Disclaimer:

Semua character yang aku pake milik diri mereka sendiri.

Genre:

Romance, hurt/confort

Main chara:

Donghae, Eunhyuk, Kibum, Ryewook, Kyuhyun (letter)

Rate: T

WARNINGS:

Author masih new, typo(s), jalan cerita membosankan, dan buat yang gak suka pair atau apa pun yang ada di ff ini cukup DON'T LIKE DON'T READ oke?

.

.

.

# # #

.

.

.

#Lee Hyukjae POV

Aku menghela napas pelan,

'Apa yang ingin dibicarakan Kibum?'

Tadi pagi, Donghae tiba-tiba mengajak ku bertemu lagi dengannya dan Kibum, dengan alasan karena dia ingin bertemu lagi denganku setelah 3 hari kedatangan Kibum.

Aku sama sekali tidak sibuk, tapi aku memang sengaja menghindar, selain karena aku tahu mereka ingin –butuh- waktu pribadi mereka, aku juga tidak ingin sakit hati karena melihat kedekatan mereka.

Anehnya, tepat satu jam setelah Donghae menghubungi ku, Kibum menelphoneku dan mengatakan ingin berbicara denganku berdua, tanpa Donghae. Yang berakhir dengan di sinilah aku, satu jam sebelum waktu kami harus bertemu dengan Donghae, menunggu Kibum datang ditempat kami bertiga berjanji untuk bertemu dengan ditemani oleh segelas jus strawberry.

"Maaf, aku terlambat." Aku mendongak, dan melihat Kibum yang baru saja datang dan mengambil tempat duduk di hadapanku.

"Tidak, aku belum lama di sini. Jadi, kau ingin langsung ke inti masalah atau kau ingin memesan makanan terlebih dahulu? Well, aku lebih baik memilih kita langsung membahas inti masalah sih,"

"I think so."

Jujur, saat Kibum meminta waktu untuk bicara berdua denganku aku sama sekali tidak punya ide tentang apa yang akan dibicarakan oleh Kibum, tapi aku tahu dengan jelas yang akan dia bicarakan berhubungan dengan Donghae.

Untuk sesaat, sama sekali tidak ada suara yang keluar diantara kami berdua sampai aku mendengar Kibum menghela napas cukup keras dan saat aku melihat raut wajahnya yang berupa gabungan antara keraguan, tekad, dan…, penyesalan. Saat itu aku tahu, Kibum sudah tahu perasaan-ku pada Donghae dan dia akan membicarakan hal itu. Pemikiran itu membuat aku tanpa sadar menghirup udara dalam-dalam sebelum menghembuskannya pelan-pelan.

"Aku- tahu tentang perasaanmu pada Donghae."

'Hah! Dugaan yang tepat.' Dia sudah tahu. Aku sama sekali tidak merespon ucapannya, karena aku tahu, Dia belum selesai. Sebagai gantinya, aku hanya diam dan menunggu dia melanjutkan apa yang ingin dia sampaikan.

"Maafkan aku, Hyukkie. Aku ingin egois, aku tidak ingin menyerahkan Donghae." Kibum menunduk, sama sekali tidak menatap ke arah-ku. Aku tahu dia sangat merasa bersalah, tapi-

"Aku tahu. Dan tenang saja aku tidak akan merebut Donghae darimu." Aku melempar senyum lembut ke arah Kibum yang kini balas menatap ke arah-ku. 'Aku bahkan tidak pernah bermimpi untuk melakukannya saat kau tidak ada'

"Apa kau yakin kau bisa melupakan perasaanmu Donghae?" Aku bisa melihat ada keraguan di mata Kibum, aku hanya tersenyum melihat itu.

"Dengar, Bummie. Aku mencintai Donghae, tapi Donghae mencintaimu. Itu adalah suatu hal yang kita tahu dengan jelas. Dan kau adalah sepupu dan sahabat terbaik-ku, aku tidak bisa membawa diriku untuk merebut Donghae darimu tapi aku juga tidak akan mengatakan aku akan melupakan atau menghilangkan perasaan-ku. Jadi aku hanya akan diam dan melihat kalian bahagia"

Aku tahu aku bodoh, tapi bukan berarti aku akan menyesal karena aku bodoh, kan? Lagi pula dunia tidak akan kiamat begitu saja hanya karena aku patah hati, tidak akan setelah banyaknya jumlah aku sakit hati selama ini.

"Bagi Donghae kau adalah orang sangat dia cintai dan membuatnya bahagia. Maka bagiku hal terbaik adalah Donghae bersama orang yang bisa membuatnya bahagia. Kau tidak perlu khawatir."

