Those Nostalgic Memories © Kamiya Chizuru
Knb © Fujimaki Tadatoshi
Dan semua Anime yang di sebutkan adalah milik pengarangnya, bukan saya.
Aomine x Kagami. AU. OOC.
.
Part Two
.
Kagami jatuh terduduk, dia sudah melakukan hal yang sangat memalukan. Kini ia hanya bisa berdoa Aomine tidak jijik padanya dan tetap bersikap seperti biasa.
"Doushi yo…"
Duk duk duk
Kagami membenturkan kepalanya berkali-kali ke lantai.
Suara kamar mandi terbuka, tidak ada kata-kata yang keluar dari mulut keduanya sampai masakan terhidang di meja. Kagami mempersilahkan Aomine, ia mengambilkan semangkuk nasi. Di hadapan mereka ada banyak macam-macam makanan. Bisa tercium dari bau dan visualnya, makanan ini termasuk standart masakan restoran mahal sekalipun.
Aomine tersenyum karena pikirannya begitu memuji kesan pertama masakan Kagami yang bahkan belum menyentuh lidahnya.
"Aomine-san."
"Hm? Oh. Ummai.." Aomine mengunyah dengan khidmat.
"Gomen, tadi aku… aku tidak tahu sampai berbicara hal yang memalukan seperti itu."
"Tidak usah di pikirkan, Kagami. Anggap saja tidak pernah terjadi." Aomine sadar kalau Kagami merasa sangat tidak enak hati. "Aku akan menyimpannya dalam memori joke."
Kagami menghela nafas lega. Itu artinya Aomine tidak menganggapnya menjijikan, kan?
Hampir tengah malam, badai di luar masih bernyanyi di samping hujan. Gemertak kaca jendela begitu mengganggu. Kagami mungkin sudah terlelap di kamarnya, dan Aomine masih belum bisa memejamkan mata. Ia tidur beralaskan futon di ruang tamu.
Ruangan itu gelap dan hanya ada sinar kilat yang terlihat di balik tirai. Suaranya memang tidak sampai membuat jantungan, tapi bagi Aomine yang tidak tidur di kamarnya sendiri hal itu sangat menganggu. Ia tidak hidup dengan damai hari ini, selalu sial. Apa harus ia ikut kebiasaan Midorima membaca ramalan di pagi hari? Ck, bangun pukul enam bukanlah hal yang mudah Aomine lakukan.
.
Kagami tidur membelakangi tembok, selimutnya turun sampai di mata kaki. Dia memakai baju yang normal ketika tidur, tidak telanjang. Aomine melihat pose Kagami yang biasa saja, tapi seperti bukan kali pertama ia memandang orang yang sama dengan posisi familiar di ingatannya. Mungkin ia pernah melihatnya di anime atau drama? Bisa saja.
Aomine mendekat, merebahkan tubuhnya di samping Kagami. Kepalanya tepat di depan dada Kagami, tangan dan kakinya jatuh begitu saja menindih Kagami, rasanya ingin memeluk.
"Ngh.." di dalam mimpinya Kagami merasa di tiban macan hitam.
"Oyasumi.."
Kagami mencium sesuatu yang segar, shampoo miliknya sendiri. Wangi dan menenangkan, tubuhnya terasa hangat. Ada sesuatu di depan tubuhnya semakin menjatuhkannya kedalam mimpi yang damai, balas memeluk.
.
OxO
.
Kise Ryouta tidak menyangka bisa bertemu dengannya di sini. Sejak anime Gekkan Shoujo Nozaki-kun selesai recording, ia memang jarang melihat perempuan yang menjadi tipe ideal untuk di jadikan pacar. Haruka Nanami sedang menunggu Aomine datang dan meminta maaf karena kejadian semalam. Gerak tubuhnya gelisah, takut jika Aomine marah dan tidak lagi ingin menemuinya. Ia mengigit-gigit kuku jempolnya, kebiasaan sejak kecil.
"Harukacchi?"
"Eh? Kise-san?" Kise memancarkan pesona cassanova, dan senyum 1 juta dolar.
"Kau sedang apa?" Nanami terpesona sesaat, Kise Ryouta benar-benar model. Pakaian yang ia kenakan ada baju bermerk keluaran terbaru untuk musim ini.
"Ah eh ah, Apakah Aomine-san sudah datang?"
