungkin.

Chanyeol luruh kelantai saat itu juga, ia mencengkeram dadanya kuat-kuat. Rasa panas di pipinya tidak sebanding dengan rasa hancur hatinya saat ini.

Kesalahan ketiganya.


Ke esokan harinya Bing bing terlihat sangat murung. Bocah cilik itu menduga bahwasanya sang Ibu masih marah padanya, karena dari kemarin Ibunya tidak mengajaknya bicara sedikitpun. Anak itu tidak punya keberanian untuk melawan ibunya. Apalagi tidak ada Luhan yang selalu membelanya.

Saat ini Ibunya sedang pulang kerumah seperti biasanya, namun bedanya Baekhyun bilang tak akan lama. Karena hari ini Bing bing sudah boleh pulang.

Tampaknya bocah itu terlihat tidak senang. Sejak tadi ia kepikiran Ahjussi itu. Ia ragu untuk menemuinya jika mengingat betapa marahnya sang Ibu kemarin.

"Tapi kan hari ini Bing bing mau pulang, Mama pasti mengerti" Gumam nya dengan wajah bingung.

Dan akhirnya Bing bing nekat dengan keputusan nya. Bocah itu keluar dari kamar inapnya dan menuju pos suser.

Ia meminta ijin pad seorang suster yang sedang berjaga, begitu ia mendapatkan ijin, Bing bing segera berlari kelantai bawah. Lagi pula Baekhyun belum datang. Ia berjanji tidak akan lama. Apa lagi sampai ketahuan. Jangan sampai.

Mata bulat itu berbinar cerah begitu mendapati kamar Ahjussi nya terbuka.

"Jadi Ahjussi tidak di taman"

Dengan langkah riang kaki kecil itu melangkah kedepan, tepat sekali kalau begitu.

Tapi begitu sampai ke pintu mata itu terbeliak mendapati banyak sekali tenaga medis didalam sana. Bing bing hendak berlari kedalam sebelum salah seorang suster menghentikannya.

"Eh, Adik kecil kau tidak boleh masuk"

"Kenapa, apa yang terjadi pada Ahjussi?"

Tanya Bing bing yang terlihat mulai tidak tenang.

"Tidak apa-apa Dokter sedang mengobatinya, tidak boleh ada yang masuk Arraji"

Bohong, itu bohong. Ia memang hanya anak kecil. Tetapi ia tahu Ahjussi nya sedang tidak baik-baik saja, apalagi setelah mendengar saura teriakan bersahutan didalam kamar itu. Dari balik pintu kamar itu ia bisa melihat seorang dokter sedang menekan Defibrilator pada namja itu berulang-ulang.

Bing bing menjatuhkan air matanya begitu saja. Dia pernah melihat di drama-drama yang dulu ditontonnya. Ia tahu itu adalah pertolongan untuk orang yang akan meninggal dunia.

"Ahjussi, jangan pergi"

- 'Cut' -


Hahahaha abisnya banyak yang protes ditulisin 'To be Continued & Bersambung'

Silakan ditebak lagi, Saya yakin readersnim bakal syok sama Ending nya /evilsmirk/

Thanks to :

Guest1 - Guest2 - ji tao veng - Sniaangrn - neli amelia - followbaek - Re-Panda68 - bellasung21 - she3nno - ParByun - mpiet lee - chanchanyeol 61 - sayangsemuamembersuju - danactebh - AeELF - Milkasoonja - pcyproperties - LynKim - narsih556 - Byunee - nurhasanah putri 146 - maya han - Baby Kim - yumnada1 - aaa - devrina - beng beng max - honq - dokbealamo - nanacputri1 - bee - khamyauchiha23 - inaameliad - baekhaan - es lilin - miu miu - GIRLIEXO - firdaoktavianti - Kim Dihyun - Acha Kim - luphbepz - SooJung-ie - Guest3 - meliarisky7 - AuliaPutri14 - IndahOliedLee - devie chaniago 9 - Guest4 - chanbaekshipper - pennsylvania thasia - Lord Chanyeol - Guest5 - Parkbaekyoda - ling-ling pandabear - Kim Ryeona19 - shinhunniechan - melizwufan - sehun ahh - XD - ichalove127 - ShinJiWoo920202 - parkdobee - Rly C JaeKyu - Vita Williona Venus - karwurmonica

Terimakasih banyak buat partisipasi kalian...

Luv Ya :*

Bye Bye...