Be a good III
3
√Juuzou Suzuya
Sweet Stitch
Tokyo Ghoul
Zen San
"Ho ho ho.." sebuah tawa penuh arogansi, jemari dengan jentikan kuku yang poles indah dengan warna merah darah.
Sambil duduk di keramaian para pengunjung restoran penyaji daging manusia. Sendau gurau orang-orang dengan topeng bermacam rupa. Madame Big mendapat sambutan meriah atas penampilan peliharaannya yang selalu luar biasa. Para wanita ghoul dengan gaun cantik berlumuran darah dari piring saji anggun yang mereka nikmati.
"Waktu pertama kali dia membunuh manusia, dia muntah-muntah."
Hiruk pikuk dengan obrolan-obrolan mereka begitu ramai. Seperti inilah yang di nikmati kaum arogan ghoul, menikmati makan malam dengan cara yang mereka anggap elegan.
Jemari-jemari manusia yang entah milik siapa itu tertata rapi di piring saji dengan darahnya masih membanjiri tepian piring.
Sangat menjijikan, itu adalah bangkai. Sangat bar-bar, terlihat menggelikan dan memuakan. Paling tidak mereka seharusnya bisa membumbui dan memasak makanan mereka terlebih dahulu.
Lidah manusia favorit berat para wanita ghoul itu, di sajikan dengan irisan telinga yang sedikit renyah saat di kunyah. Beberapa kaum lelaki ghoul itu sangat menyukai bagian bolamata yang utuh atau daging di dada dan bokong bangkai wanita karena di kunyah dan di telan. Apalagi beberapa wanita yang masih memiliki aroma tubuh yang segar dan manis.
.
.
.
Sementara pada jeruji besi dingin dan alas keras dan dinding yang lembab seorang anak duduk terdiam memandangi makanannya yang tak membuatnya bernafsu bahkan sekedar mencicipinya. Ia mengetuk-ngetukan pelan jemarinya pada lantai. Matanya terbuka memandang hampa pada pintu yang selalu terkunci.
"Dimana mama? Aku ingin bermain-" suaranya menggema dalam keheningan, satu-satunya manusia di kandang ini. Anak kesayangan yang manis dan begitu unik. Sementara sel lainnya hanya hewan-hewan buas dengan taring dan cakar, mereka sangat bagus di gunakan untuk menu massal daging manusia jika ada jamuan pesta dari Madame Big.
"Juuzou chan, gadis kecil mama!" suara genit dengan tawanya membuat anak dengan rambut putih itu berlari mendekati arah jeruji bui yang memisahkannya dari Mama. "Mama-" senyumnya merekah senang atas kedatangan mamanya.
"Ayo kita bermain lagi, aku ingin memberikanmu sesuatu." Senyum mencurigakan dengan tatap yang di penuhi nafsu dan niat jahat. Wanita itu menarik rantai yang mengikat pada pergelangan tangan Suzuya yang menuruti kemanapun Tuannya pergi. Anjing kecil penurut yang manis.
"Ini adalah hadiahmu, kamar bermain baru kita." Madame Big membuka sebuah gerbang coklat seakan terbuat dari kayu. Menarik keras Suzuya untuk masuk ke dalam ruangan itu bersama-sama.
Matanya terbelalak melihat apa yang ada di ruangan itu. Suzuya tak bisa mengatakan apapun kecuali menelan ludah. Ia mengamati keadaan sekitarnya ruangan itu sunyi dan lenggang. Dipan dingin yang berada di tengah ruangan besar itu nampak sedikit mengerikan. Madame Big mengumbar senyumnya, deretan gigi keemasannya seperti bercahaya. Ia menyeret rantai yang terkait pada pergelangan tangan Shu membuatnya mengikuti kemanapun wanita tambun itu melangkah. Terseok dan terseret, seperti inilah cintanya.
"Bagaimana luka di perutmu!? Apakah itu sakit?" Madame Big memaksa Suzuya duduk dengan manis di atas dipan dingin itu. Suzuya hanya memegangi bagian perutnya yang sempat di tembus tombak beberapa hari lalu oleh anak perempuan yang bermain dengannya.
"Sedikit, mama-"
Sebuat tamparan mendarat pada pipi pucat itu, ceplak tangan tebal merah terlihat jelas di sana. Suzuya tak bersuara, ia membiarkan apapun yang di lakukan Madame Big pada tubuhnya.
