.

.

Daisuke, Nee-san!

Disclaimer : Naruto cs punya Masashi Kishimoto.

Story by : Yana Kim

Warning: Chaptered, Abal-abal , AU, OOC, always typo.

.

.

.

Chapter 6

Sensei..

Pagi itu, Ino tidak semangat sama sekali dalam menjalani pekerjaannya di Namikaze Corp. Hatinya sedang galau-galaunya, namun sahabat merahnya malah tidak datang. Dia jadi bingung harus cerita pada siapa. Pada akhirnya, pekerjaan yang seharusnya dapat selesai dengan cepat, menjadi lambat karena mood Ino yang sedang mendung kelabu. Pasalnya ialah...

.

.

Flashback on.

"Huuuuh.. Karin dijemput oleh pacarnya. Aku malah harus duduk sendiri di halte bus ini. Kau harus berterimakasih padaku, Uchiha! Aku dengan baik hatinya memberikanmu kesempatan untuk menjemput Karin." Ino menggerutu tak jelas di halte bus.

Kemudian ia melihat ke arah langit yang mulai gelap. Ia memang tidak sendirian di halte itu. Cukup banyak orang yang juga sedang menunggu bus. Namun entah kenapa Ino merasa sangat sepi.

"Janji dengan Kakashi-sensei, eh? Pria cuek seperti dia mana mungkin mau mengajak mahasiswanya janjian." Ino kembali menggerutu.

ZRAAAASSSSH!

Hujan pun turun dengan derasnya. Ino mengutuki dirinya karena lupa membawa jaket apalagi payung. Hujan deras membuat orang-orang yang ada di halte merapatkan diri ke arah Ino yang kebetulan duduk di bawah atap halte tersebut.

"Sial!" maki gadis pirang itu. Saat ini ia hanya bisa menundukkan kepalanya.

"Permisi. Permisi sebentar."

Ino seperti mengenal suara itu. Tiba-tiba ada yang menarik tangannya keluar dari kerumunan orang itu. Orang tersebut membawa Ino menerobos hujan dan berjalan ke sebuah mobil.

'Kakashi-sensei?!' batin Ino terkejut setelah melihat siapa lelaki yang menariknya itu.

"Masuklah. Hujan makin deras." Suara berat itu menyuruh Ino masuk ke dalam mobil setelah membukakan pintu untuk gadis itu. Kemudian lelaki itu menyusul Ino masuk ke dalam mobil, namun belum menyalakan mesinnya.

"Kakashi-sensei. Bagaimana sensei bisa ada disini?" Tanya Ino keheranan sambil menerima kotak tisu yang diulurkan Kakashi. Ia masih belum bisa percaya jika dirinya kini berada di dalam mobil dosen yang sedari tadi dirutukinya.

"Hanya kebetulan lewat. Lalu aku langsung mengenali rambutmu. Sebenarnya aku ingin langsung pergi tanpa menghiraukanmu, tapi aku melihat seorang pria merapatkan dirinya padamu dengan pandangan mesum. Makanya aku langsung menarikmu," terang Kakashi membuat wajah Ino memerah.

"Ummm.. Te-terimakasih kalau begitu, sensei." Ino berkata sedikit kikuk.

"Hn. Dimana rumahmu? Aku akan menngantarmu."

Betapa senangnya Ino mendengar tawaran sang dosen pujaan hati. Siapa sangka, hal ini akan terjadi padanya. Gadis itu pun memberitahukan alamatnya pada Kakashi.

Kakashi mengendarai mobil dalam diam. Ino pun hanya diam karena gugup dengan kediaman Kakashi. Akhirnya mereka sampai di rumah Ino tanpa satu topik yang berhasil mereka bahas.

"Terimakasih, sensei."

"Hn. Aku pulang."

"Hai'."

Keesokan harinya sepulang PKL, Ino disuruh Ibunya untuk membeli keperluan sehari-hari di supermarket dekat kompleks. Tentunya dengan senang hati Ino melakukan yang diperintahkan oleh sang Ibu.

