Disclaimer : All characters & main story belongs to Joanne Kathleen Rowling.

Genre: Supranatural/Mystery/Romance/Tragedy/Family (Seandainya genre bisa sebanyak itu)

Warning(s) : ALL CHARACTERS ARE OOC, Alternate Universe, typo(s).


#) Timeline diubah menjadi tahun 2012


.

.

.

Supermassive Black Hole

Chapter Five: A Terrible Day

.

.

.


.

.

Inikah yang ia mau?

.

.

Dimana seluruh makhluk mempersembahkan jalan untuknya.

.

.

Bukan menghindar darinya.

.

.

Inikah yang ia impikan?

.

.

Berjalan dihiasi puluhan bungkuk hormat serta kepala yang tertunduk takzim.

Bukan semprotan tawa mencekik dan lemparan batu semu yang mencabik dada.

.

.

.

Namun, ia masih tidak tahu. Manusia atau fauna macam apa. Siapakah dirinya, di dalam hutan ini—yang masih berada di satu dimensi yang sama dengan keadaan di luar sana.

Raja? Seperti yang tertera di wajah Luna Lovegood.

Sama sekali bukan Raja? Hanya kebetulan—

Ia tidaklah bodoh. Tatapan ini-tidak-mungkin yang semakin kuat terpancar dari wujud unicorn di timur lautnya, terus menggelitik ekor mata hingga berkedut cemas.

Fleur terlalu membencinya.

Karpet panjang dari anyaman akar-akar pohon beringin yang kelima wujud itu lewati bertemukan ujungnya di depan sebuah bangunan. Atau gubuk. Terlalu absurd untuk disebut rumah, terlalu miris untuk disebut mansion terbengkalai yang setengah jadi. Dilihat dari rangkaian kayu-kayu bertingkat yang agak mengenaskan, pokoknya, mirip lima rumah pohon yang ditimpa asal-asalan setinggi katedral. Secara keseluruhan, eksteriornya tidak ada satupun yang simetris. Kebunnya sesak dengan para jembalang dan belasan ayam hutan gencar bermanuver lincah di depan pintu masuk utama—salah satunya menyebabkan kaki harimau Hermione tersandung. Harum kulit kayu yang terkelupas di tepi tiap jendela berkaca buram menambah efek magis si penghuni. Tapi semua itu seolah hanya kulit luar. Ketika semuanya mulai masuk ke dalam dan,


Welcome To The Burrow!


Faktanya, bangunan tersebut mampu menampung banyak makhluk tanpa berbunyi 'kriet-kriet' sebagai gejala rubuh mendadak. Jaring sepucat gading gajah membentang tipis di ambang pintu, mengubah wujud kelimanya ke bentuk semula. Seorang wanita berusia pertengahan namun tampak masih energik menyambut hangat sambil menyeka keringat di dahi. Ia mengenakan baju wol yang pendek, dengan rompi dari bahan belacu semerah bulu ayam kalkun. Semerah rambut seluruh keluarganya. Sarung tangan anti panas oven menggantung di tangan kiri, arti bahwa kue-kue pembuka sudah matang.

Satu meja panjang bermotif lingkaran tahunan pohon oak dengan sepuluh kursi di sekeliling. Kehangatan eksklusif dihadiahkan oleh Tuan Perapian yang memercikkan anak-anak apinya. Hidangan dari a sampai z tertata apik di badan meja, menggugah cacing-cacing di perut untuk terus bergerilya.

Topik awal yang mereka obroli masih Hiccup Sigismund. Makhluk malang yang harus menutup sebelas tahun lembaran bukunya malam ini. Dengan dua buah jantung kehidupannya yang raib. Ayahnya, panglima Centaurus divisi Inggris, hadir di tengah-tengah mereka. Banjir air mata yang tak kunjung reda menghiasi gurat wajah tuanya.

Semua tampak sepakat tentang penyusup.

"Hiccup punya Venus, Jupiter dan Pluto yang membentuk segitiga dalam horoskopnya. Seharusnya ia penuh keberuntungan." Dimitri Sigismund akhirnya angkat bicara. Rambut gondrong keemasannya awut-awutan tergerai di atas bahu, sementara kaki kudanya beradu keras dengan lantai kayu.

Seharusnya.

"Venus melewatkan jatah periodenya di Virgo terlalu cepat," ujar Draco heran, cahaya biru dari ujung tongkatnya membentuk peta rasi bintang di atas meja makan. Membentang dari ujung ke ujung. Dari Fleur Delacour hingga ke Arthur Weasley. Ratusan rasi berpendar sangat terang. Khusus dua belas zodiak, mereka memiliki warna yang sesuai dengan planet penguasa.

Hermione Granger terpana oleh semua itu, sampai dalam satu menit kurang ia lupa berkedip. Rasanya seperti mengikuti seminar astronologi kelas atas, dengan puluhan hologram yang kelewat canggih. Jadi, meneropong lewat jendela kamar di sebelah loteng rumah masih terkesan begitu kolot.

"Hari ini Aries berada di bawah kekuasaan Merkurius. Ganjil bukan?" lanjut Draco tenang, menunjuk kumpulan titik terang bersimbolisme domba jantan di antara Taurus dan Pisces.

"Hiccup mati dengan merkuri yang bersarang di luka serta kerongkongan," sambung Fleur tajam, "toksin fatal yang tidak mungkin dimiliki penduduk di sini."

Molly Weasley berhenti menyeruput sup, kemudian berkata ragu, "Pergeseran rasi bintang?"

"Atau digeser. Sesuatu mengubah titik koordinat Merkurius di atas Aries," timpal Luna datar dalam kunyahan potongan krim nogat rasa almond. Gadis itu duduk di sebelah kanan dua werewolf kembar yang sibuk dalam kancah gosip mereka sendiri. Sambil sesekali mencuri pandang genit pada Hermione di samping gadis beranting wortel tersebut.

"Ingatan Hiccup akan terbuka tujuh hari ke depan. Pembunuhnya ... kita akan segera tahu." Charlie mengelus-elus bayi naga miliknya yang berkeliaran di sekitar piring makan.

Pemuda bersurai ikal merah gelap ikut berteori usai meletakkan garpunya di samping piring dengan elegan, "Sebelum menentukan sosok penyusup, dia pastilah ingin bertahan di hutan ini tiga hari berturut-turut—masih jauh terhadap rentang ingatan Hiccup yang masih empat hari lagi. Itu untuk jantung bagian kudanya, bukan begitu Mr. Sigismund?"

Centaurus gagah itu mengangguk. Sambil menyentuh dadanya, ia berujar dengan berapi-api, "Untuk jantung atas, berguna untuk efek kamuflase bagi siapapun yang memakannya. Juga peningkatan kemampuan memanah yang tinggi."

Rambut Nymphadora Tonks mulai berubah merah gelap di bagian pangkal. Suatu normalitas pada tubuhnya untuk menunjukkan indikator emosi lewat mahkota kepala. "Tujuh hari. Jika di hari keempat, kalau masih memiliki kepentingan di hutan ini, dia membunuh satu Centaurus lagi?" tatapnya pada semua orang gelisah, "tujuh hari bukanlah waktu yang cepat, baginya."

"Untuk kamuflase dan imunitas berlari tiga hari tiga malam tanpa henti ..." Fleur memenggal kalimatnya untuk efek dramatis, semuanya tak menyadari bahwa gadis itu sempat melirik Hermione Granger sepersekian detik sebelum berbicara, "aku yakin, keturunan mereka tidak suka perputaran rasi yang alami. Karena kita selalu menjaga keotentikannya, mereka mulai mengirim mata-mata untuk mencoba menghancurkan kita—lagi."

"Minerva sudah mewakili Dumledore menghadiri perjanjian 'perdamaian' dengan Karkaroff, bukan?" celetuk Ronald dari ujung meja.

"Apa itu bisa disebut perjanjian?" geram Arthur Weasley dengan bibir berkedut, "satu bulan setelah perjanjian, divisi Amerika di bunuh oleh anak buahnya! Mereka tidak bisa di percaya, Ronald." Sang kepala keluarga tersenyum sinis, mengingat lagak penuh kepura-puraan yang selalu ditampilkan penyihir terkuat asal Rusia tersebut tanpa bosan-bosannya. Jenggotnya pun tampak lebih memprihatinkan, dengan bentuk dasar seperti g-string wanita. Membayangkannya sudah tentu seratus persen konyol, menenteng benda ekstra-keriting macam itu kemana-mana di dagunya yang mirip Rasputin.

"Kau benar, Arthur. Kurasa itu hanya undakan awal mereka agar kita menurunkan kinerja keamanan," tekan Molly.

"Hari ini patroli besar-besaran sudah berlangsung oleh para Penjaga, jika dirasa kita perlu meninjau, kalian boleh ikut."

Bosan mengaduk-aduk supnya yang mulai dingin sembari mendengarkan rapat kecil-kecilan yang menyesaki telinga, Hermione memilih menyapu hazelnya pada setiap sudut rumah. Ban-ban bekas, pot kering berjejer di antara jendela kaca yang menjorok keluar, pigura-pigura berisi foto yang bergerak—Hermione pikir itu semacam tablet pemutar slideshow otomatis— dan banyak hal-hal temeh lainnya. Sampai jam besar itu mengakhiri penjelajahannya. Bukannya menunjukkan waktu, tiap-tiap jarum jam yang bergambar personil keluarga Weasley justru mengarah pada tempat-tempat tertentu. Hutan konifer terdalam, pusat kota London, stonehenge, dan masih banyak lagi. Di antara sembilan jarum jam yang saling timpang tindih di satu tempat, ada sebuah jarum yang diasumsikan Hermione sebagai Ginny Weasley—siapa lagi yang bermarga Weasley dengan rambut semerah tembaga itu di wilayah barat London?— mengarah pada gambar pusat kota.

"Ginevra Weasley memang bagian dari keluarga ini," bisik Luna akhirnya setelah kembali memergoki gadis itu menganga-nganga penuh damba seperti memuja jam bobrok itu. "Gen werewolf berkemampuan sihir hanya menurun pada anak laki-laki. Karena Molly dulunya hanya manusia biasa sebelum terinfeksi gigitan werewolf—entah Arthur, tapi bisa juga. Jadi Ginevra hanyalah manusia biasa, dengan napsu makan yang besar terhadap steak setengah matang."

"Ooooh," bisik Hermione hingga bibirnya membentuk huruf O. Keadaan itu tidak berlangsung lama saat Draco Malfoy mengerutkan alis dari seberang meja, dan potongan egg roll masuk membungkam mulut gadis itu kembali. Kue menyelamatkan segalanya.

Dianaktirikan selama tiga puluh menit lamanya oleh empat belas orang memang sama sekali tidak menyenangkan. Tapi ternyata lebih tidak menyenangkan lagi ketika Charlie Weasley 'menemukan' seseorang yang sejak tadi menganggur. Tidak menyumbangkan suara. Hanya terlihat mengaduk-aduk sup brokoli panas di depan hidung berbintiknya dengan pandangan kosong, sambil mencomot beberapa keik-keik aneka rasa dari berbagai macam piring saji tujuh menit sekali.

"Siapa namamu, nak?" senyum Molly ramah, berbinar mata cerah seperti menemukan anak anjing golden retriever tak bertuan di gorong-gorong sungai Thames. Saat Hermione terpaksa hendak membuka mulut, Molly tampak terkejut. Seolah ada yeti yang menampar wajahnya hingga kemerahan. "Kau ... harimau putih yang tadi?"

"I-iya." Gadis itu meremas sisi samping jeans-nya.

"Raja," ucap Bill Weasley terperangah nyaris menyerupai bisikan, "apa kerajaanmu? Ursa Major? Minor? Capricornus? Mmm—Altair?"

Gadis itu memandang Bill sebagai seorang yang tidak akan tampak janggal dalam konser musik rock. Memiliki rambut merah panjang yang diikat ekor kuda, dan memakai anting-anting besar dengan taring sebagai gantungannya.

Hermione Granger menggeleng.

"Huh?"

Lusinan set mata sekarang menunjukkan tatapan yang serupa.

Ia salah tingkah sampai ke ubun-ubun. Getaran ketakutan akan banyaknya manusia yang menaruh perhatian pada dirinya saat ini menjalar hingga ke akar rambut.

Ia masih sangat belum terbiasa.

Masalahnya tidak semua memandangnya sebagai suatu seni yang bernilai tinggi atau seseorang yang kelihatannya wajib dihormati. Fleur, masih melihatnya sebagai upaya pembantuan langkah-langkah si penyusup yang bahkan Hermione Granger sama sekali tidak tahu apa-apa mengenai sang penyusup. Persetan dengan penyusup. Bedebah dengan penyusup.

