Persona V: dunia di balik cermin
Eiji Alfi mendapati dirinya dan adik perempuannya tengah masuk ke dalam cermin, bisakah mereka keluar dari sana?
Discalimer: Persona Series Milik Atlus dan cerita ini milik Sp-Cs
Catatan: cerita ini hanya fiksi. Jadi jika terjadi salah kata, mohon di maafkan.
Putih, yang hanya ada di sekitarku hanyalah warna putih, dan aku tidak tahu tengah berada dimana. Di tambah lagi, di sini rasanya dingin. Tapi yang jelas, sepertinya ini hanyalah mimpi. Ya, Diriku sedang bermimpi.
"...Bangunlah..."
Akupun berbalik ketika mendengar suara tersebut dan mendapati sosok seorang Gadis cantik, berambut hitam panjang yang halus dengan poni rambut yang menutupi sebagian matanya meski aku dapat melihatnya. Memiliki bola mata yang bewarna hitam cerah, dan memakai Sundress putih polos. Diriku hanya bisa terdiam ketika melihat sosok tersebut yang mirip dengan Sadako, namun di baliknya aku dapat melihat raut wajahnya yang sepertinya... kesepian? Kenapa dengannya? Apa dia kesepian?
"...Sebaiknya kau cepat bangun, atau 'bayangan' akan memakanmu..."
Jujur saja, ketika aku mendengar ucapanya aku sangatlah bingung. Apa yang dia maksud dengan 'Bayangan' akan memakanku? Dunia apa ini? Apakah aku bermimpi? dari awal aku sedang bermimpi sih. Lalu siapakah dia? Apakah dia Malaikat Jibril? Akupun membuyarkan seluruh pertanyaan yang ada di dalam kepalaku untuk segera bertanya padanya tentang semua hal tersebut. Namun, belum sempat aku ingin bertanya tentang hal tersebut, sosok gadis itu mulai pergi menjauhiku dan tidak lama kemudian lenyap.
"Hoi! Tunggu! Apa maksudmu!" akupun mulai mengejarnya tapi tiba-tiba aku terjatuh ke bawah masuk kedalam lubang yang gelap yang berada di bawahku sampai-sampai aku berteriak karena ketakutan dan tidak lama kemudian aku mendarat masuk kedalam air. Di dalam air tersebut, badanku tidak dapat di gerakan untuk berenang ke permukaan dan di sana, aku merasakan kedinginan sambil terus di tarik ke dasar. Yang bisa aku lakukan sekarang hanya memandang sepercik cahaya yang ada di atas permukaan air tersebut yang semakin lama semakin jauh dariku dan membuat pandanganku semakin Buram karena tiada cahaya di sini.
Tapi, tidak lama lama kemudian aku mendengar sesuatu masuk ke dalam air dan melihat sebuah sosok seseorang berenang ke arahku dan mengulurkan tangannya kepadaku. Namun, belum sempat aku menggapai tangannya, semuanya tiba-tiba gelap.
~Chapter 3: Dunia Cermin~
Akupun perlahan membuka mataku dan menyadari bahwa diriku tidak sedang berada di dalam rumah. Yang aku lihat di sekitarku hanyalah bagunan-bagunan gedung yang berdiri dengan kokohnya. Meski begitu, sepertinya tahu dimana aku berada saat ini; yang tak lain berada di sekitar kota Amenogawa. Tapi sayang, ini bukanlah kota yang aku kenal. Karena ada beberapa hal yang dapat membedakannya.
Seperti tulisan yang ada di depan toko buku yang terbalik bagai pantulan cermin. Belum lagi aku di kejutkan dengan langit kota yang menjadi laut hingga membuat badanku sedikit merinding ketakutan akan hal tersebut. Tapi, aku dapat melihat bulan dan bintang-bintang yang ada di sana bagai bayangan langit yang berada di dalam laut. Dan yang terakhir, berdirinya sebuah bangunan menara yang menjulang tinggi menembus langit laut; di perkirakan berada di pusat kota sepertinya, tertangkap di mataku. Suasana di sini benar-benar terasa membingungkan buatku; apakah aku harus takut? Sepertinya iya karena aku tidak tahu bagaimana caranya aku pulang.
