Disclaimer : All characters & main story belongs to Joanne Kathleen Rowling.
Genre: Supranatural/Mystery/Romance/Tragedy/Family (Seandainya genre bisa sebanyak itu)
Warning : ALL CHARACTERS ARE OOC, Alternate Universe, typo(s).
.
.
.
Supermassive Black Hole
Chapter Three: Champagne Supernova
.
.
.
Gumpalan kelabu selalu sigap menggantung di cakrawala setiap bel pulang berdentang di jam tiga sore. Mengintai tiap pucuk kepala yang menyiratkan kelelahan mendalam setelah seharian berkutat dengan Sang Ilmu. Anomali musim gugur.
"Mengerjakan bersama?" Luna memandangi Hermione tanpa ekspresi. Ujung poninya bergantung setetes air hujan yang meluncur dari kanopi pintu masuk utama. Namun ia sama sekali tidak merasa risih.
Neraca peruntungan baik dan buruk di dalam otak Hermione berfluktuasi gaduh. Menjawab "ya" pilihan yang pas juga. Pekerjaan rumah selain 'pekerjaan rumah'-nya yang lain bisa terpangkas sedikit lebih baik. Tapi ia tidak akan melupakan warna rambut Luna Lovegood itu. Sepupu. Draco (dan teman-temannya); orang-orang jahanam yang sejenis. Itu berarti—
"Tidak," geleng Hermione.
"Serius?"
"Serius."
"Kalau kau mau mengerjakannya bersamaku, informasi astro—"
"Serius." Hermione tak peduli.
Takdir tetap menulis bahwa ia tidak diizinkan memiliki beberapa—atau bahkan seorang teman lagi selain Blaise Zabini.
Merebakkan payung hijau lumut—yang kelihatan sulit dibuka, Luna mengerling sekilas sebelum berlalu menuruni anak tangga, "Aku selalu ada bila kau berubah pikiran," ujarnya aneh, membelah rintik hujan dengan gaya. Lenyap di bawah bayangan pohon birch di samping trotoar.
Terserah.
Hermione membelalak. Sejak tadi tangannya yang beroperasi di ruas-ruas tas berhenti mendadak. iPod-nya.
Ya Tuhan, Ginevra Molly Weasley.
Dirinya terlalu hanyut dalam kehangatan familiar Draco.
Bodoh!
Seharusnya ia tak usah mengikutinya di koridor tadi!
Tapi rasa ganjil itu terus menarik dadanya. Menuntut bunker gelap di dalam kalbunya untuk memperoleh hangatnya cahaya—apapun itu.
Seolah hanya lelaki pirang pucat sialan itu tempatnya dimana dirinya bisa 'lengkap'.
Atau bisa merupakan dari: bagian.
Seolah di satu sisi tubuhnya, memerintah untuk mengikuti-nya.
.
Sesal.
Sesal.
Sesal.
.
Hermione melihatnya, dari sudut mata. Di sana, menatapnya canggung dari ujung balkon, dengan ekspresi terkejut yang pastinya sama dengan ekspresi Hermione, berdiri sang gadis merah tembaga.
Ginny memainkan benda itu di tangan kirinya. Melangkah dengan jarak yang dikecil-kecilkan. Ia tampak berusaha mendekati Hermione dengan lagak skeptis, Hermione sadari hal itu. Sudah pasti dalam kepala merah korek api itu baru saja tersemai doktrin-doktrin laknat kepunyaan Vivax.
Yah—lagi, terserah lah.
"Granger."
Nah, 'kan?
Granger. Granger. Granger.
Ginny tidak beda jauh dengan Astoria dahulu.
Hermione tetap memunggunginya.
"iPod-mu," kata Ginny datar. Membenturkan iPod gen 4 itu dua kali ke siku Hermione.
Hermione mendesah dan mengusap pelipis. Benaknya seperti sedang melintasi lumpur kental. "Kemarikan."
"Apa susahnya berbalik, Granger?" sentak Ginny dengan nada tinggi.
Kepala Hermione berputar lamban, matanya menatap Ginny nanar, "Apa susahnya menerima seorang sepertiku, Weasley?" ujarnya gemetar. Hermione memeluk tubuhnya sendiri sambil menunduk pasrah.
Alis Ginny menyatu heran. "Mungkin lain kali aku harus bertemu orang yang tepat," katanya enteng, mengangkat kepala lebih tinggi, "agar aku tak salah dalam menjalani kehidupan sekolah baru. Nih."
"Hahaha." Hermione tertawa hambar.
Vivax. Vivax. Vivax.
Mereka menghancurkan semuanya.
Kalau begitu Hermione-lah yang harus keluar dari sekolah ini. Memang itu yang mereka inginkan, 'kan?
Persetan!
Terdengar suara asing di udara. Tepat setelah Hermione mengambil iPod-nya kasar. Ginny berjengit mundur menghindari lingkaran hawa aneh yang tersebar menyelubungi Hermione. "Apa yang—"
.
.
Kalian semua—
.
.
Hermione tidak bisa bernapas. Oksigen menyesaki mulutnya. Namun tenggorokan tak mengizinkan mereka untuk sampai ke paru-paru, dan kakinya mendadak terlalu lemah untuk menopang beban tubuhnya.
Sesuatu mendesak keluar dari dadanya.
.
.
Aku punya takdir yang menyenangkan, Nek!
.
.
Aku sangat diharapkan untuk tetap hidup—
.
Hermione mendengar jiwanya berdialog muram dengan Ursula.
.
—untuk jadi sampah!
.
.
.
Ia bisa melihat wajah Ginny yang berubah menjadi monster di bawah ketiak Pansy Parkinson,
.
.
.
Wajah Astoria Greengrass, tertawa dan angkuh,
.
.
.
Draco Malfoy yang mungkin diam-diam ikut menyeringai samar diantara teman-teman baseball-nya,
.
.
.
Tatapan sinis mencekik Parvati dan Padma Patil dalam mengkritik selera buruk dunia fashion-nya,
.
.
.
Permintaan kecil gila seseorang yang menurutnya disebut Ibu,
.
.
.
Menjadi seorang anak yang tak diinginkan,
.
.
.
Aku bukan apa-apa dan bukan siapa-siapa,
.
.
.
Tidak punya siapapun,
...
...
...
...
...
Dan akan selalu sendirian.
