.
.
Daisuke, Nee-san!
Disclaimer : Naruto cs punya Masashi Kishimoto.
Story by : Yana Kim
Warning: Chaptered, Abal-abal , AU, OOC, always typo.
.
.
.
Chapter 9
What's Going on
.
.
.
Sasuke terbangun dari tidur nyenyaknya. Ya.. ia tertidur dengan sangat nyenyak dengan Karin dalam pelukannya. Tapi tunggu dulu... dimana gadis itu? Tangan Sasuke meraba-raba sisi kanannya. Kemudian membuka matanya. Ia tidak menemukan kekasihnya itu. Iapun bangkit dari tempat tidur dan beranjak kekamarmandi, kemudian keluar beberapa saat kemudian.
"Kemana dia? Bukannya dia masih sakit!" Sasuke berjalan keluar kamar. Ia dapat mencium aromamasakan dari arah dapur. Langsung saja pria itu mendapati kekasihnya sedang memasak didepan kompor. Karin sudah rapi dengan pakaian kantornya yang dilapisi apron. Gadis itu berbalik dan terkejut melihat Sasuke dengan santainya berdiri dipintu dapur sambil melipat tangannya.
"Kau mengejutkanku, Sasuke!" ucap Karin sambil meletakkan nasi goreng buatannya pada dua buah piring.
"Bukannya kau masih sakit?" tanya Sasuke masih pada posisinya.
"Aku sudah sembuh. Kau bisa lihatkan ?" Karin tersenyum meyakinkanSasuke.
"Duduklah, kita sarapan." Lanjut gadis itu.
"Hn."
Merekapun sarapan dalam diam. Selesai makan, Karin berdiri untuk mengambil piring dan mencucinya. Meninggalkan Sasuke yang masih meminum tehnya. Selesai mencuci piring dan peralatan masak lainnya, Karin membuka apronnya.
BRUUSH...! Sasuke langsung menyemburkan teh yang diminum begitu melihat Karin membuka apronnya. Matanya terbelalak melihat dua kancing teratas kemeja Karin yang terbuka dan memperlihatkan apa yang ada dibaliknya. Rona merah lantas saja bertengger pada pipi pemuda Uchiha itu. Karin yang tidak menyadarinya malah mendekatkan diri pada Sasuke dengan membawa sekotak tisu. Membuat Sasuke memalingkan wajahnya kearah lain.
"Ada apa denganmu, Sasuke?" Karin membersihkan tumpahan teh yang ada dimeja.
"Bajumu, bodoh!" Sasuke masih tidak mau melihat Karin.
"Bajuku kenap- Oh! Astaga !" Karin pun mengancingkan kemejanya dengan wajah yang memerah malu. Setelah merasa Karin telah memperbaiki pakaiannya, Sasuke kembali pada posisinya dan melihat Karin.
"Apa maksudmu dengan membuka dua kancing teratas kemejamu?"tanya Sasuke kesal.
"Aku tidak tahu kalau kancingnya terbuka, bodoh."
"Makanya jangan memakai pakaian ketat begitu!"
"Ini tidak ketat. Memang kancingnya saja yang terbuka sendiri." Karin membela diri .
"Ya, itu tidak ketat hanya saja terlalu pas dan sempit. Dan lihat rokmu itu, kau mau bilang itu bukannya terlalu pendek hanya saja kurang panjang begitu ?"
"Sasuke!"
"Ganti pakaianmu itu. Jangan lagi kau memakai pakaian yang seperti itu kekantor. Untung terbukanya disini dan hanya aku yang melihatnya. Bagaimana kala- Aww! Apa yang kau lakukan?! " Ucapan Sasuke terpotong karena Karin memukul kepalanya dengan kotak tisu ditangannya.
"Dasar mesum !" Karin pun beranjak menuju kamarnya untuk berganti baju meninggalkan Sasuke yang masih setia mengelus kepalanya. Beberapa menit kemudian Karin keluar dengan menggunakan kemeja ungu muda panjang tangan dengan renda dibagian dada. Gadis itu tidak mengganti rok hitamnya.
"Bagaimana?" tanyanya pada kekasihnya.
"Bajunya sudah lumayan, tapi roknya masih terlalu pendek. Kau tidak menggantinya kan? Ingat hanya aku yang boleh melihat kaki indahmu itu." Jawab Sasuke santai.
"Sial! " Karin kembali kekamarnya dan kembali lagi dengan mengenakan stoking hitam tipis.
"Aku tidak mau lagi mendengar protesmu!"
"Aku tidak akan protes. Ini lebih baik."
"Kau sendiri bagaimana? Aku tidak punya pakaian pria disini."
"Aku sudah menelpon sekertarisku sebentar lagi dia akan mengantarnya."
"Dasar.!"
