Sex(y) Love
Main cast : Baekhyun And Find by yourself
Genre : Romance & Drama
Rate : M
WARNING! : NO CHILD
Cerita mengandung unsur dewasa, bagi yang belum cukup umur mohon pikir (minimal 3kali) dahulu sebelum membaca /nahlo/ BENERAN CIYUSSS, SAYA WARN KALIAN!
Judul mungkin gak nyambung sama cerita.
Typo(s) everywhere
Fanfic : GENDERSWITCH (DON'T LIKE DON'T READ) TIDAK MENERIMA BASHING!
Disclamer : Semua cast milik Tuhan dan Keluarganya
Summary
Baekhyun tidak bisa dipanggil dengan sebutan gadis baik-baik. Karena tidak ada gadis baik-baik di dunia ini yang rela membiarkan tubuhnya di jamah oleh orang lain dengan imbalan Dollar.
...
Sex(y) Love
...
Luhan tidak mau mengakui ini, bahwa dirinya sudah kalah. Kalah melawan takdir dan hatinya. Semua orang pasti akan menyalahkannya, karena menganggap Luhan akan menyesal jika mengambil keputusan itu, tapi siapa mereka? Mereka bukan Tuhan, bahkan jika Luhan tidak melakukan itu, belum tentu kalau kebahagiaan akan memeluknya. Luhan sendiri dan dia hanya sendiri bahkan sampai detik ini.
Jika diibaratkan, Luhan mungkin bisa disebut malaikat tak bersayap. Dia rela melukai dirinya sendiri demi kebahagiaan orang lain. Tapi tak selamanya malaikat itu sempurna, Luhan juga punya kekurangan. Dan kekurangan itu adalah... Kelemahan hatinya.
Jahat sekali jika menyebut Luhan bodoh, orang lain tidak akan bisa lihat betapa tersiksanya ia selama ini. Luhan memang terlihat bahagia, dan awalnya ia mengira itu sudah cukup untuk bekal hidup bersama orang tercintanya. Namun sangat disayangkan, kebahagiaan itu palsu. Dan sesuatu yang palsu, sudah pasti tak akan bertahan lama. Luhan tidak pernah benar-benar bahagia sebelum mendapatkan hati Baekhyun seutuhnya.
"Maafkan aku Baekhyun."
Kalimat itu sudah terucap berulang-ulang pada bibirnya, tangannya bergetar memegang kemudi stir. Matanya memanas dan jantungnya sesak, tetapi Luhan tidak menangis. Berulang kali Luhan memikirkan rencananya, tapi pada akhirnya tetap hanya satu jalan yang dia dapat.
Mungkin mereka akan hidup bahagia jika Luhan tidak meminta Baekhyun mengikutinya ke Seoul. Baekhyun akan menungguinya saat pulang kerja. Baekhyun akan memeluknya jika Luhan merindukan ibunya. Dan Baekhyun akan tetap menjadi miliknya. Luhan bahagia seperti itu, dia tidak akan perlu repot-repot memikirkan kalau Baekhyun melakukannya hanya pura-pura. Luhan sudah belajar tidak peduli, ia ingin menjadi apatis.
Tapi itu mengingkari janjinya. Hidupnya...
Hidup Luhan adalah untuk kebahagiaan Baekhyun. Dan bila ia tidak bisa menepatinya itu berarti Luhan bukan pria baik. Dia ingkar, maka selamanya ia tak akan tenang. Sekalipun melihat Baekhyun tertawa bersamanya, Luhan masih bisa melihat gurat kekhawatiran diwajah cantik istrinya. Luhan tidak buta, Luhan juga tidak tuli.
Jujur Luhan tidak takut dengan apapun, karena yang ia takuti di dunia ini hanya melihat Baekhyun bersedih. Dia bisa melihat, dia bisa mendengar semuanya. Baekhyun tidak pernah mencintainya.
Dan kini dengan mengatasnamakan kebahagiaan Baekhyun untuk melanggar kodrat kehidupan yang diberikan Tuhan. Luhan pendosa, dia sangat pendosa.
Tapi... siapapun tahu, hidup seperti ini. Cepat atau lambat sudah pasti Luhan akan menemui kematiannya. Baekhyun adalah hidupnya, dan hidupnya adalah membuat yeoja itu bahagia. Jadi kalaupun dia hidup tapi tak bisa membuat Baekhyun bahagia, maka ia rela menukarkan apapun yang ia punya demi meraih kebahagiaan untuk istrinya. Sekalipun itu dengan...
...
...
Nyawanya.
"Baekhyun aku benar-benar mencintaimu," Gumam Luhan terus menerus, hingga dengan lancang air mata itu membasahi pipinya.
Luhan tengah menangis.
Semua bayangan masalalu melintas di kepalanya. Kenyataan bahwa Baekhyun lebih lama hidup dengannya bukan berarti Luhan telah memiliki hatinya.
"Aku tidak pernah pergi kemanapun selama ini Lu, Aku hanya pergi kuliah, lalu menghabiskan selebihnya waktuku di rumah"
"Lalu, kau ingin kemana sekarang?"
"Molla, bukankah kau yang mengajakku keluar. Kau saja yang memutuskan"
"Araseo, kita akan ke Namsan tower, bersiaplah untuk kencan pertama kita"
"..."
"Aaaahhhhh, Ya Ampuuuunnnn, Namsan begitu indah, Aku sangat menyesal melewatkan waktuku sia-sia di rumah selama ini"
"..."
"Aku janji akan lebih sering kemari setelah ini"
"..."
"Baekhyun"
"..."
"Apa benar kita telah pacaran?"
"..."
"Tentu saja kau pacarku, karena aku tidak memberimu pilihan untuk menolak"
"..."
"Luhan & Baekhyun, forever!"
"..."
"Apa kau mempercayaiku?"
"..."
"Bahwa aku akan menjagamu"
Luhan tersenyum miring mengingat semuanya. Jelas saja itu bukan kesalahan Baekhyun. Dia yang bodoh, karena dari awal Luhan sendiri lah yang merencanakan jalan hidupnya.
Dia benci menjadi cengeng, karena dia adalah namja. Namun ada kalanya hatinya lemah. Dan Luhan tak kuasa menahan sesak itu lebih lama, melebihi kekuatan tubuhnya. Luhan merasa tidak punya daya, dan itu sangat menyakitkan baginya.
"Mianhae..."
Gumamnya semakin lirih.
Mata rusanya menyalang begitu menangkap sebuah truck tronton berukuran besar melaju berlawanan arah darinya. Maka dari itu Luhan menambah kecepatan laju mobilnya, dia menulikan telinga dari klakson keras mobil besar di hadapannya. Ini adalah pilihannya. Luhan menginginkan kebahagiaan Baekhyun. Tak peduli jika ia akan mati, dosanya akan ia tebus hari ini juga.
"Baekhyun, Aku sangat mencintaimu, sekalipun harus dengan cara menyakiti diriku sendiri. Surga sudah berbaik hati mengirimmu untuk ku cintai tapi aku tahu, kau bukan untuk kumiliki. Mianhae"
Luhan memejamkan matanya erat-erat ketika merasa jarak mobilnya sudah semakin mendekati truck itu. Dia sudah siap.
"yeongwonhi saranghaeyo"
.
.
.
.
.
Baekhyun berlari tergopoh-gopoh di sepanjang koridor rumah sakit besar itu. Sebenarnya tubuhnya sangat lemah, dan ia telah jatuh berkali-kali karena kekuatan tubuhnya tidak sinkron dengan otaknya. Air matanya pun tak bisa berhenti mengalir setelah mendengar 'berita buruk' tadi.
"pabo"
Umpatnya yang bahkan terdengar seperti mengucap mantra tidak jelas. Hanya satu kalimat itu yang ia ucapkan beribu kali dari belah bibir tipisnya di sela-sela laju kakinya yang semakin melemas. Persendiannya seakan lumpuh, Baekhyun ingin berteriak sekencang-kencangnya disini. Tapi tenggorokannya tercekat.
Baekhyun meraung dalam tangis, Kenapa Tuhan sangat jahat padanya. Apa ia terlalu berdosa hingga Tuhan menjatuhkan hukuman bertubi-tubi padanya.
Pertama, membiarkannya mengetahui fakta bahwa Chanyeol sekarat, seperti sebuah pedang menghunus jantungnya tapi tidak langsung membunuhnya. Perih, karena darah itu mengalir tanpa bisa berhenti.
Seolah belum cukup rasa sakit tikaman itu sembuh. Kini dengan tega sebuah anak panah kembali menghujam dada sebelah kanannya. Lalu kenapa tidak sebelah kiri? kenapa tidak langsung mengenai jantungnya saja. Kenapa semua terlalu berbelit-belit, bukankah jika panah itu tepat mengenai jantungnya maka ia tidak akan perlu merasakan kesakitan lagi. Tapi apa? takdir begitu suka mempermainkannya, atau Tuhan lah yang terlalu kejam karena dengan sengaja menyiksanya hidup-hidup.
Haruskah ia meminum racun agar semuanya cepat selesai. Haruskah Baekhyun mengakhiri hidup dengan tangannya sendiri jika Tuhan enggan mencabut nyawa lemah itu dengan kuasanya.
