.

.

Daisuke, Nee-san!

Disclaimer : Naruto cs punya Masashi Kishimoto.

Story by : Yana Kim

Warning: Chaptered, Abal-abal , AU, OOC, always typo.

.

.

.

Chapter 2

We meet Again

"Hoaeemm.. Ngantuk sekali.." Karin berjalan sambil mengucek matanya. Ia baru saja pulang dari kerja part time di Horizon Café. Jam sudah menunjukkan pukul 12 malam. Biasanya Karin pulang kerja pukul sebelas malam, namun karena pelanggan yang kebetulan ramai membuat Karin terpaksa pulang lebih larut malam ini.

Akhirnya Karin sampai di depan gedung tempatnya tinggal. Ia memang tinggal di sebuah apartemen kecil di pinggir Kota Konoha. Terbayang di benaknya, kasur kecilnya yang sangat nyaman untuknya yang sedang lelah seperti ini.

Namun saat akan melangkahkan kaki menuju gedung tersebut, terdengar suara pria yang memanggil Karin.

"Karin."

Karin tertegun mendengar suara yang sangat familiar di telinganya.

Perlahan, gadis itu membalikkan tubuh dan tercekat ketika melihat sosok yang memanggilnya tadi. "A-apa yang kau lakukan disini? Aku sudah tidak ingin melihatmu lagi, laki-laki sialan!" ucap Karin dengan gugup.

"Karin, aku hanya ingin minta maaf padamu. Kau salah paham! Aku dan gadis itu tidak ada hubungan—"

"Tidak ada hubungan apapun namun tidur bersama di sebuah ranjang tanpa pakaian?!" Ucapan Karin membuat sang pria diam tak berkutik.

"Aku sudah muak denganmu, Suigetsu.. Sebaiknya kau pergi sebelum aku akan memanggil―"

"Siapa? Polisi? Atau pacar barumu? Jawab aku!" Pria yang bernama Suigetsu itu memegang bahu Karin erat hingga membuat Karin kesakitan.

"Tebakan kedua-mu lah yang tepat, brengsek. Lepaskan tangan kotormu dari milikku."

Sebuah suara mengiterupsi pertengkaran kecil yang terjadi antara Karin dan sang pria.

Seketika Karin terkejut melihat siapa yang datang. Sasuke dengan santainya berdiri di samping motornya tidak jauh dari mereka.

'Berandalan ini?' batin Karin bingung.

"Kau pacar barunya..?" tanya Suigetsu sinis lalu menoleh kembali pada Karin. "Ternyata kau mendapatkan pacar baru lebih cepat dari perkiraanku," ujarnya setelah melepaskan tangannya dari bahu Karin.

"Kubilang pergi, Suigetsu!" ucap Karin.

Suigetsu tak mengindahkan kalimat Karin barusan. Ia justru memandang penuh sinis pada Sasuke. "Dari penampilanmu, kau terlihat berasal dari keluarga berada. Kau tidak mungkin mau menjadi kekasih seorang gadis miskin sepertinya."

Suigetsu mengarahkan dagunya pada Karin. Katanya dengan nada mengejek, "Mungkin kau memberikan tubuhmu padanya, Karin?"

"Tutup mulutmu, Suigetsu..!" Karin mulai meneteskan airmata mendengar tuduhan tak beralasan tersebut dan membuat Sasuke tidak tega melihatnya.

"Padahal waktu kita masih bersama saja kau bersikap sok suci. Tidak kuduga, ternyata kau adalah perempuan mura—"

BUGHH!

"Tutup mulut menjijikkanmu itu sebelum aku menghancurkannya. Dia bukanlah wanita seperti yang kau kira, brengsek!" Sasuke memukul wajah Suigetsu keras membuat sang empunya wajah jatuh terkapar.

Karin terkejut melihat tindakan itu.

Suigetsu yang tidak terima pun segera bangkit kembali dan memukul wajah tampan Sasuke.

BUGHH!

Perkelahian pun tak terelakkan. Karin sangat tahu betul bahwa Suigetsu ahli beladiri, sementara Sasuke yang dia tahu hanyalah seorang anak SMA.

"KALIAN BERDUA HENTIKAN!" Karin menutup matanya tak sanggup menyaksikan adegan tersebut lebih lanjut.

