Persona V: dunia di balik cermin

Eiji Alfi mendapati dirinya dan adik perempuannya terjebak di dunia cermin, tidak lama setelah itu di selamatkan oleh gadis misterius yang mirip Sadako, bisakah mereka bertiga keluar?

Discalimer: Persona Series Milik Atlus dan cerita ini milik Sp-Cs

Catatan: cerita ini hanya fiksi. Jadi jika terjadi salah kata atau kesamaan, mohon di maafkan.


Kami terus berjalan menuju ke tempat menara yang tinggi menembus laut yang menjadi langit itu berada. Sambil menggendong adikku yang tidak seberapa beratnya, diriku terus memandang ke arah gadis yang berada di sampingku yang mirip Sadako dengan poni rambutnya yang berwarna hitam menutupi sebagian matanya yang terlihat indah; memakai pakaian Sundress putih sepanjang lutut yang dia kenakan, bertubuh langsing, tinggi badannya kira-kira sama denganku dan-eh tunggu, kenapa aku menjelaskannya panjang, lebar dan detil ya?

Parah sekali diriku ini, padahal bukan waktunya untuk menjelaskan secara detil gadis yang belum aku kenal ini. Akupun menghelah napas karena merasa bodoh berpikir seperti itu.

"Apa kau mulai lelah?" tanya gadis tersebut yang menoleh kearahku dengan nada lembut.

"Hm? tidak, mungkin tadi aku kurang tidur karena hal ini" jelasku dengan datar meski keringat dingin mulai mengalir dari ujung kepalaku. Sudah 30 menit sepertinya kami berjalan tanpa istirahat dan kali ini aku merasa lelah karena hal itu. Mungkin karena membawah tubuh Rikan ini yang ada di punggungku, pasti aku mudah lelah.

"Kalau begitu bagaimana kalau kita istirahat sebentar?" sarannya.

"Ide yang bagus, tapi apakah ada tempat yang aman untuk beristirahat di sekitar sini?" tanyaku padanya yang membuat gadis itu berpikir sejenak sambil berjalan.

"Hmm... " tidak lama ketika gadis itu sedang berpikir, tanpa sadar kami sudah berada di depan taman. Gadis itupun berhenti sebentar sambil menoleh ke arah taman. "Bagaimana kalau kita beristirahat di taman ini saja? Sepertinya tidak ada tanda-tanda adanya Shadow di dekat taman ini?" tawarnya yang menoleh ke arahku.

"Ayo"

Dan kamipun duduk di bangku yang di sediakan taman tersebut untuk beristirahat agar bisa menghilangkan rasa lelah kami sementara sehabis perjalanan jauh. Meski tidak ada dari kami yang membawa uang receh untuk membeli sekaleng minuman di dekat mesin minuman yang ada di sana.


~Chapter 4: Kisah Masa Lalu Alfi dan Gadis Misterius~


Terlihat di mataku menara yang kami tuju sudah ada di depan mata kami, tanda menara tersebut sudah dekat. Aku berpikir apakah ada sesuatu yang bisa kami temukan di menara tersebut yang dapat membawa kami pulang. Sejujurnya aku tidak sepenuhnya yakin akan hal tersebut, tapi sebaiknya kami memeriksa dulu hal itu. Tanpa sadar akupun melamun karena memikirkannya.

"Hei! apa kau melamun?" Spontan saja, tiba-tiba Gadis yang duduk di sebelahku itupun memanggilku hingga membuatku sedikit terkejut dan menoleh ke arahnya.

"Ah! Tidak, ada apa?" tanyaku.

"Maaf jika aku mengagetkanmu, apa kau memikirkan sesuatu?" tanya gadis ini yang mencoba membaca pikiranku.

"Ya, tapi itu tidak penting lagi" ucapku jujur.

"Begitu ya" Gadis itu memandang ke langit yang menjadi laut. "Apa kau tahu, dulu sepertinya aku pernah ingat datang ke sini" Gadis itu menceritakan sesuatu yang tidak aku meengerti. Tunggu, dia pernah datang ke sini?

"Benarkah?" tanyaku pura-pura terkejut. Karena terkejut beneran sudah terlalu mainstream.

"Iya, kira-kira setelah... ibuku meninggal." Gadis yang bercerita itu berusaha mengingat sambil menahan sedih yang sepertinya sangat dalam.

"Begitu... ya." aku tidak bisa berkomentar apa-apa lagi, yang bisa aku lakukan hanyalah mendengarkan saja.