"Lima dolar cewek itu masih perawan."

"Setengahnya!" sikut Fred tidak terima, "kau selalu licik, memutuskan perkara duluan."

"Tidak ada rapat dalam rapat!" sindir Molly telak pada dua anak kembarnya. George Weasley jawab bersiul senang dengan wajah polos. Sementara Fred memangku dagunya seperti orang kekurangan semangat hidup. Sudah pasti Hermione Harimau Hermione Harimau-Harimau itu masih virgin. Dan hingga akhir hayat, George dijamin langgeng dalam profesi patennya menguras keuangan kembarannya.

"Jadi, ada sesuatu yang menahan sihirmu sampai tujuh belas tahun?"

Ia menggeleng seraya angkat bahu. "Aku sepertinya bego di masalah jati diri. Hanya ada fortitude yang tak jarang tak bisa kukendalikan." Hermione hendak menyemburkan soal black hole juga, tetapi kembali mengurungkannya sebab belum ada satupun dari mereka yang bersinggungan dengan praktek berpindah tempat selain dengan tongkat dan mantra.

"Kau tidak bodoh, kok," sahut Percy, "sebelum ke Ollivanders, kami ingin tahu. Siapa nama orang tuamu? Bisa jadi dia kerabat jauh, jauh, Mum atau Dad. Atau kenalan Mr. Sigismund."

Fleur nyaris tersedak mead di kerongkongannya. Pertanyaan brilian! Pertanyaan itu yang seharusnya ia tanyakan pertama kali. Dimana seluruh kesangsian terbesarnya pada gadis itu menjadi salah satu penyebab asap-asap pekat membumbung di atas kepala pirangnya.

"Mm—Patricia Granger."

"Ayahmu?" Charlie menimpali.

"Tunggu—dia bilang namanya Hermione Granger. Kenapa kau pakai marga ibumu?"

"Itu terserah dia, Ronald." Draco menuangkan beer-nya yang kali kedua.

Ronald merebut piala lelaki pirang itu kasar dengan penuh wejangan. "Belum waktunya mabuk."

Jeda panjang sebelum Hermione menatap para audiens satu per satu, lalu berujar, "Ayah ... ayah," bibirnya tampak mencari kata-kata, "Ayahku tiada. Namanya ..." Hermione mengangkat bahu.

.

.

Dia tidak berdusta.

Ia ingin sekali menyebut nama sang ayah. Bahkan berkali-kali di depan khalayak.

Andai ia tahu.

.

.

Arthur menggeleng seraya masih berpikir keras. "Sangat jarang sekali mendengar nama Granger," tandasnya.

"Berarti kau perlu banyak-banyak-banyak sekali pelatihan. Seharusnya jika sejak kecil sihirmu sudah terdeteksi, itu lebih mudah," ujar Nymphadora Tonks yang disambut banyak sekali anggukan setuju.

"Ditambah lagi kau Raja," timpal Draco serius, "tapi, sebaiknya tidak perlu terlalu banyak pelatihan. Kekuatannya menurutku cukup terkendali. Saat dimana kau menolak ajakan tumpanganku, kau mendorong mobilku maju dengan sempurna, tidak sampai rusak maksudku."

"Dia melakukannya di luar sini?"

Draco mengangguk.

"Itu perkara gampang, sekarang kita bisa pergi ke Ollivanders, atau mengundang bapak itu ke sini," saran Ronald yang tiba-tiba berdiri mengitari meja, kemudian berlutut di samping kursi Hermione dengan takzim.

"Ini apimu," kata Ron, menyorongkan api kecil yang melayang di atas tangannya. "Setiap salah satu dari kami memiliki kemampuan khusus. Kau bisa menemukan milikmu di sini. Jika ingin cepat membeku tanpa bantuan bunga salju bulan Oktober, Fleur bisa membantu."

Tanpa disuruh dan memang tidak mau sampai diperintah, Fleur berjalan mendekati gadis itu yang menyiratkan wajah enggan. Entah bagaimana mendadak di antara mereka seolah ada kabut tebal dan guntur imajinatif.

Rasanya perang dingin ini memang akan berlangsung selamanya.

Serbuk salju berkerlap-kerlip muncul dari telapak tangan Fleur. Merubah lidah api itu menjadi kristal transparan serta permukaannya yang datar. Setelah menuruti perintah Fleur untuk meniup benda tersebut, Hermione melihat sesuatu di dasarnya.

Gambar jam dengan jarumnya yang terus berotasi tanpa henti, sangat cepat, dan kadang-kadang berputar berlawanan arah.

Lalu pemandangan pancaran cahaya hijau neon yang menyala-nyala, aurora borealis.

Setelah kedua gambar tersebut lenyap, refleksi mata hazel Hermione terpampang di permukaan kristal. Tatapan sayu dan putus asa.

Karena hanya Fleur dan Hermione sendiri yang dapat menyaksikannya, yang lainnya menunggu penuh harap.

"Pengendali cahaya," tukas Fleur, mengedarkan visualnya. Tepuk tangan berkelanjutan menggema ke seluruh atap sesudahnya. Si kembar bersulang heboh sampai seperempat beer-nya tumpah. Draco Malfoy tersenyum bangga hingga kembali mengakibatkan sang gadis semerah kepiting rebus. Sorak gembira dari yang lain.

"—dan waktu," lanjut sang gadis pirang keemasan dalam bibirnya tanpa suara. Disaat keramaian melengkapi gadis itu sebagai pengendali cahaya—dan tidak ada yang menangkap dalil terakhirnya.

"Seharusnya aku yang memberikannya api, Ronnie," sembur Draco tak terima, tetap dengan dengusan tawa menggantung, "kau 'kan sudah punya Ephyra."

"Astaga, kita melupakannya!"

Gerakan Molly Weasley yang berdiri secara tiba-tiba membuat gebrakan dahsyat di sepanjang meja. Dengan lagak panik, wanita itu melangkah tersuruk-suruk menuju akuarium jumbo yang sebelumnya tertutup terpal, sambil berkata, "Ephyra dear, sudah bangun ..."

...

...

...

...

Sejak kapan ubur-ubur bisa tidur?!

Hermione Granger berpikir bahwa ia mungkin bisa jadi gila. Gila yang benar-benar gila.

Gila yang menuntunnya pada bunga tidur yang sama gilanya ini.

Meletakkan cangkir kosongnya di meja perlahan, gadis itu merasa dagunya ingin segera berpisah dari ikatan Tuan Rahang saat menonton apa yang tersaji di depan mata. Molly mengangkat metazoa kelas Scyphozoa itu dengan sihir di tangan, lalu gumpalan biru muda itu menjelma menjadi anak perempuan dalam balutan dress rumput laut. Kontras dengan rambut cokelat keemasan yang terjuntai sepunggung dan kulit seputih porselen Belanda. Mata birunya yang besar menyerupai mata kelinci menambah estetika kecantikan luar biasa pada dara berusia satu dasawarsa lebih tiga tahun itu.

Cantik.

Tapi, ubur-ubur?

"Ephyra McMissile," ujarnya memperkenalkan diri. Mengangkat ujung rok, lalu setengah berlutut anggun. Hanya satu yang dipandangnya, Hermione Granger.

"McMissile?" gantung Hermione setelah berhasil mengumpulkan kata-kata, "American girl?"

Ephyra mengangguk ramah. Dalam sekejap, anak itu sudah duduk nyaman di pangkuan werewolf bungsu keluarga Weasley. Mulutnya langsung terjejali beberapa keik ceri buatan Molly, dan mengunyahnya dengan lahap. Tangan Ron sibuk menyingkirkan helaian rambut Ephyra yang bergelantungan di mulut mengganggu jalan makan.

"Kau belum menyebutkan namamu, kakak cantik."

Hermione tersentak. Semu merah menjalar di kedua pipi. Tak ada satupun mahkluk yang pernah mengatakannya, cantik. Patricia? Mimpi. "Uh—ya, Hermione Granger. Terima kasih, tapi kau salah, kau lebih cantik."

.

.

.

"Ron dan anak itu sudah terikat, Hermewinnie. Ia menemukan Ephyra terombang-ambing di perairan Inggris. Lucu sekali, kan. Orangtuanya tak lain divisi Amerika yang dibunuh kaki tangan Igor Karkaroff."

x
x

"Jadi ... kemampuan khususmu bertelepati, ya?"

x
x

Luna tak menjawab bisikan super kecil Hermione. Kemeriahan perkumpulan ini kembali terajut damai.

.

000

.

Sudah hampir semua tongkat sihir dalam gunungan menggila di toko Garrick Ollivander telah ditelanjangi satu per satu. Belum ada yang cocok untuk gadis itu. Kepanikan yang nyaris tak terkontrol menyertainya kemanapun dia pergi, seperti halnya komentar-komentar sumir pembuat tongkat sihir terbaik di dunia ini tentang tongkat mana yang sepadan dengan fotitude Hermione Granger.

"Biasanya tongkat akan datang menjemput pemiliknya. Bahkan ada yang sudah gelisah dalam wadah meskipun calon pemiliknya masih di luar pintu."

"Jangan tongkat hazel, ... tongkat ini bahaya jika pemiliknya doyan galau."

"Apalagi hawthorn, suatu saat ini bisa menjadi bumerang bagimu, nak."

"Blackthorn ... hmm terlalu lemah untukmu."

"Kenapa tidak ada yang pas?!"

"Tidak dengan oak ... temperamen panas."

Ia panik jika memang ... dirinya benar-benar monster.

Seperti yang dilansir Fleur sebelum keduanya pergi mengunjungi Ollivanders dalam wujud animagi untuk melintasi hutan; belum tentu ada tongkat yang cocok untuk dia.

"Kejelekan rowan, kemalasan chestnut, mmm," gumam Ollivander sambil mengecap-ngecap bibirnya, "ash terlalu bandel, vine yang selalu mengerang—tidak ada yang sinkron."

Ratusan tongkat kini berhamburan ke sisi kiri toko. Jika Garrick Ollivander mengungguli kelelahan yang amat sangat ketimbang hanya berdiam menunggu seperti yang dilakukan kedua tamunya, salah. Rasa letih menusuk-nusuk disertai aliran peluh yang bermuara di pucuk hidung Draco Malfoy serta Hermione Granger semakin deras. Melihat lelaki tua berambut ijuk itu kesana kemari bagai setrika uap saja sudah cukup membuat mereka siap mati kebosanan.

"Kenapa tidak menggunakan tongkat yang sama denganku?" sela pemuda pirang itu akhirnya, berjingkat tinggi di antara lautan tongkat dan wadah-wadahnya, "kami sama-sama Half—"

"Walaupun kalian sama-sama Half. Tetap saja gadis ini lebih kuat—malahan ia baik-baik saja tanpa tongkat."

"Memang baik-baik saja tapi pengendaliannya—"

"Ya Tuhan, bahkan Elder terlihat seperti tusuk gigi di hadapannya—"

"Apa? Elder?"

"Kasus yang langka ..."

"Lagipula apa bedanya dengan kekuatan tongkatku?"

"Tentu tidak! Aspen milik Anda yang putih, halus dan berkualitas hanya dikhususkan untuk berduel. Tongkat revolusioner. Jika Anda hidup di abad 19, The Silver Spears pasti merekrut Anda."

"The Sylvester?"

"Auch, Mr. Malfoy! Hati-hati. Berdiri di situ, ya diam saja. Awas—tunggu. Aku akan kemari," kelakar Ollivander tak ubahnya ibu-ibu rumah tangga yang kelewat bawel. Draco kembali berjinjit mundur dengan waswas. Ternyata gadis itu ikut melipir di belakangnya, jadi gerakan Draco yang tiba-tiba mundur lagi membuatnya kalang kabut. Satu langkah lagi berpijak di lantai kayu, keseimbangan Hermione kecolongan dan kilas buram langit-langit keburu berputar menggiringnya untuk mencium lantai.

"Tidak apa, Hermione? Egh—maaf, aku hanya sempat menggapai kepalamu, tidak pinggul," serbu Draco dikelilingi kepanikan mendalam. Pandangan mereka bertemu. Saling menerawang jauh ke balik bintik kuning paling dalam. Lagi, biru dan cokelat.


Déjà vu!


