Those Nostalgic Memories © Kamiya Chizuru
Knb © Fujimaki Tadatoshi
Dan semua Anime yang di sebutkan adalah milik pengarangnya, bukan saya.
Aomine x Kagami. AU. OOC.
.
A/N : HGS parody dari DGS, fansnya Hiroc sama OnoD pasti tau ya ._. part yang mereka nyoba aplikasi itu juga gw dapet dari salah satu siaran mereka. Ya intinya bukan murni ide gw. Gw bikin part ini rasanya ngambang, ga jelas. Ada beberapa bagian yang harusnya ada tapi gw buang.
Dozou…
.
Part Three
.
Lima menit sebelum jam sembilan, keempat orang pengisi acara HGS sudah duduk di tempatnya masing-masing. Di meja sebelah kiri ada Akashi dan Aomine, di depan mereka ada Midorima dan Kagami. Akashi memberi arahan untuk kedua tamu, sementara Midorima malah tertawa melihat Kagami yang polos mengerti ketika di bodohi lelucon garing Akashi. Aomine bersikap seakan tidak terima Kagami di kerjai Akashi, masa bodoh dengan amukan Aomine, Akashi membuka acara dengan semangat.
"Akashi Seijurooou desuuu, konbannwaaaa…"
"Midorima Shintarou desuu, konbanwaaa…"
"Ma.. kali ini kita punya bintang tamu, ne Midorima-kun?" Akashi selalu memanggil Midorima-kun saat sedang siaran, sangat berbeda jika di dunia nyata.
"Ne.. silahkan perkenalkan diri kalian minna-tachi." Suara tepukan tangan ala kadarnya dari kedua penyiar asli.
"Ettou…" Aomine dan Kagami saling pandang, mempersilahkan untuk lebih mengenalkan diri lebih dulu Kagami memberi isyarat dengan tangannya.
"Konbanwa… AoD* desu.." Bwahahahah… tiga suara tawa membahana di ruangan tersebut.
"Ehh.. nani nani…?" Aomine pura-pura bingung ketika ditertawakan. "Aomine Daiki desu, the sexiest seiyuu forever and ever, yeeaayy.. hahahaha.." suara tawa Akashi sering terdengar.
"Konbawaaa… Kagami Taiga desu, ano…"
"Planaria seiyuu.." Akashi menimpali.
"Hai, Planaria seiyuu desu ahahaha.."
"Sebenarnya, kedua orang ini kami panggil secara mendadak. Dan aku tidak menyangka mereka sedang ada waktu, lalu apa yang harus kita lakukan Midorima-kun?"
"Mungkin tidak bisa disebut kebetulan juga, benarkan Kagami-kun? Anone, aku melihat mereka satu mobil, tapi entah kenapa Kagami turun lebih dulu sementara Aomine-san entah pergi kemana."
"Ah…"
"Ah…" Kagami dan Aomine sama-sama merutuki kebodohannya satu sama lain.
"Aku meminjam mobil Kagami untuk membeli beberapa barang."
Kagami membenarkan ucapan Aomine.
"Apakah Kagami-kun menjemput Aomine-san?" Akashi bertanya bak detektif.
"Kenapa kau begitu penasaran, Akashi?" Aomine terdengar jengkel.
"Ini mengherankan, aku curiga kalian terlibat cinta lokasi atau apa?"
"Urusaina.." si kepala biru makin jengkel.
Kagami hanya tertawa dan tidak berani menjawab, seperti biasanya Midorima adalah orang yang terlanjur peka, dengan melihat raut wajah Kagami yang sedikit bersemu merah dia bisa sedikit menebak apa yang sebenarnya terjadi. Akashi masih senang menggoda Aomine dan sepertinya hanya ditanggapi gurauan oleh si korban. Kagami paling kecil disini, bukan secara fisik tentunya. Tapi duduk berbicara santai dengan tiga senpai sementara dia sendiri adalah anak paling bau kencur, tentu saja akan lebih berhati-hati saat berbicara.
"Aomine-san apa kau sudah punya pacar?" Empat buah siku-siku menghiasi kepala Aomine. Pertanyaan Akashi selalu menjurus ke arah hal-hal yang tidak ingin Aomine bahas.
"Bukan urusanmu, baka yaro.."