Setelah berbelanja selesai, Ino langsung melangkahkan kakinya untuk pulang, namun ia merasa tergiur melihat plangkat toko Dango dan berniat untuk membelinya. Saat ingin menyeberang, Ino melihat sebuah mobil yang dikenalnya berhenti tak jauh darinya. Ia melihat seorang perempuan berpakaian seksi turun atau lebih tepatnya diseret turun oleh seorang pria yang tak lain adalah Kakashi, dosen yang sangat dipuja oleh Ino.

Sekejap bola mata biru Ino membulat.

"Aku tidak ingin melihatmu lagi, Tayuya. Jangan pernah lagi menemuiku ataupun meneleponku. DASAR JALANG!" Ino terkejut setengah mati melihat Kakashi berbicara sekasar itu.

"Tunggu, Kakashi sayang, dengarkan aku. Ini bukan seperti yang kau pikirkan. Jangan salah paham."

"Diam kau, JALANG! Aku menyesal telah merebutmu dari Itachi. Aku menyesal harus bermusuhan dengan sahabatku hanya demi perempuan jalang sepertimu. Itachi bahkan bunuh diri karena stress kau tinggalkan. Tapi dengan bodohnya aku mempertahankan perempuan tak tahu diri sepertimu!"

"BERHENTI MEMANGGILKU JALANG! Kaupun adalah pria brengsek yang bahkan sudah tidur denganku, dengan gadis jalang ini!" Gadis seksi itu rupanya ikut tersulut emosi dan mengeluarkan makian. Kemudian tanpa babibu, ia langsung mencegat taksi dan naik meninggalkan sang pria yang terlihat frustasi.

Dari kejauhan, Ino melihat adegan itu dengan hati teriris. 'Jadi Kakashi-sensei sudah punya pacar dan bahkan sudah tidur dengan wanita itu?' batin gadis pirang itu.

Flashback off.

.

.

.

Karin sudah pulang sejak sore tadi dari kediaman Uchiha. Ia harus pergi bekerja di Horizon Café. Tinggallah dua manusia bermarga Uchiha di rumah besar itu. Kini mereka berada di ruang kerja sang Ayah.

"Tou-san mengizinkan aku berhubungan dengan Karin?" Tanya Sasuke.

"Hn. Dia gadis baik. Maaf, Tou-san sudah salah menilainya."

"Hn. Terimaksih, Tou-san. Bagaimana keadaan Tou-san?"

"Sudah lebih baik. Kau tahu? Karinlah orang yang menolongku saat aku ditusuk seseorang."

Sasuke tampak terkejut mendengar penuturan sang ayah. "Benarkah itu, Tou-san?"

"Hn. Makanya aku tahu kalau dia gadis baik. Tidak seperti gadis yang itu."

"Tou-san, sudahlah. Itachi-nii sudah tenang bersama Kaa-san."

"Kau benar. Bagaimana kalau kita pergi mengunjungi makam mereka. Sudah lama aku tidak kesana."

"Benar. Ayo kita pergi, Tou-san."

.

.

.

Karin seperti biasa sedang bekerja sambilan. Hari ini ia mengambil bagian sebagai pelayan bukan sebagai kasir. Ia melihat seseorang yang dikenalinya memasuki café.

Pria yang Karin kenal merupakan salah satu dosen di kampusnya itu menduduki meja yang agak disudut. Karin dapat melihat wajah sang dosen agak kusut.

"Selamat datang, Hatake-sensei..."

Pria berambut perak itu menoleh dan mengangkat alisnya sejenak."Ah. Uzumaki. Kau bekerja disini?" Tanya Kakashi.

"Hai'. Sensei mau pesan apa?"

"Hn. Capuccino saja."

"Hai'. Mohon tunggu sebentar, sensei."