"Tidak, tidak apa," sanggah Hermione, meringis kecil. Bukan rasa sakit yang melintas di saraf-sarafnya detik ini. Melainkan intuisi aneh yang menggelitik punggung. Ada sebuah tongkat yang tertindih tubuhnya. "Eng, tongkat itu."

Memapah gadis itu dahulu ke kursi terdekat, Draco kembali berjongkok untuk memungut tongkat yang dimaksud Hermione. Sebelum memberikannya, ia meneliti komposisi kayunya, menghirup wangi khas, dan menampilkan tatapan bertanya pada Ollivander.

Memandu keringatnya yang bertaburan di pelipis, pria tua itu berkesempatan menghela napas lega dengan berbinar-binar setelah hampir setengah jam berburu tongkat. "Perpaduan apel dan pinus, inti pembuluh nadi Naga," decaknya kagum, "aku sudah melihatnya sejak awal—tapi sedikit ragu, ilmu hitam ikut mengambil bagian di sini. Ah, well, tapi ini cocok. Pesona harimaumu tinggi, aura manusiamu juga besar, Miss Granger. Untukmu."

"Terima kasih ..." Hermione merasakan gelenyar kecil dalam dirinya ketika tongkat itu terselip elegan di kepalan tangan. Sejuk. Seulas senyum merekah di bibirnya untuk Draco. Lelaki itu balas menatapnya dan tersenyum. Iris safir yang kerap membuat jantung Hermione Granger bekerja ribuan kali lipat dan lututnya berubah selembek agar-agar.

"Pikirku ini hanya sebagai pelengkapmu saja, Miss Granger ... terlalu banyak kekuatan dalam dirimu. Yang tidak sebanding dengan tongkat apapun ..." Suara Mr. Ollivander berangsur menghilang setelah pintu tertutup.

"Raja ..."

Sesudahnya, ia tak lagi repot-repot memikirkan tentang tongkatnya.

Biarkan semua berjalan apa adanya.

Tidak peduli berhubungan dengan hidup atau mati.

Seorang diri.

Jiwanya sudah sepenuhnya ia bebaskan pada Tuan Takdir.

Mengalir seperti air.

.

000

.

Banyak hal yang mereka lakukan.

DRAP DRAP DRAP DRAP

Keduanya berlari. Kaki-kaki bertenaga saling adu cepat. Menembus selaput transparan lanskap hutan bermelodi desau angin dalam lingkaran sukma. Tanah lembab mereka pijak tanpa ampun.

Lari.

SRAK SRAK SRAK

Sapuan angin malam menciptakan gerak tari para ranting-ranting yang menghiasi jalur pacu seekor kuda hitam dan harimau putih. Menampar telak di wajah. Menggores kulit luar. Menyisiri tiap helai bulu sehalus sutra. Tidak ada satupun yang mempermasalahkannya. Mereka menyingkirkannya seperti mengusir pasukan semut yang merubungi stop kontak. Semakin cepat, saat dengingan makhluk-makhluk nokturnal memandu sorak di atas kiri dan kanan. Adrenalin mengalir deras di setiap kapiler. Tanpa henti.

Sang harimau putih mendengus beberapa kali tatkala rival adu balapnya terlihat sangat cepat dibandingkan dirinya.

Sangat cepat.

Ia harus bisa.

Kendati kaki harimaunya lebih pendek dibanding mamalia bersurai hitam itu.

"Ayolah. Kau perlu banyak berlatih agar—"

Adu cepat yang melelahkan.

Bayangkan kekuatan terbesar hewan loreng-loreng ini, lepaskan.

Cobalah untuk berpikir, bahwa mangsamu berada di depan.

Mangsa.

DRAP DRAP DRAP DRAP

"Jangan memasang wajah seperti itu. Jelas-jelas kau mencuri start lebih dulu. Tidak adil."

.

.

SRAK

"Kau bicara denganku, Hermione?"

.

.

SRAK

"Bukan, dengan bunglon itu."

.

.

SRAK SRAK

"Oh—oke ini serius. Kurasa kau sangat-sangat multitalenta. Hanya aku dan Luna yang bisa berbicara dalam bentuk ini. Sementara yang lain berkicau konyol dengan bahasa isyarat. Siapa yang menciptakan bahasa isyarat hewan? Konyol. Dan, ya! Aku pasti menang!"

.

.

DRAP DRAP DRAP DRAP

"Kukira kau akan lengah sedikit kuajak bicara!"

Hermione kembali memuntahkan seluruh tenaga ekstra ketika ringkikan menjengkelkan Draco Malfoy kembali menggema ke telinga berbulunya. Dirasakannya taring itu mulai menekan kulit luar mulutnya lembut, lalu membentuk lengkungan mirip seringai seperti anak kecil yang hendak menarik bangku temannya ketika ancang-ancang menuju duduk.

Ia memusatkan pikirannya di satu titik. Jantungnya selalu berdetak lebih kencang di kondisi ini. Dengan mata terpejam, gumpalan fokusnya dengan cepat membuahkan hasil. Ketika garasi matanya terbuka, posisinya berada sepuluh langkah di depan sang kuda hitam.

Bunyi gesekan rumput dengan tanah bergemerisik ribut saat hewan yang identik dengan titel raja hutan itu berhenti nyaris kelewatan garis finish. Suasana perlahan sunyi. Pohon willow yang sangat besar, dengan dahan yang berbonggol-bonggol dan daun panjang serta tipis berdiri menaungi Hermione Granger. Jika menengok ke belakang, akan tampak pemandangan seekor kuda yang tersandung jalinan akar rambat pohon-pohon di sekitar. Setahu lelaki pirang itu, pohon di sini akarnya tidak sampai mencuat ke tanah.

Dan gadis itu tersenyum puas dalam hati.

"Aah ... kau ya?" Kegelian terpampang di balik manik safir lelaki itu. Ia menangkap aura kemenangan lengkap dengan kepuasan yang terlalu kentara pada sosok harimau yang perlahan kakinya bertransformasi menjadi kaki manusia.

Cerdas.

"Aku menang," ucap Hermione girang. Kedua tangannya terentang keatas menjemput hawa sukacita. Tumpahan cahaya bulan menyelimuti surai cokelat madunya laksana embun pagi.

Draco Malfoy menggeleng jenaka, sambil menyingkirkan beberapa akar yang tersangkut di rambut. Dalam perjalanan menghampiri gadis itu, jeritan kencang membelah udara malam memecahkan konsentrasi semunya. Hermione Granger melayang di atas kepalanya, dengan kaki jenjang yang menjuntai seperti ayunan. Whomping willow tampak senang dengan mainan barunya. Plantae itu terus menimang-nimang targetnya seratus delapan puluh derajat. Dua kali putaran. Dan wajah Hermione Granger terlihat lebih hijau dari kodok berlendir manapun.

"A-apa yang diinginkannya?!" Hermione berteriak lebih kencang, mengumpat lebih dalam, dan itu membuat cengkeraman ranting pohon pada pinggangnya semakin tak terpisahkan.

"Dia tidak ingin apa-apa. Hanya bermain," kicau Draco tenang. Melangkah cepat menuju dasar dedalu perkasa menyusahkan itu. "Auch!" Ranting di dahan terendah mendorong Draco di sisi kanan tubuh. Lelaki itu terhuyung jauh ke dalam sebuah ceruk bersama aliran darah tipis di pipinya. Pekikan lantam sang gadis yang khawatir akan keadaannya dibalas oleh, "Aku o—oke!"

"Shu ... shu ..." Draco berjingkat tanpa suara di antara belitan akar pohon raksasa itu. Ia perlu menyentuh satu simpul di kulit pohon dan beres. Lambat laun, aktivitas diluar kontrol pohon itu berangsur melembut disertai lengkingan yang mulai pudar. Sambil menyuplai oksigen banyak-banyak melalui mulut dan hitung, Hermione berupaya meredamkan tonjokan dalam jantungnya yang menjadi-jadi. Dan musik itu terdengar. Denting harpa eksklusif yang mengombang-ambing akal sehatnya. Asap itu membumbung tinggi dari kejauhan, dari satu-satunya cerobong suatu pondok beratap jerami di area barat hutan ini.

"Thanks ..."

Draco mengusap pelan cairan magenta kental di sudut bibir, tapi senyum nyatanya tetap eksis. Membuat gadis itu berpikir ia adalah bayi paling merepotkan yang pernah ada.

"M—maaf," ucapnya.

Lagi-lagi, Draco mendongak ke atas dan pancaran hangat mata birunya kembali menghipnotis Hermione Granger. "Apa? Aku tidak dengar?"

"Maaf, Draco Malfoy!" seru Hermione menampilkan barisan gigi putihnya. Layaknya simbiosis mutualisme, timbal balik antara senyuman sang gadis nyaris sukses melumpuhkan sedimen tanah tempat dimana pemuda itu berpijak.

"Suaramu tetap tertelan angin ..."

Gumaman tak jelas dari bibir tipis merah jambu milik Hermione bagaikan lagu pengantar tidur termanisnya setelah vokal indah Narcissa sepanjang masa kecil.

"Tunggu. Boleh kita ke sana?" tanya Hermione penuh harap, saat Draco melambaikan Aspen-nya di medium udara.

"Immubulso," rapalnya. Aba-aba agar Hermione menjatuhkan dirinya ke bawah berhenti sejenak, "Ke mana?"

"Pondok itu."

Draco mengikuti arah pandangan gadis itu, lalu tersenyum jenaka. "Baik. Tapi kau tidak ingin memboyong serta pohon ini ke sana, 'kan?"

"Tentu saja. Ini hampir terlalu larut, semua asupan makananku tadi seolah ikut tercerai-berai saat lari. Jadi perutku mulai ..."

"Berburu buah-buah di sini cukup enak." Draco menyeringai.

Menaikkan alis. "Butuh banyak untuk bisa kenyang."

"Sudah pasti lebih banyak milikku nanti."

Hermione menjatuhkan badannya dan terjerembab erat di kedua tangan Draco. Setelah sempat terhuyung ke belakang, mata keduanya menggelap dan berkilat-kilat. Akhirnya kembali terdengar derap empat pasang kaki wujud hewan yang saling balap membelah jalur menuju barat hutan.


Buah-buahan itu jatuh di luar kesadaran dari mulut sang kuda hitam satu persatu. Seakan-akan memiliki nomor urut sesuai alfabet. Strawberry setelah pinus. Atau raspberry setelah kenari.

"Sepertinya jiwamu terlalu menyatu dengan wujud itu ..." tuturnya saat kembali berubah wujud manusia, masih belum selesai terperangah.

The White Tiger mengangkat kepala dan membelalak. Sesuatu yang lembut di dalam antara taringnya terus bergerak-gerak menggelitik langit-langit mulut. Sesekali, bunyi mencicit terdengar memasuki telinga loreng hitamnya.

"Ya Tuhan!"

Kelinci bertubuh sewarna kapas itu meloncat keluar saat Hermione refleks merubah wujudnya kembali semula dan ikut terhempas mundur. Jantungnya berpacu cepat menyadari apa yang barusan ia lakukan. Melihat langkah-langkah mini hewan imut itu menjauh dari lingkup pondok, keringat dingin semakin deras membaluri telapak tangannya.

"Sungguh, aku tidak berniat—"

"Tidak apa-apa," balas Draco sambil membungkuk memunguti buah-buahnya. "Daripada membawa satu gerobak rumput segar dan mengakibatkan banyak problema di rumah," ia tertawa kecil, "itu saat aku tujuh tahun."

Meskipun gadis itu ingin ikut tertawa juga, tapi situasi dimana ia nyaris saja menggilas kelinci itu tak lepas membayangi benaknya dan menyumbat seluruh kata-kata di tenggorokan.

"Itu mengerikan," lirihnya gemetar. Tekstur kulit pohon cemara tempatnya bersandar semakin terasa jelas di balik punggung. Ia memeluk lututnya yang kaku erat.

Tidak lagi.

"Lainkali kau bisa melatihnya lagi, kok. Seperti naga karnivor berkulit ular dari Bhutan yang sekarang hanya mau makan bubur. Hasil ulah Charlie," ucap Draco mendamaikan gejolak takut dalam diri gadis itu. "Ayo, bangun. Katamu lapar," pintanya lembut.

Kriet.

"Ho ho ho, Drake The Dark Horse!"

Draco berputar dan melambai. "Hagrid!"

