Kepakan Sayap Extra II

Sayap-sayap peri

.

.

.

Tugas pertama Juuzou Suzuya menggunakan senjata api sebelumnya tidak berjalan mulus. Ia berhasil dengan sukses besar merusak sepeda motor milik atasannya, walau ia berhasil membunuh cukup banyak Ghoul di distrik yang ramai disinggahi makhluk pemakan manusia itu. Tidak memiliki batasan dan tidak mendengarkan komando yang diberikan padanya memang sifat dasarnya.

Lalu apakah kali ini, apakah pekerjaannya akan membuatnya lebih menikmati pekerjaannya?

Setelah beberapa bulan bergabung dengan CCG dan kini ia telah lebih baik dalam menerima perintah dan acuan strategi penyergapan. Walau sifat keras kepalnya tetap tak bisadihilangkan dengan mudah. Beberapa bulan terakhir ini, beberapa distrik sedang di incar Ghoul dalam skala besar memangsa kelompok yang dipimpin seseorang bernama Aogiri. Kelompok yang cukup diburu dan diincar CCG, kerugian dan korban jiwa yang mereka ciptakan sudah bukan permasalahan kecil lagi.

Penjara pengasingan Ghoul.

Squad Shinohara Yukinori mendapat perintah memberi bantuan pada penyerangan Ghoul yang berusaha membebaskan Ghoul yang ditahan dan diasingkan di gedung yang jauh perkotaan ini.

"Peri, malaikat, dewa dan Tuhan seperti apa yang akan kutemui di jalan lenggang ini." Berputar dengan bibir teru bersenandung riang Juuzou kembali sengaja berpura-pura terpisah dari kelompoknya. Tapak kakinya seperti tak bisa lekat pada lantai, melompat kesana kemari tak bisa berdiam diri. Apa yang akan masuk pada perangkap yang mengunci Ghoul dari gedung pengasingan ini?

Suara tapak kaki yang samar bukan miliknya terdengar mendekat. Satu, tidak tapi dua orang, manis sekaligus busuk hawa yang begitu dekat dan semakin dekat.

Mengambil kuda-kuda dengan tangan kosongnya. Suzuya berdiri tenang menanti siapa yang sudah siap menyerangnya. Dugaannya sangat tepat, pada gedung kosong serba putih dari dinding beton yang mengelilingnya.

Hitam dari kegelapan dan merah dendam aroma amis anyir darah manusia yang membusuk terhirup menyengat dari kedatangan sosok dari lorong gelap itu.

cepat seperti otot yang keluar dari daging dan kulitnya. Serang, menggeliat, cepat mengincar kepala dan jantungnya. Bagian yang fatal dari orangan tubuh manusia yang lemah.

Menghindar cepat dan cepat lagi, sosok remaja dengan tudung yang sepintas seperti ia kenali. Menyerangnya tanpa henti, ia punya cukup kekuatan untuk disimpan saat dua orang yang menyerangnya dengan cepat itu berhenti.

Jarak yang cukup jauh saat Juuzou memastikan pandangannya. Tatap mata tegas dan niat membunuh yang datang menyergap. Bolamata hitam dengan tatap merah menyala, ghoul. One eye ghoul, dua peri dari neraka.

"Rei?" wanita ghoul itu menghentikan serangan cepatnya ketika melihat sosok Juuzou yang berdiri tenang lelah menghindari serangan wanita-wanita itu.

"Nghhaaa... Kurona chan, Shiro chan? yooo," lelaki dengan kemeja putih itu melambai rendah sambil tersenyum. Wanita yang berhadapannya dengannya hanya menelan ludah menyadari siapa yang ada di hadapannya sekarang. Rekan satu atap saat di panti asuhan yang di ketuai oleh Ghoul dulu.

"Apa yang kau lakukan di sini?" salah satunya bergerak maju dengan memasang kuda-kuda pertahanan. Wanita dengan tudung hitam itu bernama Kurona, dan adik kembar cantiknya Shiro yang berarti putih. Mereka berdua dulu adalah manusia, mereka berdua pernah tergila-gila pada Amon Koutaro dan bercita-cita menjadi aggota CCG dan menyelamatkan umat manusia.