Namun ketika membuka matanya, ia terkejut melihat Suigetsu tergeletak setelah dibanting oleh Sasuke. Pria itu pun bangun kemudian terhuyung-huyung segera pergi dari tempat itu.

"Hah.. hah.. hah..!"

"K-kau kau tidak apa-apa?" Karin bertanya khawatir.

"Hhh.. Hanya luka kecil, tidak apa-apa," jawab Sasuke.

"Masuklah ke dalam. Aku akan mengobati lukamu," ucap Karin cepat.

"Tidak perlu, aku langsung pulang saja," tolak Sasuke.

"Tidak bisa. Kau begini karena aku, bodoh."

"Hn."

Tanpa disadari Karin, Sasuke tengah tersenyum kecil sekarang.

:

:

:

Apartemen Karin.

"Seharusnya kau tidak usah membelaku, anak nakal. Aku bahkan tidak mengenalmu," cerocos Karin sambil mengobati luka di wajah Sasuke.

"Dan membiarkanmu disakiti olehnya? Aku tipe pria yang tidak suka melihat wanita tersakiti. Dan berhenti memanggilku 'anak nakal'. Aku buk—AHKK! Pelan-pelan!" Sasuke kesakitan saat Karin menekan lukanya.

Karin hanya menarik bibirnya tak peduli. Ia meneruskan mengobati luka Sasuke.

"Siapa namamu? Dan kenapa kau ada disana tadi? Apa rumahmu disekitar sini..?" Tanya Karin bertubi-tubi.

"Kalau bertanya satu-satu!"

"Huh.. Baiklah, baiklah. Kenapa kau bisa ada disana tadi?" tanya Karin.

"Bukannya tadi kau menanyakan namaku dulu?"

"Ck! Berandalan ini! Siapa—"

"Uchiha Sasuke."

"Bagaimana kau bisa ad―"

"Tadi hanya kebetulan lewat."

"Berhenti memotong ucapanku, berandal!" ucap Karin marah. "Dan seharusnya kau memanggilku nee-san karena aku lebih tua darimu, bodoh!" omelnya.

"Aku lapar. Apa disini tidak ada makanan?" Tanya Sasuke santai.

"Kau! Sebagai rasa terimakasih karena kau telah menolongku disini, aku akan membuatkan ramen instan."

"Hn."

Sambil menggerutu, Karin pun bangkit dan beranjak ke dapur kecilnya untuk membuat ramen instan. Setelah selesai, ia memberikan ramen buatannya untuk 'anak nakal' tadi.

Begitu Sasuke selesai makan, ia bukannya pamit pulang malah dengan santainya menidurkan dirinya di sofa yang ada di ruang tamu apartemen Karin.

"Hei, Uchiha! Bukannya kau seharusnya pulang?" Tanya Karin.

"Panggil aku Sasuke. Aku akan menginap disini, ini sudah jam dua. Bukannya kau harus tidur. Kau kan besok kuliah," jawab Sasuke dengan mata tertutup.

"Apa orang tuamu tidak akan marah? Ini sudah jam dua pagi tapi anaknya belum pulang. Mereka pasti mencarimu," ujar Karin.

"Tidak ada yang akan mencariku. Ibuku sudah meninggal dan ayahku.. dia sibuk dengan pekerjaannya. Apapun yang kulakukan tidak akan ada yang peduli," jawab Sasuke. Saat ini ia telah membuka matanya dan bangkit dari tidurnya untuk duduk di sofa. Sejujurnya, ia merasa heran mengapa ia begitu terbuka pada gadis ini hingga menceritakan keadaannya saat ini.

Karin sendiri tertegun mendengar penuturan Sasuke. 'Mungkin itu sebabnya ia menjadi berandalan dan selalu berbuat onar. Kasihan sekali.' Batin Karin.

"Ya, baiklah. Kau bisa memakai kamar yang ada disana. Tapi ingat, besok kau harus langsung pulang. Aku tidak mau ada tetangga melihat seorang pria keluar dari apartemenku. Asal kau tahu ya, aku ini terkenal sebagai gadis baik-baik," ujar Karin sambil berjalan menuju kamarnya.

"Hn."

Tanpa membuang waktu lagi, pemuda itu langsung bangkit menuju ruangan yang dimaksud dengan menyimpan senyum di sudut bibirnya.

"Sasuke."

Langkahnya terhenti. Sasuke membalikkan tubuh dan melihat Karin tengah berdiri di pintu kamarnya sendiri.