Aku bisa melihat semua keraguan di mata Kibum kini berubah menjadi sorot khawatir. Dia benar-benar orang yang paling pantas bersama Donghae. Mengabiakan rasa sakit yang sudah biasa aku rasakan di hatiku, aku melempar senyuman untuk meyakinkan Kibum atas semua ucapan-ku.

"Bukan hanya itu. Tapi, apa kau tidak merasa sakit? Melihat hubungan-ku dan Donghae."

"Aku baik-baik saja." Aku sama sekali tidak bisa berbohong pada Kibum bahwa aku tidak merasa sakit, tapi aku tahu kalau aku baik-baik saja. Ini lebih baik dari pada Donghae menjauh dariku hanya karena dia mengetahui perasaan-ku padanya.

"Aku minta maaf, Donghae memang tidak peka, dia terlalu sering menyakitimu saat dia bersamaku."

Dan sebelum aku bisa menjawab Kibum aku melihat Donghae datang dari pintu masuk dengan wajah cerah dan berjalan langsung ke arah meja yang aku duduki bersama Kibum. Waktu berjalan dengan sangat cepat.

"Kalian sudah sampai? Apa aku terlambat?" Donghae mengambil tempat duduk di samping Kibum –pastinya-.

Melihat Kibum sepertinya enggan menjawab, aku akhirnya angkat suara dan menjawab pertanyaan Donghae "Tidak, kebetulan aku tidak ada pekerjaan, jadi aku ke sini lebih dahulu dan Kibum juga baru sampai beberapa waktu lalu."

Donghae hanya mengangguk dan kemudian memanggil pelayan. Aku terkadang bersyukur Donghae tidak peka sehingga dia sama sekali tidak menyadari aura yang cukup berat diantara Kibum dan aku dan mencairkannya hanya dengan senyumannya.

"Kalian ingin memesan apa, Hyukkie? Bummie?"

"Aku rasa aku tidak perlu memesan, aku tidak bisa lama di sini." –Dan melihat kalian berdua bermesraan di hadapanku. Jujur, setelah pembicaraanku dan Kibum yang cukup menghabiskan tenaga, aku sama sekali tidak punya tenaga lagi untuk melihat kemesraan Donghae dan Kibum.

"Aku samakan saja denganmu, Hae."

Dan tepat setelah pelayan yang dipanggil Donghae meninggalkan meja kami, aku langsung membuka pembicaraan.

"Jadi apa yang ingin kau bicarakan, Hae?"

"Ck, kau buru-buru sekali, ya?" aku tidak menjawab dan lebih memilih memainkan HP ku di bawah meja. Bukan karena ada sesuatu yang menarik. Tapi untuk menghindar dari pemandangan di hadapanku.

"Hei! Kalau sedang bicara lihat lawan bicaramu!" Aku memutar bola mataku dan merutuki Donghae yang membuat aku mendongakkan kepalaku dan harus menatap cengiran menyebalkan dari Donghae.

"Aku sudah melihatmu jadi ada apa?!"

Saat itu Donghae meraih tangan Kibum dan dirinya lalu menunjukannya ke arah-ku.

"Kami sudah bertunangan dan bulan depan kami akan menikah." Dan tepat saat itu, aku harus mengeluarkan banyak pengendalian diriku agar tidak menunjukan betapa terlukannya aku dan sedikit pengendalian diri lagi untuk melempar senyum ke arah Donghae dan Kibum –yang kini melempar tatapan menyesal ke arahku-.

"Selamat! Jadi, kalian akan menikah saat aku belum memiliki kekasih, eoh? Sungguh setia kawan." Di saat seperti ini berakting mengucapkan kalimat sarkartis lebih mudah, dan lebih natural, sungguh.

Aku melihat Donghae meringis mendengar ucapanku, walaupun hal itu sama sekali tidak mengurangi kadar kebahagian yang dimiliki Donghae saat ini. Dan aku mengatakan pada diriku sendiri untuk tenang dan ikut menampilkan ekspresi bahagia untuk kebahagian Donghae.

"Kau sih, terlalu cuek! Makannya kalau cari pasangan jangan terlalu pilih-pilih." Aku menatap nanar pada ponsel-ku, andai saja aku belum jatuh cinta kepada siapa pun, mungkin mencari kekasih akan lebih mudah, andai saja.