Yeoja itu limbung tepat ia sampai di depan ruang operasi. Pandangan matanya berkunang-kunang, dan perasaannya campur aduk hingga membuatnya merasakan mual. Ia kusulitan bernafas bukan karena ia habis berlari entah pada jarak berapa kilometer, tapi Baekhyun sesak ketika menyadari jika mungkin saja saat ini Luhan tengah meregang nyawa di dalam sana.
Demi Tuhan, kenapa semua orang begitu kejam padanya.
Baekhyun jatuh bersimpuh di atas lantai dingin rumah sakit itu, tenaganya sungguh sudah mendekati titik minus. Hingga Baekhyun melihat seseorang berpakaian putih datang menghampiri dan segera memeluk tubuhnya.
"Dokter Zhang... Kenapa?"
Gumam Baekhyun lirih dalam dekapan Dokter yeoja itu. Ia tidak peduli kalau-kalau air matanya akan membasahi jas yeoja berdimpel dalam itu. Persetan dengan semua itu. Baekhyun hanya ingin menangis, walau ia rasa itu saja juga tidak cukup.
"Kau harus kuat Baekhyun-ah"
Balas yeoja itu sambil mengelus surai lembut milik Baekhyun. Sebenarnya Yixing bukan wanita tegar, hanya saja tidak etis jika ia memperkeruh suasana dengan ikut menangis melihat Baekhyun begitu menyedihkan. Sebisa mungkin, ia menenangkan Baekhyun.
"Kenapa?... kenapa harus Luhan... kenapa tidak aku saja"
Isak Baekhyun lagi dengan nafasnya yang pendek-pendek. Ia sesenggukan hingga suara tangisnya pun sudah mulai samar.
Yixing tak kuasa menjawabnya, karena ia tahu tidak ada jawaban yang tepat untuk pertanyaan Baekhyun.
Dokter yeoja itulah yang mengabarkan berita buruk ini pada Baekhyun, entahlah Yixing sendiri sebenarnya tidak terlalu tahu detailnya. Tapi Kris yang menyuruhnya.
Yixing mendongakkan kepalanya ketika mendengar pintu operasi di sebelahnya terbuka, tetapi ia tak melepaskan pelukannya. Ia hanya mengamati Kris yang sedang berbicara serius dengan seorang Dokter yang baru saja menangani Luhan. Yixing menerka- nerka kemungkinan terburuk yang akan terjadi, gestur tubuh suaminya menjelaskan semuanya.
Yixing semakin mempererat pelukannya pada tubuh Baekhyun saat melihat Kris berjalan mendekati mereka. Yixing menggeleng seolah memberi isyarat pada Kris untuk tidak berkata apapun, tapi nyatanya namja itu keras kepala.
"Baekhyun..."
Panggil Kris lirih begitu berada tepat di hadapan kedua yeoja itu.
Baekhyun melepaskan pelukannya ketika menangkap suara lirih yang memanggil namanya. Wajah cantik itu terlihat sangat berantakan, baju, rambut bahkan semuanya sudah sangat kusut.
Ia menatap Kris seolah meminta penjelasan. Tapi ia tak mau beranjak dari posisinya. Karena ia yakin, kalaupun ia berdiri sekarang, cepat atau lambat ia akan luruh ke lantai lagi.
Namja itu terlihat gusar, ada sedikit perasaan tidak tega untuk menyampaikan ini. Karena Kris sudah menebak hal buruk yang bisa menimpa Baekhyun saat yeoja itu mendegarnya. Tetapi ia juga tidak diberi pilihan, Kris sudah berjanji untuk mengatakannya, apapun yang terjadi.
Karena itu adalah janji yang dia buat dengan...
Luhan.
Luhan hampir saja melakukan suatu hal yang pasti akan membuatnya menyesal seumur hidupnya.
Membunuh Chanyeol? itu memang sangat mudah untuk ia lakukan, bahkan semudah membunuh nyamuk yang berani menyentuh kulitnya, tapi Luhan tahu konsekuensinya. Jika ia benar-benar melakukannya, itu sama saja dengan ia membunuh Baekhyun juga.
Yeoja itu adalah dunianya, Luhan akan sangat menderita jika ia menghancurkan dunianya. Well...
Maka dari itulah ia kemari, bertarung melawan takdir demi yeojanya. Luhan akan menukar apapun untuk kebahagiaan Baekhyun. Apapun dengang yang ia miliki.
Luhan mendatangi ruangan Dokter Wu, yang mana ia ketahui bahwa namja itulah Dokter khusus yang mengangani Chanyeol.
Langkahnya begitu berat ketika ia mulai memasuki ruangan kerja Kris. Tiga kali Luhan mengetuk pintu itu hingga suara di seberang pintu mempersilakannya masuk.
"Maaf ada yang bisa saya bantu?"
Tanya Kris sopan kita Luhan berjalan mendekat kearah mejanya. Kris yang sedang sibuk dengan bebarapa data pasiennya hari ini itu menatap bingung mendapat kunjungan mendadak dari Luhan, dikarenakan ia tidak mengenal namja bermata cantik itu.
"Aku adalah Luhan, suami dari Byun Baekhyun" Jawab Luhan memperkenalkan dirinya. Ia sengaja membawa nama istrinya karena Luhan yakin jika Kris mengenal betul siapa itu Baekhyun.
Dan itu terbukti dari ekspresi Kris yang terlihat terkejut ketika mendengar pengakuannya. Bahkan namja itu cepat-cepat meninggalkan pekerjaannya demi menatap Luhan serius.
"Aku ingin bertanya sesuatu padamu Dokter"
Ujar Luhan lagi sebelum Kris membuka mulutnya.
"Ya?"
"Bagaimana cara menyembuhkan Park Chanyeol?"
Tanya Luhan dengan wajah serius namun terkesan begitu dingin.
Kris megamati Luhan sebentar, merasa aneh mendengar pertanyaan itu dari mulut Luhan.
"Kami tidak bisa menjamin untuk menyembuhkannya, kami hanya bisa membantunya untuk bertahan sedikit lebih lama"
"Jadi kapan dia akan mati?"
"Ne?"
Kris tercengang begitu mendengar jawaban cepat dari Luhan. Namja itu menatap sambil membulatkan matanya. Kaget.
"Kapan Chanyeol mati? Jika dia tidak bisa hidup lebih lama kenapa kalian harus membuat ini begitu sulit? Membiarkannya hidup dengan bantuan alat-alat seperti itu tidak akan merubah apapun kan? Bisakah kau membiarkannya pergi secepatnya?"
Kris semakin melebarkan matanya menelaah semua ucapan demi ucapan yang keluar dari bibir Luhan.
Luhan terlihat begitu tenang, tapi ada satu yang bisa Kris tangkap dari namja itu. Namja itu sedang bertarung keras melawan hatinya.
"Kami tidak bisa melakukan itu, karena itu sama saja dengan membunuh pasien. Dan hal itu manyalahi aturan kedokteran"
Jawab Kris tegas.
"Tapi aturan kalian membunuh banyak orang, kau membiarkan Chanyeol hidup dan itu menyiksa Baekhyun-ku! Kau tahu... Aku sangat mencintainya, tetapi Baekhyun tidak pernah mencintaiku. Mungkin dia menyayangiku, namun itu tidak cukup. Aku membutuhkan hatinya, karena saat ia menatap Chanyeol aku selalu merasa tersisihkan. Baekhyun mencintai Chanyeol, tapi namja sialan itu akan mati. Kau tahu, kau menyiksanya Brengsek!"
Umpat Luhan dengan menggebu-gebu. Ia mulai meradang, racun sudah menyebar keseluruh tubuhnya dan bahkan sampai saat ini ia belum menemukan penangkalnya.
Kris tidak menjawab. Ia membisu, lambat laun Kris bisa membaca bagaimana perasaan Luhan saat ini. Walau Kris tidak mengenal Luhan sedikitpun, entah mengapa ia seolah terlarut dalam penderitaan namja itu hanya mendengar ceritanya.
Luhan mengatur nafasnya, ia rasa dirinya sudah kelewatan. Luhan menstabilkan emosinya yang baru saja meledak.
"Kalau begitu lakukan transplantasi hati sekarang juga"
Lanjut Luhan mulai bisa mengontrol dirinya.
"Itu tidak semudah yang anda katakan. Kami hanya bisa melakukan transplantasi jika kami bisa menemukan pendonor yang sesuai"
"Aku yang akan melakukannya. Ambil hatiku!"
"Jangan bercanda! Transplantasi tidak bisa dilakukan pada pendonor hidup. Sel kanker pada diri Chanyeol tidak main-main, bukan hanya hatinya yang sudah rusak total, tetapi sel kanker itu sudah menyebar dan hampir menjangkit ke seluruh organ dalamnya"
"Lakukan apapun, ambil hati, jantung, paru-paru, bahkan nyawaku! semua akan ku berikan pada si brengsek itu. Asal kau berjanji akan membuatnya hidup sehat"
Jawab Luhan cepat, dan lancar tanpa ragu sedikitpun. Hingga membuat Kris lagi-lagi hanya bisa terdiam.
'Namja itu? Apa dia baru saja bilang akan mendonorkan hatinya? Tidak, bahkan dia bilang akan mengorbankan nyawanya untuk Chanyeol'
Kris membatin.
"Aku melakukannya bukan untuk Dia, aku melakukan semua ini karena Baekhyun"
Jelas Luhan membuat Kris semakin memandangnya tak percaya.
"T-tapi..."