"Saat itu..." Gadis itu menceritakan kisahnya saat di malam hari dia bermimpi pernah mendengar suara anak kecil yang memanggilnya ketika dia berusaha tidur di saat Ibunya pergi meninggalkannya dan keluarganya untuk selamanya.


Suara itu terdengar di dalam cermin kamar lemari pintunya. Ketika gadis kecil itu tepat berada di depannya, yang dia lihat hanyalah bayangan dirinya.

"Apa kau yang memanggilku?" tanya gadis kecil itu pada cermin yang ada di depannya. Tiba-tiba saja, bayangan di cermin itu mengangguk. Gadis kecil itu kembali bertanya, "Kenapa kau menanggilku?". Tangan yang ada di dalam cermin itu keluar tanda mengajak sang gadis kecil itu untuk pergi ke suatu tempat. Gadis kecil itu bertanya kembali, "apa kau ingin mengajakku ke suatu tempat?". Bayangan sang gadis hanya mengangguk sambil tersenyum.

Saat Gadis kecil memegang tangan bayangannya sendiri, diapun di tarik masuk kedalam cermin dan kini ia berada di sebuah tempat. Tempat dimana Laut berada di atas kepala menjadi langit. Di dalam laut yang menjadi langit itu terdapat Mentari; tanda bahwa waktu di dunia itu adalah siang. Tempat di dalam dunia itu adalah kota tempat tinggalnya, Amenogawa. Tapi dengan berbagai tulisan dan arah mata angin yang terbalik

"Kenapa kita berada di sini?" Gadis itu kini tiba-tiba berada di tengah taman bermain bersama dengan bayangan sang gadis. Bayangan sang gadis itupun berlari ke arah ayunan dan memberi tanda ke arah sang gadis kecil untuk bermain bersamanya. "Mau main? baiklah" dan akhirnya sang gadis kecil dan bayangannya bermain bersama, menjelajahi kota sepi dan memakan apa yang mereka temukan di sana sesuka hati mereka tanpa bayar.

Sang gadis kini kembali tersenyum, tapi untuk sesaat. Raut wajahnya kembali muram ketika melewati tempat dimana dia dan ibunya biasa mampir untuk membeli 3 tusuk Dango dan teh hangat untuk istirahat sebentar setelah berbelanja di pasar tengah kota, Warung kecil sederhana itu bernama Kuuhaku; meskipun tulisan disana terbalik. Air mata sang gadis kecil tanpa sadar menetes jatuh di atas jalan dekat tempat tersebut.

Bayangan gadis yang mengetahui hal itu menarik sang gadis ke arah tempat tersebut. Sang gadispun duduk di depan warung kecil sederhana tersebut atas perintah sang bayangannya yang memasuki warung kecil itu dan keluar dengan membawakan sepiring 3 tusuk Dango dan secangkir teh hangat yang sepertinya dibuatnya untuk sang gadis. Sang gadispun memakan setusuk Dango tersebut dan tersenyum kembali. "Enak sekali" ucapnya meskipun tengah menahan sedih.

Mereka berdua kini duduk di sana bersama sambil menikmati dango dan teh.

Tidak lama kemudian sore menjelang.

Sang bayangan gadis berdiri dan mengulurkan tangannya pada si gadis yang masih duduk. "Apa kau mengajakku pulang?", tanya sang gadis kecil itu yang sepertinya berat hati untuk meninggalkan tempat itu. Bayangan gadis itupun mengangguk. "Baiklah," akhirnya sang gadis dengan berat hati memegang tangan itu lagi. "Tapi apakah kita bisa bertemu lagi?" tanyanya, tapi sang bayangan terdiam.

Secara tiba-tiba, Gadis itu sudah beradadi dalam kamarnya di atas ranjang hanya dalam 1 kedipan mata. Gadis itu terbangun dari ranjang bagaikan orang yang telah terbangun dari tidurnya. Dilihatnya jam dinding yang menunjukan angka 01.00 dini hari. "Mimpi ya?" saat dia melihat cermin yang ada di pintu lemarinya, sang gadis kecil itu terkejut kemudian menangis karena bahadia sambil tersenyum ketika membaca tulisan dari embun yang ada di sana.

'Aku selalu bersamamu'

Dan tulisan itupun lenyap bersama embun yang telah menguap.

