"Hi! School"

Chapter 3 : Old Friend

Cast : Byun Baekhyun, Park Chanyeol, others

Genre : Friendship, Romance, School life, Family

Rating : T

Warning :

Yaoi, bxb,Typos

A/N:

Halo, karena banyak yang minta momen Baeksoo diperbanyak akhirnya lahir chapter tiga penuh dengan Baeksoo. Fyi, panda juga suka Baeksoo *-* Mohon maaf karena updatenya molor, panda baru selesai mid huft ~ semoga suka sama chap tiga ini! jangan lupa like & review ya! *smooch*


Kyungsoo memijat pelipisnya pelan, kepalanya terasa pusing saat harus terus mendengar celotehan lelaki disebelahnya. Bahkan sejak tadi pagi anak itu terus saja bercerita tentang Sunbae nya di klub.

"Serius deh Kyung, dia keren sekali." Baekhyun menopang dagunya dengan kedua tangan, matanya mengawang-awang membayangkan wajah sang Sunbae.

"Lalu kalau dia keren kenapa? Toh tidak ada untungnya buatmu." Kyungsoo membalas ucapan Baekhyun agak ketus, kesal juga lama lama.

Baekhyun melotot dan mencubit lengan Kyungsoo dengan gemas. Setelahnya ia menghela nafas panjang,

"Iya sih, tapi kan kamu ini sahabatku. Setidaknya bantu aku untuk mendekatinya."

"Apa yang harus aku lakukan? Lagi pula aku tidak mengenal Cha..Cha siapa namanya?"

"Chanyeol."

"Iya, Chanyeol maksudku."

Baekhyun menenggelamkan kepala didalam lipatan tangannya. Agak kasihan, sebagai sahabat Kyungsoo merasa harus menghibur Baekhyun. Iapun menepuk bahu Baekhyun dan membuat laki laki mungil itu mengangkat kepalanya.

"Ayolah Baek, jangan seperti seorang gadis. Aku akan membantumu."

Mata Baekhyun bersinar saat mendengar perkataan Kyungsoo, iapun dengan reflek memeluk sahabatnya yang sama sama bertubuh mungil itu.

"Ah! Aku menyayangimu Kyung!"

Hampir saja Baekhyun akan mencium pipi sahabatnya itu, tapi naas sebuah pukulan lebih dulu mengenai kepalanya. Baekhyun mengaduh kesakitan,

"Sudah ku bilang jangan kasar!"

"Siapa suruh peluk peluk sembarangan, mau cium segala lagi." Kyungsoo mendorong tubuh Baekhyun.

"Yak! Kyungsoo!" Untung saja pertahanan Baekhyun masih kuat, tubuhnya tak jatuh akibat dorongan dari si mata bulat.

Saat Baekhyun masih sibuk mengaduh kesakitan, Kyungsoo menatap lurus kearah kerumunan didepannya. Para pemain basket sekolah tengah menikmati bento mereka dalam satu meja. Banyak gadis yang mengerubungi meja itu, memberi snack atau cola kepada anggota tim kesayangan mereka. Tapi bukan itu semua yang menyita perhatian Kyungsoo, Kyungsoo sangat tidak tertarik pada olahraga. Apa lagi basket, mengingat dirinya yang 'kurang tinggi'. Yang Kyungsoo pandangi adalah seorang yang tengah duduk disana. Wajah itu, perasaan rindu pun menyelimuti hati kecilnya. Kyungsoo ini orangnya keras, bahkan perasaannya pun terus ia tekan. Ia tak akan pernah bisa jujur bahkan kepada dirinya sendiri. Kyungsoo menghela nafas pelan, ia mengalihkan pandangannya kepada Baekhyun –yang kini tengah menarik narik seragamnya.

"Kyung lihat, itu Chanyeol Sunbae." Jari lentik Baekhyun mengacung kedepan.

