Persona V: dunia di balik cermin

Eiji Alfi mendapati dirinya dan adik perempuannya terjebak di dunia cermin, tidak lama setelah itu di selamatkan oleh gadis misterius yang mirip Sadako, bisakah mereka bertiga keluar?

Discalimer: Persona Series Milik Atlus dan cerita ini milik Sp-Cs

Catatan: cerita ini hanya fiksi. Jadi jika terjadi salah kata atau kesamaan, mohon di maafkan.


Tentakel-tentakel itu melesat ke arah kami. "BANSHEE!" Dengan cepat Asami memanggil Banshee dan Persona gadis itu secepat kilat memotong beberapa tentakel di hadapannya. "Siapa dirimu? Tiba-tiba menyerang kami" tanya Asami.

"Siapa aku? Kenapa aku harus memberitahukannya pada kalian? HAHAHAHA!" ucap orang misterius itu dan secara tiba-tiba hujan Es jatuh ke arah Banshee.

"Argh!" Asami entah kenapa terlihat kesakitan saat Banshee terkena hujan es tersebut.

"Asami, kau baik-baik saja? Kenapa kau sepertinya kesakitan?" tanyaku yang mendekati Asami.

"Aku juga tidak tahu kenapa tiba-tiba tubuhku terasa sakit bagai tertusuk es yang dingin" Ucap Asami yang berusaha menahan rasa sakit tersebut.

Aku mulai berpikir dan terkejut. "Mungkinkah dampak yang dirasakan Personamu akan dirasakan penggunanya juga?" tanyaku pada Asami.

Asamipun terkejut, "A-apa? Bagaimana mungkin? Gadis bertopeng yang menyelamatkanku tadi tidak mengatakan hal itu padaku".


~Chapter 5: Awal Penderitaan~


"HAHAHA... Persona yang lemah seperti itu tidak mungkin bisa mengalahkanku, jika kalian menyerah akanku berikan layanan terbaikku sampai kalian terasa nikmat hingga kalian mau dan mau lagi untuk merasakannya, kecuali laki-laki yang ada di sana yang akan aku bunuh! HAHAHAHAHA!" tawa orang misterius itu yang menggelegar di telinga kami. Jujur saja, aku kesal pada orang ini dan adikku terus memegang lengan bajuku karena ketakutan.

"Onii-chan apa yang harus kita lakukan?" tanya Rikan.

"Tenanglah." Aku berusaha menenangkan Rikan lalu menoleh ke arah orang missterius tersebut. "Hey kau, kau ini sebenarnya siapa? Dan apa maumu dari kami?" tanyaku.

"Hihihihihi... dasar bocah bodoh, yang kuinginkan adalah kematianmu dan kenikmatan darah 'suci' dari seorang gadis dan Loli yang ada di dekatmu, HAHAHAHA" ucapan orang misterius itu benar-benar terdengar gila bagi kami.

"JANGAN BERCANDA! Kami tidak akan menyerah, itu pasti! Karena kami akan keluar dari dunia ini dan mengalahkanmu!" teriak Asami. "Banshee!" Banshee menyerang Kraken dengan sisir besarnya, memotong tubuh Kraken dan tentakelnya terus menerus tanpa henti.

"HAHAHAHA mengalahkanku? Tidak akan aku biarkan, percuma kau menyerang Kraken, Personaku memiliki Skill pasif Regen tingkat 1." Di saat itu tentakel-tentakel Kraken kembali tumbuh. "Seranganmu memang menyakitkan, tapi rasakan ini, BUFU!" ketika orang misterius tersebut mengucapkan kalimat itu, serpihan hujan Es jatuh dengan keras ke arah Banshee.

"Kyaa!" Asamipun berteriak kesakitan lagi hingga membuatnya hampir tidak kuat berdiri.

"Asami!" aku mendekatinya dan menahan tubuhnya yang tidak kuat lagi berdiri. Dingin, tanganku merasakan tubuh Asami dingin sekali. "Asami, tubuhmu dingin".

Asami kembali berusaha bangkit, "Aku... tidak apa-apa, tadi dia menyerangku dengan serangan elemen es, jadinya tubuhku terasa dingin" ucapnya yang berusaha untuk berdiri, namun dia kehilangan keseimbangan dan hampir terjatuh jika aku tidak menahannya.