"Heh? Aominecchi? Belum. Memang kenapa ssu?"
"Eh.. Ettou…"
"Kau bisa menunggu di dalam daripada berdiri di parkiran ssu." Kise membenarkan tas selempangnya yang melorot.
"Aku tidak ingin ada gossip, heheh.." ah benar juga. Mungkin orang-orang di dalam akan berpikiran macam-macam. Apalagi keduanya baik Aomine dan Haruka sedang single, sejauh yang Kise tahu. Aomine adalah tipe orang yang menjaga privasinya dengan baik.
"Ah soukka, ini masih jam setengah delapan. Jam OnB mulai recording jam sepuluh." Haru terlihat bingung, hari ini ia sengaja meliburkan diri demi bertemu Aomine tapi rupanya ia terlalu bersemangat pagi ini.
"Baiklah kalau begitu aku pulang dulu." Ujarnya lesu. Kise jadi tidak tega untuk pulang tanpa hasil. Ia pun menawarkan diri untuk menghubungi Aomine.
.
"Hm?"
Gyut.
"Nh…"
Gyut.
"Mh.."
Matanya mengerjap beberapa kali, otaknya mencoba mengingat-ingat apa kiranya benda yang ada didepan wajahnya. Kenyal, lembut dan hangat. Plus, bisa bersuara menggoda. Ia tidak ingat membeli sesuatu yang aneh semalam-
"Nghh.. Ya-yamette…"
Dan sekarang benda itu bisa bicara?
"Huwaaaa!" dan kini mata itu melotot hampir keluar dari tempatnya. "K-Kagami?" wajah pemuda yang lebih muda itu memerah menyaingi rambutnya sendiri. Hey, apakah tubuhnya sesensitif itu?
"Gomeeeennn!" Aomine berlari keluar kamar dan langsung menutup pintu.
"Kagami! A-ano… a-aku akan berangkat lebih dulu. T-terima kasih sudah mengijinkanku menginap." Kagami tidak menyahut, dia masih dalam keadaan syok dan tidak tahu apa yang harus di lakukan. Hari ini ia tidak ada jadwal take, semuanya sudah ia selesaikan kemarin. Dan mungkin mengurung diri di kamar sesekali juga tidak ada salahnya.
Aomine tergesa-gesa menuju gedung I.G. Kalau saja Kise tidak menghubunginya pasti ia akan langsung pulang.
"Ah, Aominecchi!" Kise melambai dari kejauhan, Aomine menuju Kise dengan langkah cepat.
"Nanami?"
Kise menepuk bahu Aomine dan berpamitan masuk ke dalam terlebih dahulu.
"Aomine-san, aku menyukaimu."
Seandainya Nanami mengatakan hal itu sebelum hari ini mungkin dengan mudah Aomine bisa menjawab, 'Ya.'
Tetapi semuanya terlambat, Aomine menerima perasaan Nanami dan sangat berterima kasih, tapi bagaimana ia bisa berpikir jernih jika sekarang Kagami ada di dalam jangkauan matanya?
Kagami menjatuhkan pandangannya ke tanah. Sebuah dompet berwarna hitam kehilangan genggamannya, jatuh begitu saja tanpa peduli lagi. Kakinya telanjang, memerah dan lecet karena gesekan aspal. Bed hair dan baju yang di pakainya masih bekas semalam. Ia pikir, sekalian mengembalikan dompet juga bisa menjadi alasan untuk minta maaf. Tunggu, memang disini siapa yang salah? Kenapa juga penampilannya sekarang seakan-akan dia adalah orang yang di campakkan?
"Daiki, apa kau mengingatku?"
.
OxO
.
Dua minggu setelah itu Kagami akhirnya menunjukkan batang hidungnya di studio recording OnB. Wajahnya lebih segar dari yang terakhir kali ia ingat. Kuroko menerjang Kagami hingga ia hampir tersungkur, lelaki itu sangat merindukan partner in crime-nya. Koganei dan Sakurai langsung mengkerubungi sosok berambut merah itu, bagai gula yang di incar semut. Aomine sampai tidak bisa lagi mengenali eksistensinya.
Recording di tunda satu jam dikarenakan kesalahan teknis. Kesempatan itu di gunakan para pemain untuk mengobrol. Tetapi ada juga yang ijin untuk pergi sarapan.