Kyungsoo mengikuti arah yang Baekhyun maksud, dahinya berkerut. Ia menajamkan matanya untuk melihat orang yang Baekhyun maksud.

"Yang telinganya besar itu?" Tanya Kyungsoo.

"Astaga Kyung, dari jauh saja dia sangat tampan. Jika aku mendekat apa yang terjadi ya? Ah! Aku juga ingin membelikan cola untuk Chanyeol sunbae, siapa tau dia me—"

"Baek berhenti. Dia tidak tampan, telinganya seperti Dobi." Potong Kyungsoo.

"KYUNGSOO!"


Bel pertanda berakhirnya jam sekolah selalu menjadi alunan nada paling digemari para siswa. Wajah letih akibat seharian beraktifitas disekolah selalu berseri saat waktu telah menunjukkan pukul tiga sore. Kyungsoo dan Baekhyun pun tak jauh berbeda, mereka berjalan berdampingan selama melewati lorong sekolah. Karena tak ada kegiatan klub ataupun tugas dari guru mereka memutuskan untuk menghabiskan waktu dirumah Baekhyun. Tapi sayang langkah mereka harus terhenti karena kedatangan dua siswa yang tak diharapkan.

"Hey cantik."

Suara itu.. tubuh Kyungsoo menegang. Jika biasanya Kyungsoo akan bertindak 'sadis' saat Baekhyun menyentuhnya, kini Kyungsoo lah orang yang pertama menyentuh Baekhyun. Tangan mungilnya menggenggam tangan Baekhyun dengan erat, Baekhyun mengerutkan dahinya.

"Kamu kenapa sih?" Baekhyun menatap Kyungsoo curiga.

Kyungsoo hanya menggeleng, Baekhyun mengalihkan pandangannya kepada dua orang siswa yang berdiri dihadapannya.

"Minggir. Aku mau pulang." Baekhyun berucap dengan cuek.

"Kenapa terburu buru sekali cantik? Aku dan Sehun ingin mengajakmu ke kafetaria."

Baekhyun menggeram, "Dengar ya kau Kim Hita Jongin, mana sudi aku ke kafetaria denganmu. Cari saja orang lain untuk kamu ajak."

"Kamu ini cantik cantik pedas ya omongannya." Kini si putih Sehun yang berbicara.

Tangan kanan Baekhyun yang tak Kyungsoo genggam melayang keudara dan mendarat pada kepala Sehun yang lebih tinggi darinya. Sehun mengaduh kesakitan sambil mengelus kepalanya.

"Yak! Kenapa aku dipukul?" Protes Sehun.

"See? Selain omongannya pedas dia juga tukang pukul. Seharusnya kau mencontoh si mata bulat ini, dia manis dan tidak banyak bicara." Jongin mengacungkan telunjuknya kepada Kyungsoo.

"Kamu memujinya karena kamu menyukainya kan? Sayangnya Kyungsoo tak suka laki laki hitam sepertimu." Kini giliran Baekhyun yang mengacungkan telunjuknya kepada Jongin.

Mata Kyungsoo memang bulat, dan kini saat mendengar ucapan Baekhyun matanya bertambah bulat. Ia membawa pandangannya menatap Jongin, dan mata mereka bertemu. Keduanya terdiam beberapa saat. Baekhyun terus saja berceloteh tapi tak satupun kata yang Kyungsoo atau Jongin dengar. Kyungsoo sadar dari lamunannya, ia segera memutuskan kontak matanya dengan Jongin.

"Siapa bilang aku tidak banyak bicara."

Suara Kyungsoo membuat Baekhyun berhenti berbicara. Ketiga orang disana menatap Kyungsoo.

"Dengar ya Kim Jongin, kalau kamu ganggu Baekhyun lagi aku tak akan segan segan untuk menggantungmu di tengah aula. Begitu pula untukmu." Kyungsoo menunjuk Jongin dan Sehun bergantian.

"Sudah ya, aku dan Baekhyun harus pergi. Sampai jumpa."

