DAISUKE NEE-SAN!
:
:
:
Chapter 12
Beautiful Ending?
:
:
:
"Masuk."
Seorang wanita berambut merah yang disanggul sederhana memasuke sebuah ruangan yang dihuni oleh pria berambut coklat yang terlihat sedang memeriksa beberapa dokumen. Wanita itu tampak cantik dengan dress biru selutut yang dibalut dengan blazer hitam. Dilehernya tergantung tanda pengenal karyawan.
"Ini adalah titipan dari bagian personalia saat anda bertemu klien tadi Kiba-sama."
"Kau bisa meletakkannya dimejaku, Karin. Apa pihak Namikaze Corp sudah menelpon?"
"Belum, Kiba-sama. Mungkin nanti atau besok." Pria tersebut hanya menganggukkan kepalanya.
"Saya permisi, Kiba-sama." Karin membungkukkan badannya sekali kemudian membalikkan badannya.
"Kurasa sudah lebih seratus kali kukatakan untuk tidak bicara secara formal padaku saat kita hanya ada kita berdua, Karin." Gerakan Karin terhenti saat mendengar suara atasannya itu. Wanita itu kembali membalikkan badannya menghadap pria itu—Kiba.
"Saya rasa saya juga sudah mengatakan kepada anda bahwa saya akan tetap bersikap formal bila kita ada dikantor, Kiba-sama."
"Tapi ini sudah hampir dua tahun, Karin. Asal kau tahu teman-temankku bahkan sudah akrab dengan sekertaris mereka kurang dari satu tahun."
Karin menghela nafas. "Bukannya kita sudah akrab, Kiba? Aku hanya ingin bersikap professional. Apa kau tidak tahu gosip yang beredar tentang kita?"
"Aku dengar Karin. Dan aku senang dengan gosip itu. Meskipun kau sudah menolakku dua kali. Setidaknya dimata para karyawan disini kita sudah jadian. Aku jadi tidak terlalu kecewa, kau tahu. " Kiba tersenyum melihat wajah malas yang ditampilkan Karin.
Gadis itu kembali menghela nafas. "Aku tetap pada pendirianku. Kita akan tetap formal bila berada didalam kantor. Dan gosip itu, bisa tolong kau atasi?"
Kiba kembali tersenyum. "Aku tidak mau mengatasi gosip itu. Aku akan menganggapmu adalah kekasihku… sampai pemuda Uchiha itu datang menjemputmu."
"Kiba…" Karin menatap tajam bos sekaligus sahabatnya itu.
"Hahaha. Ayolah Karin, setidaknya jangan membuatku kecewa karena penolakanmu lima bulan lalu." Kiba berjalan menghampiri Karin dan memeluk bahunya.
"Terserah."
"Haha. Kau bilang hanya bersikap formal bila dikantor kan? Ayo kita keluar kantor, ini sudah jam makan siang. Kau mau makan apa, sayang?"
"Aw! " Kiba menerang kesakitan saat Karin menendang tepat pada tulang keringnya kemudian berjalan mendahului Kiba.
"Aku mau makan chickenkatsu, Kiba-sama." Ucapnya sambil keluar dari ruangan bosnya itu. Kiba tersenyum dan mengambil jasnya kemudian menyusul Karin.
Karin melalui hari-harinya sebagai sekertaris Kiba. Pria yang pernah 'menembak'nya dulu. Dan dalam kurun waktu dua tahun ini pria itu pun sudah dua kali mengungkapkan perasaanya yang katanya mencintai Karin. Namun dengan lembut, Karin menolak pria itu. Ia pun tak segan menceritakan perihal kisah cintanya dengan Sasuke pada Kiba asalkan Kiba berjanji tidak menceritakannya pada siapapun.
Karin tetap tinggal dirumah Ino dan Kakashi. Fugaku sebenarnya sudah menyediakan untuknya sebuah apartemen namun Karin menolaknya. Wanita bersurai merah itu mengatakan bahwa sahabatnya baru saja melahirkan, jadi ia akan tetap tinggal dikediaman itu sekaligus membantu sahabatnya. Tentu saja Ino terharu mendengarnya, sambil menangis istri Kakashi itu memeluk sahabat merahnya. Kakashi pun senang mendengarnya. Pria yang sudah menjadi ayah Kazuki itu tidak menyangka bahwa Karin menjalin hubungan dengan adik dari sahabatnya. Entah berapa kali pria Hatake itu menggelengkan kepalanya sambil mengatakan betapa sempitnya dunia ini. Kedua suami istri Hatake itu tahu perihal rencana Fugaku dan Karin. Mereka pun sepenuh ya mendukung, apalagi Kakashi yang sudah lama mengenal Sasuke. Pemuda itu memang pantas dihukum karena sikap kekanakan dan seenaknya itu.
.
.
.
"Hai' Saya akan segera mengatur pertemuan antara Kiba-sama dengan Minato-sama."
"…."
"Apa? Jadi Minato-sama tidak menjabat lagi di Namikaze Corp?"
"…"
"Baiklah, saya akan segera mengirimkan waktu dan tempat pertemuannya."
Karin baru saja menerima telpon dari pihak Namikaze Corp yang untuk pertama kalinya mau menjalin hubungan kerja dengan pihak mereka. Tentu saja Kiba akan senang mendengarnya. Ia harus segera memberitahukannya pada sang bos untuk segera meluangkan waktu bertemu dengan CEO Namikaze Corp. Tapi tunggu dulu, ia teringat perkataan sekertaris direktur itu yang mengatakan bahwa Minato sudah tidak lagi memegang tampuk kepemimpinan disana melainkan sudah digantikan oleh anaknya. Padahal setahu Karin, Minato-sama kan seumuran dengan Fugaku. Fugaku saja masih bekerja sampai sekarang. Tapi sudahlah, dari pada memikirkan itu, lebih baik ia mengcancel jadwal Kiba esok hari supaya bisa langsung bertemu dengan pihak Namikaze. Karin pun langsung beranjak dari kursinya menuju ruangan bosnya itu.
.
.
.
"Tumben sekali kau pulang secepat ini, Kashi-kun. Ini baru jam sebelas siang." Ino menyambut kedatang suaminya yang baru saja pulang bekerja.
"Kau tidak suka aku pulang cepat? Ya Tuhan malang sekali nasibku ini." Ucap Kakashi.