DULU...

Seringai yang tak pernah berubah, mengerikan dan manis secara bersamaan. Sosok Rei yang mereka kenal, tak pernah sedekat ini.

"Apa ya? Yang ku lakukan di sini, menghentikan anak perempuan nakal yang memakan bangkai manusia-" sambil mengumbar senyum simpul lebar di bibirnya yang merekah merah muda.

"Minggirlah, aku tidak ingin melawanmu!" Kurona, remaja wanita dengan wajah tenang dan tatap datar menjaga kendali dirinya. Ia melangkah perlahan mendekati Suzuya yang berdiri sedikit tak seimbang seperti orang mabuk.

"Jika aku tidak ingin minggir," lelaki manis dengan wajah cerianya menatap ramah dengan bolamata kemerahannya yang seakan meredup. Dua wanita kembar yang ada di hadapannya saat ini selalu siaga memasang kuda-kuda, mereka tahu melawan Juuzou tidak akan menjadi pekerjaan mudah. Walau kini mereka adalah seorang ghoul. Ghoul yang memakan manusia, berhadapan dengan manusia yang senang memburu ghoul.

"One eye ghoul, menyedihkan jadi kalian telah memilih menjadi ghoul ya.. Hihihi aku jadi ingin tau rasanya-" Juuzo melangkah sedikit demi sedikit kearah mereka yang masih fokus pada pertahanannya.

"Bagaimana rasanya membunuh satu dari anak kembar, dulu karena kalian ada dipihakku saat itu aku tak diizinkan membunuh kalian. Tapi sekarang, kalian telah memilih tidak memihak manusia lagi ya?" tangannya cepat mengarahkan serangan yang dihindari dengan mudah. Perlahan liat daging merah kuat menyala bernama Kagune terlihat dari balik tubuh anak kembar itu. Penguasaan cepat dan serangannya yang memiliki daya rusak tak seberapa.

Menggeliat, perlahan seperti mencari celah dari pola serangan yang sedang mereka tata, fokus dan tetap tenang. Seseorang yang sedang mereka hadapi sekarang, benar-benar orang berbahaya. Rei yang mereka kenal, yang tidak pernah berubah dan selalu berbahaya seperti itu.

"Kami telah membuang sisi kemanusiaan kami," suara rendah dari Shiro terdengar di belakang kakak kembarnya.

"Bukankah, ini pilihan yang paling tepat. Menjadi manusia itu memuakkan, lemah dan hanya jadi mangsa" Lanjut Kurona keduanya seakan memikirkan hal yang sama. Manusia yang di mangsa Ghoul ya, menjadi ternak dan hewan buruan memang memuakkan.

Berasal dari rahim yang sama, satu dalam dua selamanya. Ikatan seperti itu, apa yang akan terjadi jika salah seorang dari mereka mati lebih cepat dan apa yang akan terjadi pada yang lainnya?

Juuzou kembali menyeringai ia ingin terbahak dengan tali yang mengikat hati kakak beradik di depannya kini, ikatan manusia yang mereka bilang menjijikan, tapi tetap mereka jaga. Lemah pada perasaan, mereka mengatakn telah membuang sisi kemanusiaan mereka. Memikirkannya saja, membuat Juuzou menganggap mereka bodoh luar biasa.

"Oh ya?" sambil membentuk huruf O dari jemarinya melihat keduanya melalui bentuk bundar tak seimbang yang di ciptakannya.

Ujung telunjuk dan ujung ibu jari yang bertemu, tiga jemari tegak yang lentik miliknya berhias jahitan benang merah yang diciptakannya merajut di kulitnya. Meletakannya lingkaran dari jemarinya melingkari matanya. "Siapa yang matinya lebih cepat?" gumamnya lagi kembali tersenyum tanpa suara.

Kali ini lebih cepat, Juuzou tanpa ragu melompat dan menerjang. Menghindar dan menyerang, denting pisaunya beradu dengan Kagune hitam Kurona yang mencoba memberikan perlindungan dan tekanan bersamaan.

