.
.
Daisuke, Nee-san!
Disclaimer : Naruto cs punya Masashi Kishimoto.
Story by : Yana Kim
Warning: Chaptered, Abal-abal , AU, OOC, always typo.
.
.
.
Chapter 10
What should I do
.
.
.
"Karin." Sasuke mencoba menyusul Karin.
"Tetap pada posisimu, Sasuke." Suara dingin mengintimidasi keluar dari mulut sang ayah.
"Tapi Tou-san—"
"Kubilang tetap pada posisimu."nada final dari ucapan sang ayah membuat Sasuke terdiam ditempat.
"Izumo. Bawa nona ini ke mansion Uchiha. Karena dia akan menjadi menantuku."titah Fugaku pada tangan kanannya itu.
"Hai'. Fugaku-sama. Mari nona."
"Terimakasih, Uchiha-sama." Ucap Mei Terumi namun tidak ditanggapi oleh Fugaku.
Tinggallah kedua lelaki bermarga Uchiha diruangan itu. Suasana diruangan itu menjadi dingin mencekam. Tidak ada yang ,mengeluarkan suara. Hening, hingga suara jarum jam dapat terdengar dengan jelas.
"Tou—"
PLAAK!
Seketika Sasuke terdiam. Terlihat darah keluar dari sudut bibirnya akibat tamparan ayahnya yang sangat kuat. Pipi pucatnya terlihat memerah akibat memar yang timbul. Ia sampai harus bergeser satu langkah kebelakang saking kuatnya.
"Kau. Sudah. Sangat. Mengecewakanku." Ucap Fugaku penuh penekanan pada setiapkata yang diucapkannya.
"Tou-san. Aku—"
"Karin. Dia sudah kuanggap sebagai anakku. Tapi kau menyakitinya. KAU MENYAKITI PUTRIKU!"
"Tou-san. Makanya aku harus mengejarnya. Aku harus—"
"Apa?! Kau mau menyakitinya lagi hah?!" Lagi-lagi Fugaku memotong ucapan anaknya. Sasuke terdiam. Menghela nafas panjang sekali, kemudian pria paruh baya itu berkata lagi.
"Aku datang hari ini untuk melihat kinerjamu. Apakah kau sudah bisa mengurus Uchiha Resort dengan baik. Apakah kuliahmu di Amerika sia-sia atau tidak."
"Tou-san—"
"Aku bertanya padamu. Bertanya pada seorang direktur Uchiha Resort ditempat ini. Menghadapai situasi yang baru saja terjadi. Apa yang akan kau lakukan?"
Sasuke menatap ayahnya yang juga menatapnya dengan sangat tajam.
"Aku bertanya padamu, Sasuke." Suara Uchiha besar itu sudah mulai tenang sekarang.
"A-aku. Aku akan mengejar Karin dan menjelaskan semuanya." Jawab Sasuke. Tentusaja Fugaku tahu bahwa Sasuke ragu dengan jawabannya.
"Itu jawabanmu? Kalau begitu kau belum pantas menjadi direktur Uchiha Resort apalagi harus menjadi seorang suami. Aku kasihan pada Karin yang sudah setia menunggumu selama tiga tahun."
"A-apa maksud Tou-san?"
"Jangan temui Karin untuk saat ini. Bertemu denganmu akan menambah rasa sakit dihatinya. Aku yakin kau pun tidak tahu apa yang harus kau jelaskan padanya." Kemudian Fugaku tersenyum meremehkan bercampur kecewa sambil mengucapkan sesuatu yang mengejutkan Sasuke.
"Atau sebaiknya kau urus pernikahanmu dengan gadis berambut coklat itu." Fugaku pun beranjak keluar dari ruangan itu. Meninggalkan Sasuke yang saat itu menjatuhkan lututnya sambil meremas rambutnya frustasi.
:
:
:
Seorang gadis berambut merah memasuki apartemennya masih dengan air mata yang tak hentinya mengalir. Sesampainya dikamarnya, Karin—gadis berambut merah itu— mendudukkan dirinya di meja rias yanga da disana.
"Hiks.. Hiks.. Aaaargh!" Karin menjatuhkan semua benda yang ada dimeja riasnya dengan satu gerakan penuh kekesalan. Bunyi pecahan yang sepertinya botol parfum kaca dan benda lainnya terdengar dari ruangan yang didominasi warna krem itu.
