.
.
Daisuke, Nee-san!
Disclaimer : Naruto cs punya Masashi Kishimoto.
Story by : Yana Kim
Warning: Chaptered, Abal-abal , AU, OOC, always typo.
.
.
.
Chapter 4
I MISS U
Namikaze Corp.
"Tou-san...!" rengek seorang bocah pirang pada sang ayah.
"Sudah kubilang tidak boleh. Pergilah Naruto, Tou-san sedang banyak pekerjaan," jawab sang ayah.
"Sekali ini saja, Tou-san. Ya ya ya.." sang anak yang ternyata Naruto mengeluarkan jurus puppy eyes andalannya .
"Tidak bisa ya tidak bisa. Pergi atau aku menarik semua kartu kreditmu."
"Tou-san memang kejam. Aku tidak menyangka Kaa-san mau menikahi pria pelit sepertimu."
"Terserah kau mau bilang apa. Kau masih tujuh belas tahun dan belum mempunyai SIM. Aku tidak akan memberikan izin kau memakai mobil," sang Ayah tetap keras kepala.
"Huh.. Aku tidak mau bicara pada Tou-san."
"Barusan itu kau bicara padaku, Naruto."
"Aku―"
Tok tok tok.
Baru saja Naruto ingin melayangkan protesnya lagi. Pintu ruang kerja ayahnya diketuk oleh seseorang.
"Silahkan masuk." seru Minato.
Pintu terbuka.
"Saya ingin mengantarkan teh untuk Anda dan putra Anda, Namikaze-sama." kata seorang gadis berambut merah yang membuat Naruto sedikit syok. Ia mencoba menyembunyikan wajahnya agar tidak terlihat oleh gadis itu.
"Ya. Kau bisa meletakkannya disana. Terimakasih."
"Hai'. Saya permisi dulu, Namikaze-sama."
Setelah gadis itu pergi, Naruto buru-buru pamit pulang. Di tempat parkir perusahaan ayahnya itu, Naruto langsung mengambil handphonenya dan menghubungi sahabat dekatnya.
"Teme, kau tahu aku baru saja melihat siapa?" Naruto langsung bicara.
"Mana aku tahu, bodoh." jawab suara di seberang.
"Karin-neesan! Aku baru saja melihatnya. Dan kau tahu dimana? Di perusahaan Tousan-ku," ucap Naruto berapi-api.
"Hn."
Respon datar sahabatnya membuat Naruto sedikit kesal. "Kau tidak terkejut?"
"Tidak. Aku sudah tahu kalau dia sedang dalam masa PKL."
"Benarkah? Haaah, kalau tahu begitu, aku tidak perlu memberitahukanmu, Teme."
"Hn. Tapi terimakasih untuk infonya, Dobe."kata Sasuke lalu menutup pembicaraan.
:
:
:
Hari sudah sore, Karin sudah pulang dari tempatnya PKL. Teman-temannya sudah pulang duluan, Karin menolak ajakan mereka untuk pulang bersama karena ia akan langsung ke tempat kerjanya.
Saat ini, gadis berambut merah itu sedang duduk di halte bus di depan kantor Namikaze Corp. Tiba-tiba seorang pria paruh baya berdiri di dekatnya sambil menelepon seseorang.
"Aku baru saja menemui sahabatku. Aku memang sengaja menyuruh supirku pulang tadi. Kau ada dimana ? Cepatlah datang . Kau tahu aku tidak suka menunggu. Aku ada di halte depan kantor Minato. Hn."
Sang pria menutup teleponnya dan menyimpan handphonenya di dalam saku jasnya. Beberapa saat kemudian, Karin melihat seorang pria bermasker hitam berlari dan merapatkan dirinya pada pria paruh baya tadi. Kemudian berlari kencang meninggalkan pria paruh baya itu yang mengerang kesakitan.
"AKH!"
Karin terkejut melihat pria yang baru saja menelepon seseorang itu memegang perutnya yang berlumuran darah dan jatuh terduduk. Refleks, Karin langsung memapah pria itu dan berteriak minta tolong. Ia meletakkan tangannya pada luka tusukan pria tersebut.
Orang-orang yang ada di sekitar langsung mengerubungi Karin dan pria itu. Seorang wanita tua menghentikan taksi dan menyuruh orang-orang mengangkat pria itu kedalam taksi. Karin ikut masuk kedalam taksi sambil terus menutup sumber pendarahannya dan menyuruh sang supir membawa mereka ke rumah sakit terdekat.