"Asami" Aku merasa badan Asami tidak kuat lagi.

"Hahahahahaha... jadi Personamu lemah terhadap searangan es, ini sangat mudah bagiku untuk menang, HAHAHAHAHA!" orang misterius itupun tertawa.

"Onii-chan..." Rikan memandang ke arahku.

Aku berpikir dan terus berpikir, tapi hasilnya... tidak ada. Aku terus menggigit bibirku karena kesal. Aku ingin menangis tapi tidak bisa. Aku ingin berteriak tapi mulutku diam membisu. Sakit, Hatiku terasa sakit. Aku hanyalah manusia lemah. Meskipun di dalam sebuah permainan aku menjadi nomor satu, tapi apa dayanya... aku hanyalah manusia lemah.

"Aku... masih bisa..." Asami berusaha bangkit. Gadis itu kembali berjuang, tapi dengan reflek aku memegang tangannya membuat dia menoleh ke arahku. "Alfi-san?" tatapan penuh heran dia lontarkan padaku meski lemah.

Tanpa menjawab, dengan cepat aku menariknya bersama Rikan lari dari tempat tersebut dan kabur. Hingga membuat tubuh mereka berdua melayang-layang bagai layangan tanpaku sadari.

"Onii-chan! Larimu terlalu kencang!" teriak Rikan.

"Berisik! Kita harus kabur darinya dulu!" jawabku yang terus berlari kencang tanpa arah, menjauhi orang misterius yang berbahaya tersebut. Diikuti oleh Banshee yang menyusul kami dan menghilang setelah Asami mengubahnya menjadi kartu.

"HAHAHAHAHAHAH! Mau lari atau sembunyi... aku bisa menemukan kalian dengan mudah, apalagi di sini masih ada yang lebih berbahaya dariku. HAHAHAHAHA!" ucapan orang misterius itu dapat terdengar di telinga kami.

.

Akhirnya kami berhasil sembunyi dari orang misterius berbahaya tersebut. Di sini, di SMA Amenogawa, ruang UKS di lantai 2, Aku membaringkan tubuh Asami yang lemah dan dingin sekaligus memiliki luka memar akibat pertarungan tadi setelah aku dan Rikan berusaha mengobatinya semampu kami.

"Maafkan aku Alfi-san, Rikan, andai aku tahu bahwa kelemahan Banshee adalah Es, mungkin aku lebih waspada saat melawannya" ucap Asami padaku.

"Kenapa kau meminta maaf, bodoh! Inikan bukan salahmu" ucapku dingin agar tidak membuatnya khawatir, aku harap dia tidak tahu bahwa karena berlari tadi aku sangatlah kelelahan.

"Onii-chan! Kalau bicara itu yang sopan sama Asami-nee-chan!" Rikan langsung menjewer telingaku karena kesal dengan ucapanku tadi.

"Adu-duh sakit! Iya-iya! Aku yang salah, maaf! Jadi Hentikan!" teriakku sakit dan memohon maaf pada adikku yang masih cilik ini.

"Hihihihi..." Asami tertawa manis. Entah kenapa hatiku terasa aneh ketika melihat dia tertawa manis seperti itu.

"Sudahlah, Sekarang kau istiriahat dulu, aku akan cari makanan dan minuman untukmu. Rikan jaga Asami, berharaplah orang itu tidak menemukan kita." Akupun berjalan menuju pintu dengan membawa tongkat besi sebagai senjata untuk melindungi diriku dan kain hitam yang aku temukan di UKS sebagai alat penyamaran, juga membawa tas kecil yang tidak sengaja aku temukan di ruangan tersebut.

"Alfi-san," suara Asami membuatku berhenti dan menoleh, "Bukankah sangat berbahaya jika kau keluar, di sekitar sini banyak Shadow berkeliaran" ucapnnya yang meperingatkanku.

"Jangan khawatir, aku akan memperhatikan langkahku apalagi kain hitam ini akan membuatku tidak terlihat di balik bayangan" ucapku yang berusaha membuatnya tidak khawatir.

"Tapi meski begitu... bagaimana jika makhluk yang di luar sana menemukanmu?" tanya Asami. Gadis ini tidak berhentinya mencegahku untuk pergi, dia sepertinya benar-benar mengkhawatirkanku.

