Tenshi.

√Shinohara Yukinori

Tokyo Ghoul FF

Juuzou Suzuya

Zen San

.

.

.

Berdiri di antara keramaian, hiruk pikuk dan sendau gurau tanpa hawa keberadaannya yang membaur, hilang dalam keramaian. Manusia, begitu banyak manusia. Makhluk egois yang menguasai jagad ini.

Suzuya menyimpan genggaman tangannya di dalam saku celananya. Ini sudah sebulan lebih ia tinggal di tempat ini, karantina untuk dirinya yang di selamatkan oleh pemburu ghoul.

"Bagaimana kabar mama ya?" Gumam pelan sambil mengambil benang merah yang ada di sakunya. Jarumnya hilang lagi untuk kesekian kalinya. Ia memisahkan diri seperti biasanya, pergi kebelakang gedung asrama dan duduk dengan tenang di padang rumput yang cukup luas sendirian. Jika beruntung ia bisa melihat pelangi atau matahari terbenam yang indah jatuh melintasi kebosanan melandanya ia hanya bisa tertidur, berharap saat ia terbangun ia berada di tempat yang jauh dari keramaian itu.

Benang merah yang menghubungkannya dengan mama. Setelah ia terpisah sejauh ini, selama ini cukup kesepian bosan dengan ketenangan seperti ini. Ia tidak bisa melakukan apapun yang semua orang bilang bukan hal baik untuk dilakukan.

"Hei! Sedang menikmati senja sendirian?" suara berat, bayangan yang memanjang memunggungi matahari. Juuzou baru saja berniat untuk kembali ke kamarnya saat lelaki besar dengan suara ramah itu menghentikan langkahnya. Keduanya berdiri saling menatap di antara pohon-pohon rindang.

"Tidak juga." ujar remaja pucat dengan jahitan benang merah di bawah mata kirinya. Kantung matanya terlihat jelas, rambut yang sedikit berantakan mata bundar besar yang manis dengan bibirnya yang kemerahan.

"Kau akan ikut pelatihan untuk misi bersamaku yang akan membimbingmu. Oh ya, namaku Shinohara Yukinori. Salam kenal." Sambil tersenyum dan menatap ramah remaja dingin yang menatapnya sedikit curiga.

"Juuzou, namaku Suzuya Juuzou." jawab bibir tipis kemerahan itu berjabat tangan walau agak ragu. Seorang pria yang begitu lembut dan sama sekali tidak memancarkan aura permusuhan. Langit orange yang memeprtemukan mereka, angin musim semi yang berhembus membawa harum bunga. Apakah malaikat baru saja terjatuh dari langit?

.

.

.

Malaikat?

Juuzou menatap awang-awang dengan hampa, dengan cahayanya yang begitu terang menyilaukan.

'Apakah malaikat itu benar-bemar datang dari surga?' gumamnya, ia menikmati lamunannya yang tak menentu. Cahaya lampu yang menusuk matanya sangat menganggu. Lalu kenapa ia tak memadamkannya?

"Malaikat itu tidak suka tempat yang gelap. Apakah aku? Selama ini berada di samping iblis yang jahat." sederhana polos, pemikiran yang sangat sederhana dan mudah pahami. Semua orang, hitam adalah jahat dan baik adalah putih.

'Aku berdiri dimana? di antara malaikat dan iblis itu?'

.

.

Masa pelatihan dimulai, menjadi anggota pemburu ghoul. Seperti apa kehidupan manusia yang menyelamatkan manusia lainnya. Sulit dikendalikan dan mudah berubah pikiran.

Juuzou Suzuya, namanya dengan cepat menyebar luas di antara para senior pelatihan tempatnya tinggal. Saat berlatih ketahanan fisik melawan sesama peserta pelatihan, ia hampir saja membunuh rekannya sendiri. Mengumpankan temannya menghadapi hewan buas. Hobbynya yang tak bisa di lepaskan. Melihat orang menjerit ketakutan dan memohon penyelamatan sangat menyenangkan ya kan?