"Bukan begitu. Aku hanya heran saja tahu. Aku senang kau bisa pulang cepat. Kita bisa makan siang bersama." Ino mengecup pipi suaminya lembut.
"Jangan menggodaku, Ino." Kakashi menarik pinggang Ino mendekat padanya sehinga tidak ada lagi jarak antara mereka.
"Aku sama sekali tidak menggodamu, sayang." Ucap Ino sambil membuka dasi yang dipakai Kakashi.
"Benarkah? Tapi kenapa aku merasa tergoda, hm?"Kakashi menyusuri wajah Ino mengunakan hidungnya. Gerakannya kemudian turun keleher Ino membuat sang istri mengerang geli.
"Kashi-kun, jang—"
Perkataan Ino dipotong oleh ciuman Kakashi yang mendominasi. Tangan pria satu anak itu meremas lembut pinggang istrinya. Ino pun akhirnya tak tahan dan terbuai dengan ciuman sang suami. Tangannya kini bertengger manis dileher Kakashi dan dengan bersemangat ia membalas setiap lumatan yang dilakukan suami tampannya itu. Ciuman itu berlangsung cukup lama, sesekali mereka mengambil jarak untuk mengambil nafas namun sedetik kemudian mereka kembali menyatukan kedua bibir mereka kedalam ciuman panas yang kini sudah masuk ketahap yang lebih tinggi. Organ tak bertulang itu pun kini ikut andil dalam kegiatan mereka.
"TOU-CHAN !"
Kedua suami istri yang sedang asyik dengan kegiatan mereka terkejut bukan main melihat anak mereka yang tiba-tiba muncul. Keduanya langsung memisahkan diri dengan wajah yang memerah malu.
"Ka-kazuki-kun. Su-sudah lama ada disana?"
"Ummm. Balu saja Kaa-chan. Kaa-chan dan Tou-chan balusan main apa? Kelihatannya selu sekali. Aku boleh ikut?" pertanyaan polos anak berumur dua tahun itu membuat kedua orang tuanya merona malu.
"Ini permainan orang dewasa, Kazu. Hanya tou-san dan kaa-san yang boleh me—Ino sakit!" Ino memotong ucapan Kakashi dengan mencubit pinggang pria itu.
"Jangan racuni anakku dengan pemikiran mesummu itu, sayang." Kakashi hanya menggaruk belakang kepalanya mendengar gerutuan istrinya. Kemudian Kakashi berjalan kearah anaknya dan menggendong anak satu-satunya itu kepunggungnya.
"Bagaimana kalau kita bermain sebentar sebelum makan siang?"
"Yeeeey! Aku akan jadi jagoannya dan tou-chan yang jadi penjahatnya!"
Nyonya Hatake alias Ino hanya tersenyum melihat kedua orang yang sangat dicintainya itu.
.
.
.
"Tadaima…."
"Kalin-baachan sudah pulang ! Okaelinasai…" Kazuki berlari menuju ruang depan menyambut Karin yang baru tiba. Anak manis itu langsung memeluk Karin.
"Waah. Kau tampan sekali sayang. Harum lagi. Pasti baru selesai mandi." Karin mencium pipi tembem anak Kakashi itu.
"Ummm. " Kazuki hanya menganggukkan kepalanya.
"Kaa-sanmu mana?"
"Kaa-chan lagi memasak. Kalau Tou-chan lagi mandi."
"Kalau begitu ayo kita temani Kaa-sanmu." Karin mengajak anak itu kedapur dan terlihat Ino sedang mengaduk sesuatu didalam panci. Karin mendudukkan Kazuki dikursi dan menghampiri Ino.
"Kau sudah pulang, Karin.?"
"Iya. Kau masak apa?"
"Hanya sup daging. Bagaimana pekerjaanmu?"
"Biasa saja."
"Mandilah. Kau pasti lelah."
"Umm. Kau lebih lelah Ino. Harus melakukan pekerjaan rumah sekaligus menjaga Kazuki."
"Haha. Karin, itu sudah menjadi tugas seorang istri dan ibu. Kau juga pasti nanti akan mengalaminya. Uchiha Karin terdengar bagus, yaah walaupun Hatake Ino lebih bagus."
"Ino." Deathglare gratis diberikan Karin pada Ino saat itu juga.
"Wah, bagaimana kabar sitampan itu ya? Kurasa sahabatku ini sudah sangat merindukannya. Ini sudah hampir dua tahun loh… Hahaha."
"Dasar. Aku mau mandi dulu."
.
.
.
"Apa ini?! Ini kau bilang ide brilian?! Pulau Ko adalah pulau yang sering dikunjungi oleh keluarga untuk berlibur bersama. Sangat jarang pasangan pengantin memakainya untuk bulan madu. Jadi dari pada membangun resort bertema romance bukankah lebih bagus temanya family? Kau mau saham kita turun? Apa kau tidak melakukan survey terlebih dahulu? Cepat musnahkan ini. Ganti dengan yang baru. Kuberi kau waktu seminggu, kalau belum selesai, kutunggu surat pengunduran dirimu."
"H-hai' Uchiha-sama. Saya permisi"
"Hn."
Pegawai itu pun membungkukkan badannya sekali kemudian bergegas meninggalkan ruangan atasannya itu. Ia sungguh tidak tahan mendapat semprotan sekaligus tatapan tajam dari bosnya itu. Sesampainya diluar ruangan, ia menghela nafas lega. Ia harus segera mengganti rancangan kerjanya itu sebelum ia kehilangan pekerjaannya.
Jugo yang melihat karyawan yang baru saja keluar dari ruangan bosnya itu hanya bisa menghela nafas. Pasti kena semprot lagi, batinnya. Bosnya, Uchiha Sasuke memang sudah menjadi seorang yang hebat dan diakui di Jepang. Bahkan banyak pihak yang kini ingin menjalin kerja sama dengan Uchiha Resort karena perkembangannya yang sangat pesat itu. Sasuke memanfaatkan pulau-pulau tak berpenghuni di Jepang untuk dijadikan destinasi wisata yang menjanjikan. Sifat perfeksionisnya membuat para karyawan hanya akan memberikan usul biila itu memang benar-benar sempurna. Bila tidak, Sasuke tak segan menyuruh karyawannya itu untuk meletakkan surat pengunduran diri keesokan harinya.