"Jangan cemaskan hal itu, jika itu terjadi aku tahu apa yang aku perbuat" jawabku dengan dingin . "Sudahlah, aku pergi dulu... jaga dirimu dan Rikan. Juga pastikan pintunya benar-benar terkunci." akupun keluar tanpa menoleh ke arah Asami lagi dan menutup pintu.

Dilorong sekolahan yang di sinari oleh cahaya bulan Purnama, dari jauh aku dapat melihat bayangan-bayangan makhluk yang disebut Shadow. Untungnya mereka tidak melihatku di dalam kegelapan, tapi aku harus tetap lebih berhati-hati jika bertemu beberapa dari mereka.

Beberapa menit menelusuri lorong sekolah, menurunin tangga dan melewati pertigaan, akhirnya aku sampai di kantin sekolah. Di sana terlihat ada makanan dan minuman. Tanpa berat hati langsung aku ambil beberapa dan kembali ke UKS dengan hati-hati.

"Grrrr..."

Ah sial, di pertigaan lorong yang kulewati muncul sesosok Shadow berbentuk tangan. Aku mengacungkan tongkatku ke arahnya dan memukul tubuhnya hingga membuat dia mengerang kesakitan. Sepertinya serangan fisik dapat melukainya. Tapi aku lengah, Makhluk itu berhasil menyerangku dan membuat tongkat besi yang aku pegang terjatuh dan menimbulkan suara.

KLONTANG-TANG!

Memancing makhluk yang sama sepertinya datang ke arahku. Aku berpikir. Aku menoleh ke arah jendela yang terbuka di dekatku dan segera melompat keluar dari sana. Setelahnya berlari menjauh dengan cepat dan bersembunyi di dalam tumpukan sampah belakang sekolah dan berhasil. Makhluk-makhluk tersebut yang mendekat ke arah tumpukan sampah tidak menemukanku hingga akhirnya mereka pergi.

Tengok kanan dan kiri akupun keluar dengan hari-hati, lalu di tumpukan sampah itu aku menemukan tongakt besi lain. Untungnya ujungnya lacip, mungkin aku harus berhati-hati jika menggunakannya sebagai senjata.

Aku kemudian mencari arah lain menuju UKS melalui taman dan aku menemukan 1 Shadow berbentuk tangan yang sedang mengelilingi taman. Perlahan-lahan kuikuti dia dari belakang sampai akhirnya berhenti tepat di samping pintu masuk lorong sekolahku.

Sekarang aku hanya tinggal masuk kedalam sekolah.

Akhirnya aku kembali ke UKS dengan selamat dan membawa beberapa makanan, tidak lupa aku mengunci kembali pintu agar Shadow tidak masuk ruang UKS. Kulihat Asami dan Rikan tertidur di atas ranjang bersama dengan pulas.

Setelah selesai melihat, aku mendekat ke arah mereka dan membenarkan selimutnya supaya mereka tidak kedinginnan.

"Maafkan aku, aku memang lemah" ucapku pelan agar tidak terdengar, khususnya pada Asami-san. Lalu meletakan tas berisi makanan di atas meja dan duduk di samping kursi yang menghadap ke arah tempat tidur tersebut untuk istirahat ketika ruangan sekitar benar-benar aman. Tanpa sadar akupun tertidur pulas.

.

Aku tenggelam, tenggelam lebih dalam. Di dasar Laut yang tidak terasa asin ini aku hanya bisa melihat sinar matahari yang samar-sama berada di atas.

Aku berusaha bergerak tapi aku tidak bisa menggerakan tangan dan kakiku. Mereka seakan mati rasa. Perlahan, semakin lama badanku semakin masuk kedalam Laut ini. Semakin gelap, cahaya itu semakin menjauh. Sesak, aku merasa aku lupa cara bernapas atau paru-paruku mulai berhenti berfungsi.

"Akhir... yang... menye... dih... kan..." ucapku yang membuat air masuk kedalam mulutku dan anehnya rasa air ini tidak asin.

BYURR!

Sesosok manusia nampak masuk kedalam lautan ini, kulihat dari atas dia berenang ke arahku. Semakin dekat sosok itu semakin jelas terlihat. Sosok itu adalah sosok Asami.