"Ku dengar dia juga membunuh kucing-kucing yang berkeliaran."

Berbagai gosip dan hal-hal yang tak ia pedulikan dengan mudah menyebar luas di antara para peserta pelatihan yang tinggal di sana. Tatapan sinis dan penuh kecurigaan yang selalu di terimanya.

'Menjijikan, sialan tatapan mata yang merendahkan orang lain.' sambil tertawa melihat orang-orang yang menatapnya dengan tatapan-tatapan tidak menyenangkan. Untuk apa ia membunuh kucing-kucing lemah yang bahkan tak bisa membuatnya merasa terancam. Sangat tidak menarik membunuh kucing-kucing.

"Ah.. Padahal aku ingin sekali memotong manusia-manusia tolol itu, lagi-" gumamnya seorang diri. Terdiam di depan ruang pembedahan, pelatihan tentang kesehatan dan keselamatan utama tentang pekerjaannya.

"Hei, anak manis tidak pantas mengatakan hal sekasar itu." suara lembut itu kembali menghampirinya.

Sesuatu yang ia kenal walau samar jauh di bawah ingatannya yang memudar. Tenshi-

"Tidak ada yang menyenangkan, di sini." gerutu kesal sambil menggembungkan pipinya. Kulit pucat halus dengan tatapan seperti anak perempuan itu membuang pandangan ke arah lain.

"Pelatihanmu akan segera berakhir tahun ini. Kau mungkin selanjutnya akan ditugaskan bersamaku," pria paruh baya dengan suara bersahabat itu tetap tak peduli walau ucapannya diabaikan. Suzuya hanya menatap hampa dinding di sisinya, ia tak mau melihat kearah orang yang sedang bicara di sampingnya.

Perbedaan aura dan hawa yang terpancar darinya, Yukinori Shinohara mungkin memang orang baik jujur saja membuat Suzuya sangat ketakutan.

Ia tak bisa mengalihkan pikirannya dari pria yang telah menjadi kepala keluarga itu. Apakah ia akan menemukan hal baru yang selalu membuatnya ketakutan dalam hidup ini. Memiliki keluarga, orang yang disayangi dan menyayangi manusia terikat pada hubungan yang menyakitkan.

Hal yang suatu saat ingin di lindungi itu pasti akan mengerikan.

Tahun pertama Suzuya dimulai bergabung dengan CCG. Sebagai bawahan dan tanggung jawab Yukinori Shinohara, bertugas kebenerapa distrik yang menjadi pusat masalah yang di timbulkan ghoul. Sudah berapa lama, ia menunggu-nunggu kebebasan ini. Hari pertamanya pergi bertugas hari yang telah di rencanakannya untuk pergi dan lari dari belenggu kenyamanan yang merantai hatinya.

"Ah, sayang sekali aku memang harus meninggalkan kehidupan manusia yang layak seperti itu."

.

.

.

"Ah! Anak itu anak itu membuat kekacauan?" Shinohara menggaruk bagian kepalanya yang tak gatal.

Ia mendapatkan kabar dari bawahannya yang lain. Ia memang sudah mempersiapkan hal semacam ini. Berurusan dengan anak semacam dia pasti tidak akan semulus biasanya.

Ia memanggil beberapa rekannya melalui sambungan telepon. Ia meminta bantuan untuk mencari Suzuya yang cukup mengkhawatirkan jika berbaur dengan orang-orang biasa. Tak pernah ada yang bisa menebak jalan pikirannya.

Seperti apa hal yang akan dikacaukannya di hari pertamanya ini. Beberapa rekan satu kantornya hanya menghela nafas menanggapi kemalangan yang menimpa rekan mereka yang harus memiliki bawahan seperti Suzuya.

.

.

.

Langkah kegirangan di keramaian, seorang remaja dengan pakaian yang sedikit berantakan bersenandung dengan langkah setengah melompat. Ia tersenyum sumringah dengan jahitan benang merah di bawah bibirnya. Matanya mengelilingi pemandangan penuh hiruk pikuk malam di perkotaan.