Kaki-kaki memutari dinding melompat dan mengarahkan serangan. Juuzou berhasil melukai wajah Kurona dengan belatinya.

Darah mengalir, tatapannya menjadi sedikit lebih serius dan fokus pada lawannya.

"Onee chan-" suara panik Shiro melihat kakaknya sedikit terluka. Ia harus lebih hati-hati, mungkin jika mereka berdua kesempatan melewati Juuzou akan lebih besar.

"Kurona, ini sangat nostalgic ya-" Sekali lagi menerjang cepat. Derap langkah yang seakan tak memijak tanah.

Ghoul sekalipun tak bisa menghindarinya. Kagune hitam dengan corak merah api itu menggeliat dengan cepat berusaha melindungi dirinya.

Darah mengalir, merah yang selalu berwarna indah dan mempesona. Juuzou berhasil melukai Kagune Kurona yang tak terlalu besar itu.

"Daijobu?" Shiro bakas memberi tekanan sambil melindungi Kurona di belakangnya, Juuzou sedikit terkekeh kakak dan adik yang lemah itu.

"Tidak apa-apa ini akan cepat beregenerasi Shiro! Hati-hati!" lengkingan suara Kurona bersaing dengan denting pisau yang beradu. Jatuh terpelanting ke lantai, bangkit dan menyerangnya lagi gerakan yang selalu meningkat kecepatannya. Daya hancur dan rusaknya lebih kuat, menusuk dan memotong.

"Regenerasi? Apakah regenerasimu lebih cepat dari seranganku? KU- RO- NA..." suara kesenangan sambil membuka penutup mantelnya. Scorpion 1/59.

'Belati kecil di balik mantelnya, Juuzou memamerkan senjata yang di berikan Shinohara padanya. Lima puluh sembilan, sayang sekali tidak bisa di bagi dua sama rata.'

Juuzou kembali menyerang Kurona yang tengah lemah. Melempar belatinya tepat menghujam tubuh yang menggeliat dan mencoba menghindar. Kaki, lengan dan sekujur tubuhnya.

Lengkingan Kurona memenuhi ruang yang di selimuti dinding baja itu. Juuzou semakin cepat, Shiro tak bisa menghentikan amukan gilanya dengan lemparan-lemparan akuratnya. Tertancap menembus epidermis, mengoyak daging dan mengalirkan cairan merah yang kental ke lantai. "Manusia memuakkan, ya memang seperti itu hidup manusia," Juuzou tidak bisa berhenti dari kesenangannya menyiksa gadis dengan mantel hitam yang tak berkutik di buatnnya saat ini.

"Onee chan!"

.

.

.

Juuzou Suzuya Pov

Aku sedikit sulit menjaga keseimbanganku. Aku sangat senang bertemu teman satu panti asuhan denganku. Dua gadis yang kini tidak memihakku, sejak dulu aku selalu cemburu dan tak tau bagaimana harus membagi setiap hal dengan oranglain. Aku terlalu senang cukup dengan diriku sendiri.

Beberapa kali serangan Shiro hampir melukaiku, aku terlalu fokus pada Kurona. Shiro sangat panik, melihat darah yang tak bisa berhenti mengalir dari tubuh Kurona.

"Masih dua puluh delapan lagi-" aku merogoh sakuku yang tak berisi apapun. Aku berusaha mengatur nafas menguasai keseimbanganku yang harus menghindar dan menyerang dengan tepat.

Shiro memang cepat, tapi dia lemah. Aku menendang ulu hatinya telak membuatnya terpelanting jauh menghantam beton dingin yang tepajang anggun menyambungkan ruang tiap ruang. Benar-benar tempat penyiksaan dan pengasingan yang bagus.

"Ku.. Ro.. Na.. Chan..." Aku sangat senang, aku bisa menyelesaikannya, melihat manusia yang berubah jadi ghoul itu. Ini adalah informasi baru bagiku, walaupun kemungkinan ini pernah ku simpulkan sendiri.

