.
.
Daisuke, Nee-san!
Disclaimer : Naruto cs punya Masashi Kishimoto.
Story by : Yana Kim
Warning: Chaptered, Abal-abal , AU, OOC, always typo.
.
.
.
Chapter 3
You Like Me?
Universitas Konoha.
Karin tidak bisa berkonsentrasi pada pengarahan yang disampaikan oleh dosen pembimbing mereka yang menjelaskan mengenai Praktek Kerja Lapangan yang akan diikuti oleh semua mahasiswa Universitas Konoha semester tujuh termasuk Karin. Mulai minggu depan, mereka akan memulai PKL mereka dan hari ini adalah hari pembagian kelompok dan tempat PKL. Sebelumnya, mereka akan diberikan pengarahan oleh dosen.
Jelas saja Karin tidak bisa konsentrasi. Karena peristiwa semalam alias datangnya Suigetsu sang mantan membuat Karin tidak bisa tidur. Hasilnya, sekarang ia harus menahan mulutnya untuk tidak menguap di depan sang dosen. Tentu saja ini tidak lepas dari pandangan mata sang sahabat. Setelah pengarahan selesai, Ino langsung menginterogasi sahabat merahnya.
"Kau semalam tidak tidur?" Tanya Ino.
"Hmmm. Dan aku mengantuk sekali sekarang."
"Kita sedang tidak ada tugas apapun. Dan café tempatmu bekerja tutup paling lambat jam 12 malam. Bagaimana mungkin kau tidak tidur ?"
"Haaah. Semalam Sui datang ke apartemenku," jawab Karin.
"APA?! Apa yang dilakukan si brengsek itu, hah? Apa dia mengatakan sesuatu?" Tanya Ino tak sabar.
"Dia bilang ingin minta maaf. Tentu saja aku tidak mau," jawab Karin malas.
"Dia tidak menyakitimu kan?" Ino mulai kawatir.
"Hampir."
"APA?"
"Ino, pelankan suaramu... Ada seseorang menolongku. Dia memukul si brengsek itu."
"Oh.. Syukurlah.. kau tidak apa-apa. Ingat, Karin, jangan pernah kau memaafkannya apalagi kembali padanya."
"Hmmm. Ayo kita lihat pembagian kelompok dan tempatnya. Aku ingin segera pulang dan tidur," ajak Karin pada sahabatnya itu.
"Ayo... Kau tenang saja. Aku sudah mengatakan pada Hatake-sensei supaya kita dijadikan satu kelompok."
"Hei. Ada apa kau dengan dosen baru itu? Jangan bilang kau menyukainya, pirang?" selidik Karin.
"Karin, Aku hanya mengaguminya saja. Tidakkah kau lihat bahwa dosen Statistik itu sangat tampan? Dan aku dengar dia masih muda. Kyaaa!" Ino heboh sendiri.
"Reaksimu menunjukkan bahwa kau menyukainya, bodoh." celetuk Karin.
Kedua sahabat beda warna rambut itu lalu meninggalkan ruangan kelas mereka menuju papan pengumuman.
:
:
:
Karin saat ini telah berada di apartemennya. Ia sedang berbaring di tempat tidurnya. Memang benar ia dan Ino satu kelompok. Dan mereka akan PKL di Namikaze Corp mulai minggu depan.
Gadis itu tersenyum mengingat sahabatnya. Ternyata sahabat pirangnya itu menyukai dosen baru di kampus mereka. Karin tidak masalah dengan itu. Ia selalu mengaharapkan kebahagiaan untuk sang sahabat.
Tiba-tiba Karin teringat pada pemuda yang tadi malam menginap di apartemennya ini.
'Apa bocah Uchiha itu sedang bolos hari ini?' batinnya. Bagaimanapun juga ia memang bersyukur bocah itu datang semalam. Kalau tidak, mungkin Suigetsu akan menyakitinya. Lelah berpikir, Karin pun tertidur.