:
:
:
Sebulan sudah sejak kepulangan Sasuke. Ia memimpin Uchiha Resort dengan baik. Begitulah penilaian para karyawan terhadap Presdir baru mereka itu. Ia memang lebih tegas daripada Fugaku dan menekankan bahwa disiplin adalah yang paling utama. Tidak boleh ada karyawan yang terlambat datang ataupun terlambat kembali dari jam makan siang. Ketegasannya juga ia tujukan pada kekasihnya yang tidak boleh lagi terlalu mengumbar tubuhnya dengan pakaiannya yang biasa. Akhirnya Karin memutuskan lebih sering memakai celana bahan daripada rok mininya.
Neji pun telah mengetahui perihal hubungan Karin dengan Sasuke. Karin sendirilah yang memberitahunya saat mereka makan siang bersama. Neji dengan setengah hati akhirnya merelakan Karin dengan Presdir mereka. Karin dengan senang hati memberikan Neji sebuah pelukan persahabatan saat pria itu memintanya. Yahhh, walaupun berakhir dengan Sasuke yang marah-marah.
Saat ini Sasuke sedang berjalan menuju ruangan Karin. Rencananya ia ingin mengajak gadis itu makan siang. Sepanjang perjalanan ia hanya mengangguk pada setiap karyawan yang menyapanya. Sesampainya didepan ruangan Karin, Sasuke membuka ruangan tersebut bermaksud mengejutkan kekasihnya itu. Namun saat pintu sedikit terbuka ia mendengar Karin seperti sedang berbicara dengan seseorang lewat telepon.
"Jadi sudah berapa bulan?"
"..."
"Delapan bulan? Wahh berarti tak lama lagi kau akan menjadi seorang ibu, Ino! Selamat ya pirang! Suamimu pasti sangat senang."
"..."
"Aku? Haha. Sasuke masih terlalu muda. Aku tidak akan memaksanya untuk menikahiku, Ino. Dia barusaja selesai kuliah dan baru bekerja disini selama sebulan. Aku tidak ingin membebaninya dengan tuntutan menikah."
"..."
"Hahaha. Biar saja , kurasa menikah diumur duapuluh delapan atau duapuluh sembilan tidak masalah. "
"..."
"Oke. Jaga kesehatanmu. Salam untuk suamimu ya..."
Sasuike dapat mendengar Karin meletakkan handhonenya dan ia melihat Karin seperti... tersenyum miris? Sasuke langsung saja memasuki ruangan kekasihnya itu. Karinyang tahu kalau Sasuke akan mengajaknya makan siang langsung berdiri dan membawa tasnya menuju Sasuke yang berdiri tak jauh dari pintu masuk. Ia melihat sesuatu yang aneh dengan waja Sasuke. Seperti sedang meikirkan sesuatu.
"Kau kenapa?"tanya Karin.
GREEP
"Maafkan aku." Karin terkejut karena Sasuke tiba-tiba memeluknya. Ia heran dengan Sasuke.
"Untuk apa?"
"Aku tidak bisa menikahimu dengan cepat. Maafkan aku."
Karin menyimpulkan bahwa Sasuke mendengarkan percakapannya dengan Ino tadi.
"Aku tidak apa-apa. Kau masih muda, Sasuke."
"Aku berjanji akan segera menikahimu setelah bisa memimpin Uchiha resort dengan baik. Aku berjanji." Sasuke mengeratkan pelukannya pada Karin.
"Aku tidak masalah. Kau mau mengajakku makan siang kan? Ayo."
"Hn."
Mereka pun beranjak meninggalkan ruangan Karin.
:
:
:
Hari ini Sasuke diberitahu oleh sekertarisnya kalau ayahnya akan datang untuk melihat dan menilai hasil kerja Sasuke. Sasuke tentu saja tidak masalah. Ia sudah melakukan yang terbaik yang ia bisa. Dan biarlah ayahnya yang menilai. Iapun ingin mebicarakan pada ayahnya tentang keinginannya untuk menikahi Karin meski kini ia baru berusia dua puluh tahun. Ia merasa sudah siap untuk menjadi seorang suami yang bertanggung jawab untuk Karin. Ia membayangnkan ia dan Karin akan menikah disebuah gereja dengan Karin yang menggunakan gaun putih. Namun angan-angannya terpaksa berhenti karena sebuah ketukan pintu.
"Masuk." Terlihat sekertarsinya Jugo memasuki ruang kerja Sasuke.
"Sasuke-sama ada seseorang yang ingin bertemu dengan anda. Katanya ia adalah teman anda dari Amerika. Namanya Mei Terumi."
'Mei Terumi? Ada apa dia kemari?' batin sang Uchiha muda.
"Apakan anda ingin menemuinya?"
"Hn. Suruh dia masuk keruanganku ."
"Hai. Sasuke-sama."