Bagian pegangan tangga yang Hermione cengkeram berubah menjadi biru transparan, dan sedingin es. Benda itu bukan es, nyaris menyerupai. Hermione mendongak, terkejut sekaligus ketakutan. Di sekelilingnya, orang-orang berdiri dengan sikap siaga. Memandang tajam di tiap sudut tangga. Hujan ternyata semakin deras, memperlihatkan siluet pakaian dalam Hermione. Gadis itu tidak peduli, gejolak amarah mengaburkan semua realita di sekitar. Mantel putih yang tadi menggelantung di pundak merosot jatuh ke anak tangga terakhir.
Wajah Ginny mulai membiru, mengutuk gejolak dahsyat dalam perutnya yang tak bisa ditolerir. Meski berusaha mengunci mulut dengan tangan, muntahan air bening cewek Weasley itu tak terelakkan. Bercampur padu dengan rembesan air hujan. Ia menyangga perutnya yang kram sambil menatap Hermione ngeri. Semuanya bisa mendengar jeritan melengking Pansy Parkinson sesudahnya. Entah kapan gadis rusuh itu muncul.
"My Ginevra! Sudah kubilang, astaga—"
"Minum, minum—" Tangan Ginny membabi buta meraih apa pun untuk dipegangnya.
"Sebentar, ayo masuk," ucap Pansy panik, ia melambaikan tangan, "Tori!"
Dengan gerakan secepat rusa, Hermione menyambar mantel putih gadingnya hingga nyaris terpeleset. Kemudian melesat pergi menembus deras hujan yang semakin lama semakin reda. Semakin stabil emosinya, tetes-tetes hujan mulai tergelincir akibat tameng baru yang melindungi Hermione.
.
"Ya—a, terima kasih untuk ini. Aku tidak perlu flu."
"Sama-sama. Kau memang memiliki keanehan yang hebat."
"Ya, kadang hebat dan terkadang tidak sama sekali."
"Tapi kau bisa memberi pelajaran Weasley sombong satu itu."
"Ya-a walaupun begitu. Itu bukan yang kumau—"
"Mereka pantas diberi kekerasan, Hermione!"
"Jika itu memang boleh, oke saja. Tapi aku takut keanehan ini malah bisa membunuh diriku sendiri ..."
"Lalu, kau sebenarnya apa?"
.
Hermione terus bermonolog tanpa henti sampai kanopi warna-warni halte sekolah menyambutnya. Tidak ada siapapun di situ. Ia terduduk lelah di barisan kursi terdepan. Seraya merapihkan rambut depannya yang menempel lepek di bulu mata, Hermione mengecek beberapa buku yang terlanjur basah.
Geografi, Bahasa, Sejarah, Kimia ...
Ia menggerutu kesal. Lain kali ia harus beli tas seperti kepunyaan Weasley—kalau Pat mengizinkan tanpa senyum 'imbalan'— atau ... ah ya! Plastik serbaguna penutup tas.
Keringlah, kering ...
Hermione mengibaskan tangannya berulang kali di atas halaman tengah buku. Mata terpejam. Kepalanya kembali berdesing ribut. Memikirkan segunung masalah yang dihadiahi entah siapa untuknya dalam satu hari ini. Hawa dingin tiba-tiba menjilati ruang gerak antar jemarinya. Seperti serbuan pasir dalam jam pasir, menyisir tiap lekukan kukunya hingga terasa menggelitik.
Keringlah, kering ...
Menarik napas, mengerjap. Bola matanya membesar kembali melihat perubahan mencolok pada buku-bukunya. Semuanya telah kering, seperti semula, dari ujung ke ujung, sampul ke bagian dalam. Kering.
Namun,
Tiap lembar halamannya berubah warna-warni menjadi spektrum pelangi. Bahkan di bagian daftar pustaka, halamannya benar-benar pelangi—gradasi dengan merah di paling atas dan putih di pojok bawah. Tulisan cetaknya masih bisa terbaca tapi—
Hermione bukan anak pre school lagi.
Tidak lucu.
"Hai, aku penyihir pelangi!" sorak gadis itu girang—antara ingin tertawa konyol dan menangis bingung. Hermione melambaikan tangannya heboh pada rinai hujan yang bisu menatap gadis aneh itu. Tidak peduli, tetap menubrukkan badan mereka pada kerasnya aspal jalanan. Pyash.
"Atau ... vampire pelangi! Ha ha, ha ha."
...
...
Merasa sama lemahnya dengan seekor anak sapi yang baru dilahirkan, Hermione mulai menata buku-bukunya kembali ke dalam tas mungil Kipling-nya. Semuanya dimasukkan asal-asalan, dan ketika diktat Kimia mencuat sendiri, didorongnya paksa diktat itu bergabung dengan benda-benda lain yang menyesaki ruas dalam tas. Sekarang, tonjolan ujung buku yang menusuk kulit tas melekuk dimana-mana.
Sekarang, apa?
TIN TIN!
Vibrasi deru mobil dan klakson nyaring menjalar di medium antara hujan deras memaksa Hermione untuk mendongak. Tidak, tidak, tidak. Punggungnya membungkuk letih menganalisis rambut pirang platina yang bergerak terus di dalam mobil untuk—
Tidak. Tentu saja Hermione menolak tawaran itu.
Hermione memutar badannya seratus depalan puluh derajat ke belakang, menghadap jalan yang berbeda. Tidak perlu repot-repot menyatroni orang-orang atau mereka yang pada akhirnya memutar tombak kembali ke depan matanya. Hipokrit. Siapa yang hipokrit? Mereka.
Menawan di awal, merangas di akhir.
Meskipun Draco tidak melakukan sesuatu yang 'biasa' teman-temannya lakukan terhadap Hermione, itu belum cukup. Malah justru hal tersebut yang merupakan sikap abnormal seseorang dari kesembilan teman-temannya yang cenderung terang-terangan membenci si gadis freak berperilaku semi psikopat.
TIN TIN!
"Hermione!" serunya penuh semangat kosmis.
Hermione berkedip malas. Mengapresiasi kegesitan Draco Malfoy memutar mobilnya di sisi jalan yang satu.
"Ayo!" Jendela kaca pengemudi terbuka lebar. Bodoh atau apa? Air hujan pasti masuk!
Hermione masih menekuk wajahnya. Menatap kaku jari-jari kaki yang keriput.