"Ku mohon, berjanjilah padaku"
Kris menjelaskan semua itu dengan nafas berat. Ia benar-benar tidak tega mendapati wajah Baekhyun yang saat ini seakan-akan tidak mengerti sedikitpun dengan apa yang ia ucapkan.
Namja berparas tampan itu merogoh sesuatu dalam saku jubahnya, lalu menyerahkannya dengan diam kepada Baekhyun.
Baekhyun menerimanya dengan tatapan kosong, sesekali suara cegukannya masih terdengar. Jemari lentiknya bergetar ketika membuka kertas putih itu, ia tahu betul bahwa di dalamnya adalah tulisan tangan Luhan.
Baekhyun, Aku mencintaimu.
Aku tidak pernah main-main ketika mengatakan ini padamu.
Aku mencintaimu, bahkan disaat detik akhir nafasku.
Maafkan aku, karena aku kau harus memilih pilihan yang sulit.
Kau mungkin salah telah memilihku,
Tapi aku... Aku sangat benar ketika memilikimu.
Aku sangat egois 'kan? apa kau membenciku?
Ku mohon jangan pernah membencinku,
seseorang yang dengan sadar tahu
bahwa bukanlah aku namja yang memiliki hatimu.
Disana sudah dipenuhi oleh orang lain,
Aku hanya memiliki sedikit celah dihatimu.
Dan ironisnya, aku sendiri yang menghela diriku kesana.
Aku memaksa agar bisa menggantikan posisi itu,
aku sudah berusaha terlalu payah.
Tetapi nyatanya dia begitu kokoh.
Bahkan aku masih enggan untuk bisa berdiri tegak di hatimu...
Baekhyun...
Aku kalah...
Aku sudah cukup bahagia seorang diri selama ini,
memilikimu dan Bing bing adalah kebahagiaanku.
Hingga aku lupa bagaimana denganmu
Seolah buta, aku tidak mengindahkan perasaanmu.
Mungkinkah kau sedih? kau cemas, atau takut,
aku mencoba tak menghiraukannya.
Karena kupikir,
saat dimana melihatmu tersenyum, kau benar-benar tulus melakukannya.
Sampai suatu hari aku sadar kau menipuku.
Kebahagiaanmu itu palsu.
Kau memberikanku senyum tapi kau menahan kesedihanmu,
Kau tahu bagaimana perasaanku...?
Cinta ini membelengguku,
Aku sudah berjanji tak akan melepasmu, tapi nyatanya aku mengingkarinya.
Aku bukan pria yang baik, sayang...
Baekhyun, maafkan aku setelah ini.
Aku bukan lelah menjagamu
Demi Tuhan Baekhyun, jika saja Tuhan masih menghendaki aku menjagamu
pasti akan ku lakukan itu sampai aku lupa caranya bernafas.
Aku berusaha membuat orang yang ku sayangi bahagia
dan akan merasa sangat sempurna jika keinginanku terkabulkan.
Karena aku sangat mencintaimu...
Kumohon
Berjanjilah...
Jangan menangis lagi, hiduplah bahagia chagi...
apapun yang kau lakukan, aku berjanji akan selalu melindungimu dimanapun tempatku sekarang berada.
Wo feichang feichang de Ai Ni Lu Baekhyun
'your lovers...'
Baekhyun menjatuhkan kertas itu begitu saja. Sekali lagi, batu besar menghantam kepalanya. Baekhyun tidak bisa, ia tidak yakin bisa bertahan jika masih ada lagi kejutan untuknya. Baekhyun akan benar-benar mati sekarang juga.
Yixing menatap Baekhyun prihatin, perasaannya ikut kalut melihat Baekhyun yang terlihat semakin hancur. Sungguh, dia juga manusia, dan ia tahu betul bagaimana perasaan Baekhyun.
"Semua ada ditanganmu Baekhyun, jika kau menyetujui keinginan Luhan. Maka kami akan melakukan operasinya"
Kris merasa seperti orang brengsek ketika mengatakan hal itu. Tapi ia sudah terlanjur terlibat. Tidak ada jalan baginya untuk mundur.
"Karena menyelamatkan nyawa Luhan pun itu terdengar sangat tabu, Luhan mengalami benturan keras di kepalanya dan kerusakan total pada seluruh bagian tubuhnya. Kalau pun hidup, dia pasti akan sangat menderita. Itu akan sangat meny-"
"LALU KAU INGIN AKU MEMBIARKANNYA MATI BEGITU SAJA SETELAH APA YANG SUDAH DIA LAKUKAN UNTUKKU?"
Bentak Baekhyun cepat, seolah mendapatkan sedikit kekuatan. Yeoja itu lantas menatap tajam Kris yang tengah menatapnya sedih.
"Kau ingin aku menyetujui Luhan mendonorkan hatinya... dan... dan membiarkannya mati?"
Mungkin besok Baekhyun tak bisa mengangis lagi. Karena hari ini air matanya sudah terkuras habis. Seperti saat ini, kristal bening itu tak pernah bosan membanjiri pipinya.
"Demi Tuhan, kenapa kalian tidak membunuhku saja" Raung Baekhyun semakin terlihat memprihatinkan
Yixing segera menangkup pipi Baekhyun ketika yeoja di hadapannya mulai kalut. Pandangan mata Baekhyun sudah tidak fokus, ia terus saja menggeleng-geleng seperti orang kesetanan.
Baekhyun menatap Yixing yang ikut menangis dalam diam bersamanya.
"Kenapa kalian memberiku pilihan sulit ini? kenapa kalian ingin aku menjadi pembunuh untuk suami ku sendiri? KENAPAAAAAAA!?"
Jika diibaratkan Baekhyun sedang dihadapkan pada jurang terjal yang memiliki dasar lautan, ia sangat merana begitu mendapati kedua namja yang sangat berarti dalam hidupnya tengah tenggelam di bawahnya. Ia hanya memiliki seikat tali maka dia harus menyelamatkan satu orang saja, dan dengan hati yang berat ia harus membiarkan satu namja lagi tenggelam sampai ke dasar laut tanpa bisa berbuat apa-apa.
Baekhyun kembali menggeleng kasar.
"Kalian tidak boleh melakukan ini padaku...hiks"
.
.
.
One Year later...
.
.
.
Baekhyun tengah sibuk membersihkan rumah kecilnya. Bebarapa hari belakangan ini dirinya terlalu sibuk bekerja hingga membiarkan putri manisnya memberantakan isi rumah mereka.
Bing bing akan memasuki sekolah dasar tahun ini dan putri kecilnya tumbuh menjadi gadis yang sangat cerewet. Dan juga terkesan malas membersihkan apapun yang baru saja dia sentuh, tak terkecuali kamarnya sendiri.
Baekhyun pasti selalu dibuat geleng-geleng kepala ketika mendapati keadaan kamar putrinya yang seperti kapal pecah. Padahal sudah berulang kali Baekhyun memperingatkan Bing bing untuk menyimpan barang-barangnya sendiri setelah selesai bermain. Baekhyun terlalu lelah ketika pulang dari tempatnya bekerja, tidak punya waktu hanya untuk membereskan rumahnya.
Beruntung ia tidak tinggal di perumahan mewah nan besar. Ia dan putrinya hanya menyewa sebuah apartement sederhana untuk ditinggali.
Kenapa tinggal di apartement? bukankah Baekhyun memiliki rumah mewah?
Jawabannya adalah,
Baekhyun pindah dari sana. Lebih tepatnya ia meninggalkan Seoul dan menetap di tanah kelahirannya, Bucheon.
Bukan tanpa alasan Baekhyun memilih pindah. Baekhyun hanya tidak mau selalu teringat Luhan.
Suami yang sudah meninggalkannya untuk selama-lamanya.
Sebenarnya Baekhyun tidak terlalu suka membicarakan ini lagi, karena itu hanya akan membuatnya membuka lama. Baekhyun sudah menerimanya, ia tidak mau terus bersedih dan membuat Bing bing ikut bersedih.
Luhan sudah mengorbankan semua yang namja itu miliki untuknya. Luhan memang ingin Baekhyun hidup bahagia, dan Baekhyun akan sangat berdosa jika tidak mengabulkan keinginannya.
Baekhyun meninggalkan semua hal yang berhubungan dengan masalalunya. Hatinya kritis melihat putrinya terguncang karena kematian ayah tercintanya waktu itu. Baekhyun hancur, bahkan serpihannya pun tak bisa menyatu dengan sempurna.
Tepat sehari setelah hari dimana Chanyeol menjalani operasi transplantasi hati, Baekhyun memilih menghilang. Hanya sekali ia menelpon Tao untuk menanyakan keadaan namja itu dan begitu sahabatnya bilang jika operasinya lancar maka tidak ada alasan untuknya tetap disana. Baekhyun membawa Bing bing ke Bucheon, tempat dimana orang lain tidak akan ada yang menyadari keberadaannya.
Aih! membicarakan tentang Bing bing, sepertinya Baekhyun melupakan sesuatu. Baekhyun berjingkat dari posisinya ketika mendapati jam dinding di dalam kamar itu hampir menunjukkan pukul 10. Astaga, lagi-lagi Baekhyun harus mengakui keteledorannya. Hari ini ada acara perpisahan di sekolahan putrinya dan sekarang Baekhyun melupakannya. Aigoo~ makan apa kau Byun Baekhyun.