Kemudian Karin menangis lagi. Kalau tadi dikantor dan sepanjang perjalanan ia hanya menangis dalam diam, kali ini ia meraung dan berteriak dengan keras mengeluarkan kekesalannya. Marah, sedih, dan kecewa. Semua perasaan itu bercampur aduk dalam benak gadis bermarga Uzumaki itu. Jelas saja. Gadis mana yang tidak akan kecewa bila menghadapai situasi yang sama dengannya. Kekasihnya menghamili wanita lain? Karin merasa penantiannya selama tiga tahun tanpa selingkuh tidak ada gunanya. Hei, kalau boleh sombong, bukan hanya satu dua pria yang mendekatinya selama ia menunggu Sasuke. Fugaku sendiri tahu itu. Bahkan saat wisuda dulu ada tiga orang mahasiswa yang mengungkapkan perasaannya pada Karin tepat didepan Fugaku. Sekali lagi, tepat didepan Fugaku. Mereka menyangka Fugaku adalah ayah Karin sehingga mereka bahkan meminta izin pada Fugaku untuk 'menembak' Karin.
Karin yang mencintai Sasuke tentu saja menolak para pria itu dengan perasaan bersalah. Bukan karena Sasuke lebih tampan ataupun lebih kaya dari mereka. Ketiga pemuda itu bukanlah mahasiswa biasa. Ada Aburame Shino, anak seorang perdana menteri Konoha. Inuzuka Kiba anak pengusaha elektronik terbesar diJepang. Bahkan teman satu kelompoknya saat PKL dan bimbingan skripsi Akasuna Sasori yang merupakan anak pemilik Rumah sakit terbesar di Jepang juga mengatakan bahwa ia menyukai lupakan Hyuuga Neji yang manis dan super perhatian padanya. Ia menolak para pria itu murni karena ia mencintai Sasuke.
Tapi apa? Tiga tahun menunggu inikah yang didapatnya? Ia merasa menjadi orang yang sangat bodoh. Ia memang curiga bahwa Sasuke pasti mempunyai kekasih diluar negri sana. Wanita berambut coklat tadi adalah wanita cantik yang membuat Karin merasa tidak ada apa-apanya dibanding wanita itu. Bahkan Fugaku tidak menolak kehadiran wanita itu. Wanita yang sedang mengandung cucunya itu. Ya, cucunya, anak Sasuke.
Entah apa yang ada dipikiran Karin saat ini. Menghapus airmatanya dengan kasar menggunakan kedua telapak tangannya, Karin mengambil kursi meja riasnya dan meletakkannya didekat lemari. Naik keatas kursi itu, Karin mengambil koper berwarna ungu muda dari atas lemari. Ia meletakkan koper kosong itu dan membukanya. Karin membuka lemari dan mengambil baju-bajunya dengan menjejalkannya kedalam koper itu. Pikirannya sedang kalut saat ini. Yang terlintas dibenaknya kini ialah pergi. Pergi menjauh dari kehidupan para Uchiha yang sudah memporakporandakan hati dan pikirannya. Karin teringat perkataan Fugaku yang mengatakan bahwa dirinya akan menjadi menantu keluarga Uchiha. Tapi sepertinya pria yang sudah dianggap sebagai ayahnya itu sudah mendapatkan menantunya yang sebenarnya. Fugaku tidak salah, Karin tahu itu. Ia hanya mencoba bertanggungjawab atas apa yang dilakukan oleh anak semata wayangnya.
Setelah selesai, Karin menutup kembali kopernya dan beranjak dari tempat itu. Dengan penampilan acak-acakan—rambut yang sejak tadi diacaknya karena kesal dan mata bengkak— gadis berambut merah itu keluar dari apartemennya. Sesampainya didepan apartemen, Karin menghiraukan pandangan heran dari para petugas apartemen dan setiap orang yang berpapasan dengannya. Karin mencegat sebuah taksi, Karin masuk kedalam taksi sementara sang supir memasukkan koper gadis itu kedalam bagasi. Setelah supir itu masuk dan mengambil tempatnya, Karin mengucapkan tempat tujuannya.
"Tolong ke Bandara."
:
:
:
Fugaku sedang berada disalah satu kamar dihotelnya. Pria itu duduk disofa sambil memijat pelipisnya. Kegiatannya terhenti karena suara ketukan pintu.
