Chapter 2: Kasamatsu Yukio – Nervous
.
.
Lima belas menit telah berlalu semenjak Yamanaka Ino duduk terdiam di salah satu bangku "Minnie Cafe", kafe langganannya. Jemari lentiknya sibuk memainkan smartphone ber-casing "Hello Kitty" warna pink miliknya. Tampak jelas raut wajahnya menunjukkan bahwa ia tidak menikmati apa yang dilakukannya saat ini. Ya, ponsel tersebut sesungguhnya hanyalah alat pengalih kesepian belaka.
Sebenarnya, Ino tidak tengah sendirian, melainkan bersama kekasihnya, Kasamatsu Yukio. Lalu, kenapa mereka tidak berbicara layaknya sepasang kekasih normal yang sedang berkencan? Kenapa mereka sibuk dengan ponsel mereka masing-masing? Apakah mereka sedang bertengkar? Mungkin pertanyaan-pertanyaan itu akan terlintas di benak pelayan dan beberapa pelanggan kafe yang duduk di sekitar mereka.
Alasan Ino dan Yukio tidak berbicara bukan karena mereka sedang bertengkar atau apa, melainkan karena ada suatu alasan khusus yang menciptakan pemandangan awkward di antara mereka. Penyebab utamanya adalah karena Yukio sangat buruk sekali dalam masalah pergaulan dengan lawan jenisnya. Ia merasa gugup jika sedang berhadapan langsung dengan perempuan, termasuk kekasihnya sendiri. Sedangkan Ino, ia memiliki alasan tersendiri mengapa ia tidak berbicara sepatah kata pun. Alasannya tak lain adalah karena ia menginginkan Yukio dapat membuka percakapan saat mereka tengah berdua. Dengan kata lain, ia ingin membuat Yukio menghilangkan rasa gugupnya ketika mereka bersama.
Ini bukanlah kali pertama mereka berkencan. Sejak Ino dan Yukio menjadi sepasang kekasih, mereka telah beberapa kali jalan berdua atau makan bersama seperti yang tengah mereka lakukan saat ini. Selama itu, Ino selalu menjadi orang pertama yang membuka percakapan dan memilih tema untuk hal-hal yang akan mereka bicarakan. Sedangkan Yukio, selama itu pula ia hanya menjadi pendengar yang baik atau sesekali menjawab jika Ino bertanya menyangkut dirinya. Karena perihal itu lah Ino memutuskan untuk "mengajari" Yukio demi kelanjutan hubungan mereka. Ia teringat saat-saat di mana Yukio mengungkapkan perasaannya pada Ino sekitar sebulan yang lalu. Saat itu, entah mendapatkan kekuatan dari mana, Yukio berani menyatakan cinta dan meminta Ino menjadi kekasihnya. Ino ingin kejadian romantis seperti waktu itu terulang kembali.
Hampir dua puluh menit berlalu, tampaknya masih belum ada reaksi positif dari pria beralis tebal dan bermata biru itu. Ino mendesah. Ia berhenti mengutak-atik ponselnya. Ditariknya napas dalam-dalam, lalu dikeluarkannya dalam satu sentakan. Sepertinya Ino kini telah lelah dan menyerah.
"Percuma aku melakukan ini. Sepertinya kau tidak akan pernah bisa berubah. Tapi, aku masih tetap heran kenapa kau bisa selemah ini berhadapan denganku. Sedangkan untuk memimpin para pria berotot di tim basketmu, kau tidak bermasalah sama sekali."
Ino masih tidak mendapatkan reaksi positif dari pemuda berambut hitam jabrik di hadapannya itu, meskipun ia telah melontarkan kalimat sindiran untuk pemuda itu dalam satu tarikan napas. Yukio memang telah berhenti memainkan ponselnya, tetapi pandangan pemuda itu masih belum beralih menghadap Ino. Malah, tatapan Yukio beralih ke arah jejalanan melalui kaca jendela kafe.
Ino semakin gusar. Ia semakin merasa terabaikan. Karena itu, ia memutuskan untuk menanyakan pertanyaan yang selama ini berusaha untuk tidak dilontarkannya. "Yukio-kun, apa kau benar-benar serius dengan hubungan kita ini?"
Pertanyaan yang terdengar serius dari bibir gadis berparas cantik itu akhirnya mengalihkan perhatian Yukio. Ia menatap mata aquamare kekasihnya itu lekat-lekat, lalu ia merendahkan pandangannya. "Aku tidak tahu."
Cukup! Kesabaran Ino kini telah mencapai batas. Refleks, ia berdiri dari kursinya dan menumpahkan segala perasaannya. "Kalau kau tidak serius, kenapa kau memintaku menjadi pacarmu? Apakah kau hanya mengincar status berpacaran saja?"
Waktu seakan-akan berhenti berputar di tempat itu. Hening, semua orang yang berada di kafe tiba-tiba saja berhenti melakukan aktivitas. Semua mata tertuju ke arah Ino akibat nada bicaranya tadi sedikit di atas intensitas normal. Ino merasa malu. Ia kembali duduk di atas kursinya sembari menjatuhkan mukanya ke atas tangkupan lengannya di atas meja. Tiba-tiba, Ino merasa sebuah telapak tangan berkeringat dingin menyentuh pergelangan tangan kanannya. Tentu saja hal itu membuat Ino merasa kaget. Sehingga, ia pun mendongakkan kepalanya.
"Aku... aku tidak tahu harus mengatakan apa. Aku tidak tahu harus melakukan apa. Sebelum ini, aku tidak pernah bergaul dengan anak perempuan sebayaku. Aku tidak pernah memiliki hubungan spesial dengan gadis mana pun. Itu karena aku merasa gugup saat berhadapan dengan wanita. Tapi... kini aku telah memiliki dirimu. Aku ingin kau membantuku agar aku tidak gugup lagi berhadapan dengan seorang gadis, terutama dirimu."
Baru kali ini Ino mendengar Yukio berkata dengan nada yang sangat serius ke padanya, membuat muka Ino yang tadinya masih merah padam karena malu semakin memerah. Ino merasakan telapak tangan Yukio kini berpindah menggenggam telapak tangannya.
"Aku akan berusaha membuatmu bahagia."
Satu kalimat lagi yang sukses membuat Ino serangan jantung kembali meluncur dengan indah dari bibir mantan kapten tim basket SMA Kaijo itu. Ino semakin malu. Untung saja para pelayan dan pengunjung kafe lainnya telah kembali sibuk dengan urusan mereka masing-masing.
"Sampai saat itu tiba, kumohon, bantulah aku."
Ino tak kuasa lagi mendengar kalimat-kalimat tulus dari pemuda itu. Tanpa pikir panjang, ia mengangguk, lalu membalas genggaman Yukio dengan kedua telapak tangannya. Ia juga berusaha memberikan senyuman terbaiknya untuk mengungkapkan perasaannya kini.
Saat kata terucap, saat perasaan terungkap, itu tentu lebih baik dari pada hanya berdiam diri, bukan?
.
.
TBC
.
.
Undian jatuh atas nama Kasamatsu Yukio, meskipun sebenarnya saya lebih berharap mendapatkan Imayoshi atau Izuki. Namun, untung saya teringat bahwa Kasamatsu itu sangat kikuk kalau berhadapan dengan cewek. Maka, jadilah chapter 2 ini. Maaf sekali jika feel -nya kurang dapat. :(
Next chapter kira-kira siapa ya?