Aomine mengalihkan perhatiannya pada Akashi yang tersisihkan, kekasihnya seperti tidak menganggapnya ada. Mereka berdua mengobrol hangat, Aomine menyembunyikan segala kecemasannya di balik tawa. Akashi memang paling bisa mengobrak-abrik mood seorang Aomine dengan cerita-cerita konyol pacarnya atau kelakuan Midorima yang menempel seperti lintah.
"Ne, Kagami pergi kemana kau selama ini?"
"Kagami-kun, mana oleh-olehnya?"
"Jangan-jangan kau menikah diam-diam?"
"Hei, kulitmu lebih gelap."
"Hei sudahlah teman-teman, aku hanya ke tempat saudaraku di Akita." Kagami tertawa.
"Aku tidak mau tahu Kagami-kun, aku minta oleh-oleh darimu."
.
Akashi adalah orang yang terakhir ia lihat hari ini. Selanjutnya ia akan duduk di tempat biasa dan menunggu manajernya menjemput. Aomine mengecek mention akun twitternya, selama dua minggu ini akun aneh yang biasa menyemangatinya hilang entah kemana, tidak ada lagi kalimat-kalimat rancu yang akan ia baca dari pemilik akun itu.
"Aku main basket sendirian." Aomine mendongak, "Mau menemaniku?"
"Aitakatta, Daiki."
Dalam tiga puluh menit, permainan selesai dengan skor 10-25 untuk Kagami.
"Ah, tubuhku rasanya lembek. Aku sudah semakin tua." Aomine begitu kelelahan, merebahkan tubuhnya begitu saja ke lantai lapangan, tidak peduli bila lantainya kotor.
"Aku beli minum sebentar, jangan kemana-mana. Ok?" Aomine menjawab dengan gumaman.
Kagami berjalan menuju konbini yang tidak jauh dari lapangan basket. Tidak jauh dari tempat tujuannya ada sebuah mobil berwarna perak yang tidak asing lagi baginya.
Tidak lama kemudian keluar seorang wanita dan laki-laki yang saling bergandengan tangan.
"Kise? Haruka-san?" Gandengan itu terlepas begitu saja. Haruka nampak terkejut tapi Kise nampak tidak masalah, justru lebih banyak teman-temannya tahu tentang hubungannya itu lebih bagus. Haruka meminta ijin berbicara dengan Kagami sementara Kise masuk lebih dulu membeli sesuatu. Kagami menyambut baik saat Haruka berkata ingin membicarakan suatu hal dengannya.
"Aomine-san…?"
"Dia ada bersamaku, tadi kami bermain basket."
"Ah soukka, anone.. Kagami-san, bolehkah aku meminta tolong padamu?"
.
Kagami membawa dua botol pocari, memberikan satunya untuk Aomine yang duduk sambil bermain bola dengan jari-jarinya.
"Aku cukup lama mengenal Aomine-san. Dan dua minggu yang lalu aku menyatakan perasaanku. Namun dia menolakku."
"Sankyu.." Aomine langsung meminumnya.
"Sepertinya dia membuat jarak denganku setelah mengetahui aku berkencan dengan Ryo –Kise kun, ano.. Kagami-san. boleh kah aku menitipkan dia padamu?"
"Basketmu hebat Kagami, ahaha."
"Tentu saja! Walaupun begini aku kan giat berlatih."
"Jangan tinggalkan dia sendirian, terutama jika malam ataupun gelap. Dia tidak cukup baik dengan kondisi seperti itu. Jujur saja, selama ini aku cemas. Untung kau sudah kembali kesini, aku bisa tenang."
Aomine mengecek ponselnya, manajernya mengiriminya email dan memberitahukan dia sekarang ia terkena macet. Ia menghela nafas, lelah. Setelah memutuskan untuk pulang sendiri tanpa sang manajer, Aomine bangkit dari duduknya.
"Ma, aku pulang duluan. Kagami." Aomine menepuk-nepuk pantatnya menghilangkan debu yang menempel di celana.
"Kau pulang sendiri?"
"Ya begitulah."
"Aku antar." Aomine melihat Kagami s-l-o-w-m-o-t-i-o-n.
"Aku ada ide bagus. Bagaimana kalau kau mampir ke rumahku sebentar?"
"Eh?"