Namun hanya dirinya, Izumo dan Fugaku saja lah yang tahu apa yang membuat sikap Sasuke menjadi seserius ini. Bahkan pria ini pernah tidak pulang sama sekali karena memeriksa laporan pada akhir bulan. Para karyawan pun mempertanyakan apa gerangan yang membuat direktur mereka itu menjadi sangat serius dalam segala hal. Bahkan senyum tipis yang dulu sesekali ditunjukkannya kini hilang entah kemana dan digantikan oleh wajah datar sedingin es dan tatapan tajam menuntut kesempurnaan.
Lamunan Jugo terganggu karena bunyi telepon yang ada disampingnya.
"Moshi-moshi."
"…."
"Hai'. Saya mengerti Fugaku-sama."
Jugo pun meletakkan kembali gagang telepon dan segera menuju ruangan atasannya. Pria berambut oranye it menetuk pintu.
"Masuk."
Jugo membuka pintu dan membungkukkan badannya sekali. Kemudian berjalan mendekat kehadapan sang bos.
"Ada apa?"
"Saya baru saja mendapat telepon dari Fugaku-sama. Beliau berpesan supaya anda datang keKonoha besok pagi. Karena… masa dua tahun itu sudah berakhir, Sasuke-sama."
Sasuke terdiam beberapa saat mendengar penuturan dari sekertarisnya. Kemudian ia hanya menganggukkan kepalanya.
"Hn. Aku mengerti. Kalau begitu, kosongkan jadwalku untuk seminggu kedepan." Ucap Sasuke sambil menutup sebuah map yang baru saja ditanda tanganinya.
"Tapi, Sasuke-sama. Bukannya dua hari saja cukup. Kalau tidak salah Fugaku-sama bilang akan langsung mempertemukan anda dengan anda cukup padat minggu ini."
"Aku tahu ayahku, Jugo. Dia pasti akan menyuruhku mencarinya. Dan aku sudah tahu sejak lama kalau Karin… ada diKonoha." Sasuke kembali mengambil sebuah map untuk diperiksa. "Kau boleh keluar."
"Hai'" Jugo baru saja membalikkan badannya saat Sasuke kembali memanggilnya.
"Tunggu dulu. "
"Ya, Sasuke-sama?"
"Kau pesan tiket untukku saja. Aku akan pergi sendiri besok. Jadi kau boleh libur. Kudengar istrimu tengah hamil. Sampaikan salamku untuknya. Maaf karena dua tahun ini, aku terlalu merepotkanmu."
Jugo terkejut bukan main melihat senyum tipis yang ditampilkan Sasuke. Bosnya yang lama telah kembali.
"A-arigatou, Sasuke-sama."
"Hn."
.
.
.
"Kudengar CEO Namikaze itu masih berumur dua puluh tiga. Apakah itu benar?" Kiba bertanya pada Karin yang ada disampingnya. Saat ini mereka sedang berada didalam mobil yang menuju tempat pertemuan mereka.
"Kau benar. Aku juga sebenarnya penasaran. Kukira aku akan bertemu dengan Minato-sama." Sahut Karin.
"Kita sudah sampai." Kata Karin kemudian.
Sebentar memandang plangkat restoran bergaya Prancis itu, Kiba dan Karin memasuki bangunan itu. Setelah berbicara dengan pegawai mengenai tampat yang sudah dibooking sebelumnya, kedua bos dan sekertaris itu menuju sebuah ruangan vip yang telah dipesan Karin kemarin. Karin memberikan tip kepada pelayan yang mengantarkan mereka, kemudian mereka duduk pada sofa merah maroon yang ada disana.
"Ini masih jam setengah dua belas siang. Kenapa kau selalu menyuruhku datang setengah jam lebih cepat saat ada pertemuan seperti ini, Karin?" ucap Kiba pada wanita berambut merah disampingnya.
"Kesan pertama adalah yang terpenting, Kiba. Kita harus menunjukkan bahwa kita menghargai mereka dengan datang terlebih dahulu." Terang Karin kemudian memberikan sebuah amplop coklat kepada bosnya.
"Sebaiknya kau memeriksa kembali berkas dan kontrak ini."
"Bukan karena kau ingin berduaan denganku, eh, Karin sayang?" Kiba menyeringai jahil pada Karin sambil menerima amplop tersebut.
"Diam dan cepatlah periksa. Siapa tahu aku membuat kesalahan dan bisa saja itu merugikan perusahaan kita."
"Kau pasti melakukannya dengan sangat baik Karin. Aku percaya padamu." Kiba meletakkan kembali amplop itu setelah melihat-lihatnya sebentar.
Ceklek.
"Mereka sudah datang. " Karin dan Kiba pun berdiri untuk menyambut rekan kerja mereka. Pintu terbuka dan muncullah dua orang pria dari baliknya. Pria berambut blonde dan seorang lagi berambut hitam.
"Selamat siang, Inuzuka-san."
"Selamat siang, Namikaze-san." Kedua bos itu saling bersalaman. Kiba mempersilahkan tamunya duduk sementara Karin tetap berdiri karena terkejut melihat orang yang bersalaman dengan bosnya itu.
"Anda?" Karin tak tahan untuk menunjukkan rasa penasarannya. Objek yang ditunjuk Karin kemudian menatapnya. Orang tersebut memiringkan kepala seolah berpikir.
"Anda mengenal saya?" tanya orang tersebut.
"Na-naruto?" Karin seperti mengeja nama itu dengan lambat. "Kau, Naruto kan?"
"Emm. Ya. Apa anda— tunggu." Orang yang mengakui bahwa dirinya Naruto itu kemudian berdiri. Maju selangkah dan menatap Karin lekat-lekat.
"Huuwaaaa! KARIN-NEE KAN ?! " Karin menganggukkan kepalanya. Kemudian terkejut karena Naruto menjabat tangannya dan mengayunkannya berkali-kali dengan cepat sambil terus berceloteh.
"Hahaha. Senang sekali bertemu denganmu disini Karin-nee. Bagaimana kabar— ah maaf." Naruto kemudian melirik kearah sekertarisnya yang menatapnya tajam.
"Ayolah, Menma. Aku tidak mungkin harus bersikap sok cool bila berhadapan dengan teman lama seperti ini." Mantan sekertaris Minato itu menghela nafas.
"Kita bisa mulai sekarang. Silakan duduk." Kali ini Kiba yang mengambil alih.