"Tiga puluh! Kau bukan anak baik! Nilaimu hari ini! Tiga puluh." hardik wanita itu, tak membuat Suzuya merubah ekspresinya. Wanita tambun itu meraih sebuah pisau lipat yang ujungnya di panaskan pada perapian.
Menarik kaki mungil anak kesayangannya dengan perlahan. Suzuya masih belum mengerti, namun rasa panas perih luar biasa seakan membuat otaknya meleleh baru membuatnya sadar.
Sayatan demi sayatan yang memotong daging pahanya. Membuat darah dan aroma daging terbakar dari tubuhnya sendiri. Perutnya seperti mendidih, kulit pucat pualamnya itu seperti hangus.
"Ahh,,, sakit- tidak!" Sayatan ke lima pada tubuhnya sudah membuatnya tak berdaya.
"Mama- mama ahhn s sakit..."
Madame Big hanya tersenyum berusaha ramah pada tatapan Suzuya yang manis penuh kesakitan. Ekspresi yang oaling ia sukai dari anak-anak anjingnya.
"Jadilah anak baik!" Madame Big meletakan pisau lipat yang panas itu. Suzuya menghela nafas panjang, darah dari pahanya mengalir dengan deras tidak terhenti. Kakinya lemas, tangannya tak kuasa melawan pikirannya kosong. Tatapannya hampa rasa sakit menjalari sekujur tubuhnya.
"Selanjutnya, aku akan melukis di punggungmu." Madame Big melucuti kaus putih yang di kenakan Suzuya, dengan cepat. Menelungkupkan tubuh itu pada dipan dingin yang menyentuh bagian perutnya.
'Dingin'
"Ack.. Pa- panas.. Itu sangat panas, tolong ... "
"Tidak" tubuh anak laki-laki delapan tahun itu semakin menggeliat sejadi-jadinya saat lelehan lilin merah jatuh menjadi bercak di punggungnya. Cantik, warna lilin panas cair itu melekat pada kulit putih pucat pualam yang punggungnya mulai memerah.
Lelehannya mengalir dengan indah, panas pada punggung dan dingin di permukaan perutnya.
"Tolong... tidak-" ceracaunya menahan perih ngilu di permukaan kulitnya, Madame Big tak bersuara.
Lelehan di punggung Suzuya yang mengering jadi pecah karena lengkungan tubuhnya yang tak bisa berhenti menggeliat.
"Anak nakal, jangan banyak bergerak. Kau merusak lukisanku, kau harus di hukum."
Dengan wajah kesenangan wanita gemuk dengan lengan besarnya itu menarik kepala Suzuya begitu kasar. Meletakannya di pangkuannya dengan sangat kencnag menjambak rambut terang Suzuya.
"Apa?" Suzuya masih belum tau apa yang akan terjadi saat ia sadar, cairan merah lelehan lilin panas itu telan masuk melalui lubang telinganya. Panas, panas sekali memenuhi rongga telinganya seakan udara panas mengaliri sampai paru-parunya.
Teriakannya semakin menjadi, panas, sakit dan perih. Ia menendang-nendang sekuat tenaganya yang tersisa, tapi tetap saja ia tak bisa melawan wanita gila dengan permainan lucunya itu.
"Cairannya, menembus kepalaku, otakku akan meleleh, panas! Ini bisa membakar kepalaku."
"Tolong, sakit, panasnya sampai terasa di tenggorokanku. Tidak bolamataku juga akan segera mencair, panas sekali. Telinga-"
Suzuya kehilangan kesadaran di tengan permainan yang Madame Big lakukan. Ah cepat sekali hari berlalu.
"Kau harus menyiksanya lagi, untuk mendapat nilai bagus. Lalu, aku akan memberimu hadiah. Bunuh mereka lebih kejam lagi, Juuzou chan." bisik perlahan Madame Big, dalam setengah sadar Suzuya pada rasa sakit luar biasa di kepalanya. Penyiksaan yang menyenangkan, selanjutnya dan selanjutnya.
.
.
.
.
Harus, menyiksanya lebih lama lagi. Apakah para Ghoul juga senang memakan manusia yang bahkan belum mati?
Suzuya berdiri di tengah lapangan permainan. Orang-orang bertopeng yang memusatkan perhatian padanya, seperti apa atraksinya malam ini. Melawan seorang manusia juga, pegulat? Bagaimana bisa orang bodoh terjerat masuk dalam permainan ini juga.