Berdiri menjulang di depan pintu, empunya pondok berselimut alunan alat musik para malaikat merentangkan tangan besarnya dengan ramah. Aura hangat memayungi Hermione ketika ia melewati Hagrid yang tingginya dua kali dari rata-rata orang biasa, dan agak tergencet di bilah pintu dengan badan lelaki tersebut yang lima kali lebih pinggangnya. Draco menyumbat tawanya ketika Hagrid kembali menutup pintu pondok dan Hermione tak kunjung melangkah, akibatnya janggut semak belukar milik Rubeus Hagrid menjuntai seakan menyatu dengan pucuk kepala gadis itu.

"Uh-huh, maaf," katanya salah tingkah, "kau yang memainkan harpa itu? Ini lebih dari indah." Hermione menggeret tumitnya menghampiri alat petik beralas triangular di sebelah sebuah kursi goyang dalam keremangan pondok. Harpa emas itu jelas lebih menarik atensi dibandingkan perabotan di sekitarnya yang terlihat agak kumal, dan kebanyakan bertengger banyak rak berisi deretan botol anggur tua mulai dari My Queen Jubilee sampai Chateau Cheval Blanc 1947. Rubeus Hagrid mungkin bukan peminum standar.

"Yaa, kau menyukainya?" tanya Hagrid menaruh tiga gelas besar whiskey sebelum menghempaskan bokongnya di kursi di sebelah Draco.

"Hmm ..." Hermione menggumam samar sementara jemarinya terlanjur bergulat di antara string dan melantukan sebuah lagu.

"Pacarmu, kid?" celetuk Hagrid memainkan alis mata pada lelaki pirang di depannya.

"New neighbor," kekeh Draco kembali menyesap minumannya untuk memanipulasi aksi tersedak. Hagrid menayangkan gestur menepuk dua kali pundak pemuda Malfoy dengan pandangan 'aku-tahu-pikiranmu-anak-muda'.

"Oh, seriously. Not same as you think."

"It's the first time you bring a new girl here."

"Kebetulan dia yang tertarik pada harpamu."

"Alibi." Hagrid tertawa, namun sinar matanya kembali meredup usai menarik kembali ingatannya sepuluh menit ke belakang. Dengan volume terendah berbisik, "She's The White Tiger?"

Menjauhkan pandangannya dari Hermione Granger, Draco kembali mengangguk sekali sebagai jawaban. Sebelum muncul pertanyaan dari Konstelasi mana Hermione berasal, pemuda perak itu segera memberi Hagrid beberapa pemahaman tentang sang gadis yang tidak mengenali asal-muasalnya. Sebuah teori kemunculan kekuatan magis yang baru diperolehnya di ulang tahun ke tujuh belas, eksistensi abu-abu ayahnya, serta segala macam fortitude spesial seukuran 'pemula'.

"Jadi, maksudmu, seharusnya ia bisa disandingkan dengan crazy witch sekaliber Karkaroff?" respon Hagrid kembali mengisi whiskey gelombang keduanya. Saat itulah lagu Appasionata memasuki tahap ending yang dikemas lembut oleh permainan jemari Hermione.

Mengernyit dan melukiskan roman jijik pada wajahnya, Draco Malfoy berkata dingin, "Tentu saja tidak sama."

"Ew! Apa ini?" pekik Hermione merasakan genangan air kental di sebagian telapak kaki. Perasaan geli merambati tenggorokannya. Mengangkat wajah menunggu jawaban dari ruang makan, tiba-tiba Hagrid berdiri dan berteriak.

"Fang, move!"

Fang?

"Oh, anjingmu," ucap Hermione kalem. Rasanya seperti memakai sepatu rajut transparan berbahan dasar liur anjing besar Hagrid. Sensasinya benar-benar awet meskipun ia sudah terbebas dari bencana jeratan saliva dan terduduk nyaman di kursi kayu.

"Yeah, Fang yang lucu," balas Hagrid riang. Tidak tahu harus tertawa atau tidak, hanya cengiran yang ada di wajah Hermione saat ia membenamkan mulut di gelas whiskey yang masih utuh.

"Sangat lucu sampai ujung tongkatku terbungkus liurnya dan alhasil semua mantra yang kulempar saat itu berkontradiksi." Memainkan Aspen dengan lagak ternodai, Draco menaikkan dagu dan semuanya terbahak.

"Kau membuka aib Fang." Hagrid berkata seperti mengumbar lelucon.

Atmosfir asing namun sering tejadi kembali merengkuh jiwa Hermione Granger. Aroma kesendiriannya di dunia perlahan hilang. Berganti dengan semi-kalor tatkala berada pada lingkaran orang-orang yang mengakuinya.

Mungkin rasanya sebelas dua belas seperti si Hannah Abott yang setiap hari diantar jemput oleh orang tuanya. Bukan dalam arti kekanakan maksudnya, tapi, semua di lini masa ini tahu.

"Ah, Rubeus Hagrid."

"Hermione Granger," jawabnya segan. Hazelnya menyapu sekeliling sebelum Hagrid setengah mematung mencermati ujung Alder yang menyembul di balik jubah hangatnya.

"Alder, sedarah dengan Elder?"

Draco mengedikkan kepala sambil menggigit berry-nya. "Mungkin kakak pertama. A lebih dulu ketimbang E. Dan seingatku memang tingkat Alder lebih tinggi."

"Hmm—yah," gumam Hermione kikuk, "mungkin aku harus belajar banyak tentang tongkatku ... sendiri?"

Hagrid mengamati tongkat berinti nadi Naga itu dari kepala sampai kaki, atau sebaliknya dengan cermat. "Kau jago soal non-verbal, ya?"

"Nah," sambar Draco meyakini. Hermione asal mengangguk skeptis, kemudian kembali menyelipkan tongkatnya di balik jubah.

Obrolan selanjutnya ternyata menyangkut kematian Hiccup yang malang dan soal sesuatu yang tega menghabisi nyawanya. Namun semakin lama durasi percakapan itu berlangsung, rasa limbung mendera Hermione hingga sakit kepala sebelah. Pikirannya mencebik bahwa ia seperti boneka bertali di kotak panggung drama.

Seperti boneka bertali di kotak panggung drama.

Jika ia bisa memutilasi tubuhnya menjadi dua bagian sekarang juga, ia harus membuang sisi kanan atau kirinya yang rutin membangkang koordinasi saraf pusat.

Pupilnya membesar. Kembali ke dua hari silam dimana sesuatu dalam kepalanya bersuara sejelas percikan air terjun.

Apa yang ada dalam dirinya?

Atau apakah ini bukan tubuh aslinya?

Unsuccessful.

Sial! Hermione kembali mencoba memanggilnya.

Gagal.

Apa suara itu mulai menjiplak mentah-mentah pepatah yang berbunyi:

Jika kau tidak ingin menemukannya, maka ia ada. Jika kau ingin menemukannya, maka ia tidak ada.

Eat that shi*s?

Kemudian, tentang pergeseran rasi bintang. Hermione agak semangat untuk bergabung ke dalamnya. Tapi itu membawa mereka terlalu hanyut dalam debat kusir alot berdasarkan kedalaman ilmu bintang masing-masing. Kendati Hermione hanya kebagian jatah berdialog mengiyakan atau tidak menyetujui suatu pendapat, ia akan selalu mendorong yang akurat dan tak segan menyanggah yang salah. Berdasarkan lebih dari berkilo-kilo buku perpustakaan sekolah tentang astronomi yang ia telan bulat-bulat. Sampai gadis itu melepas fokus pandang sejenak ke arah jarum pendek yang menunjuk ruang di antara angka sepuluh dan sebelas. Jendela lebih menggelap dari sebelumnya, semua bayangan di luar pondok sirna tertelan kegelapan. Semua itu kembali menemukan hipotesis final yang sebenarnya tak jauh beda dengan hasil Konferensi Meja Weasleys tadi.

Tak akan ada asap bila tak ada api.

Penyusup itu beraliansi dengan kubu Anak Merlin. Kembali disebut nama Igor Karkaroff sebagai kaki tangan sang dalang.

Tidak banyak yang dibicarakan lagi saat Hermione mengutarakan keinginannya untuk segera pulang. Draco menahannya untuk tinggal lebih lama lagi sebelum akhirnya mengabulkan permintaan gadis itu. Ketiganya menempuh perjalanan balik menuju The Burrow dengan belasan botol wine cowslip koleksi Hagrid yang paling top di dalam tas selempang dengan mantra perluasan. Hermione sempat nyaris pingsan ketika waktu perubahan wujud, Hagrid menghilang tanpa jejak.

Dan, siapa sangka. Animagi manusia jelmaan Cyclops itu hanyalah kumbang tanduk berwarna hitam mengkilat.

Hadiah tak terduga terjadi di tengah trip dalam hutan. Tatkala seekor centaurus remaja muncul mengguyur wujud hewan Draco dengan bogem mentah dan disambut pandangan heran milik Hagrid dan Hermione.

Jedediah. Saudara tertua Hiccup, sekaligus pemilik dari Zedd si kelinci hoki yang nyaris menjadi camilan malam Hermione. Insiden kelinci tentu masih di luar daftar motif penyerangan. Sepele.

"Jeddie, ada apa?!" Draco menangkis pukulan terakhir Jedediah dalam wujud manusianya. Centaurus itu tak menjawab namun terus memburu napasnya untuk satu tendangan lagi. Seperti memukul tembok, semua hantaman bertubi-tubi itu selalu dipecah Draco dengan sempurna.

Keheingan tercipta saat Hermione melompat tinggi ke arena tarung Draco-Jedediah dan menyebabkan Centaurus itu mundur sejauh mungkin.

"King," hormatnya agak acuh. Hermione menggeram kecil.


"Apa tujuanmu?"


"Mencari pembunuh Hiccup."


"Draco Malfoy bukan pembunuhnya."


"Maaf, tapi sesuatu mendorongku kepadanya."


Sesuatu.

Selalu sesuatu.

Bisakah sesuatu sialan itu diumpamakan sebagai x dan tinggal dicari dengan persamaan matematika?

Jedediah keburu menghilang di antara bayangan pohon yang menjulang tinggi. Meninggalkan pegal-pegal kronis di sekujur tubuh Draco Malfoy.

"Dia menyerang tiba-tiba. Mana sempat melakukan pemanasan."

Sepeninggal sang Centaurus, Rubeus Hagrid berani bertaruh bahwa binar mata Jedediah berkilat merah—tidak seperti biasanya, hijau acar dan periang.

Lain hal dengan sang Raja, Hermione Granger berani bersumpah ucapan terakhir Jedediah merupakan suara palsu.

Suara yang sama.

.

000

.

Kedatangan berbotol-botol whiskey Hagrid di The Burrow jelas menelan habis suasana tentram seperti sebelumnya.

"Aku mulai capeek~" kata Fleur sempoyongan menyeberangi ruang tengah; napasnya mulai tersengal-sengal dan kedua pipinya yang pucat sudah memerah. "Ayo duduk dan dengarkan Oliver bekisah tentang celana dalamnya ..."

Oliver? Hermione terkekeh. Cowok itu tidak ada di sini. Tapi Fleur yang dalam kondisi di atas awan itu memeluk punggung sofa dan menciuminya.

"Arthur, caramu mengendusku masih sama seperti dulu." Selembar celemek masak bersalto di udara dan mendarat di kepala Ronald.

"Ephyra? Kau taruh apa di atas kepalaku?" Pemuda bungsu Weasley itu terus maju sambil meraba-raba sekitar. Gadis McMissile tersebut terlihat menghindari Ron sambil terkikik-kikik. Ternyata permainan Kucing dan Tikus. Sedari tadi, Ron selalu membiarkan dirinya mudah ditangkap, supaya dia bisa ganti menangkap Ephyra—dan dia selalu berhasil, kendati kedua matanya ditutup rapat dengan kain.

Siapa bilang cinta itu buta? Cinta bisa mudah melihat menembus lima lapis syal yang diikatkan rapat-rapat menutupi mata.

Hal tersebut jugalah yang membuat Charlie, Luna dan Nymphadora menjadi pemain figuran karena tak kunjung kedapatan job.

"Ho!" Draco Malfoy berulang kali melayangkan tinjunya pada tumpukan pakaian kotor di ruangan sebelah dapur. Matanya yang memerah dan berair bisa saja mengindikasikan bahwa ia sedang mabuk berat. Tapi kuda-kuda berkelahinya begitu serius, jadi, agak sulit membedakan orang berkelahi dengan orang mabuk.

Tanyakan saja pada Percy Weasley yang berguling-guling santai di tumpukan sebelahnya. Dan tarian balet Bill di tengah-tengah konser rock-nya.

Atau keganjilan adanya dua wanita kembar dari negeri antah berantah dengan dandanan pink merona yang ekstrem.