"Terimakasih"


"Begitulah yang bisa aku ingat" Gadis itu menyelesaikan kisahnya dan kembali memandangku yang kini tengah merinding ketakutan sambil menahan air mataku yang mau keluar karena mendengar kisah ceritanya. "Eh? Kenapa kau gemetaran seperti itu? Apa kau kedinginan" tanyanya yang penasaran.

"Kedinginan kepalamu! Cerita kisahmu di awal tadi seram sekali! Apa kau tadi sedang bercerita Horror?" ucapku kesal sambil menahan ketakutan.

"Kisah awalku seram? Memangnya seperti cerita horror ya?" tanyanya polos.

"APA!? KAU TIDAK MENYADARINYA?" teriakku yang kaget. Baru kali ini ada makhluk langkah yang tidak sadar bahwa cerita kisah masa kecilnya itu bagaikan cerita horror.

"Maaf, aku baru tahu sekarang" ucap gadis itu yang meminta maaf padaku.

"B-baiklah, tapi ngomong-ngomong kenapa kau menceritakannya padaku?" akupun menanyakan hal tersebut.

"Itu... aku juga tidak tahu" ucapnya dengan polos.

"APA!?" Aku kembali terkejut, kenapa masih ada makhluk seperti ini yang mau menceritakan kisahnya kepada orang yang tidak di kenal sepertiku tanpa aku minta. Aku hanya bisa sweatdrop mengalami kejadian ini. Sudahlah, aku mulai lelah memikirkannya. "Hei, apa kau belum di ajarkan jangan pernah berbicara dengan orang asing?" ucapku padanya.

"Hm... sepertinya sudah" ucapnya setelah berpikir. "Tapi apakah kau orang asingnya?" tanyanya lagi.

AAAAHHHHH! Sungguh aku ingin berteriak di atas gunung lalu menjatuhkan diriku jika bertemu dengan makhluk langkah seperti ini lagi. Sudahlah lupakan hal itu. "Benar" jawabku dingin dan singkat.

"Kenapa?" tanyanya lagi.

"Itu karena kita belum saling mengenal" jawabku lagi sambil menahan emosi.

"O-oh ya, anu... namaku Tategawa Asumi, lalu namamu siapa?" tanyanya.

"Eiji Alfi, adikku namanya Eiji Rikan" ucapku dingin sambil melihat wajahnya.

"Begitu ya, salam kenal" diapun memberi salam.

"Salam kenal-Eh? Kenapa malah begini?" Akupun bingung, entah kenapa suasananya menjadi tak jelas begini. Sabar-sabar, tahan napas lalu hembuskan. "Tategawa Asami?" Tiba-tiba aku terkejut dan badanku terasa merinding setelah mengetahui siapa gadis ini sebenarnya. "Tategawa? Kau putrinya Tategawa Genjirou-sensei?" tanyaku yang sempat shock.

"Be-benar, memangnya kenapa?" Asami bingung.

Akupun membungkukan badanku dan memandang ke tanah dengan badan yang merinding ketakutan lagi. "Jika Genjirou-sensei tahu kau menghilang dari kamarmu dan sedang bersamaku saat ini... Tamatlah hidupku" Aku tidak mau berpikir ke sana, karena putri guru killer sedang bersamaku .

"Tenanglah, ayahku tidak akan marah jika dia masih tidak tahu kalau aku tidak ada di kamar" ucap Asami yang berusaha menenangkanku.

Aku menghelah napas, tidak ada gunanya memikirkannya jika kami masih di sini. "Ya sudahlah" ucapku.

"Tunggu, tadi namamu Eiji... Alfi, benarkah?" tanya gadis itu yang entah kenapa ingin memastikan sesuatu. Akupun mengangguk dan dia terkejut. "HAH? Ke-kenapa kau bisa berada di sini?" tanyanya.

"WOY SADAR WOY!" akupun berteriak sambil menangis kepada Asami yang ah... sulit untuk di jelaskan.

"Kenapa Laki-laki mesum sepertimu ada bersamaku?" Asami menunjukan raut wajah ketakutannya padaku. Mesum? Tunggu sejak kapan aku di kabarkan mesum?

"Apa maksudmu?" akupun bertanya padanya.

"Eh? K-kau tidak tahu?" Asamipun lebih terkejut daripada aku. AAAAHH! Aku pusing! Akupun meminta Asami menjelaskan maksudnya. "Kau dulu bukannya pernah mengitip kami gadis-gadis yang ada di sekolah saat kami ganti bajukan!" jelasnya.

"Di sekolah? Tunggu dulu kapan?" tanyaku yang bingung.