'Aku juga orang bodoh' Suzuya menelan kata-katanya sendiri, menatap tubuh dengan otot besar mengenakan topeng gulat yang di kenakannya. Wajah Suzuya tak berubah, sedikit terasa hawa panas di dalam perutnya.
"Aku akan memotongnya dari mana?" Suzuya memperhatikan lelaki besar berotot yang sudah berlari menerjangnya dengan sangat cepat.
"Telinga- telingaku sakit. Aku ingin menggantinya." Tanpa keraguan, ia turut melanju cepat mendekati pria besar yang sedang bercanda dengannya ini. Bermain saling pukul dan membalas saling tusuk.
Satu sayatan cepat Suzuya untuk memotong telingannya berhasil. Pria itu kesakitan, ia berteriak sejadinya di sambut tepuk tangan dan sorai dari bangku penonton yang kesenangan.
'Apa dia sudah lumpuh hanya karena sedikit sakit.' tidak ada kata-kata dari remaja pucat itu. Menghabiskan waktu seperti ini, membunuh dan membunuh. Daging-daging manusia yang sangat mudah di dapatkan. Para ghoul itu membuat manusia saling membunuh lalu memakannya.
Bukan salah mereka, manusialah yang bodoh dan lemah, seperti diriku juga.
Waktu yang terus berlalu dengan hidup yang semenyenangkan ini. Tentu saja lama-lama membosankan. Teriakan manusia dan kesakitan yang tersurat dari wajahnya. Memohon dan menjilat, mengemis nyawa pada telapak kaki Suzuya. 'Menjijikan' tanpa belas asih atau sesuatu bernama kemanusiaan.
Juuzou Chan-
Bolamata besar dengan balutan rambut blonde terang jatuh tersurai di batas lehernya. Bibir mungil merah muda merekah di kulit putih yang halus wajahnya.
"Juuzo chan, gadis kecil mama." sambil memeluk peliharaannya yang sudah dua tahun bersamanya. Penurut dan menjadi anak yang baik.
Pakaian halus lembut dengan motif cantik khas eropa. Warna lembut yang kalem dan selaras dengan kulit pualamnya.
Bulumata lentik dengan tatap bolamata besar polos seperti boneka. Madame Big sangat mencintainya. Boneka pembunuh kesayangannya, cantik dan mematikan. Cinta, sedang bermekaran memenuhi hatinya.
"Ah, aku jadi sedikit takut-" ujar wanita itu pada dirinya sendiri. Ia membawa Juuzou Suzuya pada ruang kosong yang remang. Pakaiannya menyentuh tanah tak mengubah kecantikan dan kemanisan anak laki-laki berusia sepuluh tahun itu. Membiarkan dirinya di perlakukan seperti ini.
Tidak ada lagi rasa malu, atau sakit yang membekas di kepalanya. Perasaan normal dan mati dalam tubuh hidupnya yang masih itu.
"Suatu saat Juuzou kecil ku akan tumbuh lebih besar lagi." Madame Big membelai wajah manis dan menyentuh lembut bibir kemerahannya. Sangat menawan dan menyenangkan.
"Jika saat itu, otot di lengan dan kakimu akan jadi kekar! Ah itu mengerikan-" ceracaunya tak jelas masih bicara pada dirinya sendiri. Sementara anak lelaki cantik dengab wajah boneka itu tak bergeming, masih memasang wajah mematungnya yang kelamaan sedikit mengerikan dengan cara cantiknya.
"Suatu saat, tatapan matamu akan tegas, dan suaramu jadi berat. Ah, anak perempuan kesayangan mama-" Madame Big masih menyentuh kulit tangan yang halus itu, dengan hati-hati. Benar-benar boneka kesayangannya.
Melihat sosok cantik kesayangannya duduk di atas dipan penyiksaannya sejak dua tahun lalu. Biarlah tetap seperti ini.
Cantik dan tak tersentuh siapapun, apakah ia harus membunuhnya. Lalu mengawetkan tubuhnya, agar ia tak berubah menjadi sosok pria yang mengerikan. Anak kesayangan mama, Madame Big memikirkan cara terbaiknya. Lalu, ya tentu saja selalu ada cara walau tak masuk akal.
