Disclaimer : All characters & main story belongs to Joanne Kathleen Rowling.

Genre: Supranatural/Mystery/Romance/Tragedy/Family (Seandainya genre bisa sebanyak itu)

Warning(s) : ALL CHARACTERS ARE OOC, Alternate Universe, typo(s).


#) Akan lebih menyatu dengan bab ini bila sembari mendengar tembang Dark Horse milik Katy Perry serta Juicy J.


.

.

.

Supermassive Black Hole

Chapter Four: An Intruder Horizon

.

.

.


Pansy Parkinson hampir saja menjadi gila.

Napasnya berhembus dengan interval yang cepat. Permata turqoise kebangaan itu bergulir penuh emosi yang memuncak kepada lima orang di sekeliling. Sementara pikirannya bergerak liar secepat cahaya. Bagaimana kronologisnya bisa sebodoh itu? Semuanya telah rapi, beres, tak bercela. Satu jentikkan menuju garis akhir. Kepuasan intensif untuk ganjaran yang ekuivalen.

Dan sekarang lenyap begitu saja.

"Sophie tentu bisa juga disalahkan," ujar Parvati dengan nada mencemooh. Pansy membuang muka jengkel. Sepertinya, tanpa dituding pun, adik perempuannya yang gemar meng'operasi' kamar sang kakak telah terlintas di benak sebagai tersangka utama.

"Dan bukan kami," sindir Astoria, "aku merasa tidak perlu menyimpannya saat kau mem-post-nya, karena aku yakin fotonya aman padamu."

"Aku tidak mengerti bagaimana jalan pikiran Sophie yang hanya menghapus foto itu, di gallery dan tentu saja, dalam akunmu?" Ginny mengulum pipi bagian dalam seakan menunjukkan kecurigaan kronis. Pasrah, sebab tidak ada satupun dari mereka yang masih memiliki fotonya.

"Aku yakin si Tepung Fleur itu sempat melihatnya, santai saja."

"Kapten cheers sok perfek," decak Parvati melenggokkan bibir berbalur lipstik merahnya, "kuharap kita bisa menang di Festival Schapel bulan depan. Bokongi mereka jika perlu."

"Hhh, lupakan tentang Fleur!" Astoria mendecih kesal. Giginya saling bergemeletuk rapat.

"Huh, baby Tori, Jangan mentang-mentang dia adalah—"

"Sekarang, Granger. Ia tidak punya apa-apa, hanya jiwa yang terdistorsi, kaki seceking belalang, dada yang rata, rambut yang mengenaskan—dia menggunakan sihir untuk menarik Draco!" Sang gadis berambut hitam beraroma citrus meradang hingga ke ubun-ubun. Sirkulasi bernapasnya tampak kacau, ditambah tarikan senyum mual di sepanjang bibir. Untuk ukuran gadis selangsing dia, jangan lupakan tentang temperamen meledak-ledaknya yang lebih parah dari bom Hiroshima dan Nagasaki.

"Tori." Ginny mendelik ke arah Pansy. Putri bungsu Greengrass itu merengut sambil menampilkan sorot penuh harapnya pada Pansy.

"Kita pasti punya rencana b, c, d, z kan, Pans."

Gadis berambut hitam mengkilau sebahu itu berhenti berjalan-jalan durjana. Pandangannya terarah pada lahan parkir yang mulai aktif di luar sana. Di bawah naungan deretan pohon cemara yang menjulang tinggi dengan angkuh. Butir-butir embun menetes tiada salah. Layaknya setetes air yang mencoba bermain lompat tali di atas kobaran api. Seolah melukiskan butiran kristal bening gadis cokelat kusut itu menghujani nurani batu si gadis Parkinson. Aa, salah, kristal ajaib itu tidak sampai mengalir mengisi relung hatinya.

Terlalu kaku, terlalu rapat untuk diresapi.

Ironis.

Ia beralih cepat ke wajah-wajah ketidakpuasan yang terpancar di lima orang itu.

Sudut bibirnya melengkung ke atas.

Ya. Vivax tidak akan pernah tunduk.

Tidak akan pernah kehabisan stok.

"Never."

Mata batu koralnya menari dalam tawa penuh bara keganasan yang mengundang senyum puas lima mulut-mulut berotak sadis.

.

.

xxx

.

.

Pemuda itu tak lepas menginduksi gadis yang tertunduk kaku dengan pancaran intimidasi kuat. Permainan kuku sang gadis tampak begitu menarik di momen ini. Canggung. Hermione tahu, kesalahan besar telah ia lakukan. Menumpang pada orang asing tidak ada di kamus Patherm—sebuah singkatan namanya dan Pat. Atau di lain pasal, pulang dan pergi kemanapun tanpa Blaise. Gadis bermanik karamel gelap itu tak habis pikir bagaimana caranya ibunya tetap mengkukuhkan pria bermarga Zabini itu sebagai guard-nya, maksudnya, bagaimana jika waktu itu datang. Waktu dimana seharusnya Blaise berhak memperoleh kebahagiaan tersendiri untuk berkeluarga.

Apakah Blaise harus tetap merawatnya sebagai perawan tua yang ringkih sekaligus penyakitan di sebuah rumah kolosius—jika Hermione benar-benar 'sukses' menjadi wanita suci pengasuh rumah Tuhan?

Sungguh gila.

Hanya karena 'terpaksa' menumpang dengan Draco, membuatnya berpikir melampaui kulminasi.

Ya. Tentu saja orang asing. Draco Malfoy hanyalah orang asing yang baru dikenalnya dalam sekejap. Yang baru saja mengisi nama sebagai judul di lembaran daftar isi kehidupannya. Dengan perkenalan yang instan, dua hari silam. Dan secepat berkedip, sensasi kenyamanan dan kelengkapan itu mengalir begitu saja dari Draco, menghuni lekuk relung terdalamnya. Serasa hidupnya yang sekering akar tanaman tanpa senjata pamungkas pelengkap, pupuk, merekah kembali.

Pupuk apapun Draco Malfoy, pastilah paling berkualitas.

Chemistry?

Sesederhana itu.

"Hhh."

"Hm."

"Kau sangat baik selama ini, beribu terima kasih. Seharusnya tadi tidak perlu repot-repot kehujanan menjemputku—"

"Aku tidak akan bilang Pat," ucap Blaise cepat. Gadis itu menghela napas lega, merasa tidak perlu mengutarakan kalimatnya yang konyol. Memohon lelaki itu untuk tutup mulut serapat halaman buku yang tertutup. A, lancar. Hermione bersiap turun saat mobil yang ia tumpangi terparkir sempurna di parkir selatan sekolah.

"Tapi—"

Jemari Hermione berhenti mengorek-ngorek tuas kunci pintu mobil yang ternyata masih terkunci. Selamban siput mendaki sebuah batu, Hermione menelengkan kepala pada lawan bicaranya yang menatapnya dingin. Menggerutu di balik napas, Hermione kembali menguraikan kronologis serta alasan-alasan yang tepat, rinci, dan jelas kenapa ia harus menumpang pada Malfoy. Tidak peduli kalau Blaise menyindir otaknya yang jenius agar lebih memilih menaiki bus umum daripada, daripada—

.

.

.

Sialan!

.

.

.

Berhenti mengaturku!

.

.

.

"Berhenti mengaturku!" salak Hermione dalam ringisan risaunya.

"Aku hanya menuntunmu, dan itu titah Patricia! Apa susahnya, Hermione? Keluargamu cuma Pat ..." lirih Blaise, "jika aku masih bisa memiliki kesempatan untuk memutar waktu dan mengembalikan Mum, sangat dipastikan aku rela menukar nyawaku dengannya." Lelaki bermata emerald samar itu mengatupkan bibirnya. Menahan genangan air yang mulai membanjiri pelupuk. Kilasan buram masa lalu yang menarik ingatan kusutnya kembali menari-nari dalam benak. Sejarah hidup yang nyaris mirip dengan sang mantan anak majikan membuatnya menjadi pemuda kebal meski ditempa secara verbal sekalipun.

"Ia bukan keluargaku ..." decih Hermione tatkala kabut dingin menjalari kedua matanya. Sebuah keluarga tidak akan mengekang penuh dalam ratusan tali tipis yang mengisolasinya dari dunia luar.

Kegelapan.

Kedamaian.

Patricia selalu mendeklarasikan bahwa kegelapan itu selaras dengan kedamaian. Dan kedua itu akan membawanya ke sebuah: kesucian.

"Keluargamu." Blaise terbatuk sambil mengeratkan pegangannya pada stir, "kasih sayang tersalur dengan bentuk dan tentunya cara yang berbeda, Hermione. Kau hanya belum melihatnya—"

"Bohong."

"Bukan berarti suatu hal itu tidak ada kalau kau belum melihatnya."

Hazelnya berpendar dalam kekalutan. "Kalau begitu ... bagaimana dengan ayahku? Bukan berarti dia harus pergi meninggalkanku dan Pat seperti yang kau bilang bila aku belum benar-benar melihatnya? Bagaimana tentang sosok-sosok fana imajiner dalam mimpiku tiap malam? Aku berani bertaruh ia bukanlah sosok yang berbeda-beda di tiap kesempatan. Walau wajahnya tak terpeta dengan jelas, bahkan sangat buram. Tapi aroma kasih sayangnya yang menguar—menempel lekat di kedua lubang hidungku, semuanya begitu jelas, hingga aku nyaris tidak dapat bernapas!"

"Herm—"

"Tapi setiap aku terbangun, seakan ada selaput jala penyaring segala memori-memori mimpiku," isak Hermione dalam kemarahan yang membakar retinanya, "sehingga aku tak bisa menggambarkan bagaimana rupanya ... Please, jangan anggap aku gila, atau aku terlalu berfantasi ..."

"Oke ... Aku percaya." Blaise merebahkan punggungnya kembali pada jok. Kunci pasti menghadapi Hermione Granger adalah kesabaran. Dan kepercayaan. Melunakkannya seperti kue bolu yang disiram air keran. "Kalian selalu mengadakan pertemuan setiap malam?" tanya Blaise berusaha penuh selidik. Mau tidak mau, percaya tidak percaya, ia harus tetap menjadi pendengar baik bagi gadis itu.