Sementara itu di Konoha High School.
"Teme, Kau seperti dihipnotis oleh Karin-neesan. Dia memintamu tidak bolos, kau melakukannya. Bahkan kau menjadi murid yang baik hari ini. Kalau jii-san tahu, dia pasti senang."
"Dia tidak perlu tahu. Dan aku yakin, dia tidak mau tahu, Dobe."
Sasuke dan Naruto saat ini sedang berada di atap sekolah. Sekolah telah usai beberapa saat yang lalu.
"Sampai kapan kau akan seperti ini dengan jii-san, hah? Bukannya sebelum meninggal, baa-san mengatakan bahwa kau harus selalu menghormati dan menyayangi jii-san. Kalian memang aneh, saling peduli tapi tidak mengaku."
"Apa maksudmu, Dobe?"
"Kau menyayangi jii-san, begitu juga sebaliknya. Tapi ego kalian membuat kalian terlihat seperti saling membenci satu sama lain."
"Diamlah, Dobe. Ayo pulang."
:
:
:
Di kediaman Uchiha, terlihat seorang pria paruh baya sedang berbicara di telepon di sebuah ruangan kerja.
"Sasuke tidak bolos hari ini? Benarkah itu, Iruka-san?" Tanya pria tersebut.
"Benar sekali, Uchiha-sama. Kami para guru pun bingung. Bahkan Sasuke mengerjakan soal yang saya berikan di depan kelas. Saya rasa Sasuke selalu belajar di rumah. Ia tidak mungkin bisa mengerjakan soal yang sulit tersebut mengingat ia selau saja bolos dalam pelajaran saya," sahut suara di seberang.
"Tapi saya tidak pernah melihat dia belajar dirumah, Iruka-san."
"Benarkah demikian? Berarti putra Anda anak yang jenius, Uchiha-sama."
"Terimakasih atas informasinya, Iruka-san."
"Hai'."
Sang pria yang ternyata adalah Fukagu terdiam setelah menerima telepon dari guru putranya yang merupakan salah satu informan yang mengawasi Sasuke di sekolah.
'Apa yang membuat anak itu tiba-tiba berubah? Apakah mungkin..' batinnya.
:
:
:
Tok tok tok..
Karin yang sedang memasak untuk makan malam terpaksa menhentikan kegiatannya karena ada yang mengetuk pintu. Setelah membuka pintu, ia terkejut melihat siapa yang bertamu ke rumahnya malam-malam begini.
"Apa yang kau lakukan disini?" Tanya Karin pada sang tamu.
"Aku lapar. Aku kesini untuk mencari makanan," jawab sang tamu yang ternyata Uchiha Sasuke. Ia masih mengenakan baju seragamnya.
"Kau pikir ini restoran, apa?! Hei! Aku belum menyuruhmu masuk!" Karin berteriak marah saat Sasuke dengan seenaknya menerobos masuk ke dalam apartemennya.
"Kau seharusnya mempersilahkan tamu untuk masuk. Kau tidak pernah mendengar peribahasa 'Tamu adalah Raja'?" ujar Sasuke santai lalu duduk di sofa sambil menyilangkan kakinya. Sementara Karin mendengus sebal.
"Kau ini!"
"Kau sedang memasak? Wah, kebetulan sekali," komentar Sasuke sambil melihat ke arah Karin yang mengenakan apron.
"AHH! Masakanku!" Karin setengah berteriak sambil berlari ke arah dapur.
"Dasar." Sasuke tertawa kecil.
Beberapa saat kemudian, Karin selesai memasak sementara Sasuke dengan santainya menonton televisi.
"Hei, Sasuke! Tidak bisakah kau membantuku?" panggil Karin dari dapur.
"Hn. Apa?" sahut Sasuke sambil berjalan menuju dapur.
"Ambilkan dua buah piring di lemari sana," perintah gadis itu.
"Hn."
Sasuke melakukan apa yang diperintahkan Karin. Setelah itu mereka pun memulai makan malamnya.