"Masuklah." Serunya.
"Fugaku-sama. Anda tidak pulang ke mansion Uchiha?" Tanya Izumo.
"Aku menginap disini saja. Kau sudah mengantar wanita itu?"
"Sudah, Fugaku-sama."
"Setelah ini, kau tahu apa yang akan kau lakukan selanjutnya kan?"
"Hai'. Saya akan berangkat malam ini, Fugaku-sama. Saya sudah memesan tiket."
"Hn. Kupercayakan padamu, Izumo."
"Hai'." Tiba-tiba handphone Izumo berbunyi. Pria itu mengangkat handphonenya setelah menerima anggukan kepala mengizinkan dari majikannya.
"Aku mengerti. Coba cari di Bandara." Kata Izumo menyudahi pembicaraannya dengan seseorang ditelpon.
"Fugaku-sama. Uzumaki Karin pergi meninggalkan apartemennya. Petugas apartemen bilang dia melihat Karin menangis sambil membawa sebuah koper."
"APA?!"
Sementara itu dimansion Uchiha seorang wanita berambut coklat berdiri di balkon kamarnya ambil memegang wine ditangannya.
Wanita itu menyeringai. "Ternyata tidak sesulit yang kubayangkan. Para Uchiha bodoh."
:
:
:
Istirahat Ino dan Kakashi terganggu karena mendengar suara bel yang berbunyi. Kedua suami istri itu bangun dan bersama-sama keluar untuk melihat siapa yang menekan bel tengah malam begini.
"Sudah kubilang kau dikamar saja. Kau itu keras kepala sekali sih." Kakashi menggerutu sambil memegang tangan Ino menuruni tangga.
"Perasaanku tidak enak Kakashi. Aku merasa harus ikut." Ucapan Ino membuat Kakashi menghela nafas.
Ceklek.
Betapa terkejutnya Ino melihat siapa yang ada dibalik pintu. Sahabat terbaiknya berdiri dengan penampilan yang sangat bukan Karin. Mata bengkak dengan rambut acak-acakan serta wajah yang pucat bukan main. Gadis berambut merah itu hanya menggunakan sebuah kemeja tipis dan rok span pendek ditengah malam. Apa dia tidak kedinginan?
"K-KARIN!?"
"I-ino, Kakashi-sensei. Maaf mengganggu kal—" BRUUK.
Ino menjerit melihat Karin yang tiba-tiba pingsan. Kakashi tidak sempat menangkapnya. Kemudian Kakashi mengangkat Karin dan membawanya kekamar tamu sesuai dengan instruksi istrinya. Ino ingin mengambil kain dan air hangat untuk mengompres Karin, namun Kakakshi mencegahnya. Mana mungkin ia membiarkan istrinya yang tengah hamil besar berjalan panik dan terburu-buru kedapur.
"Aku saja yang ambil."
"Terimakasih, Kakashi-kun."
"Hn."
Kakashi pun ,meninggalkan kedua wanita itu.
"Apa yang terjadi padamu, Karin?" bisik Ino sambil mengelus kepala Karin.
Beberapa saat kemudian Kakashi datang dengan membawa sebaskom air hangat dan selembar handuk kecil. Ino menerimanya dan langsung membasahi handuk tersebut,
"Aku tunggu diluar." Kata Kakashi merasa dirinya tidak harus berada diruangan itu.
"Umm." Ino hanya menganggukkan kepalanya.
Wanita Yamanaka yang sudah berganti marga menjadi Hatake itu mengompres tubuh panas sahabatnya.
"Maaf tidak bisa menggantikan bajumu, Karin. Keadaanku tidak memungkinkan." Gumam Ino sambil menyelimuti tubuh Karin kemudian istri Kakashi itu meninggalkan Karin untuk menemui suaminya.
Kakashi terlihat duduk diruang tamu dengan dua gelas teh dimeja. Sepertinya suaminya itu membuat teh selama Ino ada dikamar tamu tadi. Ino langsung mengambil tempat disamping Kakashi.
"Sudah selesai?" Tanya Kakashi .
"Umm. Dia sepertinya demam. Aku tidak tahu apa yang terjadi dengannya. Setahuku dia sudah hidup bahagia bersama kekasihnya diTokyo. Apa terjadi sesuaru dengan mereka ya? Bagaimana menurutmu, Kakashi-kun."