Hermione Granger juga meminum sebanyak empat gelas dan beranak jadi tujuh karena Draco dan Hagrid terus menawarinya.

Kebal. Salah satu dari kelebihan barunya yang menguntungkan. Hanya sensasi kekenyangan dan puas yang ia dapatkan. Akal sehat masih terantai aman di otak encernya.

Setengah dua belas malam. Mustahil untuk memohon salah satu dari mereka agar mengajarinya sejumput mantra tinggi teleportasi. Mengendap-endap sambil menjinjing tas menuju balkon di sayap barat The Burrow, hazel Hermione terlalu jeli memonitor lokomosi lusinan set mata yang tenggelam dalam dunia masing-masing sampai kepalanya terbentur gorden merah muda penuh rimpel pembatas pintu.

"Hermione?"

Kret.

"YAY?!" Gadis itu melompat terkejut, nyaris jatuh dalam pelukan anak ketiga pasangan Arthur dan Molly Weasley.

"Mau pulang?"

"Ee, ya. Sudah terlalu larut," jawabnya usai menata napas. Berkata jujur pada orang mabuk bukanlah masalah besar.

"Oow," respon Percy dengan mata sayu, "memangnya kau sudah lulus tes Apparate?"

"Tes mantra teleport?" Hermione mengernyit. "Bahkan aku tidak tahu dimana tempat ujiannya. Kali ini aku mungkin bisa mengandalkan sebuah lubang ajaib," kata Hermione agak menyombong seolah Percy adalah bocah ingusan yang bakal iri akan kemampuannya.

Air muka lelaki keriwil itu berubah keras sepermili sekon. Binar mata almond-nya yang tidak sebanjir yang lain tampak mengering. Tapi ia kembali menatap Hermione kalem. "Terserahmu mau menggunakan apa, cantik. Matamu bening sekali—seperti kelopak bunga primrose~"

Menghembuskan napas lega ketika Percy mulai berjalan tak tentu arah dengan bantuan dinding, Hermione kembali mengusung rencana utama untuk menemukan sebuah tembok kosong.

Di tengah riuh-redam 'pesta', Percy Weasley kembali berdiri tegak seraya mengintip ke luar balkon dari balik punggungnya.

Seekor kucing angora mengeong penasaran saat lubang hitam yang terbentuk atas kuasa Hermione merekah. Melekat seperti poster hologram di tembok yang ditumbuhi rambatan sulur.

"Pussy, chap, chap," cericip Hermione teringat akan Crookshanks. Ia berlutut menyisir bulu-bulu lembut si kucing dengan jemarinya tanpa merasa curiga. "I just wanna go home, bye ..." pamitnya sebelum lautan cahaya galaksi melumat tubuhnya tak bersisa.

Gadis itu melewatkan serpihan fakta bahwa bulu kucing hutan tidak ada yang se-terawat ini ...

—dan sepasang mata yang mengawasi dari ruang tengah.

ZLAP!

Di tempat kucing tadi berdiri, menjuntai sejumput jubah hitam pekat yang mencium lantai. Sosok tersebut membenarkan letak topi kerucutnya setelah bersin melandanya barusan.

xxx

Hermione tersentak kaget. Benar-benar hari kaget nasional. Ia baru saja mencoba meyakinkan diri apakah ginjal dan ususnya masih ada akibat efek angin puyuh dahsyat yang menemaninya sepanjang lorong perpindahan. Tapi bunyi deru mesin mobil dimatikan tambah membuat koordinasi kaki serta tangannya serabutan. Tangan kiri menyambar baju lengan panjang bekas tadi pagi dan memakainya, kedua kaki menyusup cepat ke dalam lipatan sandal tidur abu-abu berbentuk bugs bunny. Pintu terbuka. Dengung keluhan letih sosok tersebut semakin menguar jernih di telinga.

"Seharusnya tidak bakal selarut ini—Hermione? Belum tidur?" Blaise Zabini menutup pintu dan kembali menatap. Si gadis meluapkan gestur menguap yang dibuat-buat.

"Akhem—food," alibi Hermione dengan sorot mata yang tak fokus. Siapa yang tidak kenyang oleh belasan keik, pie, buah-buah hutan, serta tujuh gelas wine?

Sungguh gila.

"Oh, kalau begitu cepatlah kembali tidur," kicau Blaise sembari meregangkan otot-ototnya selepas beraktivitas seharian penuh. Tas selempangnya ia letakkan sembarang di atas meja.

Ufh.

Hermione mengangguk kaku sebelum memutar tumitnya menaiki tangga. Berbalik untuk sekedar basa basi—

"Apa yang membuatmu selarut ini?"

Berhenti memijati pelipis, lelaki itu menoleh dan menghela napas. "Membedah cacing tanah dan kodok satu malam sekaligus bukan salah satu hal yang paling diinginkan. Tapi Katniss pekerja yang baik."

Iris Hermione berkilat terang menyadari lima kata terakhir Blaise. "Kalian pacaran, yaa?"

"Kau—" Laki-laki itu memicing pura-pura marah. "Aku dan dia tim tersukses dalam praktek ini."

"Tim atau sejoli?" kikik Hermione tak menyerah. "Jangan melenceng dari rumusan masalah ya. Nantinya kau dan Katniss malah saling bedah hati ..."

Sebelum bantal bulat sofa ruang tamu melayang ke arah tangga, sepasang kaki jenjang sudah terbirit-birit diakhiri dengan dentuman pintu tertutup.

"Kau yang membuatku terus menerus sakit kepala dan terlihat berusaha keras melukai Draco Malfoy. Tunjukkan dirimu—atau suaramu."

Hermione Granger memejamkan mata dalam hangat selimut. Dan belati emas itu merupakan pemandangan terakhirnya sebelum jiwanya menyelam ke ranah mimpi.

xxx

"Want to go where, Fleur?" Gadis bermarga Chang mengedarkan tatapan bertanyanya. Tidak pernah, Fleur Delacour rela meninggalkan pelajaran Seni Tubuh. Urgensi buang air sekalipun.

Merapihkan keliman ujung rok biru muda seragam Beauxbatons-nya terburu-buru, dara manis bertitel Dewi Persephone itu melepas senyum manis yang mampu melumpuhkan lutut semua pria di muka bumi lengkap dengan alis yang terangkat sebelah, "Terlalu sering menahan pipis sepertinya kurang baik."

"Kantung matamu," teliti Cho curiga.

"Overdrinked."

Kaki jenjang beralas high-heels kuning pisang mencolok bergemeletuk membentuk irama dingin di sepanjang lorong kaca. Ia menggumamkan sebuah mantra, di persimpangan antar kamar mandi perempuan dan perpustakaan. Perlahan, bayang-bayang semu tongkat kayu silindris di genggaman tangan kirinya mulai tampak nyata.

Kepalanya bergerak seperti pendulum, memindai keberadaan warga Beauxbatons lain yang kemungkinan berada di lingkarannya. Kosong. Ketika cahaya seterang ledakan serbuk bintang supernova melesak keluar dari arah toilet, gadis itu mempercepat langkahnya.

"Uhuk, uhuk."

Usai menutup pintu utama toilet dengan mantra pengunci, Fleur berbalik untuk mencuci muka sebelum menghadap tamunya.

"Saluran apparate sekolah ini sungguh menyiksa—uhuk, paru-paruku." Wanita paruh baya itu menumpu tangannya pada tepi wastafel. Ia berkostum jubah hijau zamrud dengan dalaman motif kotak-kotak ala Skotlandia, dengan rambut yang digulung ke atas. Keanggunan dan kharisma terpancar dari wajahnya saat gelombang batuk yang mendera berhenti setelah ia menarik napas panjang.

"Uhh' santai, Minerva."

"Tidak ada kata santai kalau dunia kita benar-benar menyentuh lafal aman."

"Kau mangkir?"

"Mangkir?"

"Stop bersandiwara."

"Ya Tuhan Fleur Delacour Malfoy ini lebih penting."

"Kh—"

"Ya aku mangkir." Wanita tersebut mengibaskan rahangnya ke arah cermin. Sama sekali tidak menyesali diam-diam meninggalkan komputer setipis kertas yang dijejali miliaran persen angka lengkap dengan latte kering di samping keyboard.

"Ada apa?"

"Dia bukan Raja biasa."

Fleur berhenti bermain dengan rambut indahnya. "Granger?"

Mengangguk. "Hn. Dia menggunakan lubang tersebut. Aku. Bersumpah. Ia. Memiliki. Itu. Blackhole merupakan satu ciri khas kekaisaran—kuprediksi Cassiopeia, bintang dari segala bintang, dan jejak biru magis yang ditinggalkannya."

"Tunggu, blackhole? Raja sebelumnya memiliki itu. Tapi memori kita dihapus—bisakah kau meminta Trelawney untuk menarik kembali semuanya tanpa revisi?"

"Mustahil. Tidak ada yang bisa melawan otoritas Raja sebelumnya. Mungkin ada maksud dibalik aksi nekat Our Majesty memodifikasi memori kita sebagai sebangsa sedarahnya."

"Kau sebut... Hermione Granger dari Cassiopeia~ sebagai kuncinya?" lantun Fleur dalam harmonisasi suara bak tengah mendongeng.

Minerva McGonagall berjalan maju mundur sebelum berkata, "Mungkin."

"Tapi ... ia tampak tidak tahu apa-apa," ungkap gadis pirang itu menggantung.

"Aku tidak bisa berpendapat apa hal itu terkait dengan penyusup yang menggunakan Hiccup untuk masuk teritori, kekacauan satelit di Wall Street, berubahnya susunan tapak bintang di langit utara, dan yang terpenting; Departemen Pengawasan Transportasi menemukan titik paspor sihir Peter Pettigrew meloncat dari satu benua ke benua lainnya. Aku tidak tahu disumpal di mana janggut Karkaroff itu selama mereka berpergian."

"Kau bawa database titik koordinat lompatannya?"

"Nymph tengah dalam perjalanan ke Depatemen untuk bertemu Kingsley, membahas semua ini," jelasnya.

Heran adalah kata yang cocok untuk menggambarkan ekspresi gadis Malfoy ini. Otaknya mencoba merangkai kepingan keganjilan tersebut satu per satu. Tapi kerutan di dahinya malah semakin banyak.

Cassiopeia ...

"Apa kau yakin Granger sepenuhnya lahir di bawah naungan Cassiopeia?" cetus Fleur dengan sinar menohok yang merajai manik birunya. "Kalau memang ada hubungan dengan mereka."

Bibir tipis wanita yang menempel pada jabatan banker WS New York City sebagai pekerjaan nyatanya tetap terkatup rapat.

Yang jelas Raja Terdahulu tidak ingin 'warga'nya terbelah dalam kegelisahan.

Dan menghapus ingatan adalah solusi yang tidak salah, namun tidak benar juga.

Selidiki anak itu.

Tidak benar, selidiki sang Raja.

"Jangan bilang kau akan ber-Apparate dengan ..." Fleur memandangnya geli sebelum bunyi plop berkumandang.

Fleur kembali mematahkan pertahanan pintu toilet tepat saat seseorang memutar kenopnya.

"Hatchyi! F-Fleur? Apa kau m-membawa kucing?"

xxx

Kriing. Gebrakan pintu-pintu kelas di sepanjang selasar mendecit sengau sebelum memuntahkan para murid yang bergurat wajah menghijau seperti kodok.

"Aku tidak pernah merasa sudah membayarnya ..."

Gadis itu mematung lama di depan papan pengumuman. Namanya terpancang di urutan nomor enam daftar siswa yang telah melunasi biaya praktek alkimia setelah Astoria Greengrass. Pat memang meninggalkan uang di vas bunga lili ruang tamu. Tapi itu hanya daily-ongkos.

Visual hazel itu menjauh dari fokus huruf-huruf yang mencipta banyak nama. Hingga kaca penutup papan memantulkan fitur rambut cokelat sepunggungnya yang diikat satu.

Dan dia ...

...mau apa...

Hermione membelalak tatkala secercah sinar amethyst memerangkapnya dari balik punggung. Rentangan tangan kurus tanpa aba melingkari tubuhnya. Rambut hitam panjang sosok itu menggelayut rendah di bahu, lengkap dengan aroma citronelle manis khas kaum ningrat.

...apa...

Tidak ada yang berbicara.

Hermione menatap ke belakang. Menjelajah pusat dari semua ini melalui jendela matanya. Tak ada sesuatu di sana.

Bayang-bayang senyum aristokrat itu melukiskan udara kosong.