"Ya ..." iris cokelat berkilat-kilat lembut, "mimpi yang mengatur pertemuan kami. Saat itulah momen-momen terbahagia dalam hidupku. Ada Pat di sana, ia tampak malu-malu bercengkerama dengan kami. Semburat merah jambu di kedua pipinya makin parah ketika ayah merangkulnya untuk sekedar menyuapkan cokelat ..." Mata Hermione menerawang kosong ke luar parkiran. "Bukan semburat semerah bom seperti yang dia pajang jika aku bermain dengan Krum yang baik, tapi menurutnya adalah orang asing yang berbahaya."

Sorot atensi Blaise tertumbuk pada pelipis Hermione yang mulai basah dibuktikan oleh beberapa anak rambut yang menempel di kulit. Gadis itu terlalu banyak berpikir. Penalaran yang terlalu muluk.

"Pat punya alasan di balik punggungnya."

"Kapan aku bisa mengetahuinya?" Hermione tertawa getir. "Semua laki-laki dikatakannya virus. Bagaimana denganmu, Blaise? Transgender?"

Merapatkan kelopaknya yang dibayangi perasaan konyol, Blaise mendengus kecil ketika mulutnya menimbang-nimbang kalimat yang pas untuk dimuntahkan. "Karena Patricia sudah mengenalku dari kecil. Mengenal Mum, mengenal kelakuanku, mengenal kehidupan pincangku ... Jadi aku bukan orang asing. Mungkin begitu?" kekehnya kikuk.

Gadis itu menghela napas. "Maaf, aku lupa. Kita nyaris seperti 'keluarga'. Maksudku keluarga yang 'keluarga'. Ya, hanya 'keluarga'."

Hening melahap.

"Patuhi Pat."

"Hn."

"Tetap jauhi siapapun yang berbahaya."

"Kau tahu darimana Draco Malfoy berbahaya?"

"Huh? Aku tidak merujuk hanya kepada satu orang yang menunjukkan indikasi 'berbahaya'. Bahkan aku tidak terlalu mengenalnya, oke? Aku tahu semua teman semu-mu, dan kupikir mereka yang tidak pantas berteman denganmu. Kau istimewa. Sebab itu Pat begitu melindungimu. Dia hartamu satu-satunya, Hermione Granger."

"Jadi, dia tidak berbahaya ..." lamun Hermione diantara tarikan napas penuh kesabaran milik Blaise, "Pat juga tidak? Ayah? Apa Ayah berbahaya? Kau tahu? Kalau ayah pergi, pergi ke mana?"

Blaise meremas pundak gadis itu lembut. "Aku sungguh tidak bisa menjawab, karena aku memang sama butanya sepertimu. Mum hanya bilang ayahmu pergi, lagipula saat itu aku—dan kau masih kecil, ingusan. Terserahmu, ingin memercayaiku atau tidak. Yang terpenting, selama ini aku tidak pernah berucap dusta kepadamu," ucapnya tenang.

Hermione memberanikan diri mengangkat kepalanya, bertukar pandang dengan Blaise sambil mengusap rembesan air mata. Lama gadis itu terdiam.

"Cukup, tidak perlu menangis setiap kali pembicaraan ini meluap," tutur Blaise berulang kali menepuk bahu si gadis, "don't cry over the spilt milk."

Senyum geli mengembang di wajah Hermione yang seputih porselen. Lidahnya mencecap rasa asin dari bulir air mata yang berguncang turun saat bibirnya melengkung. "Bagaimana kalau aku benar-benar menganggapmu ayah nyataku?"

Alis Blaise bergumul di satu titik. "Apa aku terlihat terlalu tua dan bijak seperti kura-kura pertapa di Pulau Tikki?"

Keduanya tertawa lebar.

"Nih, tasmu," ujar Blaise mengangkat tas Hermione bermotif galaksi Bima Sakti penuh kerlipan aksesoris sebagai titik-titik komposisi rasi bintang hingga ke resleting terdalam. Tas favorit kedua setelah tas tujuh Bunga Surga Kipling yang gadis karamel itu miliki. "Kita harus pantang dipermainkan oleh Tuan Nasib. Hapus air mata orang lemah, seperti ini."

Hermione mengusap kedua kelopak matanya kelewat semangat, menirukan apa yang barusan dipraktekkan Blaise.

"Dan jaga dirimu baik-baik. Nanti siang akan usahakan kujemput—"

"Kau ada tambahan khusus, 'kan? Jangan paksakan untuk menjemputku. Oh ya, aku ada tugas sekolah. Di rumah Lovegood, cewek pirang straggly itu. Dia baik, please, jangan pasang tampang cemas katak seperti itu ..."

Lelaki penyuka pahitnya saus mustar itu hanya bisa menggelengkan kepala dan akhirnya mengangguk. Hanya ke rumah seorang teman perempuan, tak ada yang perlu dikhawatirkan. Apa yang perlu dikhawatirkan tentang gadis pelamun ulung dengan minimnya frekuensi berbicara normal yang berjarak satu tahun di bawahnya?

Setelah memanggul tasnya di punggung sebelum berlalu, kakinya terhenti selangkah di ujung bumper sedan milik Patricia.

"Tentang pseudofather-ku ..." Nadanya terdengar muram. "Aku ingat, aku ingat."

Kepala Blaise terjulur sejajar spion. "Ya, Hermione?"

"Matanya ..."

"Ya? Apa serupa dengan iris milikmu?"

Hermione menggeleng.

"Lalu? Apa warnanya? Keabuan? Onyx?"

Hermione menggeleng.

"Hitam."

.

.

xxx

.

.

Hermione Granger berjalan sesantai angin pagi bulan Maret yang menampar pelan wajahnya. Burung-burung pipit kelabu-cokelat, gemuk, dan berekor pendek ikut memeriahkan suasana. Melonjak tergesa di antara dahan cemara, memandu sorak cerahkan langit kelabu di sanubari sang gadis. Arak-arak awan putih bersih seolah berupaya saling renggang agar cahaya mentari dapat bertemu langsung menemui Hermione di antara celah jendela berbentuk wajik warna biru-merah di koridor utama.

Senyum tipis itu terpajang malu-malu di sepanjang lantai. Lehernya tidak lagi menekuk terlalu dalam ke bawah, melainkan tegak sejajar pandang di depan. Diseminasi napasnya mendadak seolah beroperasi geladir selancar air terjun Niagara. Ia merasa lebih keren hari ini. Dewi Fortuna nampaknya memenangkan laganya semalam. Tersenyum pongah di atas Tuan Takdir yang kali ini menekuk wajah malas.

Gejolak kecil dalam dadanya yang menumbuhkan rasa-rasa ingin tersenyum selebar serta setipis mungkin di depan batang hidung kroni Vivax membuncah geli. Menginjak-nginjak wajah idiot mereka yang kemudian menampilkan parade geligi yang saling bergelemetuk. Hermione terkekeh kecil.

Foto sialan itu sudah dihapus, begitu pula post dalam media sosial Panys Parkinson. Meski keuntungan yang luar biasa harus selalu dibayar dengan sedikit kerugian. Mual-mual hebat setelah berselancar dalam lorong hitam berlatar galaksi bertabur fraksi bintang itu sungguh menyiksa. Nyaris menumbuhkan niat Hermione untuk memotong lambung serta tenggorokannya. Berputar-putar dalam latihan renang atau cheers memang lebih baik, ketimbang dikocok-kocok tiga ratus enam puluh derajat dalam medium yang kedap udara.

Black Hole.

Belum supermasif.

Akan menjadi supermasif jika diameternya mampu menyedot lebih dari ukuran n kali lipat bumi ini.

Sungguh tidak bisa dipercaya.

Tapi ini juga bukan ... mimpi.

Berkali-kali Hermione mencubit rutin bagian-bagian tubuhnya. Lengan, perut, apalagi pipi.

Seperti di dunia fantasi.

Tapi tetap saja, ini fantasi yang riil.

Yang mungkin bisa mendekor ulang tatanan hidupnya yang terlalu melarat tanpa sentuhan 'kesenangan'?

Aa, haha.

Sekarang dan yang terpenting,

Biarlah mereka digerogoti perasaan bingung hingga beberapa waktu. Sampai rambut-rambut berasuransi ala puteri raja era Victoria itu rontok satu persatu, silahkan.

Terlalu larut dalam buai percikan kenikmatan membuat gadis itu terlena lumayan jauh. Ia merasakan anterior hidungnya menghatam sesuatu lembut berbahan wol saat melintas di depan auditorium. Dekapan pada beberapa buku yang tadinya bersarang aman di dadanya seolah hilang kendali. Dua buku terlanjur tergelincir sejajar pinggang dan Hermione cukup was was jika ujung sampul buku setebal itu menghantam sepatu bertalinya. Namun yang terjadi adalah, bukunya tiba-tiba tetap kembali ada dalam dekapan. Bahkan merasakan pergerakan kembalinya buku itu dari pinggang menuju dada pun tak ia rasakan.

Gejolak konyol yang tadi sempat dipikirkannya sempat mendesak ingin keluar. Sudut bibirnya mulai terangkat sedikit. Bila memang benar yang ia tabrak adalah salah satu Vi—

"Lu-na," ucap Hermione tergagap, "Sorry."

Oh.

"Calm, Hermewinnie."

Beruntung Luna Lovegood saat ini bukan Blaise atau Patricia atau Mrs. Burton yang menyamar. Atau habislah pita suara mereka. Debat panjang tiada akhir yang selalu dimenangkan gadis ini. Hermione paling tidak suka dipanggil dengan nama-nama alien konyol. Mione. Herm. May-ow-nee. .

Bedebah, cukup: Hermione.

Kadang ia bertanya-tanya apa arti nama itu.

Biasanya, Pat akan mengalihkan pembicaraan kalau Hermione mulai mencicit tentang asal mula nama anehnya.

Membosankan.

"Memenangkan lotere, huh? Binar wajah eksklusif hari ini."

Tetap dengan wajah serta vokal yang sama monotonnya, gadis berambut pirang kotor itu melanjutkan mengunyah permen karet di mulutnya sebelum menarik Hermione untuk berjalan di sisi kiri koridor khusus loker selatan.

Hermione mengerling sekilas pada gadis itu, kemudian menggeleng kecil. Aroma citronelle semerbak menyerbu hidungnya dari surai-surai pirang pucat Luna. Menyelipkan hawa ketenangan di setiap iringan napas.