"Mungkin saja, kurasa masalah itu sangat besar hingga membuat Karin harus yah bisa dikatakan 'lari' ke Konoha." Tanggap Kakashi kemdian menarik sang istri kepelukannya.
"Kuharap Karin bisa menghadapi apapun masalahnya " Ino membalas pelukan suaminya itu.
"Besok kita tanyakan saja detailnya. Tapi kurasa kau saja yang menanyakannya."
"Kau benar."
"Ayo kita kembali kekamar."
"Kurasa aku sudah tidak bisa tidur lagi, Kakashi-kun."
"Kau harus tidur, sayang. Tidak baik untuk anak kita."
Perkataan Kakashi membuat Ino menghela nafas. Ia memang harus ekstra istirahat mengingat kandungannya yang sudah delapan bulan.
"Baiklah."
:
:
:
"Aku pergi dulu, sayang. Jangan terlalu memaksakan diri melakukan sesuatu." Kakashi berpamitan pada istri tercintanya sebelum berangkat kekampus untuk mengajar.
"Aku mengerti. Hati-hati dijalan. "
"Hn. Salam untuk Karin." Kakashi mengecup bibir istrinya sekilas.
"Umm."
Setelah mengantarkan sang suami berangkat kerja, Ino menuju kekamar tamu untuk melihat keadaan sahabatnya.
Tok tok tok.
"Karin. Aku masuk yah." Namun tidak ada jawaban. Berpikir sejenak, Ino membuka pintu kamar tamu tersebut. Ia melihat Karin sudah bangun dan duduk dipinggir ranjang sambil menundukkan kepalanya. Ino berjalan mendekat dan duduk disebelah Karin. Istri Hatake Kakashi itu memegang bahu Karin. Karin mengangkat kepalanya dan menata Ino.
"Ceritakan padaku…" ujar wanita itu lembut. Air mata Karin kembali menetes. Ino kemudian memeluk Karin erat seolah memberikan kekuatan. Limabelas menit Ino membiarkan sahabat merahnya itu menangis tersedu-sedu. Kemudian Karin menceritakan apa yang dialaminya di Tokyo. Ino hanya mendengarkan sampai Karin selesai bercerita.
"Bila aku pulang ke apartemenku, Sasuke pasti akan mencariku. Aku tidak mau lagi bertemu dengannya Ino. Makanya aku datang kemari. Maaf karena merepotkan kalian."
Ino mengelus bahu sahabat merahnya. "Kakashi bilang dia tidak apa-apa bila kau menginap disini. Tinggal selamanya disini juga tidak apa-apa. "
"Benarkah Ino?"
"Umm. Suamiku itu orang yang baik tahu." Perkataan Ino membuat Karin tersenyum.
"Kau beruntung mendapatkannya pirang."
"Kau juga akan mendapatkan yang terbaik. Entah itu Uchiha bodoh itu atau siapapun."
"Terimakasih, Ino. "
"Sekarang mandilah. Aku menunggumu dimeja makan."
"Umm."
:
:
:
Uchiha Sasuke berdiri menatap nanar apa yang ada didepannya. Saat ini ia berada dikamar apartemen mewah Karin. Meja rias yang berantakan serta lemari baju yang terbuka dengan pakaian yang berserakan. Ayahnya sudah memberitahu padanya bahwa Karin sudah pergi. Tapi seolah tidak mempercayai ayahnya, Sasuke memastikannya sendiri. Namun ternyata ayahnya benar. Karin tidak ada diapartemennya, Karin sudah pergi.
Sasuke menjatuhkan lututnya. Memegang dada kirinya yang terasa nyeri. Air matanya jatuh. Terakhir kali ia ingat bahwa ia menangis ialah ketika pergi meninggalkan Karin. Namun sekarang ia menangis karena Karinlah yang meninggalkannya.
"Karin…" ucap pemuda itu ditengah tangisannya.
:
:
:
TBC
PENDEEEEEK BANGET CERITANYA…
Sasuke! Tamparan papa sakit ga?
Aduh, si ayam kasian banget. Koq dia menderita banget ya dichapter ini? Eneng Karin juga sih…
Selanjutnya apa yang terjadi ya?
Bakal diusahain update cepat…
Thanks for reviews..
Ditunggu reviewnya….
Yana Kim.