Tidak lama setelah itu, aku baru teringat sesuatu. "Rikan?" Aku baru sadar bahwa aku berada di dunia aneh ini tidak sendirian, Aku di tarik oleh dunia ini saat menolong adikku. Akupun mulai mencari di sekitar dan mendapati adikku tengah tidak sadarkan diri di sebelah tempatku pingsan tadi. "Hoi Rikan! Ayo bangun!" Akupun berusaha membangunkannya dan berhasil.
"Hmm..." Sedikit demi sedikit Rikan sadar dan mulai menyadari bahwa dirinya tidak sedang berada di kamarnya. "Onii-san... i-ini dimana? Rikan takut." tanyanya dengan tampang bingung bercampur takut, sambil memeluk tangan kananku-bukan, lebih tepatnya meremas tanganku hingga aku mulai merasakan sedikit sakit.
"Entahlah, tapi yang jelas kita harus cari cara untuk pulang" ucapku yan terdengar tenang tapi sebenarnya takut sambil menoleh ke segala arah berulang kali karena bingung.
"Caranya bagaimana?" tanya Rikan yang membuatku tidak dapat menjawab pertanyaan tersebut karena diriku juga tidak tahu caranya.
"Entahlah." Jawabku yang tidak lama itu membuat Rikan menangis.
"HUWA! HUWEEE! HUWEEEE! HIKS! RIKAN MAU PULANG!" teriak adik kecilku yang kini menangis dengan keras dan membuat telingaku begitu kesakitan.
"Hoi! Tenanglah! Jika kau tidak berhenti menangis, mungkin ada monster atau setan yang akan mendekati kita" ucapku sambil menutup kedua telingaku
Tapi tiba-tiba Rikan semakin menangis lebih kencang lagi, sepertinya karena perkataanku tadi. "HUWEEEE! RIKAN NGGAK MAU KETEMU MONSTER, SETAN ATAUPUN SEBANGSANYA! HUWEEEEE! RIKAN TAKUT!" teriaknya dan akupun hanya bisa menghelah napas sambil terus menutup kedua telingaku.
Namun, tidak lama kemudian, sebuah bayangan besar menutupi langit-langit di atas kami. Entah aku kira itu awan, tapi karena hal itu akhirnya membuat Rikan berhenti menangis. "Selesai juga" ucapku yang lega. Tapi aku baru sadar dengan tatapan ketakutan adikku yang melihatku-bukan tapi sepertinya melihat sesuatu yang ada di belakangku. "Hoi? Ada apa? Kenapa kau melihatku dengan tatapan seperti itu? Apa ada sesuatu di belakangku?" tanyaku dan Rikanpun mengangguk. Perlahan akupun menoleh ke belakang dan mendapati sesosok makhluk besar berkepala banteng yang badannya terikat dengan rantai tapi masih bisa bergerak dan berdiri dengan dua kaki kerbau atau semacamnya ada di depanku, akupun baru sadar bahwa itu adalah monster. "Ng? Apakah aku masih bermimpi...?" kemudian Rikan menggigit tangan kiriku sampai aku berteriak ke sakitan. "AW! SAKIT!"
"Sepertinya bu-bukan..." ucap Rikan yang mulai kembali ketakutan.
"Ng? Kalau begitu..." belum sempat aku menyelesaikan perkataanku, monster yang berdiri di depan kamipun meraung keras.
ROOOAAAARRRRR!
"KYAAAAAAA!" adikku berteriak ketakutan tidak kalah keras dari suara raungan monster itu, sedangkan aku langsung menarikknya kabur sambil berteriak di dalam hati. Sungguh, tempat macam apa ini?! Dimana kami sekarang? Dan makhluk apa ini? Kenapa di sini ada monster aneh yang pernah ku lihat di Anime? Siapapun tolong kami.
Ya Allah, sebenarnya kami dimana? Apakah ini cobaan yang kau berikan pada hambamu yang telah tomat(Tobat maksiat) karena mimpi yang kau berikan. Meski begitu, akan aku coba untuk melaluinya. Jadi, yang terpenting kami berdua harus kabur dari kejaran monster itu. Beberapa detik setelah diriku lari, badan ini mulai tak kuasa untuk berlari. Jantungkupun mulai berdetak cepat, napasku memburu di dalam keringat yang keluar dari tiap pori-pori kulitku, dan kakiku perlahan mulai lelah. Sepertinya aku tidak kuat untuk melanjutkan dan berharap monster itu tidak mengejar karena aku memiliki Stamina yang buruk.