Karin meninggalkan meja tersebut menuju dapur untuk membuatkan pesanan Kakashi. Beberapa saat kemudian, pesanan Kakashi selesai dan Karin mengantarnya ke meja sang dosen.

"Satu capuccino. Silahkan dinikmati."

"Terimakasih, Uzumaki."

"Hai'."

Karin membalikkan badannya hendak meninggalkan Kakashi. Tiba-tiba dari arah pintu masuk, Karin melihat sahabatnya alias Ino masuk ke dalam Café.

"Maaf, sensei. Apa sensei sedang membuat janji dengan Ino disini?"

"Maksudmu Ino Yamanaka? Tidak."

"Oh? Tidak biasanya dia datang kemari."

Karin melambaikan tangannya pada Ino. Muka Ino terlihat marah melihat Karin, membuat gadis itu heran. Gadis pirang itu kemudian mendatangi Karin.

"Kemana saja kau!? Kenapa tidak datang ke Namikaze Corp!?" Ino marah-marah tanpa melihat bahwa Kakashi ada di samping mereka.

"Aa, maaf, kemarin aku ada urusan mendadak, Ino. Tumben kau kemari. Ada apa?"

"Aku ingin cerita, ini mengenai Kakashi-sensei. Ternyata dia sudah punya pacar. Huwaaa! Aku ingin mati saja. Ternyata aku mencintai pria yang sudah memiliki kekasih."

Karin setengah menahan tawa setengah menahan tangisnya mendengar cerocos sahabatnya. 'Ternyata Ino tidak tahu kalau pria yang dimaksudnya ada disini' batin Karin. Sementara Kakashi hanya diam dengan tampang terkejut.

"Ino, dengarkan aku. Aku sedang bekerja jadi tidak bisa menemanimu. Satu jam lagi baru selesai. Jadi... kau duduk disini dulu sambil menungguku."

"Tapi aku ingin cerita, Karin..." Ino mengeluarkan puppy eyes andalannya.

"Kau bisa bercerita dengan Kakashi-sensei. Duduklah," ucap Karin sambil menahan tawanya. Ia mendudukkan Ino secara paksa tepat di depan Kakashi.

Gadis pirang itu terkejut setengah mati sedangkan Karin cepat-cepat kabur meninggalkan kedua orang itu.

"Se-se-sensei?"

"A-aa, ya."

Suasana pun jadi canggung seketika. Karin hanya dapat tertawa dari arah dapur melihat sahabatnya yang diam tak berkutik. Sesaat kemudian Karin kembali membawakan segelas Orange Jus kesukaan sahabatnya itu, lalu kembali meninggalkan dua orang yang dipenuhi hawa canggung yang luar biasa.

"Se-sensei sering kemari?" Tanya Ino mencoba memecah kesunyian di antara mereka.

"Tidak juga. Oh ya, Yamanaka, apa maksud perkataanmu tadi?" Ino merasa dunia mau runtuh saat Kakashi menanyakan hal itu. 'Jadi, dia mendengarnya ?' batin gadis pirang itu.

"A-aah... I-itu..." Ino gelagapan.

"Kau mencintaiku?" Tanya Kakashi.

"I-itu. Semalam aku melihat sensei bertengkar dengan seorang wanita, m-maksudku dengan kekasih sensei."

"Aku bertanya apakah kau mencintaiku, kau malah menjawab panjang lebar begitu."

"A-aku.. Maafkan aku." Ino terlihat gugup dan bingung.

"Kau tidak salah. Untuk apa minta maaf?"

"Eh?" Ino menjadi tambah gugup.

"Aku hanya bercanda. Wanita yang kau lihat itu sudah bukan kekasihku lagi."

"Oh? Umm b-begitu.." Ino sedikit tersenyum. Padahal innernya tengah berseru heboh, 'Benarkah yang kudengar ini? Tuhan, aku bahagia!'

"Hn. Kau kelihatan senang sekali. Jadi kau benar mencintaiku?"