"Kita bisa berbicara setelah ini, Naruto." Ucapan Karin membuat Naruto mengangguk senang. Tidak berubah, batin Karin.
"Jadi ini mengenai kerja sama kita yang…" Selanjutnya pembicaraan mengenai proyek kerjasama berlanjut dengan makan siang bersama dan sedikit nostalgia antara Karin dan Naruto.
"Aku sama sekali tidak mengenalmu dengan penampilan yang sekarang, nee-san. Kau cantik sekali bila tanpa kaca mata."
"Kau ini, Naruto. Aku tidak tahu kalau kau anak Minato-sama. Kalau dilihat-lihat kau memang sangat mirip dengannya."
"Mereka memang mirip, tapi sangat berbeda dalam kepribadian dan cara kerja." Naruto menatap tajam Menma yang menyindirnya. Karin dan Kiba hanya tertawa mendengarnya. Naruto adalah orang yang supel. Kiba yang baru pertama kali ditemuinya saja sudah bisa akrab dengannya.
"Oh ya, Karin-nee. Beberapa hari lalu Sasuke menelponku. Bagaimana hubungan kalian?" Karin langsung tersentak. Kiba langsung melirik Karin. Namun sedetik kemudian gadis itu tersenyum.
"Kami baik-baik saja. Tapi ada sesuatu yang membuat kami tidak bisa bertemu untuk beberapa saat. "
"Apa-apaan itu? Kalian memang berjodoh ya. Aku bertanya hal yang sama padanya saat itu. Dan jawaban kalian sama persis." Naruto menunjukkan tampang malasnya.
"Eh? Be-benarkah?"
"Umm. " Naruto menganggukkan kepalanya.
"Naruto, jangan bilang padanya kalau kita bertemu hari ini ya."
"Hn? Kenapa begitu?" tanya Naruto sambil mengernyitkan dahinya.
"Tidak apa. Kau mau membantuku kan?"
"Baiklah.."
"Terimakasih."
.
.
.
"Semua tugas yang kuberikan harus sudah sampai dimejaku Senin pagi. Pertemuan kita sampai disini. Selamat sore."
"Selamat sore, sensei."
Kakashi keluar dari ruangan tempatnya belajar untuk menuju ruangan para dosen. Ia ingin mengambil tasnya dan segera pulang. Namun saat baru menyusun buku-buku kedalam tas, ia merasakan getaran disakunya. Dosen mata kuliah statistik di Universitas Konoha itu mengambil ponselnya dan melihat nama Fugaku terpampang dilayar ponsel hitam itu.
"Ya, Jii-san."
"….."
"Benarkah? Aku tidak tahu ternyata dua tahun itu sebentar ya. Baiklah. Aku akan member anak itu sedikit pelajaran. Aku mengerti. "
Piip. Kakashi tidak ingat kapan terakhir kali ia menyeringai licik seperti saat ini.
.
.
.
"Jugo sudah memberitahumu kan?" Fugaku menatap sosok yang mirip degannya itu dengan tajam.
"Hn." Sang anak hanya memandang datar teh hijau yang baru saja disajikan oleh pelayan dirumah lamanya ini. Ia baru saja tiba di Konoha.
"Aku sudah menilai semua pekerjaanmu dan bertanya pada setiap bagian yang ada diUchiha Resort. Dan mereka mengatakan kalau kau bekerja keras selama dua tahun ini. Jadi—"
"Tou-san, cepat katakan dimana Karin. Aku sudah melakukan yang Tou-san perintahkan dan Tou-san pasti sudah melihat hasilnya."
Jawaban Sasuke membuat sang ayah menghela nafas dan tersenyum.
"Kurasa kau sudah sangat merindukannya, ya. Tapi aku tidak bisa mempertemukanmu dengannya saat ini. Karena aku juga belum pernah bertemu dengannya selama dua tahun ini. Kau harus mencarinya sendiri. Yang pasti dia ada di Konoha."
Sasuke menyeringai. "Aku sudah tahu itu sejak setahun yang lalu, Tou-san."
"Ternyata kau menyelidikinya. Kau memang sudah berubah, Sasuke. Kau bisa mencarinya mulai besok. Ini sudah malam, istirahatlah."
"Hn." Sasuke beranjak dari sofa menuju kamarnya.
"Sasuke."
"Hn?"
"Maafkan Tou-san."
"Tou-san tidak salah. Terimakasih sudah memberikan hukuman ini padaku, Tousan. Sekarang aku tahu apa itu kerja keras untuk mendapatkan sesuatu yang kita inginkan."
.
.
.
"Jangan bermalas-malasan seperti ini. Cepat tanda tangani berkas itu, Kiba-sama. Saya harus segera mengirimkannya."
"Aku hanya istirahat sebentar, Karin sayang. Kau ini ."
"Kau direktur termalas yang pernah ku—"
Tok tok tok.
"Ya, masuk." ,Masuklah seorang Office Boy kedalam ruangan itu.
"Summimasen. Karin-san, Kakak anda, Yamanaka Ino ingin menemui anda."
"Terimakasih, aku akan segera tur—"
"Antarkan dia kemari. "
"Hai'." Setelah OB itu keluar, Karin memberikan tatapan bertanya pada Kiba.
"Apa maksudmu?"
"Hanya ingin bertemu teman lama. Sejak kapan Yamanaka menjadi kakakmu?" tanya Kiba.
"Sejak suaminya menjadi kakakku."
"Rumit sekali. "
"Dan membiarkan Kakakku masuk keruanganmu sama saja membuat semua orang membenarkan gosip yang beredar itu."
"Aku tak masalah."
"Aku akan turun. Cepat periksa dan tanda tangani berkas itu, Kiba." Karin pun meninggalkan ruangan direktur Key Corp itu.
Sesampainya dibawah, Karin menemukan Ino dan Kazuki yang baru saja akan dibawa oleh Office Boy tadi. Karin langsung menghampiri sahabatnya itu.
"Ada apa pagi-pagi kemari?" Karin mengangkat Kazuki dalam gendongannya dan mencium pipi anak imut itu. "Hai sayang."
"Hai, baa-chan."
"Karin, aku ingin minta tolong. "
"Apa itu? Kenapa pakaianmu rapi sekali?" Ino memang terlihat cantik dengan dandanan ala wanita karir.
