Disclaimer: milik diri mereka sendiri, kecuali kisahnya, aku yakin kisah ini cuma hayalan gak jelas punya author.

Genre: romance, drama

main chara: Eunhyuk, Donghae, Kibum, Ryeowook. Kyuhyun(still letter)

Rated: T

WARNINGS: yaoi/slash, typo(s), dan ini cerita lama yang mau aku buat tamat, jadi siapa pun itu, author sarankan baca lagi dari awal, aku aja lupa ceritanya apa lagi kalian, T.T


Eunhyuk hanya bisa menatap kosong kamar apartementnya yang sekarang sudah dipenuhi dengan tumpukan kardus. Sebagian kardus sudah terisi penuh dengan barang-barangnya seperti buku-buku dan sudah terutup rapat, sebagian laginya masih terbuka dan hanya terisi penuh. Eunhyuk mengerutkan dahinya dalam, mempertimbangkan apa lagi yang akan dia kemas dan barang apa saja yang sebaiknya dia tinggal di Korea. Dia sedang mempertimbangkan apakah dia harus membawa lebih banyak jaket atau celana jeans saat bel apartemennya berbunyi, mengalihkan perhatiannya.

"Tunggu sebentar." memutuskan bahwa lebih baik menerima tamu, Eunhyuk meninggalkan kamarnya dan berjalan menuju pintu depan.

Mengatakan jika Eunhyuk sama sekali tidak terkejut saat melihat kibum di depan pintu apartementnya adalah suatu kebohongan besar. Eunhyuk terkejut, tapi itu hanya bertahan sebentar sebelum dia melempar senyum tipis pada Kibum.

"Hay, Kibum-ah, ayo masuk." Ucapnya sambil memberikan jalan untuk Kibum agar bisa memasuki apartementnya. Dia mengikuti Kibum setelah menutup kembali pintu apartementnya.

Begitu sampai di ruang tamu dengan Kibum yang duduk di sofa, Kibum terlihat sangat tertarik dengan ukiran meja di hadapannya yang jujur saja, menurut Eunhyuk sama sekali tidak menarik, namun untuk beberapa saat, diantara mereka tidak ada yang mencoba untuk memecahkan kesunyian di dalam ruangan itu. Setelah beberapa menit, dan Kibum masih belum terlihat akan mengatakan sesuatu, akhirnya Eunhyuk memutuskan untuk memecahkannya.

"Apa kau ingin teh atau kopi, Kibum-ah?" Eunhyuk bertanya santai sambil berdiri dari duduknya.

"Terserah kau saja, Hyukie." Ucap Kibum tanpa mengalihkan pandangannya dari ukiran meja di hadapannya.

Setelah beberapa menit, Eunhyuk kembali dengan membawa 2 gelas kopi di tangannya.

"Kopi, tanpa cream dengan dua sendok gula." Ucap Eunhyuk sembari meletakkan salah satu gelas teh ditangannya di hadapan Kibum.

"Terima kasih." Ucap Kibum sambil tersenyum, terhibur dengan sikap Eunhyuk yang selalu mengingat kebiasaan sederhana setiap teman-temannya, seperti bagaimana teh atau kopi kesukaan teman-temannya.

"Jadi, aku tahu kau akan membicarakan tentang Donghae, tapi aku tidak tahu apa tepatnya yang ingin kau bicarakan, Kibum-ah?" ucap Eunhyuk ringan, atau setidaknya dia beruasaha mengatakannya seringan mungkin, mengabaikan perasaan perih yang dia rasakan di dalam dirinya. Melihat reaksi Kibum, dan wajah terkejutnya, eunhyuk tahu kalau dia melakukannya dengan baik, atau sebaik mungkin yang bisa diharapkan darinya.

"Aku...,'

Eunhyuk hanya tersenyum, sabar menunggu kelanjutan apa yang ingin Kibum katakan.

"Maafkan aku, Hyukkie..." pandangan mata Kibum sepenuhnya terpusat pada wajah Eunhyuk, terdapat sorot ketakutan dan khawatir di matanya, seakan dia takut jika Eunhyuk akan menolak permintaan maafnya, takut Eunhyuk akan membencinya, dan Kibum tidak akan bisa berbuat apa-apa, karena Kibum tidak bisa melepaskan Donghae begitu saja. Dia menyayangi Eunhyuk, tapi dia mencintai Donghae.