"Sensei! Berhenti menggodaku." Ino tanpa sadar melempar Kakashi dengan tisu di tangannya.

"Hei. Kau bersikap seolah aku adalah kekasihmu. Aku ini dosenmu."

"Aaaa. M-maafkan aku."

"Hn. Kau ini lucu sekali, Ino." Suasana menjadi cair kembali.

"Aku bukan badut, sensei." Ino mengerucutkan bibirnya.

"Hahaha. Sudahlah, ini sudah jam 11 malam. Ayo, kuantar kau pulang."

"Ummm." Ino menganggukkan kepalanya senang. Sepertinya ia sudah lupa bahwa ia seharusnya bercerita pada Karin sepulang kerja. Karin yang melihat dari dapur hanya tersenyum senang melihat sahabatnya itu.

.

.

.

"Dia perempuan yang jahat. Aku sudah memberikan semua yang dia mau. Tapi dia malah selingkuh dengan pria lain. Aku menyesal pernah bermusuhan dengan sahabatku hanya karena memperebutkan perempuan murahan seperti dia."

Ino dan Kakashi berbicara didalam mobil. Kakashi menceritakan pada Ino mengenai kejadian yang terjadi malam kemarin.

"Ka-lau begitu. Kau harus berbaikan lagi dengan sahabatmu itu, sensei."

"Seharusnya memang begitu. Tapi sudah tidak bisa lagi. Dia sudah meninggal."

"Apa?" Ino terkejut mendengarnya.

"Hmmm. Dia bunuh diri ketika Tayuya meninggalkannya dan memilih bersamaku."

Ino menutup mulutnya yang terperangah. "Sayang sekali. Kalau begitu kau harus lebih sering mengunjungi makam sahabatmu itu, sensei."

"Kau benar. Aku akan kesana besok."

"Perempuan yang bernama Tayuya itu memang cantik sekali, pantas saja kalian sampai memperebutkannya."

"Sayangnya dia perempuan murahan yang sudah tidur dengan banyak pria."

"Yaah. Dan kau adalah salah satunya, sensei."

"Hahaha. Kau mendengar semuanya ternyata. Setelah tahu semuanya, seharusnya kau berhenti mencintaiku, Ino." ucap Kakashi sambil menghentikan mobilnya di depan rumah Ino.

"Perasaan tidak bisa dipaksa, sensei. Jangan menyuruhku untuk berhenti mencintaimu. Terimakasih dan selamat malam." Ino turun dari mobil Kakashi, meninggalkan Kakashi yang tertegun.

Sepertinya ini akan menjadi awal yang baik bagi mereka, eh?

.

.

.

Pagi hari, Karin baru saja bangun dari tidurnya yang cukup nyenyak. Ia segera mandi dan memasak. Tidak terasa, ia dan teman-teman satu kelompoknya sudah hampir selesai PKL. Tinggal seminggu lagi maka masa PKL mereka selesai. Setelah itu, Karin akan fokus pada penyusunan skripsinya.

Hubungannya dengan Sasuke pun berjalan dengan baik meskipun sering diiringi oleh sifat kekanakan Sasuke dan Karin yang keras kepala. Sasuke dengan senang hati menceritakan semua masa lalunya pada Karin, mengenai Ibunya yang meninggal karena penyakit kanker yang dideritanya sampai pada kakaknya Itachi yang bunuh diri akibat ditinggal oleh kekasihnya.

Karin jadi mengerti bagaimana seorang Sasuke menjadi berandal yang malas belajar dan gemar membolos. Namun saat ini, Sasuke telah menjadi siswa yang baik. Tidak lagi bolos dan lumayan rajin dalam belajar. Karin pun juga sudah sepenuhnya membuka hati pada Sasuke yang umurnya terpaut lima tahun darinya itu.

Baru akan mulai memasak, Karin mendengar pintu apartemennya diketuk seseorang.

"Sebentar!"

Karin pun membuka pintu .