"Cih, pelit cerita sekali," sindir Luna. Masih dalam pandangan tak fokusnya yang beredar lincah. Hermione yang lebih tinggi sejengkal dari Luna mendengus lirih ke arah lain.

Seperti ada yang kurang.

"Mencari apa, Herm?"

Tersentak mendengar celetukan tepat sasaran Luna, Hermione refleks memfokuskan visualnya pada Luna dengan kedua alis yang terangkat tinggi. Sebelumnya ia berpikir Luna tidak akan terlalu mengawasi gerak-geriknya. Didukung alasan fokus netra biru samuderanya yang berkeliaran tak tentu arah.

Siapa tahu gadis itu malah mengetahui apa dan siapa yang ia cari?

Bahkan lebih dari sekedar mengawasi.

Hermione menampilkan senyum meremehkan yang membuat alis gadis Lovegood berkumpul rapat. "Tidak ada yang harus kucari di sini—" jeda sejenak, "atau dimanapun."

Kerutan ganjil di bibir sewarna wortel milik Luna merupakan pertanda bahwa ia memang tidak sepenuhnya percaya pada Hermione. Ya, tentu saja. Pikiran gadis itu tidak sedemikian kembar dengan apa yang diucapkannya.

Hermione mendesah pelan. Di sini sama sekali bukan tempat mencari kepuasan. Begitu pula kesenangan, kemeriahan, apalagi kebahagiaan.

Di mana-mana juga tidak ada.

Semu.

Nomaden.

Gelenyar hebat menggapai ujung kaki Hermione dalam tiga belokan lagi tripnya menuju kelas astronomi. Awalnya merayap melapisi permukaan telapak kaki. Mirip sensasi kesemutan di atas lapisan es kutub utara. Kemudian menjalar secepat shinkansen sampai ke ubun-ubun. Kesemuanya sukses membuat gadis itu bergidik sekilas sebelum aura di belakang punggungnya mulai berubah.

Alterasi suhu tubuhnya mulai menghangat.

Hap.

Samar-samar, beban beku yang seolah menggelayut di dadanya meleleh. Bersatu padu melebur menebas taring kehampaan yang merajalela. Sejuk menghampiri sisi kanan hatinya. Sedangkan seonggok kesatuan yang selaras mengisi sisi kiri dengan desir angin musim panas yang menentramkan.

"Guys." Suara itu menghipnotis benak Hermione sekilas hingga ke retina terdalam.

Hazel dan safir bertemu di satu titik.

"Bagaimana kabarmu, Hermione?" Draco menampilkan senyum safinya seraya mensejajarkan jalannya yang bak aristokrat muda di samping Hermione.

"Kabar yang sama setiap harinya," jawab Hermione datar. Kondisi yang jauh berbeda dengan suasana dalam dadanya yang mirip letupan seribu popcorn.

"Sebuah senyuman akan membuatmu lebih baik. Cobalah." Draco mencontohkan cara tersenyum yang sempurna. Luna terkikik geli di sisi kiri. Bagi Hermione sekarang, senyum lelaki itu lebih dari kata sempurna. Poni platinumnya yang berpotongan rapi ikut berayun ketika senyumnya mengembang seperti parasut.

Mau tak mau, gadis berambut lebat itu tertawa pelan. Tapi cengiran itu mulai lenyap ketika bidang pandangnya terjatuh ke bawah. Lagi-lagi, Draco memakai kaus kaki pendek beda warna. Hitam dan cokelat.

Kaitan-kaitan antara hubungan ikatan darah serta kekeluargaan Luna dan Draco mencubit saraf penasarannya.

.

.

Apa, keduanya benar-benar buta warna?

.

.

Lalu bagaimana dengan ...

.

.

bola terbakar,

.

.

kubah mirip perisai warna hitam—tanda komunikasi?

.

.

kemunculan gadis Lovegood itu secara yang terduduk tiba-tiba di kursi penumpang,

.

.

mantra pelindung mobil,

.

.

dan pelayangan sebuah buku dari keteledoran genggaman eratnya ...

.

.

.

See? Sinyal gejala apa lagi yang masih harus ditunggu untuk menyimpulkan bahwa mereka,

.

.

.

Penyihir?

.

.

Raksi seperti tumpukan kapas steril selalu menyelimuti bau tubuh mereka.

Dalam salah satu buku Witch Is Not A Freak yang ia baca ...

Aah, ...

Seandainya, menguak profil asli ganda pirang itu semudah mengupas kulit apel.

Luna sempat mencuri pandang ke arah Hermione yang kedapatan mengernyit setelah memperhatikan kaus kaki mereka. Matanya kembali menyipit dengan binar tak tenang.

"Dan Loon, kau meninggalkanku—"

Mendengus malas, Luna membenahi belahan rambutnya yang belum lurus. Permata aquamarine-nya berotasi lambat, "Laki-laki tidak akan mandi selama setengah jam lamanya."

"Jangan merubah kata menjadi taka, Miss Lovegood. Durasi mandiku hanya setengah dari fitnahmu."

"Jaga image, huh?" Luna melirik Draco sepersekian detik sebelum menatap Hermione yang memasang tampang antara ingin berbicara, atau malah yang paling diam. "Hati-hati dengan rayuan gombalnya, Hermewinnie," candanya dengan tawa tertahan. Hermione merona kritis. Rencananya, dalam tiga hitungan mundur dia akan meledak hanya karena tersipu konyol.

"Ya ampun, aku bukan lelaki murahan macam itu." Sang lelaki pirang tegap mencibir mendengar kalimat lancang sepupunya. Kedua alis gadingnya terangkat melawan gravitasi dengan canggung. Bahkan sangat jarang sekali Draco kelihatan salah tingkah. Frasa salah tingkah tidak ada di dalam kamusnya. Lekuk kaki-kaki jenjang sempurna idaman seluruh gadis di dunia milik pemuda Malfoy itu terus membawanya membelok ke tikungan koridor barat.

Berjalan diapit dua pilar besar seperti milik Kuil Luxor di Mesir membuat Hermione serasa menjadi patung Fir'aun yang berdiri anggun dihiasi ratusan kilogram emas murni. Perasaan kelewat senang melebihi lotere dibandingkannya dengan euforia berjalan di koridor utama bersama 'orang-orang yang sudi' dengannya. Dua orang ini. Satu terlihat berwawasan, ramah dan menyenangkan. Yang satu lagi, pemacu jantung otomatis, dan mirip bumbu pelengkap dalam mi instan. Omong-omong, mirip dengan hidup 'era baru' Hermione yang serba instan.

Serta berpotensi.

Dilihat dari beberapa orang yang berlalu-lalang tersenyum takzim ketika lelaki ini lewat. Tak lupa melengos sinis pada sang Hermione Granger. Awalnya tatapan penuh tanya seolah-olah mereka melihat penyu berjalan setegak manusia. Yang kemudian lebih dominan menjurus ke arah mencekik.

Memang, berpotensi—

..

..

..

Berpotensi menimbulkan gosip yang merujuk pada semakin parahnya reputasi kelam Hermione Granger. Beberapa pasang mata dan mulut yang melintas menguarkan pemikiran bahwa gadis gila itu berhasil mencuci otak Luna Lovegood dan Draco Malfoy untuk 'berkawan' dengannya. Radar gadis itu menangkap banyak selongsong membara yang tertuju padanya. Mau tak mau dan karena ia punya telinga, Hermione mulai sakit kepala.

Tidak setelah Draco Malfoy tetiba mendaratkan payung sekuriti yang menyelubunginya aman bak selimut kulit beruang kutub.

.

.

.

"Aku akan serius berniat mengadakan seleksi ulang penyerang tengah kalau kau terus berjengit seperti katak, Smith."

"Kau gila!"

"Tidak telanjang dan berlari sepanjang koridor. Aku tidak gila." Ia berkata final. Lawan bicaranya menekan ludah hingga ke perut.

.

.

Atau,

.

.

"Kredibilitasmu akan kupertimbangkan lagi untuk menjadi panitia Schapel, Romilda Vane."

"Aa—nope, nope ..."

.

.

.

Atmosfir yang 'kejam', rahang sempurna yang terkatup sinis, nada bicara yang memastikan lalat bisa bunuh diri, sinar mata yang beku—

Draco Malfoy yang ramah, bisa bertransformasi menjadi Draco Malfoy yang gahar.

Semuanya hanya memiliki satu hak di bawah kalimat-kalimat lelaki itu. Hak untuk mencibir jengkel di sela-sela napas Draco yang masih tertata apik meskipun gencar membombardir setiap bilah mulut dan ekspresi wajah yang menciptakan roman anti Hermione Granger.

Hermione merasa kecil, encer. Ia tidak begitu jauh berekspetasi bahwa Draco Malfoy memiliki supremasi yang lumayan muluk di jagat sekolah ini. Rutinitas sehari-harinya yang jarang keluar kelas, kecuali untuk hal-hal urgen seperti toilet dan kafetaria, semakin memantapkan gadis itu bergelar ratu anti-sosial stadium tujuh. Bahkan untuk kafetaria pun, ia hanya memakai jatah waktu tiga hari sekali untuk mengunjungi tempat beraneka ragam makanan yang pas di kantong, sekalian memangkas habis pengeluaran Pat yang hanya bekerja paruh waktu sebagai manajer toko pernak-pernik tua di sudut Ottery st Chapole.

Sementara Luna Lovegood, orang-orang lebih memilih kata 'jaga jarak'. Karena mengucilkan adalah kata yang kurang tepat untuk gadis itu. Ia hanya dihindari lebih dekat, bukan dikucilkan. Ia hanya terlihat kurang untaian saraf fokus, bukan kurang waras. Ia ditakuti karena kemampuan maha-segala-tahu, bukan karena kekuatan konyol yang meledak-ledak tanpa kendali.

Dikucilkan, kurang waras, sering lepas kendali, lebih menyatu pekat dalam nadi Hermione Granger.

Pancaran visual magis Luna menyiratkan kekuatan besar yang gemerlap. Mengalahkan ribuan asteroid siap tubruk per detiknya. Seolah mengendalikan raut wajah murid-murid yang hendak menjulurkan bisa verbal mereka terhadap sang gadis cokelat gelap terapit, Lovegood menyamarkannya dengan langkah yang dirasa bertambah cepat untuk sampai ke muka pintu kelas astronomi.

.

..

...

...