"Tidak ada yang menjemputmu, 'kan?" teriak Draco dari kejauhan, memastikan gadis itu serius mendengarnya. Harus, Hermione harus dengar.
TIN TIN!
Menggeram kecil, Hermione mengangkat kepalanya sambil tersenyum kering, "Aku tidak butuh—"
"Di situ dingin dan kau sendirian—"
"Dan aku tidak mau dipaksa!" kecam Hermione lantang. Jelas sekali Draco agak terkejut menghadapi sikap defensif Hermione.
"Yaa, tapi—" Draco mulai membuat gerakan membuka pintu, "sebagai laki-laki aku tidak mungkin meninggalkan seorang gadis sendirian—"
"Itu mungkin!" Hermione langsung berdiri tegak, menyiramkan tatapan menyengat sambil mencengkeram kepala. Alunan petir mendramatisir pergolakan batin dalam tubuh rapuh itu. Lehernya seperti tertusuk-tusuk ribuan duri landak saat akan berkata, "Per-gi-lah!"
Gaung petir supersonik yang mengejutkan keduanya membungkam percakapan pakau itu sejenak. Draco Malfoy terkesiap nyaris berteriak ketika mobilnya bergerak statis ke arah depan. Ia berusaha menggapai pintu yang terlanjur mengayun setengah terbuka.
"He—ei, Hermione, hentikan," ujar Draco panik. Kepalanya terjulur keluar, dan seketika tergilas guyuran air hujan—yang meratakan surai pirangnya. Sinkronisasi antara permainan kemudi dan rem tangan tidak membuahkan hasil. Volkswagen Jetta metalik itu terus merangsek maju dengan mesin yang mati. Terpaan angin kencang seakan siap mengaduk siapapun. Membatasi ruang berdiri keduanya berubah menjadi pusaran angin kecil yang menerbangkan ranting serta daun-daun.
Hermione menutup mulutnya dengan satu tangan. Wajahnya pucat pasi. Kepalan tangannya melonggar seiring jauhnya jarak mobil Draco yang terdorong lumayan jauh akibat—
Akibat ... dirinya.
"Hermione—ee." Suara Draco mulai terdengar sayup-sayup di ujung telinganya. Tak beberapa lama berselang, terdengar bunyi mesin mobil dinyalakan. Hermione membuang napas lega.
"Ya, pergilah," lirih Hermione pelan.
Sekarang, apa?
Kekuatannya sungguh tak terbayangkan. Hermione menggigil ketakutan. Bayang-bayang dosa menghantui relung kelamnya. Bagaimana jika kekuatan semacam tadi tidak hanya sekedar mendorong jauh mobil Draco tapi—mungkin meledakkannya?
Ia tahu dirinya bersikap mendua. Di satu sisi, ia menginginkan pemuda pirang itu segera pergi. Ia tidak butuh tumpangan atau apapun—tidak dalam bibirnya. Di sisi yang lain, dirinya sangat berharap. Cemas untuk suatu hal: keinginan akan sensasi kesempurnaan saat berada di dekatnya.
.
.
"H .."
.
.
"Her ..."
.
.
"Hermion ..."
.
.
"Hermione ..."
.
.
.
Gema samar yang memanggil namanya. Bisikan. Kerutan di dahi Hermione tercipta dengan sendirinya. Menebarkan berbagai tanda tanya, ia berputar perlahan seperti roda kereta kuda. Sepi. Tidak ada orang. Hanya ada goyangan para pohon-pohon basah bersama angin yang semakin berani memperlihatkan keganasannya. Bahkan Draco pasti sudah bergerak jauh dari lingkup sekitar halte ini.
.
.
"Hermione ...
.
jawab aku ..."
.
.
Menggeleng frustrasi, Hermione memejamkan matanya, menghadap ke arah hutan belakang sekolah. Ia mendapat pencerahan dari lanskap sunyi legendaris yang terkenal seram dengan puluhan mitos penampakan arwah konyol—well, itu mungkin cuma mitos.
.
.
"Kau dengar aku ...
jawab aku ..."
.
.
.
Suara itu, entah idiot superior atau bagaimana, setidaknya tampakkanlah dirinya. Jika ingin dijawab secara baik-baik. Percuma memaksa bila si pendengar sama sekali tidak tahu domain suaranya. Hermione mendengus. Suara itu bukan berasal dari hutan Avogadroc. Dari suatu sudut. Dan ia berharap sedikit itu adalah suara malaikat pencabut nyawa. Yah, ia tidak lagi memiliki secercah minat untuk melanjutkan hidupnya. Bahkan harapan. Masa bodoh dengan wasiat Ursula satu-satunya; tetaplah hidup.
Ya, hidup sebagai zombie. Mayat hidup yang berjalan, bernapas, makan.
.
.
"Kau dengar aku ..."
.
.
Terkejut. Suara itu mengalun datar.
Di dalam kepalanya.
Buram, namun semakin lama semakin jernih.
.
.
"Apa ... kau, Nek?"
.
"Apa aku terdengar seperti Nenek?"
.
"Ya ... agak ... mirip."
.
"Mungkin secara fisik ..."
.
"Hm?"
.
"Kau manis, Mione-nee-ku, seandainya jemariku di sana bisa merengkuhmu ..."
.
"Eee, ya, atas nama ego, aku tidak mau asal dipeluk mahkluk abstrak yang asing—"
.
"Kita berhubungan ... Kita tidak 'asing' ..."
.
"Kecuali kau, di sana, ah entah di mana, bersedia memanifestasikan—"
.
"Tentu tidak bisa, wewenangku hanya—"
.
"Tunggu, kau, ada di dalam diriku? Apa, maumu? Jelaskan atau enyah!"
.
"Hanya dalam beberapa saat tertentu ..." jeda sejenak, "ya.".
.
"Siapa—"
.
TIT. TILT. THUNG THING.
Suara itu lenyap. Bertukar porsi dengan nada dering pesan masuk yang berulang-ulang. Efek dialog ganjil barusan menciptakan euforia sakit kepala yang hebat. Membuatnya limbung dalam beberapa saat. Sambil menyeka peluh yang menggelantung di area pelipis, jemari gesit Hermione men-swipe layar demi layar iPod-nya tergesa.
Sial, Blaise ada kelas tambahan.
Sial.
Tidak ada yang menjemputnya sekarang.