"Yey! Aku ingin bermain-main lebih lama lagi!" sesekali memutar tubuhnya dan berlari kecil dengan wajah bahagianya. Remaja dengan penampilan Androginy itu cukup menarik perhatian. Bagian bawah celananya di lipat sedikit tinggi membuat pergelangan kakinya terlihat jelas, pucat kecil dan kurus.

"Eh?" sesaat langkahnya terhenti ketika ia sadar sudah meninggalkan keramaian. Rasa lapar mulai menyerangnya dengan suara dari dalam perut kecilnya. Ia memang belum memakan apapun sejak tadi.

Ia berpapasan dengan seorang remaja yang menarik perhatiannya. Seorang mahasiswa dengan wajah yang sangat polos dan manis. Jaket hijau lengan panjang dengan wajah begitu tenang.

"Baunya sangat khas,"

Suzuya bertingkah seperti biasanya berpapasan dengan remaja manis dengan aroma menarik yang membaur di sekitar tubuhnya.

Ia berhasil mengambil dompet remaja manis yang baru saja berpapasan dengannya, ia harus bersembunyi untuk membuka dompet yang kini ada di sakunya.

"Makan!" serunya sambil melanjutkan perjalannya, ia menepi terlebih dahulu dengan dompet hitam di tangannya. Ia memeriksa berapa banyak yang mahasiswa itu miliki di dompetnya.

"Ugh? Kaneki Ken? Namanya yang lucu!" Suzuya terkekeh memandangi kartu pengenal yang di perhatikannya berasal dari perguruan tinggi yang cukup terkenal di kota itu. Apakah ia sudah melakukan hal yang keterlaluan? Ayolah ini hanya mengambil sedikit uang dari saku orang lain.

"Apa yang kau lakukan?" seorang polisi jaga mencurigainya sejak tadi memergokinya memegang dompet yang bukan miliknya di tepi jalan yang sunyi. Suzuya sedikit kaget dan malas menatap wajah curiga yang mengarahkan lampu sepeda jatuh tepat ke wajahnya membuatnya sedikit merasa silau.

Akhirnya, ia dibawa mengikuti polisi jaga itu untuk melakukan pemeriksaan. 'Aku sudah sangat lapar,' masih saja dengan gerutunya terhadap dirinya sendiri akhirnya ia mengikuti pria yang menariknya dengan pelan-pelan itu.

Sampai ia dipaksa menunggu lama dengan perut laparnya di sebuah pos jaga. Beberapa polisi lain memperhatikannya sedikit menyebalkan. Apakah ia terlihat seperti seorang pengganggu yang merepotkan?

"Juuzou Suzuya, wali sudah datang!" Suara panggilan dari arah luar ruangan tunggu itu membuatnya menoleh perlahan. Shinohara didampingi seorang pria tampan dengan tubuh tinggi jenjang yang terlihat kuat dan tegas. Caranya memandang orang sangat mengintimidasi.

"Juuzou, apa yang kau lakukan?" suara berat sedikit serak dari arah pria paruhbaya dengan seragam hitam dan wajah sedikit kesal bercampur khawatir itu menghampirinya. Juuzou hanya menyeringai seperti tak merasa bersalah. Ia mengatakan dengan jujur apa yang terjadi padanya, ia hanya di dapati memegang dompet yang bukan miliknya. Dengan penampilannya beberapa orang akan langsung mencurigainya.

"Jadi, kalian anggota CCG? Sungguh aku minta maaf, apakah kalian sedang di tugaskan di sini?" kepala kepolisian setempat menjabat tangan Tuan Shinohara dengan sangat erat. Mereka sedikit berbincang dengan baik dan nampak akrab.

"Perkenalkan, aku anggota yang baru di pindahkan ke distrik ini. Aku Amon Koutaro, salam kenal." sambil membungkukan badannya yang tegap pria tinggi dengan punggung kekar itu menunjukan rasa segannya. Sosok yang menarik perhatian Suzuya sejak tadi. Siapapun akan melihatnya sebagai lelaki kuat yang pasti sulit di tumbangkan.