"Sasuke?" Sepertinya ia sudah tidak perlu lagi merasa heran melihat sosok pemuda itu yang sering tiba-tiba muncul di pintu apartemennya.

"Hn."

"Ada apa? Masuklah.."

"Tidak. Aku hanya sebentar. Hari ini aku ujian akhir."

"Lalu?" Tanya Karin heran.

"Aku butuh semangat supaya aku bisa mengerjakan soal ujianku nanti."

"Maksudmu?" gadis itu mengernyitkan dahinya

"Cium aku."

"A-apa? Jangan bercanda. Kau datang kesini hanya untuk itu?" Karin gelagapan.

"Aku serius," jawab Sasuke mantap.

"Tidak."

"Kenapa? Kau mau aku tidak lulus, karena tidak semangat saat mengerjakan soal nanti?"

"Itu tidak ada hubungannnya sama sekali. Bukannya kau sendiri yang bilang kalau kau masih di bawah umur? Pergilah."

Sasuke menghela nafas, memasang tampang kecewa di wajahnya. "Sudah kuduga.. Kau pasti tidak akan mau melakukannya."

Sasuke membalikkan badannya berjalan meninggalkan Karin. Namun tiba-tiba, Karin memanggilnya.

"Sasuke!"

Pemuda itu membalikkan badannya dan mendapati Karin menerjangnya dengan pelukan.

"Kerjakan ujianmu dengan baik. Kau pasti bisa." Karin melepaskan pelukannya dan mengecup pipi Sasuke sekilas.

"Maksudku bukan disitu." Sasuke memprotes, namun tak dapat menyembunyikan bahwa hatinya senang saat Karin mengecup pipinya.

"Aku tahu." Karin memegang tengkuk Sasuke dan sedikit berjinjit untuk mengecup dahi pemuda itu.

"Disitu juga bukan." Sasuke kembali protes.

"Jadi dimana?" Tanya Karin pura-pura tidak tahu.

"Tentu saja disini." Sasuke menunjukan bibirnya.

"Aku akan memberikannya bila kau lulus dengan nilai yang bagus." balas Karin.

"Benarkah. Akan kupastikan kau akan menciumku saat hari kelulusan nanti."

"Buktikan kalau begitu."

Sasuke menarik ujung bibirnya. "Hn. Aku pergi."

.

.

.

Hari kelulusan yang ditunggu-tunggu oleh siswa kelas XII Konoha High School akhirnya tiba. Semua murid yang telah menerima hasil terlihat senang karena mereka semua lulus. Termasuk Uzumaki Naruto yang sangat pesimis bahwa dirinya akan lulus. Pemuda pirang itu melompat-lompat tidak jelas setelah membuka amplop yang berisi pemberitahuan kelulusannya. Namikaze Minato dan istrinya Kushina hanya bisa tersenyum melihat putra mereka yang ternyata berhasil lulus.

Tidak seperti Naruto, Sasuke hanya tersenyum melihat amplop yang menjadi bukti bahwa dirinya lulus. Ia merasa sangat lega. Namun sedikit kecewa karena sang ayah belum pulang dari Tokyo. Ayahnya berjanji akan berusaha datang saat kelulusan Sasuke. Namun Sasuke maklum mengingat Uchiha Resort yang ada di Tokyo baru dibangun sehingga harus mendapat perhatian penuh dari sang Presdir. Sasuke pun harus kembali menelan kekecewaan saat menerima SMS dari Karin yang mengatakan bahwa ia sedang berada di luar kota untuk penelitian yang akan mendukung skripsinya.

"Kita berhasil, Teme!"

"Hn. Selamat, Dobe."

Semua siswa dan orang tua menuju aula KHS untuk upacara kelulusan sekaligus perpisahan. Mereka menduduki kursi masing-masing. Sasuke memandang dua kursi kosong disebelah kanan dan kirinya. Ia terlanjur mengatakan bahwa keluarganya yang datang ada dua orang.