Sial.
"Hei, kau yang tadi. Beri aku ide untuk pulang!"
...
...
...
Tidak ada jawaban. Gadis itu memijit keningnya yang berdenyut usil tak karuan.
TIN TIN!
Alis cokelatnya berkedut sebelah.
Bagaimanapun juga, menahan hasrat untuk menuliskan kata 'IDE' dengan lipstik merah di jidat Draco Malfoy adalah hal tersukar setelah menjilat sikumu sendiri.
Cahaya terang mulai menelisik celah di antara ranting pohon. Menampilkan pergeseran awan kelabu oleh awan putih yang berarak indah di langit.
"Ayo ..." Draco melambai muram ketika hujan mulai reda. Keringat yang membaluri wajah dan lehernya tercetak jelas. Hermione tidak tahu berapa lama waktu yang Draco butuhkan untuk kembali lagi ke sini dengan mobilnya, mungkin karena—
"Haha, ha, itu elastis sekali," tawanya terputus-putus, "kau sedang berdialog dengan siapa? Perisai hitam tadi membentuk kubah. Begitu sulit ditembus."
Hermione ingin sekali berteriak pada Draco. Bahwa ia sama sekali minim—bahkan nol!—pengetahuan tentang kekuatan yang tertanam dalam tubuhnya. Dan lelaki itu berbicara padanya seolah kejadian-kejadian yang selalu menimpanya adalah hal lumrah. Kecuali mimik wajah terkejutnya ketika kuku Hermione berubah biru. Dan, petaka barusan.
Hermione maju selangkah. Ragu. Diliriknya pesan singkat dari Blaise. Maju. Kembali melirik. Terpaut dua langkah dari pintu mobil, Hermione merasakan belati emas dalam kantong celananya bergejolak lagi. Ke sana, ke sini. Menggelitik paha gadis itu hingga paranoid dapat mengiris kulitnya sendiri. Kaki kanannya terseret paksa melaju ke depan. Menyentuh bodi mengkilap mobil Draco yang sekeras bata.
"Tunggu, akan kubuka—" ujar Draco bersiap turun.
"Tidak perlu." Mulut Hermione bergerak tanpa suara. Draco kembali masuk dengan canggung, menggaruk belakang lehernya yang tiba-tiba terasa gatal.
Ia membungkuk ke dalam. Dan belati itu berhenti bergerak.
"Nah, kalau begini kan jauh lebih baik." Draco berkata setelah Hermione membanting punggungnya keras di jok depan. Draco memutar kuncinya dua tahap. Dan mobil itu melaju dengan kecepatan sedang.
"..."
.
.
.
Sepuluh menit berlalu. Hermione sama sekali tidak meluncurkan sepatah kata pun. Raut wajahnya tidak menunjukan indikasi ingin berceloteh, bercerita, apalagi berdebat. Draco khawatir gadis itu menelan semuanya sekaligus—emosi terpendam dalam jangka waktu yang lama tentu sangat beresiko.
"Maaf atas ... kejadian tadi. Teman-temanku di luar kendali." Permata biru safir itu bergulir ke samping, mencoba menganalisis mood orang di sampingnya. Mencari momen-momen tepat untuk berbicara setelah kejadian tadi sangatlah sulit. Sementara Hermione bertingkah seperti penumpang taksi, diam dan menunggu sambil mengamati jalanan. Ia tampak mengembuskan napas dengan hati-hati. Kelereng hazel itu melirik Draco sekilas.
Kemudian,
ia tetap bisu.
"..."
.
.
.
Sepuluh belokan terlewati. Tapi gadis itu tetap bungkam. Kalbunya kembali meresap sensasi 'kelengkapan' yang luar biasa.
Barulah di belokan ke tiga belas,
"Turunkan saja aku di sini."
Draco menoleh kaget, "Tidak, aku ingin—"
"Kau tidak tahu di mana rumahku dan satu belokan yang kau ambil salah." Hermione menatap Draco kecut. Ia melepaskan sabuk pengamannya dan mengangkat tas di atas pangkuan.
"Aku tahu rumahmu, di Knockturn Estate. Hanya saja aku tidak tahu di blok mana." Draco melambaikan telunjuknya di udara saat Hermione terlihat ingin menyela, "dan aku tahu jalan pintasnya. Kau tahu Godric's Paint 'kan? Aku mau ke situ sebentar, dekat dengan komplekmu, lagipula."
"Kenapa kau tidak menurunkanku dahulu baru—" Hermione menghentikan kalimatnya ketika ia sadar Draco-lah yang memberinya tumpangan. Dan ia hanya penumpang. Itu berarti kendali arah ada di tangan Draco.
Draco menampilkan cengir lebar saat menguarkan pandangan bertanya-nya. Hermione menggeleng dua kali.
"Kau tidak ... bertanya untuk apa aku ke situ, mungkin."
"Tentu saja untuk beli kanvas," jawab Hermione malas. Tidak tahu apakah Draco berniat melucu, nanti ia akan bilang niat ke toko lukis itu untuk membeli pengembang adonan.
"Untuk—"
"Perayaan Hari Pablo Picasso. Itu masih bulan depan."
"Kubelikan juga, ya?"
"Lepaskan atribut-atribut palsumu agar aku berhenti terkecoh!"
"Atribut apa? Kau mau aku melepaskan baju yang melekat di tubuhku?"
"Aku tidak main-main. Berhenti bersikap sok baik padaku."
"Aku berani bertaruh, penggal kepalaku jika aku mulai bersikap seperti yang lain!" Draco terlihat kesal. Namun, air mukanya kembali seperti semula setelah membuang napas perlahan. Berusaha rileks.
Hermione memilih diam setelah itu. Memalingkan wajahnya ke jendela. Dua menit setelah melewati kantor pos, palang Godric's Paint mulai mencuat di antara pepohonan di atas trotoar.
"Turun?" Draco menatap Hermione sekilas.
Gadis itu menanggalkan tasnya dan beranjak keluar. Menggosok-gosok kedua sikunya sambil mengamati jejeran toko tua di depan mata.
"Ada apa?"
Kedua mata Hermione Granger memicing dengan bibir atas yang mulai naik. Tangannya kembali mengeratkan kantong celana kiri. Berusaha meredakan turbulensi bendanya.