"Ya sudah, maaf saja ya karena sudah jadi orang yang tidak laku. Dan maaf lagi, Aku harus pergi sekarang." Aku sudah tidak percaya pada pengendalian diriku lagi, dan kehilangan pengendalian diri di saat seperti ini di hadapan Donghae, bukanlah ide yang bagus.

"Ck, kau tidak asik! Ya sudah sana pergi."

Untuk terakhir kalinya aku memaksakan sebuah senyuman terima kasih untuk Donghae dan melempar senyuman pada Kibum dengan maksud untuk memberi tahu bahwa aku baik-baik saja. Walaupun aku tidak yakin apakah senyumku itu berakhir sesuai dengan keinginanku. Yang aku pikirkan saat ini adalah melangkah sejauh mungkin dari café itu.

.

.

.

Aku tidak yakin aku sudah berjalan seberapa jauh, aku hanya berpikir aku harus terus berjalan sampai akhirnya aku merasa kakiku tidak bisa digerakan lagi dan berakhir dengan aku yang berpegangan pada pohon terdekat di pinggir jalan.

Aku sudah pasrah untuk menangis di tengah jalan saat itu juga sampai ada sebuah mobil yang berhenti di sampingku dan saat jendela mobil itu diturunkan dan menunjukan siapa pengendaranya, aku langsung memasuki mobil itu tanpa dipersilahkan. Lagi pula aku tahu mereka memang sengaja berhenti untuk menyuruhku memasuki mobil mereka.

Dan tanpa aku sadari air mata sudah berjatuhan dari pelupuk mataku.

.

.

.

.

.

"Jadi, apa yang terjadi hyung?" Aku terdiam berpikir, apakah aku harus menceritakan semuanya pada Ryeowookie?

Ya, setelah aku pergi dari tempat aku bertemu Donghae dan Kibum. Aku bertemu Ryeowook yang sedang pergi bersama namjachingu-nya, Yesung. Dan berakhir aku yang berada di apartementku berdua bersama Ryeowook dengan Yesung yang baru saja pergi setelah diusir oleh Ryeowook, mungkin karena dia tahu jika Yesung tetap di sini, aku tidak akan membuka mulutku.

"Apakah ini tentang Donghae dan Kibum lagi? Ceritakanlah padaku, hyung!" Semudah itukah penyebab kesedihanku ditebak? Tentu saja mudah, karena selama ini semua yang terjadi dalam diriku selalu berhubungan dengannya,

"Mereka akan menikah, satu bulan lagi." Sudah tidak ada air mata, aku sudah cukup lelah menangis. Aku bisa melihat Ryeowook tersentak kaget mendengar ucapanku.

"Lupakanlah dia, hyung. Carilah kebahagiaanmu sendiri Hyukkie hyung."

Aku terdiam mendengar ucapan Ryeowook. Jujur aku juga ingin bahagia, aku sudah cukup lelah menahan sedih dan sakit selama ini. Aku bukan dewa atau malaikat atau makhluk suci sejenisnya yang bisa bertahan hidup dengan kesedihan.

"Aku menginginkannya Wookie, aku ingin bahagia. Tapi aku tidak bisa melupakan Donghae begitu saja. Aku ingin bahagia, tapi aku tidak tahu bagaimana caranya."

Aku melihat Ryeowook terdiam mendengar ucapanku, aku tahu saat ini dia sedang memikirkan ucapanku dan berusaha mencari jalan keluarnya. Aku harap dia bisa memberikan saran yang bagus untukku.

"Ah! Kau ingat tawaran beasiswa kuliahmu?" Aku mengernyit bingung mendengar ucapan Ryeowook. Aku tidak mengerti kenapa dia membawa topik ini secara tiba-tiba.

"Maksudmu tawaran beasiswa ke Kanada untuk melanjutkan kuliahku?" Ryeowook mengangguk semangat, aku masih mengernyit bingung melihat tatapan berbinar Ryeowook.

Ah!

"Kau ingin aku menerima tawaran aku dan melanjutkan kuliahku?" Ryeowook kembali mengangguk semangat untuk membenarkan ucapan-ku.

Dia benar, kalau aku pergi ke luar negeri aku tidak perlu banyak melihat kemesraan Donghae dan Kibum, belum lagi aku di sana untuk kuliah sehingga aku pasti akan sibuk dan memperbesar kesempatan bagiku untuk melupakan perasaanku pada Donghae. Dan ini juga aka jadi alasan yag sempurna untuk menghindar tanpa khawatir Donghae tahu maksud asli-ku.