Yeoja itu memarkirkan mobilnya hati-hati. Walaupun ia sedang terburu-buru tetapi Baekhyun tidak mau mengambil resiko membuat mobil itu kenapa-napa hanya karena kecerobohannya. Demi Tuhan, jika tidak terlambat mungkin Baekhyun lebih memilih menaiki bus dari pada harus membawa mobil perusahaan tempatnya bekerja. Mobil itu memang fasilitas kantor yang diberikan pada karyawannya tapi Baekhyun tidak akan sembarangan menggunakannya jika tidak ke kantor dan, well sedang kepepet seperti ini.
"Ya Ampunnn! Apa acaranya sudah dimulai?" Baekhyun setengah berlari ketika memasuki dalam gedung besar itu. Berkali-kali ia merutuk pada sifat pelupanya. Dia ingat betul jika Bing bing akan tampil sebagai pembuka, dan Bing bing sudah mewanti-wantinya untuk mengiringi saat bocah itu tampil. Tapi apa ini?
Baekhyun... bersiap-siaplah diomeli oleh putrimu.
Baekhyun hampir berlari kebelakang panggung saat itu juga jika tirai di atas panggung tidak segera terbuka dan menampilkan sosok putrinya yang tengah berdiri menggenggam microfon. Baekhyun yakin kalau Bing bing pasti akan marah padanya nanti, tapi dugaannya melenceng begitu mendapati putrinya melambai girang dan tersenyum lebar kearahnya.
Baekhyun mengikuti instruksi anaknya untuk duduk di bangku penonton paling depan. Walau dihiasi wajah bodohnya Baekhyun akhirnya duduk disana. Hatinya bertanya-tanya bagaimana bisa Bing bing tidak memanggilnya keatas panggung.
Karena tidak mau terlalu bingung akhirnya Baekhyun memilih diam dan memperhatikan putrinya dari bangku penonton ketika gadis kecil itu mulai bernyanyi, seiring terdengarnya alunan musik merdu dari sebuah grand piano di belakang Bing bing berdiri. Perlahan-lahan tirainya terbuka lebar dan memperlihatkan si pemain piano. Sekali lagi Baekhyun mengernyit heran memastikan siapa namja dewasa yang sedang mengiringi musik untuk putrinya. Bukankah Bing bing bilang pihak sekolah tidak menyediakan musisi dari luar, karena acara itu diperuntukkan khusus untuk orang tua dan anaknya.
Teman-teman Bing bing mungkin akan kebingungan jika orang tua mereka tidak mengerti musik. Dan dari itulah lebih banyak peserta yang memilih membacakan puisi dan teater.
Tidak mau pusing memikirkan siapa orang asing yang sudah berbaik hati menolongnya, akhirnya Baekhyun memilih fokus memberi semangat anaknya yang tengah menari dan bernyanyi riang. Bing bing terlihat sangat bersinar hari ini. Dan Baekhyun ingin segera tahu alasanya.
Bing bing selesai membawakan lagunya, dan Baekhyun segera berdiri memberi tepuk tangan sangat meriah lalu di ikuti para orang tua murid yang lain. Baekhyun tersenyum lebar, berkali-kali ia mengacungkan kedua jempolnya keatas panggung.
Gadis cilik itu membungkuk memberi penghormatan, sebelum ia teringat kepada orang dibelakangnya. Bing bing berlari menuju pria di balik piano itu untuk kedepan panggung. Dengan langkah riang Bing bing menarik tangan pria itu semangat, lalu mengajak sang pria dewasa membungkuk bersamanya.
Dan saat itu pula, kedua bola mata Baekhyun ingin keluar dari tempatnya. Orang itu... pria yang berada diatas panggung bersama putrinya adalah...
"Park Chanyeol..."
.
.
.
.
.
Mengalah, itulah yang saat ini sedang Baekhyun lakukan, ketika dengan semangat Bing bing membawa Chanyeol ke rumah mereka. Bing bing tidak menerima seruan protes sedikitpun ketika Baekhyun dengan terang-terangan menyerukan larangan saat di sekolah tadi.
Tapi siapa yang tidak tahu Bing bing? bocah itu memiliki sejuta ide ampuh untuk membungkam ibunya.
"Bing bing sedang marah pada Mama, jadi hari ini kau tidak diijinkan protes sedikitpun," Ancam telak bocah itu sambil menyilangkan tangan di dada sambil memanyunkan bibirnya.
Baekhyun membeliak mendapati wajah menyebalkan putrinya, demi Tuhan. Itu juga salah satu turunan dari sifatnya, ngomong-ngomong. Jadi percuma saja Baekhyun melawan Bing bing.
Bing bing tidak perlu repot-repot menunggu ibunya membuka mulutnya, bocah aktif itu segera menarik tangan Chanyeol pergi menuju parkiran.
"Ahjussi, ayo antarkan Bing bing pulang!" Pinta bocah itu, atau malah bisa disebut dengan perintah.
Acara perpisahannya sudah berakhir setengah jam yang lalu, dan Bing bing tidak tahu betapa kakunya sang Ibu duduk bersandingan dengan Ahjussinya saat dia naik keatas panggung untuk mengambil piagamnya.
Bing bing benar-benar!
.
.
.
Hari sudah larut malam, suasana rumah kecil Baekhyun sudah sepi. Karena satu-satunya sumber keributan di rumah itu sudah tertidur pulas dia atas ranjang queen size miliknya.
Seperti biasa, Bing bing tidak akan betah terjaga sampai larut malam. Selalu, setelah satu jam acara makan malam usai pasti gadis cilik itu akan segera tertidur.
Biasanya Baekhyun akan pergi bekerja ketika putrinya sudah memasuki kamarnya. Ia bekerja di perusahaan rekaman yang lumayan besar, tugasnya adalah pemabawa acara siaran radio malam. Dan sesekali ia juga akan tampil dalam acara show music off air. Karena bakat bermain musik yang dimilikinya itulah yang membuat banyak orang menginginkan jasanya sebagai pengisi acara.
Baekhyun akan pulang menjelang pagi ketika putrinya hampir terbangun untuk pergi sekolah. Mungkin satu jam Baekhyun bisa memejamkan matanya sebelum bangun lagi dan menyiapkan semua keperluan sekolah anaknya.
Hidupnya memang terlihat berat, tetapi Baekhyun menjalaninya dengan santai. Baginya, memang begitulah takdirnya. Ia tidak akan pernah mungkin bisa menentangnya.
Hari ini Baekhyun sengaja meminta cuti pada atasannya. Karena ia tahu tidak mungkin bisa bekerja ketika siang hari tidak memiliki waktu tidur barang sebentar, ya... menghadiri acara perpisahan disekolah anaknya. Karena putrinya sebentar lagi akan menginjak bangku sekolah dasar.
Ia mengira akan tidur panjang malam ini, jika saja tidak ada seorang namja yang sedang duduk terdiam di sebelahnya.
"Baekhyun"
Panggil Chanyeol untuk pertama kalinya sedari mereka berjumpa. Dia sudah menahan dirinya untuk tidak berteriak ketika pertama kali bertemu Bing bing di Sekolah tadi. Berterimakasihlah karena Chanyeol menyanggupi datang ke Bucheon untuk perjalanan bisnisnya. Jika tidak begitu mungkin sampai sekarang pun ia tidak akan dipertemukan dengan yeoja yang sangat dirindukannya itu.
"Bagaimana kabarmu?"
Tanya Baekhyun memulai obrolannya lebih dulu, nada suaranya terdengar kaku, jujur ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan. Baekhyun sangat merindukan Chanyeol. Hanya itu yang ada di kepalanya.
"Aku merindukanmu," Jawab Chanyeol lembut. Seolah mempunyai telepati dengan yeoja yang kini juga sedang berteriak 'aku lebih merindukanmu' dalam hatinya itu.
Tidak ada yang menyinggung tentang Luhan, kerena Chanyeol yakin Baekhyun tak akan suka mendengarnya.
Chanyeol tidak akan egois, Luhan sudah memberikan segala hal padanya. Itu berarti tugas Chanyeol menggantikan menjaganya. Menjaga Baekhyun, yeoja beruntung karena mendapatkan cinta yang sangat besar dari dua namja sekaligus.
"Hari ini adalah hari yang sama"
Ujar Chanyeol tampak berbasa-basi.
Baekhyun mengerutkan kening karena tidak mengerti dengan apa yang Chanyeol katakan.
Chanyeol meraih sesuatu dalam kemejanya. Senyumnya tak pernah luntur ketika melihat Baekhyun semakin menatapnya bingung.
Chanyeol merarik paksa kalung dilehernya hingga putus. Kemudian mengambil benda yang semula menjadi bandul kalung itu. Masih dengan senyum misteriusnya, kini ia meraih jemari Baekhyun.
Yeoja itu sempat tersentak hingga membuatnya reflek menarik mundur tangannya. Tapi Chanyeol tidak menyerah, sekali lagi ia meraih jemari Baekhyun dan memasangkan sesuatu dijari manisnya.
Tidak ada yang lebih menggetarkan hati Baekhyun selain sentuhan lembut Chanyeol kali ini. Baekhyun membatin jika yang Chanyeol lakukan adalah memasangkan cincin padanya. Tapi dugaannya salah, ketika Chanyeol sudah melepaskan tangannya, ia baru bisa mendapati benda aneh itu.
Bentuknya tidak seperti cincin, karena benda itu memiliki dua lubang dibagian luarnya.