Draco kembali mengerut bingung tatkala Hermione memintanya membuka kunci mobil lagi. Lalu gadis itu menyodokkan sesuatu ke dalam tas punggunya di jok mobil, kemudian keluar dengan perburuan napas dan sauna keringat.
Pemuda Malfoy itu sampai menggulung tangan kanannya dan membuat gestur sedang batuk untuk menahan mulutnya bertanya benda-apa-itu. "Kau mau ikut denganku atau?"
Kedikan kepalanya membuat Draco mengangguk pasti untuk melangkah ke arah toko lukis legendaris itu. Sementara aksi kaki Hermione berhenti di depan gantungan pintu tua tebal bertulisan Helena Bookshelves. Sebuah toko buku yang tak kalah sepuhnya dengan toko lukis di sebelahnya.
Derit pintu membuat Hermione berinisiatif untuk segera memperbaiki berat badannya yang di bawah rata-rata. Agar suatu saat pintu kayu yang terkenal kokoh dan kuat ini bisa dihempaskannya pakai kelingking.
"Aa, selamat datang Nona Muda~ ..."
Gadis itu mundur sedikit dan memasang wajah tak peduli. Wanita tua dengan lemak pipi yang menggelambir di setiap sisinya, terus meliukkan kepalanya aneh. Mengekori pergerakan Hermione lekat-lekat. Tanpa merasa risih, Hermione terus melangkah ke bagian rak buku terdalam. Cukup menganggap wanita itu jelmaan keranjang belanjaan, selesai sudah. Hazelnya menyortir judul buku demi buku yang tertata apik di tiap tingkat. Sepi. Tampaknya hanya ia pengunjung satu-satunya.
Ketika akhirnya sampai di sebuah pagar hitam yang menjadi pintu sebuah ruangan tersendiri. Hermione melongok ke balik jeruji pagar, dan wanita itu ikut melongok. Mulai merasa risih serta konyol, Hermione menoleh ke arah wanita itu. Keduanya saling bertukar pandangan.
"Aku Madam Clarendon," ucapnya sumringah, alis Hermione menyatu, "dan itu adalah ruangan Seksi Terlarang. Tunggu, aku merasakan mereka bergerak ..."
"Mereka?"
"Tuan Buku. Ssst," bisik Madam Clarendon sementara tangan keriputnya menggenggam lengan bergetar Hermione.
Keduanya menajamkan pendengaran dengan mulut setengah terbuka. Suara gaduh mirip orang berkelahi sayup-sayup mendekati mereka. Semakin dekat. Adrenalin Hermione meningkat tajam.
Brak.
Hantaman keras sebuah buku tebal nyaris meledakkan gadis tujuh belas tahun itu. Terengah, ia mengawasi Madam Clarendon yang tengah memutar kunci pagar, lalu membungkuk untuk menggapai buku itu.
"Buku akan mencari pemiliknya," gumam Madam Clarendon dengan tatapan berbinar.
"Itu buku apa, Madam Clarendon?"
"Ah, ya, buku ini milikmu." Madam Clarendon menyodorkan buku bersampul ukiran harimau putih meraung. Hermione menerimanya penuh waspada.
"Apa isinya?"
Madam Clarendon menggeleng, "Setiap buku hanya pemiliknya yang tahu."
"Uh, itu berarti aku harus membelinya?"
Wanita berjubah sepanjang mata kaki itu tersenyum simpul. "Harga cuma-cuma bagi para buku sendiri yang mencari pemiliknya."
Hermione mengembuskan napas enggan. "T-Tapi, bagaimana jika ia bertingkah seperti tadi? Tentu aku harus membuangnya."
"Semua buku menuruti perintah tuannya."
.
.
"Bukunya datang sendiri." Hermione menjelaskan atas mimik penasaran akut Draco sebelum pemuda Malfoy itu membuka mulutnya. Draco hanya ber-oh ria. Lalu menempatkan belanjaannya di jok belakang.
..
..
"Aku selalu ada kalau kau berubah pikiran."
..
..
Hermione terkejut. Lalu menoleh ke belakang dan melihat sisi tubuh Luna Lovegood menyembul dari belakang sandaran jok.
"Aku akan selalu ada kalau kau berubah pikiran," ulang Luna dengan suara monoton. Seulas senyum menghiasi wajah ovalnya.
"Tapi ..." Hermione terbata, "maaf, Lovegood—maksudku Luna, aku hanya menumpang dan pulang."
Draco mendengus.
"Oke, maaf Draco." Luna menghempaskan kepalanya di kepala jok, bersiul kecil, "Kunci cadangannya tertinggal di kamar lagi. Lagipula handle-nya tidak menunjukkan gejala rusak."
Hermione mengernyit. Handle? Aa, ya, pikirkan bagaimana bisa Luna bisa tiba-tiba ada di mobil Draco. Sepupu, oke. Maksudnya adalah: bagaimana.
"Lain kali aku harus belajar memantrai mobilku sendiri," balas Draco sambil menyalakan mesin. Luna tertawa.
Hermione berkedip lambat. Mantra?
"Yah, Hermy-aw-nee, ikutlah bersamaku," pinta Luna, "ralat, bersama kami."
Hermione menggeleng kecil. Ia menatap iris biru Draco, kemudian Luna, "Kapan-kapan. Aku harus segera pulang."
Membayangkan kemarahan Patricia saja sudah berhasil membuatnya bergidik gigit jari.
"Oke, aku tidak memaksamu. Tapi janji kapan-kapan-nya tentu bakal kutagih, ya." Luna mengedipkan sebelah matanya, "omong-omong tadi aku dari Helga's Grocery. Nih, anggur buatmu."
Hermione menggumamkan frasa terima kasih tatkala menerima sekantung plastik buah ungu bergerombol itu hati-hati, kemudian memangkunya di depan buku ukiran tadi.
Hm ...
Ia masih harus menguji watak asli duo sepupu pirang ini.
Tentu saja.
Ia sudah lelah untuk terus jatuh di lubang pertemanan yang sama.
Klise.
Luna dan Draco sama manisnya dengan anak anjing.
Loyal dan terlihat murni.
.
.
Kutunggu kadaluwarsa-nya.
.
.
"Seharusnya pengelola komplek memberi beberapa penerangan di sudut sini," ucap Draco seraya menyipitkan mata.