Sesampainya di rumah sakit, pria itu langsung mendapatkan pertolongan. Karin terduduk lemas di kursi tunggu rumah sakit. Baju dan tangannya masih berlumuran darah. Pria yang tadi ditolongnya sedang berada dalam ruang operasi.
Tiba-tiba ada segerombolan pria berbaju serba hitam berjalan di koridor rumah sakit. Karin sempat melihat seorang pria yang sepertinya pemimpinnya seperti terkejut melihat Karin. Namun Karin tidak memperdulikannya.
"Apakah Anda yang menolong Fugaku-sama?" Tanya salah seorang di antara mereka.
"Iya. Anda keluarganya? Syukurlah kalian datang." Jawab Karin sambil berdiri.
"Kami adalah pengawalnya. Terimakasih karena sudah menolong majikan kami. Kami akan memberikan imbalan yang sepantasnya."
"Terimakasih, tapi tidak perlu. Aku ikhlas menolongnya. Aku pulang dulu. Aku harap tidak ada hal serius yang terjadi pada majikan kalian. Aku permisi," kata Karin lalu berjalan meninggalkan tempat itu.
Dokter dan para perawat keluar dari ruang operasi. Sang pemimpin rombongan tadi langsung mendekati dokter tersebut.
"Bagaimana keadaannya, dokter?" Tanya pria itu tak sabar.
"Pendarahannya cukup hebat. Untunglah dia langsung dibawa kerumah sakit. Kalau tidak, mungkin dia akan meninggal karena kehabisan darah. Mana wanita yang membawanya tadi?" kata sang dokter.
"Dia sudah pulang, dokter."
"Wah, kalian harus berterimakasih padanya. Sepertinya gadis itu menekan luka tusukannya selama perjalanan kesini untuk menghentikan pendarahaannya. Pasien masih dalam pengaruh obat bius. Mungkin akan sadar sekitar satu jam lagi. Aku permisi dulu." terang sang dokter.
"Hai'. Terimakasih, dokter."
:
:
:
Sasuke berlari-lari di koridor rumah sakit. Betapa terkejutnya ia saat seorang suruhan ayahnya meneleponnya dan mengatakan bahwa ayahnya ditusuk seseorang tak dikenal.
Sesampainya diruangan sang ayah yang dijaga ketat oleh para pengawal, Sasuke langsung masuk dan melihat ayahnya sedang tertidur. Disampingnya, duduk seorang yang Sasuke kenal bernama Izumo. Orang kepercayaan sang ayah yang juga tadi menelepon Sasuke.
"Bagaimana keadaannya?" Tanya Sasuke.
"Fukagu-sama sudah tidak apa-apa. Memang terjadi pendarahan hebat tadi, tapi sudah diatasi oleh para dokter," terang Izumo.
"Bagaimana ini bisa terjadi? Bukannya kalian selalu di sampingnya?!" Tanya Sasuke.
"Kami mohon maaf. Memang benar, kami selalu di sampingnya. Tapi hari ini Fukagu-sama tidak ingin ditemani. Katanya, beliau ingin menemui sahabatnya secara pribadi."
"Kalian harus menemukan pelakunya. Apapun caranya."
"Hai'. Sebaiknya Anda pulang saja, Sasuke-sama. Bukankah Anda harus sekolah besok. Kami akan menjaga Fukagu-sama disini."
"Hn. Pastikan segala sesuatunya aman."
Sasuke pun meninggakan tempat itu. Ia berjalan dengan hati yang lega. Ia bersyukur ayahnya tidak apa-apa. Bagaimanapun sikap sang ayah, ia tetaplah seorang anak yang menyayangi ayahnya. Hanya ayahnyalah keluarga yang dimiliki Sasuke saat ini. Ibu dan kakaknya telah lama meninggalkannya.
Tanpa sadar, Sasuke telah berdiri di depan apartemen Karin. Gadis yang sudah seminggu tidak ditemuinya. Ia sendiri heran mengapa ia bisa datang ke tempat ini. Ia melihat jam tangannya yang menunjukkan pukul setengah dua belas malam. Karin pasti sudah pulang bekerja, pikirnya.
Sasuke mengetuk pintu.
"Iyaaa. Sebentar!"
Ceklek!
"K-kau lagi?"
Sasuke diam. Karin dapat melihat wajah Sasuke yang agak pucat dan kelihatan lelah.
"Ada apa kau datang kemari?" Tanya Karin.
"Karin, aku lelah sekali," jawab Sasuke dengan suara yang lemah.
"K-kau kenapa?" Tanya Karin lagi.
Tiba-tiba Sasuke langsung memeluknya.