Sadar dari keterpakuannya, Baekhyun segera mendongak untuk menatap wajah namja yang sudah membuatnya terlihat seperti orang bodoh.
"Apa kau tidak tahu apa itu Baekki?"
Tanya Chanyeol mencoba memancing ingatan yeoja cantiknya.
Baekhyun mengerjap berkali-kali, pandangan matanya fokus pada satu objek itu. Ingatannya mulai berkelana mencari jawaban atas pertanyaan ambigu dari Chanyeol. Namun belum sempat Baekhyun menemukan jawabannya, Chanyeol kembali meraih jemari lentiknya dan menggantikan benda tadi dengan sebuah cincin perak yang terlihat sangat berkilau.
Baekhyun tidak pernah tahu jika Chanyeol mungkin bisa bermain sulap. Bagaimana bisa benda yang tadi melingkar di jari manisnya kini berubah menjadi cincing sungguhan.
"Oppa datang untuk menepati janjinya pada Baekki," Jelas Chanyeol singkat.
"Apa maksudmu?" Tanya Baekhyun membulatkan matanya.
Chanyeol menarik nafasnya dalam, lalu mengeluarkan sesuatu dari saku celananya. Dan menyerahkan benda itu kepada Baekhyun.
"Kenapa aku begitu bodoh, kenapa aku tidak menyadari bahwa selama ini jodohku ada di depan mataku sendiri. Bahkan dia sangat dekat denganku"
"Ha-harmonika ini"
"Apa kau masih menungguku Baekhyun?"
Baekhyun diam. Ia sudah ingat semuanya, teka-teki yang Chanyeol berikan benar-benar membawa semua memory masa lalunya berputar ulang.
Dan gerakan kecil dari namja di hadapannya ini, membuat Baekhyun terpaku. Mata sipitnya mau tak mau kembali membulat penuh.
Chanyeol bersujud di hadapannya.
"Maukah kau menikah denganku Byun Baekhyun?"
Sudah dari setahun yang lalu Chanyeol ingin mengatakan siapa dia sebenarnya kepada Baekhyun. Tapi keadaan yang membuatnya takut untuk sekedar membuka suaranya, Chanyeol sadar ia sangat egois. Waktu yang ia dapatkan, seharusnya ia gunakan untuk minta maaf malah mendorongnya untuk semakin berbuat brengsek.
Jadi bisa dipastikan, bila sekali lagi Chanyeol menyia-nyiakan kesempatan ini. Maka ia benar-benar akan menyesal seumur hidupnya. Sekarang ia berjanji pada dirinya, tidak akan pernah melepaskan Baekhyun lagi.
Masih dengan posisinya bersujud di hadapan Baekhyun, kini tangannya yang menganggur ia gunakan untuk menangkup sebelah pipi Baekhyun hingga membuat yeoja itu tepat menatap manik matanya.
"Menikahlah denganku Byun Baekhyun, aku berjanji tidak akan pernah menyakitimu lagi. Aku akan melindungimu, aku bersumpah" Pinta Chanyeol dengan setulus hatinya.
Baekhyun memejamkan matanya erat, perasaannya sedang bercampur aduk. Sebisa mungkin ia juga harus mengambil keputusan yang tidak akan membuatnya menyesal.
'Apakah Luhan menginginkan ini? tidakkah Luhan akan membencinya?' Batin Baekhyun kacau.
"Dan jika aku melanggar janjiku, maka bunuhlah aku saat itu juga"
Lanjut lagi, seolah-olah masih banyak yang akan ia sampaikan. Dia ingin mengembalikan semua kepercayaan Baekhyun padanya, bukan sebagai Chanyeol, melainkan janji masa lalu kepada Baekki kecilnya.
Tapi Baekhyun terlanjur tak bisa menolak, hatinya berteriak memutuskan apa yang ia inginkan.
Naluri lah yang mendorong Baekhyun untuk meraih bibir Chanyeol. Yeoja itu mempertemukan kedua bibir mereka secepat kilat, Baekhyun ingin mengunci semua yang baru saja Chanyeol katakan. Tidak mau namja itu berubah fikiran ataupun menarik kembali ucapannya.
Tidak bohong, serangan tiba-tiba itu membuat Chanyeol melebarkan matanya. Baekhyun menciumnya. Demi Tuhan, Baekhyun yang menciumnya.
Bunyi kecipak halus menghakhiri tautan singkat itu. Baekhyun merasa air matanya akan segera jatuh.
"Aku bersedia, Aku bersedia menikah dengan mu Oppa"
.
.
.
.
.
"Kris apa kau sudah melakukan apa yang aku minta?"
Yixing mendatangi ruangan kerja suaminya dengan wajah sumringah. Sebenarnya hal yang ia lakukan bisa dikategorikan tindakan kriminal. Dan mungkin saja jika mereka ceroboh, tidak menutup kemungkinan pasangan suami istri itu akan menjadi tahanan.
"Astaga Zhang Yixing, demi Tuhan! kau tidak bercanda kan dengan benar-benar menyuruhku melakukan ini? Kita bisa dalam bahaya!"
Jawab Kris melebarkan matanya, bagaimana mungkin istrinya mengajaknya memasuki jurang.
"Aissh, ku bilang tidak akan apa-apa Dokter Wu, asal kau menutup mulutmu!"
Yeoja itu segera berjalan menuju kursi Kris dan membuat gerakan mengunci mulut Kris dengan jarinya.
"Kita akan aman!" Lanjutnya dengan tersenyum lebar.
"Tap-"
"Hey, mulutmu sudah terkunci jadi kau tidak bisa bicara sekarang! Lakukan tanpa banyak bicara dan jangan benar-benar membuatku marah"
Lihat lah betapa menakutkannya seorang Zhang Yixing saat marah. Baru saja yeoja berdimple dalam itu tersenyum manis, secepat kilat kini wajahnya berubah menyeramkan. Matanya mendelik tajam.
"Aku tidak bisa pergi ke LAB untuk urusan ini Kris, kau adalah Dokternya Chanyeol, jadi hanya kau yang bisa melakukannya"
"Sebenarnya dibayar berapa kau oleh si bebal itu?"
Tanya Kris terlihat mulai kesal, istrinya ternyata tak kalah keras kepalanya dengan Chanyeol.
"A-Apa? Hey, Chanyeol tidak mengetahui apapun tentang ini. Jadi jangan membiarkan Chanyeol tahu sebelum aku memberitahunya. Aku hanya ingin membantunya"
Ujar Yixing menjelaskan semuanya, yeoja itu melipat tangannya didada dan menatap tajam suaminya.
"ya ya ya! membantu Chanyeol dan mencelakai kita begitu maksudmu? Melakukan tes DNA ini tanpa mendapatkan persetujuan dari yang bersangkutan, itu sangat beresiko Zhang Yixing!"
Kris gemas sekali menghadapi istrinya. Kenyataan bahwa mereka belum memiliki momongan ternyata membuat yeoja itu masih memiliki sifal ababil para remaja.
"Percayalah Wu Yifan, kau itu terlalu penakut! Lakukan yang aku suruh atau aku akan pulang ke Changsa hari ini juga"
Oho! Ancaman telak.
Bagaimana mungkin Kris tidak merasa frustasi, Yixing benar-benar hebat. Yeoja itu selalu terlihat sopan dan lembut pada semua orang, tapi minus padanya. Hanya pada suaminya lah sifat aslinya keluar. Seorang yeoja pemaksa dan selalu mengambil keputusan semaunya sendiri tanpa menghargai apa itu penolakan. Seseorang, tolong selamatkan Kris.
.
.
.
.
.
Chanyeol menyeka keringat yang mengalir indah di pelipis Baekhyun. Bibir tebalnya mengulas senyum teramat manis melihat yeojanya memejamkan mata erat.
"Mereka melakukannya untukku," Ucap Chanyeol lirih setelah menyelesaikan ceritanya kepada Baekhyun.
"Yixing mengambil sempel darah Bing bing saat anak itu dirawat di rumah sakit waktu itu," Lanjut Chanyeol lagi.
Sedangkan Baekhyun, ia tidak terlalu fokus dengan apa yang sedang Chanyeol bicarakan.
"Mereka gila," Jawab yeoja itu sekenanya. Tentu saja Baekhyun tidak terlalu sadar saat mengatakannya.
Baekhyun mulai bergerak tidak nyaman ketika Chanyeol menusuknya semakin dalam. Hasrat sudah melebur bersama peluh yang membasahi tubuhnya. Chanyeol semakin mempercepat gerakan pinggulnya untuk mencari titik kenikmatan yeoja di bawahnya.
"Tapi jika bukan karena mereka, aku tidak akan tahu kalau Bing bing adalah putriku, dan... kenapa kau merahasiakan ini padaku?"
Chanyeol tidak bisa menutup mulutnya, ini bisa disebut gaya bercintanya yang baru. Mengoceh saat tubuh bagian bawahnya tengah menegang sempurna.
"Shhhhhhhh mollaaaaaaahhh...ahhh..."
Jawab Baekhyun tidak nyambung, sepertinya lebih baik ia mendesah dari pada harus meladeni pertanyaan Chanyeol. Baekhyun memerlukan energi tambahan.
Chanyeol terkekeh melihat Baekhyun menggelinjang, ia jilati cuping kanan Baekhyun semakin menggoda yeoja itu.