"Di sini juga, gelap sekali dan pohon-pohonnya terlalu rimbun. Walaupun siang hari." Luna menyambung.
"Di sini saja," ujar Hermione di pertigaan jalan, menerawang jauh rumahnya yang terpaut tiga rumah lagi.
"Serius?"
"Serius." Hermione tersenyum tipis.
"Hati-hati, Hermione." Tangan Draco melayang seolah ingin menghalau Hermione keluar, tapi Luna segera menepis tangan itu. Draco mencibir, lalu keduanya bertukar pandangan sok tajam.
Semakin jauh Hermione melangkah dengan kedua tangan yang sibuk menggenggam barang, keganjalan kembali melekat dalam dirinya.
Ketidaklengkapan yang kembali menghampiri.
Ia benci perasaan hampa sepeti ini.
Kekosongan terlalu menguasai perasaannya.
.
.
Denting wind chimes yang tergantung di balik pintu utama mengiringi lamunan Hermione. Di kamarnya di samping loteng, minim sekali cahaya yang masuk. Sebongkah springbed berlapis selimut putih, lemari sudut L, cerming lonjong menyentuh lantai di samping jendela yang kacanya buram, lalu beberapa buku dan lukisan abstrak di sisi lemari. Gantungan bola-bola kecil mirip serabut kelapa dipres menjejali sudut tempat tidur. Aroma wine yang menenangkan tapi tak pernah dicicipinya menguar dari setiap kulit bola.
Ia menoleh, merengut melihat buku tua usang yang harus segera dibukanya atau bahkan tidak.
Bunyi pintu dibanting membubarkan pertimbangannya untuk membuka buku itu. Dentingan wind chimes berhenti total. Seperti dipaksa untuk diam. Buru-buru disorongkannya buku tersebut ke bawah tempat tidur.
Hermione melongok keluar pintu, mendapati pintu kamar Pat tertutup. Gadis itu menepuk keningnya, kenapa tadi ia tidak sadar pintunya tertutup?
Pat tidak pernah menutup pintu kamarnya.
Saat tidur sekalipun.
Wind chimes berbunyi lagi, kali ini nyaring.
"Pat?" panggil Hermione samar.
Sunyi.
Pat jarang sekali keluar rumah.
Atau tidak pernah.
Sebuah pemahaman adanya seorang pencuri terlintas di benak Hermione.
Ia berjingkat pelan menuju tangga, dengan tongkat golf dari loteng, sambil menggerakkan telinganya. Waspada.
Matanya membulat tatkala kilasan gaun hitam melesat dari ruang utama menuju dapur. Dengan desakan rasa takut yang bersarang di dada, Hermione mengendap-ngendap menuruni anak tangga. Satu persatu.
"Uuuu-rututu~"
Hermione terhenti.
Fakta selanjutnya, Pat paling benci menyanyi apalagi bersenandung.
Jantungnya seakan ingin meloncat keluar dari rongga dada.
Dekati. Ayun. Pukul.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
"AAAAAAAAAAAAAAAAA!"
Hermione menjerit dengan mata tertutup.
Pencuri, hantu, vampire, penyihir, zombie, ... enyah!
Sementara sosok itu menguap kebosanan.
Tidak merasakan penyerangan balik apapun di setiap bagian tubuhnya, Hermione membuka matanya takut-takut.
"Pat tidak mungkin membiarkan maling atau penyusup masuk ke rumahnya," ucap wanita itu santai, "untung aku tidak."
Kedua bahu Hermione turun seturun-turunnya, hazelnya berotasi kilat, "Kemana Pat?"
"Apa kau perlu tahu itu?"
"Mrs. Heloa Burton," ulang gadis itu dongkol, "kemana Patricia?"
Tetangganya itu menjawab, "Terapi bersama jemaat eksklusif lain."
Hermione mengangkat kedua alisnya. "Yah, kadang-kadang dia butuh terapi."
"Hermionee-e," kecam Mrs. Burton dengan mata memicing, "tak baik mencela seseorang yang telah melahirkanmu. Dan jatuhkan tongkat golf itu, tidak sopan."
Bunyi tongkat golf menghantam lantai begitu keras terdengar. Hermione memangku dagunya dengan tangan, menatap satu-satunya tetangga yang benar-benar 'tetangga'. "Lalu ... untuk apa kau—"
"Menjagamu tentu saja."
"Aku bukan bayi lagi."
Wanita tambun berkostum merah gelap yang janggal—membuatnya terlihat seperti sebongkah besar daging berdarah— itu kembali melenggang santai ke arah dapur. Sementara Hermione memandangnya dengan heran. Dia sama sekali tidak terdengar malu sedikitpun karena telah mengagetkan si tuan rumah. Dia berdansa di sekeliling dapur, menganggap lantai dapur adalah dance floor berpelitur. Mengoleskan mentega ke permukaan roti tawar, melapisinya dengan olesai selai stroberi yang biasanya disiapkan untuk scone, dan menyodorkannya pada Hermione.
"Sikat habis rotinya ya, si kecil kurus yang konyol," katanya.
Hermione menggeser piringnya kesal, "Aku tidak kecil dan konyol."
Mrs. Burton tersenyum prihatin, memuakkan. "Kau konyol, dear. Ingat apa yang Pat hadiahi untukmu ketika kau bermain kuda-kudaan dengan anak itu—Krum? Kau menungganginya. Apa jadinya kalau Pat melihat itu lagi di usiamu yang sekarang," kekehnya lagi.
"Itu tidak termasuk dosa moral—kalian berlebihan," dengus Hermione.
"Dasar anak kecil ..."
"Aku tujuh belas tahun sekarang!" bentak Hermione nyaris menangis.
Lampu kristal gantung di atas mereka bergoyang pelan. Mrs. Burton tampak terkesima, sekaligus terkejut secara bersamaan.
"Baiklah, dear," ucap Mrs. Burton membelai kepala si gadis, "habiskan dulu makananmu."
Hermione Granger makan dengan ogah-ogahan. Pinggiran roti sengaja ia pisahkan di tepi piring, lalu memakan isinya sambil sesekali melirik wanita di depannya.
Sesorean itu diisi dengan sungutan Hermione akan titah Mrs. Burton. Ia dipaksa bermanja ria dengan sehelai kain putih polos dan segulung benang wol. Diwajibkan menisik rapi sketsa yang bergambar bunga aster. Warna biru.