Jika dampak menakjubkan yang kudapat dari lelaki itu adalah semacam sensasi elektrik yang
beresonansi di sekujur tubuh ...

Maka pengaruh itu mulai pudar. Ketika Draco meninggalkanku dan Luna menembus kerumunan di depan. Ia bilang ada urusan kecil.

Aku ternyata kurang fokus, bahwa sedari tadi penyelamatku itu menggenggam handphone hitam di tangan kanannya.

Kukira, tanduk kehampaan bersiap untuk kembali meruncing setelah ia pergi.

Lagi-lagi, aku salah persepsi.

Dalam jurang hati yang tak berdasar, seonggok kehangatan ternyata masih mengalir di dalamku. Entah ion-ion luar binasa Draco yang masih tersisa, atau—

Aku tersentak ketika tanganku serasa dirubungi semut merah besar-besar. Meringis ketika rasanya semakin hangat, lalu panas menggigit. Panas yang tidak menginfeksi.

Luna menggenggam tanganku cepat seperti menarik tali kereta kuda.

Ia ...

Mereka.

Iris oakleyku meredup otomatis ketika menyadari keabsenan gadis merah tembaga itu diantara kilauan aksesori berlian Vivax yang mengikis kornea mata.

Entah, aku menafsirkan bahwa, Ginny Weasley terlihat berusaha menghindariku.

Ia merombak jadwal kelasnya yang sebelumnya kembar denganku.

Manik sardony keperakan itu menatapku porsais. Dari sudut sana.


xxx

.

..

...

...

"Awal ditemukannya Quasar adalah sekitar tahun 1960an, waktu itu Quasar masih dianggap sebagai bintang. Pada tahun 1960, seorang astronom bernama Alan Sandage yang bekerja di Observatorium Mount Palomar menyatakan bahwa Quasar tenyata memancarkan sumber radio—"

"Miss—"

Wanita bersurai cokelat keabuan itu mengerling penuh semangat. Matanya berpendar terang tatkala menangkap tangan murid favoritnya yang teracung.

"Sungguh aneh, karena tidak biasanya ada bintang yang memiliki karakteristik dominan di sepanjang gelombang radio." Hermione menelan seluruh saliva dalam pangkal tenggorokannya lambat. Sementara hening nampak sukses menguasai kelas. Bisik-bisik sinis di tiap sudut merayapi daun telinganya dalam gaung kisaran 30 desibel.

Memang, baru kali pertama inilah seorang Hermione Patricia Granger nampak memiliki keberanian—atau perasaan bosan hidup— 'menyanggah' pernyataan salah satu guru baru di Sekolah Tinggi Hogwarts ini. Jika biasanya ia berkonsentrasi pada setiap pelajaran dengan menguburkan dagu dalam-dalam di celah antar hasta dan pengumpil, sementara metakarpalnya bergerak ritmis mengorganisir seluruh catatan super lengkap dalam buku-buku setebal bantal guling.

Keadaan berkebalikan sekarang.

Samudera hazelnya bervergensi, antara membagi citra untuk memusat-pandang pada Miss Oriane—

Dan menghindari efek binokular visual tajam Pansy yang menghantam dari posterior matanya.

Dibelakang Pansy, sorot amethyst yang sesak dengan binar ramah mengundang kerutan alis di kening Hermione. Sorot yang kembali menggali memori setahun silam yang dikuburnya rapat-rapat dimana binar itu sungguh-sungguh bersobat karib dengan hazel rapuhnya.

Ia ... tersenyum pada siapa?

Gadis itu berasumsi, Astoria Greengrass hanya mengkamuflasekan watak pedasnya.

Gadis itu hanya tersenyum ramah padanya, dibalik punggung Pansy.

Senyum artifisial.

Dengan alasan yang masih kalis.

o

O

o

"Tapi aku masih ... penasaran," oceh sang lelaki berambut mangkok puding. Matanya tetap terpancang lurus ke depan, namun konsentrasinya hanya pada si sahabat pirang semata.

"Ya, dia buatku tertarik dalam pertemuan pertama."

Vincent Crabbe mendengus redut menyikapi kebiasaan buruk lelaki itu. Jawaban yang selalu alakadarnya. Jawaban yang selalu menumbuhkan keinginan untuk menggorok tenggorokan pemuda Malfoy itu tanpa basa-basi, hanya untuk menagih kata-katanya yang menggantung menyebalkan.

"Lalu kau akan menariknya ke ranjang seperti Anthony ..." Pemuda tambun nyaris tak berleher itu sengaja memenggal kalimatnya, kemudian melirik cepat ke arah Draco.

"Apa penampilanku sebusuk itu?" Draco Malfoy bicara setenang mungkin.

"Hmmm—" Vincent tampak berpikir sesaat, tak menyadari sinar berbahaya yang melintas pekat di manik biru safir sahabatnya.

"Kupastikan kepalamu yang akan terpenggal—"

"Tidak. Oke—tidak! Dasar kejam," gerutu Vincent defensif, memalingkan wajahnya. "Trofi perjaka suci melekat erat padamu, yeah."

Mengesampingkan segunung ilmu angkasa luar yang sedang ditransfer oleh Miss Oriane kepada seluruh kelas, Draco memutar tubuhnya ke samping sembari memangku dagu dengan telapak tangan.

"Dia adalah perempuan dalam mimpiku," bisik Draco dengan nada terbuai, membuat Vincent menekuk alis khawatir.

"Aku pernah melukis seseorang setahun silam di atas kanvas sweeding,

siapa sangka,

ternyata sosok itu tak jauh berbeda dengannya."

Kedut cemas yang menyambangi sudut bibir Vincent bertambah gila.

Draco Malfoy bukanlah seorang Cassanova di jagat raya Sekolah Tinggi Hogwarts—jika ada yang bercokol seperti itu, katakanlah, ia hanya berdelusi ria. Tapi tetaplah, keturunan lelaki terakhir trah Malfoy itu menapaki peringkat kedua sebagai Lelaki Paling Berpengaruh setelah Si Maha Seksi Anthony Goldstein.

Rambut pirang platina yang tergerai elegan mencaplok dahi,

Rahang simetris bagai pangeran-pangeran kerajaan dalam dongeng anak-anak perempuan yang melegenda,

Rangkaian tulang belulang yang membentuk sebuah rangka tegap berlapis kulit pucat halus dengan kaki jenjang seorang atlet,

Senyum otentik menghipnotis yang selalu dibagikannya kepada siapa saja di saat hatinya beriak senang,

Panorama surgawi yang menyejukkan sanubari dikala semua orang bertatap dengan permata biru seluas samudera yang menambah kesan sempurna sebagai personalitasnya,

Draco Malfoy memanglah seorang pemuda dengan sejuta kesempurnaan ragawi yang mudah diindra oleh orang lain dari luar, namun,

Ia sama sekali tidak pernah 'menjamah' satupun dara di muka bumi ini.

Ia bukan lelaki yang rela digelayuti gadis-gadis kenes yang menjajakan tubuhnya secara cuma-cuma.

Classy. Kedewasaan menjadi seorang pria sejati.

Kendati banyak orang yang bercicit itu semua hanyalah pencitraan.

Tapi, yang diucapkan lelaki itu benar.

Terlalu suci.

"Jadi ... gadis itu merubah cara pandangmu terhadap hidup?" tanya Vincent retoris. Meniupi pulpennya yang berguling di atas buku tulis.

Draco mengangkat bahu lengkap dengan senyumnya yang menerawang. Salah satu tindakan yang mendukung gejolak magma dalam perut Vincent Crabbe semakin parah.

Vincent menghembuskan napasnya dalam-dalam. "Aku tidak mengerti kenapa aku bisa tahan berteman denganmu, Drake," kekehnya, "tapi mungkin, inilah hidup. Dan manusia, layaknya rumpun bunga yang tumbuh di hamparan luas bukit-bukit sampai ke saluran air sekalipun, memiliki karakteristik yang beraneka ragam. Kusebut kau Rafflesia Arnoldi."

Vincent tidak menduga Draco akan melotot garang setelahnya, tidak terima disamakan dengan tumbuhan super bau yang menurutnya tak pantas disebut bunga. Keduanya terlibat adu sikut hebat, seolah takkan pernah mengundang perhatian Miss Oriane.

"Mr. Draco Malfoy dan Mr. Vincent Crabbe?"

o

O

o

Aha!

Gadis itu mulai mencium sengatan ketidakberesan. Perisai transparan itu ternyata melingkupi kedua lelaki tersebut sedari tadi. Indra pendengarannya yang mampu menangkap intensitas suara serta getaran amplitudo sekecil dan sejauh apapun, gagal menembus dialog yang terbungkus aman dalam tameng milik Draco.

Kadang-kadang, memiliki fortitude seperti itu sangat meresahkan. Cemoohan geng Vivax yang bergumul di meja pojok belakang ikut terjaring carut-marut merusak koklea. Lalu bisingnya jalanan utama depan sekolah yang menusuk-nusuk.

Setidaknya Hermione setingkat lebih mahir ketimbang gadis blondie kriwil yang dijuluki Telinga Terjulur, tepat di depan batang hidung.

Butuh alasan ekstra rasional untuk membuat gadis blondie itu bisa duduk tanpa berkeringat dingin di samping keduanya. Berkali-kali adu debat dalam bisikan sadis dengan kesangsian Luna Lovegood terhadap eksistensi Ratu Gosip yang dalam sekali lompatan bokong padatnya pindah ke meja mereka.

"Kau boleh duduk. Tetap diam atau rambutmu akan habis."

Hermione Granger menemukan noktah terang pada iris misterius Luna Lovegood sekaligus Draco Malfoy bahwa,

Orang akan berlaku baik kepada siapa yang baik.

Dan berlaku buruk kepada siapa yang tidak buruk.

Tapi tetap saja. Masih terlalu jauh untuk menggapai titik pusat mereka yang terdalam, pikir Hermione.

"Jadi, kenapa quasar tidak bisa menyedot black hole?" Lavender Brown mengarahkan pertanyaannya pada gadis itu.

Hermione melirik sekilas ke arah Luna, yang menelungkupkan wajah pada datarnya bidang meja kayu ini. Kemudian melirik ke seberang.

Lavender bertanya padanya.

"Jawab dia, Hermione," ujar Luna dengan suara berkumur-kumur tanpa mengangkat wajah.