Sosok Asami itu mendekatkan bibirnya pada bibirku dan memberiku napas buatan. Rasa bibirnya begitu dingin bagai es dan diapun mulai memelukku erat. Jujur aku merasa merinding merasakannya. Tapi di saat yang sama aku dapat mendengar suaranya di dalam kepalaku yang mengatakan "Berjuanglah meskipun kau lemah, aku selalu mendukungmu".

Aku dapat merasakan tubuhku dapat di gerakan, lalu tanganku merayap kepunggungnya untuk memeluknya.

Tapi beberapa tentakel menangkap kakinya dan menariknya ke dasar. "ALFI!" Asami langsung terlepas dari diriku.

"ASAMI!" aku berusaha menggapainya tapi dia telah hilang di telan dasar lautan yang gelap. "Asa...mi..." pandanganku menjadi gelap.

Aku lemah dan tidak berdaya.

.

Mataku perlahan terbuka, "Astagfirullah, mimpi tadi terlalu nyata untuk aku alami" ucapku dan menggelengkan kepala. Di saat itu aku merasa tanganku di genggam oleh Asami yang masih tidur tanpa aku sadari. "Kenapa tangan Asami menggenggam tanganku? Jangan-jangan dia mengingau" perlahan aku menggerakan tanganku keluar dari genggamannya agar dia tidak terbangun, tapi sayang... kedua kelopak indah itu terbuka dan menatapku.

"A-Alfi-kun, apa yang sedang kau lakukan?" Tanya Gadis berambut hitam panjang tersebut.

"Sebelum itu bisakah kau melepaskan tanganku?" tanyaku yang membuat Asami menoleh ke arah tangannya yang menggenggam tanganku.

"Ah," Asami melepaskan genggamannya dengan wajah merona merah. "Maaf, mungkin aku tidak sadar menggenggam tanganmu saat aku tidur" ucapnya.

Aku lalu menoleh ke arah Rikan namun adikku tidak ada di sampingnya. "Asami, dimana Rikan?" tanyaku yang mulai panik.

"Rikan, dia ada di sampingku-loh?" Asami yang menoleh dan meraba-raba samping tempat tidurnya mulai panik, lalu membuka selimutnya dan tidak mendapati Rikan di sampingnya. "Adikmu menghilang" ucapnya.

"Apa?" Aku mulai berdiri dan mencari ke sekitar ruangan namun Rikan tidak ada di manapun di sudut ruangan ini, kemudian aku menuju ke arah pintu yang ternyata tidak terkunci. "Apa dia keluar untuk ke kamar kecil? Bagaimana bisa dia seceroboh ini!" gumamku.

"Alfi-kun, tenanglah! Ayo kita cari bersama-sama" usul Asami yang bangun dari ranjang.

"Tapi kau masih belum sembuh!" Aku mendekati Asami dan membantunya agar tidak jatuh.

"Keselamatan Adikmu lebih penting!" ucap Asami yang sepertinya juga khawatir.

"Kau benar, kalau begitu kita cari bersama-sama" usulku. Tapi tidak lama setelah kami keluar ruangan... kami mendengar suara Rikan.

"ONII-CHAN! ASAMI-NEE-CHAN! TOLONG RIKAN! RIKAN ADA DI ATAS ATAP! HUWEEE!" teriak Rikan yang sedang menangis.

"Itu suara Rikan" ucap Asami yang mulai gegabah.

"Tunggu sebentar Asami, aku akan menggendongmu agar kita bisa cepat menolong Rikan" ucapku dan tanpa pikir panjang Asami mengangguk hingga akhirnya aku menggendong tubuh Gadis ini dan mulai berlari ke atap.

"M-maaf Alfi-kun, apakah tubuhku berat?" tanya Asami.

"Ya, tubuhmu lebih berat dari Rikan" ucapku di tengah pelarian.

"BODOH! Jangan membandingkan berat tubuhku dengan tubuh anak kecil!" teriak Asami yang kesal.

"Maaf, tapi ini bukan saatnya" jawabku dan kamipun sampai di atas atap.

Di atap ini, kami bertemu orang misterius berbahaya itu lagi sedang menyandera Rikan. Aku dapat melihat Rikan menangis dengan tangan yang di ikat di belakang meskipun aku kelelahan.