Membosankan.
Membosankan.
Jarum jam menunjukkan angka delapan. Berarti sudah empat jam Mrs. Burton berdiam di rumah Hermione.
"Anda akan menginap di sini?"
"Hm. Mungkin."
"Yah, kalau kau tidak keberatan, kau bisa tidur di sofa. Karena hanya ada satu kamar terbuka." Hermione berkata enteng.
"Aku mengerti," ucapnya penuh konspirasi, "kau ingin sendirian agar bisa melakukan praktik-praktik semacam sihir yang—"
"Astaga Mrs. Burton aku tidak punya kekuatan macam itu," sanggah Hermione, ia perlu mengalihkan percakapan ini ke hal lain, lalu berkata asal, "maksudku—hm, mungkin Mr. Burton menunggumu di rumah. Menunggu kepulan sup makaroni tambah asparagus buatan kasih sayang—"
Rahang Mrs. Burton mengeras, tampaknya pengalihan berhasil. "Tidak ada Mr. Burton. Aku dipanggil Mistress atau Nyonya—sebagai bentuk penghormatan," dengusnya tersinggung, "dan kau harus meningkatkan lebih banyak informasi yang akurat kepada para tetangga di Knockturn sini. Terlebih penghuni depan rumahmu bertahun-tahun lamanya." Mrs. Burton mengibaskan rambut keperakannya yang mengganggu telinga menunjukkan kekesalan.
"Oh, maaf, ternyata aku salah kira tukang servis mesin cuci itu," kekeh Hermione. Hampir setiap hari, seorang pria paruh baya memang mengunjungi kediaman Mrs. Burton. Pagi dan sore. Terlalu rutin hingga Hermione mengira itu adalah suaminya.
Atau memang ada sesuatu, entahlah.
"Tentu saja bukan."
"Apa anda tidak memiliki pujaan hati, Miss Heloa?" tanya Hermione iseng, mulai berjalan menuju piano yang terletak di perbatasan ruang utama.
"Mrs. Burton! Aku tidak punya waktu untuk laki-laki—"
"Kalau begitu bagaimana dengan tukang servis—"
"Jangan memotong ucapanku!"
"Oke." Hermione mulai memainkan lagu di atas barisan tuts hitam dan putih.
"Kau tak bisa memercayai laki-laki. Kau juga merupakan contoh yang spesifik. Jelas ada laki-laki bejat yang memperdayai ibumu."
Hermione menahan napas. Lehernya seolah terlalu kaku untuk menoleh, mata kelamnya terpaku pada jari-jari yang berhenti bergerak di atas piano. Denting kunci G yang terkesan terlalu lama ditekan bersamaan mengisi ruang kosong di sekitarnya. "Kau tahu siapa dia?"
"Tidak—"
"Aku perlu tahu!"
"Aku tidak tahu."
"Anda ... tidak tahu?" tanya Hermione ulang seolah menguji pendengarannya.
Kedua mata Mrs. Burton melengkung pasif. Seketika ia merasa gamang mendapat tatapan sendu gadis itu. Ia ... sedikit takut. "Tidak baik menggali masa lalu ..."
"Kau pasti tahu, Mrs. Burton! Jangan berusaha berdusta, Dia tidak mengizinkan kita semua untuk itu ..."
"Bagaimanapun juga ... laki-laki itu ayahku, Mrs. Burton." Hermione berkata dengan sorot mata merana. Tanpa disadari, gadis berambut cokelat gelap itu meninggalkan ruang utama dan berlari kencang ke kamarnya. Berlari bersama perasaan hampa.
Pintu dibanting.
Mrs. Burton menghela napasnya lirih.
Wanita empat puluh tahun itu masih mengingat jelas saat pertama kali ia bertemu ayah gadis itu.
Kepalsuan.
.
-oOo-
.
Ia tidak peduli.
Tidak ada yang bisa memberikannya pencerahan.
Tentang seonggok masa lalu yang mungkin bisa membuatnya lebih 'hidup' dalam menjalani hidupnya.
Benar-benar tak ada gunanya hidup.
Menerjang badai sendirian.
Hermione memeluk lututnya lemas, meringkuk di balik pintu kamar. Diangkatnya tangannya sejajar mata, lalu memandanginya dalam-dalam.
.
.
Apa aku benar-benar memiliki sesuatu?
.
.
Apa mungkin aku berbahaya?
.
.
Ia mengeluh lagi ketika tak ada seorang pun yang bisa menjawabnya. Sekedar menjelaskannya. Mungkin ada yang bisa memberitahunya—
Begitu menggapai buku tadi keluar dari kolong penuh debu, Hermione terbatuk-batuk serampangan. Tangannya melayang ke segala arah sampai mendarat di kaki gelas berisi air putih. Segera elemen air dingin mengaliri tenggorokannya yang panas.
Tuk, tuk, tuk.
Tidak ada tanda-tanda cara untuk membuka bukunya. Gadis itu mendengus pasrah. Entah ke berapa kalinya buku itu jungkir balik di udara. Tapi tetap saja terkunci rapat.
Hermione mencoba mengelus mata ukiran harimau putihnya.
Nihil.
Tak lama ia mengingat sesuatu. Dirogohnya belati emas itu keluar dari ruas tas.
Gadis itu tercengang. Efek tolak-menolak yang dahsyat terjadi. Seperti kutub sejenis yang saling menyangkal. Belati emas itu terpental jatuh membentur jendela, lalu tersungkur di lantai. Seolah kedua benda itu bermusuhan. Ha, konyol rupanya. Ketika mencoba untuk yang kali kedua, sama sekali tidak perubahan.
Ingin rasanya mengigit buku sialan itu lantaran ribuan tanda tanya dan penasaran bertumpuk menyesaki kepala.
"Semua buku akan menuruti pemiliknya."
Hermione menyibak selimut satin, lalu merebahkan tubuhnya yang lelah di atas kasur. Memeluk buku besar itu di atas dada dengan mata tertutup.
Kalau kau milikku, turuti kemauanku.
.
.
Srak, srak, srak, srak.
Halaman demi halaman bergemerisik menampilkan isi buku. Masalahnya, sepanjang mata Hermione menyortir satu demi satu, tidak ada satupun gambar atau tulisan yang tampak.
Huh.
Ia memejamkan matanya lagi.
Isidros
.
Dimensi hancur,
.