Kyungsoo menarik tangan Baekhyun menjauh. Sebelum benar benar menjauh, Baekhyun sempat menjulurkan lidahnya kepada dua orang tersebut. Sedangkan kedua orang yang ditinggalkan masih diam ditempatnya. Menatap Baekhyun dan Kyungsoo yang pergi menjauh.

"Seriously, dude. Kyungsoo jauh menyeramkan dibanding Baekhyun." Sehun meringis.

"Tidak tidak, kata kata yang ia katakan sangat romantis ditelingaku." Jongin cengengesan.

Sehun bergidik ngeri, ia tak habis pikir sejak kapan Jongin berubah menjadi seorang masokis.

"Aku ke kafetaria duluan." Sehun berlari cukup kencang.


Baekhyun meneguk jus jeruk dari gelasnya kemudan ia berlari menuju ranjang. Ia melompat sebelum berbaring disamping sahabatnya. Ranjang itu bergetar cukup kencang, membuat Kyungsoo menoleh dan mendapati Baekhyun yang tengah tersenyum bodoh padanya. Kyungsoo hanya menghela nafas dan melanjutkan komik yang sedang ia baca.

"Kenyang sekali." Kata Baekhyun sambil mengelus perutnya.

"Bagaimana kamu gak kenyang, kamu sudah makan tiga potong cake dan dua gelas jus." Kyungsoo menjatuhkan komiknya ke lantai.

Baekhyun tak menanggapi, ia hanya mengguling-gulingkan badannya. Ia hampir membuat Kyungsoo jatuh, Kyungsoo memandang Baekhyun sebal dan menghadiahkan sebuah jitakan pada kepala Baekhyun. Baekhyun meringis, namun Kyungsoo tetap acuh.

"Eh Kyung, ngomong ngomong apa kamu masih mendapatkan surat itu?" Tanya Baekhyun.

"Surat apa?"

"Itu, surat penggemar."

"Oh itu."

Kyungsoo bangkit dan menggapai tasnya, ia mengambil sebuah map dari dalam tasnya dan menyerahkan barang itu kepada Baekhyun.

"Aku menyimpan semuanya disitu."

Baekhyun mengangguk dan mulai membaca satu persatu surat yang berada di dalam map bergambar pororo itu.

"Tapi Baek, rahasiakan ini ya? Seharusnya aku tak boleh menyimpan surat itu, semua surat yang masuk untuk radio sekolah harus di arsipkan." Kyungsoo kembali berbicara.

Baekhyun mengangguk, "Jadi itu alasannya kamu tak pernah membacakan isi surat ini?"

"Iya, kalau aku baca surat ini nanti semua petugas radio tahu."

"Aku heran, kenapa harus warna hitam dan tinta perak? Seperti surat ancaman saja." celoteh Baekhyun.

"Itu tidak masalah buatku, lagi pula aku su—"

"ASTAGA!" Baekhyun memekik membuat Kyungsoo ikut melihat tulisan yang Baekhyun baca.

"Ini manis sekali kyungie." Baekhyun mendekatkan kertas itu kepada Kyungsoo

"People say happiness ia a choise, I think happiness is you."

From: K

"Aku harap Chanyeol sunbae mengirimkan yang seperti ini untukku." Baekhyun membalikkan tubuhnya lalu menatap langit langit.

"Tapi aku tak mau warna hitam, aku ingin warna merah muda. Eh tidak, itu terlalu girly. Bagaimana kalau baby blue? Pasti sangat manis. Aku ingin kertasnya berbau mawar, lalu dihiasi sticker lucu. Bukankah indah sekali jika itu be— EMMPHHH!"

Dengan dinginnya kyungsoo membekap mulut Baekhyun dengan boneka rilakkuma besar yang berada di kamar itu. Baekhyun terus meronta dan berusaha mendorong tubuh Kyungsoo. Dan dengan entengnya pula Baekhyun menepuk selangkangan Kyungsoo dengan keras dan membuat laki laki bermata bulat itu menjauhkan dirinya.