"Akhirnya kalian datang juga, hahahaha!" tawa orang misterius berbahaya yang tertawa dengan kejamnya.

"Onii-chan... Onee-chan... Huwee... Maafkan Rikan..." Rikan terus menangis.

"Rikan tenanglah, kami ada di sini dan kami akan menolongmu" ucapku menenangkan adikku yang bodoh. "Hey kau! Kau apakan adikku hingga menangis seperti itu!?" tanyaku dengan marah pada sang penyandera.

"HUHUHUHU... tenang aku masih belum berbuat apapun pada adikmu karena dia adalah makanan penutup bagiku, HAHAHAHAHA" tawa orang kejam Persona-user Kraken tersebut.

"HEY KAU! CEPAT LEPASKAN DIA!" teriak Asami yang juga marah.

"HAHAHAHA... tidak secepat itu, ada syaratnya" ucap Persona-user Kraken itu.

"Hey kau! Apa syaratnya!?" tanyaku.

"NAMAKU BUKAN 'HEY KAU!' AKU INI PUNYA NAMA! NAMAKU DESMON!" Teriak orang misterius berbahaya yang kesal bernama Desmon.

"HEY KAU! KAMI TIDAK PEDULI!" teriak aku dan Asami bersamaan.

"JIKA KALIAN MEMBUATKU KESAL, AKANKU BUNUH LOLI INI MESKI AKHIRNYA AKU HARUS MENIKMATI HIDANGAN PENUTUP YANG BERDARAH" ancam Desmond yang menodongkan sebuah pisau di leher Rinkan.

"Hentikan" aku semakin marah dan orang itu semakin mendekatkan pisaunya ke arah Rikan.

"Huwe..." Rikan semakin menangis.

"Berhenti Alfi!" Asami menghentikanku. "Baiklah Desmon, apa yaang kau inginkan?" tanyanya pada Asami.

"HAHAHAHA... tidak perlu aku jawab, kau pasti tahu. Asami-chan~, serahkan dirimu dan aku akan membebaskan Loli ini dan laki-laki itu" perkataannya memberi kami petunjukan bahwa dia menginginkan Asami, tapi dia juga menginginkan Rikan lalu membunuhku. Aku membenci orang ini.

"Baiklah, aku megerti. Alfi-san tolong turunkan aku" pintah Asami tanpa pikir panjang.

"Asami, jika kau lakukan ini... kau akan..."

"Tapi nyawa adikmu dalam bahaya, aku tidak mau melihat orang mati di depanku" ucap Asami yang memotong perkataanku.

Aku terdiam sejenak. Hatiku terasa sakit jika memikirkan sesuatu yang tidak aku inginkan terjadi pada Asami dan Rikan, meski aku tahu orang itu akan melakukan suatu hal yang licik. "...Baiklah..." aku terlalu lemah untuk menghadapi semua ini. Akhirnya perlahan aku menurunkan tubuh Asami.

"Sekarang kita mulai pertukarannya" ucap Asami dengan tenang.

Desmon menjilati bibirnya sendiri, "...slup, Baiklah Asami-chan~" lalu melepas Rikan yang masih terikat. Aku tahu dia akan berbuat licik.

"Asami, hati-hati" Ucapku dan pertukaranpun di mulai.

Asami dan Rikan berjalan perlahan. Namun aku tahu karena ini seperti mimpiku, dan kini mimpi itu akan menjadi nyata. Ketika arah mereka sejajar, dari dalam lantai atap munculah tentakel-tentakel Kraken yang menakap Asami dan Rikan. Kraken lalu muncul dari dalam lantai atap hingga membuat lubang besar di sana.

"KYAA! APA INI? LEPASKAN KAMI! KAU SUDAH BERJANJIKAN!" teriak Asami yang meronta-ronta. "Tentakel ini begitu lengket dan menjijikan!" lanjutnya yang berusaha lepas.

"melepaskan kalian? Apa? HAHAHAHAHA... mendapatkan hidangan kenikmatan yang sespesial sepertimu sangatlah beruntung bagiku, HAHAHAHAHA" Desmon tertawa jahat.