"Seharusnya kau pergi ke café atau restoran untuk makan malam. Bukannya datang kesini. Kau pikir ini tempat makan apa? Bahkan kau itu kan orang kaya. Kau bisa makan di rumahmu dengan tenang." Karin memulai percakapan di meja makan.
"Aku tidak mau makan di sana. Aku memang tadi ke café. Tapi aku tidak melihatmu. Kau tidak bekerja?"
"Aku sudah ijin untuk hari ini dan besok."
"Kenapa? Kau sakit?" Tanya Sasuke.
"Bukan. Besok aku akan mengurus dokumen PKL dan melakukan survey ketempat PKL. Aku takut itu akan memakan waktu sampai malam, makanya aku ambil cuti."
"Hn. Kau akan PKL? Memangnya kau sudah semester berapa?"
"Tujuh."
"Berarti umur kita hanya berbeda 4 tahun?"
"Lima tahun." koreksi Karin.
"Lima tahun?"
"Karena setelah lulus SMA, aku tidak langsung masuk kuliah. Aku bekerja dulu selama setahun untuk menabung uang kuliah."
"Oh."
"Dan seharusnya kau memanggilku nee-san setelah tahu bahwa kita beda lima tahun, bodoh."
"Tidak mau dan tidak akan mau."
"Kenapa? Kau merasa sok dewasa, hm? Kau bahkan baru tujuh belas tahun."
"Kau akan jadi pacarku sebentar lagi. Jadi aku tidak mungkin memanggil pacarku dengan sebutan nee-san."
"Hah? Apa maksudmu?"
"Aku menyukaimu." Sasuke menatap Karin serius.
"A-apa?" Karin bingung.
"Aku menyukaimu. Dan aku mau kau jadi pacarku. Dan aku ingin kau tahu bahwa aku tidak menerima penolakan. Terimakasih untuk makan malamnya, pacarku. Aku pulang dulu." Sasuke menyeringai dan meminum air putihnya kemudian meninggalkan Karin yang terpaku.
"A-a-nak itu. Anak itu pasti sudah gila."
Dan tanpa Karin ketahui, di saat yang sama, Sasuke bersandar di depan pintu apartemennya sambil memegang dadanya yang tak berhenti berdetak setelah menyatakan perasaannya.
:
:
:
"Dari mana saja kau, Sasuke?"
Sang ayah menyambut kepulangan Sasuke di ruang tamu. Sasuke diam saja tanpa menghiraukan ayahnya dan berjalan menaiki tangga.
"Apa kau dari rumah gadis berambut merah itu?!" Fugaku menekankan kata gadis berambut merah dan membuat Sasuke menghentikan langkahnya.
Perlahan-lahan, pemuda itu membalikkan tubuhnya dan membalas tatapan tajam sang ayah dengan sorot tak kalah tajam. "Berhenti mengawasiku dengan orang-orang bodoh suruhanmu itu, Tou-san. Aku sudah muak. Dan jangan mengusik hidup gadis itu."
"Dia mendekatimu hanya karena dia tahu kau seorang Uchiha. Semua wanita sama saja. Sama seperti gadis yang membuat Itachi meninggal."
"Semua? Termasuk Kaasan-ku, hah? Aku mencintai gadis itu sama seperti aku mencintai Kaa-san. Dia tidak mendekatiku. Akulah yang mengejarnya. Aku akan membunuh siapa saja yang mengganggunya," ucap Sasuke dengan nada mengintimidasi kemudian masuk ke kamarnya meninggalkan sang ayah yang terdiam.
:
:
:
Sudah seminggu sejak Sasuke menyatakan perasaannya pada Karin. Semenjak pernyataan itu, Sasuke tidak pernah menemui Karin. Membuat Karin menjadi terus memikirkannya. Saat ini, ia dan sahabatnya beserta tiga orang teman satu kelompok lainnya sedang berada diruang tunggu Namikaze Corp.
