.
.
Daisuke, Nee-san!
Disclaimer : Naruto cs punya Masashi Kishimoto.
Story by : Yana Kim
Warning: Chaptered, Abal-abal , AU, OOC, always typo.
.
.
.
Chapter 8
I'm Coming
'Sasuke..' / 'Karin...' Batin kedua orang yang saling bertatapan itu.
Sasuke mencoba menyembunyikan keterkejutannya di balik wajah datarnya. Penampilannya yang sudah berubah menjadi dewasa menambah pesonanya. Ia menatap gadis di depannya itu.
"Kau... Terlambat di saat penting seperti ini?" ucap Sasuke datar.
"Uchiha-sama. Kemarin ia tidak masuk karena sakit. Jadi mung―"
"Aku tidak butuh pembelaanmu, Hyuuga-san." Sasuke memotong ucapan Neji.
Karin hanya dapat menunduk dengan hati yang cukup syok melihat orang yang ditunggunya tiga tahun ini kini ada di depan matanya. Seluruh karyawan yang ada di sana pun terkejut melihat ketegasan direktur baru mereka itu.
"Disiplin adalah hal yang sangat penting dalam dunia kerja. Aku yakin kau tahu itu, Nona."
Fugaku dan Izumo hanya bisa menahan senyum mereka mendengar ucapan Sasuke. Padahal dua hari yang lalu pemuda itu berkata pada ayahnya bahwa ia merindukan gadis itu.
"Summimasen.." ucap Karin, ia masih menundukkan kepalanya.
"Kalian kembalilah bekerja. Dan kau Nona, kutunggu kau di ruanganku."
Para karyawan termasuk Karin pun membubarkan diri setelah sekali lagi membungkukkan badan mereka. Fugaku membisikkan sesuatu pada Sasuke.
"Kau terlalu kejam padanya. Kami pergi sekarang."
"Hn."
Fugaku dan Izumo pun pergi dari tempat itu. Mereka akan berangkat ke Konoha saat itu juga. Sasuke pun kini telah berada di ruangan yang sebelumnya merupakan ruangan ayahnya tersebut. Ia tak bisa menahan senyumnya setelah melihat Karin tadi. Gadis itu bertambah cantik dan mempesona dengan rambut merah panjangnya dan tanpa kacamata. Ia kembali menyembunyikan senyumannya mendengar suara ketukan pintu.
Tok tok tok.
"Masuk."
Terlihat Karin memasuki ruangan. Kemeja ungu muda dan rok span hitam di atas lutut yang pas melekat di tubuhnya membuat Sasuke jatuh cinta untuk yang kedua kalinya pada gadis itu. Karin pun demikian, Fisik Sasuke cukup banyak berubah. Wajahnya yang semakin matang dan tubuh tegapnya cukup membuat Karin memerah. Sasuke sudah menjadi pria dewasa sekarang. Dan sikap dingin pemuda itu bertambah semenjak kembali dari luar negeri. Tapi tunggu dulu, bukannya seharusnya Sasuke kembali setahun lagi?
Dan lagi sikap pemuda itu. Dia dengan dinginnya menegur Karin karena terlambat tadi. Membuat Karin sedikit kesal pada pemuda di depannya itu. Padahal ia sudah susah payah menahan rasa pusing dikepalanya untuk datang kekantor hari ini.
Gadis itu berdiri di depan meja sang Presdir. Sasuke menatapnya datar. Cukup lama mereka saling bertatapan dengan kerinduan yang tersirat di mata mereka. Tak tahan dengan tatapan Sasuke, Karin menundukkan kepalanya.
"Kau tahukan apa kesalahanmu?" Tanya Sasuke.
"Saya tahu. Maafkan saya, Uchiha-sama." Jawab Karin. Ia mulai kembali merasakan pusing di kepalanya.
Sasuke mengangkat sudut bibirnya kemudian berdiri dari kursi kebesarannya dan berjalan mengitari meja menuju gadis yang menunduk itu.
Greep.
Karin terkejut saat Sasuke memeluknya erat.
"Aku merindukanmu, Karin."
Air mata pun turun dari kedua permata ruby gadis itu.
"Sa-sasuke.. A-aku.. Ak-"
BRUUK.
Sasuke terkejut merasakan Karin yang merosot jatuh di pelukannya.
'Karin pingsan?'