"Mesum! Kamu menyentuh barangku!" Kyungsoo beralih memukuli kaki Baekhyun.

"Kamu duluan! Aku hampir mati tahu!" Baekhyun berusaha melindungi kakinya.

"Lagian kamu berisik sekali." Kyungsoo menghadiahkan satu pukual kencang di pantat Baekhyun.

Baekhyun cemberut dan menjauhkan diri dari Kyungsoo. Kadang Baekhyun bingung kenapa Kyungsoo yang bertubuh –sedikit—lebih mungil darinya bertenaga sangat besar.

"Kyung, kamu sebenarnya tahu tidak sih siapa yang kirim surat itu?"

Kyungsoo diam, tubuhnya kembali menegang. Mendadak dirinya jadi gugup saat mendapat pertanyaan dari Baekhyun.

"T-tidak tahu. Kan tidak ada namanya." Kyungsoo berusaha bersikap normal.

"Kamu bohong ya?" Baekhyun mendekatkan wajahnya pada Kyungsoo dan menaik turunkan alisnya.

"Menjauh. Wajahmu menijikan." Kyungsoo mendorong tubuh Baekhyun.

Baekhyu pun tertawa keras, ia memeluk boneka rilakkumanya dengan erat.

"Tapi senang ya jadi Kyungie, kamu bahkan memiliki penggemar rahasia. Dan si hitam juga sepertinya sangat terobsesi olehmu."

"Si hitam?" Kyungsoo menempatkan dirinya disebelah Baekhyun.

"Iya Kim Jongin itu loh. Dia kelihatannya sangat menyukaimu."

"Begitu ya." Kyungsoo tertawa hambar.

"Kyung, sebenarnya kau dan Jongin kenapa sih? Kenapa kau selalu menghindarinya?"

Kyungsoo diam. Ia berpikir apaka harus ia ceritakan kepada Baekhyun? Tapi tak mungkin juga sih Kyungsoo terus menyembunyikan ini dari sahabatnya.

"Aku dan Jongin adalah teman masa kecil."

"Benarkah? Kamu berteman dengan orang menyebalkan seperti itu?" Baekhyun yang tertadik menopang kepalanya dengan satu tangan.

"Asalkan kamu tahu, kamu juga menyebalkan Baek." Kyungsoo menekan dalam kata menyebalkan.

"Lanjutkan saja ceritamu!" Timpal Baekhhyun sambil mencubit lengan Kyungsoo pelan.

"Ya pokoknya aku dan Jongin adalah teman kecil."

"Kenapa kalian seperti saling tidak kenal? Bahkan si hitam memanggilmu mata besar!"

"Aku dan dia sudah lama tidak bertemu." Kyungsoo menghela nafas sebelum melanjutkan kalimatnya.

"Dia pergi saat kelas lima, dan sekarang kita sudah kelas satu SMA. Berati kurang lebih lima tahun kami tidak berbicara."

"Harusnya kau menyapa dia. Siapa tau dia rindu padamu." Baekhyun mencolek dagu Kyungsoo.

Kyungsoo menjauhkan tangan Baekhyun, "Canggung."


Kyungsoo berjalan dengan terburu buru, ia terlalu asyik mengobrol dengan Baekhyun sampai lupa dengan daratan. Untung saja jarak dari apartment Baekhyun dan rumahnya tak begitu jauh. Matahari makin menyembunyikan dirinya, dan sang dewi malam mulai bangun dari tidurnya. Kyungsoo makin mempercepat langkahnya, ia tak mau di omeli oleh eomma nya karena bermain sampai lupa dengan waktu.

Rumah Kyungsoo sudah berada di depan mata, namun dirinya malah terdiam. Ia tak segera masuk dan menyampaikan alasan ini itu karena pulang terlambat. Ia malah berdiri dengan diam sambil memandang orang yang juga tengah memandanginya.