Hari ini adalah hari pertama mereka PKL. Dan karena mereka cukup kompeten, mereka ditempatkan di salah satu perusahaan besar di Konoha yaitu Namikaze Corp.
Setelah menunggu kira-kira sepuluh menit, mereka dipanggil oleh seorang wanita untuk menemui bagian personalia. Bagian inilah yang nantinya kan menentukan pekerjaaan apa yang akan dilakukan oleh mereka.
Alangkah senangnya kelompok Karin dapat melakukan PKL di Namikaze Corp. Bukan hanya karena ini adalah salah satu perusahaan terbesar di Konoha, tapi juga karena mereka akan digaji selama masa praktek mereka. Yah, walaupun gaji mereka hanya setara gaji seorang trainee, tapi bagi Karin ini merupakan hal yang dapat membantu keuangannya.
"Karin, aku dengar Presdir perusahaan ini sangat tampan loh. Aku sangat penasaran. Kapan dia datang ke sini yah?" Kata Ino.
Saat ini para peserta PKL sedang berada diruangan mereka. Mereka baru saja selesai makan siang.
"Ta-tapi Ino-san. Aku dengar beliau sudah menikah dan punya anak. Bahkan anaknya su-sudah berumur tujuh belas tahun," sahut Hinata, salah seorang dari kelompok mereka.
"Hahaha. Makanya kau jangan terlalu terobsesi pada pria tampan. Dasar pirang!" Karin tertawa diikuti oleh anggota kelompok mereka lainnya yaitu, Hinata, Kabuto dan Sasori.
"Diam kau, Karin!" ketus Ino dan malah dijawab oleh peletan lidah Karin.
"Sudah, sudah. Aku harap kita bisa menjalani tiga bulan ini dengan baik ne, minna-san!" Kabuto selaku ketua memberi semangat pada para anggotanya.
"Hai'." sahut para anggota kompak.
:
:
:
Malam hari di kediaman Uchiha.
Sasuke sedang duduk di kursi meja belajar di kamarnya. Untuk pertama kalinya sejak Kaasan-nya meninggal, ia menduduki kursi itu untuk belajar. Akhir-akhir ini memang sedang musim ulangan di sekolahnya. Biasanya ia tidak peduli. Namun setelah mengenal Karin bahkan telah menyatakan perasaannya pada gadis itu, Sasuke selalu berusaha untuk menjadi laki-laki yang keren dan hebat di depan Karin. Cara yang ia dapat setelah lama berpikir adalah kembali menjadi dirinya yang dulu. Ya, dirinya sebelum ditinggal pergi Kaasan-nya.
Seorang siswa yang selalu menjadi nomor satu di sekolah maupun di lingkungan pergaulannya. Yang selalu dipuji oleh para guru dan teman-temannya karena prestasi yang diraihnya. Saat ini ia merasa sangat merindukan gadis itu. Gadis yang tidak ditemuinya seminggu terakhir. Sasuke tersenyum kecut.
"Bahkan nomor handphonenya saja aku tidak tahu."
Sementara itu, Karin sedang berdiri di depan meja kasir yang menghadap pintu masuk café tempatnya bekerja. Terlihat olehnya seorang pria mengenakan jaket kulit dan motor besar dan memakai helm.
'Sasuke?' batinnya. Namun sepertinya tebakannya salah. Karin terlihat kecewa saat pria tersebut membuka helmnya. Rambut coklat, bukan biru gelap.
'Ternyata bukan.'
Rupanya kedua tokoh utama ini sedang saling memikirkan satu sama lain.
TBC
Chapter 3 update nih minna-san. Maaf banget baru update sekarang. Terimakasih buat Reviewnya. Khususnya buat Syalala Lala-san yang sudah memberikan bantuan saran dan masukan yang sangat saya butuhkan.
Saya harap Lala-san dan para senpai semua mau senantiasa memberikan saran dan masukan buat saya. *bow*
Review please…?
Yana Kim