"Kenapa kau melihat seniormu begitu!?" suara pelan anggota polisi yang melepaskan borgol dari tangan pucat Suzuya menatapnya aneh.

"Hehe, dia pasti akan sulit dibunuh ya!" sambil tersenyum dengan wajah manisnya, Suzuya nampak berseri-seri. Orang kuat dan sulit dilumpuhkan pasti akan menyenangkan.

"Jangan bicara begitu, dia ada dipihakmu." polisi yang melepaskan besi dingin yang melingkari lengan Suzuya itu nampak tak bisa menerima ucapan remaja Andoginy itu.

"Pihak? Aku belum pernah memutuskan di pihak mana aku berdiri!" Suzuya merangkul polisi jaga yang membawanya ke tempat ini dengan ramah. Mendekatkan wajahnya pada pria itu dengan hati-hati.

"Aku pernah tinggal beberapa tahun dengan Ghoul! Sangat menyenangkan." sambil menunjukan deret gigi rapinya yang kecil-kecil remaja itu sedikit berbisik dengan wajah menyeringai.

'Mengerikan!'

"Mereka memakan semuanya hingga habis, belulang, sumsum dan bagian dalam organ manusia. Mereka sangat suka tulang rawan pada telinga manusia loh!" sambil menjilat telinga polisi yang terkekang rangkulannya. Polisi itu benar-benar merinding menahan kengerian yang di rasakannya terpancar kuat dari remaja yang terlihat bodoh dan berandal di sampingnya ini.

"Suzuya Juuzou! Jangan melakukan hal yang tidak terpuji begitu!" Suara Tuan Shinohara membuatnya berhenti dan melepaskan mainan hidupnya itu. Seketika wajahnya berubah jadi tidak bersemangat. Amon melempar pandangan tegas dan kerut alis yang berbahaya pada remaja itu.

"Baiklah! Maaf-maaf!"

Setelah berbincang sedikit lama, merrka harus kembali kepekerjaan mereka masing-masing. Dengan sikapnya yang supel dan berwibawa Tuan Shinohara selalu saja mudah di sukai siapa saja. Tidak sombong dan sangat menjaga kesopanannya.

"Jaa- Nee sampai jumpa Polisi San!" Suzuya berniat menjabat tangan polisi yang dibuatnya ketakutan. Polisi itu refleks menelan ludah menahan ketakutan bahkan hanya untuk sekedar berjabat tangan. Tuan Shinohara hanya terdiam, ia sangat tak enak hati pada seluruh staff jaga pos polisi yang sudah di ganggu Suzuya.

.

.

Sambil berjalan dengan sedikit lamban beriringan, Suzuya sedikit lebih cepat di banding dua pengawas di belakangnya. Shinohara menghela nafas panjang, ternyata memang tak semudah yang ia kira. Sementara Amon hanya tersenyum melihat seniornya nampak lelah menghadapi anak buahnya yang sedikit nyentrik itu.

Mereka berpisah di lift apartement. Suzuya dan Shinohara tinggal di apartement yang berdampingan. Jauh dari rumah dan berkerja mempertaruhkan nyawa memburu Ghoul benar-benar pria yang dewasa dan bertanggung jawab. Pada keluarga, dan pekerjaannya.

"Hei! Seharusnya kau tidak boleh mengganggu petugas seperti tadi." Shinohara menasehatinya lagi, lift terasa lebih lama dari biasanya mengantar mereka ke lantai 14.

"Huh! Menganggu? Apa mereka merasa terganggu! Aku ingin menguliti salah satu dari mereka." gumam Suzuya nampak masam mendapat teguran dari seniornya. Shinohara hanya menghela nafas sambil melangkah bersamaan pintu lift yang terbuka di lantai yang mereka tuju.

"Kau harus lebih hati-hati jangan sampai melukai orang lain." lagi-lagi Shinohara memberinya kata-kata yang paling ia benci. Apa urusannya dengan orang-orang lemah yang hanya bisa menjadi korban dan penindasan. Mereka lemah, makanya mereka mati itu tak ada hubungannya dengan pekerjaan yang ia anggap menyenangkan ini.