"Aku hanya perlu menghancurkan ini saja, dan kau akan jadi perempuan kesayanganku. Selamanya, selama-lamanya." Madame Big tersenyum memeluk tubuh mungil itu, ia mengangkat bagian rok yang di kenakan Juuzou dengan hati-hati. Bahan lembut yang menyentuh kulit halusnya. Sangat indah, melepas celana dalam merah muda bermotif boneka yang di kenakan Juuzou secara perlahan.
"Juuzou chan, anak perempuan kesayangan mama."
Bersama palu besar yang di genggamnya erat-erat jatuh memalu berhantaman dengan dipan. Berulang kali, darah di mana-mana. Madame big telah menghancurkan alat vital kelelakian Juuzou Suzuya bersama dua bola testisnya. Wanita selama-lamanya, cantik dan tak perlu tumbuh dewasa.
Ini akan membuat Juuzou jadi perempuan kesayangannya. Peliharaan cantiknya itu jatuh terlentang tak kuasa menahan sakit menghantam menghancurkan kemaluannya.
'Ah, ini sedikit ngilu. Hatiku-'
Kehidupan tanpa melihat langit itu terus berlanjut. Kehidupan tanpa rasa sakit itu terus berjalan, waktu terus menelan usia yang ia buang percuma.
Darah di telapak tangan, hewan, manusia atau ghoul yang telah dibunuhnya. Mereka semua mati, karena mereka tak ingin hidup. Jika mereka ingin hidup mereka harus bisa membunuh Suzuya, ya mudahnya memang hanya seperti itu.
.
.
Bosan
.
.
Membunuh selalu mudah seperti ini, jenuh melanda bagian hatinya yang kosong.
Tahun selanjutnya dan selanjutnya lagi. Rambutnya yang tergerai memanjang membuatnya sulit bergerak. Saat ia memotongnya, Madame Big sangat marah dan menghukumnya, ia ingin anak kesayangannya cantik dan mematikan selama-lamanya.
Hadiah jahitan-jahitan benang merah.
"Benang merah yang selalu mengikat kita, Juuzou chan" tusukan demi tusukan benang menyulam indah di bagian lengannya. Wanita itu sangat lembut, menusuknya dengan sangat halus sampai Juuzou tak lagi bisa merasakan sakit.
Bagian jarum yang menembus epidermisnya. Ujung runcing menyulam kulitnya dengan sangat cantik menarik kaitan benang merah panjang.
"Mama, aku sayang padamu." Suzuya tersenyum, manis dengan tatapannya yang tak peenah berubah. Cinta yang tak akan bisa tergantikan bahkan sampai ribuan rasa sakit membunuhnya.
Benturan di lantai atau tusukan yang mengeluarkan banyak darah. Ia tak tau hidup akan semudah ini, tidak ada hasrat lagi.
Besama pijakannya membuat darah korbannya jadi berantakan. Mainannya yang dulu menyenangkan, kini jadi membosankan. Sangat, membosankan.
† Tuhan
√Juuzou Suzuya POV
Aku tidak tahu sudah berapa lama aku di sini. Aku hidup di dunia tanpa langit, di dalam rumah megah, nyaman milik mama. Kesayangku, yang sangat baik. Ia memberikanku pisau kecil di hari pertama, memaksa aku membunuh anak kecil yang dulu satu atap denganku di panti asuhan ayah.
Sensasinya, darahnya yang membasahi telapak kakiku. Hangat, merah, dan para Ghoul sangat menyukainya.
Ayahku di panti asuhanku dulu juga seorang Ghoul. Aku sudah tahu, tapi aku tidak menyangka dia sangat ceroboh membuat para penyidik dan pemburu Ghoul membakar habis persembunyiannya. Ku kira kesenangan akan berakhir, tapi rupanya itu justru baru di mulai.
Tinggal di tempat surga ini, aku bisa bermain sesukaku. Ayah sangat kolot, dia tidak mengizinkan aku membunuh makanannya.
Aku tak kehabisan cara, mengundang anak-anak itu ke tengah hutan lalu para Tuan Beruang yang kelaparan akan mengunyahnya, aku hanya perlu memberikan sisa bagian tubuh anak-anak bodoh itu pada ayah.
'Aku jadi rindu padanya'
Mama ku sekarang seorang wanita yang baik, walau dia sedikit dingin padaku. Dia sangat suka memberiku pakaian bagus, walaupun aku sebenarnya sudah tidak tahu lagi bagus dan jelek itu seperti apa. Tapi selama mama senang, aku jadi ikut senang.