Kurona menggeliat, ia menggapai-gapai kakiku memanggil-manggil nama Shiro dengan lirih. 'Peri yang ku patahkan sayapnya,'

Aku mulai menghitung mundur sambil menusukan pisau-pisauku padanya dengan hati-hati. Mencari yang belum terluka, mencari bagian tubuh yang masih cantik dari tubuhnya.

Dia berteriak membisingkanku, ruangan yang hanya ada kami bertiga sedang bernostalgia.

"Aku akan mengambil sesuatu yang paling penting, dari Kurona chan!" aku tidak terlalu yakin, matanya, yang masih mata manusia atau aku hanya perlu mengambil jantungnya dari tubuh yang masih melawan itu. Darah mulai mengotori kemejaku.

Aku tidak lagi memikirkan apapun dalam ectasy kesenanganku melihat wajah kesakitannya menggeliat di bawahku. Jantungku seperti akan meledak, kegirangan. Saat ku sadari sesuatu melukai punggungku. Panas, perutku seperti mendidih, otakku akan meleleh, ini adalah mainan yang sangat beruntung ku dapatkan di tempat seperti ini.

"Shiro?" saat aku menoleh melupakan si adik bertudung putih ini. Ia menancapkan Kagune miliknya menembus tubuhku.

"Darah?" aku menyadari perutku terluka cukup parah di buatnya. Sudah ku katakan, Shiro yang manis, begitu cepat dan menakjubkan sangat di sayangkan ia begitu lemah tanpa pertahanan.

Aku memutar tubuhku menarik rambut memutihnya, gadis ghoul mata satu itu menatapku lekat-lekat. Ia pasti marah karena aku melukai kakak kesayangannya, satu hal yang ku pikirkan memandang sorot mata Shiro yang tertanam sesuatu yang berteriak dalam keheningan. Mulutnya tak bisa mengeluarkan suara lagi, apa dia sudah sampai batasnya.

Satu hal yang membuatku masih terus berfikir keras.

"HANCUR! HANCUR! HANCURKAN! Apa yang paling menghancurkan Kurona manis di hadapanku."

Aku hanya tersenyum tanpa ku sadari menahan luka di bagian perutku yang di buat Shiro. Dagingku sepertinya terkoyak, aku merasa sedikit mual sekarang. Ini adalah alah satu kelemahanku, tidak merasakan sakit. Aku tidak terlalu baik mengenal sakit dan takut, aku hanya ingin terus hidup dengan bersenang-senang seperti ini. MENGHANCURKAN

"Menghancurkan hal terpenting Kurona!" Aku melihatnya, tubuh yang menggapai-gapai ingin menyentuh Shiro yang ku beri hadiah tusukan di tubuh cantiknya yang mulai merah membuat kain yang di kenakannya meresap darah yang berasal dari tubuhnya.

Ah, Shiro merangkak.

Memanggil-manggil Kurona chan. Kurona, Kurona chan, mereka sangat manis. Tangannya mencoba menggapai Kurona, aku bisa apa untuk menikmati ini.

Merangkah membuat jejak darah dari tubuhnya di lantai yang sedikit kotor karena darah mereka.

Peri-peri dari surga, yang polos menari-nari menghiasi kematian dua kakak adik cantik ini. Ah aku ingin melihatnya, tapi hatiku tak sabar menuju akhirnya.

Keduanya mencoba saling menggapain jemari cantik yang berusaha saling menggenggam. Kurona chan, Shiro chan yang saling tersenyum dengan darah menghiasi wajah cantiknya.

Apa yang bisa kulakukan. Pada tangan yang saling coba meraih dengan indahnya.

"Ku bilang aku ingin- menghancurkan!"

"Hal yang paling penting bagi Kurona chan!"

"Shiro, Shiro chan!" Aku memenggal telapak tangannya dengan cepat. Tanggan yang bahkan belum saling menggapai. Keduanya terbelalak, aku tak bisa melihat mereka mati dalam cinta, aku ingin melihatnya lagi dan lagi, hancur sampai ke belulang mereka. Semua Ghoul adalah hewan buas yang harus kuburu. 'Masih berfikir manusia itu memuakkan dan lemah sebagai mangsa?'