"Onii-san! Monster itu mendekat!" Teriak Rikan yang membuatku terkejut dan menoleh kebelakang dengan wajah panik. Terlihat di mataku monster itu berlari mengejar kami dengan badannya yang besar dari kejauhan dan membuat badanku merinding ketakutan. Sial, aku mulai tidak kuat untuk berlari lagi dan akhirnya terjatuh berlutut karena tidak kuat. "Onii-san!" Rikan yang berada di depanku menghampiriku dan membantuku berdiri dengan tangannya. Tidak lama itu aku melihat adanya gang sempit di sebelah kami.
"Rikan, kita sembunyi di gang itu" ucapku dan kamipun bersembunyi di sana sampai akhirnya Monster yang mengejar kami kehilangan jejak kami. "Alhamdullillah, kita selamat" Syukurku yang masih hidup dengan selamat.
"Onii-san, Monster apa yang mengejar kita tadi? Dan bagaimana caranya kita pulang?" tanya Rikan yang ketakutan.
"Entahlah, aku juga tidak tahu. Tapi sebaiknya kita istirahat dulu di sini sambil memikirkannya" Ujarku. Beberapa menit telah berlalu dan kami masih beristirahat di sini sambil memikirkan cara untuk pulang kedunia kami. Lalu kemudian, mataku tidak sengaja melihat ke arah Menara yang menjulang tinggi sampai menembus lautan langit yang di perkirakan berada di pusat kota. Sungguh, berapa kalipun dilihat, menara itu sangatlah indah dan tinggi hingga menembus lautan langit. Lalu melihat sekitar gedung dan papan Reklame yang memiliki tulisan terbalik seperti tulisan bayangan di cermin.
Dunia ini bagaikan dunia di balik cermin, hampir mirip seperti kisah Kamen Rider Ryuki yang dulu pernah aku tonton di Tv saat masih kecil dan aku masih ingat tiap ceritanya. Jika cara masuk ke dunia cermin di cerita itu sama dengan di dunia ini, apakah mungkin bisa? Tapi sayangnya itu hanyalah film Fiksi belaka dan aku tidak mungkin mempercayai hal tersebut di sini. Akhirnya akupun pasrah lalu merogoh saku celana piyama hitamku untuk menemukan benda yang selalu bersamaku dan dapat. Yes, HP kesayangankupun ada di tanganku.
Rikan yang duduk di sebelahku gembira ketika aku menggenggam Hpku, "Onii-san ternyata membawa Hp ya, kalau begitu cepat panggil bantuan!" pintahnya. Inginnya sih aku begitu, tapi sayang. Bar status sinyal nol alias tidak ada sinyal.
"Tidak ada gunanya, di sini tidak ada sinyal" ucapku padanya yang membuat semburat senyum itupun padam berganti dengan semburat kesedihan yang putus asa dan ketakutan.
"hiks..." adikku mulai menangis, "Rikan ingin pulang... hiks... Rikan takut... hiks... Rikan ingin ketemu Oka-san dan Oba-san... hiks..." ucapnya sambil memendamkan kepalanya di dua ujung lutut dan memeluknya. "Dingin..." lanjutnya lagi tapi dengan suara pelan.
Akupun baru sadar bahwa hawa di sekitar sini dingin dan aku kembali sadar lagi bahwa kami tidak memakai alas kaki. Sungguh bodohnya diriku. Itu berarti kami berlari dari kejaran monster tersebut dengan merasakan dinginnya lantai aspal ini? Kenapa aku baru sadar sekarang? Tapi itu tidaklah penting untuk saat ini.
Diriku yang melihatnya menghelah napas sejenak, aku akhirnya berbicara dengan adikku untuk menenangkannya sambil bermain Tetris di HP tersebut. "Sudahlah, jangan menangis! Kau harus tegar" ucapku sedikit tegas, "Asal kau tahu...Onii-san juga takut, merasakan kedinginan dan secepatnya ingin pulang" Lanjutku. "Jadi tegarlah dan kuatkan dirimu meski kedinginan. Karena Insya Allah, Kata Oka-san Allah pasti melindungi hambanya yang sedang kesusahan." ucapku lagi. Aku tidak peduli apakah perkataanku dapat membuatnya sedikit tenang atau tidak karena yang hanya aku pedulikan adalah agar dia jangan sampai menangis kencang seperti tadi.