"Aku akan memasak untukmu."
"Kau bisa memasak?"
"Omelet. Kau suka?" Niatnya,Aomine ingin membalas jasa makan malam gratis di rumah Kagami.
"Tidak buruk."
Kagami menggunakan mobilnya. Kali ini ia benar-benar mengantar Aomine pulang ke rumah, dan mendapat bonus sepiring omelet. Ia tidak menyangka jika Aomine punya sisi feminism, tapi bukan berarti ia mengakui jika dia cukup feminism, lagipula banyak koki hebat bergender laki-laki.
Awalnya ia mengira akan canggung setelah lama tidak bertemu, tetapi mereka justru terlihat seperti teman lama yang sudah lama tidak bersapa dan memilih menghabiskan waktu bersama dengan makan malam.
Tidak ada kerjaan, Aomine malah iseng membuka-buka dashboard.
Pluk.
Selembar kartu identitas terjatuh tepat di pangkuan Aomine.
"Wuooaa.. Kartu pelajar?" di dalam selembar kartu itu terpasang foto Kagami berumur belasan tahun, di baliknya tertulis Los Angeles International High School.
"Ah, itu milikku saat SMA." Aomine terdiam, matanya memandangi foto Kagami tanpa berkedip. Kagami sedikit salah tingkah melihat Aomine terlihat begitu penasaran, wajahnya menyeramkan.
"Kau pintar juga ya ternyata. Hahahah." Ekspresinya berubah konyol, tertawa dengan lebar akhirnya mengembalikan benda itu ke tempat semula.
"Ano, apakah kau keberatan jika ikut berkumpul bersama kami, Aomine-san?"
"Hng?" Aomine tidak mengerti apa yang Kagami bicarakan, ia memandangi lawan bicaranya menuntut kalimat penjelasan.
"Eh, Midorima-san dan Kuroko mengajak minum di restoran sushi. Kau mau ikut?"
"Sushi?"
"A-aku akan mengantarmu lebih dulu, jika kau tidak mau ikut." Kagami menginjak rem. Lampu lalu lintas menyala merah.
"Kagami." Aomine menarik kerah Kagami, kedua wajah mereka hanya berjarak dua senti. "Apakah, sebelum ini kita pernah bertemu?" sapphire menatap crimson dengan tajam.
"…"
"…"
"A-APAA?!"
"Ahahahahah, wajahmu lucu sekali Kagami, Bwahahaha." Aomine sudah melepaskan kerah Kagami, ia justru tertawa terpingkal-pingkal sambil memegang perutnya. Menggoda Kagami sangat menyenangkan bagi pria sudah agak tua itu.
"Ck, Aomine-san kau sangat menjengkelkan."
"Bwahahaha warui,, aku suka wajah merahmu, phuahahaha.."
Kagami memalingkan wajahnya menghadap jendela, menyembunyikan wajahnya yang kacau.
"Aku akan ikut denganmu. Lagipula, aku kehabisan stok telur."
.
OxO
.
"Aomine-san?" Midorima baru kembali mengambil jaket di mobilnya ketika melihat Kagami dan Aomine turun hampir bersamaan. Pria hijau dan berkacamata ini tidak ingat kalau ia mengundang Aomine, walaupun ia tidak masalah jika pria itu datang.
"Midorima-san."
"Yo, Midorima."
"Masuklah, semuanya sudah menunggu." Midorima jalan di depan keduanya, menunjukkan jalan dimana meja berpesta mereka.
"Yoo,, Daikiiii…"
"Loh, Dai-chan?"
"Aomine?"
Si cepak berambut biru tua merasa jengkel, kedatangannya seolah-olah iblis yang datang ke sarang malaikat, tidak wajar.
"Satsuki? Sedang apa kau disini?"
"Apa sih Dai-chan, aku kan di undang Midorin." Keduanya sudah berteman 10 tahun terakhir, tidak ada rasa canggung satu sama lain.
"Kau perempuan, pulang sana."
"Bawel."
"Satsuki!"
Midorima sebagai panitia penyelenggara pesta menarik tangan Aomine supaya duduk dan tenang. Ia mengerti jika Aomine khawatir pada satu-satunya perempuan yang ada di sini. Tapi siapa saja berhak ikut dalam pesta ini, akhirnya Aomine lumayan tenang setelah menegak bir kaleng yang tidak jauh dari tangannya.