"2 tahun yang lalu saat masih SMP" ucap Asami sambil menunjukan tangannya yang membentuk huruf 'V' padaku. Aku berusaha mengingat-ingat kejadian yang dia maksud dan akhirnya kenangan menyedihkan itu berjalan di kepalaku.

kejadian akhir tahun SMP benar-benar merubah hidupku. Meskipun aku jelaskan padanya apakah dia percaya dengan fitnah kejam yang menyiksa, dimana seorang pahlawan dianggap sebagai seorang kriminal? Namun hanya langit dan bumilah yang mengetahui kebenaran tersebut, dimana waktu yang akan menjawab kapan diriku mendapatkan kebenaran. Tapi haruskah ku jelaskan padanya sekarang agar dia percaya padaku saat ini? Aku menghelah napas.

"Aku ingat, tapi sebenarnya pelaku dari kejadian itu bukanlah aku" jelasku yang membela diri.

"Benarkah? Kalau begitu ceritakan!" Asami menyuruhku menceritakan masa laluku dengan rasa penasaran.

"Sungguh? Tapi aku saat ini tidak mau menceritakannya" ucapku.

"Heeh... itu tidak adil, bukankah tadi aku sudah menceritakan kisah masa laluku sampai-sampai kau ketakutan karena mengganggapnnya cerita horror, dasar laki-laki egois!" bentak Asami yang mulai ngambek.

"Kenapa kau bertingkah seakan-akan aku ini pacarmu?" aku kembali sweatdrop. "Baiklah akah kuceritakan." Cerita kisah akhir tahun SMP aku mulai saat dimana aku pergi ke kamar mandi.


Pagi ini pelajaran begitu membosankan, Eiji alfi ingin sekali tidur daripada mendengar ceramah guru Sejarah yang menceritakan awal perang dunia kedua. Tidak hanya dia saja, bahkan teman-teman sekelasnya merasakan hal yang sama. Laki-laki itu kemudian melihat pemandangan di balik jendela yang menyiarkan kegiatan murid-murid dari kelas lain yang sedang menjalani pelajaran olahraga. Matanya lalu tertujuh pada seorang gadis berambut hitam panjang yang tengah berlari bersama yang lain.

Tidak lama kemudian, Kentarou yang duduk di belakangnya ikut memperhatikan apa yang di lihat Alfi. "Kau sedang melihat apa hayo?" goda Kentaro.

"Lihat Kamen Rider yang di keroyok Super Sentai" canda Alfi yang membuat Kentarou terkekeh.

"Bisa saja kau ini Eiji"

Beberapa jam kemudian, jam istirahat terdengar. Alfi berdiri, "Mau kemana?" tanya Kentaro.

"Toilet" ucap Alfi singkat dan berjalan keluar dari kelas. Laki-laki itu berjalan melewati lorong kecil yang dekat dengan gedung kecil ruang ganti perempuan. Toilet yang dia tuju berada tidak jauh dari sisi lain bangunan kecil tersebut.

Selesai menggunakan toilet Alfipun keluar sesudah mencuci tangan, lalu tiba-tiba tanpa sengaja dia melihat 3 orang siswa sedang mengintip bangunan ruang ganti perempuan melalui lubang kecil yang sedikit mereka rebutkan.

"Astagfirullah, mereka harus di hentikan. Bismillahirrahmanirrahim" selsesai berdoa, Alfi mendekati 3 siswa mesum tersebut. "Lagi ngapain?" tanyanya yang berada di belakang mereka.

"lagi ngintip cewek ganti baju bro, mantep sekali" ucap salah satu siswa tersebut tanpa sadar.

"Hei, saya sarankan kalian untuk menghentikannya tidak ada gunanya kalian melakukan hal itu, kasihan siswi yang di dalam." ucap Alfi yang masih sabar.

"Apa yang kau katakan!? Kau berani lawan kami bertiga!?" salah satu dari 3 siswa itupun langsung mencengkram kerah baju Alfi dan mengangkatnya tinggi.

"Aku hanya memberi kalian saran daripada kalian menyesal" ucap Alfi tanpa takut dan gentar menghadapi ancaman mereka.

"Apa kau bilang? HAH!?" gertak siswa yang mencengkram kerah baju Alfi tersebut lalu mengepalkan tangannya yang satunya, bersiap memukul Alfi. Tapi tiba-tiba di hentikan oleh temannya. "Kenapa kau hentikan?", tanyanya dengan wajah garang.