"Apa?"

"Terimakasih soal yang tadi."

Blam.

Dan pintu itu tertutup.

Sasuke kini menarik kembali ujung bibirnya. Sedikit lebih lebar dari yang tadi. "Hn."

:

:

:

Pagi harinya.

Karin sedang memasak nasi goreng saat Sasuke bangun pagi itu. Ia menyusul Karin yang ada di dapur dan duduk di meja makan.

"Kau punya sikat gigi baru?" Tanya Sasuke.

"Ambil saja di lemari kecil yang ada di kamar mandi," jawab Karin tanpa menoleh. Ia sedang sibuk dengan masakannya.

Sasuke mendekat sedikit. "Kau masak apa?"

"Hanya nasi goreng."

Sasuke mengangguk-angguk sekilas. "Baiklah. Aku mandi dulu."

"Pakai saja handukku yang ada di jemuran balkon."

"Hn."

Karin selesai memasak dan menata nasi gorengnya di atas meja. Sasuke juga baru selesai mandi.

"Cepat habiskan. Setelah makan, kau harus ke sekolah."

"Kau mengusirku?"

"Bisa dibilang begitu," kata Karin sambil menyodorkan nasi goreng milik Sasuke.

"Ck." Sasuke berdecak kesal namun tetap memakan nasi gorengnya. Karin pun sarapan dalam diam.

"Aku baru sadar." Sasuke membuka percakapan di meja makan.

"Sadar apa?" tanya Karin.

"Apartemenmu kecil sekali."

Perempat siku muncul di kening Karin mendengar ucapan Sasuke.

"Hm." Karin menanggapi seadanya.

"Besarnya hanya sepersekian ruang tamu rumahku."

"Apa maksudmu berbicara seperti itu?" decak Karin kesal.

"Tapi sangat nyaman berada disini."

"Eh?" Karin menatap Sasuke. Namun yang ditatap hanya meneruskan makannya dengan santai seolah ia tak mengucapkan kalimat apapun barusan.

Karin mendengus. "Cepat makan lalu pulang sana." Omelnya lagi, "Maaf saja, ya. Apartemen kecil ini satu-satunya peninggalan orangtuaku."

Dan sekali lagi gadis itu terdiam ketika melihat Sasuke kini menatapnya lurus.

"Orang tuamu?" tanya Sasuke hati-hati.

Karin tertegun sejenak mendapati reaksi demikian. Lalu ia tersenyum saat menjawab. "Yah, mereka sudah tidak ada."

"Maafkan aku."

"Tidak apa."

Hening sejenak.

"Aku sudah selesai. Kau masuk kuliah jam berapa?" Tanya Sasuke.

Pertanyaan itu mencairkan suasana hening yang sempat terbentuk. "Jam tujuh..." jawab Karin, lalu menggumamkan keluhan, "Padahal aku mengantuk sekali.."

"Kalau begitu tidak usah masuk saja."

Karin melotot. "Kau kira aku sepertimu yang suka bolos, hah?" Gadis itu kemudian tersadar akan sesuatu. "Kau tidak sekolah?"

"Aku juga masuk setengah delapan. Bersiap-siaplah, aku akan mengantarmu."

Karin mengernyitkan dahi. "Tidak usah. Kau pulang saja sana."

"Kutunggu kau di ruang tamu," sahut Sasuke cuek sambil meminum teh hangatnya.

"Anak ini!"

:

:

:

Universitas Konoha.

"Terimakasih," ucap Karin begitu turun dari motor Sasuke.

"Hn."

"Seragammu bagaimana?" Tanya Karin.

"Aku sudah meminta pelayanku mengantarkannya ke sekolah."

"Dasar orang kaya!"

"Kau bilang apa?"

"Tidak. Lupakan. Sudah sana, aku mau pergi. Jangan bolos!" ujar Karin sebelum beranjak meninggalkan Sasuke.

Sasuke hanya mengangkat sudut bibirnya.

Tiba-tiba handphone Sasuke bergetar.

"Ada apa, Dobe?" Tanya Sasuke setelah mengetahui siapa yang meneleponnya .

"Semalam kau tidur dimana, Teme?"

"Memangnya kenapa?"

"Jii-san meneleponku dan menanyakan keberadaanmu."

"Oh ya..?"

"Apa-apaan tanggapanmu itu. Kaudatang ke sekolah kan?"

"Kututup, Dobe."