"Itu milikku, Aomine-san." Kagami gagal menyelamatkan bir miliknya.
"Oh, maaf." Santai, Aomine malah mengambil cumi kering yang tersaji di piring. Ada pocky, keripik kentang, dan cemilan aneka macam. Ia bisa menebak siapa yang membeli jajanan manis sebanyak ini.
Suasana pesta semakin ramai, ada yang berfoto-foto, mencicipi segala makanan, dan menggosipkan beberapa teman mereka yang tidak ada dalam pesta dadakan ini.
"Kagami-kun, kau datang bersama Aomine-san?" Kuroko tiba-tiba duduk di sebelah Kagami.
"Huwaa, jangan mengagetkan ku Kuroko!" Kagami membentak.
"Kalian berkencan?"
"Hah? Aku hanya mengantarnya pulang. tapi kau mengirimiku mail, lalu aku menawarinya juga."
"Soukka. Kau sudah tahu kabar yang beredar?"
"Apa?"
"Kise-kun mengencani Haruka Nanami-san."
"Aku tahu."
Kuroko termasuk orang yang dekat dengan Aomine, iapun tahu jika Haruka menyimpan perasaan kepada Aomine, beberapa kali ia bertemu mereka di tempat-tempat biasa orang berkencan. Walaupun tidak menampakkan secara gamblang lewat media, Kuroko paham jika keduanya terpesona satu sama lain. Tetapi kenapa Kise lah yang menjadi teman kencan Haruka?
Berkebalikan dengan Kagami yang walaupun tidak menyangka, tapi ketiganya sering bertemu saat recording Gekkan Shoujo Nozaki-kun. Secara terang-terangan Kise terlihat mengejar-ngejar Haruka, meski si perempuan tidak sadar sama sekali. Mungkin karena sudah memiliki pujaan hati, Haruka tidak bisa melihat orang yang diam-diam menyukainya, cinta lokasi.
"Lalu bagaimana denganmu, Kagami-kun?"
"Segera, aku akan segera memberitahunya."
.
"Aku merasa seperti perempuan."
Keduanya sudah sampai di depan rumah Aomine. Masih di dalam mobil, seperti enggan menyudahi pertemuan ini, rasanya masih ada banyak hal yang ingin dibicarakan.
"Masuklah Aomine-san, sudah malam." Kagami berbicara dengan nada dingin.
"Ahahaha gomen." Aomine hampir membuka pintunya andai tangan Kagami tidak mencegahnya.
"Apa besok kau ada waktu?"
"Hah?"
"Aku ingin mengajakmu ke suatu tempat."
"Baiklah."
Kagami tersenyum lega.
Aomine masih di depan rumahnya ketika mobil Kagami menjauh pergi. Dia merasa hidupnya sedikit membosankan dan redup seperti warna kulitnya, tentu saja tidak seperti panu yang mengotori kulit eroticnya, kehadiran Kagami lebih seperti almond di dalam sebatang coklat.
Tanpa di ketahui siapapun, Aomine sedikit kesulitan tidur sejak dua minggu yang lalu, tidak biasanya. Dan lagi-lagi penyebabnya adalah si alis cabang, Kagami Taiga.
Tetapi hari ini, malam ini. Syaraf-syarafnya mengendur dan mulai menagih jam istirahatnya. Tidur sepanjang hari mungkin bisa membantu kembali melancarkan metabolisme tubuhnya, atau membuat tubuhnya pegal-pegal. Manapun yang terjadi Aomine tidak peduli, kini ia merebahkan tubuhnya dan mulai menyebrangi lautan mimpi.
"Oyasumi.."
.
OxO
.
"Yo~!" Kagami tidak menjemputnya, siang ini Aomine langsung pergi ke stasiun dan menemukan rambut dwi warna yang sudah menunggunya di pintu masuk.
"Kita mau kemana?" siang yang dingin, Aomine membungkus tubuh dengan jaket senada dengan warna surainya. Tidak ada tas, hanya membawa dompet ponsel di saku celana.
"Sudah, ikut saja dulu. Ehehe." Kagami merangkul bahu Aomine sok akrab. Padahal tingginya lebih pendek 2 senti dari orang yang dia rangkul. Tidak mau ambil pusing, Aomine hanya mendengus dan pasrah kemana manusia berisik ini membawa tubuhnya.