"Onii-san..." Rikan yang melihatku sepertinya berhenti menangis lalu memasang tatapan kagum. "tidak Rikan sangka Onii-san bisa berkata hal seperti itu" ucapnya kemudian. "Baiklah, seperti kata onii-san tadi, Rikan akan tegar!" lanjutnya.
"Heh..." aku hanya bisa sedikit tersenyum dan tertawa melihat polosnya adikku ini. "Kalau begitu tetap seperti itu." Ucapku dingin sambil menatap layar Hp yang aku mainkan. Tidak beberapa detik kemudian, monster tadi berhasil menemukan kami.
ROOOOAAAARRRR!
"Onii-san!" Rikan langsung memelukku dengan ketakutan karena terkejut.
"Kita lari!" Aku dan Rikan kembali lari dari Monster itu dan keluar dari sisi gang sempit lainnya. Tapi sayang, tiba-tiba muncul satu monster lagi yang menghadang kami dari depan, dia jatuh dari langit dan mendarat tepat di depan kami dengan cepat. Bentuknya seperti burung gagak hitam yang besar dengan sebuah topeng yang berada di lehernya.
Aku langsung berlari kembali ke arah kami keluar dari gang sempit tadi, tapi monster besar tadi yang pertama merusak gang sempit tadi dan menerobos masuk hingga akhirnya berada di depan kami. Kini kami telah di kepung oleh satu monster burung dan satu monster manusia banteng. Adikku semakin ketakutan sedangkan aku mulai panik di dalam hati karena tidak bisa lari lagi. Apa yang harus aku lakukan? Kami benar-benar tidak dapat lari lagi. Yang kini aku lakukan sekarang adalah berdoa di dalam hati, membaca surah Al-Fatihah, Al-Annas, Al-Ashri dan Al-Kafirun yang sejak kecil dapat diriku hapalkan karena rajin mengaji, tapi sekarang tidak karena malas. Sial, Astagfirullah Ya Allah, aku tidak bisa membaca surah Al-Kursi, dan Surah Yasin.
Sudah, lupakan yang tadi, tidak ada waktu untukku memikirkan Surah yang belum diriku baca, yang terpenting adalah cara selamat dari sini. Dengan cepat aku melihat sekitarku hingga mataku menatap sebatang besi agar bisa aku pakai sebagai senjata. "Pergi kalian! Hush! Hush! Jika tidak aku pukul kalian dengan ini!" ancamku sambil menodongkan batang besi tersebut pada mereka dengan tampang malas. Jujur, hanya ini saja yang bisa aku lakukan, selebihnya aku tidak mau melawan mereka karena aku lemah. Terbukti dari kakiku ini yang sudah gemetaran tidak jelas meski tampangku menunjukan wajah malas. Dan tanpa aku sadari, semakin lama monster-monster itu semakin mendekat.
"Onii-san kurang meyakinkan," Sindir adikku yang melihatku dengan tatapan sweatdrop meski masih memelukku dalam keadaan ketakutan.
"Sudahlah, hanya ini yang bisa aku lakukan." Ucapku yang dingin meski dalam keadaan panik. Jujur saja, Aku berharap seseorang bisa menolong kami. Oh ya Allah ya rahmat ya rohim, tolonglah hambamu ini, amin. Aku mulai pasrah tanpa melakukan apapun. Andai ini sebuah Game Online, pasti aku akan menang melawan mereka karena aku adalah seorang gamer. Tapi kenyataannya ini bukanlah sebuah game, dan kenyataan yang paling tragis adalah adanya monster dan dunia aneh di sini. Andai aku adalah seorang Protagonist yang mendapat sebuah sabuk ajaib yang bisa merubahku menjadi Pahlawan bertopeng pasti aku menang, tapi seperti yang aku pikirkan lagi. KENYATAANNYA aku hanyalah anak manusia lemah, LEMAH! LEMAH! Aku tidak bisa berbuat apapun. Berpikir seperti itu saja sudah membuatku putus asa. Aku harap aku bisa melakukan sesuatu hal. Ya ALLAH! KUMOHON TOLONGLAH KAMI!
Dan tanpa kusadari lagi, monster-monster itu semakin mendekat sampai bayangan besar mereka menutupi langit di atas kami. "Onii-san... hiks..." Rikan semakin lama semakin parah ketakutannya. Sial-SIAL-SIAL-SIAL, AARRRRGGGGHHHHH! AKU HARUS BAGAIMANA?! YA ALLAH!