Chanyeol tidak akan bosan mengatakan kalau Baekhyun itu teramat sangat sexy. Tubuh itu memang mungil tetapi sangat berisi. Chanyeol menjadi gemas sedari tadi melihat payudara Baekhyun yang bergerak seirama genjotan pada pinggulnya, dengan jahil Chanyeol meraup puting susu itu kedalam mulutnya. Ia yakin bahwa sebentar lagi Baekhyun akan...
"Aaaaasshhh Channnhh...yeolllhh"
Mendesahkan namanya. Dengan begitu bertambah semangatlah kejantanan Chanyeol yang semakin berdiri tegak menubruk titik kenikmatan mereka.
Baekhyun bergejolak hebat, tubuh mungil itu mulai bergerak resah. Kakinya bergetar tidak karuan. Kedua tangannya meraih apapun yang dekat dengannya sebagai pegangan.
Pergumulan mereka semakin intim. Hasrat keduanya sudah terbakar habis oleh nafsu. Tidak mau menyia-nyiakan waktu, Chanyeol memilih mempercepat gerakan pinggul mereka. Ia ingin sampai bersama yeoja itu.
Chanyeol bisa mendengar deru nafas Baekhyun yang mulai memburu dimana ia yakini sebagai pertanda bahwa sebentar lagi yeoja itu akan orgasme.
Baekhyun berteriak kencang, namun matanya terpejam erat. Sensasi panas tubuhnya sudah mencapai level maksimal. Dengan gerakan acak yeoja itu menempelkan tubuh bagian atasnya pada dada bidang milik Chanyeol.
Baekhyun menggeram lagi. "Aaaakhhh..., aku samm-"
"Saranghae Byun Baekhyun" Bisik Chanyeol tepat di sebelah kuping Baekhyun, sengaja mengatakannya sebelum Baekhyun benar-benar mendapatkan orgasmenya, menurutnya sangat menantang.
Bagaikan tersihir oleh ucapan Chanyeol mata sipit itu kembali terbuka walau hanya dihiasi tatapan sayu. Disela-sela desahannya yang tidak terkontrol itu, Baekhyun berusaha untuk menjawab pernyataan Chanyeol.
"n- naa na-do saranghae"
Dan setelah jawaban singkat Baekhyun, akhirnya jeritan kenikmatan kedua manusia itu menandai puncak permainan mereka.
Baik Chanyeol maupun Baekhyun, mereka sama-sama merasakan kenikmatan yang luar biasa. Sambil menstabilkan nafasnya, kedua insan itu saling berpelukan menikmati sisa-sisa orgasme mereka. Yang jelas masih pada posisi mereka berbaring di atas sofa ruang tamu.
Bahkan untuk berpindah ke tempat yang lebih luas pun meraka enggan.
Chanyeol tidak langsung melepaskan penyatuan penisnya pada kewanitaan Baekhyun. Ia gunakan waktu yang tersisa untuk mengamati wajah Baekhyun yang tengah memerah sempurna. Nafasnya masih tersengal, dan ia pun sama. Tapi Chanyeol tidak bisa menahan rasa bahagianya lebih baik dari ini. Ia mendekatkan wajahnya tepat di depan Baekhyun, membuat yeoja itu tergelitik karena hembusan nafas Chanyeol yang teramat dekat dengannya.
Mata sipitnya mencoba mengerjap berat menanggapi perlakuan Chanyeol padanya.
"Mwoya?"
Tanya Baekhyun terdengar seperti gumaman.
"Dulu aku kira mengapa sex harus memerlukan cinta. Sedangkan cinta itu hanyalah bulshit. Tapi sekarang aku tahu alasannya"
Baekhyun tidak punya tenaga untuk menanggapi ocehan Chanyeol, tapi percayalah telinganya masih setia mendengarkan 100%. Ia hanya terlalu lelah untuk membuka matanya.
"Ternyata bercinta dengan seseorang yang kita cintai itu sangat mengagumkan. Rasanya benar-benar luar biasa!"
.
.
.
.
.
Setelah dua bulan berlalu akhirnya mereka menikah. Di sebuah gereja kecil yang hanya dihadiri oleh rekan-rekan mereka. Disanalah Chanyeol dan Baekhyun mengikrarkan janji suci sehidup sematinya. Ini adalah pernikahan keduanya dan karena itulah Baekhyun bersikeras menolak keinginan Chanyeol untuk melakukan pesta mewah. Baekhyun tidak mau melakukannya lagi, kerena yang ia ingat setelah acara pesta pernikahannya yang bertama ia malah terserang demam tidak jelas. Dokter yang bilang Baekhyun seperti itu, tapi ia tahu bukan penyakit itu yang menjangkitnya, melainkan Baekhyun terlalu lelah meladeni para tamu undangan yang jumlahnya ratusan lebih. Bahkan tidak ada yang dikenalnya satu pun. Semua tamu undangan itu adalah rekan-rekan Luhan.
Sebuah resepsi sederhana yang di minta Baekhyun adalah membuat pesta kebun di belakang rumahnya. Baekhyun sebenarnya tahu, Chanyeol sedikit kesal karenanya. Kkkk tentu saja ini pernikahan pertama Chanyeol dengan cinta pertamanya juga. Dan Baekhyun dengan sadis menghancurkan angan-angan Chanyeol yang menginginkan sebuah pesta mewah dengan hal-hal meriah.
"Sudahlah jangan cemberut terus, bukankah sama saja. Mau pesta mewah ataupun tidak, yang penting kan kau menikahiku"
Hibur Baekhyun mencoba membuat Chanyeol berhenti menekuk wajahnya.
Tapi Chanyeol melengos kesal. Namja itu dengan sengaja menolehkan wajahnya, membuang muka.
Baekhyun ingin terkekeh. Ini adalah pertama kalinya melihat Chanyeol merajuk. Aigoo~ untung saja namja itu memilih diam. Baekhyun tidak bisa bayangkan jika namja yang memiliki suara ngebass itu merengek, heol... pasti akan sangat menyeramkan.
"Park Chanyeol, ayolah!"
Bujuk Baekhyun lagi dengan puppy eyesnya. Yeoja itu mengapit lengan Chanyeol semakin erat.
"Bagaimana kalau honey moon ke Eropa eum?" Sambung yeoja itu lagi semakin gencar memasang wajah imutnya.
Chanyeol menoleh, masih memasang wajah kesalnya. "Eropa? Seminggu?" Tanya Chanyeol dengan dahi mengernyit. Seminggu bersama dengan istrinya itu berarti...
ahhh Chanyeol terlalu jauh membayangkannya.
"Terserah! Seminggu, dua minggu atau bahkan satu bulan eotte?"
"Bing bing tidak ikut kan?" Potong Chanyeol cepat, lihatlah betapa bersemangatnya namja itu sekarang.
Baekhyun menatap Chanyeol tajam. Wajah lembutnya barusan entah menghilang kemana.
"Apa kau gila, bagaimana mungkin kita meninggalkan Bing bing? Kau kira siapa yang akan menjaganya?"
Hampir saja Baekhyun menyentil gemas kening Chanyeol jika suara bocah cilik tidak menghentikannya.
"Jadi Ahjussi tidak mau membawa Bing bing ikut?"
Oho! Bing bing ada disana, gadis cilik itu tengah bersedekap dada dan menatap marah kepada Chanyeol. Yes, Dia mendengar apa yang Chanyeol katakan.
"B-Bing bing sejak kapan kau disana?" Tanya Chanyeol tergagap, sungguh dia sudah seperti seorang maling yang ketahuan mencuri.
Gadis cilik itu melangkah lebar-lebar menghampiri kedua orang tuanya. Masih bersedekap dada. "Ahjussi jahat!"
"Bing bing, dengarkan aku, aihh dan Ya! jangan panggil aku Ahjussi, sekarang aku adalah Ayahmu"
"Shireo!"
Chanyeol kelabakan begitu melihat putrinya tengah mengucek matanya dan bisa kacau kalau Bing bing menangis.
Namja itu segera berjongkok untuk mensejajarkan dirinya dengan tinggi Bing bing. Membujuk agar anaknya tidak menangis. "Bing bing, ayolah jangan menangis jebal. Nanti Ayah akan membelikanmu es krim stroberi yang banyak eotte?"
Itu hanyalah salah satu cara yang Chanyeol tahu untuk membujuk Bing bing. Tapi tidak tahukah, bahwa cara itu sudah tidak mempan lagi, terbukti dari malah semakin kencang putrinya menangis.
Chanyeol semakin kepayang, sedangkan Baekhyun tidak bisa menahan tawa melihat pemandangan di hadapannya.
Baekhyun sendiri tidak tahu kenapa Bing bing bersikeras menolak memanggil Chanyeol dengan sebutan Ayah. Padahal gadis cilik itu sudah lengket sekali dengan Chanyeol.
Ah! Baekhyun ingat, apa karena kejadian waktu itu?
Jam masih menunjukkan pukul 5 pagi, tidak biasanya seorang Bing bing akan repot bangun pagi buta begini. Apalagi besok adalah hari libur. Tapi nyatanya bocah itu keluar dari kamarnya sekarang. Tenggorokannya terasa sangat kering dan itu mengusik tidur nyenyaknya. Mungkin juga karena salahnya, makan es krim terlalu banyak.