Di dalam kereta, tidak banyak orang yang berpergian sama dengan mereka, di satu gerbong ini hanya 6 bangku yang terisi. Kagami dan Aomine duduk di ujung gerbong, Aomine duduk di dekat jendela dan Kagami di sebelahnya. Mereka membicarakan banyak hal yang hanya di tanggapi dengan malas oleh Aomine.
"Kenapa? Kau tidak suka?"
"Hm?"
"Apa aku mengganggu hari liburmu? Kau sudah punya rencana?"
"Ah, bukan. Maaf, aku sedang memikirkan banyak hal."
Kagami tidak bertanya tapi dari raut wajahnya seakan dia memaksa Aomine untuk bercerita mengenai hal yang mengusik pikirannya.
"Ibuku masuk rumah sakit." Nada bicara yang seharusnya cemas tapi justru dingin dan terkesan tidak peduli.
"Nani?! Kenapa kau tidak bilang?" Aomine menghela nafas berat.
"Ki-kita ba-batalkan-" Tidak mengerti, kenapa Kagami yang justru panik? Itu ibunya atau ibu Kagami?
"Walaupun di sebut ibu, aku tidak pernah memiliki memori tentang dirinya. Dan aku tidak tahu harus bagaimana.."
"Dia tidak tinggal bersamanya?"
"Entahlah, aku hanya ingat kedua kakek dan nenekku." Kagami terdiam, ia merasa bersalah.
"Dia baik-baik saja. Jangan khawatir, ahahaha." Niatnya tertawa hanya ingin menghibur kegalauan hatinya, dan juga keresahan yang Kagami tunjukkan. "Daijobou," Aomine menepuk bahu Kagami. "-Hontou."
Kagami hanya bisa menunduk dan tidak dapat membalas dengan kata apapun.
Sampai di tempat tujuan yang bahkan Aomine tidak mengenal dimana mereka sekarang, malah baru menyadari jika mungkin saja saat ini Kagami berencana menculik dan membunuhnya di tempat asing.
"Di-dimana ini? Kagami?"
Mereka menyewa sebuah mobil, Kagami yang membayar tentu saja. Ke sebuah bukit yang penuh pepohonan, jalannya tidak rusak dan dikenali secara jelas di GPS. Jika Kagami tidak membelokkan kearah kiri mungkin saja mereka akan sampai ke sebuah villa. Aomine bisa melihat bentuk bangunan semi eropa itu jelas dari tempatnya sekarang berdiri.
Perjalanan dari Tokyo menuju tempat entah apa ini di tempuh selama 3 jam. Ini sebuah desa, tentu saja. Kagami lebih dulu melangkah mendekati pagar pembatas beton yang melindungi pengunjungnya dari bahaya jatuh, cukup tinggi untuk bisa dilompati anak kecil, 140 senti.
Kagami membungkukkan badannya melihat matahari yang akan terbenam setengah jam lagi. Aomine tidak berkata apa-apa, hanya berdiri disamping Kagami sambil melihat pemandangan di bawah mereka. Bisa dengan mudah dan jelas tanpa kesalahan, ada sebuah sawah yang membentang lebar, kompleks perumahan, taman, beberapa gedung yang sedikit besar dan lapangan. Desa terpencil namun hangat, banyak anak kecil dan orang tua yang baru turun di halte bis. Jika Kagami tidak berinisiatif menyewa mobil mungkin mereka menggunakan bis tersebut untuk sampai ke sini.
"Ini tempat rahasiaku."
"Huh?"
"Ketika aku banyak pikiran, bosan dan tidak bisa tidur. Aku kesini, sendirian. Melihat orang-orang yang beraktifitas dari sini. Merasakan semilir angin yang lebih sejuk daripada di Tokyo. Dan itu selalu berhasil membuat pikiranku kembali tenang."
"Dan kenapa kau mengajakku?"
"Kau tidak suka?" Kagami berdiri dengan benar. Tersenyum tapi tidak terlihat mengejek, bahagia ataupun ikhlas. Fake smile, Aomine sangat membenci senyuman Kagami saat ini.
"Bukan begitu maksudku, baka." Aomine menghela nafas, menghindari tatapan Kagami. Matanya tidak menentukan objek secara pasti. "Ini rahasia, kan?"