"Banshee! Gale Slash!"
JRET!
Tiba-tiba sebuah pedang membelah tubuh dan topeng monster burung yang ada di sebelah monster setengah banteng tersebut hingga hancur. Tidak beberapa lama kemudian, terlihatlah dimata kami sebuah makhluk besar menyerupai gadis yang membawa Sisir Perak besar berbentuk seperti pedang dan berpakaian gaun hitam di balik hancurnya monster tadi, ya makhluk itulah yang telah menghancurkan Monster burung tadi. Tapi hal itu tidaklah membuatku terkejut atau mungkin hanya sedikit saja, karena yang lebih membuatku terkejut adalah sosok seorang gadis yang berada di dalam mimpiku tadi tengah berdiri di depan makhluk yang telah menghabisi monster burung tadi. Ya rambutnya yang berwarna hitam panjang hingga poninya menutupi sebagian matanya dengan memakai Sundress putih. Gadis yang mirip seperti Sadako itu ada di hadapanku. Tunggu, Sundress putih? bukannya hitam ya? lupakan, itu tidak penting.
"Banshee! Gale Slash!" pintah Gadis misterius tersebut yang sepertinya memerintahkan makhluk yang berada di belakangnya untuk menyerang monster setengah banteng yang mendekatinya. Dalam beberapa detik kemudian, badan monster setengah banteng tersebut terpotong beberapa kali lalu hancur. Dan setelah itu, makhluk yang bernama Banshee berubah menjadi kartu dan kembali ke genggaman Gadis misterius dalam mimpiku yang telah menolong kami. Setelahnya, Gadis yang mirip seperti Sadako tersebut berjalan menghampiri kami. "Kalian baik-baik saja?" tanyanya dengan lembut dan memandangku dengan tatapan penuh arti entah apa maksudnya.
"Ah, Kami berdua baik-baik saja, terima kasih tapi Kau... siapa ya?" tanyaku yang ingin tahu siapa sebenarnya dia.
"Syukurlah kalau begitu. Apakah bayangan kalian ada?" gadis tanpa nama itu tiba-tiba bertanya sesuatu hal yang aneh pada kami sambil melihat bayangan kami yang terpantul di dalam kaca tokoh di belakang kami. "Baguslah kalau masih ada" ucapanya yang kembali lega. Sepertinya dia lupa untuk menjawab pertanyaanku tadi, ya sudahlah. Akupun tidak mau mengetahui siapa dirinya.
Tapi bayangan kami kenapa? Ada kok di cermin. Ketika diriku mau bertanya sesuatu tentang hal tersebut, tiba-tiba Rikan bertanya duluan.
"Memangnya kenapa dengan bayangan kami, Onee-san?" tanya adikku dengan bingung.
Gadis yang mirip Sadako itu sedikit menggeleng dan tersenyum. "Tidak ada apa-apa," ucapnya. "Oh ya aku mau bertanya, kenapa kalian bisa ke sini?" tanyanya yang penasaran tentang keberadaan kami di sini.
"Entahlah, seingatku kami bisa kesini saat aku gagal menolong adikku ini yang ketarik masuk kedunia ini bersamaku lewat cermin yang ada di kamarnya" ucapku lalu aku sadar akan suatu hal dan kemudian menatap adikku. "Oh ya Rikan, mengenai itu bagaimana bisa badanmu tertarik ke dalam cermin kamarmu?" tanyaku yang teringat tentang peristiwa tadi.
"Mengenai tadi ya? Emm... Rikan di tarik seseorang" ucap Rikan.
"Apa maksudmu? Coba jelaskan lebih jelas lagi, aku tidak mengerti" ucapku.
"Begini, saat Rikan tengah bercermin sebelum tidur, tiba-tiba sebuah tangan muncul dari dalam cermin lalu langsung menarik Rikan masuk kedalam cermin tersebut hingga akhirnya Rikan berteriak memanggil Onii-san lalu akhirnya Rikan dan Onii-san berada di sini" jelas Rikan.
"Begitu..." Gadis yang mirip Sadako itu sedikit mengangguk seperti mengerti.