"Bisakah kau menjaga Kazuki sampai Kakashi pulang mengajar?"
"Memangnya kau mau kemana?" tanya Karin.
"Ada sebuah perusahaan yang merekrutku menjadi Konsultan Akuntansi mereka. Aku diminta datang sekarang kekantor mereka untuk menandatangani kontrak." Terang Ino.
"Kau akan bekerja? Apa Kakashi-nii tahu?"
"Ya. Dia sudah kuberitahu. Kau tahu, ini tidak akan menganggu pekerjaan rumahku. Aku hanya datang kekantor seminggu sekali pada akhir pekan untuk memeriksa laporan akuntansi mereka. " Ino terlihat sangat antusias. "Tolong aku ya.."
"Tentu saja. Kau bisa pergi. Aku akan menjaga Kazuki."
"Terimakasih, Karin. Kau yang terbaik. Nanti Kakashi akan menelponmu."
"Sama-sama."
"Kazu-kun. Jangan nakal selama disini ya. Kaa-san janji akan bawa mainan baru."
"Umm." Anak imut berambut perak itu menganggukkan kepala. Ino pun mengecup kening anaknya sebelum pergi meninggalkan tempat kerja sahabatnya itu.
"Ayo, sayang. Kita ketempat Baa-san."
Karin membawa Kazuki menaiki lift. Sementara itu, diluar gedung Key Corp, wanita canti berambut blonde terlihat tersenyum sambil mengambil ponsel dari dalam tasnya.
"Aku sudah melakukan yang kau perintahkan, Kashi-kun. "
"…."
"Jangan lupa janjimu padaku, sayang. Apa kau pikir tidak sulit membohongi sahabat sendiri?"
"…"
"Aku mengerti. Aku juga mencintaimu."
.
.
.
Sudah tiga jam lamanya Kazuki berada digedung Key Corp bersama Karin atau lebih tepatnya bersama Kiba. Kiba yang melihat anak laki-laki lucu itu langsung mengajaknya bermain diruangannya. Kazuki pun terlihat senang bersama Kiba. Apalagi pemuda itu memesan banyak makanan untuk mereka. Karin harus kembali menghela nafas karena bosnya itu kembali menelantarkan pekerjaannya yang menumpuk. Tapi, biarlah. Yang penting ia tidak dimarahi karena membawa seorang anak kecil saat bekerja.
Karin menyusun berkas-berkas Kiba sambil memperhatikan kedua orang yang kini tertidur disofa. Sepertinya mereka sangat lelah bermain sedari tadi. Karin merasakan ponselnya bergeta. Pesan dari Kakashi.
Karin.
Aku di Style Café.
Bisa kau datang dan membawa Kazuki kemari?
Itu café yang dekat apartemen lamaku bukan? Kenapa Kakashi-nii ada disana?
.
.
.
Uchiha Sasuke sedang berdiri sambil bersandar pada mobilnya didepan gedung apartemen lama Karin. Bangunan itu menyimpan banyak sekali kenangan mereka berdua. Ia ingat sekali saat ia dengan sangat bersemangat menunggui Karin pulang dari kerja part timenya. Padahal saat itu Karin belum mengenalnya. Ingat saat ia menemukan Karin hampir disakiti oleh mantan pacar gadis itu, saat itulah awal mula mereka menjadi dekat. Diapartemen kecil inilah dulu Karin sering memasakkannya makanan. Memberikan pelukan yang menenangkan saat ia membutuhkannya. Ia tak bisa menahan senyumannya mengingat betapa dulu ia sangat mengejar gadis Uzumaki itu. Perasaan menggebu remaja berusia tujuh belas tahun, Sasuke tahu itu. Tapi sekarang berbeda, ia sudah dua puluh tiga tahun dan perasaannya malah semakin menjadi pada gadis itu. Ia sudah mengambil keputusan yang ia yakin tak akan disesalinya seumur hidup.
Sasuke baru saja keluar dari gedung itu. Ia mengira bahwa Karin akan tinggal diapartemen lamanya mengingat apartemen itu merupakan peninggalan orang tuanya. Namun ia harus kembali tersenyum miris karena tak mendapati Karin disana.
"Ia sayang. Aku mengerti aku baru akan mencek kembali keadaan apartemennya. Besok pembelinya akan datang melihat. Kau yakin kita akan menjualnya?" Sasuke melihat seorang pria baru turun dari mobilnya . Kini pria itu seolah mengikuti gayanya yang sedang bersandar dimobil sambil tetap bertelepon. Sasuke merasa sangat familiar dengan wajah itu.
"Hm. Aku mengerti. Aku mencintaimu." Pria berambut perak itu menyimpan ponselnya kedalam saku.
"Kakashi-nii?" Pria berambut perak itu menoleh kearahnya.
"Sasuke?" pria itu terlihat terkejut melihat Sasuke.
…..
…..
…..
"Aku tidak menyangka bisa bertemu denganmu disini. Sudah berapa lama kita tidak bertemu?"tanya Kakashi sambil menyesap kopi yang beberapa saat lalu disajikan oleh pelayan. Saat ini mereka berdua sedang duduk dalam sebuah café tak jauh dari gedung apartemen tempat mereka bertemu tadi.
"Enam tahun? Entahlah nii-san. Aku juga tidak ingat. Aku juga senang bertemu denganmu. " sahut Sasuke.
"Hahaha. Kau terlihat berwibawa dengan pakaian itu. Tidak seperti dulu. Apa sekarang kau menggantikan jii-san?" Sasuke tersenyum tipis mendengar perkataan Kakashi.
"Tidak. Aku hanya membantu Tou-san memimpin cabang yang ada di Tokyo. Kau masih menjadi dosen?"
"Ya. Jadi selama ini kau di Tokyo? Pantas aku tidak pernah sekalipun bertemu denganmu disini."
Sasuke menganggukkan kepalanya.
"Kurasa kau pun tidak tahu aku sudah menikah dan mempunyai seorang putra sekarang."
"Benarkah? Kau tidak menikah dengan wanita itu kan?" Wajah Sasuke terlihat lebih serius sekarang.
"Hahaha. Aku minta maaf soal Itachi. Aku sudah lama meninggalkannya. Aku menikah dengan mantan mahasiswaku di Universitas Konoha. Aku akan mengirimkan pesan padanya agar datang kemari."