"Kau punya ide bagus. Tapi, apa tawaran dari Cho grup itu masih berlaku sampai sekarang? Sudah hampir setengah tahun aku mengabaikan mereka."

"Ayo kita cari tahu."

Aku hanya diam dan menurut saja saat kini Ryeowook sudah menelphone Yesung untuk menjemputnya. Beasiswa ini aku dapatkan dari salah satu perusahaan saat aku menyelesaikan kuliahku sebelumnya. Mereka menawarkan padaku untuk melanjutkan kuliah di luar negeri dengan syarat aku akan berkerja di tempat mereka setelahnya.

Terlihat mengesankan dan menggiurkan, memang. Tapi saat itu aku menolaknya karena tidak ingin kuliah di luar negeri dan berpisah dari Donghae. Tapi saat ini situasiku berbeda, walaupun aku tidak yakin tawaran itu masih berlaku.

.

.

.

.

.

Setelah sebelumnya menelphone tuan Cho dengan mengandalkan kartu nama yang diberikan oleh beliau saat kami bertemu dulu, hari itu juga kami bisa bertemu dengan beliau. Bukan karena aku tidak bisa menunggu, tapi kebetulan tuan Cho hanya memiliki waktu saat ini sedangkan untuk tiga hari ke depan dia akan sangat sibuk. Kebetulan sekali bukan?

Saat ini aku dan Ryeowook baru saja datang di café tempat kami berjanji untuk bertemu. Tidak sampai lima menit setelah kedatangan kami, aku bisa melihat tuan Cho datang memasuki café. Terkesan tidak formal memang, tapi tuan Cho sendiri yang memintanya, dia berkata agar lebih nyaman.

"Selamat siang, Lee Hyukjae-sshi."

Aku dan Ryeowook langsung berdiri dan membungkuk pada beliau saat itu juga. "Selamat siang, tuan Cho." Aku bisa melihat dia mengernyit tidak suka. Apakah kami melakukan kesalahan?

"Hm, jangan terlalu kaku dan formal seperti itu. Kalian bisa memanggilku Seunghyun Ahjusshi saat seperti ini. Duduklah." aku tersenyum, dia orang yang sangat ramah dan baik. Padahal dia adalah pemilik dari Cho Grup yang sudah mendunia dan menguasai beberapa sektor industri.

"Terima kasih, Ahjusshi." Aku melihat dia tersenyum senang. Bukan maksudku tidak sopan, tapi hanya dari sikap dan ucapannya aku rasa dia lebih suka dan menghargai orang yang bisa bersikap santai padanya tapi tetap sopan.

"Jadi, apa benar kau akan menerima tawaranku?" Aku tersenyum.

"Ne, Ahjusshi. Apa tawarannya masih berlaku?"

"Tentu, tapi kau masih ingat syaratnya, kan?" Aku mengangguk dengan yakin.

"Aku ingat Ahjusshi, dan aku sangat menerima syaratnya."

"Hm, itu bagus. Tapi ada satu masalah lagi, aku ingin kau bisa secepatnya kuliah, dan saat ini mereka sudah membuka kesempatan untuk beberapa mahasiswa baru. Jadi aku ingin kau bisa berangkat tiga hari lagi, apa kau tidak keberatan Hyukjae-goon?"

Aku langsung melempar senyum dan pandangan terkejut dengan Ryeowook saat itu juga. Kebetulan yang sangat menguntungkan. Dan tanpa pikir panjang lagi aku langsung menyetujuinya.

Tiga hari lagi, aku akan meninggalkan Korea.

.

Tbc

maaf kalau situasinya terlalu dibuat-buat dan gak realistis, tapi berhubung ini ff dan author belum pro, harap dimaafkan. Dan massalah siapa seme siapa uke, mungkin karena kau terlalu banyak baca ff yang role-nya gantian, aku juga jadi gak bisa mikir condong kemana, entah itu kihae atau haebum atau juga eunhae atau haehyuk, intinya pasangannya begitu aja.

Aku kaget chap 1 dapet reaksi positif, aku pikir gak bakal terlalu menarik. Well, aku tahu kalau ff ini update lama banget, tapi aku sekarang kelas 12, UN, SNMPTN, dan bla bla bla lain meraung minta waktu, selain itu aku sempet kecelakaan dan menginap di rumah sakit 1 bulan aku baru bisa update sekarang. Maaf.

Pokoknya selama apa pun itu prosesnya, semua ff aku pasti bakal aku complete-in #kecuali buat satu ff rate M yang dah bulet gak bakal aku tamat-in#

p.s: TOP, maaf margamu aku ganti Cho…,