Fakta Lady Astoria Greengrass memeluknya sekencang ini mungkin terjadi tanpa alasan.

Atau sejenis bencana alam.

"Untuk semuanya..." Astoria mengendurkan keratannya.

Bajingan sampah, gumam Hermione.

Ia benar-benar menyesal. Di saat daging domba berisi serigala tersedia cuma-cuma di depan mata, kapak yang baru terasah batu apung tidak dibawanya.

Aa, ha..haha..

Skema pembantaian yang terlalu muluk.

Bibir Hermione mengulas senyum getir. Permata hazel lantas berkilat saat bergerak ke sudut mata. Mengunci kembali tatapannya pada papan pengumuman.

"Aku ingin kau tarik kembali uangmu. Aku bisa melakukannya sendiri, mencicil sekalipun."

"Apa maksudmu, Hermione?" nadanya terdengar sangat rendah seolah terancam. "Aku tidak memerlukan apa-apa."

Alis Hermione terangkat tinggi. "Tidak dengan memerlukan. Melompat ke 'membutuhkan'?" sarkasnya dingin tanpa melirik.

Astoria membimbing gadis itu berjalan menjauhi kerumunan manusia yang mulai menyemuti papan pengumuman. Lengannya yang menggantung di pundak mantan sahabatnya kemudian ditepis blak-blakan oleh Hermione Granger. Permata cokelat itu menusuk tajam saat berusaha mencipta jarak di antara mereka.

"... Hanya ingin kembali merajut benang kita yang putus," ujar gadis berambut sepekat jelaga itu anggun. Mengabaikan aura tidak suka yang terpatri di wajah lawan bicaranya.

Beberapa langkah kemudian, "Apa yang mau kau ambil dariku lagi? Stok kesenanganku-" tangannya menggelepar di udara, "nol."

"Ke—"

"Jika berminat mengangkat semua beban di pundakku, silahkan. Bukan memperburuk, garisbawahi itu." Hermione mengambil ancang-ancang berbelok ke koridor timur. Apapun yang diinginkan gadis emas Greengrass itu, dirinya takkan pernah ceroboh meredam alarm bawah sadarnya untuk hal yang tabu diucap remeh ini.

"Wah, pribadi yang up to date," komentar Astoria dengan senyum yang mencapai mata. Menyadari perubahan kilat pribadi profil 'calon' sahabatnya. Memantik gadis berkuncir ikat satu di sampingnya mendelik geram.

Dia jelas tidak punya banyak teman

Jadi,

Kekuatannya itu teman,

atau Pelengkap?

"Tidak hanya kau yang berhak untuk hidup damai."

"Postulat hukum HAM?"

"Pergi jahit mulutmu."

"Wow—wow, tenang." Astoria menambah kecepatan langkahnya dalam mengejar Hermione. "Jadi, permintaan—" ia menelan ludah, "maafku diterima?"

Gadis itu berhenti dan nyaris tersandung. "Maaf?" ejeknya mencemooh. Tertawa tanpa suara. "Maaf? Hahaha haha."

"Jangan buat aku mengulanginya—"

"Memang kau minta maaf?" ulang Hermione dengan kilat menahan tawa yang melintas di ekor matanya. Kemudian sengaja berbalik agar lebih cepat menangkap jawabannya.

Simpul erat di kedua tangan Astoria semakin kaku. Matanya bergerak liar melengkapi bulir-bulir peluh yang bermain di paras ala bangsawan etis era Victoria. ";46 &2%3& 6#' 4"

Merasa sia-sia memperlambat jalannya sekedar menunggu lontaran jawaban, Hermione mulai melenggang normal dengan ringan. Dieratkannya empat jilid buku setebal meja kayu yang dikepit di lengan saat seruan itu meletus di ujung telinganya.

"Ya...Aku minta maaf, Hermione Granger!"

Sekujur tubuhnya basah kuyup melebihi apapun.

Seluruh literaturnya seakan hilang keluar ditelan kata itu.

Astoria Corona Greengrass membuka mulut, garis di antara matanya terlihat panjang dan dalam, ketika Hermione Patricia Granger merespon dengan cukup,

"Wah, pribadi yang up to date."

Sang hazel bergulir ke atas dan dalam sekejap, satu dari lima anggota Vivax itu mendapati beberapa helai rambutnya mencuat ke atas persis efek yang mendera bila tangan manusia bersentuhan dengan bola beraliran listrik di pameran-pameran. Astoria membelai dadanya halus untuk meredam getaran kecil di setiap tulangnya saat punggung gadis itu lenyap di tikungan.

Serta merta rambutnya kembali turun.

Yah.

Ia tidak bisa tidak bermain aman.

000

"Kesa gatame!"

Sepasang siswa sabuk cokelat melakukan kuncian pinggang dengan latar sorak sorai membahana anggota lain. Lima hitungan diluncurkan. Lelaki berambut perak di depan mereka tak lelah menggenjot semangat demi hasil yang sempurna. Celana panjang longgar setinggi lima senti di atas mata kakinya berkibar bebas diikuti ayunan obi merah-putih yang menunjukkan tingkat Dan-nya.

Sementara lelaki yang satunya lagi terlihat menjaga jarak dengannya. Ia lebih memilih mengatur barisan anak-anak sabuk putih di sudut. Meskipun seharusnya kekasih si molek Daphne Greengrass itu satu area dengan teman pirang sabuk hitamnya di sana. Kemarahan di balik pusaran yang menghiasi mata emeraldnya membuat beberapa pasang siswa tingkat tiga dari Hogwarts JHS setempat menggigil konyol.

"Hmm ..." Jake Flynn terus berkedip dan menggumam terlalu keras dari barisan paling belakang. Laki-laki bersurai hitam dengan alis tebal itu duduk menghadap arah yang berlawanan. Kepalanya menengadah pada tv LED bracket yang digantung di setiap sudut dojo sekolah sambil menggaruki pipinya lekat-lekat.

Draco Malfoy memutar otak agar anak itu fokus pada latihan. Berkali-kali berdehem sama sekali tidak membuahkan hasil. Malah banyak anak perempuan berprasangka lain sambil terkikik centil. Bukannya—

"Jake Flynn," decak Draco habis sabar. Rahang anak itu tetap terbuka setengah seakan sedang menanti sesuatu yang spektakuler dalam siaran sekolah.

"Ya Tuhan Greg jangan mencoba menggodaku dengan suara sok seksimu itu. Suaramu hanya serak-serak bangau. Tunggu ini, sebentar lagi, Astoria Greengrass yang bombastis ..."

Semuanya sibuk mengulum tawa di mulut masing-masing sementara bocah berkulit hitam yang disebut sebagai Greg meringis tertahan di belakang punggung Jake.

Draco menampilkan ekspresi mengantuk yang membosankan. "Ya, ya, setelah ini ada iklan pemandu sorak—"

"Lihat, lihat, Greg! Itu dada penuh India si kembar Parcel! Ah—oh ya maksudku Patil," koreksinya usai melongok teks nama di bawah video. "YEAAAHH itu Lady Greengrass!"

"Wah, apakah bokong Draco Malfoy sudah terlewat?"

Anak-anak perempuan tidak tahan lagi. Seragam putih yang mereka kenakan nyaris habis akibat saling remas menyadari betapa begonya Jake Flynn itu.

"Aah, Draco Malfoy ya. Tunggu saja. Apa?! Payah nih, salurannya terlalu banyak perang semut," kutuk Jake sebal. Antena luar Hogwarts memang benar-benar perlu diganti.
"Nah," serunya ketika layarnya kembali jernih, "olaa, la, shit! Kembali perang semut. Huh, biar kujelaskan saja ya bentuk bokong...siapa tadi? Draco Malfoy? Draco Malfoy itu...

...itu..."

Jake menolehkan kepalanya sigap ke depan. Ia membetulkan posisi duduk bersila yang benar sebelum berkeringat dingin. "...ada di dojo sekolah," cengirnya selebar kuda.

"Oh my God, Greg. Kuharap ia tidak mendengarnya sejak tadi," bisik Jake di ujung bibirnya tanpa sedikitpun menoleh. Apalagi melirik.

Draco melipat tangannya sejajar dada, memicing tipis dan bocah keriting itu tahu gunung albino sedang memasuki siaga dua. Tanpa banyak alasan, Jake segera maju ke depan untuk melakukan push up lima puluh angka.

Menatap ke arah tv bracket yang berkedap-kedip menyiarkan iklan—lalu sedetik kemudian perang semut, begitu seterusnya— insting pemuda Malfoy itu menuntunnya menghadap ke atas lampu downlite.

Dari sekitar dua puluh dua lampu yang menjorok ke dalam atap tersebut, tak ada satupun yang tak berkelip; mati-lalu-menyala-mati-lalu-menyala—membuat seluruh kegiatan terhenti sejenak. Tanpa sadar saling merapatkan diri dengan yang lain.

"Sepertinya memang voltase listrik sekolah perlu ditambah," celetuk Jake Flynn enteng masih dalam hukumannya, "25 ... 29 ..."

"26, 27, 28, Jake," sembur Draco tak tertipu. Keduanya mencibir berbarengan sesudah itu. Kembali lelaki pirang itu menatap ke atas.

"Apa aku perlu mengingatkan lagi pernyataan 'yang tidak berkepentingan dilarang masuk'?"

Suara Theodore Nott bergema panjang di ruangan berdinding kaca ini. Tampak ia berbicara tepat setelah targetnya melintas di balik punggung. Lampu-lampu mulai berhenti mengedip saat sosok itu merambat pelan di lantai matras bertinta biru. Lengannya menggantung bebas di dua sisi. Agak terlalu kurus. Tidak ada yang tidak menatapnya. Tak terkecuali Jake Flynn yang mencuri-curi pandang lewat kolong kakinya di hitungan ke tiga puluh lima.

Hermione Granger melangkahkan tungkainya semakin cepat untuk menghindari tatapan meresahkan yang menusuk pelupuk mata dari orang-orang yang duduk bersila di bawah. Setiap satu downlite yang dilewatinya selalu meredup.

...tujuh

...delapan

...sembilan

Ah. Secara teoritis mereka memang sama sekali tidak menggambarkan kesan dingin seperti menghina. Tapi, pandangan...—lihatlah, gadis kecil brunette itu terlihat membenamkan diri di ketiak kawannya.

Ia tidak menakutkan, kan?

Ia juga tidak rendah.

...segalanya tampak selalu salah...

Hanya tersisa satu buah lampu yang menyala saat gadis itu masuk dalam lingkaran si pemuda pirang platina. Tepat di atasnya.

"...hosh. Apa yang kau lakukan pada lampunya?" celetuk Jake pertama kali.

"A-apa inovasi ter-erbaru saklar w-wireless sudah ada d-dalam g-genggamanmu, Miss?" Anak laki-laki berkacamata kotak dengan banyak sekali bintik di batang hidung mengacungkan tangannya lemah. Hermione tampak terkejut. Ia terlalu gamang hanya untuk berjalan dari ujung pintu yang belum-belum Theodore Nott sudah melabraknya manis di muka dan melewatkan hal yang ditanyakan si pejudo cilik.

Gadis itu berbalik. Meneliti lampu yang dimaksud lalu terbata, "A-aku tidak melakukan apapun," sangkal Hermione dan tanpa instruksinya lampu-lampu kembali bercahaya.

"Alibi... alibi umum~"

Fokus berganti pada Theo yang bersenandung sumbang, segera menata kembali barisannya untuk melupakan kejadian sulap barusan. Pada dasarnya, lelaki itu juga turut merasakan hal ganjil di setiap gerakan Hermione Granger. Namun semua rasa penasaran itu seolah menguap. Terganti oleh kekecewaan mendalam akibat penurunan psikologis kekasihnya yang semakin hari tampak makin amburadul.

Bedebah.

"Holly, ambil alih sebentar. Aku akan kembali," titah Draco menjelang berdiri dan berkontak mata sejenak dengan Hermione sebelum menepi ke kursi panjang yang melekat pada dinding.

Hermione limbung sedikit, perasaan aneh yang menjilati dirinya membuat telinganya meliuk refleks. Mengeluarkan secarik kertas dan sebotol air mineral dari ruas depan tas, gadis itu diam-diam melirik lagi lampu-lampu downlite-nya. Ia merasa tidak melakukan apapun. Aah.

"Tenang saja," hibur Draco, lawan bicaranya mendongak, "Kekuatan Raja tidak diragukan lagi."