"Selamat kalau begitu. Oh ya, apa nii-san tinggal diaparteman tadi?" tanya Sasuke.
"Tidak. Istriku ingin menjual apartemen lamanya. Besok yang membeli akan datang jadi aku memeriksa keadaannya dulu. Entah kenapa ia mau menjualnya. Padahal itu kan peninggalan orang tuanya." Jelas Kakashi.
Entah kenapa ada sesuatu yang berdesir dalam diri Sasuke. Tiba-tiba saja ia teringat pada Karin saat ini. Kakashi yang menyadari perubahan raut wajah hanya menyeringai tipis. Kakashi pura-pura mengambil ponselnya seolah ada yang menghubungi.
"Sebentar ya." Sasuke menganggukkan kepalanya.
"Ya, anda bisa datang untuk memeriksanya besok. Ya, ya. Nomor enam puluh tujuh dilantai empat. Alamatnya sudah saya kirim kemarin kan? Ya, terimakasih." Kakashi menyimpan kembali ponselnya kedalam saku. Ia kembali melihat kearah Sasuke yang terlihat syok.
"Nii-san, kau bilang apartemennya nomor berapa?"
"Nomor enam puluh tujuh. Kenapa?"
Sasuke seolah berpikir keras. 'Bukannya itu nomor apartemen Karin?' tanyanya dalam hati. Sasuke teringat ucapan ayahnya yang mengatakan bahwa ia belum bertemu Karin selam dua tahun ini. Apa mungkin….
"Tidak mungkin."gumam Sasuke tanpa sadar.
"Kau bilang apa, Sasuke?" tanya Kakashi walaupun ia bisa mendengar dengan sangat jelas apa yang digumamkan oleh adik sahabatnya ini.
"Eh? Ti-tidak ada nii-san? Oh ya, kapan nii-san menikah?"
"Dua tahun lalu. Dulu aku menjadi dosen pembimbing untuk skripsi istriku. Hahaha. Aku tidak tahu bahwa ternyata kami berjodoh. Ah.. itu mereka sudah datang."
Sasuke mengikuti Kakahi yang melihat kearah pintu masuk. Terlihat olehnya seorang wanita berambut merah dengan pakaian formal ala kantoran sedang menggandeng seorang anak lelaki berambut perak. Tak perlu waktu lama bagi Sasuke untuk menebak kalau itu sudah pasti anak Kakashi. Letak meja mereka yang aga dipojok membuat sang wanita kesulitan menemukan keberadaan mereka.
"Kurasa dia kesulitan menemukan kita. Aku kesana dulu." Tanpa menunggu jawaban dari Sasuke yang masih senantiasa menatap Karin dan anaknya dengan mata yang sedikit membelalak kaget, Kakashi menghampiri Karin yang masih melihat-lihat keadaan mencari keberadaannya.
Karin yang melihat Kakashi menghampiri mereka tersenyum pada pria itu. Kazuki sendiri langsung berlari mendapati ayahnya. Kakashi mengangkat Kazuki dalam gendongannya. Kemudian mendekati Karin. Karin terbelalak kaget saat Kakashi mengecup keningnya.
"Nii-san, apa yang kau—" belum hilang keterkejutan Karin karena kecupan dikeningnya, kini Kakashi menarik pinggangnya dan mengajaknya berjalan kearah meja yang dipojok.
"Bisa bantu aku. Ini perintah dari Fugaku-jiisan." Tangan kiri Kakashi masih setia melingkari pinggang Karin sementara tangan kanannya mengggendong Kazuki.
"A-apa?"
Setiap yang melihat mereka pasti menyangka mereka adalah keluarga yang sangat berbahagia. Begitu juga dengan Sasuke. Hatinya sangat sakit begitu sebuah fakta terbersit dibenakknya. Ternyata Karin sudah tidak lagi mencintainya. Tapi kenapa ia harus menikah dengan Kakashi. Orang sudah Sasuke anggap sebagai kakaknya sendiri, sebagai pengganti Itachi. Entah bagaimana ia harus menghadapi situasi ini. Situasi yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya. Yang ia harapkan adalah Karin yang setia menunggunya seperti saat ia melanjutkan study diluar negeri. Karin yang menyambutnya dengan senyuman karena selama dua tahun ini ia sudah bekerja dengan keras, sangat keras malah. Tapi melihat Kakashi mengecup kening wanita itu dan melihat keposesifan Kakashi dengan melingkarkan tangannya pada pinggang istrinya, Sasuke merasa bahwa semua yang Ia lakukan sia-sia . Bahkan mereka sudah mempunyai seorang anak yang manis dan mirip dengan ayahnya. Karin sudah bahagia dengan Kakashi sekarang, ya Karin sudah bahagia. Apakah ia harus mengucapkan selamat pada wanita itu?
Sasuke memberanikan diri melihat keluarga bahagia yang sudah mendekat itu. Ia dapat melihat Karin juga terkejut dengan kehadirannya. Karin duduk dengan kaku disamping Kakashi. Suasana canggung tercipta seketika. Hanya terdengar suara Kazuki yang berceloteh dari tadi pada ayahnya.
"Tadi aku beltemu dengan Kiba-jiisan. Kami belmain kuda-kudaan, selu sekali. "
Dapat dilihat oleh mata Kakashi sorot mata penuh rindu dari seorang Uchiha Sasuke pada wanita disampingnya. Karin hanya menundukkan kepalanya tak berani menatap Sasuke. Kakashi hanya tertawa geli.. Ini sudah cukup, batinnya.
"Benarkah? Oh ya, Kazuki. Perkenalkan, ini adalah Sasuke-jii-chan. " Sasuke mengalihkan pandangannya dari Karin menuju anak manis berambut perak itu. Mencoba tersenyum, tapi tak bisa.
"Salam kenal. Aku Hatake Kazuki, jii-chan."
"Ya, Aku Uchiha Sasuke. Senang bertemu denganmu Kazuki."
"Kazuki. Jii-san ini adalah adik Tou-san. "
"Benalkah?" Sasuke akhirnya bisa bersikap normal, ia tersenyum tipis mendengar penuturan Kakashi.
"Umm. Oh ya, Jiisan ini juga… kekasih Karin baa-san." Sasuke langsung menatap Kakashi menuntut penjelasan. Karin ikut menatap Kakashi. Seolah bertanya apa sebenarnya maksud pra itu dengan semua kelakuan anehnya tadi. Kakashi yang melihat ekspresi kedua insan itu tidak bisa lagi menahan dirinya untuk tidak tertawa.