Tanpa menunggu respon dari seberang, Sasuke menyimpan handphonenya dan langsung beranjak dari tempat itu.

:

:

:

Kediaman Uchiha.

"Bagaimana penyelidikanmu?"

"Tuan Sasuke semalam menginap di apartemen seorang gadis di pinggir kota, Fugaku-sama."

"Seorang gadis?"

"Benar, saya akan menyelidiki gadis itu lebih lanjut, Tuan."

"Bagus. Lanjutkan penyelidikanmu, Izumo."

"Baik, Fugaku-sama. Saya akan berusaha."

"Hn."

:

:

:

Konoha High School.

Naruto dan Sasuke sedang berjalan di koridor sekolah.

"Kau tidur dimana semalam, Teme? Dan ada apa dengan wajahmu?"

"Kau mau tahu? Aku tidur di rumah Karin."

"APAAA!? Tidak mungkin kau dan dia... Astaga! Bagaimana bisa secepat itu?"

"Hn. Ada sebuah kebetulan yang menguntungkanku."

"Huooo. Apapun itu, aku ikut senang, teme. Ini awal yang baik untukmu dan dia." Naruto menepuk bahu sahabatnya.

"Kuharap begitu. Terimakasih, Dobe."

"Sama-sama, Teme. Uaaah, enaknya kita kemana ya hari ini? Aku sedang malas masuk kelas Ebisu-sensei."

"Aku tidak akan bolos lagi."

"HAAAAH!? Kau tidak sedang sakit kan, Teme?" Naruto berseru horor. Ia lalu meletakkan punggung tangannya ke dahi Sasuke.

Sasuke hanya bereaksi datar menanggapi tingkah heboh sahabatnya. "Karin menyuruhku untuk tidak bolos."

Bola mata biru Naruto membulat. "Karin-nee? Wow, dia hebat sekali! Kau bahkan tidak pernah mendengarkan jii-san, Teme! Karin-neesan memang luar biasa..."

"Diam kau."

:

:

:

Konoha High School sedang gempar. Bukan karena ada yang berbuat keonaran atau karena seorang berandal kelas kakap. Untuk pertama kalinya, seorang Uchiha Sasuke betah di kelas sepanjang jam pelajaran. Bahkan saat jam pelajaran matematika, ia dengan santainya mengangkat tangan dan maju ke depan kelas saat sang guru memberikan soal. Dengan cool-nya pula, ia menulis rumus dan jawaban soal yang diberikan sang guru. Para guru dan siswa dari kelas lain pun sampai berdatangan ke kelas XII A hanya untuk melihat Sasuke.

Sasuke yang menjadi objek kegemparan hanya mendengus kesal melihat pintu kelasnya mendadak ramai dan dipenuhi dengan kepala-kepala penasaran. Biarpun berandal begitu, sebenarnya Sasuke merupakan anak yang cerdas. Namun karena kesal melihat sang ayah yang gila kerja, ia melampiaskan kekesalannya dengan bolos sekolah dan berbuat keonaran.

'Jangan bolos!'

Ia teringat ucapan Karin pagi tadi. Entah mengapa ia mendengarkan dua kata dari gadis yang sejak lima bulan lalu menyita perhatiannya. Gadis berambut merah yang selalu terlihat berlari-lari menuju kampusnya.

Hanya Naruto yang tahu bahwa Sasuke memperhatikan Karin setiap hari. Jika tidak melihat Karin pagi hari, Sasuke pasti akan menyempatkan diri malam hari untuk melihat Karin di tempat kerjanya. Dan setiap jam sebelas malam, ia akan menunggu gadis itu pulang didepan gedung apartemen gadis itu hanya untuk memastikan sang gadis pujaan hati pulang kerumah dengan selamat. Ia bahkan tidak peduli dengan fakta bahwa usia Karin lebih tua darinya. Satu hal yang tertanam dalam hati Sasuke.

Ia mencintai Uzumaki Karin.

TBC

Chapter dua yang dikit ini update nihhh... Makasih buat reviewnya minna-san... Arigatou gozaimasu.. Sebenernya Sasuke dipasangan ama siapa aja author setuju-setuju aja. Soalnya chara kesayangan kita ini kan ganteng and keren banget. Chapter sebelumnya typonya banyak banget... Padahal kayaknya ngetiknya bener deh...

Review please...?

Yana Kim ^_^