"Onee chan!" tangisan, yang tidak pernah berubah.

Shiro, gadis berambut putih itu menangis ia tak bisa menggenggam jemari kakaknya lagi. Aku bisa apa? Tugasku memang menghancurkan kalian berdua!

"Maafkan aku, Kurona chan! Shiro chan! Kalian sangat manis."

"Aku manusia, dan akulah pemburunya! PREDATOR yang sebenarnya"

.

.

.

.

.

Sebuah ledakan terdengar dari arah ruangan di balik dinding baja itu. Suara raung dan teriakan beberapa penjaga terdengar tipis terhalang beton tebal. Teriakan beberapa orang yang Juuzou kenal seperti terdengar samar.

"Amon San!"

Suzuya menoleh mencoba mendekati lapisan baja sisi lain ruangan itu. Apa yang sudah terjadi, baku tembak dan lengkingan menyayat telinga terdengar samar.

"Juuzou! Sebelah sini!" suara Shinohara dari lorong sempit dengan celah yang cukup bagi tubuhnya terdengar jelas.

Juuzou menoleh cepat, ia harus bertindak tepat dan akurat. Saat ia sadar hanya tersisa ceceran darah dari 'mainannya' yang sudah lenyap dari tempatnya.

Ia mengerutkan alisnya tipis, dahinya sedikit berkerut sedih ke pangkal alis. Ia kehilangan teman-teman bermainnya.

"Ah, lain kali berarti aku bisa bermain bersama mereka lagi."

Tidak ada waktu menyesali kesempatan mencoba membunuh salah satu dari kembar manis peri pemakan manusia itu. Satu hal yang saat ini ia tau dengan sangat jelas.

Shinohara kewalahan menghadapi seseorang dengan serangan mematikan tanpa ampun. Ruangan yang di penuhi gas airmata, sedikit menyesakan dengan sorot lampu yang terlalu terang.

"Shinohara San? Amon San?"

Langkahnya mencari, meraba pada dinging besi dingin terdekat dengannya, sesekali tersandung mayat dan menyentuh darah. Meraba dalam buta menahan silau karena cahaya yang bahkan saat menutup mata sekalipun seakan ia menembus kelopak matanya. Mengerjapkan mata tak menghasilkan apapun ia mulai meneteskan air asin dari matanya, gas airmata yang memenuhi ruangan itu sedikit sesak dan ia bahkan melupakan hal terpenting. Luka di tubuhnya.

Suara benda jatuh dan erangan terdengar dari arah lain yang tak ia tau darimana asalnya.

Hanya perih di matanya dan bagian luka basah darahnya di perutnya.

"Suzuya San? Itu kau?!" seruan lantang dengan membawa lightstick yang menunjukan keberadaannya. Satu hal yang Juuzou tau, itu bukan orang yang di carinya.

Kepalanya sesaat terasa pusing, ia tak bisa merasakan sakit di seluruh tubuhnya. Ia hanya merasa jadi lemah seperti di bius.

Ah bukan biusan, tapi darah yang keluar dari tubuhnya sudah terlalu banyak. Bagaimanapun juga, manusia tidak bergenerasi seperti Ghoul walau seburuk apapun tingkat regenerasi ghoul itu.

"Ah, Sialan. Ususku sepertinya terluka, bisa gawat jika seisi perutku keluar di sini." suaranya samar, ia menuju kearah bantuan yang mendekati dan mencarinya.

Kasus penyerangan ghoul ini sangat mengerikan. Pengasing ghoul, yang selalu tenang kini telah pora-poranda karena kelompok Aogiri.

"Ayah? Apa dia juga ada di sini?"

Setengah sadar sambil terus berjalan tertatih masih memegangi perutnya berusaha lukanya tidak melebar dan membunuhnya. Derap langkah cepat dengan tandu dan cahaya-chaya keramaian yang tak pernah ia sukai datang.

Ia dibaringkan pada bangsal beroda yang segera melayaninya dengan pengobatan pertama. Ini adalah satu kali dalam hidupnya. Ia memikirkan seseorang, siapa?

"Bagaimana keadaan Shinohara San? Dia memanggilku?"