"Dengarlah Juuzou! Tidak peduli seperti apa cara hidupmu dulu! Jika kau ingin sesuatu yang lebih sulit dan menantang,-" sambil menggenggam pundak lesu Suzuya yang ada di sampingnya.

"Kau harus menggunakan kekuatanmu untuk melindungi oranglain. Itu lebih sulit daripada hanya untuk melindungi diri sendiri." lanjutnya, suasana amat hening di sepanjang koridor yang hanya ada mereka berdua dalam lampu ruangan yang orange dan udara dingin.

"Melindungi? Aku tidak tau seperti apa rasanya memiliki seseorang untuk dilindungi. Mereka mati karena mereka memang tak ingin hidup ya kan?"

Shinohara tersenyum melihat tatap serius remaja yang sebenarnya berfikir sederhana tentang cara pandangnya pada dunia ini. "Juuzou, ada hal yang meskipun kita tidak ingin tapi hal itu tetap saja terjadi." pria paruhbaya itu memainkan rambut putih halus Juuzou yang ada disampingnya. Seseorang yang lembut dan baik, aura yang kuat dan perasaan nyaman. Sepertinya Juuzou mulai terbiasa berada di suasana asing yang membuatnya merasa hangat seperti ini.

"Oyasumi, jangan lupa untuk pergi mandi dan gosok gigimu!"

Keduanya memasuki pintu yang berbeda. Tidak ada kata-kata yang bisa ia balaskan pada pria paruhbaya itu. Mungkin karena lelaki itu sudah memiliki keluarga, makanya ia bisa bersikap sedewasa itu.

"Keluarga? Keluargaku seperti apa ya? Ayah dan gereja, Mama dan penjaranya. Darah, seandainya aku lahir lebih beruntung."

"Masa bodolah, aku lapar-"

.

.

.

.

Hari ini, mereka akan melakukan penyergapan pada sebuah Gang yang meresahkan warga kota. Disinyalir dari para anggota Gang itu terdapat beberapa ghoul yang cukup tangguh. Beberapa petugas di persenjatai senjata api dan alat perlindungan diri. Begitu juga dengan Juuzou yang duduk di sebuah bangku berhadapan dengan Shinohara.

"Hah? Apa ini! Kecil sekali! Ku kira aku bisa memakai senjata yang lebih hebat lagi!" Suzuya nampak masam dengan Belati yang di terimanya. Scorpion, Bikaku dengan bentuk belati tak ada bedanya dengan semua Quinques.(senjata yang di ambil dari tubuh ghoul)

"Bukankah kau sangat baik soal memotong dan ahli dalam menggunakan pisau!" Ujar pria paruhbaya, yang duduk menghadapnya. Selalu bisa memaksanya melakukan hal-hal yang ia anggap tidak perlu dilakukan.

Masih dengan wajah kecewanya menerima senjata barunya, Suzuya berjalan mengikuti tubuh besar Shinohara yang memunggunginya. Baru beberapa bulan bersama pria baik yang selalu menjaganya.

"Jangan sampai melukai manusia!" sekali lagi ia mengingatkan Suzuya sebelum memulai pekerjaan mereka. Beberapa petugas lain memandang padanya dengan sedikit was-was dan khawatir dengan kekacauan yang bisa disebabkannya.

"Aku tidak menerima komando dari siapapun! Jika kalian terlalu dekat denganku, jangan salahkan aku tanpa sengaja memotong kalian." ujar Suzuya dengan senyum seringainya yang manis dan mengerikan secara bersamaan. Permainan hewan buruan yang aman berburu baru saja akan dimulai.

Ghoul yang memangsa manusia dan manusia yang berburu ghoul. Permainan macam apa yang bisa ia mainkan sekarang. Memotong, menusuk dan membunuh. Musuh yang sulit mati, pasti menyenangkan.

"Ayo bermain seperti biasanya."