Hermione memandangnya gelisah. "Tapi aku tak berniat—"

"Ssshh." Dua jari Draco yang menyilang mengisyaratkan untuk diam. Hermione menutup bibirnya serapat kerang sambil memandang ke sekeliling.

"Biasanya sih ada masalah," tukas Draco kalem. Tangannya menyambar handuk kecil di gantungan lalu menyeka peluh di leher dan sekeliling wajah.

Bibirnya mengerucut, "Tidak ada masalah, kok."

"Banyak Wrackspurt di sekitar kepalamu."

"Wrackspurt?" Dengan panik Hermione mengguncangkan kepalanya. Kuncir kudanya melecut udara ke kanan dan ke kiri.

Draco terkekeh hingga kelopak matanya menyipit, membuat Hermione bergidik heran. Selalu saja ada yang tidak ia pahami tentang lelaki itu.

"Kau bisa tanya pada Lun," ucapnya. Hermione melengos sebal. Tak heran jika Luna selalu memandang semua permasalahan dari aspek biologi zaman purba dan segala macam fantasinya.

"Oh ya, ini surat darinya," kata Hermione sesuai tujuan utamanya bertandang ke dojo sekolah. "Dari Konsultasi Trigonometri. Dia menghitung ordinat rasi yang hilang—ternyata Triangulus Australe, Segitiga Selatan yang tergusur oleh Serpens, rasi ular yang seharusnya tidak ada di lingkarannya."

Draco bergumam. "Segitiga Selatan merupakan rasi dari Remus Lupin, Alastor Moody, dan Sirius Black—nanti kau akan mengenal mereka. Lalu Ular? Harus ke Departemen untuk melihat daftarnya," ia menghela napas lelah, "dan itu bukan perkara mudah. Ah, kau bisa membantuku menerka sesuatu?"

Hermione masih Pemula. Dan fakta buruknya ternyata dia adalah Raja. Pemula mana yang tahu-tahu mencaplok takhta yang-entah-dari-Kerajaan-mana. Suatu panutan penting—seharusnya—yang pada kebenarannya sangat berkebalikan.

Bisa bantu apa?

Melepaskan ikatan sihirnya yang tergolong dalam takaran liar? Dan membiarkan suara itu...

...tidak

"Biasanya akan ada fenomena planet akibat mutasi bintang-bintang itu—"

"Tahunan?" Draco memotong.

Hermione menggeleng. "Aku belum melihat keganjilan masing-masing orbit planet mana yang bermasalah. Tapi kelihatannya bukan tahunan. Karena, lihatlah," jarinya menunjuk rasi Orion di kertas Luna, "perpindahan kali ini sangatlah jauh. Nanti aku bisa membantu menganalisa jika semua datanya sudah cukup."

"Master Antariksa," tepuk tangan Draco mengangkasa. "Kami tentu harus banyak belajar darimu, Hermione."

Hermione merendah, "Kebanyakan kuperoleh dari ceramah dan catatan Pat—maksudku ibuku, ia sempat mencicipi bangku pekerjaan di NASA."

Agak terkejut, Draco menjeda pembicaraan dengan menenggak larutan elektrolit dalam botol kemasan yang digenggamnya. Hermione menunggu sambil menguraikan pandangannya ke seantero dojo—pengecualian untuk area Theodore Nott. Pasangan anak-anak yang saling bergulat lihai memancing kakinya untuk ikut bergerak menendang udara. Hermione berhenti memandangi mereka saat anak perempuan di belakang Jake Flynn menggigil ketakutan, seolah tumbuh sepasang tanduk di ubun-ubun gadis itu.

Hermione berusaha melupakan soal anak tadi, meskipun dalam hati ia masih mempertanyakan tentang penampilannya. Apakah jeans semata kaki dengan banyak robekan di lutut ini terlihat begitu mengerikan seperti anak jalanan?

"Ini yang membuatmu sukses terhadap serangan Jedediah tanpa bonus luka-luka?" puji Hermione implisit, tapi semburat merah samar merayapi wajah tegas Draco yang mengangguk di balik botolnya.

Draco mengusap mulutnya lalu berujar, "Itu hanya pelajaran dasar," tuturnya, "masalah ibumu. Dia masih..."

"Sudah pensiun," tukas Hermione muram, "NASA menariknya di umur lima belas—dengan kakekku sebagai pelancarnya. Dua belas tahun silam ia berhenti, terlalu rumit dan memusingkan, katanya," kisah gadis itu sebelum menghela napas panjang.

Draco menelan kembali kata-katanya yang nyaris mengudara. Pertanyaan soal ayah Hermione Granger yang tampak terkubur rapat-rapat secara kerang melindungi mutiaranya. Tak mau gadis itu kembali termenung durja tentang ayahnya, Draco meneruskan membaca carikan kertas Luna.

Iris biru keturunan dinasti Malfoy tersebut menelusur tulisan tangan Luna yang mepet dan tinggi-tinggi persis rumput. Angka-angka berderet selanjutnya membawa maksud yang lain. Beberapa fakta segar yang tertoreh; sinar Kuda Bertanduk meredup disenggol Virgo—er, menyangkut keperawanan Fleur?—, menghilangnya Crux dari peredaran—berhubungan dengan Salib Selatan—, Lynx yang memang redup tertulis semakin redup dan menyenggol pangkal Camelopardalis—dari dulu Severus Snape tidak pernah sekalipun terang, kegelapan semu menyelimuti duda satu anak itu. Yang ternyata sang anak dinyatakan hilang tanpa sebab dari pangkuannya, bahkan sampai saat ini ia masih meratapinya—dan terakhir rasi Cassiopeia yang intensitasnya meninggi meski belum mencapai puncak. Dari letaknya di antara 90° Lintang Utara dan 20° Lintang Selatan, rasi Ratu Ethiopia itu menggeser sedikit rasinya sendiri, Draco. Ia mengintip Hermione sekilas dari balik kertas untuk hal itu.

Gadis itu semakin tidak mengerti lagi. Ketika Draco berhenti melipat suratnya dan manggut-manggut serius, tatapannya beralih pada Hermione yang balik menatap kikuk.

"Tidak ada surat darimu?" tanya Draco tak terduga.

"Surat apa?" Hermione lantas berpikir keras. Dirinya ke sini berdasarkan titah Luna yang saat ini tengah kerja praktek Herbologi tentang spesimen baru di Rumah Kaca. Hanya itu saja. Tidak ada yang perlu—

"Tidak jadi, tidak jadi," tiba-tiba Draco tertawa melihat paras menggemaskan Hermione dalam memahami maksud perkataan isengnya.

.

.

Hatinya tidak sepenuhnya terbebas,

Terkadang jiwa itu menekan kembali apa yang hati kecilnya ingin melesak ke permukaan.

.

.

Semenjak Draco berdiri meninggalkannya untuk memungut sesuatu dari saku tasnya, Hermione baru saja menemukan makna pertanyaan tadi setelah otaknya terperas tanpa ampun. Akhir-akhir ini, sejak umurnya yang memasuki lingkaran tujuh belas tahun dan segala tetek-bengek kejadian yang terjadi begitu saja dengan cepat, Hermione merasa perkembangan rangsang otaknya terkesan melambat tanpa sebab.

"Ada apa?" Draco bertanya saat kembali, "Wajahmu memerah."

Gadis itu menggeleng tak nyaman. Apa yang terjadi bila Draco tahu ia merona gara-gara kalimat tanya ambigu tersebut beberapa menit yang lalu?

Respon yang bahkan lebih lambat dari siput keracunan.

"Kristal Topaz, milik ibuku. Pengendali Cahaya menganggap benda ini sebagai suatu perlengkapan yang wajib dimiliki. Tapi karena jumlahnya terbatas, tidak jarang banyak genosida menguar dimana-mana hanya untuk memiliki ini," terang Draco terkesan hati-hati karena suaranya yang berangsur mengecil. Hermione ikut menundukkan kepalanya sejajar dagu pemuda itu tanpa sadar, merasa bahwa ini bukan lagi berlabel dialog umum.

"Jadi ibumu..." jemari Hermione membelai kristal bersejarah tersebut sepelan yang ia bisa. Khawatir akan gerakan sekecil apapun yang mampu menggores atau menjatuhkan jimat Pengendali Cahaya, Hermione membalutnya dengan sapu tangan magenta.

Draco menggangguk sekali. Seolah cukup dengan jawaban yang agak alakadarnya itu, Hermione turut berdiam sesudahnya.

"Pertempuran 2000," dengan pandangan kosong Draco Malfoy menjawab. Tidak tahu apa yang dimaksud Pertempuran 2000, Hermione membayangkan itu merupakan perang terbesar antar penyihir dan lautan bombardir cahaya warna-warni yang tak ubahnya tembakan sinar kematian yang menjelma. Dan ibu Draco mungkin termasuk salah satu pejuang wanita yang tangguh meskipun malaikat kematian menyapanya dengan tidak ramah.

"Aku tidak mengerti kenapa Mum melupakan atau memang sengaja tidak menggunakan Topaz. Kristal itu menyimpan energi maksimal dan akan keluar sebagai pengisi ulang disaat pemiliknya dalam kondisi terlemah..."

"Hnn," gumam Hermione kehabisan kata-kata.

"Ini juga berfungsi sebagai Remembrall. Kau bisa mengaturnya sesuka hati. Misalnya, kau ingin kejadian hari ini, disaat aku memberikan Topaz kepadamu, tersimpan dalam memori yang kapasitasnya tak terbatas ini. Begitu juga dengan menghapusnya."


'Aku ingin benda ini mengingat segalanya tentangmu.'


Usai membatin, Hermione merasakan benda itu bersinar di balik rajutan benang sapu tangannya. Gadis itu tidak mengenali perasaan di dalam diri sejatinya, karena perasaa déjà vu bercampur kefamilier-an lah yang mendorongnya bersuara seperti itu dalam hati.

Seperti Masa Lalu, juga Masa Depan.

Kening Hermione berkerut memendek atas gelagat Draco yang tetiba menunjukkan indikasi orang kehilangan keseimbangan. Tangannya sempat mencengkeram kursi sebelum menyelimuti kepalanya sendiri. Dengan mata terpejam dan air muka menahan rasa sakit, Hermione secara alamiah segera panik kemudian berupaya memandu Draco untuk menyandarkan punggungnya di tembok.

"Ya ampun ini pasti gara-gara wiski Hagrid semalam," sangkal Draco berlagak ceria meski ringisan kecil terpeta di bibir tipisnya, "Ah! Bagaimana kau pulang semalam? Ini semua salahku. Tapi kalau kau sudah mahir Apparate dan tidak seperti Percy yang saat tes pertamanya mengalami kegagalan lompatan karena kejauhan dua kilo dari destinasi dan jatuh tepat di keranjang belanja manula—"

"Aku membencimu." Lelaki itu berhenti bergerak. Secara keseluruhan, ia membatu. Manik cokelat yang berkilat di balik poni panjang si gadis yang terjuntai menutupi sebelah mata menatapnya dingin.

"A—"

"Kau yang seperti ini..." potong Hermione lekas. Nada suaranya menggantung seolah masih ada kata yang diam di tenggorokannya, "Jangan terus berbicara semua akan baik-baik saja. Tidak ada yang selalu baik-baik saja di dunia ini."

Mata Draco menggelap tak percaya akan perubahan drastis pribadi Hermione Granger yang tadinya creamy-creamy baby.

"Karena aku percaya semuanya akan baik-baik saja, jika ada di sekitarmu."

Hanya itu yang keluar.

Untuk pertama kalinya sejak mereka saling mengenal satu sama lain, Hermione tersenyum tipis saat
lengkungannya menunjukkan
akan rasa pahit kehidupan.

Ia sadar, dirinya lah yang menyebabkan lelaki itu bergelung tak aman di setiap detik kehidupannya.

Sayangnya ia belum tahu atau belum disadarkan oleh sesuatu, apa yang menyebabkan sesuatu dalam dirinya itu begitu membahayakan pemuda pirang di hadapannya.

Dan ketika Hermione siap untuk meluncurkan kalimat selanjutnya, aura itu memancar kuat dari dalam Draco. Untuk sesaat, semua kalimatnya tertekan masuk kembali. Dilumat habis oleh tatapan menghipnotis yang membuat tangan gadis itu bergerak perlahan menggapai atmosfirnya.

"Draco Malfoy..." Tangan itu berbalik mundur penuh getaran. Pandangannya meruncing pada mata kiri si pemuda yang meremang abu. Rasa itu kembali menyergapnya, tiba-tiba.