Untuk sesaat, senyum di wajah Eunhyuk menghilang, namun hanya untuk sesaat sebelum akhirnya senyum itu kembali lagi menghiasi wajahnya. Eunhyuk mengerti apa yang dimaksudkan oleh Kibum, dia memintta maaf karena masalah kemarin, saat Eunhyuk akhirnya mengetahui rencana pernikahan Kibum dengan donghae. Tetap dengan senyum di wajahnya, Eunhyuk menatap langit-langit apartementnya.

"Untuk apa, Bummie? Untuk apa kau terus menerus meminta maaf padaku? Kau tak melakukan kesalahan apa pun, jika ada yang harus memohon maaf, dia adalah aku. Tapi, walaupun begitu aku tidak ingin melakukannya, apa yang aku rasakan saat ini adalah sesuatu yang berharga, aku tidak ingin menyesalinya." Melepaskan pandangannya dari langit-langit, Eunhyuk kembali menatap Kibum.

"Kau terlalu baik, Hyukkie. Apa kau yakin kau tidak akan measa tersakiti."

"Suatu kebohongan besar jika aku mengatakan aku tidak akan merasa tersakiti. Aku akan sedih, aku akan sangat sedih. Tapi kau tidak perlu khawatir, Bummie, aku sudah merencanakan sesuatu."

Kibum, yang semula terlihat tegang dan tidak tenang saat awal Eunhyuk berbicara, sama sekali tidak berusaha menyembunyikan keterkejutan dan kepanikannya saat dia mendengar kalimat terakhir yang diucapakn eunhyuk.

"Apa maksudmu? Apa yang kau rencanakan, Hyukkie?"

Eunhyuk menutup matanya, menyerah, seakan dia mencoba untuk kabur dari siuasi yang tidak memiliki jalan keluar.

"Aku akan pergi, Bummie. Aku tidak yakin aku bisa tetap di korea, melihat kebahagiaan kalian dengan mataku sendiri. Jangan salah paham, aku bahagia kalian bahagia, aku berharap aku bisa melihat kebahagiaan kalian dengan hati yang damai. Tapi sekarang aku tidak bisa Bummie, aku..., aku harus pergi, maafkan aku."

"Hyuk,"

Mengangkat kepalanya ssetinggi mungkin, Eunhyuk berusaha menahan agar air mata yang menumpuk di pelupuk matanya tidak menetes dan membasahi pipinya. Ini bukan waktu yang tepat untuk menangisi nasibnya.

"Maafkan aku, Bummie"

"Apa pun yang aku katakan tidak akan mengubah pikiranmu kan?"

Eunhyuk mengerti, Kibum merasa bersalah, dan kepergiannya sama sekali tidak membantu. Eunhyuk mengerti kepergian dia akan membuat Kibum sedih, Eunhyuk mengerti kepergian dia akan membuat Donghae shock, Eunhyuk mengerti, kepergian dia, kepergian seorang sahabat baik secara tiba-tiba akan membuat Donghae sedih. Tapi, untuk kali ini, Eunhyuk ingin egois, dia ingin pergi, dan dia akan pergi, walaupun itu akan menyakiti Kibum dan Donghae, karena Eunhyuk sudah lelah.

"..."

"Kapan?"

"2 hari lagi, jam 10 pagi."

"Apa kau begitu membenciku, Hyukkie?"

"Aku tidak membencimu, sama sekali tidak. Aku menyayangimu, tapi aku harus pergi. Mengertilah." Eunhyuk memelas, dia mungkin ingin pergi, dia mungkin ingin menghindar. Tapi, dia tidak ingin Kibum merasa jika dia membencinya, karena kenyataanya tidak. Eunhyuk menyayangi Kibum, sangat menyayanginya.

"Apa alasan kepergianmu?" Eunhyuk tahu, yang dimaksud Kibum bukanlah alasan Eunhyuk yang sebenarnya, tapi cerita apa yang akan dia berikan pada semua orang mengenai keputusannya untuk pergi.