Ia panik bukan main. Segera ia menahan tubuh Karin dan menggendongnya menuju sofa yang ada di ruangan itu. Kemudian berjalan cepat menuju mejanya, mengambil telepon dan menghubungi sekertarisnya yang berada di luar ruangan.
"JUGO! Panggil dokter sekarang juga. Karin pingsan di ruanganku. CEPAT!"
Sasuke menutup telepon dan langsung menghampiri Karin yang terbaring.
"Kau kenapa, Karin?" bisik pemuda itu.
Tak lama kemudian, seorang dokter wanita datang diikuti oleh Jugo dan Hyuuga Neji. Tampak sekali kekhawatiran di wajah pemuda Hyuuga itu. Sang dokter memeriksa keadaan Karin menggunakan stetoskop dan tensimeter.
Setelah selesai, dokter muda itu menghela nafasnya lega.
"Apa yang terjadi?" / "Bagaimana keadaannya?"
Dua pertanyaan terlontar bersamaan dari dua orang pria yang ada di ruangan itu. Sasuke memandang tak suka pada pria bermata perak di sampingnya.
"Dia tidak apa-apa. Hanya tekanan darahnya turun sehingga ia menjadi lemas dan pusing bila lama berdiri. Mungkin pasien malas makan atau sedang diet," terang sang dokter.
"Dia memang sedang sakit, dokter. Kemarin dia tidak masuk kerja karena sakit. Seharusnya aku menjenguknya dan memastikan kalau dia sudah makan ataupun meminum obat." Neji memberikan penjelasan.
Sasuke makin memandang tak suka pada pria itu.
"Benarkah? Anda kekasihnya? Saya harap Anda lebih memperhatikan kesehatannya."
'Hei..Dokter bodoh. Kekasihnya itu aku. Bukan pria sialan itu' Inner Sasuke menggeram. Ia bersumpah akan menyuruh Karin menjaga jarak dari pria itu.
"Hai'." sahut Neji kalem.
"Bila dia sadar, segera berikan makanan. Ini resep obat dan vitamin yang harus dikonsumsi. Saya permisi." Dokter cantik itu memberikan secarik kertas. Baru saja Neji ingin menerimanya, Sasuke langsung mengambil kertas itu dari tangan sang dokter.
"Terimakasih, dokter. Jugo, kau antar dokter ke depan." Titah Sasuke.
"Hai', Sasuke-sama."
"Hyuuga-san. Bukankah kau harus bekerja sekarang?"
"Ta-tapi. Uchiha-sama. Karin..."
"Hn?" Sasuke menatap tajam sang pemuda Hyuuga.
"Hai'."
:
:
:
Karin mengerjapkan matanya. Kepalanya masih agak pusing. Ia bangkit dan mendudukan dirinya di sofa. Ia tengah menerka-nerka apa yang teradi padanya.
'Ah, Sasuke.' Batinnya. Ia kemudian mengarahkan pandangannya ke arah meja sang Presdir.
Ia melihat Sasuke sedang terlihat memeriksa file-file yang ada di hadapannya.
"Kau sudah sadar?" Sasuke mendatangi Karin dan duduk di sampingnya. Ia menempelkan kedua tangannya ke pipi gadis itu. Membuat Karin memerah malu.
"Kuantar kau pulang."
Sasuke membantu Karin berdiri dan berjalan keluar ruangannya.
"Jugo, suruh seseorang menyiapkan mobil dan ambil tas Karin di ruangannya. Kutunggu di lobi." Perintah Sasuke kepada sekertarisnya itu.
"Hai'."
Sasuke memegang pundak Karin sambil berjalan menuju lobi. Setiap karyawan yang melihatnya menjerit iri melihat Karin, atasan mereka dipapah oleh Presdir baru yang mereka puja. Karin bukan main malunya. Wajahnya sudah memerah sepenuhnya. Gadis itu baru sadar, tangan Sasuke sudah jauh lebih kekar dari yang dulu.
Sesampainya di depan pintu utama, mobil Sasuke sudah siap di luar. Setelah memastikan Karin memakai seat belt, mereka pun melaju meninggalkan Uchiha Resort.
"Sasuke?"
"Hn?"
"Ba-bagaimana bisa... Ma-maksudku, bukannya seharusnya kau pulang setahun lagi?" Tanya Karin terbata. Ia sangat gugup berada di samping Sasuke yang sudah menjadi pria tulen sekarang.