"O, oh—karena kira-kira quasar merupakan hasil dari aktivitas lubang hitam supermasif, maka black hole itu merupakan inti quasar, Brown," jawab Hermione canggung sembari memainkan pensil mekanik, "seperti telur ceplok, bagian putihnya merupakan quasar. Bayangkan sebuah galaksi. Namun kekuatannya nyaris 90% kekuatan cahaya."

"Itu masih hipotesis, ya?"

"Seandainya aku bisa kesana sekarang juga, aku akan menjawabnya, Brown." Hermione tersenyum kecil.

Lavender mengangguk-angguk paham. Kekaguman mini tercipta dalam dasar persepsinya tentang Hermione Jean Granger.

"Kuharap suatu saat aku berkesempatan menulis artikel tentang astronot wanita masa depan yang maha cerdas, Granger."

.

.

.

xxx

.

.

.

Pansy Parkinson berpaling kikuk saat tatapan tak terdefinisi milik Hermione Granger merebut atensi iris turqoisenya di ambang pintu kelas. Kombinasi antara tawa dan senyum terancam.

Aneh.

"Berani menatapku sekarang?" Pansy berkacak pinggang disertai suara sekeras petir.

Hermione sengaja berhenti di depan hidung Pansy, menatapnya lama tanpa bernapas. Mengerutkan dahinya risih, gadis anak kepala sekolah berjambang rimbun itu hendak mendorong bahu Hermione yang absen bergetar kali ini.

Dan gadis itu terbelalak. Terpaku pada kilatan di atas angin yang dimeriahkan deburan iris hazel rivalnya.

Tatapan yang seakan menghisap semua keberaniannya tak bersisa.

"Lainkali perhatikan privasi pentingmu untuk menjatuhkan seseorang," Pansy mereguk ludahnya tanpa sadar, "sepertiku."

Jelas.

Gadis Parkinson itu semakin bingung.

Apa maksud Granger?

Tidak. Tidak mungkin ia bisa tahu bahwa fotonya telah sirna.

Hermione berlalu bagai angin malam dibasahi sinar rembulan sesudahnya, yang tak lama diikuti sang laki-laki pirang platina.

"Halo, Pansy," sapanya sekilas.

Seakan ada batu stonehege yang menimpa pundak, Pansy Parkinson melenguh panjang. Terheran-heran akan Draco Malfoy yang melenggang mengekori gadis busuk itu tanpa malu-malu.

Sebenarnya,

Apa yang dilakukan Hermione Granger?

Apakah ada wujud asli dalam bentuk kerapuhan itu?

Apa yang—

Apa.

"Da bitch," komentar Padma Patil sarkastis, menghampiri Pansy yang terbengong-bengong idiot.

"Mau kemana, Tori?" Sikap Astoria yang nyelonong keluar kelas tanpa menyapa keempatnya mengundang kening yang saling bertautan.

Bungsu Greengrass itu menggeleng kaku, giginya menjepit bibir bawah, tanpa berkedip.

"Tidak ada."

Lavender Brown melintas di depan mereka dengan setumpuk buku serta wewangian parfum Chanel yang menempel di sekujur tubuh. Tanpa tedeng aling-aling tangan panjang Pansy menarik ujung blus motif plaid gadis pirang itu kasar. Bibirnya memicing sadis dan tajam. "Kau. Apa yang kau dapat dari," Pansy berlagak meludah, "mereka?"

Lavender berjengit mundur melepaskan cengkeraman kuat pentolan Vivax sambil mencibir tidak suka. "He-loo aku bukan budakmu, Parkinson," ujarnya sengit.

"Bagaimana dengan sweatshirt Lacoste keluaran paling segar, baby?" bisik Parvati Patil sarat dengan siulan bujuk rayu.

"Hmm," ia bergumam, "aku bukan anak kecil penggila Santa Claus lagi, jadi, bye."

.

.

xxx

.

.

Kebekuan menyiksa itu akhirnya mencair saat Hermione mengangkat wajahnya yang tertunduk. Melayangkan seutas senyum semanis kelinci paskah yang mampu menumpulkan kewarasan lelaki itu.

Senyuman langka.

"Tenang saja, oke? Aku yang traktir." Draco menyunggingkan senyum meriahnya. Dua gelas kopi hitam serta tenderloin double terduduk nyaman di atas meja kafetaria.

"Oke, mari makan," ucap Hermione cerah. Tak mengindahkan peringatan Blaise Zabini yang dinyalakan relung kalbunya.

Ia tidak berbahaya, Blaise.

Dan seorang gadis berambut panjang sehitam tinta gurita hanya bisa tersenyum kering. Sekering hatinya yang mulai retak-retak tak karuan. Tak kuasa menyaksikan kenyataan pahit yang menghujam visual, kakinya melangkah pergi dari pilar tempatnya mengintai.

Seolah tidak ada lagi kekuatan sebesar yang kemarin lusa dilakukannya pada gadis itu untuk menghampiri keduanya.

Inikah karmanya?

Karma pada bekas sahabatnya?

Pada gadis itu.

o

O

o

Terlalu rumit untuk memulai.

Keduanya bersandar kokoh di permukaan kursi kayu yang keropos akut. Batalyon rayap seolah tak jenuh-jenuhnya menginvasi serat kayu malang ini habis-habisan. Sekali salah berposisi, dua anak Adam dan Hawa itu berpeluang besar menggelinding ke kiri seperti karung beras tak berdaya. Semilir angin nakal bermain di sela-sela bulu mata tanpa izin, membiarkan anak-anak debu menyusup ke dalam indera penglihatan.

"Draco," panggil gadis itu tanpa bergerak sedikitpun.

Kriet.

"Nom, nom—em, enak sekali," Lelaki itu berhenti mengunyah banyak cokelat dalam mulutnya, "ya? Mau lagi? Yang bungkus warna hijau ini lebih lumer." Draco menawarkan sepotong cokelat berbungkusan biru dari balik sakunya.

Itu biru.

Hermione menggeleng, tersenyum penuh arti.

Draco Malfoy mengidap buta warna parsial.

"Aku kenyang."

"Benarkah? Hmm."

"Tampangmu menyebalkan, uh," sergah Hermione mengerucutkan bibir. Lelaki itu tertawa lepas, namun tetap memberikan cokelat hijaunya pada Hermione.

"Simpan dalam tasmu. Siapa tahu beberapa menit lagi kau ngidam cokelat dan persediaan dalam sakuku sudah ludes." Draco kembali nyengir, dan afeksi sorot matanya kembali menyuntik pusat jiwa Hermione.

"Terima kasih," tandas Hermione ringan. Terima kasih. Dua kata ajaib yang mengandung makna tak hingga. Terima kasih untuk menjadi teman. Terima kasih untuk tidak mengucilkan. Terima kasih untuk pengisi kekosongan, dan masih banyak lagi.

Tanpa disadari, gadis itu memasukkan cokelatnya ke dalam ruas tas bagian depan yang berisikan belati emas tersebut. Matanya membulat tatkala belati itu berusaha keluar secara paksa ke arah Draco. Tingkah barbar Hermione yang menyerupai mimik orang tengah perang bantal membuat Draco mengernyit. Tanpa ampun, kelihatannya gadis itu menekan tasnya beringas seakan didalamnya terdapat banyak ekor hamster malang yang berusaha melarikan diri dari kejamnya dunia.

.

.

.

"Kill him ... My Mione-nee ..."

.

.

.

Hermione tertegun. Suara itu lagi.

.

.

.

"Kill him ... My Mione-nee ..."

.

.

.

Kepalanya serasa berputar-putar di atas pusaran angin tornado.

Mual mulai menyerang kerongkongannya. Cicitan mirip tikus yang bergumul di otak encernya terus melejit-lejit sengau. Tak luput memburu napasnya dengan jantung memompa melebihi batas normal. Vokal keji mengiris yang berdampak pada tangannya yang kaku. Bola matanya berlarian kesana kemari seperti sedang mencari-cari arah.

"Hermione? Ada apa?!"

Menarik resleting kasar supaya tertutup kembali, Hermione terengah-engah dengan aliran keringat dingin yang menyambangi wajah piasnya. Matanya terpejam erat. Berharap malapetaka ini segera reda.

"Pusing," desah Hermione letih, menyangga kepalanya dengan tangan. Sapuan lembut sapu tangan abu-abu Draco nyaris menyentakkan jantungnya melesak menembus tulang punggung. Tak hanya menghapus peluh, penyekaan itu ikut menyapu bersih pening yang mengitari kepalanya.

Genggaman tiba-tiba gadis itu pada pergelangan tangannya menyulut riak air yang ber-trampolin seenak jidat di ranah torso Draco Malfoy.

"M-Maaf kalau aku lancang," lirihnya berupaya menjauhkan kontak sapu tangan dengan kening sang gadis. Namun, rupanya hal itu berkontradiksi dengan apa yang dikehendaki Hermione. Tangannya kembali menuntun tangan Draco menjelajahi area denyutan yang menjalar ke ubun-ubun.

Hingga akhirnya sirna sudah.

"Boleh aku bertanya sesuatu?" desis Hermione setelah menata rapi napasnya.

"Bertanya tentang apa?" sahut Draco, masih diliputi rasa cemas.

"Apa," Hermione menelan ludah, "kau percaya tentang sihir?"

Kilatan ragu serta permainan jungkir-balik mata Draco Malfoy melemparkan kesan bahwa lelaki itu tak berniat menjawab pertanyaannya sekarang. "Terlebih dahulu, aku ingin menanyakan hal serupa padamu. Sebab, saat pertama kali aku menyinggung dengan praktekmu itu, kau juga tampak lebih memilih untuk mengalihkannya."

"Itu karena aku ... aku buta tentang diriku sendiri." Pertahanan paling sensitif dalam diri Hermione berlubang perlahan. Acara buka kartunya menetas dini. Genangan air mulai menggantung di bingkai mata.

Ia terperangah. "K-Kukira kau sudah tahu?" bisiknya iba, "tenang, tenang. Kita akan mencari tahu—"

Duak.

Draco meringis kesakitan tatkala bola baseball brengsek kembali menyatroninya. Kali ini, bola itu hoki.

"Draco! Kau oke?" sentak Hermione terkejut. Hazelnya menelisik bekas hantaman bola lonjong itu di dahi Draco.