"Kyungsoo, lama sekali. Aku sudah berdiri disini selama berjam-jam."

Kepala Kyungsoo terasa pusing saat orang itu memangil namanya. Ingatannya kembali pada kejadian lima tahun yang lalu.


"Kyungsoo?"

Panggilan itu membuat anak laki laki yang tangannya sedang ia genggam menoleh, "Ada apa Jongin?"

Saat itu musim panas mulai datang, cuaca menjadi lebih terik dan udara pun menjadi kering. Kyungsoo tidak menyukai musim panas, karena dirinya tak kuat menahan cuaca kering. Titik titik keringat tampak jelas pada wajahnya.

"Kamu berkeringat."

Dengan satu tangan yang bebas Jongin menyeka keringat Kyungsoo dengan sapu tangannya. Pipi tembam Kyungsoo berubah menjadi merah seperti buah tomat. Segera Kyungsoo menggumamkan terimakasih dan menundukkan kepalanya malu. Jongin hanya tersenyum.

Dua anak kelas lima sekolah dasar itu terus saling menggenggam selama perjalanan pulang mereka. Tas ransel bergambar Pororo dan Krong itu sangat serasi saat berdampingan. Langkah kecil mereka berhenti didepan pagar rumah Kyungsoo. Tapi keduannya seakan tak mau memisahkan diri.

"Uhm.. Jongin, aku mau pulang." Kyungsoo menggoyang goyangkan tangannya.

Dengan berat hati Jongin melepaskan genggamannya, "Besok kita pulang bersama lagi ya?"

"Tentu saja!" Timpal Kyungsoo semangat.

"Kyungsoo aku.. aduh bagaimana ya."

"Ada apa Jongin?"

"Suka. Jongin suka Kyungsoo." Ucap Jongin sambil meremas ranselnya.

Pipi Kyungsoo kembali memerah mendengar ucapan Jongin, ia diam sambil memainkan ujung bajunya.

"Kenapa diam saja? Kyungsoo tidak suka Jongin ya?"

"Bukan, Kyungsoo juga suka Jongin!"

"Benarkah?" Jongin tersenyum cerah.

Kyungsoo mengangguk dan sedikit menundukkan kepalanya. Entah inisiatif dari mana Jongin mendekatkan bibirnya dengan bibir Kyungsoo. Mengecupnya. Mata bulat Kyungsoo bertambah bulat, pipi keduanya bersemu merah.

"Mulai sekarang, Kyungsoo milik Jongin!"

Hari terus berganti, setelah Jongin menyatakan cinta monyetnya kepada Kyungsoo ia menghilang. Jongin tak pernah kembali ke sekolah, guru bilang Jongin dan keluarganya harus pindah dari Korea ke Seattle. Dan setau Kyungsoo Seattle itu sangat jauh dari Korea. Sedih, Kyungsoo sangat merasa kehilangan. Setiap hari Kyungsoo berharap Jongin akan kembali, tapi hari itu tak kunjung datang.


"Apa yang kau lakukan disini? Ingin aku gantung?" Kyungsoo berucap dengan ketus.

"Wow, sepertinya kau tertular Baekhyun ya?"

Kyungsoo malas menanggapi, ia berjalan menuju rumahnya. Ocehan dari mulut Jongin sama sekali tak ia hiraukan.

"Pulanglah, atau aku benar benar akan menggantungmu di aula." Ucap Kyungsoo sebelum masuk kedalam rumahnya.

Sedangkan Jongin sang pejuang cinta hanya terkekeh mendengar perkataan Kyungsoo.

"I'll get you again."

To Be Continued…


A/N:

Yup! Chapter ini menceritakan tentang kisah Kyungsoo dan Jongin :3 chapter depan kita kembali sama Chanbaek! Makasih untuk like sama reviewnya ~ di chap ini review lagi ya! ohya dan panda membuka pintu sangat lebar untuk saran dari kalian semua =w=)/

Sincerely,

dearpanda.