Dengan langkah malas Bing bing meraih gagang pintu kamarnya, matanya masih setengah terpejam karena mangantuk. Bing bing akan menyalahkan ibunya nanti karena lupa mengisi botol air nya. Jinjja!
Bing bing mengucek matanya berluang-ulang ketika mendapati sesuatu berada di atas sofa rumahnya. Masih berusaha mengumpulkan kesadarannya sampai sempurna, gadis cilik itu mendapati lagi banyaknya baju yang berserakan dilantai. Bing bing mengernyit penasaran, di fokuskan kembali penglihatannya pada sesuatu diatas sofa tadi. Dan lama-kelamaan ia menangkapnya jelas.
Demi Tuhan, Bing bing itu hanya anak kecil yang baru saja lulus dari taman kanak-kanak kemarin. Jadi bagaimana dia tidak terbeliak bingun ketika mendapati, Ahjussi bersama ibunya tidur dalam posisi tumpang tindih. Oh tidak, bukan itu yang membuat Bing bing membulatkan matanya. Melainkan pemandangan itu, Auh! bukanya menutup mata saat dengan jelas dia menangkap sesuatu yang tidak-tidak, ini yang ada Bing bing malah semakin melotot.
Kenapa ibunya tidur tanpa busana begitu diatas sofa? dan hey, Ahjussi itu juga. Bing bing bahkan bisa melihat kedua payudara ibunya kemana-mana. Ya Tuhan! Hanya selimut tipis yang menutupi area privat kedua orang dewasa itu. Atau malah tidak bisa disebut dengan selimut, karena itu adalah.
"Seprei ku" Gumam Bing bing teramat lirih.
Chanyeol merasakan otot lengannya terasa kaku karena tertindih badannya. Namja itu bergerak dari posisinya, tapi dia segera teringat dimana dirinya tertidur. Astaga, masih di atas sofa tempat terakhir mereka bercinta.
Semalam Baekhyun tertidur begitu saja, dan karena terlalu malas beranjak dari sana, akhirnya Chanyeol memilih memeluk tubuh yeoja yang sama naked sepertinya itu kemudian memejamkan matanya. Dengan kesadaran yang tidak sepenuhnya terkumpul Chanyeol meraih apapun yang berada didekatnya sebagai penutup tubuh bawah mereka. Chanyeol masih sempat tersenyum lebar mendapati bagian atas Baekhyun terekspos jelas, mungkin nafsunya akan naik lagi jika tidak memejamkan matanya segera.
Chanyeol menoleh kekiri kekanan untuk melihat pukul berapa saat ini. Jujur ia masih mengantuk tapi mungkin Chanyeol harus segera kembali ke Seoul pagi itu juga. Ada rapat yang menantinya. Chanyeol tidak boleh melalaikan tanggung jawabnya.
Dia meraih kemejanya yang tergeletak diatas meja, dengan susah payah tentunya. Bahkan membuat selimut yang menutupi tubuhnya semakin merosot ke bawah. Masih berusaha menggapai bajunya Chanyeol menangkap siluet seseorang di hadapannya. Dengan gerakan lambat Chanyeol mendongak untuk melihatnya. Dan betapa kedua bola mata itu akan keluar dari tempatnya saat melihat seseorang yang tengah menatapnya diam itu tak lain tak bukan adalah...
"Bing bing"
Panggilnya dengan suara tercekat karena keget. Sedangkan bocah yang dipanggilnya itu balas menatapnya datar, sebelum berbalik menuju kamarnya. Bing bing pergi begitu saja setelah Chanyeol memanggilnya. Gadis itu sudah melupakan rasa hausnya, karena yang ada di kepalanya saat ini hanya Blank!
Baekhyun tentu terkejut mendengar cerita Chnayeol hari itu. Kemungkinan besar itulah penyebab mengapa Bing bing menjadi sangat canggung kepada Chanyeol. Bing bing yang biasanya akan menempeli Chanyeol malah dengan terang-terangan menolak ajakan Chanyeol berlibur ke Jeju. Bing bing tidak mau berbicara dengan Chanyeol, apalagi menuruti keinginannya memanggil Chanyeol dengan sebutan 'Ayah' . Bing bing menolaknya mentah-mentah.
.
.
.
.
Baekhyun datang ke Makam Luhan, hari ini adalah hari ulang tahun namja itu. Dengan memilih meninggalkan pekerjaannya, Baekhyun kemari. Tidak terasa sudah setahun lebih Luhan meninggalkannya. Dan semua yang dialaminya sekarang ini benar-benar tidak pernah terbayangkan olehnya. Mungkin benar, Luhan itu adalah malaikat tanpa sayap yang dikirim Tuhan untuk menjaganya. Dan Baekhyun tidak pernah berhenti bersyukur untuk itu.
Luhan selalu mengusahakan kebahagiaan untuknya. Luhan melindunginya, Luhan mencintainya. Tapi Luhan juga harus tahu, Baekhyun sebenarnya juga mencintainya. Mungkin tidak sebesar apa yang Luhan berikan. Tapi Baekhyun sudah berusaha semampunya.
"Luhan, Bagaimana kabarmu?" Ujar Baekhyun lembut pada gundukan tanah yang kini sudah ditumbuhi rumput hijau. Tangannya meletakkan sebuket bunga cantik diatas nisan itu.
"oh iya selamat ulang tahun, semoga kau selalu bahagia"
Baekhyun tersenyum,
"Kau harus bahagia Lu, keinginanmu sudah terkabulkan. Aku dan Bing bing hidup sangat bahagia. Semua adalah usaha kerasmu."
Baekhyun merasakan matanya mulai memanas. Namun ia tidak berani menangis. Karena Baekhyun sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak memperlihatkan air mata di hadapan Luhan. Walau namja itu hanya berbentuk nisan sekalipun.
Tuhan selalu memiliki rencana baik dibalik semua musibah yang ada. Tuhan tahu sampai mana batas kesanggupan manusia. Tuhan sudah mengaturnya, dan manusia hanya bisa menjalaninya.
Baekhyun berjingkat kecil ketika ada tangan lain meletakkan sebuket bunga di atas makam Luhan. Yeoja itu menoleh ke samping dan menemukan suaminya berdiri disana.
"Hai Luhan, ini adalah kunjunganku pertama kali kemari. Semoga kau menyambutku dengan menyenangkan"
Ucap Chanyeol sambil membuka kacamata hitamnya. Lalu menolehkan kepalanya pada Baekhyun yang balik menatapnya tajam.
"Apa maksudmu dengan pertama kalinya kemari? Jadi selama setahun ini kau tidak pernah menengoknya?" Tanya Baekhyun sengit, sedikit terpancing emosi mendengar pengakuan Chanyeol barusan.
Demi Tuhan bagaimana mungkin ada orang seperti Chanyeol.
"YA! Park Baekhyun, jangan melotot, wajahmu jelek sekali" balas Chanyeol berusaha mengalihkan pembicaraan istrinya.
"Chanyeol!" Geram Baekhyun semakin memelototkan matanya.
Chanyeol angkat tangan menyerah. "Ya ya ya, aku memang baru pertama kalinya kemari, dan aku punya alasan"
Baekhyun memberi tatapan Chanyeol seolah berbicara 'jangan basa basi, cepat katakan!'
"Luhan yang memintaku, dia hanya ingin aku datang kemari saat kau bersamaku" Chanyeol menggedikkan bahunya. "Mungkin saja dia tidak mau melihatku menemuinya sendiri"
"Park Chanyeol berhenti bercanda!" Bentak Baekhyun tidak santai.
"Demi Tuhan Baekhyun, Luhan yang memintanya. Luhan mendatangi mimpiku dan selalu mengatakannya berulang-ulang"
Balas Chanyeol mulai sewot, bisa-bisanya Baekhyun mengiranya bercanda, apa wajahnya benar-benar tidak meyakinkan, huh!
Chanyeol mendengus kesal.
Akhirnya Baekhyun sedikit melunak, terdengar dari hembusan nafasnya yang mulai lega.
"Aku mau meminta sesuatu padamu"
Ujar Chanyeol lagi.
"Apa?"
"Percayalah, Luhan tidak akan suka melihatnya, jadi ayo kita pergi dari sini"
Ajak Chanyeol langsung menarik tangan Baekhyun pergi, sebelum Baekhyun mencekalnya.
"Ya! Ya! jangan seenakmu sendiri. Aku harus menjemput Bing bing sebentar lagi"
"Baiklah kalau begitu kita lakukan dengan cepat"
Chanyeol berbalik sebelum Baekhyun sempat protes.
"Luhan, kami harus pergi sekarang, kapan-kapan kami akan kemari lagi bye!"
Setelah mengucapkan ucapan selamat tinggalnya Chanyeol kembali menarik tangan Baekhyun lagi, kali ini lebih buru-buru karena tahu dia tidak akan punya banyak waktu.
"Ya! Park Chanyeol sebenarnya apa yang kau minta, lakukan disini saja"
Baekhyun terlihat kesusahan mengimbangi langkah kaki Chanyeol yang lebih lebar dua kali lipat darinya.
Chanyeol berhenti sejenak. "Percayalah ini akan-sangat-tidak-sopan jika dilakukan disini"
Jawab Chanyeol tidak jelas, tapi namja itu lebih mengejutkan Baekhyun kerena menggendongnya tiba-tiba.
Baekhyun menjerit karena keget, kakinya menendang-nendang tidak nyaman. "Apa yang kau lakukan, cepat turunkan aku!"