Ia memang tidak terlalu merasa sepi karena sahabat pirangnya dan kedua orang tuanya ada di sebelah Sasuke. Jadi dia bisa ngobrol dengan Naruto.

Kepala sekolah memulai pidatonya membuat semua orang memusatkan perhatian mereka pada wanita cantik berambut pirang tersebut, yaitu Senju Tsunade.

"Jadi, sekarang saya akan mengumumkan dua orang siswa yang berhasil meraih nilai ujian tertinggi pada ujian akhir sekolah. Kedua orang ini juga membuat kami bangga karena mereka juga merupakan peraih nilai tertinggi se-Jepang. Berikan tepuk tangan yang meriah pada mereka!"

Semua hadirin bertepuk tangan.

"Aku yakin itu bukan kau, Naruto." Minato tersenyum meremehkan pada anaknya. Membuat Naruto mendengus sebal.

"Kami akan panggilkan mereka. Dan kami harap orang tua ataupun wali dari mereka juga bersedia untuk maju ke depan."

"Peringkat kedua ialah..."

Kepala Sekolah sengaja mengambil jeda dan membuat hadirin yang mendengarnya jadi turut berdebar-debar.

"...Nara Shikamaru!"

Seorang siswa berambut nanas maju bersama kedua orang tuanya diiringi tepuk tangan dari para hadirin. Kentara sekali rona kebanggaan di wajah kedua orang tuanya.

"Shikamaru peringkat kedua? Kukira dia yang pertama. Wah... Peringkat pertama pasti Haruno Sakura."

"Bukan. Pasti Shimura Sai yang meraih peringkat pertama."

"Hei. Jangan lupakan Sabaku Gaara. Dia kan pintar."

Bisik-bisik terdengar dari para siswa di belakang Sasuke.

"Teme, feeling-ku mengatakan kau yang pertama."

"Jangan bodoh. Kita lulus saja sudah syukur," sahut Sasuke. 'Dan aku tidak mau jadi yang pertama dan maju sendiri tanpa orang tua ataupun wali ' tambah Sasuke dalam hati.

"Dan peringkat pertama adalah seorang yang tak pernah disangka-sangka."

Kalimat Kepala Sekolah membuat kasak-kusuk makin santer terdengar. Setiap orang memiliki dugaan sendiri-sendiri mengenai siapa siswa yang berhasil meraih posisi pertama.

"Dia adalah..."

Jeda kembali membuat aula luas tersebut segera saja menjadi hening. Beberapa siswa mulai harap-harap cemas menantikan nama yang akan disebut sang kepala sekolah.

"...Uchiha Sasuke!"

Hening. Semua orang tengah mencerna perkataan yang baru saja terdengar dari bibir Kepala Sekolah.

Sementara Uchiha Sasuke tertegun di tempatnya mendengar namanya dipanggil. 'Tidak mungkin' batinnya.

"Teme, kau yang pertama!" seru Naruto tertahan.

"Selamat, Sasuke!" Kushina terseyum memberikan selamat.

Masih dengan rasa tak percaya, Sasuke berdiri. Berjalan keluar dari barisan kursinya menuju karpet merah yang berada di tengah. Detik itu juga tepuk tangan hadirin terdengar membahana. Meriah memberi selamat kepada dua siswa terbaik sekolah mereka.

Sasuke ragu berjalan ke depan panggung, ia berhenti diatas karpet merah itu sambil memandang ke depan. Tiba-tiba Sasuke merasakan seseorang memegang bahu kanannya.

Sasuke menolehkan kepalanya ke kanan. Ia melihat sang ayah berdiri sambil tersenyum bangga pada Sasuke.

"Kau hebat, Nak." ucap Fugaku.

"Tou-san?"

"Hn. Aku bangga padamu. Ayo." Fugaku mengajak Sasuke untuk kembali berjalan.

Setelah sampai di panggung, Sasuke melihat Karin berdiri di pintu masuk dan menatapnya dengan senyum lebar. Sasuke pun membalas senyuman kekasihnya itu.