.
.
Ketika semuanya pergi,
.
.
.
Jauh terpental dalam lorong tak diguna karena hampa,
.
.
.
Ketika sang Naga meradang,
.
.
.
Raja Hutan menggelepar lemah,
.
.
.
Pangeran tanpa takhta menggelayut pergi ke sisi lain dunia,
.
.
.
Pelempar cahaya terpencar,
.
.
.
Sang Naga membuntuti,
Sajak?
Buku aneh. Hermione melemparkan bukunya ke atas kursi sebelum membuka halaman berikut. Permata hazelnya berkilat saat atensinya teralihkan oleh bunyi notifikasi dari iPod-nya. Berulang-ulang.
.
.
.
.
[Photo]
pansyparkinson: Give me S, C, A, N, D, A, and L! #omfg #hottestbabeever hermionepgranger and (umm ...) it must be mentioned, guys? ROTFL
54 views • 33 comments
Expand
Type here ...
.
.
.
.
Ini lebih memalukan.
Setetes air hangat mengalir lambat di sudut mata Hermione Granger. Seakan cakar-cakar tajam burung elang merobek kulit kelabu di garis cakrawala. Menggores hatinya.
Ia tidak harus bisa mempercayai teman baru.
Ia tidak dibolehkan lagi meminjamkan barang pribadi dimana pun—iPod sekalipun.
Meskipun hanya foto rekayasa. Hasil edit yang tampak tidak terlihat palsu secuil pun.
Fotonya sedang tersenyum manis—pemaksaan Blaise—sambil berkacak pinggang saat pertama masuk HHS, dan Oliver Wood yang candid, menatapnya seakan ingin mencumbu.
Oliver Wood, satu tahun diatasnya. Siswa cemerlang serba bisa yang sedang mengikuti lomba sains di Rusia. Kekasihnya kalau tidak salah ... siswi tingkat tiga Beauxbatons High School. Entah siapa namanya, Hermione lupa.
Bencana besar.
Asli, terlihat asli.
Kerja bagus, Padma Patil. Si ahli fotografi. Si peraih medali emas pertama di HHS dalam ajang bergengsi pemotretan festival musik Brooklyn.
Menggeram, gadis itu kembali menggulung badan rampingnya di balik selimut. Membenturkan kepalanya secara berkala ke kepala tempat tidur.
Sakit, sakit.
Tidak ada yang berada di pihaknya.
Terlalu letih.
Beragam masalah 'menampar'nya terlalu bersemangat.
Berpikiran picik, dosa! Ia tahu! Ia tahu tapi—
Ia tersenyum pilu ke arah bawah jendela. Ya, itu. Namun langkahnya terhenti tatkala benda-benda dalam kamar mulai bergeseran. Membutakan keinginannya untuk menghunuskan belati emas itu ke dada. Mengikuti Ursula berpesiar ke Surga.
Tunggu ...
Kehidupan orang bunuh diri bukan di Surga.
Lampu tidur, penyangga rak buku, tirai jendela, gantungan baju, bola-bola serabut—semua berderak ribut. Hermione berjalan mundur, menyeret kakinya ke arah pintu. Menyaksikan karpet bulat Turki-nya yang berputar-putar mirip kue dadar, bergelombang. Hawa dingin namun menentramkan menjejali perutnya.
Yang ia tahu hanyalah seberkas cahaya biru mencuat dari dalam buku harimau, melesat ke sana ke mari, membentur sudut-sudut kamar. Terbang lincah seperti peri hutan.
Gadis itu meloncat di atas meja tulis, mendorong tirai jendela nyaris terhempas keluar, ber-akrobat di atas tempat tidur kemudian terpeleset licinnya selimut satin, menghancurkan sistem tatanan bola-bola serabut ketika cahaya biru itu melipir gesit di antara mereka, dan tersungkur di depan pintu dengan dagu menempel lantai kayu.
Kamar yang kacau.
Tapi setidaknya cahaya biru itu ada di tangannya.
Hermione merekahkan tangannya perlahan, berpikir cahaya itu mulai jinak.
Aa, cahaya biru itu terbang lunglai menuju sisi tembok kamar yang bersih, tanpa poster atau kanvas yang tergantung. Lalu menyatukan strukturnya dengan putih tembok, membuat lingkaran besar, yang sangat besar, menjadi pusaran asap yang indah.
Awalnya biru cerah, lalu menghitam seperti jelaga. Hermione mengernyit waspada. Waspada ribuan belati meroket dari lubang itu menerjang dadanya.
Tidak ada yang terjadi. Sebelum lubangnya berputar-putar menampilkan kilas galaksi yang warna-warni—gadis Granger itu panik lubang asing itu akan menghisapnya tak bersisa— pemandangannya berubah.
Mirip layar proyeksi.
Lebih fokus, seperti kamera, ke deretan pohon rindang perumahan Diagon Alley di jalan berliku di Parkinson Lane 47. Semak-semak berbunga dan pagar besi hitam menyambut para tetangga ke rumah megah dua lantai yang nyaman. Sepertinya ada acara khusus. Dilanjutkan dengan naik ke jendela di bawah loteng, dan mendekati gadis berambut pendek hitam sebahu yang tertidur lelap dalam balutan lingerie merah sutra.
Lebih dekat, diperbesar, membelok ke arah meja rias dengan kaca tinggi menjulang. Tempat iPhone Pansy Parkinson bersemayam.
Ragu, Hermione merayap maju mendekati lubang itu. Otaknya menangkap maksud lubang tersebut cepat.
Ia harus menghapus foto yang diunggah gadis pug itu sebelum tercetak ratusan eksemplar di majalah sekolah.
Sebelum siswi Beauxbatons itu menggantungnya di ayunan Taman Kota.
Jadi, Hermione menyerah pada arus yang mendorongnya maju ke dalam terowongan.
Hap!
.
.
.
.
.
.
.
.
The End of Chapter 3
.
.
.
.
.
.
.
"Dia harus jauh-jauh dari kita! Percaya padaku, Nymph."
"Fleur! Hilangkan sifat kekanakanmu ..."
.
.
.
.
.
.
.
.
Thanks a lot buat yang sudah mereview di chapter lalu, saya sangat menghargai setiap butir review yang masuk. Semoga beberapa pertanyaan yang menggantung bisa terjawab dan terus berspekulasi!