"HUWEE... ONEE-CHAN! ONII-CHAN! HUWEE..." Rikan menangis menjadi-jadi.

"Jangan khawatir Rikan, Aku akan melepaskanmu! BANSHEE!" Asami lalu memanggil Banshee tapi sayang. Banshee langsunng ikut tertangkap tentakel Kraken. "KYA!" Asami semakin merasakan kesakitan.

"ASAMI! RIKAN!" aku hanya bisa diam melihatnya dengan tangan yang tergenggam erat, gigi yang menggigit bibir dan mata yang mulai panas. "HEY KAU! CEPAT LEPASKAN MEREKA!" aku berteriak ke arah Desmon.

"HAHAHAHAHA... melepaskan mereka? Ketika Kraken sedang menikmati tubuh mereka? Tidak akan." Ucap Desmon yang tertawa jahat lagi. "Sekarang aku akan membunuhmu!" Desmon lari ke arahku memutari lubang besar dan berniat membunuhku.

Aku menyiapkan tongkat besi berujung lancip yang aku sembunyikan di balik lengan piyamaku menunggu kesempatan untuk menusuknya, jika bisa.

"Matilah kau!" Pisau Desmon bersiap menusukku. Aku berusaha sedikit menghindar, namun dia menjegal kakiku dan akupun terjatuh. Desmon berusaha menusukku lagi, tapi aku berguling menjauh lalu berdiri. "Lihai juga kau, meskipun kau bukan Persona-user" ucapnya.

"Diam kau! Kau! Tidak akan aku maafkan!" teriakku dengan wajah dingin.

"Kalau begitu kemarilah, bunuh aku jika bisa HAHAHAHAHA!" ejeknya. Itu umpan, aku tahu karena hal ini sering terjadi di Anime. Pasti ketika aku menyeranngnya, dia akan menghindar dan menyerangku.

"Baiklah!" Aku lalu melempar senjataku ke arah tentakel yang menangkap Banshee, tapi itu tidak cukup untuk melepaskannya. "Sial tidak berhasil" gumamku.

"Jadi kau ingin melawan Kraken? Baiklah rasakan serangannya!" Desmon kini memerintahkan Kraken menyerangku. Salah satu tentakel Kraken menyerangku dan menghempaskan tubuhhku hingga menabrak dinding dengan kerasnya.

"ARGH!" aku berteriak kesakitan, aku juga bisa mendengar sebagian tulangku patah karena tubrukan keras tubuhku. Kini aku ternsungkur di atas lantai, tidak bisa berdiri karena rasa sakit di sekujur tubuhku dan luka tulang yang sebagian patah membuatku tidak dapat bergerak.

"ALFI-KUN!" Asami berteriak padaku.

"ONII-CHAN!" Rikan juga berteriak kearahku.

"HAHAHAHAHA lemah! Kau begitu lemah!" Desmon mendekat ke arahku. "Orang lemah sepertimu, cepatlah mati! HAHAHAHAHA!" orang itu kemudian menginjak-injak tubuhku.

BRUAK!

"ARGH!" Aku kembali berteriak kesakitan di saat kaki-kakinya menginjak tubuhku dengan kerasnya. Sakit! Sakit! Tulangku, organ di dalam diriku terasa hancur remuk oleh injakannya.

"HENTIKAN! JANGAN MENYAKITI ALFI-KUN!" Asami berteriak, Aku dapat melihat dia menangis.

"ONII-CHAN... HUWEEE... BERHENTI...! BERHENTI! MENYAKITI ONII-CHAN!" teriak Rikan meskipun dalam keadaan menangis.

BRUAK!

"ARGH!" aku terus berteriak kesakitan, Desmon terus menginjakku dengan keras tidak peduli dia menginjak kepalaku.

"BERHENTI!" teriak Asami yang semakin keras.

Kaki Desmon kini menginjak kepalaku dan berhenti di atasnya, "Baiklah aku akan berhenti," ucapnya ke arah Asami. "Tapi jika Asami-chan~ memberikanku kenikmatan... HAHAHAHAHAHA!" ucapnya tertawa jahat.

Aku yang mendengarnya begitu kesal. Aku melihat Asami yang pasrah dan sedih melihatku. Aku harap Asami menolaknya.

"Jika begitu... Baik...lah..." Asami menerima tawarannya. Aku shock mendengarnya.