"HAHAHAHA !" Tawa keras Kakashi membuat Kazuki yang ada dipangkuannya ikut ber goyang. Sepertinya sikecil pun tahu kalau ada yang aneh pada ayahnya. Ia ikut menatap heran ayahnya.
"Maaf maaf. Baiklah, Sasuke. Aku hanya mengerjaimu. Kau pasti mengira Karin adalah istriku kan? Hahaha. Kalian berdua lucu sekali. "
"A-apa?" Ucap Sasuke dan Karin berbarengan. Mereka saling melihat satu sama lain, namun sedetik kemudian mereka membuang muka karena malu. Mau tak mau Kakashi kembali tertawa.
"Sasuke, aku memang sudah menikah. Tapi bukan dengan Karin melainkan dengan Ino."
"Yamanaka?"
Kakashi menganggukkan kepalanya.
"Kekasih itu apa Tou-chan?" tiba-tiba pertanyaan polos terlontar dari Kazuki.
"Kekasih itu ya seperti Tou-san dan Kaa-san."
"Hmmm?" sepertinya Kazuki tidak mengerti maksud dari sang ayah.
"Baiklah. Kami pergi dulu. Kalian pasti ingin punya waktu berdua kan?" perkataan Kakashi membuat Karin menatapnya tajam.
"Karin sayang. Maafkan nii-sanmu yang tampan ini ya… Aku hanya ingin sedikit mengerjai kalian. Hahaha." Kakashi mengelus bahu Karin. "Kami pergi dulu. Terimakasih karena sudah menjaga Kazuki, Karin."
"Sama-sama, nii-san."
.
.
.
Suasana kembali menjadi canggung setelah kepergian ayah dan anak itu. Tidak ada yang berani membuka pembicaraan, Karin melihat kearah kaca yang menampilkan pemandangan jalanan Konoha, sementara pandangan Sasuke tak berpindah dari cangkir kopinya yang sudah hampir habis. Sudah hampir dua puluh menit keadaan tersebut berlangsung.
"Emm—" /"Kar—" Bersamaan keduanya mengeluarkan suara.
"Kau duluan." Kali ini Sasuke yang berbicara.
"Tidak, kau saja yang duluan." Ucap gadis Uzumaki.
"Kau saja."
"Tidak, kau saja."
"Ladies first. Tidak pernah dengar?"
"Tidak."
"Tidak berubah sama sekali." Sasuke tersenyum tipis, kini mereka saling mellihat satu sama lain.
"Apanya?" tanya Karin.
"Keras kepala."
"Kau hanya ingin mengucapkan itu?" Karin terlihat kesal.
"Hn?" Sasuke mengangkat sebelah alisnya.
"Hanya ingin mengatakan bahwa aku masih keras kepala? Ck!" Kemudian Karin mengambil tasnya dan berdiri meninggalkan Sasuke dengan wajah cengonya. Namun kemudian ia sadar dan bergegas menyusul Karin yang sudah mendekati pintu keluar.
"Hei. Tunggu." Sasuke mempercepat langkahnya melihat Karin yang sudah keluar dari café itu. Namun panggilannya tidak digubris oleh gadis itu. Sesampainya diparkiran akhirnya Sasuke dapat menarik tangan Karin dan menyeretnya menuju mobil hitam miliknya yang berada diantara mobil yang terparkir disana. Sedikit gerakan memaksa karena gadis itu terus berusaha melepaskan tangannya dari cengkeraman tangan Sasuke. Ia pun membukakan pintu dan memaksa gadis itu untuk masuk. Setelah itu ia pun masuk kebangku kemudi. Ia dapat melihat Karin memegangi pergelangan tangannya yang mungkin terasa sakit akibat perbuatan Sasuke tadi.
"Apakah sakit? Maafkan aku." Tidak ada sahutan. Sasuke pun menghela nafas dan memasukkan kunci mobilnya untuk kemudian menyalakan mesin dan meninggalkan tempat itu.
Mobil hitam itu berjalan menyusuri jalanan Konoha. Tidak ada pembicaraan yang terjadi didalamnya. Sasuke berkonsentrasi menyetir sedangkan Karin masih setia melihat pemandangan yang tersaji dari kaca mobil Sasuke.
Karin sedikit terkejut ketika mobil milik Sasuke itu memasuki pekarangan rumah pemuda itu. Ia melirik pemuda disampingnya itu, namun pandangan Sasuke fokus pada kemudinya.
Mobil pun berhenti. Sasuke membuka sabuk pengamannya.
"Kenapa membawaku kemari?" tanya gadis itu. Kali ini giliran Sasuke yang tidak menyahut. Ia keluar dan membuka pintu disamping Karin dan menarik tangan gadis itu keluar.
"Lepaskan, Sasuke. Kau membuat tanganku sakit." Perkataan gadis itu tak dipedulikan oleh Sasuke. Ia membawa Karin memasuki rumahnya. Para pelayan yang sudah lama tidak melihat pasangan ini hanya tersenyum melihat mereka. Sasuke membawa Karin menaiki tangga menuju kamarnya. Karin tidak melihat keberadaan Fugaku. Sesampainya didalam kamar Sasuke, barulah pemuda itu melepaskan tangannya. Karin menatap tajam Sasuke. Pemuda itu malah menyeringai.
"Kenapa melihatku seperti itu?" tanya pemuda itu. Karin tidak menjawabnya melainkan hanya merubah arah pandangannya, tidak lagi menatap Sasuke. Melainkan menundukkan kepalanya.
"Karin…" Masih tidak ada sahutan dari gadis itu. Tentu saja itu mengundang emosi Sasuke. Pemuda Uchiha itu mengangkat dagu Karin ingin melihat wajah gadis yang dicintainya itu.
"Ka-karin. Ka-kau menangis?" Kini pria itu memegang kedua sisi wajah Karin. Dapat dilihatnya pipi gadis itu basah oleh air mata.
"Maafkan aku. Aku menyakitimu ya? Maafkan aku." Ucap Sasuke menghapus airmata Karin dengan kedua ibu jarinya. Karin menggelengkan kepalanya. Sasuke pun menarik gadis itu kedalam pelukannya. Karin menangis sesenggukkan dalam dekapan Sasuke. Tidak ada yang dapat dilakukan Sasuke selain mengelus helai merah maroon milik Karin sambil membisikkan kata-kata yang menenangkan gadis itu.