"Ya Tuhan, ini oke. Wait a minute, Hermione. Urusan kemarin, antar cowok," ucapnya buru-buru. Meraih tas dan setengah berlari. Tak sampai sepuluh detik berlalu, tungkai kaki panjang lelaki Malfoy itu sudah berada di tengah lapangan.

.

.

"Itu sakit, idiot!"

.

"Hehe, maafkan kami—"

"Haha-hehe, kau yang melempar, Mr. Potter! Bukan kami."

.

"Bola darimana yang kalian pakai itu? Sumbangan?"

.

"Sumbangan Goldstein Foundation—"

"Owen Caldwell."

"Oke, oke, hanya gurauan, Thony."

"Draco Lucius Malfoy, bola yang hangus kemarin bergaris-garis biru! Bukan hijau."

.

"Tolong jangan seperti wanita yang salah membeli pakaian dalam, semua warna sama saja. Ambil."

.

"Sok pernah melihat saja—ayo ikut latihan, Drake! Absenmu dihitung dobel oleh Mrs. Hooch."

.

"Kau tahu lututku cedera, 'kan?"

.

"Cedera apalagi? Salah otot sehabis bercinta dengan gadis itu?"

.

"Shut up ye—"

.

.

Gadis itu memutuskan untuk tidak mendengar debat kusir tersebut lebih jauh lagi.

Tidak ada lagi yang perlu didengar.

Tidak ada lagi yang perlu didengar.

"Orbs!"

Bunyi ranting patah yang sengaja terinjak terdengar nyaring. Luna Lovegood mendekat penuh aura kepanikan terpilin di wajah.

"Orbs?" Hermione mendongak keheranan, "itu hanya mitos—"

"Kau percaya sihir, 'kan? Mana mungkin hal seperti ini beraninya kau bilang mitos!"

"Ak—Aku," Gadis itu tercekat, "percaya."

"Nah, tunggu apalagi? Itu sinyal paling berbahaya—"

Hermione menggeleng sekencang mungkin. "Tapi aku tidak percaya itu benar-benar ada! Penjelasan secara ilmiah yang sangat
masuk akal tentang orbs adalah adanya debu atau partikel cair, serangga berbentuk sangat kecil, atau material asing lain yang tertangkap kamera. Bukan mata—"

Gadis pirang pucat itu mendelik maju dengan mata membelalak. "Orbs adalah spirit ... jiwa siapa yang mengikutimu, Hermewinnie?" tanya Luna, suaranya mencekik bagai lonceng kematian.

"Bukankah—orbs, aku—aku percaya tapi, orbs dalam spiritual merupakan roh positif, Luna ..." Hazelnya memonitor awas medium udara di sekitar mereka berdua. Partikel itu telah lenyap diseret angin.

"Tidak semuanya positif," Luna mendesis berbahaya, "yang kulihat tadi orbs merah pekat. Jiwa kemarahan serta kegelisahan. Sanggup menurunkan nilai psikologis. Kau—sakit?"

"Tidak mungkin—"

"Jangan terlalu terpaku pada logika!" semprot Luna menghiraukan gelombang protes gadis keras kepala itu.

Hermione berhenti berkicau. Seluruh rasa penasarannya berkumpul di satu titik membentuk senyum kemenangan saat berhasil menyelesaikan puzzle seribu keping bertema konstelasi bintang Aquila.

.

.

.

.

"Jika kau menomorduakan logika ketimbang insting alamiah manusia dan mempercayai Orbs seyakin diriku berusaha mempercayai eksistensi fenomena tersebut—berani kupastikan kalian tak ubahnya sang pelempar cahaya dari ujung tongkat, era modern."

.

.

.

.

xxx

"Nox."

"Lewat sini."

"Oke, hati-hati, Hermewinnie."

Sang surya mulai rela bertekuk lutut di ufuk barat. Burung-burung yang tadinya mencipta nyanyian di sekitar area pohon willow sayup-sayup mengecil. Balada lalu lintas kusut-semrawut di sepanjang jalanan barat daya Inggris ini seolah menjadi ikon tersendiri bagi rumah-rumah apes pinggir jalan yang terdesak kebisingan serta gas karbon merugikan. Disaat raungan brutal para klakson semakin jauh terdengar, keheningan tak tertembus menyambut. Derik dedaunan kering yang terinjak tanpa ampun oleh ketiga insan tersebut menuntun angin sepoi-sepoi melaju ke dalam gang sempit tak bersaluran air. Seiring bertambahnya langkah, gang tersebut bertransformasi menjadi sebuah lorong gelap mirip labirin. Hanya cahaya remang-remang dari ujung tongkat si dua pirang yang mengapit sang gadis cokelat karamel berjalan dengan tentram.

"Awas, tiga langkah lagi ada lubang," peringat Luna sebelum munculnya jeritan panik.

"Khhh," desah Hermione Granger waswas. "Kalian tidak menggunakan mantra—em, mantra ... yang mirip teleportasi itu. Ini menyusahkan."

"Ya, kami ngeri kau muntaber, Hermione." Draco yang menjawab, tangannya melahap pinggang Hermione untuk mengangkatnya ke sebuah pintu bertangga zigzag besar.

"Terima kasih," bisik gadis itu malu-malu, melepaskan tangan Draco agar segera membantu Luna di belakang mereka. Memindai pemandangan menakjubkan sebuah mansion besar mirip puri kuno yang terbentang memanjakan mata, Hermione berjalan menuju air mancur besar di tengah-tengah taman yang rumit dimana banyak sekali angsa cantik yang membuainya.

Kerikil-kerikil berukuran sama membaluri jalan masuk manor sampai menuju pintu masuk utama. Pintu berlapiskan baja tujuh lapis yang tak akan kuat didorong selusin petinju dunia sekalipun. Alis keduanya terangkat tinggi tatkala Hermione kembali mengekori kedua pemilik rumah dengan kaus setengah basah dan wajah kekanakan yang berseri samar.

"Angsa-angsanya, jahat."

"Angsa? Merak albino, maksudmu," kikik Draco mengabaikan wajah Hermione yang terbakar malu.

O
O
O

"Tetangga baru?!" jerit kersit wanita bersurai merah jambu kepirang-pirangan menggetarkan guci-guci sepuh di deretan lemari terbuka yang menjulang tinggi. Dua mahkluk kecil berbusana putih bersih berdiam di sebelah lututnya. Menatap gadis itu berbinar-binar, sebelum satu dari keduanya melesat maju menghampiri kaki sang tamu.

"Hermione Granger," senyumnya luwes, "akh!" pekik Hermione histeris refleks menghentakkan kaki. Sepatunya yang berlumur tanah basah tersungkur jauh dalam tangkapan aman si makhluk keriput.

"Winky, lain kali minta izin itu penting!" Wanita merah jambu menggertak demi kesopanan di hadapan tamu. Winky terseret paksa kembali ke depan Hermione dalam sekali ayunan tongkat berlipit miliknya.

"Oh, tidak apa," gurau Hermione maklum, bergidik saat mencoba mengelus bodi kerempeng Winky, "jadi ini namanya elf—waa!"

Elf satunya menarik paksa sepatu kiri Hermione. Tanpa sempat berkedip, gadis itu tergelincir ke belakang sambil terpejam.

Empuk.

"Nah Dobby bodoh, lihat apa yang kau perbuat," decak Draco impulsif. Dobby menggerutu minta maaf, lalu menghilang di balik vas bunga. Buku-buku berterbangan dari sofa dan lantai secara serabutan. Menyisakan tempat duduk baru di bawah lukisan tua potret lelaki tua berjanggut uban lebat.

Luna menggeleng santai melewati sepupunya dan Hermione yang saling tangkap-menangkap picisan. Bola kecil mirip jam pasir berisi kristal bening tetiba terisi penuh ketika Luna melewatinya. "Lelah seharian penuh," keluhnya membanting badan di sofa, "Nymphadora, aku perlu tahu, apakah tatap menatap perlu waktu lama?"

"Itu sih, terserah orangnya," sanggah Draco sinis, mengkamuflase gejolak hebat dalam dada yang meletup-letup menembus epidermis. Rona pekat menggantung di pipi Hermione sekilas, kemudian hilang disapu bola kristal berpendar yang merebut atensinya.

Nympadhora Tonks melayangkan senyum geli pada keduanya. Gestur menepuk sofa Tonks yang disinyalir Hermione merupakan perintah untuk duduk membangkitkan tenaganya yang sempat lenyap akibat kaget. "Jadi, kita bisa mulai siapa dan segmen mana asalmu, dear."

"Aku belum tahu." Hermione menunggu Draco melewati bola itu terlebih dahulu.

Kristalnya hanya terisi setengah ketika Draco Malfoy menepi.

"Giliranmu," katanya.

Tuk. Tuk. Tuk.

"Wah, kalian sama!" Luna terdengar girang.

Volume kristal mereka sama. Sama-sama terisi setengah wadah.

"Segmen campuran, kalian bisa berpasangan dalam patroli." Tonks mengambil bola tersebut, meneliti rekam jejak Hermione. Ada satu kristal yang menarik, kristal biru muda.

"Maksudnya adalah, kau penyihir, oke. Hanya saja half—tapi bukan half menyinggung kasta darah seperti di buku-buku usang pustaka sekolah. Half yang bebas. Sebagian diri kalian masih menyatu dalam kebebasan," terang wanita kira-kira berusia dua puluh tiga tahunan itu tanpa ditanya.

"Apa kau benar-benar tak mengenali dirimu?"

Tetap saja.

Gadis itu masih kurang paham.

Sementara Hermione bertanya-tanya apakah ia sekarang adalah manusia paling bodoh di lingkup para penyihir ini, sebuah suara dingin menyusup membawa aura menekan di sekitarnya.

"Apa kau punya jawaban siapa pasanganku berpatroli, Nymph?" tanya suara tersebut dingin, seolah tak pernah mendapat penolakan.

"Fleur," sapa Tonks datar, "Aku punya—"

"Dan kau, Hermione Granger?" desis gadis berhidung bangir ala model dengan nada yang menyempit. Ia memiringkan kepala sampai potongan jenis berlian kalung DeBeers Marie Antoinette tersibak elok. Kontras dengan kulit rupawan seputih bunga saljunya.

Kalung serupa yang digadaikan Patricia demi biaya pendaftaran Hermione masuk sekolah di gelombang terakhir.