"Nee-chan..." Rikan kaget.

"Asa...mi... ja...ngan...!" ucapku namun tidak dapat di dengarnya.

"heh..." Desmon menjauh dari diriku dan berjalan mendekati Asami.

"Hen...ti...kan..." aku beerusaha bangkit, tidak ingin melihat sesuatu yang buruk, namun badanku kembali terjatuh ke tanah. "Asa...mi...!" aku berusaha menggapai tanganku dari jauh, tapi aku tahu itu mungkin tidak berhasil.

Aku lemah dan selamanya aku lemah. Aku bahkan tidak mampu bangkit lagi. Memikirkannya hatiku terasa sakit, lebih sakit dari luka yang kini aku alami.

Tangan-tangan Desmon meraba-raba tubuh Asami dan dia menjilat pipinya. Aku tidak tahan lagi melihatnnya. "HEN...TI...KAN!" Aku berteriak tapi suaraku tidak di dengarnya.

Aku merayap tapi aku tidak kuat. Siapapun, tolong Asami! Aku tidak ingin dia menderita! Aku ingin menyelamatkannya!

"Alfi...-kun... maafkan... aku..." Asami meminta maaf padaku dengan suaranya yang lemah. Dia berusaha melawan di dalam penderitaan yang di berikan orang itu padanya.

HAAAAAAAAA! AKU BENCI! AKU BENCI! AKU BENCI DIRIKU YANG LEMAH! SIAPAPUN BUNUH AKU! AKU TIDAK MAU HIDUP LAGI! AKU LEMAH! LEMAH! LEMAH! LEMAH! LEMAH! HATIKU HANCUR! HATI BEGITU SAKIT! LEBIH BAIK AKU YANG MENDERITA DARIPADA ORANG LAIN!

Dan semua menjadi gelap di mataku.

.

Gelap... semuanya gelap...

Kenapa... kenapa aku begitu lemah... kenapa hatiku terasa sakit... kenapa? Kenapa!? Aku bahkan tidak bisa melindungi Asami dan Rikan... Usaha untuk menyelamatkan mereka sia-sia... aku bahkan membuat Asami semakin menderita karena aku lemah...

Aku... aku yang membuat Asami menderita... jika begitu, lebih baik aku yang menderita agar bisa menolongnya keluar dari penderitaannya.

"Apa kau ingin menyelamatkannya?" tanya sesosok kakek tua yang muncul di hadapanku. Aku menganggguk. "Meskipun kau akan menderita?" tanyanya dan aku mengangguk. "Kalau begitu tanda tangani kontrak ini" kakek yang ada di depanku menyodorkanku sebuah kontrak. Aku membacanya yang berisi...


Banyak di antara yang kalian menderita adalah pilihan kalian sendiri– ubat pahit kehidupan agar manusia sembuh dari luka hati dan penyakit jiwa.
Percayalah tabib kehidupan dan teguk habis ramuan pahit itu dengan cekal dan tanpa bicara.


"Sekarang tanda tanganilah" kakek tua itu memberiku sebuah pena dan aku menandatanganinya. "Lalu makan apel hitam ini" Kakek itu memberikanku Apel hitam.

Aku mencoba satu gigitan dan rasanya sangat pahit saat masuk ke kerongonganku, ingin sekali aku memuntahkannya tapi kakek itu menghentikanku. Katanya Apel ini adalah rasa dari perasaanku dan takdirku. Aku langsung melahapnya dan menelannya dengan cepat tanpa mempedulikan rasanya lagi.

"Sekarang menderitalah untuk menghadapi takdirmu, KHUKUKUKUKU..." dengan sekejap kakek itu menghilang. Lalu tubuhku menjadi aneh, rasa sakit di hatiku semakin menjadi-jadi.

"ARGH!" aku memegang dadaku yang sakit, tidak lama setelah itu seluruh tubuhku terasa sakit. Aku merasa badanku seakan-akan di bakar, lalu merasa kedinginan, merasa tertusuk, sesak napas, kepalaku pusing, ginjalku terasa tergigit. "AAAAAAARRRRGGGGHHH!"

Aku lemah, tapi setidaknya aku bisa menderita demi orang lain.

...Asami...

-To Be Continue-