Chapter 5: Furihata Kōki – Kindhearted
.
.
Furihata Kōki berlari kecil di tengah sesaknya para pengunjung festival Kembang Api. Dengan susah payah, ia menyela di antara para pejalan kaki lain. Napasnya tersengal-sengal di antara himpitan pengunjung yang dilewatinya. Panas dan letih, itulah yang ia rasakan. Namun, ia sungguh tidak peduli. Yang terpenting adalah ia tidak kehilangan jejak gadis yang berjalan mendahuluinya.
"Ino-san, tunggu!"
Kōki menyahut setelah ia berhasil keluar dari kerumunan orang-orang yang sedari tadi menghimpit jalannya. Ia kemudian memaksakan senyum ke arah gadis yang kini berdiri beberapa meter dari tempatnya. Gadis itu terlihat membalas senyumannya, kemudian ia berbalik untuk kembali melanjutkan langkah anggunnya di balik yukata bernuansa merah yang ia kenakan.
Dengan lengan yang berusaha menggapai ke depan, Kōki kembali memaksakan kakinya untuk berlari kecil, mengejar gadis pirang bernama Yamanaka Ino itu. Namun, tiba-tiba saja Kōki kehilangan keseimbangannya yang membuatnya tersungkur di atas tanah yang lembap.
"Tunggu ..."
Ino berbalik saat mendengar suara Kōki yang menahan rasa sakit tersebut. Didapatinya pemuda tersebut kini terduduk sambil membersihkan debu dari celana tiga perempatnya. Ino segera menghampiri pemuda itu, mengulurkan sebelah lengan untuk membantu pemuda itu berdiri.
"Kau tidak apa-apa?" tanya gadis itu lembut.
Dengan cepat, Kōki menggeleng. "Aku tidak apa-apa," katanya. Ia memaksakan seulas senyum, lalu menyambut uluran tangan gadis itu untuk segera berdiri.
Ino membalas senyum pemuda itu. Sungguh, senyuman manis itu membuat lelah yang dirasakan oleh Kōki lenyap seketika. "Maafkan aku, tapi kembang apinya akan segera dinyalakan. Kita harus cepat ke tempat yang tinggi."
Kōki mengangguk. Ia meraih lengan kekasihnya itu, lalu berjalan bersama menuju sebuah bangunan di hadapan mereka.
.
.
"Huh ..."
Kōki menghela napas ketika kakinya menapaki anak tangga terakhir. Ia segera mendekati Ino yang terlebih dahulu berdiri di pagar pembatas atap gedung. Gadis itu tampak tersenyum kepadanya.
"Kau tidak apa-apa?" tanya gadis berambut pirang yang disanggul rapi itu.
Kōki hanya membalasnya dengan senyuman, lalu ia mengalihkan pandangannya dari gadis yang berdiri di sampingnya itu. "Syukurlah, kembang apinya masih belum dinyalakan. Kupikir aku akan membuat kita terlambat."
Ino menatap kekasihnya yang kini tengah menghadap ke langit kelam di hadapannya. Melihat wajah Kōki yang begitu damai, ia tidak bisa menahan dirinya untuk kembali tersenyum. "Kau telah mengikuti semua keinginanku malam ini. Kau menemaniku menaiki semua antraksi, membelikanku es krim, berusaha mendapatkan hadiah untukku, dan kini menemaniku untuk melihat kembang api dari sini. Aku benar-benar berterima kasih sekaligus meminta maaf karena telah merepotkanmu."
Mendengar penuturan gadis itu, Kōki spontan mengalihkan pandangannya. Wajah polosnya bersemu merah. Ia tidak tahu harus bagaimana membalas perkataan kekasihnya. "A-asalkan membuat Ino-san senang, semuanya bukan masalah bagiku."
Kali ini, giliran wajah Ino yang bersemu. Ia memperlebar senyumannya. Matanya menyipit. "Kau benar-benar baik."
Kini, perasaan Kōki menjadi tak menentu. Ia menggaruk pipinya yang tidak gatal. "Justru Ino-san lah yang terlalu baik karena mau menerima orang lemah sepertiku."
Senyuman Ino kini berubah menjadi cengiran. "Heh? Begitukah? Kupikir kau akan mengataiku sebagai gadis egois yang tak berperasaan."
Kōki buru-buru menggeleng dengan wajah cemas. "Ti-tidak! Itu tidak benar. Aku tidak pernah berpikir seperti itu."
Melihat reaksi kekasihnya yang bisa dikatakan agak berlebihan, Ino tertawa kecil. Tiba-tiba saja, sebuah ide terlintas di benaknya. "Aku hanya bercanda. Nee, bisakah kau menutup mata?"
Kōki menaikkan alis, tetapi ia tidak menunda waktu untuk segera melakukan apa yang diminta oleh kekasihnya. Ia menutup mata sembari memikirkan apa yang akan dilakukan oleh Ino.
Ino sendiri tampak berpikir setelah kekasihnya itu menutup mata. Ia jadi urung untuk melakukan niat, memberikan ciuman pertamanya kepada pemuda berambut cokelat itu. Namun, ia menyadari bahwa ia sudah tidak bisa menarik niatnya kembali. Perlahan, ia berjinjit untuk memperkecil jarak wajahnya dengan Kōki. Semakin lama, jarak mereka semakin mengecil. Bahkan, kini mereka bisa merasakan hembusan napas masing-masing yang saling menggelitik kulit mereka.
Ketika Ino sudah akan meraih bibir Kōki, kembang api meletus. Langit malam kini diisi oleh corak-corak api berwarna-warni. Ino segera menarik diri, sementara Kōki juga telah membuka matanya kembali. Detik itu juga, mereka terdiam. Pandangan mereka kini terfokus pada kembang api yang saling bersahutan. Baik Ino maupun Kōki, keduanya tidak berani bersuara. Wajah mereka terasa terbakar di bawah kilatan langit bercahaya. Ino benar-benar tidak bisa memaafkan hal yang telah akan ia lakukan tadi.
Sementara itu, Kōki yang mengetahui hal apa yang akan dilakukan oleh Ino kepadanya tadi—tentu saja karena deru napas Ino yang menyapu wajahnya—menjadi semakin gugup. Namun, Kōki akhirnya mengambil inisiatif untuk menghilangkan kecanggungan di antara mereka. Ia meraih lengan Ino dan menggenggamnya. Semula, gadis itu tampak terkejut, tetapi kemudian ia mulai menikmatinya. Lalu, di tengah riuh suara petasan, Kōki bergumam pelan. "Aku menyukaimu, Ino-san."
Perasaan Ino semakin tak terkendali saat mendengar pengakuan Kōki. Ia menyandarkan kepalanya di pundak kekasihnya itu dan mengucapkan kalimat yang sama, "Aku juga menyukaimu, Furihata-kun."
.
.
FIN
.
Jreeeeng ... tadaima!
Setelah lama menghilang dari FFn karena dilingkupi oleh segala macam jenis ujian (UTS, Ujian Blok, Ujian SL, dll), akhirnya saya bisa kembali berimajinasi liar. Yuhuu ... terimalah chapter yang paling gagal ini sebagai persembahan saya. T_T
Sebenarnya bukan begini FurIno keinginan saya. Saya mendambakan sebuah drabble yang penuh fluffy. Entah apa yang terjadi, fic ini menjadi semacam drama panggung ala-ala tugas SMP. :(
Semoga readers tidak jera mengikuti fanfic ini.
Next chapter: Shun Izuki
Yeah! Tinggal 4 chapter lagi! ^_^