Setelah kira-kira lima belas menit, Karin sudah menjadi lebih tenang. Sasuke mendudukkan gadis itu di tepi ranjangnya, kemudian Sasuke duduk berlutut didepan Karin.
"Jangan melihatku seperti itu." Akhirnya Karin membuka suara. Nada ketus gadis itu membuat Sasuke mengangkat sudut bibirnya.
"Kenapa menangis?" tanya Sasuke.
"Aku tidak tahu!" jawab Karin dengan nada ketus.
"Tadi menangis, sekarang marah. Aku tidak mengerti, kau tahu."
Karin merengut kesal. Membuat Sasuke semakin tidak mengerti.
"Kau ini kena—"
"Sudah satu jam sejak pertemuan kita. Tapi kau bahkan tidak mengatakan kalau kau merindukanku. Dasar bodoh! Uchiha sialan! Aku membencimu! " Karin memukuli bahu pemuda yang ada didepannya itu. Sasuke menahan kedua tangan Karin yang memukuli bahunya.
"Benar kau membenciku?" ucap pemuda itu menatap intens Karin.
"Ya. Aku membencimu! Aku ben—" Karin tidak sanggup lagi melanjutkan kata-katanya karena Sasuke sudah menindihnya diatas tempat tidur. Kedua tangannya ditahan oleh Sasuke disamping kepala gadis itu. Wajah mereka kini hanya berjarak tak sampai lima senti. Tanpa diperintah wajah Karin langsung memerah ketika mata onyx milik Sasuke menatapnya intens. Karena tak tahan ditatap seperti itu, Karin mengalihkan fokusnya kesamping. Jantungnya sudah tak bisa dikontrol lagi detakannya. Tapi walau bagaimanapun ia sangat merindukan pemuda ini. Merindukan wajah yang entah kenapa bertambah tampan dan maskulin. Ingin sekali rasanya ia meraba wajah yang sangat dirindukannya itu.
"Sekali lagi kau katakan kalau kau membenciku, maka—"
"Maka apa?" Entah keberanian dan kekuatan dari mana kini Karin membalikkan keadaan. Ia menindih Sasuke dan meletakkan kedua tangannya pada bahu pemuda itu. Sasuke menyeringai.
"Dua tahun tak bertemu, kau menjadi sangat agresif,eh?"
"Mungkin ini efek karena aku sangat merindukanmu, Sasuke." Sasuke hanya bisa membelalakkan matanya merasakan Karin mencium bibirnya. Ciuman yang sarat akan emosi mendalam dan seolah membuat Sasuke mengerti betapa gadis ini sangat merindukannya. Karena iapun merasakan hal yang sama, ia membalas setiap lumatan dari gadis itu. Keduanya melampiaskan rasa rindu mereka dalam ciuman yang semakin panas itu. Seolah mendengar sirine dari paru-paru mereka yang membutuhkan oksigen, kedua insan itu melepaskan tautan bibir mereka.
"Hah.. hah.." hanya deru nafas mereka yang terdengar. Kemudian Karin membaringkan diri disamping Sasuke, tidak menindihnya lagi. Sasuke lalu berbaring menyamping, meletakkan tangannya sebagai penyangga.
"Ternyata kau sangat merindukanku, Karin."
"Aku memang merindukanmu, tapi sepertinya kau yang lebih merindukanku, Sasuke." Karin mengikuti gerakan Sasuke sehingga mereka kembali saling menatap. Sasuke tersenyum dan menarik Karin kepelukannya, menyandarkan gadis itu pada dada bidangnya. Karin pun membalasnya dan melingkarkan tangannya pada pinggang Sasuke erat.
"Maaf, membuatmu menunggu lebih lama." Sasuke mengecup lembut pelipis gadis dalam pelukannya
"Hmm. Aku juga minta maaf karena langsung pergi saat itu, Sasuke."
Sasuke tiba-tiba melepaskan pelukannya lalu berdiri dan berjalan menuju nakas. Membuka lacinya dan mengeluarkan sesuatu. Karin pun kembali duduk dan melihat Sasuke heran.
"Apa yang…"
"Aku tidak akan menundanya lagi, Karin."
"Eh?" Karin menatap heran Sauke yang kembali berlutut didepannya.
"Karin nee-san." Karin hampir saja tertawa mendengar Sasuke memanggilnya dengan embel-embel nee-san. Kalau dipikir-pikir, ini adalah pertama kalinya Sasuke memanggilnya dengan sapaan hormat begitu. Namun seketika aksinya terhenti melihat Sasuke mengeluarkan sebuah cincin dengan lambang Uchiha diatasnya.
"Daisuke Nee-san. Ah tidak. Ini bukan lagi rasa suka anak SMA kepada seorang mahasiswi. Sekarang adalah rasa cinta yang besar dari seorang pria kepada wanita yang dicintainya. Jadi… Aishiteru Karin. "
Karin hanya bisa menutup mulutnya dengan telapak tangannya untuk menahan airmata yang mendesak ingin keluar.
" Dan kau harus menikah denganku. Secepatnya." Sasuke menarik tangan Karin dan memasangkan cincin itu pada jari manisnya. Kemudian mencium punggung tangan yang sudah berhiaskan cincin kebanggaan keluarganya itu.
"Lamaran macam apa itu?"
"Hn?"
"Seharusnya kau menanyakan apakah aku mau menikahimu atau tidak. Bukannya malah memerintahku seperti itu." Karin merengut kesal sambil mempoutkan bibirnya membuat Sasuke gemas.
"Kau ingat kalau kau belum menyerahkan surat pengunduran diri saat pergi dulu?"
"Y-ya. I-itu."
"Kau itu masih karyawanku dan aku masih atasanmu. Jadi…aku berhak memerintahmu."
"Ap—"
Cuup. Sasuke mencium bibir Karin sekilas.
"Kita menikah dua hari lagi."
"APA?!"
FIN
Akhirnya selesai juga !
Apaan nih? Maksa banget endingnya!
Hahaha. Namanya juga Yana, semuanya serba maksa.
Terimakasih untuk semua dukungannya selama ini.
Yana Kim.
.
.
.