"Ahahaha, mudah saja Aomine-san. karena aku ingin membagi sedikit rahasiaku padamu." Mata berbeda warna itu kembali bertatapan, Kagami terhenyak membaca pandangan Aomine yang tidak ia duga. Marah?
"Kau ingin aku membagi rahasiaku juga padamu?"
Kagami menggeleng.
"Kekasihku, dia yang mengajariku. Tentang melihat pemandangan yang tenang agar perasaanmu juga tenang."
"Oh, maaf. Apa dia sudah meninggal?"
"Hah? Kenapa kau bicara seperti itu, aho?"
"Kau terlihat kehilangan dirinya." Aomine biasa saja dipanggil aho, kenapa ia tidak keberatan ia pun tidak mengerti.
"Yah, mungkin bisa dibilang seperti itu atau bahkan lebih parah."
"Kenapa?"
"Hup." Kagami duduk di atas beton, membelakangin sinar matahari yang semakin redup, ketika matahari segera menghilang ditelan bumi. Matanya lurus menatap Aomine, sayu.
"Dia tidak mengingatku dan… cintaku."
Kagami menarik kerah jaket Aomine membawa wajah dim itu lebih mendekat kearahnya, kepalanya menunduk mencapai tujuannya.
Kedua kalinya, Aomine Daiki dicium Kagami Taiga.
.
OxO
.
Akashi dan Midorima dalam perjalanan ke Radio Tokyu. Seperti biasa mereka berdua memang mengisi suatu acara radio itu selama 6 tahun belakangan, HGS : Hey Girl, Stories!. Program radio tersebut awalnya yang celetuk iseng produser yang memang menyukai kedua seiyuu itu pada masanya. Bahkan Midorima yang waktu itu masih asing dengan dunia broadcasting tidak terlalu banyak bicara. Dan Akashi lah yang lebih banyak memancing Midorima untuk lebih sering mengemukakan pendapatnya, dan improvisasi di setiap lawakan ciptaan Akashi, lucu atau tidak lucu Midorima harus tertawa.
Namun program tersebut justru membawa mereka lebih akrab dan saling ketergantungan. Berkali-kali Akashi mengatakan ia tidak begitu peduli dengan Midorima tapi di waktu lain, Akashi akan selalu mengantarkan kemana Midorima pergi. Keduanya mempunyai cincin kembar, mereka tidak membelinya bersama, Midorima bahkan takut Akashi marah karena ia tidak sengaja membeli cincin yang sama.
"Memang kenapa? Aku tidak keberatan."
Fans langsung berspekulasi jika keduanya menikah diam-diam. Tidak ada tanggapan berarti, karena entah bagaimana awalnya Akashi Seijurou tidak menambatkan hatinya kepada Midorima Shintarou. Tetapi lelaki yang usia jauh sekali dibawahnya ini berhasil membuat jantungnya berdetak kejam. Pemuda berzodiak aquarius berambut air laut, Kuroko Tetsuya.
Midorima masih sibuk mengecek ponselnya dan Akashi berjalan di depannya. Berkali-kali Midorima hampir menendang vas dan tanaman yang menghiasi sepanjang lorong gedung I.G, namun Akashi dengan mata emperornya menarik lengan Midorima dan akhirnya menyeret lengan baju Midorima sampai ke basement.
"Produser ingin kita membawa bintang tamu." Akashi di kursi supir dan Midorima masih sibuk berkirim sms. Mata belang itu belum memberi jawaban, justru sibuk memasang set belt untuk dirinya sendiri dan makhluk hijau di sebelahnya.
"Kenapa mendadak sekali?"
Mesin mobilnya sudah menyala, tapi mereka masih diam belum ada injakkan gas.
"Entah, menurutmu siapa, Akashi-san?"
"Siapapun, asal bukan Tetsuya."
"Nande?" Midorima memandang Akashi, heran.
"Nada bicaranya datar. Aku tidak suka."
"Tapi kau kan pacarnya."
"Ini dan itu dua hal yang berbeda. Shintarou."
Ada waktu 5 jam sebelum siaran radio HGS di mulai, tapi Akashi juga bertanggung jawab mengurus naskah, sementara Midorima tidak punya kerjaan dan memilih menemani Akashi. Toh nanti mereka berdua yang akan membawakan acaranya bersama-sama.