Aku hanya pandai menusuk, menyayat dan memotong. Daging, daging manusia kesukaan mamaku. Bagian telinganya yang Mama bilang renyah atau bolamata yang segar dan lidah merahmuda seorang manusia.
Mungkin bagi para Ghoul itu seperti buah-buahan dengan darah sebagai sarinya yang segar.
Aku sangat senang membuat Mama bahagia. Nilaiku selalu baik di matanya sekarang. Aku ini anak yang baik, sangat baik dan penurut pada semua kata-kata Mama.
Tapi aku tidak pernah menyangka, menjadi anak baik sangat Membosankan. Sangat-sangat membosankan.
'Aku telah mati'
Saat aku di luar sana, aku tak di izinkan membunuh. Sementara saat aku di dalam dinding ini, aku harus terus membunuh. Sangat sialan, aku bosan dengan cara 'harus' yang selalu orang tua tanamkan.
Hari itu, aku bertanya pada diriku sendiri. 'Dimana? Tuhan yang pernah ayah katakan?'
Manusia yang ku bunuh sebelumnya selalu mengatakan Surga, Neraka dan Tuhan. Sama seperti yang ayah ajarkan, tapi apakah oara Ghoul juga memiliki 'Surga, Neraka dan Tuhan?'
Jadi sebenarnya, manusia itu tidak takut pada Tuhan. Mereka menjatuhkan diri pada dua kategori yang akan masuk Surga atau Neraka. Mereka bilang padaku, iblis rendah sepertiku pasti akan masuk Neraka. Bagaimana mereka bisa tahu? Mereka kan bukan Tuhan?
.
.
Jemu
.
.
'Apakah aku sudah mati, dalam tubuh yang hidup ini' jadi aku tak perlu bunuh diri.
Darah yang menyisakan tatap ketakutan setiap hari yang melihatku begitu ngeri. Aku bosan dengan airmata mereka, apa aku tidak bisa menangis lagi?
Di tengah kejemuan itu, masih di lapangan bermainku yang megah ini. Bertahun-tahun hingga aku lupa sudah berapa lama. Akhirnya Tuhan mengirimkan malaikat yang jatuh untukku.
Sambil memegang pisau kesayanganku yang di berikan mama. Mayat di bawah telapak kakiku, langit-langit gedung itu runtuh. Cahaya matahari menerpa wajahku dengan hangatnya saat seseorang melompat menerobos kematianku dalam penjara surga ini.
'Tenshi' ujarku lirih tak percaya pada apa yang kulihat.
Keramaian tak mengusik diriku, para orang-orang penggemarku berhamburan meninggalkan gedung tua itu.
Aku masih terdiam tak bisa menyadari apa yang sebenarnya telah terjadi
'Ayah' atau 'Mama' atau 'Surga, Neraka dan Tuhan' yang sempat memenuhi pikiranku. Terhapus dan ku lupakan begitu saja saat orang-orang yang di sebut-sebut CCG itu datang menghancurkan istana Mama. Sekali lagi, menghancurkan rumah singgahku.
.
.
Sekali lagi aku mengikuti orang baru yang asing dalam helikopter besar itu. Sekali lagi tatapan sinis angkuh jatuh menatapku. Sekali lagi sedikit kesenangan pasti akan ku dapatkan. Kira-kira, mereka manusia seutuhnya? Atau Ghoul? Atau manusia setengah ghoul? Atau manusia dengan sifat menjijikan Ghoul?
"Tidak, aku tidak peduli. Aku akhirnya melihat langit. Sekali lagi-"
'Tenshi'
Tuhan mengirimkan mainan baru, sepertinya aku mulai mempercayainya. Tapi soal Surga dan Neraka yang ia miliki masih jadi misteri, mungkin saat aku mati aku bisa melihatnya sendiri.
"Namamu?"
Suara hangat yang tak pernah ku kira akan menyapaku dengan sangat lembut. Bersama belaian angin yang mengusik rambut pendekku. Dia memperhatikan jahitan di wajahku, sesekali melirik pada jepit rambut kesayangan yang mama berikan. Romawi 13 yang mama bilang bukti cintanya, XIII.
"Juuzou Suzuya" jawabku memandang wajah yang tersenyum begitu ramah dan menandakan persahabatan ini. Perasaan apa ini? Aku tidak tahu. Aku curiga, tapi aku merasa senang. Kenapa?
Akupun tak pernah benar-benar tahu, itu semua hanya pertimbangan egoisku.
END
Zen San
