Chapter 4: Hanamiya Makoto – Sly
.
.
Yamanaka Ino menatap tak percaya pada secarik kertas yang ada di hadapannya. Jemarinya yang memegang kertas itu bergetar. Matanya berkaca-kaca melihat angka "0" untuk nilai ulangan fisika-nya. Ia tak habis pikir bagaimana bisa tidak ada jawaban "benar" yang ia peroleh dari lima puluh soal yang ada. Padahal, ia yakin seratus persen dengan jawabannya. Lalu, kenapa ia bisa mendapatkan nilai "0"? Apakah Hatake-sensei yang salah mengoreksi lembar jawabannya?
Sebelum Ino melayangkan protes kepada guru yang masih membagikan hasil ulangan minggu lalu itu, seseorang berbisik di telinganya.
"Bagaimana rasanya mendapatkan nilai '0', hm? Kau pasti menyukainya, kan?"
Ino tak perlu melirik ke arah belakangnya untuk mengetahui siapa pemilik suara tersebut. Tentu saja pemilik suara itu adalah Hanamiya Makoto, pemuda genius namun terkenal dengan sifatnya yang buruk.
"Kupastikan kau akan mendapatkan hasil yang sama untuk ulangan bahasa Inggris-mu."
Ino membelalakkan mata, terkejut mendengar perkataan pemuda itu. Jangan-jangan, semua ini adalah ulah Makoto. Ino tak habis pikir kenapa pemuda itu tega melakukan hal keji pada dirinya. Memang, beberapa hari yang lalu, Ino sempat mendeklarasikan bahwa dirinya akan mendapatkan peringkat pertama di kelas. Ia bertekad untuk mengalahkan Makoto yang biasanya selalu mendapatkan peringkat pertama se-angkatan di semester-semester sebelumnya. Sedangkan Ino, ia selalu berada di peringkat dua atau tiga.
Ino menggigit bibir bawahnya, menahan segala bentuk emosi yang terekspresi pada wajahnya. "Kenapa?"
Terdengar pemuda di belakangnya itu mendengus. Ino yakin bahwa pemuda itu kini tengah menyeringai licik. "Kau bertanya 'kenapa'? Tentu saja menghancurkan lawan adalah sesuatu yang menyenangkan. Kurasa kau adalah lawan yang pantas dihancurkan seperti ini."
Sial! Pemuda itu benar-benar brengsek! Andai saja tidak ada guru di depan kelas, Ino pasti sudah berbalik ke belakang untuk mendaratkan kepalan tangannya tepat di batang hidung pemuda brengsek itu. Namun, kenyataan saat ini hanya bisa membuat Ino menggeram.
"Tunggu saja pembalasanku, Hanamiya!"
.
.
"Beraninya kau... awas kau, ya!"
Ino mengacungkan sumpit makanan tepat ke arah muka pemuda beralis tebal di hadapannya, sedangkan si pemuda hanya menyeringai penuh kemenangan. Pemuda itu baru saja menghabiskan bento yang sudah Ino persiapkan untuk makan siangnya.
"Heh! Bukannya bento itu kau siapkan untuk kekasihmu ini?" pemuda itu membela diri. Kepalanya ia sandarkan di kedua lengannya yang terlipat di sandaran bangku kelas.
"Aku tidak pernah bilang begitu. Sebelum mencuri, kau bisa lihat sendiri di dalam tasku hanya ada satu bento. Itu artinya aku hanya menyiapkan bento untuk diriku sendiri."
Ino masih berkacak pinggang. Lengannya terlipat di dada. Pacarnya itu memang keterlaluan. Ia tak habis pikir bagaimana bisa ia terjerat oleh jaring laba-laba cinta seorang Hanamiya Makoto.
Pasca insiden nilai '0' untuk ulangan fisika dan bahasa Inggris akibat ulah licik Makoto sebulan yang lalu, Ino kemudian membalas perbuatan pemuda itu dengan balasan yang sama. Ia mencuri lembar ujian matematika Makoto di kantor guru dan menggantikannya dengan lembar jawaban yang telah ia persiapkan sebelumnya dengan jawaban yang seratus persen salah. Akibatnya, Makoto mendapatkan nilai "0" untuk mata pelajaran matematika-nya. Setelah itu, Ino melapor ke guru BK tentang perbuatan licik Makoto terhadap dirinya sekaligus pembalasan yang ia lakukan. Hal itu menyebabkan Makoto dan dirinya mendapatkan skorsing selama satu minggu sebagai hukuman atas perbuatan mereka.
Bagi Ino, hukuman tersebut bukanlah masalah besar, yang penting ia dan Makoto kini imbas. Sebaliknya, bagi Makoto, hukuman tersebut justru berpengaruh besar terhadap dirinya yang merupakan kapten sekaligus pelatih tim basket SMA Kirisaki Daichi. Tentu saja karena skorsing itu membuatnya tidak bisa mengikuti latihan persiapan interhigh yang akan dilaksanakan bulan depan. Hal itu lah yang membuat Makoto semakin ingin menghancurkan Ino.
Selama masa skorsing, Makoto terus mengirimkan email berisi ancaman kepada gadis pirang itu. Ino tentu saja membalas email Makoto dengan ancaman yang tidak kalah hebatnya. Namun, entah bagaimana bisa email yang semula penuh dengan ancaman dan hujatan, tiba-tiba isinya beralih menjadi gombalan yang berujung pada terbentuknya perasaan suka antardua insan tersebut. Akhirnya, selepas masa skorsing, keduanya saling berhadapan satu sama lain dan menjadi lebih akrab. Bahkan, minggu lalu, Ino dan Makoto memutuskan untuk menjadi pasangan kekasih.
Melihat Ino masih memayunkan bibir, Makoto mendesah. Ia berdiri dari tempat duduknya, kemudian mengulurkan lengan kanannya. "Ayo!"
Ino yang masih tak mengerti maksud Makoto hanya dapat mengerutkan dahi sambil beberapa kali mengejapkan mata.
Melihat reaksi Ino, Makoto memutar bola matanya sambil berdecak. "Aku akan mengganti bento-mu dengan makanan yang ada di kantin. Kau mau apa tidak?"
Ino tersenyum lebar. Hal itu tentu saja karena ia tak habis pikir bagaimana bisa seorang Hanamiya Makoto mau bertanggung jawab atas perbuatannya. Akibatnya, mood Ino untuk bercanda tiba-tiba saja muncul.
"Pastikan kau membawa banyak uang karena aku tidak akan tanggung-tanggung menghabiskan semua makanan di kantin."
"Bodoh, memangnya berapa isi perutmu?"
Kemudian, keduanya tertawa sebelum meninggalkan ruangan kelas.
.
.
FIN
.
.
Hanamiya Makoto selesai! Tinggal 5 karakter lagi. Maaf, sebenarnya point guard di Kuroko tidak hanya sembilan orang. Namun, selain sembilan orang yang saya sebutkan di chapter sebelumnya, peran mereka di animanga minim sekali, sehingga profil mereka juga tidak lengkap. Jadi, sekiranya ada PG favorit readers yang tidak saya buat fic-nya, mohon dimaklumi. :)