Aku kembali berpikir bingung dengan penjelasan dari Rikan. kok bisa ya ada tangan yang muncul dari dalam cermin lalu langsung menarik tubuh adikku. Namun tanpa sadar aku teringat tentang Rumor Mirror Of Truth yang di bicarakan oleh teman-temanku.
"Apakah ini ada hubungannya dengan Mirror Of Truth?" tanyaku pada diriku yang tanpa sadar dapat di dengar oleh gadis mirip Sadako tersebut.
"Mirror Of Truth? Apa itu?" tanyanya yang menatapku.
Akupun menggeleng, "Tidak, itu hanyalah rumor yang di bicarakan oleh teman-temanku. Tapi yang lebih penting apa kau tahu bagaimana caranya kami keluar dari dunia ini?" tanyaku yang mengalihkan pembicaraan.
"Keluar? Mengenai itu aku tidak tahu" ucap gadis yang mirip Sadako tersebut yang membuatku terkejut.
"Hoi, bukannya kau adalah penghuni dunia ini ya?" tanyaku.
"Penghuni dunia ini? Bicara apa kau? Aku ini juga baru terjebak di dunia ini sama seperti kalian" ucapnya lagi yang membuatku terkejut di dalam hati.
"Eh?" aku kembali terkejut di dalam hati. "Lalu makhluk yang muncul dari dalam kartu tersebut bukankah kau yang memanggilnya seperti di Anime Yu-Gi-Oh? Manusia biasa tidak mungkin melakukan hal itu." Ucapku yang menunjuk kartu di tangannya.
"Makhluk di dalam kartu ini adalah Personaku, namanya Banshee" jelas gadis tersebut sambil menunjukkan kartu makhluk yang ada di tangannya.
"Persona?" jujur, aku kembali bingung tapi entah kenapa aku pernah mendengar kalimat Persona itu, dimana ya? Akupun berusaha mengingatnya tapi sayangnya tidak ada waktu untuk hal itu. "Bisakah kau jelaskan apa itu?" tanyaku yang semakin penasaran akan hal tersebut.
"Tidak ada waktu untuk menjelaskannya, lebih baik kita pergi ke menara tinggi itu. Menurut firasatku mungkin kita bisa kembali jika menemukan sesuatu di sana" ucap Gadis yang mirip Sadako itu sambil berjalan menuju ke arah menara menjulang tinggi menembus lautan langit tanpa menjawab pertanyaanku.
"Baiklah, ayo Rikan" Akupun menyetujui hal tersebut untuk di coba dan kamipun mulai berjalan di samping gadis Sadako tersebut.
"Onii-san..." Rikan mulai berbisik padaku, sehingga aku mulai mendekatkan telingaku padanya. "Apakah kita bisa pulang?" tanyanya.
Aku sedikit mengangguk. "Mungkin, tapi kita berdoa saja semoga bisa pulang" ucapku dengan dingin.
"Ok" sahut Rikan.
Beberapa menit saat kami mulai berjalan menuju pusat kota, akupun sedikit mulai lelah untuk berjalan. Tanpa sadar gadis yang mirip Sadako itu memandangku, "Kau mulai lelah?" tanyanya dan akupun mengangguk. "Lemah sekali, padahal kau itu laki-laki" ejeknya.
"Aku memang lemah karena tiap hari aku terus mengurung diriku di dalam kamar setelah pulang sekolah" jelasku yang jujur padanya.
"Hm... ternyata kau pengidap Hikikomori rupanya, Sejak kapan?" tanya gadis itu yang mulai heran.
Mendengar pertanyaannya, aku hanya bisa terdiam untuk berpikir. "Mengenai itu... ceritanya panjang" ucapku dengan dingin sambil memalingkan kepala.
"Oh..." Gadis itu hanya ber-o-ria, sepertinya dia percaya saja ucapanku.
"Sebenarnya, Onii-san itu suka pada game Online, Anime dan senang merakit Gunpla di dalam kamar, jadi saat SMP dia mulai mengurung diri di dalam kamar karena hal itu. Apalagi game yang sering dimainkannya adalah Sim Date Game" jelas Rikan yang tiba-tiba saja menjelaskan kepada gadis di sebelahnya itu, tapi kenapa dia tahu. "Tapi katanya Oba-san, Onii-san sepertinya habis di tolak oleh seorang gadis. Jadi... Begitu..." lanjutnya. Woy itu tidaklah benar, kenapa ayahku menceritakan sesuatu yang aneh sama Rikan? Ayah! Bukankah kau bilang tidak boleh bohong.