"Diamlah Baekhyun! atau kau akan jatuh." Chanyeol memperingati. Tangannya sedikit kesusahan untuk menemukan kunci mobil disaku celana Baekhyun. Begitu ia mendapatkannya segera Chanyeol membuka pintu mobil itu dan menjatuhkan tubuh ramping Baekhyun di sebelah jok kemudi. Chanyeol mengunci pintu mobil itu rapat tidak memberi celah untuk Baekhyun kabur.
Baekhyun tidak diberi kesempatan sekalipun untuk protes karena bibirnya langsung dibungkam oleh si pemilik suara bass. Chanyeol menciumnya penuh nafsu dan terburu-buru seolah tidak ada hari esok untuk mereka.
Baru setelah Baekhyun kehabisan oksigen namja itu rela melepaskan tautannya. Baekhyun kembang kempis menetralkan nafasnya.
"Kau mau membunuhku?!" Marah Baekhyun atas kejadian barusan.
Tapi Chanyeol tidak menghiraukannya. Tangan lebar itu tengah bergerilya mencopoti satu persatu kancing kemeja istrinya.
"Park Chanyeol jangan gila, kita tidak punya waktu"
Akhirnya yeoja itu tahu kemana arah pikiran Chanyeol. Baekhyun berusaha menghentikannya karena ia harus realistis, tidak ada banyak waktu sekarang untuk melakukan hal yang Chanyeol mau.
"Quick sex Baek, kau tidak tahu betapa tersiksanya aku selama berada di Jepang?" Nego Chanyeol memelas, dan begitu mendapati tidak ada penolakan segera ia buka semua baju itu.
"Tapi kita tidak bisa melakukannya sekarang, Akh... Bing bing pasti akan marah lagi nanti"
Jawab Baekhyun susah payah menahan desahannya saat Chanyeol sudah menyentuh dadanya.
Chanyeol memilih fokus dengan kegiatannya, membenamkan kepalanya pada payudara Baekhyun, menggelitik nipple itu dengan lidahnya. Dan tangannya yang mengangur tengan bermain di bawah celana istrinya.
"Tiga puluh menit" Ucap Chanyeol.
"Mwo? itu tidak mungkin, Sepuluh menit"
"Dua puluh menit"
"Tidak, akkhh... Chann lima belas menit"
"Demi Tuhan Baekhyun, dua puluh menit"
"Lima belas menit! iya atau tidak sama sekali!"
Putus Baekhyun final. Sungguh ia sebenarnya tidak tega melihat Chanyeol seperti itu, tapi tidak ada pilihan yang lain.
Chanyeol merasa kesal sekarang, dengan wajah muram dia menegakkan badannya. Kepalanya benar-benar pusing sekarang dan Baekhyun benar-benar membuatnya semakin pening. Dua hari perjalanannya ke Jepang sudah cukup membuatnya frustasi, dan Chanyeol hanya ingin Baekhyun menyenangkannya, tapi kenapa susah sekali.!
"Dulu kau tidak pernah menolak, Baekhyun"
"Mwo , Ya! Aku bukan pelacurmu lagi Park Chanyeol!"
"Tapi kau istriku!"
"Aisshhh jinjja" Baekhyun memutar bola matanya malas.
"Kita harus menjemput Bing bing sebentar lagi pabo!"
"Arrrggghhh... Ara ara"
Chanyeol akhirnya menyerah, dia lebih memilih memasang sabuk pengamannya dan melajukan mobil itu. Demi apapun, waktu lima belas menit itu tidak akan cukup untuknya. Atau dia akan menjadi gila jika sudah hampir sampai puncaknya, ada seseorang yang mengganggu.
Baekhyun keheranan karena Chanyeol tidak jadi menyentuhnya. Sambil membenarkan kancing kemejanya yeoja itu melirik ke sebelahnya. Chanyeol diam, dan itu berarti bukan pertanda baik.
"Kau marah?" Tanya Baekhyun hati-hati.
"Ani,"
Jawab Chanyeol cuek, masih fokus pada kemudinya.
Baekhyun mendesah, bibir tebal itu memang bicara tidak, tapi Baekhyun tidak buta. Dia bukan anak kecil yang bisa dengan mudah dibohongi.
"Baiklah, lakukan apapun nanti malam, asal kau jangan marah oke?"
Tawar Baekhyun tanpa pikir dua kali, dia tidak tahu bahwa dalam hati Chanyeol sedang bersorak riang.
"Hn"
Balas Chanyeol sok jual mahal. Mati-matian dia menahan tawa melihat wajah menyerah istrinya.
Padahal baru tadi pesawatnya mendarat di Korea. Chanyeol langsung memaksa Sehun untuk mengantarkannya ke makam Luhan, karena sudah menebak jika istri tercintanya akan kesana. Chanyeol teramat merindukan Baekhyun, dan seharusnya istrinya itu tahu hasrat sexual yang dimiliki Chanyeol itu lain daripada yang lain.
Cukup lama mereka dalam keheningan. Chanyeol memilih tetap diam agar semakin meyakinkan acting merajuknya, tapi itu sebelum sebuah ide konyol menghinggapi otak nakalnya. Chanyeol melirik Baekhyun yang sedang menatap keluar jendela.
"Baekhyun, sepertinya dadamu mengeluarkan susu"
Ujar Chanyeol terdengar sangat tenang.
Dan bingo!
Baekhyun segera menoleh kaget setelah mendengar ucapannya.
"Apa maksudmu?"
"Dadamu mengeluarkan susu!"
Ulang Chanyeol memperjelas ucapan konyolnya.
"Jangan gila Park Chanyeol, dulu aku bahkan tidak menyusui Bing bing"
Bantah Baekhyun cepat.
"Mungkin kita harus menemui Yixing besok, ku kira kau hamil"
"M- mwo? Apa katamu?"
Chanyeol menggedikkan bahunya santai.
"Aiishhh"
Baekhyun mendesah dalam, lalu kembali menoleh kearah luar jendela mobilnya. Kepalanya menggeleng-geleng tidak percaya, bagaimana jika benar dia hamil.
"Dokter Zhang pasti akan menertawaiku, bagiamana mungkin aku hamil padahal kita baru menikah seminggu yang lalu," Baekhyun mendesah mengasihani dirinya. Kenapa dia begitu ceroboh.
"Sudahlah tidak ada yang perlu kau khawatirkan. Lagi pula Yixing pasti mengerti. Dan itu juga membuktikan kalau aku memang benar-benar hebat."
"Park Chanyeol!"
"The End"
Halooo, finally its Over!
Enggak tahu mau ngomong apa nih, selain maaf dan terimakasih.
Maaf ya, karena semakin kemari ceritanya tambah aneh, maaf jika Ending nya gaje, maaf karena saya juga sering apdet telat, maaf karena selalu tidak punya waktu untuk membalas rviewnya. Saya sibuk berat, oke fix?
Dan Terimakasih, makasih kerena kalian masih mau menunggu FF ini, makasih karena setia menjadi readers saya, makasih udah mem fav dan juga follow, makasih mau repot-repot ninggalin review. Pokoknya makasih atas semuanya #gubrak!
kkkk tanpa kalian, i'm nothing!
Saya akan bikin Fic lagi kalo nanti nemu ide, (: tenang saja, saya gak akan kemana kok, mungkin cuma ngilang dulu setelah ini, tapi saya seneng gila FF ini kelar juga, akhirnyaaaaaaa... #mendesahlega
Mungkin ada yang gak suka FF saya? soalnya orangnya mulek sih ya? hehehe sebenarnya FF ini dulu niatnya cuma bikin two shoot. Intinya hanya Chanyeol yang nyiksa Baekhyun dan kemudian dia menderita karena menyesal, eee ternyata malah jadinya panjang kaya kereta wkwkwk salahkan otak saya yang suka maksa, saya type orang yang demen bikin FF complicated. See? Kalian readers saya tahu sendirilah.
Mungkin kalo udah senggang saya mau nerusin salah satu FF yang dulu aja. Belum berani bikin yang baru. Tapi... kita lihat saja nanti. Saya tetap pecinta ChanBaek dan juga GS so, jangan bosen-bosen mampir kemari ya!
Yosh! itu dulu saja, see you next time in another chance!
Anyway Happy KrisHanDay... ^_^
Thank you A lot...
kindly...
chanailu06 - Re-Panda68 - narsih556 - maya han - baekhaan - Guest1 - danactebh - bebek goreng - Fionny13 - Diaanastari - NopwillineKaiSoo - happines delite - bebeu - neli amelia - GIRLIEXO - Taman Coklat- luphbepz - liddypark -
ristazhizha - xoxosal - amibaekyeol461 - chanyeori - bellasung21 - loovyjong - babyxing - mpiet lee - Lord Chanyeol - Oh Lana - luhannieka - Ges - she3nno - pennsylvania thasia - Byun Jae Land - ShinJiWoo92020 - karwurmonica - ling-ling pandabear - arvita kim - LOLIPOP SEHUN - k wee39 - Rly C JaeKyu - dian
- and you special girl, devrina. thanks for give me spirit up, ya kamu yang nagih mulu but, berhasil memotivasi buat gak lupa apdet.
Pokoknya Thankseu semuanya #bowbarengChanBaekBingbing
Last Words
407bubleblue's Kiss :*
Saranghaeyooooo
bubyeeeee!