"H-hei!" Karin terkejut.
"Sebentar saja. Kumohon..." Sasuke mengeratkan pelukannya.
Karin tertegun sejenak. Namun entah keberanian dari mana, Karin lalu justru membalas pelukan Sasuke.
Sasuke ganti tertegun. 'Pelukan ini? Menenangkan seperti pelukan Kaa-san,' batinnya.
Mereka berpelukan untuk beberapa saat. Kemudian Karin menyuruh Sasuke masuk dan meyiapkan teh untuk bocah itu.
"Apa yang terjadi?" Tanya Karin. Saat ini mereka sedang duduk di sofa.
"Tidak ada. Aku hanya lelah berpikir," kata Sasuke.
"Berpikir? Apa yang kau pikirkan? Pelajaran? Tidak mungkin berandal sepertimu belajar," ejek Karin.
"Aku memang belajar. Aku sudah mau lulus, sebaiknya aku menjadi murid yang baik di saat-saat terakhir sekolahku," terang Sasuke.
"Benarkah? Bagus kalau begitu."
"Hn."
"Kau sudah makan?"
"Belum. Tapi aku tidak lapar."
"Kau bisa sakit, bodoh."
"Kau mengkhawatirkanku? Kau memang pacar yang baik." Sasuke menyeringai.
"Siapa bilang aku mau jadi pacarmu!?" elak Karin.
"Kau adalah pacarku. Dan itu tidak bisa diganggu gugat. Titik."
"Kau!?"
Sasuke melihat handphone Karin yang tergeletak di meja. Ia langsung mengambilnya dan menghubungi nomornya.
"Apa yang kau lakukan dengan handphone-ku?!"
"Hanya ingin mengetahui nomor pacarku. Simpan nomorku. Aku pergi dulu." Sasuke beranjak dari tempat duduknya.
"Kau ini seenaknya saja!"
"Oh ya, seminggu ini, apakah kau merindukanku?"
"Hah? Ma-mana mungkin, bodoh!?"
"Benarkah? Padahal, seminggu ini, Aku sangat merindukanmu, Karin." ujar Sasuke lalu pergi meningggalkan gadis itu.
:
:
:
"Bagaimana keadaan Anda, Fugaku-sama?" Izumo langsung bertanya pada tuannya ketika tuannya tersadar pagi itu.
"Akh, Izumo. Aku ada dimana?" Tanya Fugaku.
"Anda ada di rumah sakit Konoha, Fugaku-sama. Semalam Anda..."
"Ah. Aku mengerti. Apa kau sudah menemukan pelakunya?" Tanya sang majikan .
"Sudah, Fugaku-sama. Dia adalah orang suruhan dari Akatsuki Resort. Mereka mungkin balas dendam karena Uchiha Resort memenangkan proyek di Tokyo."
"Hn. Temukan juga orang yang menolongku semalam. Yang kuingat adalah dia seorang gadis berkacamata. Aku harus berterimakasih padanya."
"Kami juga sudah menemukan gadis itu. Tapi..."
"Tapi apa?"
"Gadis yang menolong anda adalah kekasih tuan Sasuke yang sedang saya selidiki."
"Apa?!"
"Fugaku-sama, sepertinya gadis itu adalah gadis yang baik. Dokter bilang gadis itu memberikan pertolongan kepada Anda dengan menekan luka Anda dan membawa Anda ke rumah sakit. Bila tidak ada gadis itu, mungkin..."
"Hn. Aku tahu."
"Oh ya, semalam Sasuke-sama datang kemari."
"Benarkah?"
"Benar, Tuan. Dia terlihat sangat khawatir. Dan dia menyuruh kami mencari tahu si pelaku apapun caranya."
"Anak itu..." Fugaku termenung sesaat. "Aku ingin menemui gadis yang menolongku terlebih dahulu. Tolong antarkan aku setelah keluar dari rumah sakit ini."
"Hai'."
:
:
:
Namikaze Corp.
Ino sedang menyusun file-file menurut tanggalnya di ruangan mereka. Ia melihat Karin sedang termenung di depan komputer. Saat ini hanya mereka berdua yang ada di ruangan itu.
"DOOORR!"
"Ino, kau mengejutkanku, tahu! Bagaimana kalau aku punya penyakit jantung? Kau sudah gila ya?" ujar Karin mengamuk.
"Kurasa kau yang sudah gila, Karin. Ada apa denganmu?"
"Tidak apa-apa, pirang."
"Jangan membohongiku. Cepat cerita!"
"Haaah." Karin menghela nafas panjang.