"Kagami, bagaimana?" Akashi terlihat berpikir. Kagami rekan Kuroko di program radio Onobas, ia di kenal enerjik dan konyol berbanding terbalik dengan Kuroko tetapi itulah yang membuat mereka seimbang, sikap tenang dan ucapan Kuroko yang sering menusuk menjadi efek khusus Kagami mencerna naskah dengan tidak biasa.
"Boleh saja."
"Lalu, Aomine. Bagaimana?"
"Kenapa harus Daiki?"
"Saa…"
.
Kagami sedang sibuk memcuci tumpukkan pakaiannya ketika ada telfon dari Midorima, meminta pertolongannya untuk menjadi bintang tamu di program radio HGS, tanpa ada bantahan ataupun keberatan Kagami menyanggupi.
Siaran HGS mulai dua jam lagi, dan Kagami sudah sampai dengan gagahnya. Kacamata masih setia berdiam di atas hidungnya. Midorima membawa empat mie cup dengan nampan dan membaginya untuk Akashi dan Kagami, tersisa satu cup yang belum ada pemiliknya. Hampir saja Kagami memintanya untuk jatah tambahannya sebelum Aomine membuka pintu dan terkejut menemukan Kagami berpipi tupai.
"Kon…" Sapa Aomine.
"Konbachuuu!" Akashi menyahut dengan semangat.
"Konbanwa, Aomine-san."
"Hampir saja aku mengambil jatahmu, Ahomine. Wahahaha." Karena itu jatah Aomine makanya Kagami berani ingin mengambilnya, jika bukan jatah milik Aomine tentu saja dia gengsi.
"Sialan kau, Bakagami." Bukannya memukul atau memarahi Kagami yang memanggilnya aho, justru Aomine mengelus puncak kepala Kagami sambil tersenyum, kemudian duduk sambil mengahangatkan kedua tangannya di cup mie yang hangat.
"Apa?"
Mie yang tadinya di mulut Akashi terjatuh kembali, sumpitnya diam tidak bergerak. Kacamata Midorima retak sedikit melihat kejadian gaib di depannya.
"Se-"
"Sejak kapan kalian seakrab itu, Nanodayo?"
.
OxO T.b.C OxO
.
.
A/N :
Haaaiiii domoooo ettou, kembali lagi dengan part dua. Sifat mereka OOC ya? Bwahahah pas ngerjain juga gw ga ngebayangin chara KnB, malah gw ngebayangin seiyuunya. Kayak Kagami yang nambah suffix san itu juga karena posisi Aomine adalah seorang senpai. Satsuki memang deket sama Aomine tapi bukan berarti dia tahu semua hal tentang Aomine. Justru disini aku bikin Haruka-lah yang lebih memperhatiin Aomine.
Kenapa Kise di pasangin sama Haruka? Yang nonton Gekkan Shoujo Nozaki-kun pasti tahu deh wakakakak
Tapi tokoh Akashi disini lebih mirip Hiroshi sebenernya, sok imut dan sering dingin, tsundere dia sebenernya. Fisik Akashi tetep bermata belang tapi sifatnya perpaduan oreshi x bokushi.
OOC ini juga demi kepentingan cerita, gw harap pengertiannya. Untuk chapter selanjutnya, aku usahain buat OC. Maaf ya bahas FFnya terlalu serius .w.
Dan silahkan, bagi yang mau RESPECT ke FF ini, silahkan REVIEW sesuka anda. Dan jika anda tidak ingin mengucapkan apa-apapun gw ucapin makasih udah nambahin traffic di ff gw. Oiya chapter tiga belom kelar, entah kapan di update .w.)a
BALASAN REVIEW :
Kagami Tania : iya heheheh makasih udah review :3
Haisakixx : Oii peak... emang niat gua bikin lu jadi aokaga shipper, bwahahah pffttt, duh gw bayangin suwabe ngeformless shot kyahahahah
haneulch : ah iya onoyuu chubby unyuh2 gitu yak xD makasih makasih... ah ntar juga lama2 ga manggil -san lagi ehehehe,, settingnya udah AU sih, maaf kalo jadi aneh uwu
Setelah Sekolah : nama anda unyu sekali (?) ufufufuf ah iya gpp, yg maen kan emang aomine sama kagami xD bukan seiyuu nya hahahah