Draco menutupi mata yang dimaksud dengan tangan kanan. Suaranya beralih parau, "Apa ini terjadi lagi?" ungkapnya pasrah.

.

.

Jika Draco Malfoy memanglah buta warna,

apa pengaruhnya pada kedua iris sewarna batu safir

yang tiba-tiba salah satunya menjelma warna arang dalam gen penyakit itu?

.

.

"Aku tahu, kau tahu," bibirnya mengejang, hening sejenak, "Aku buta warna parsial. Tapi transisi warna ini bukan hereditas." Telunjuknya menekan kelopak mata kiri yang terpejam. Alterasi suhu di sekitar mereka menurun nyaris menapaki angka 0.

Gadis itu menatapnya dengan perintah.

"Apa itu suatu mantra? Auranya," alis Hermione berkedut, saat tatapan Draco melembut ganjil, "kau persis..."

.

.

Dia.

.

..

...

xxx

"Sister Brigitta.." desah tertahan mengalun dari sebuah ruangan dimana wanita itu bersandar lemah di sketsel pemisah bagian pojok meja teh. Lampu oranye menaungi pucuk kepala cokelatnya yang tertunduk, menyinari wajahnya yang mengeras seperti batu. Bulir-bulir keringat di pelipisnya runtuh tak terkendali tatkala sosok bergaun putih panjang dengan garis biru di tudung kepala menghampiri.

"Bagaimana, Mrs. Granger?" periksanya seraya mengusap dahi wanita itu. Usai menuangkan sepoci teh hijau di gelas kayu bulat bermotif akar rambat, biarawati itu meminumkannya perlahan.

"Aku tidak merasa baikan," rintih Patricia menyorot mata kelamnya, "aku tidak bisa melupakannya."

"Kau harus percaya bahwa, ia tidak meninggalkanmu tanpa alasan. Jangan tetapkan alasan irasional yang bisa mengoyak pikiranmu."

"Rasanya kepalaku ingin meledak," Patricia berujar, lalu memangku punggung tangannya di atas mata yang tertutup. "Semakin jelas bagaimana caranya ia mengirimkan sinyal-sinyal aneh ke rumah.."

"Kau jadi berpikir dia masihlah ada, 'kan?"

Great.

.


.

Malam yang dingin di musim semi. Jam menunjukkan pukul sepuluh. Dua orang berjenis kelamin perempuan berdiam di tempat masing-masing dalam sebuah kamar bernuansa merah jambu. Sosok yang berdiri di tepi ranjang penuh boneka terlihat membelai secara nyata sesosok anak kecil di dalam selimut tebalnya.

"Tidur yang nyenyak, Hermy." Wanita itu tersenyum sementara si anak merengut.

"Aku tidak suka dipanggil Hermy."

Sang ibu menggigit bibir, menahan tekanan di balik matanya. "Itu nama panggilan paling indah, Sayang. Ayo, tidur."

Anak itu memutar bola matanya dengan lucu, sebelum air mukanya berubah pucat. "Mum, tolong periksa di kolong tempat tidurku, apakah ada monster..."

Terkekeh pelan mengamati figur menggigil anak semata wayangnya. "Ya Tuhan Hermy kau terlalu banyak membaca buku-buku itu! Tentu saja tidak ada."

"Tapi—"

"Baiklah," wanita itu akhirnya membungkuk dan berjongkok di lantai sebelum menyibak selimut yang menghalangi kolong. "Ti—"

Paru-parunya seolah macet saat ia menemukan 'anaknya' tengah bergelung ketakutan di kolong tempat tidur.

Bisiknya, "Mum, a-ada m-monster di atas tempat t-tidurku... Ia muncul bersama orang lain."

Adrenalinnya terpacu deras ketika wanita itu menekan tepi ranjang sambil mengangkat wajahnya.

"Patricia..." Senyum tipis yang memanjang itu berkembang di bibir si orang lain. Anaknya yang tadi bergetar penuh takut kini berdiam dalam pelukan lelaki berjas hitam yang tak kalah pucat. Iris hazel itu menatap bolak-balik pada si sosok asing dan ibunya yang terpaku lama dari balik kelopak matanya yang makin menyempit gelisah.

"Aku merindukan kalian. Sangat."

Anak itu menendang kuat perut si lelaki manakala seluruh rasa takutnya bertransformasi menjadi tenaga yang tak terduga. "Lepaskan aku, orang jahat!"

Sang ibu tak mampu keluar dari kondisi terperanjatnya beberapa waktu saat lelaki itu tak melakukan perlawanan. Raut wajahnya berubah sendu, iris gelapnya mengikuti pergerakan gadis kecil yang berlari ke belakang si wanita.

Belum sempat wanita itu berbicara, ranjang yang dibaringi lelaki asing itu seolah menjauh terhisap angin malam yang mendobrak jendela tiba-tiba. Segala sesuatunya terjadi dengan cepat, segerombolan kelelawar berkepala ular segera menghinggapi si lelaki yang berteriak meminta pertolongan. Mereka mencabik-cabik tubuh itu, tepat sebelum cahaya terang menggulung dan wanita itu mengumpat dalam tangis ketika berlari menubruk kaca jendela.

.


.

"Mimpi buruk menakutkan tahunan itu," keluh Patricia saat kelopak matanya kembali menyerap cahaya matahari yang masuk melalu lubang ventilasi ruangan. "Bagaimana aku bisa melepaskan seluruh kekuatanku tanpa cutting yang bodoh?"

"Kau bisa mengunjungi Bruder Paxon untuk hal semacam itu," katanya menerawang, "di sebelah Mausoleum Aventador."

"Aku berusaha melindungi anakku dengan menahan miliknya... sampai hari ulang tahunnya kemarin. Terlalu kuat, aku ambruk."

"Jadi mengapa dia tidak ikut serta kemari?"

Patricia menggeleng lemah, ketakutan akan Hermione yang kelimpungan menghadapi kekuatannya sendiri membayangi kedua matanya. "Aku memutuskan untuk membebaskannya memilih jalan yang ia mau. Tidak selamanya aku bisa menjaganya, bukan?"

Biarawati itu mengulas senyum penuh ironi. Menampik segala prasangka buruknya pada wanita itu yang jelas benar-benar kebocoran semangat hidup.

"Bahkan mendiang ibuku tidak percaya tentang sihir. Sister, mengapa kau tidak pergi dan menganggapku gila sejak tadi kita membicarakan ini?"

"Justru itu berkebalikan dengan tugasku," ujar Sister Brigitta tanpa kebohongan yang mengalir di kedua mata jernihnya. "Sekarang kau perlu istirahat.."

Patricia memijit-mijit kepalanya yang sakit. Terlalu banyak istirahat di siang hari menyebabkannya aktif di malam hari. Dan itu adalah malapetaka mingguan.

Suasana mendadak sunyi saat tak ada dari kedua belah pihak yang mengeluarkan suara.

"Sebentar lagi Mother Theresa akan menemuimu." Sister Brigitta merapihkan selimut tidur yang terbentang di sisi kiri Patricia. Keteduhan matanya menangkap ketidakpercayaan orang di hadapannya.

'Bagaimana aku bisa tidur kalau nantinya diberitahu Mother akan bertandang?'

"Kau akan terbangun secara langsung jika ia sudah memasuki pintu," lanjutnya, "kontrol dirimu, ya, Sayang."

Pandangan Patricia Granger membumbung keluar jendela oval bertepian keramik Persia. Mematung menimang harap pada kelakar langit yang berpesta sepi. Relungnya menyempit terhempas lilitan kenangan yang pernah ada.

.

.

Sejak dia pergi dan dua orang itu menenangkannya dengan tepukan palsu di bahu,

Cinta itu nonsens,

cinta itu cuma semacam pernak-pernik yang dirancang oleh arsitek bodoh di tepi sungai Seine.

.

.

Ia adalah air. Kuat, tangguh, namun juga bisa lemah. Tidak bisa digenggam, tahan dipukul, tak bisa dihancurkan, tapi bisa menghancurkan batu besar.

Ia labil, mudah terombang-ambing oleh suatu hal kecil. Bisa bermanfaat, tapi juga bisa membahayakan. Bisa begitu tenang, tapi juga bisa bergelombang begitu dahsyat.

Elegi yang indah.

xxx

Ia berhak marah.

Kekesalan tak terbendung itu tersalurkan pada langkah kaki yang beradu keras di lantai koridor. Matanya mengejang sebelah saat lengkungan senyum mual terpajang di bibir merah muda. Ketika Theodore Nott menumbangkan dialog pentingnya dengan Draco mengenai hal itu, suara tinggi Daphne dalam telepon genggam Theo keburu menyalakan alarm bawah sadarnya sekaligus mengisyaratkan pengusiran implisit yang dilakukan lelaki angkuh tak berperasaan itu.

Ingin sekali menanggalkan pemuda Nott itu pada bongkahan mendung, lalu gugur bersama hujan, kemudian hanyut dan karam di dasar laut.

Tak. Tak. Tak.

"Hei. Can I take your picture to prove to all my friends that angel do exist?"

Clap.

Ketukannya melambat sebelum akhirnya berhenti. Ia berhenti tepat satu meter di belakang pertigaan lorong menuju Rumah Kaca ketika suaranya datang dari sebelah kiri. Hazelnya menyipit saat epidermisnya menerima rangsang udara di sekeliling yang mulai melembab.

Gadis itu tidak takut.

Melainkan curiga.

CKRIK!

Kendati kilau blitz menyebabkan matanya berkunang-kunang, itu hanya memakan sedikit waktu untuk kembali normal. Kini, pemotretnya lenyap secepat angin yang membawanya ke sini.

Gadis berkuncir kuda itu linglung menatap udara kosong.

Mengucek kelopak mata pelan, bukan berarti ia tidak melihat sosok si pencuri figurnya.

Masalahnya, ini lebih rumit dari pertanyaan mengapa matahari itu musti bulat atau mengapa kaki laba-laba ada empat pasang sementara ikan nihil?

Ia harus lebih percaya pada orang mabuk, atau...

...seorang gay

.

.

.

.

.

.

.

.

.

The End of Chapter 5


##

"Yang lahir di tahun 1972... ada Willy Whidersins, Tom Marvolo Riddle, dan Rodolphus Lestrange?"

.

"Itu Raja Terdahulu!"

.

"******?! Untuk apa kau disini?"

.

##


NOTES


Setiap witch memiliki kekuatan khusus masing-masing. Untuk contoh, Fleur dengan icing-nya, Luna dengan telepate, Draco berkemampuan speaking dalam wujud animaginya, Percy dengan imunitas terhadap minuman, dan lain-lain yang belum teridentifikasi di chapter ini. Dan Hermione yang merupakan Raja (masih disebut Raja disebabkan oleh belum adanya Raja yang sebenarnya–laki-laki untuk itu) nyaris dapat menguasai kesemua kekuatan di tahap-tahap tertentu. Pengendali Cahaya hanyalah titel khusus bagi kelahiran rasi Cassiopeia dan lima rasi yang bersinggungan. Lima rasi itu: Perseus, Andromeda, Cepheus, Camelopardalis dan Lacerta. Sementara Narcissa Malfoy lahir pada rasi Lacerta (Sang Kadal) yang berbatasan di tenggara Cassiopeia. Untuk masalah pembunuhan yang merebutkan Topaz, hanya terjadi pada Pengendali Cahaya Monokromatik yang keji–kelahiran rasi Camelopardalis. Kemungkinan Narcissa dibunuh oleh kelahiran rasi paling redup tersebut saat P-2000. Hermione dan ibunda Malfoy tersebut masuk dalam P. Cahaya Polikromatik (cahaya putih).

Cukup itu tambahannya, mungkin mengenai tentang ayah Hermione mulai terkuak, berkaitan dengan ular-ular Serpens yang bisa menjadi alasan kepergiannya. Karena menurut saya banyak sekali hints di chapter panjang membosankan ini, termasuk jati diri seseorang yang memotret Hermione-dan yang disensor itu *smirky. Ah udah jelas banget nih.

TERIMA KASIH sebesar-besarnya bagi semua reviewer di chapter kemarin, dan saya sudah membacanya satu per satu, kalian fantastis! Fantastis untuk segalanya, untuk sempat mampir ke cerita aneh ini/ dan rasanya setiap spekulasi yang muncul di review, saya ingin sekali membalasnya dengan panjang lebar–tentu saja jika dibalas di sini akan terlihat 'nyampah'. Jadi saya menggunakan fitur pm untuk itu..


Ya atau Tidak? Tidak ada mungkin. Untuk mengomentari dalam boks below ;-D