Setelah Jugo keluar, Sasuke memikirkan ada apa teman satu kampusnya dulu datang kemari? Setahu Sasuke ia kembali keJepang tidak memberitahu siapa-siapa. Hanya dosen dikampusnya sajalah yang tahu perihal kepulangannya.
Tak lama kemudian wanita berambut coklat masukdisertai Jugo.
"Kau boleh keluar Jugo."
"Hai."
Setelah sang sekertaris keluar, Sasuke berdiri dari kursinya menuju wanita itu.
"Duduklah, Mei." Tanpa diduga oleh Sasuke wanita itu langsung menerjangnya dengan sebuah pelukan yang sangat erat.
"Sasuke! Aku merindukanmu! Kenapa tidak bilang padaku kau pulang ke Jepang?" wanita itu menangis dalam pelukan Sasuke.
Sementara itu.
Karin menyambut kedatangan Fugaku dilobi. Ia pun langsung mendapatkan pelukan dari pria yangn sudah dianggapnya ayahnya tersebut.
"Apa kabar Jisan?" tanya Karin
"Aku baik-baik saja. Bagaimana denganmu? Kulihat kau makin berseri-seri sejak kepulangan anakku." Canda Fugaku.
"Ji-san!"
"Ayo, kita keruangan Sasuke."
"Hai' Ji-san."
Mereka pun berjalan menuju ruangan Sasuke.
:
:
:
"Darimana kau tahu aku pulang ke Jepang, Mei? Setahuku hanya Sir Jhonson yang tahu."
"Aku datang kepartemenmu dan kau tidak ada disana. Aku tahu kau telah menyelesaikan kuliahmu lebih cepat dari kami. Tapi aku tidak menyangka kau langsung pulang ke Jepang. Aku bertanya pada Sir Jhonson, ia tidak mau memberitahuku. Tapi setelah aku memberikan alasan yang sebenarnya, ia pun memberitahukan tentang kepulanganmu dan alamatmu"
"Alasan sebenarnya? Apa maksudmu?"
"Aku hamil. Anakmu."
"Ap—" / "APA? " Bukan suara Sasuke. Tapi suara Fugaku yang baru masuk bersama Karin dan Izumo.
Sasuke menatap horor Mei dan Ayahnya bergantian. Kemudian beralih pada Karin yang juga terlihat syok setengah mati. Karin tak percaya pada apa yang didengarnya. Gadis berambut coklat itu bilang apa? Hamil? Anak Sasuke? Jantung Karin sepertinya berhenti melakukan kegiatannya untuk berdetak.
Air mata pun jatuh dan mengalir dipipi gadis berambut merah itu.
Hampir saja ia jatuh kalau tidak ada Izumo yang menahannya. Merasa mampu ia melepaskan pegangan Izumo padanya dan kembali menatap sendu apa yang ada didepannya.
"Apa maksudnya ini Sasuke? APA MAKSUDNYA INI ?!" Fugaku berteriak marah pada anaknya.
"T-tou-san, aku juga tidak tahu. Mei, apa maksud ucapanmu itu? Anakku aku tidak pernah menjalin hubungan spesial apapun denganmu. Ba-bagaimana mungkin..."
"Kau. Apa benar kau hamil anak Sasuke? Kau yakin anak yang ada dalam rahimmu adalah anak Sasuke?" Fugaku beralih pada Mei yang sedang duduk disofa.
"Benar tuan. Anak ini adalah anak Sasuke. Kami melakukannya pada saat ulang tahun teman kami, James sebulan lalu. Kau ingat Sasuke? Kau mabuk saat itu. "
"Aku memang mabuk ,tapi saat aku bangun paginya tidak ada apa-apa yang terjadi. Aku masih lengkap dengan pakaianku dan kau tidak ada disana. "
"Pagi itu aku memakaikan kemabli pakaianmu dan pulang berharap bisa melupakannya tapi, tapi aku tidak menyangka akan hamil dan hiks hiks.." Wanita berambut coklat itu mulai menangis sesenggukan. Tidak seperti gadis berambut merah yang ada didekat pintu yang hanya menangs dalam kediamannya.
"Haaah." Fugaku menghela nafas tampak frustasi.
"Baiklah, karena kami adalah seorang Uchiha. Anakku, Sasuke, akan bertanggung jawab. "
"Tou-san.." Sasuke menatap ayahnya tak percaya.
Ceklek.
Pintu tertutup setelah seorang gadis berambut merah keluar dengan berurai air mata.
TBC
Waaaaaaaaaaaaaah... Koq ada Mizukage muncul!? Hahaha, saya juga ga tahu.
Chapter sembilan nih... Bisa ga yah selesai dichapter sepuluh nanti ?
Chapter ini spesial buat Lala-chan. Semoga suka ya ...
Review please...
Yana Kim