Dengan wajah ketakutan, temannya itu mengatakan "Tidak ada waktu untuk meladeninya sekarang, para siswi yang ada ruang ganti sudah mengetahui kita karena suaramu dan mulai keluar!".

"Apa?" siswa yang mencengkram kerah baju Alfi terkejut dan tanpa sadar melepaskan Alfi dari cengkramannya. "Kita kabur sekarang!" akhirnya mereka bertiga kabur mninggalkan Alfi.

"Aduh!" Alfi bangun dan membersihkan celananya. "Sebaiknya aku juga per-"

"Mau kemana kau?" terdengar suara para siswi yang ternyata sudah mengepung Alfi. "Mau kabur setelah selesai melihat lekuk tubuh kami? IYA?" ucap gadis satunya. "Tentunya itu ada harganya" sahut yang satunya.

Alfi yang di kepung tersebut tetap tenang,"Bisa aku jelaskan aku-"

sebelum Alfi menyelesaikan ucapannya, "SERANG!" gadis-gadis yang terlanjur jijik dan benci padanya langsung membantainya tanpa ampun, ada juga yang memukulnya dengan pedang kayu sampai-sampai hampir tepat mengenai 'masa depan'nya. Hingga rumornya beredar setelah kejadian tersebut. Juga ada salah satu pacar dari siswi tersebut yang mengerjainya, bukan hanya mereka tapi juga siswa seluruh sekolahan tersebut telah menguncilkannya.

Inilah arti dari Air susu dibalas air tuba, perbuatan baik di balas dengan kejahatan. Juga fitnah lebih kejam daripada pembunuhan, karena secara pelan-pelan membuat Alfi tersiksa secara mental dan batin di masa hidupnya. Keputusasaan selalu menghampirinya dari pagi sampai malam dan terus berulang-ulang. remaja tak berdosa tersebut menjadi jomblo karena dirinya telah dicap sebagai orang mesum. Meski dia tahu hanya Kaiko dan Kentaro masih mau tetap menjadi temannya karena mereka percaya dengan dirinya, itu tidaklah cukup.

Hingga akhirnya dia mulai menyentuh komputernya dan pergi kedunia lain yang di sebut sebagai dunia maya, memainkan berbagai permainan online yang ada di sana, satu persatu semua permainan tersebut dia mainkan disaat pulang sekolah atau hari libur. Di sana dia di anggap oleh para gamer lain sebagai artis, tapi lain halnya di dunia nyata.

Alfi terus mendedikasikan hidupnya untuk bermain game online, tidak peduli yang dia mainkan RPG, MMORPG, RTS, TPS, FPS, Arcade, Simulasi atau Game yang memeras Otak, dia selalu serius dalam memainkan semua game tersebut 1.000%. Tapi sayangnya hal tersebut membuat dia mudah lelah.

Sampai akhirnya, dia benar-benar berubah sifat seutuhnya. Yaitu menjadi orang yang dingin, pemalas, dan penyendiri. Meskipun hatinya masih sama seperti dulu.


"Itulah seingatku," ucapu yang menyelesaikan kisah tersebut.

"Sebelumnya aku minta maaf, telah ikut memukulimu dengan menggunakan pedang kayu" Asami langsung minta maaf.

"Apa? Jadi itu kau? Tidak aku sangka ternyata kaulah yang membuat 'masa depan'ku hampir celaka" ucapku yang tidak mempercayai hal tersebut. Gadis yang hampir saja menghilangkan 'masa depan'ku ada di dekatku, super sekali.

"Sekali lagi maafkan aku, aku benar-benar menyesal, seharusnya kami mendengarkanmu dulu" Asami sekali lagi meminta maaf karena dia benar-benar menyesal. Aku tidak tega melihatnya menyesal begini.

"Baik-baik aku maafkan, jadi berhentilah meminta maaf, itu membuatku tidak nyaman" ucapku.

"Aku mengerti, maaf Eiji-san" Asami berhenti meminta maaf padaku.

Aku menghelah napas, "Rasanya curang jika hanya aku yang memanggil nama Asami-san, Asami-san boleh memanggillku Alfi" ucapku yang tidak tega dengan hal tersebut.

"Terimakasih Alfi-san, kau laki-laki yang baik" Asami tersenyum padaku. Ini pertama kalinya aku meminta seseorang memanggil namaku. Tidak seperti Lala yang membuatku menuruti permintaannya.