"Kau tidak suka aku pulang?" Tanya Sasuke balik.
"Bu-bukan begitu. Maksudku—"
"Sudahlah. Kau istirahat saja." Potong Sasuke.
"Ehm... Memangnya kau tahu sekarang aku tinggal dimana?" Tanya Karin.
"Makanya cepat beri tahu," ucap pria itu dingin membuat Karin mengerucutkan bibirnya. Ia pun memberitahukan alamatnya kepada Sasuke.
Sekitar dua puluh menit, mereka pun sampai di depan sebuah gedung apartemen yang cukup megah. Sasuke melihat gadis yang tertidur di sebelahnya. Ia tersenyum, betapa ia sangat merindukan gadis ini.
"Hei. Bangunlah..."
"Ngg.. Sudah sampai?"
"Hn."
Sasuke keluar dari mobil dan membukakan pintu untuk Karin. Setelah memberikan kunci pada petugas parkir apartemen, ia memapah gadis itu sambil membawa tas putih milik Karin dan sebuah kantongan plastik.
"Lantai berapa?" Tanya Sasuke.
"Sepuluh."
"Nomor?"
"107."
"Hn."
Sesampainya di depan kamar apartemen Karin.
"Password-nya?"
"I-itu..."
"Hn?" Sasuke mengernyit heran.
"Ehm.. Pa-password-nya..."
"Kau tidak ingin aku tahu password apartemenmu?" Tanya Sasuke .
"Bu-bukan begitu." Entah mengapa gadis itu gugup hanya untuk sekedar memberitahukan kode akses ke apartemennya.
"Lalu?"
"Ehm... Du..."
"Cepat katakan!" suara Sasuke meninggi membuat Karin terkejut.
"Dua puluh tiga juli. Password-nya 2307."
Jawaban Karin membuat Sasuke tersenyum.
'Jadi password-nya tanggal ulang tahunku?' batin Sasuke senang.
Sasuke mengetikkan password yang baru didengarnya itu. Mereka pun memasuki apartemen gadis berambut merah tersebut.
"Dimana kamarmu?"
"Di sana."
Sasuke membawa Karin ke kamar gadis itu dan membaringkannya di tempat tidur. Lalu meletakkan tas serta kantongan plastik tadi ke meja samping tempat tidur.
"Istirahatlah. Aku akan memasak sesuatu."
"Ehmm."
Sasuke meninggalkan Karin dan menuju dapur. Ia membuka jasnya dan menggulung lengan kemejanya sampai ke siku. Pria Uchiha itu mulai berkutat dengan bahan-bahan dapur yang ada.
Ternyata si bungsu Uchiha ini memang sudah dewasa dan mandiri, eh?
:
:
:
Setengah jam berlalu, Sasuke kembali ke kamar kekasihnnya dengan membawa semangkuk bubur yang dicampur dengan sayur-sayuran.
"Karin... Bagunlah. Kau harus makan dan minum obat."
Bergumam sebentar, Karin membuka matanya.
"Kau memasak?" Tanya gadis itu.
"Hn. Makanlah." Sasuke menyuapi Karin.
"Aku bisa makan sendiri, Sasuke."
"Hn. Sudahlah. Makan saja." Sasuke tetap bersikeras menyuapi kekasihnya itu. Karin mau tidak mau mematuhi perintah pria di depannya.
Setelah habis, Sasuke menyuruh Karin meminum obat. Karin tersenyum.
"Sasuke.. Kau ingat, dulu kau yang sakit, aku datang kerumahmu, aku yang menyuapimu dan menyuruhmu meminum obat. Sekarang malah kebalikannya."
Sasuke hanya tersenyum tipis.
"Kau benar. Tapi ada yang kurang." Ucap pemuda itu.
"Apa?" Tanya Karin.
"Anak baik." Ucap Sasuke sambil mengacak rambut merah Karin.
Karin memeluk Sasuke dengan erat.
"Aku merindukanmu, Sasuke. Sangat merindukanmu."
"Aku juga sangat merindukanmu, Karin." Sasuke balas memeluk erat Karin.
Tiba-tiba Karin melepaskan pelukannya secara tiba-tiba.
"Merindukanku tapi tadi kau malah mempermalukanku di depan seluruh karyawan, bahkan para bawahanku juga ada di sana!" cerocos Karin.
"Hei.."