"I-Iya, aku Hermione Granger," jawabnya sopan. Entah sudah kloter ludah keberapa yang sukses tertelan kilat, Hermione merasa lemas di bawah tatapan normal Fleur yang terkesan apatis.

Oliver Wood!

Fleur Delacour adalah kekasih Oliver Wood ...

Fleur Delacour juga adalah kakak dari Draco Malfoy.

Fleur Delacour juga adalah kakak dari Draco Malfoy..

Fleur Delacour juga adalah kakak dari Draco Malfoy...

"Kenalkan, anak sulung keluarga, Fleur Delacour Malfoy," timpal Draco santai, melahap kacang terakhirnya. Dalam situasi sedingin ini, Hermione mengutuk dalam hati lelaki pirang doyan makan tersebut yang hokinya tetap kurus atletis. "Copot tampang seperti itu, Flo. Her-my-own bukan anak preschool lagi."

Ada yang merona sawan lagi ketika Draco menyebut gadis itu, Her-My-Own.

Aa.

"Kakak Draco," jelas Luna lebih sopan.

Kakak, kakak, sepupu, sepupu. Tidak ada tanda-tanda yang mengindikasikan munculnya orang tua—atau setidaknya orang yang lebih tua serta bertindak sebagai penguasa di manor ini.

"Kau bisa pergi dengan Antares, Fleur. Kita perlu ke Mr. Ollivanders ntuk mendaftarkan tongkat yang cocok untuk dia." Nympadhora Tonks mengedikkan kepala pada Hermione, kemudian menatap ke arah jam besar.

"Khn," dengus Fleur mencari tempat duduk, tanpa memutuskan pandangan yang membekukan Hermione sampai ke sumsum lanjutan. Ayunan rambut pirang keperakannya yang sehalus sutra jadi terasa setajam duri di kulit gadis Granger itu.

Jika berada di dekat Luna Lovegood bisa menyeruput isi pikiran siapapun perlahan-lahan, maka berada satu ruangan dengan pentolan angkatan tingkat tiga Sekolah Tinggi Beauxbatons sekaligus kapten pemandu sorak tersohor nyaris di seluruh barat daya Inggris ini bisa merontokkan folikel rambut dan seluruh kecantikan yang kau miliki.

Fleur, merupakan manifestasi sosok malaikat.

Jelas. Radiasi senyum asimetris terpaksa gadis seseksi mermaid itu memunculkan satu pemikiran absolut di logika Hermione. Sinar kirana yang berkata bahwa suatu saat yang tidak akan lama lagi, keduanya bakal dihadapkan empat mata dalam rangka memangkas hal pribadi mereka secara betina.

Membayangkan duel maut secara betina telah membuat Hermione menyepak jauh-jauh ide gila tersebut ke Pluto. Tak terhitung berapa banyak helai rambut yang tercabik-cabik barbar akibat perseteruan unggas buruk rupa dan angsa Danau Hitam yang saling jambak.

Tapi Fleur Delacour Malfoy bukanlah gadis temperamental.

Ia gadis terhormat.

Meski dalam kondisi kritis dimana seseorang berada di titik cekat artikulasi, sekelebat pertanyaan yang mengganjal di amandel Hermione bersikap acuh pada keinginan pemiliknya. "E—er, maaf. Maksud patroli, tongkat, itu untuk apa ..."

"Oh ya, ikut kami, Hermione. Draco, Lun, Flo, kepak para perkamen. Hubungi Weasleys untuk membuka gerbang hutan."

Weasley?

.

.

W

E

A

S

L

E

Y?

.

.

xxx

.

.

.

"Ada yang tidak beres dengan anak itu, Nymphador The Matador."

Sang sepupu menggeram jengkel. Ia benci dipanggil Nymphador. Apalagi pakai embel-embel The Matador. Kalau orang itu bukan sepupunya, mulutnya pasti sudah terjahit rapi sejak tadi.

"Siapa suruh mengabaikanku," ucap Fleur sarkastis.

"Memangnya aku tidak jenuh mendengar cicitan kekanakanmu?" balas rambut merah jambu terang sambil menoleh ke belakang. Dimana dua orang gadis pirang serta cokelat tampak berupaya menarik sang lelaki pucat dari dalam sebuah lubang rumput. Jebakan pamungkas para pixie usil. Angkat, gelincir. Gerah karena tak kunjung berhasil, lambaian tongkat walnut Luna akhirnya sukses mengangkat korbannya dalam kondisi belepotan tanah naas.

"Khkh," gelak Tonks di antara putaran cepat bola mata biru laut milik Fleur.

"Muffliato," rapal siswi multitalenta sebagai aset penting Beauxbatons itu verbal. Pijar dua cahaya lentera penuntun trip kelimanya menuju ke dalam hutan berkedip-kedip tertiup angin. Terpisah beberapa langkah di depan antara tiga murid Hogwarts tingkat dua, Fleur merapatkan diri pada sang kakak sepupu.

"Dia harus jauh-jauh dari kita! Itu perintah, Nymph."

"Fleur ..."

"Granger itu kesalahan," ulangnya lagi.

"Kalau kau menudingnya atas dasar masalah sempat terbitnya foto palsu itu, lupakanlah!" Tonks melambaikan tangannya acuh. Tahu betul karakter Fleur yang sulit merealisasikan rasa memaafkan pada siapapun, ditambah lagi sentimentil dan terkadang egois, Tonks memilih berpihak pada Hermione Granger.

Secemberut apapun mimik Fleur yang tak akan berubah jelek dikala menangispun.

"Tapi ini menyangkut kristal Obelix tadi," kecam Fleur pantang menyerah, "ketika ditimbang, ada satu kristal lain selain kristal biru muda yang hanya bisa dilihat di tangan pemiliknya. Itu Hukum Magnify. Dan aku merasakan—"

"Tidak lain tidak bukan masih mengakar pada alasan pokok pertamamu," potong Tonks sebal, "siapa tahu dia golongan Ophiuchus. Ularnya bisa berubah biru muda."

"Bisa jadi keturunan Merlin Si Jambang."

"Fle-ur De-la-cour." Nympadhora Tonks tertawa putus-putus, menunjukkan betapa bodoh spekulasi gadis pirang di sebelahnya. Pekikan jangkrik-jangkrik di sela rerumputan berlumur sinar rembulan seolah ikut menertawakan gadis itu. "Mereka sudah pasti hangus sebelum sempat bernapas di gerbang manor."

Pasti.

Putri tunggal Andromeda Tonks tersebut mengulum senyum bonafide.

.

.

xxx

.

.

"Laki-laki itu tidak bakal cemas 'kan?" celetuk si pemuda pirang yang kembali mengatup mulutnya rapat.

"A, Blaise? Aku, aku sudah bilang pulang terlambat."

Ada ekspresi tidak puas terhampar di wajah lawan bicaranya.

"Dia termasuk keluargaku," lanjut gadis itu hati-hati, tak menyadari perubahan air muka sang pemuda, "ingatkan aku untuk pulang nanti, ya."

"Bagaimana dengan menginap, baby?" Luna menyingkirkan anak rambut di sekitar telinga, menunggu persetujuan Hermione.

"Tidak bisa," ringisnya gamang, "Blaise pasti tetap mencariku."

Lagipula, lautan cahaya bintang sudah cukup untuk memperlihatkan siluet wajah tertekuk seorang Draco Malfoy.

.

.

.

Menit-menit berlalu merajut keheningan sesudahnya. Setelah melewati bukit goldenrod, menempuh jalan setapak berliku-liku di dalam hutan cemara; angin malam hutan menggumamkan mantranya dan sebuah anak sungai berair jernih bergemericik di antara bayang-bayang mengintai dari celah pohon bercabang rendah.

Perbatasan hutan super luas ditandai dengan barisan pohon pinus yang seakan membentuk benteng terpampang lebar di hadapan. Tak lama, bau amis menyengat menghampiri kelima penyihir tersebut yang berarakan bagai orang-orang gipsi. Seonggok tubuh merah kental terkulai tak bernyawa dengan posisi tertelungkup.

"Hiccup!" lengking Tonks.

"Hiccup!"

Nymphadora Tonks menyentak tongkatnya, membiarkan bercak darah membandel di luka anak itu terkelupas bersama molekul udara malam.

Ia telah mati.

Centaur muda telah mati.

"Ini tidak mungkin."

Draco Malfoy menatap tubuh itu sendu. Menatap bibir pucat yang kemarin masih sempat bersenda gurau menjunjung tawa. Tidak mungkin.

Luna Lovegood berlutut membelai surai keemasan anak itu dengan linangan air mata. Terlalu cepat untuk pergi. Terlalu dini untuk dikecup kematian.

.

.

.

Satu Penjaga telah mati.

.

.

.

Hermione menggigil kaku tatkala Fleur Delacour mengusap robekan luka pada mahkluk liminal tersebut agak keras. Sebuah lubang sebesar kepala tangan di area jantung tubuh manusianya serta jantung di tubuh kudanya.

"Penyusup," desisnya berat dengan penekanan.

Tonks mengangguk yakin. Tidak seharusnya Centaurus berkeliaran di luar gerbang hutan. Apalagi untuk anak panglima Centaurus muda bertekad baja ini.

Ada sesuatu yang berusaha mengusik hutan.

Menyadari ada yang terus menggigil tanpa henti, Fleur melempar tatapan curiga kepada satu-satunya orang yang berdiri memunggungi mereka. Ketika bayangan Nymphadora kembali hadir dalam pandangan, Fleur menghela napas kalah. Percuma, Tonks tidak akan pernah percaya.

"Angkat pikirannya Luna, tapi jangan sampai membangkitkannya." Tonks bertitah sembari memanggil para peri berambut merah dengan potongan sependek leher untuk menyelubungi Hiccup.

"A-Apa guna mengambil ingatannya?" tanya Hermione gemetar. Ia tampak berusaha maju, mendekati bocah manusia setengah kuda dilingkupi perasaan ngeri.

"Agar kita bisa mengincar balik pembunuhnya," jawab Fleur, dingin. Nymphadora menyikutnya geram, semacam sinyal agar sepupunya tidak perlu mengadakan ospek kecil-kecilan terhadap anggota baru.

"Ia tidak berbahaya, kok. Sama saja dengan kuda biasa," hibur Luna ramah, "jarang keluar rumah, huh?"

Tepat sekali, pikir gadis itu agak jengkel.