"Seseorang memaksaku jadi pacarnya." Karin mulai bercerita.
"APA? SIAPA? Kau menyembunyikan banyak hal dariku, heh?" Tanya Ino heboh.
"Seseorang yang menolongku waktu Suigetsu datang," terang Karin.
"Wahhh. Apa orang itu tampan?"
"Kau ini. Apa ketampanan itu penting?" ujar Karin sebal.
"Tentu. Aku setuju saja selama pria itu tampan. Dan kau bilang dia memaksamu? Kau tahu, aku suka sekali pria yang pemaksa. Hohoho..."
"Tch. Kurasa kau sudah gila, pirang. Kau sama sekali tidak membantu." Tukas Karin sebal.
"Maaf, maaf. Kau menyukainya?"
"Aku tidak yakin aku menyukainya."
"Menurutku sih. Jalani saja dulu. Kalau tidak cocok ya kalian akhiri."
"Masalahnya adalah—"
"Karin-san, Ino-san, kalian dipanggil oleh Shizune-san." Kabuto datang ke ruangan memanggil mereka.
"Hai'." sahut mereka bersamaan.
:
:
:
Karin dan Ino baru keluar dari pintu utama Namikaze Corp untuk pulang ke rumah masing-masing. Dari kejauhan, terlihat Sasuke sedang menunggu dengan berdiri di samping motornya. Karin yang melihatnya berhenti berjalan dan membuat Ino bingung.
"Ada apa?"
"Dia orangnya," kata Karin.
"Mana? Aku tid―uwaaaah! Karin, dia sangat tampan! Kau sangat beruntung! Kyaaa~~! Kenalkan aku padanya. Kenalkan aku padanya, Karin!"
"Ino. Kumohon jangan gila! Dia itu..."
"Dia itu apa, hm?" Ino senyum-senyum sendiri.
"Dia masih SMA."
"EH!? Tidak mungkin."
Karin berjalan ke arah Sasuke diikuti oleh Ino.
"Apa yang kau lakukan disini?" Tanya Karin.
"Tentu saja menjemput pacarku," jawab Sasuke kalem.
"Bagaimana kau bisa tahu aku praktek disini?"
"Itu tidak penting. Dia temanmu?"
"Hai. Aku sahabat Karin. Namaku Yamanaka Ino."
"Aku Sasuke. Uchiha Sasuke."
"Apa?! Kau anak dari pemilik Uchiha Resort yang terkenal itu?!" Ino tampak syok. Bagaimana mungkin anak pemilik Resort terbesar di Jepang ini bisa mengenal sahabatnya?
"Hn." Sasuke menggumam datar.
"Aku akan pulang dengan Ino." kata Karin.
"Tidak. Aku sudah ada janji dengan Kakashi-sensei, Karin. Kau bisa pulang dengan Uchiha. Iya kan Uchiha-san?"
"Hn. Terimakasih atas pengertiannya, Yamanaka-san." ujar Sasuke menyeringai.
"Kalian!"
"Aku pergi dulu Karin. Jaa~~!"
"Dia gadis yang pintar membaca suasana. Cepat naik. Sepertinya hujan akan turun." ujar Sasuke sambil memakai helmnya.
"Huh!" Sambil menggerutu, Karin pun akhirnya naik ke motor Sasuke.
"Pegangan. Atau kau akan jatuh."
"Hmmm..!" Karin bergumam tidak jelas namun tetap meletakkan tangannya ke pinggang Sasuke membuat pria itu tersenyum di balik helmnya.
Motor Sasuke pun melaju melintasi jalanan Konoha. Namun sial bagi mereka berdua, hujan turun dengan derasnya di tengah jalan. Membuat Sasuke menghentikan motornya dan berteduh di sebuah halte bus.
"Kau basah?" Tanya Sasuke.
"Sedikit. Tapi tidak apa." kata gadis itu.
Sasuke membuka jaketnya dan memakaikannya pada Karin.
"Hei. Bagaimana denganmu?"
"Aku tidak apa-apa."
Karin merasa hangat di tubuh dan hatinya. Sasuke membiarkan dirinya kedinginan untuk Karin. Entah mengapa wajahnya tiba-tiba memerah dan senyum terkembang di bibir merahnya.
"Kau bisa sakit, bodoh."
"Hn. Berhenti memanggilku bodoh."
"Terimakasih, Sasuke-kun."
TBC
Chaper 4... Chapter 4...
Ga hentinya Yana mengucapkan terimakasih buat review dari para reader dan senpai sekalian.
Mind to Review?
Yana Kim