"Bukan alasan seprti itu, Bummie, aku tentu akan mengatakan yang sebenarnya. Aku mendapat beasiswa melanjutkan kuliah ke luar negeri, yaitu ke kanada dengan syarat aku akan terus mendapatkan prestasi yang memuaskan dan setelah selesai kuliah aku akan berkerja untuk mereka, dan aku pikir ini adalah kesempatan emas, aku tidak bisa menyia-nyiakan beasiswa begitu saja, kan?"

"Sangat masuk akal." Eunhyuk tersenyum, Kibum mungkin tidak mengatakannya, tapi Eunhyuk tahu kalau Kibum sudah memaafkan kepergian Eunhyuk. Atau setidaknya dia sudah menerima kepergian Eunhyuk.

"karena itu kenyatannya, Kibum-ah. bukan karenamu atau karena siapapun, tapi karena ini adalah kesempatan emas." Eunhyuk mengatakannya bukan hanya untuk meyakinkan Kibum. Tapi Eunhyuk juga mengatakannya pada dirinya sendiri, dia harus mempercayai hal itu, dia harus membuat dirinya sendiri percaya jika alasan dia pergi adalah karena dia tidak bisa melepaskan kesempatan emas.

Kibum sudah kembali ke apartemennya, dia tetap duduk dan tetap terlihat sangat tertarik dengan sepatunya. Di hadapannya ada satu gelas kopi yang terihat seperti belum diminum sama sekali walaupun asap sudah tidak mengepul lagi dari kopi tersebut. Tapi, kali ini dia berada di apartemennya sendiri, dan bukan Eunhyuk yang sedang menemaninya, tapi Donghae. Donghae yang sedang menatap khawatir ke arahnya. Donghae yang terlihat ingin bertanya tapi di saat yang sama terlihat tidak yakin. Donghae yang tidak mengetahui jika dalam dua hari lagi dia akan berpisah dengan sahabatnya.

"Aku baru saja dari apartement Eunhyuk." Kibum memejamkan matanya. Dia tahu dia harus mengatakannya, dan dia tahu dia akan mengatakannya. Tapi itu tidak berarti jika keputusan ini adalah keputusan yang mudah.

"Hm?" Donghae bingung dengan topik random yang dibawa Kibum. Donghae tahu Kibum baru saja dari apartement Eynhyuk, Kibum sudah mengatakannya kemarin, dia akan ke apartement Eunhyuk, dan lagi, bukan suatu hal yang aneh jika Kibum ke apartement Eunhyuk.

"Hae," Donghae tidak membalas panggilan Kibum dia hanya menatap Kibum, menunggu kelanjutan ucapan Kibum. Donhae terkejut saat melihat mata Kibum yang akhirnya menatapnya, tidak lagi menatap sepatunya. Entah kenapa Donghae tiba-tiba merasa dia tidak ingin mendengar apa yang ingin dikatakan Kibum, apapun itu.

"Eunhyukkie akan pergi ke luar negeri, 2 hari lagi."

.

.

*end of the chapter 3*

a/n: Nah, sebenernya ff ini udah aku buat beberapa chapter, tapi gak pernah aku upload, kenapa? Karena chapternya hilang bersama plotnya saat laptop aku rusak T.T T.T T.T aku sempet depresi terus setelah depresi hillang, aku lupa rencana plotnya T.T nah, karena sekarang aku udah buat plot baru, mungkin setelah ini aku bakal update, mungkin tiap minggu atau 2 minggu sekali, tapi aku usahain bakal update terus sampe tamat. Maaf chap ini pendek, habis chap ini pemanasan seteah lama gak buat ff sih, jadi gak boleh banyak-banyak, wkwkwk.

Itu permintaan maaf aku, nah masalah pairing, aku belum mutusin pairingnya gimana, jadi masih bisa berubah-ubah kapan aja, bahkan bisa jadi berakhir kihyuk, ahahaha. Silahkan kasih masukan pairing akhirnya, kalau kalian mau, di review aja~

Ah, sama aku mau minta pendapat yang baca, lebih bagus gaya nulis yang begini atau yang sudut pandang karakter? Aku sedang mempertimbangkan gaya nulis baru~ kalau ada pertanyaan, bisa lewat PM, atau boleh lewat review, nanti aku jawab di chap selanjutnya~

Terima kasih buat yang udah baca, terima kasih buat yang mau review, dan terima kasih buat ost kill me heal me, inspirasi aku bikin ff ini jadi lancar tiap ngetik sambil dengerin ost itu.