.

.

.

Malaikat tanpa sayap ya?

Begitu baik, mukjizat? Sayang sekali hanya itu yang tak ia miliki.

Dari balik niat baik dan sifat penolong manusia membawa pada kedamaian. Malaikat hanya makhluk lemah yang selalu di kalahkan hanya dengan niat jahat manusia.

Kurona dan Shiro yang saling menyayangi. Hal yang paling penting bagi mereka berdua.

Juuzou terkekeh dalam tidak sadarnya, ia melihat dirinya yang ada di masalalu dalam ingatannya. Ia tak bisa tertawa dengan tulus, ia selalu tertawa atas kebodohan yang ia lihat. Dilakukan olehnya atau oleh orang lain.

Peri yang mematahkan sayapnya, andai saja Kurona dan Shiro tetap manusia.

"Manusia yang menjijikan? Bagi mereka?"

"Apakah aku masih memiliki perasaan manusia"

sedikt sesak menyeruak hatinya begitu menyakitkan, Sakit tanpa luka. Luka yang tidak pernah timbul, luka yang bersembunyi cantik menggerogoti perasaan seseorang. 'Hatiku jadi sakit'

.

.

.

.

"Manusia memang tidak sempurna, tapi itulah yang membuat ia disebut manusia seutuhnya." kata-kata Yukinori Shinohara, seniornya terngiang-ngiang seakan memanggil kesadarannya.

Tubuh pucat dengan perawatan intensif, ia merasa tidak berguna dan ceroboh. Bagaimana ia bisa hampir membuang nyawanya dengan sangat mudah seperti itu.

"Apakah aku lebih jahat dari ghoul?" ia memunculkan tanya pada gumaman tak jelasnya, ia bisa merasakan kehadiran atasannya di sisinya tanpa membuka mata. Hangat, jemari itu menggenggam pergelangan tangannya. Sangat lembut, parfum yang samar dan kehangatan dari sorot matanya, bahkan saat Juuzou masih belum melihat siapa yang menjaganya.

"Selama itu dirimu yang sebenarnya! Jangan ragu pada pilihanmu! Juuzou-"

Suara itu lagi, bisikannya terasa menggetarkan hati. Airmata?

Semua yang pernah terluka terlalu banyak tenaga yang sudah ia habiskan hingga ia tak bisa mengatakan apapun lagi. Yukinori Shinohara masih menungguinya dengan tenang.

Pertahanan dari serangan AOGIRI yang cukup berat hari itu, menjatuhkan banyak korban dan melepaskan banyak tahanan ghoul. Perang baru saja dimulai antara Pemburu dan Mangsanya.

Untuk memihak pada dirimu sendiri menjatuhkan diri pada dua kategori Baik atau Jahat, manusia selalu memisahkan dua kata itu.

"Yukinori-" Juuzou memanggil lemah pria besar yang sedikit murung di sisinya. Senior yang mengajarinya begitu banyak hal.

Ia tak memiliki sayap, ia tak memiliki Kagune untuk melindungi dirinya seperti para ghoul.

Pria ini, memiliki hati yang begitu tulus, tidak pernah Juuzou temukan sebenarnya. Kengerian umat manusia yang mengikat dan bergantung pada manusia lainnya.

Malaikat yang menjaganya, kini Nyata adanya menatapnya sambil tersenyum dan membelai rambutnya. Malaikat tanpa sayap.

Saat menutup mata sekalipun, kau masih bisa melihat apa yang ada dalam dirimu. Ingatan dan kenangan yang mengajarimu tentang dunia yang membentukmu.

Membenarkan yang benar adalah benar.

Menyalahkan yang benar adalah salah.

Membenarkan yang salah adalah salah.

Menyalahkan yang salah adalah benar,

Sederhana tapi manusia seringkali melupakan kesederhanaan semudah itu.

Berterbangan. Peri yang tidak memiliki sayap itu juga bisa terbang, walau dalam keraguan.

Kepakan Sayap Extra II – END

Manga By Sui Ishida

Be a Good – Juuzou Suzuya ©ZzenSan