Tanpa sadar aku melepas tawa, "Hehe... hahaha..." aku tidak mengerti kenapa aku tertawa dan membuat Asami berhenti tersenyum karena bingung melihatku tertawa. Sudah lama aku tidak tertawa.

Setelahnya Rikan bangun, "Hoam... apa kita sudah pulang?" tanyanya sedikit sadar.

Aku berhenti tertawa, "Belum, tidur lagi sana" ujarku pada adikku.

"Tadi aku mendengar Onii-san tertawa, apa ada yang lucu?" tanyanya setelah mengucek matanya.

Aku menggelengkan kepala, "Sudahlah tidur lagi sana, Kaukan masih kecil" pintahku dengan lembut sambil membelai rambutnya.

"Tidak, Rikan sudah lelah untuk tidur" ucap Rikan.

"Baiklah, terserah dirimu" ucapku.

"Alfi-san, kita sudah cukup beristirahat, lebih baik kita melanjutkan perjalanan" ucap Asami yang berdiri.

Kuanggukan kepalaku tanda menyetujuinya, "ayo". Tapi saat aku melangkahkan kakiku, "Hyaaah!" tiba-tiba aku tidak sengaja tersandung dan tubuhkupun mendarat ke arah Asami. Di saat itu aku tidak bisa melihat karena gelap, tapi entah kenapa aku mencium bau wangi dan desahan nikmat, desahan itu berasal dari Asami. Asami? Dia kenapa?

"A-Alfi, Kyaa! He-hentikan... Kyaa!" Asami entah kenapa bernada seperti itu. Tunggu dulu, jangan-jangan wajahku kini berada di... AKU HARUS BANGUN! Tapi sayang kedua paha Asami menjepit kepalaku.

"Asami, mefaspan mahapmu! Awu ninak misa memapas!(baca: Asami, lepaskan pahamu! Aku tidak bisa bernapas!)" ucapku dengan wajah setengah terpendam di 'tempat keramat' tersebut karena jepitan paha gadis ini.

Rikan yang sepertinya melihat hal tersebut hanya menghelah napas, "Haah... aku bingung apa yang mereka berdua sedang lakukan" ucapnya polos.

Tidak beberapa lama kemudian aku berhasil melepaskan wajahku dari 'tempat keramat' tersebut. Kulihat Asami menutupi 'tempat keramat' itu dengan kedua tangannya sambil menunjukan wajah kesalnya padaku, dengan rona berwarna merah di pipinya yang dihiasi oleh kedua matanya yang mulai berair, terlihat begitu manis untuk di pandang-Eh? sadar-sadar! ini bukan saatnya memikirkannya.

"Dasar... Alfi no ECHI!" teriaknya kesal padaku dan memalingkan wajahnya. Dia berhak kesal dan marah padaku, karena Aku hampir saja membuat Asami tidak suci lagi, Aku benar-benar bodoh.

Aku membungkukan badanku, "Ma-maaf Asami-san, aku tidak sengaja sumpah!" ucapku yang terus bersujud ke arahnya penuh penyesalan. Di dalam hatiku aku ingin berteriak dan menangis sambil bertanya kenapa hal ini selalu bisa terjadi padaku. Kamipun melanjutkan perjalanan. Di perjalanan Asami masih terlihat kesal padaku karena kejadian tersebut dan sepertinya dia tidak ingin aku ajak bicara.

Ketika kami sampai di depan menara yang menjulang tinggi menembus Laut yang menjadi langit di dunia ini, seseorang tengah berdiri di depan kami seperti sudah menanti kami datang.

"Selamat datang, di tempat perjamuan makan malam sang dewi!" teriak orang aneh misterius berpakaian serba hitam yang sepertinya menyapa kami. "Sekarang," tiba-tiba sebuah kartu Arcana Judgement melayang di tangan kanannya, "berikan kesucian kalian pada sang dewi kami..." diremasnya kartu tersebut dan keluarlah serpihan cahaya berwarna biru yang perlahan membentuk wujud separuh gurita dan cumi-cumi raksasa yang memiliki mulut besar. "Tapi sebelum itu... mainkan tentakelmu pada mereka, Kraken!" dan monster itu menjulurkan tentakelnya ke arah kami.

~To Be Continue~


Salam hangat untuk semua, maaf saya lama updatenya karena fokus dulu untu lulus SMK. Singkat kata terimakasih yang telah mendukung cerita ini dan mohon maaf saya telah update lebih dari setahun. Salam hangat Sp-Cs.

Itu saja sudah.#dihajarmassa