"JANGAN KAU CERITAKAN? APALAGI YANG TERAKHIR ITU TIDAKLAH BENAR!" teriakku pada adikku karena aku sungguh malu ketika rahasiaku di umbar begitu saja oleh adikku kecuali bagian yang terakhir.
"Tapi memang begitukan kenyataannya, apalagi Oba-san yang bilang." ucap Rikan dengan polosnya, sungguh adikku yang polos sekali. Sangking polosnya, aku ingin mencubit pipinya dan sekarang akanku lakukan.
Langsung saja kucubit pipinya sambil berkata, "Bisa diam tidak, Imouto no baka!" dengan nada dingin lalu melepaskannya dan terdengar erangan kesakitan adikku.
"Heh~" Gadis yang mirip sadako itupun sepertinya tengah menahan tawa, "Ternyata gara-gara hal itu kau menjadi Hikikomori? Hihihi..." gadis itupun mulai tertawa.
"Tidak! Itu bohong! Yang terakhir itu bohong! SUMPAH!" bantahku namun tidak di hiraukan oleh gadis tersebut yang tidak bisa berhenti tertawa. "Hoi!" akupun mulai jengkel di dalam hati.
"Hehehe! Ma-maaf... hehehe-hah... hah... hah..." Gadis itupun mulai menghentikan tawanya dan mengambil nafas. "Habisnya aku tidak menyangka hal itu telah terjadi padamu." Ejeknya.
"Terserah kau saja kalau kau tidak percaya. Sejujurnya hal itu memang belum pernah aku alami" ucapku dingin.
"Hoam..." tiba-tiba Rikan menguap. "Onii-san... Rikan ngantuk..." ucapnya dengan matanya yang sayup-sayup.
"jika ngantuk, lebih baikku gendong" ucapku yang kemudian membungkukan badan di samping Rikan. "Ayo naik, tidur di sini." Pintahku dan Rikan langsung naik ke punggungnku. "Kau sekarang mulai lebih berat, kapan ya terakhir kali aku menggendongmu?" tanyaku.
"Apakah iya Rikan menjadi lebih berat?" tanya Rikan dengan polos.
"Tidak, sebenarnya sih sedikit. Sudahlah tidur, saat kau bangun mungkin kita sudah sampai di rumah" ucapku dan Rikanpun tidur di punggungku. Kini aku harus berjalan dengan membawa beban tubuh adikku. Aku tahu Rikan masih kecil, jadi itu bukanlah masalah bagiku. Meskipun begitu, staminaku lemah. Aku harap bisa membawanya sampai pulang. Ya Allah, lindungilah hambamu ini ya Allah. Tuntunlah kami sampai pulang ke rumah degan selamat, amin. Selesai berdoa dalam hati, tanpa sadar gadis perempuan sadako itu terus memandangiku, sepertinya melamun. "Hoi, ada apa?" tanyaku yang membuyarkan lamunannya.
"A-ah, ti-tidak. Kau sepertinya baik sekali pada adikmu, Mungkin gadis yang menolakmu tadi akan menyesal" ucapnya.
"Hoi, berapa kali harus kubilang aku tidak pernah mengalami hal itu!" bantahku karena gadis ini kembali mengungkit hal tersebut.
"Sssshhh! Bisakah kau berbicara pelan, bisa-bisa adikmu terbangun" ucap gadis tersebut dengan jari telunjuk yang di tempelkannya di bibirnya.
Diriku yang melihatnya malah sweatdrop. "M-maaf..." ucapku dan keheninganpun melanda perjalanan kami. Sebenarnya aku ingin terus berbicara dengannya daripada sunyi senyap begini hingga yang terdengar di telinga kami hanya suara langkah kami. Tapi apa yang ingin aku bicarakan. Tiba-tiba pikiranku tertuju pada makhluk yang bernama Persona. "Hey, mengenai makhluk yang kau sebut Persona itu, bagaimana caranya kau mendapatkannya?" tanyaku yang mulai berbicara untuk memecahkan keheningan. Di tambah aku juga bingung mengenai asal makhluk yang ada padanya, dan kalimat Persona... sepertinya aku benar-benar pernah mendengar atau membacanya. Tapi dimana? Aku mulai berpikir keras sambil mendengar penjelasan gadis itu.