Kungkungan maha-kuat Patricia menelurkan seorang gadis penakut yang tidak pernah keluar rumah meski di pekarangan pun di atas jam enam sore.

"Mendekatlah," kata Draco yang kemudian menarik tangan ramping dan seputih bintang senja milik Hermione lembut.

Ia menyentuh tubuh kudanya kaku, waswas kalau itu bisa bangkit lagi. Menilik rongga dalam tempat jantung Centaurus diambil paksa, Hermione bergidik hebat. Membayangkan berapa banyak darah yang harus terbuang sia-sia oleh pemburu tak berhati nurani. Gerombolan daging hitam kecil mirip buah anggur bersarang di sekitar luka.


Centaurus itu tak sadarkan diri sesaat setelah toksin masif menyambangi dirinya.


"Selesai." Luna menggiring larutan asap putih yang muncul dari kepala Hiccup. Setelah memasukkannya ke dalam botol kecil bertutup gabus, percikan debu khayal para pixie merubah tubuh Hiccup menjadi ratusan kupu-kupu emas yang terbang berarak ke arah sang penguasa malam.

"Tidak boleh ada yang menyangkal kematian, Hermione. Apalagi usaha hidup kembali," ucap Tonks menjawab gurat keheranan sekaligus takjub dari iris hazel gadis itu. "Maka, mereka harus berpesiar ke tempat yang sudah ditentukanNya."

Iringan kupu-kupu itu mulai lenyap dari jarak pandang.

"Nah, gerbangnya belum terbuka sama sekali. Sebenarnya siapa lagi yang mereka utus—"

Ada yang menjerit histeris saat gaung mencekam mahkluk berperawakan besar, cokelat tua, dengan mata berpijar bagai bunga api berpijak di hadapan mereka. Luna membungkam mulut Hermione tatkala hewan menyeramkan yang disinyalir gadis itu adalah serigala, berlutut di belakang garis transparan yang membatasi ruangnya dengan mereka. Lama kelamaan, garis transparan itu menjelma sebagai pintu gerbang berjeruji sempit setinggi pohon cemara. Sekali serigala itu mengaum atau terdengar juga seperti bersenandung, gerbangnya terbuka lebar. Aroma lagerfeld menyeruak membuai indera penciuman Hermione Granger.

"Mereka mengutus Ronald Billius Weasley," nyanyi Fleur bernada bosan.

Weasley ...

.

.

.

Kesadaran Hermione mulai menurun secara periodik. Jika perfusi darah menuju otaknya tidak segera terpenuhi, pingsan akibat tumpukan saraf penasaran yang terlalu sering menempanya bisa menjadi solusi alternatif paling baik.

Menyayangkan hidup yang belum tentu berujung seperti labirin.

"Jangan ikut protes, Derek. Aku terlambat karena ..." Serigala itu mengubah wujudnya menjadi pemuda berkemeja hijau dan berambut semerah jahe. Cakar-cakar beringasnya ikut berubah menjadi jemari kerempeng bagai tak berdaging. Tatapan kesalnya pada Draco memudar digantikan roman muram. "Hiccup. Dad sudah menerima sinyal kematiannya yang tiba-tiba lewat batu di pohon, kami semua mencarinya ke seluruh penjuru hutan. Nihil."

"Jangan panggil aku Derek, Weasel."

"Dia sudah beres." Tonks berkata dengan nada menenangkan, "ingatannya ada pada kami."

"Bagaimana bisa dia ada di luar teritori?" Alis Ronald terangkat skeptis.

Keempat penyihir itu menggeleng.

.

.

"Penyusup."

.

.

"Tunggu. Kenapa jumlah kalian ganjil?" Ronald mulai mencium keberadaan Hermione Patricia Granger. Gadis itu gemetar kritis dibalik lindungan jubah pemuda pirang. Tidak tahu apa yang harus dilakukan. Sama sekali.

"Anggota baru," decak Fleur, "ayo, jangan habiskan waktu."

Sinar putih menyilaukan.

Bola mata Hermione Granger mendapat katalis untuk keluar dari rongganya melihat pemandangan perubahan wujud Fleur menjadi jelmaan seekor kuda putih semampai—yang tak kalah cantik. Tanduk melingkar spiral mirip permen-permen Natal menghiasi ubun-ubunnya.

Fleur The Unicorn.

Sementara Fleur meringkik kecil dalam wujudnya, kepak sayap elang Nympadhora Tonks sudah menyebabkan material debu serta kerikil di sekitarnya berlompatan ke atas. Seperti berdiri di atas helicap, Hermione mengucek matanya berulang kali menyingkirkan debu tersebut, sekaligus berharap segera bangun dari mimpi fantastisnya ini.

.

.

.

Ia tidak bermimpi.

.

.

.

"Coba ini, Hermione."

Kalimat terakhir yang meluncur dari Luna Lovegood membuat Hermione tergoda untuk membuka kedua matanya. Jika animagis Fleur dianugerahi tanduk kesucian, derap tapak kuda Luna ditambahi dengan sepasang sayap tebal putih beraroma percampuran pasir pantai dan harumnya kanvas malam.

Pegasus.

"Draco?" cicit Hermione terkejut. Dengusan berat kuda hitam tegap yang berdiri dua kaki lebih tinggi dari gadis itu memporak-porandakan rambut lebatnya. Kendati lelaki itu berwujud kuda, wangi maskulinnya masih menempel lekat di setiap pori-pori kulit.

Ringkikan, kicau serta auman mendominasi pendengaran.

Bukan mimpi.

Semua menunggunya.

.

.

.

"Tapi aku tidak bisa ..." bisik Hermione kalut. Desiran angin berhembus meniupkan misteri kegelapan yang sakral. Membuat bulu di belakang leher gadis itu berdiri tegak.

"Kau bisa."

x

x

"Siapa yang berbicara?"

x

x

"Aku, Hermewinnie. Telepati dua arah. Ikuti kata hatimu, hapus beban, percayalah pada lentera-lentera hidup."

x

x

Serangga ber-famili Lampyridae itu berkeredapan di antara ranting-ranting cemara.

Percaya, pada kunang-kunang ...

...

...

...

...

...

...

...

Ikuti nurani ...

Rasanya sulit.

Beban itu terlalu banyak untuk dihapus, bahkan dilupakan.

Keringat dingin membingkai wajah gadis itu. Hazelnya menyemburatkan warna mawar yang terbakar. Ditengah kemegahan cahaya sewarna aurora yang menyelubunginya, asap abu-abu pekat kebiruan terdesak keluar. Menyatu dengan udara.

.

.

"Biarkan ia membebaskan dirinya."

.

.

Percaya,

Percaya,

Percaya.

.

..

...

...

...

...


Matanya tak melihat.

Telinganya tak mendengar.

Hatinya mati rasa.

Logika terkurung kepercayaan.


.

.

.

.

.

.

.

Selain hangat,

Ia merasa begitu pendek. Sangat pendek.

Bahkan kaki kuda Draco menjadi batas jarak pandangnya untuk melongok ke atas.

Giginya terasa semakin besar dengan taring yang dirasa terlalu runcing.

.

.

.

.

Tak ada yang tak terkesiap.

Bahkan, werewolf itu mundur selangkah.

.

.

.

.

.

.

..

...

"The White Tiger?"


.

.

.

.

Pada hakikatnya, aroma sihir ada pada banyak hal.

.

.

Pada sebutir telur yang
menjelma makhluk-makhluk cupu
miniatur induknya,

.

Pada batu yang
begitu diam meskipun dirinya rompal
atau dipecah-belah dengan amer,

.

Pada secangkir teh tawar encer yang
menenangkan ketika diminum
sebelum meringkuk di balik hangat
selimut pada malam yang menggigil,

.

Pada aliran air yang jatuh berderai
dari shower dan untuk sesaat
membuat siapa pun yang berada di
bawahnya tertabiri dari kemelut dunia
dan melupakan segala yang
mendatangkan keluh-kesah,

.

Pada tanah basah sehabis hujan yang
melepas aroma yang mungkin tidak
pernah berubah sejak masa-masa
perdana usia benua-benua Bumi,

.

Pada udara pagi tanpa bau manusiawi dan
mekanika yang membelai wajah dan
menghadirkan sebersit perasaan
bahagia,

.

.

.

juga pada kedekatan antara dua orang yang belum lama saling mengenal tetapi seolah telah bersama sepanjang masa.

.

.

.

.

.

The End of Chapter 4


NOTES


Chapter ini sengaja saya gabung dengan separuh chapter berikutnya untuk meminimalisir pertanyaan-pertanyaan bingung soal ceritanya. Agaknya, pembaca sudah mulai bisa menangkap beberapa clue. Seperti:

1. Luna, Draco serta Hermione adalah seorang penyihir. Namun betul, kekuatan Hermione berbeda sedikit dengan ganda pirang itu. Saya membenarkan, Hermione memang dari awal sudah berbeda. Jika ada yang peka, kemunculan kekuatan-kekuatan Hermione itu baru terasa setelah dia ulang tahun ke tujuh belas. Soal kegiatan-kegiatan sebelumnya yang beranggapan Hermione itu gila, karena kebiasannya membunuh untuk mencari darah-darah binatang suci untuk pertahanan hidup Ursula. Ursula pun semacam orang (disini kita sebut dukun) yang meyakinkan Hermione untuk tidak percaya pada penyihir. Jadi lingkup hidup Ursula berpegang pada jiwa-jiwa setan seperti menangguhkan jadwal kematiannya, demi mengantar Hermione ke umur 17.

2. Ada perbedaan jenis penyihir, seperti yang dikutip Fleur; "Bisa jadi keturunan Merlin Si Jambang." Pembaca bisa beropini bahwa berarti, rombongan Draco bukan berasal dari keturunan tsb. Seiring waktu berlalu, alasan kenapa akan terungkap.

3. Jiwa atau spirit yang menempel pada Hermione. Ada yang bisa mengutarakan maksudnya? :) Yang merupakan inti dari cerita.

4. Ada hubungan antara Draco - Hermione? Tentu saja! Tidak akan ada hubungan bila saya tak memasangkan mereka dalam cerita ini.

Saya ucapkan terima kasih bagi yang telah membaca dan sempatnya mereview di fic ini. Diberkatilah kalian. Kritik, saran, perbaikan, atau yang ingin bertanya jika kurang jelas bica tumpahkan di kotak di bawah ini.

Salam,
Xave.