"Seharusnya sebagai Presdir baru, kau memberikan kompensasi kepada karyawan yang terlambat. Ini kan hari pertamamu bekerja!" Karin melipat tangannya dan membuang mukanya, tidak ingin melihat Sasuke.
"Hei, dengarkan aku."
"Tidak mau." Ketus Karin.
Sasuke yang mulai kesal, memegang erat bahu Karin agar gadis itu menatapnya.
"Karin, dengarkan aku. Tadinya aku tidak berniat untuk memarahimu. Aku tahu kau hanya terlambat lima menit. Tapi setelah melihatmu dengan baju ketat dan rok yang hanya setengah paha, aku jadi emosi. Seluruh karyawan lelaki yang ada melihat ke arah tubuhmu."
"Kau marah hanya gara-gara itu? Sasuke, kau masih kekanakan."
"Aku tidak suka mereka melihat milikku dengan pandangan seperti tadi! Apa kau tidak tahu kalau kau semakin cantik sekarang?!" suara Sasuke meninggi.
"Eh?"
"Aku bahkan membenci fakta bahwa sampai sekarang mereka masih memikirkanmu."
Sekarang ganti Sasuke yang membuang muka seolah tidak ingin melihat Karin. Karin tersenyum. Sepertinya ia senang melihat Sasuke yang sedang cemburu.
"Benarkah? Padahal aku selalu bepenampilan seperti itu setiap hari loh."
"Apa? Jadi kau selalu memakai pakaian seperti tadi? Setiap hari?!" Sasuke mulai emosi. Ia menatap Karin dengan tatapan tajam andalannya.
"Umm." Karin dengan santainya menganggukkan kepalanya.
"Karin, kau benar-ben—"
CUUP.
Sasuke tertegun. Karin mencium bibirnya. Hanya sekilas, kemudian Karin melepaskannya.
"Aku senang kau cemburu, Sasuke."
"Apa? Jadi kau mempermainkanku?"
"Umm. Dan kau ternyata masih payah. Percuma sudah di luar negeri selama tiga tahun."
Payah?
Sasuke merasa déjà vu. Kemudian ia menyeringai.
CUUP.
Ia memegang tengkuk Karin dan mencium bibirnya. Tidak terima dibilang payah, Sasuke melumat bibir merah gadis itu. Karin terkejut, tapi sedetik kemudian ia tersenyum dan membalas ciuman Sasuke. Lama mereka saling melepas rindu sampai tidak sadar bahwa kini Sasuke telah menindih Karin di tempat tidur. Sadar akan posisi mereka, Sasuke melepas ciumannya. Ia masih menindih Karin.
"Kau ternyata sudah dewasa, Sasuke." ucap Karin.
"Hn. Dan aku tidak payah." Sasuke mengecup kening gadis itu kemudian kembali pada posisinya semula, duduk di pinggir ranjang.
"Tidurlah. Aku akan menemanimu."
"Kau tidak kembali ke kantor? Ini hari pertamamu bekerja, tapi kau malah bolos. Kembalilah. Aku tidak apa-apa."
"Aku akan tetap di sini. Kau lupa posisiku? Aku presdirnya. Ingat itu."
"Huh. Masih narsis seperti dulu." Ejek Karin.
"Dan kau masih cerewet seperti dulu. Tidurlah."
Sasuke ikut membaringkan dirinya di samping Karin. Gadis itu terkejut.
"Apa yang kau lakukan?!"
"Menemanimu, tentu saja." Jawab pria itu enteng.
"Tapi―"
"Bukannya dulu saat aku sakit, kau juga menemaniku seperti ini?"
"Saat itu kau memaksaku, bodoh."
"Saat ini aku juga memaksamu, Nona." Sasuke dengan santainya memeluk gadis di sampingnya.
"Dasar pemaksa."
"Hn. Terimakasih atas pujiannya."
:
:
:
"APA? Presdir baru itu mengantar Karin pulang?!" Seorang pria bermata perak menatap horror pria di depannya.
"Benar Hyuuga-san. Semua karyawan yang ada di lobi melihatnya."
"Baiklah. Kau boleh pergi, Kotetsu."
"Hai'."
Hyuuga Neji terkejut mengetahui bahwa Presdir baru mereka mengantarkan Karin pulang. Ia baru saja ingin melihat Karin di ruangannya. Tapi salah seorang bawahannya mengatakan hal yang cukup mengejutkan untuk pria Hyuuga itu.