Ia bahagia.

.

.

.

Mobil yang membawa Fugaku, Sasuke dan Karin memasuki kediaman Uchiha. Para pelayan menyambut mereka dan mengucapkan selamat pada tuan muda mereka.

"Tou-san, kami duluan." Sasuke berkata pada Ayahnya. Lalu menoleh pada Karin seraya menarik tangan gadis itu menaiki tangga menuju kamarnya. "Ikuti aku."

Fugaku hanya tersenyum melihatnya.

"Dasar." Gumam pria berpengalaman tersebut seraya menggeleng-gelengkan sedikit kepalanya.

"Fugaku-sama, saya tidak yakin Tuan Muda akan setuju dengan rencana Anda." Izumo membuka percakapan.

"Dia harus setuju, Izumo. Dia harus melakukannya. Ini yang terbaik untuknya," ucap Fugaku yakin.

.

.

.

Kamar Sasuke.

"Apa maksudmu membawaku kemari?" Tanya Karin.

"Tentu saja menagih janjimu dua minggu lalu." Jawab Sasuke.

Karin mengangkat alisnya berlagak mengingat-ingat sesuatu. "Yang mana? Aku sepertinya tidak ingat pernah berjanji padamu."

Gadis itu tengah berpura-pura tidak ingat dan membuat Sasuke mendengus sebal. Sasuke memberikan sebuah amplop dan map kepada Karin.

"Kau lihat sendiri tadi, aku lulus dengan nilai terbaik se-Jepang." ujar Sasuke.

"Lalu?" Karin masih saja berpura-pura tidak mengerti, sehingga Sasuke tambah kesal.

"Tch, Kau ini! Kau berjanji kalau aku lulus dengan nilai yang baik, kau akan men―"

Cuup.

Perkataan Sasuke terpotong karena Karin menciumnya tepat di bibir. Sasuke terdiam. Sebentar melumatnya, Karin kemudian melepaskan ciumannya.

"Selamat atas kelulusanmu. Aku bangga padamu." Ucap Karin dengan senyuman. Gadis itu lalu meninggalkan Sasuke yang masih tertegun.

Sebelum membuka pintu kamar Sasuke, Karin berbalik dan menatap Sasuke yang masih terdiam di tempatnya dengan senyuman.

"Ciuman pertamamu, eh? Pantas kau payah sekali."

Karin pun membuka pintu dan meninggalkan Sasuke untuk pulang ke apartemennya.

Sementara Sasuke baru sadar dari ketertegunannya saat seorang pelayan memanggilnya untuk menemui ayahnya.

.

.

.

Ruang kerja Fugaku.

"Ada apa, Tou-san?" Tanya Sasuke.

"Kau sudah lulus SMA sekarang. Untuk itu, Tou-san memutuskan, kau harus sekolah di luar negeri supaya kau bisa meneruskan Uchiha Resort."

'A—apa?'

'Sekolah di luar negeri?'

Sasuke terkejut setengah mati mendengar keputusan Ayahnya. Tentu saja, karena sekolah di luar negeri berarti ia harus meninggalkan Jepang, meninggalkan rumahnya, meninggalkan sahabat-sahabatnya, dan yang paling penting adalah meninggalkan Karin.

Entah mengapa, hal terakhir ini membuat dadanya tiba-tiba saja terasa sesak.

'Meninggalkan Karin'

'Meninggalkan Karin'

'Meninggalkan Karin..'

TBC

Hantu menulisku muncul lagi atas doa Lala-san. Ino-Kakashi? Haha, disini Kakashi tidak memakai masker ya...

Wahhh, Sasuke udah lulus aja nih... Sasuke mau ga ya lanjutin sekolah ke luar negeri?

Udah chapter 6 ternyata, rencananya ini sampai sepuluh chapter aja. Itupun kalau si hantu datang tepat waktu.

Mind to Review ?

Yana Kim ^_^