"Persona adalah sisi lain diri kita; dan Banshee adalah Personaku. Cara mendapatkannya ada syaratnya" jelas Gadis Sadako tersebut.
"Apa Syaratnya?" tanyaku yang sepertinya mulai tertarik tentang Persona.
"Pertama," Gadis itu mengangkat jari telunjuknya padaku, "Kau harus memiliki 'Potential' yang tinggi. Karena besar kecilnya 'Potential' yang kau miliki akan menentukan kekuatan Personamu" jelas gadis tersebut lalu mengangkat jari tengahnya. "Kedua, kau harus menerima dirimu sendiri apa adanya sesuai saat ini dan kau baru bisa mendapatkannya." Gadis itu menurunkan tangannya setelah menjelaskan hal tersebut.
"Hanya itu? bagaimana jika syarat-syarat itu tidak terpenuhi?" tanyaku yang masih bingung jika salah satu syarat tersebut tidak bisa aku penuhi.
"Jika syarat pertama gagal, tidak apa-apa. Kau tidak akan mendapatkan masalah dan juga tidak mendapatkan Persona. Tapi setelah syarat pertama selesai kau lalui, syarat kedua aku sarankan kau jangan sampai gagal" ucap gadis itu yang tiba-tiba terdengar sedikit tinggi.
"Kenapa?" tanyaku yang kembali bingung.
"Karena, kau akan di makan oleh 'bayangan'mu sendiri..." jelasnya.
"Di makan oleh 'bayangan'ku sendiri?" jujur saja, aku makin bingung apa maksudnya di makan oleh 'Bayangan'ku sendiri dan tanpa sadar aku teringat tentang mimpi itu lagi. Tapi aku langsung membuyarkan ingatan itu karena ada sesuatu hal yang mengganjal di dalam pikiranku. Bagaimana dia bisa mengetahui dua syarat tersebut? Segeranya aku langsung bertanya tentang hal itu. "Hey, bagaimana kau bisa tahu dua syarat tersebut?" tanyaku.
"Mengenai itu..." gadis itu diam berpikir, seperti berusaha mengatakan sesuatu. "Saat aku terjebak di dunia ini, aku sempat termakan oleh 'Bayangan'ku sendiri karena menolak keberadaannya."
"Apa?" Aku terkejut. "Tapi sekarang kau selamatkan? Bagaimana caranya?" tanyaku.
Gadi itu kembali bercerita. "Sesaat sebelum 'Bayangan'ku benar-benar menelanku, tiba-tiba Aku di tolong oleh sosok misterius bertopeng yang sepertinya seorang gadis" lanjutnya.
"Hm... begitu-tunggu dulu, bagaimana kau tahu dia itu seorang gadis?" tanyaku yang baru menyadari keganjilan di cerita tersebut.
"Setelah dia menolongku, dia lalu memanggil Personanya untuk mengalahkan 'Bayangan'ku. Dan setelah itu, dia langsung menyuruhku untuk menerima 'Bayangan'ku. Di saat itulah aku tahu dia itu wanita dari suaranya" jelasnya yang membuatku mengerti. "Kemudian, dia memberitahuku tentang hal-hal yang kau dengar tadi" lanjutnya yang mengakhiri kebingunganku.
"Oh..." aku yang mengerti hanya ber O-ria. "Lalu kemana gadis yang kau ceritakan tadi?" tanyaku. Tapi entah kenapa Gadis yang mirip Sadako itu terdiam seperti kembali berpikir untuk menceritakan hal yang aku tanyakan. "Hm?" Aku memandangnya dengan tatapan bingung. "Kenapa kau diam?" tanyaku.
Gadis itu secara tiba-tiba berhenti melangkah hingga akhirnya aku ikut menghentikan langkahku. "Mengenai itu..." Gadis itu mulai kembali berbicara. "Gadis itu... dia lenyap dan meninggalkan ini padaku" Gadis Sadako itu kemudian mengeluarkan tiga buah kartu Tarot Kosong dari saku Sundress putihnya dan menunjukannya padaku. "Tapi sebelum dia lenyap, dia menyuruhku untuk menyimpan ini dengan hati-hati" lanjuntya.
~To Be Continue~
Untuk cerita ini saya mau bertanya sesuatu, apakah cerita ini harus aku hapus atau di lanjutkan? Sudah itu saja dan tolong di jawab!