"Ada hubungan apa mereka sebenarnya?" gumam pria itu.
Tok tok tok.
"Masuk."
"Ehm… Hyuuga-san. Anda sudah makan siang?"
"Tenten? Belum. Masih ada beberapa laporan yang harus kuselesaikan. Mungkin aku akan melewatkan waktu makan siang. Ada apa?"
"Aku hanya ingin mengantarkan ini." Gadis berambut coklat itu meletakkan sebuah paper bag bertuliskan Sun CoffeShop.
"Anda tidak boleh melewatkan makan siang, Hyuuga-san. Saya permisi."
"Hn. Terimakasih, Tenten."
Neji membuka paper bag yang diberikan Tenten. Ia melihat secangkir kopi dan roti.
:
:
:
Konoha University.
"Wah... Itu Kakashi-sensei."
"Dia sudah datang. Ayo kita datangi."
"Hatake-sensei!"
Segerombolan mahasiswi telihat mendatangi salah satu dosen mereka yang sedang berjalan dengan menenteng sebuah buku tebal. Dosen tersebut tidak terkejut lagi. Ini sudah biasa untuknya.
"Sensei! Bisa kau jelaskan tentang ini? Aku cukup bingung dengan mata kuliah Statistik ini." Tanya atau lebih tepatnya rayu seorang mahasiswi cantik.
"Benar, sensei. Aku juga kurang mengerti. Kenapa sensei tidak mengajar semester lima? Dosen kami sekarang sama sekali tidak bisa mengajar. Ajari kami ya sensei...?" Seorang mahasisiwi merayu Kakashi lagi.
Kakashi hanya tersenyum terpaksa. "Bagaimana kalau besok saja. Aku harus cepat pulang hari ini."
"Yaaaah..." Sorakan kecewa terlontar dari para mahasiswi itu.
"Kalau begitu, terimalah ini, sensei." Seorang mahasiswi berambut hitam memberikan sebuah bungkusan kado.
"Aku juga. Terimalah ini, sensei."
"Aku juga."
"Aku juga, sensei."
Akhirnya semua mahasiswi itu memberikan kepada Kakashi masing-maing sebuah kado. Kakashi yang merasa tidak enak akhirnya menerimanya.
Kakashi menatap sekantong plastik besar kado dari mahasiswinya yang kini ada di mobilnya. Saat ini ia telah berada di depan rumahnya yang cukup megah.
Dengan menghela nafas, ia membawa kado-kado itu.
"Tadaima.."
"Okaerinasai..."
Seorang wanita bersurai pirang menyambut kedatangan Kakashi. Senyumnya langsung hilang melihat apa yang dibawa oleh Kakashi.
"Sudah kubilang jangan terlalu sering mengumbar senyum di kampus! Para mahasiswi bodoh itu bisa salah paham."
"Aku tidak mengumbar senyum, Ino. Mereka sendiri yang datang dan memberikan ini semua. Jangan cemburu begitu."
"Aku hanya tidak suka bila suamiku digoda oleh mahasiswi genit itu." Ino mengerucutkan bibirnya dan berbalik ingin meninggakan Kakashi.
"Tapi aku suka bila melihat istriku cemberut karena cemburu seperti ini." Ucap Kakashi sambil memeluk Ino dari belakang.
"Lepaskan aku."
"Tidak mau. Sebelum kau berhenti marah padaku."
"Aku tidak marah padamu. Aku hanya kesal melihat mahasiswi yang suka menggodamu."
"Jadi kau tidak marah padaku?"
"Tidak."
"Kalau begitu, cium aku."
"Kakashi-kun!"
"Aku bercanda. Ayo. Aku mau mandi dulu lalu kita makan malam." Kakashi memeluk pinggang Ino sambil berjalan menuju kamar. Namun sedetik kemudian, ia berhenti dan berlutut menghadap perut Ino.
"Bagaimana keadaannya, Ino-chan?"
"Dia baik dan sehat, Kakashi-kun."
"Hai, jagoan. Kau baik-baik saja 'kan di perut ibu?"
Ino tersenyum melihat suaminya itu.
TBC
Udah chapter delapan ternyata... Duh. Si hantu koq sering muncul yah akhir-akhir ini...
Kaka-Ino nikah? Haha… Saya ga tahu. Si hantu ya nulisnya gitu.
Feedback please…
Yana Kim