"ne minna-san beginilah jika mereka bertemu, kau terkejut Kagami-kun?" Midorima menengahi, Akashi dan Aomine berdehem memberi kesempatan yang lain untuk bicara.
"Tidak, aku sering melihat mereka mengobrol saat istirahat recording."
"Ah kau sering diam-diam mengamati kami, Kagami-kun?" nada suara Akashi terdengar tertarik.
"Ah tidak, tidak. Bukan maksudku begitu Akashi-san, hanya saja kalian berdua terlalu mencolok." Akashi tertawa.
"Aku pikir bukan Akashi-san yang menarik buatmu Kagami-kun, Aomine-san?"
"Hng? Ettou, Aku sudah mengenal Akashi, lama. Dua tahun setelah aku debut kami pernah bekerja sama."
"Hountou ni? Yah.. apa kesan-kesanmu pada Akashi-san waktu itu Aomine-san?" Ah sial, kebiasaan saat membawa acara radio akhirnya Kagami berbicara. Menyadari kesalahannya, Kagami segera meminta maaf.
"Itu line ku Kagami-kun." Midorima merajuk.
"Nah benarkan? Yang membuat Kagami tertarik itu Aomine-san."
"Akashi, Produser memberimu peringatan." Aomine menunjuk ruangan sebelah mereka yang terhalang kaca, produser yang di tunjuk Aomine mengangkat sebuah tulisan, jika sudah waktunya untuk lagu pertama di putar.
"Hai, karena bintang tamu hari ini adalah Aomine Daiki, pemeran Suwabe Junichi dan Kagami Taiga, sebagai Ono Yuuki. Mari kita dengarkan, ettou…" Akashi lupa judul lagu duet Aomine dan Kagami.
"Exciting Communication."
"Ultimate Zone." Keduanya mengatakan dua judul yang berbeda.
"Hei, bagianku sedikit di lagu itu, Bakagami."
"Heh, tapi kau mengataiku bodoh di lagu yang itu, Ahomine."
"Jangan melawanku, baka."
"Kau terlalu sensitif, aho."
Akashi sudah memutarkan sebuah lagu yang Amine pilih, keduanya masih berdebat. Untungnya saja suara mereka sudah tidak lagi bisa terdengar para pendengar setia HGS.
Akashi dan Midorima menekuk tangan mereka, menahan berat kepala masing-masing. Akashi tersenyum jenaka melihat Aomine dan Kagami bertengkar seperti anak kecil. Midorima menahan suara agar tidak mencampuri pertengkaran keduanya.
"Apa kau bilang? Heeegghh…" Aomine menari rambut Kagami.
"Sial, rambutmu pendek, sini kau, redup."
Akashi tidak ingat mereka pernah bertengkar sebelum hari ini. Kuroko tidak pernah mengatakan jika Kagami sedekat ini dengan Aomine. Ataukah terjadi sesuatu pada kedua orang ini?
Akhirnya kedua pasangan bodoh itu menyadari jika sudah menganggu ketenangan ruang siaran. Dengan dua buah pudding strawberry untuk cemilan, atau memang untuk meradakan emosi masing-masing. Seperti biasa Aomine memang suka mengambil foto makanan dan mempostingnya di akun twitter miliknya.
Session berikutnya, Akashi menerangkan bahwa mereka akan memainkan sebuah program android yang menurut salah satu pendengarnya sedang ramai dibicarakan karena ke akuratannya. Sebuah program analisis nama dan pasangan yang disebut, Root Heart.
"Baiklah siapa yang akan memulai duluan?" Akashi bersiap mengetikkan sebuah nama. "ah, baiklah aku duluan."
Akashi Seijurou : Sok benar, Tampan, Tidak tinggi dan Aneh.
Akashi tersenyum kecut, Midorima tertawa karena kata 'Tidak tinggi' sementara Kagami mati-matian tidak tertawa berlebihan, Aomine justru tertawa sampai sakit perut.
"Uso… baiklah selanjutnya." Akashi tidak terima, tapi mau bagaimana lagi.
Midorima Shintarou : Penyayang, Benci binatang, Penakut dan Konyol.
"Aku tidak setakut itu dengan binatang." Midorima membela diri.
"Kau benci kucing, Midorima-kun."
"Setidaknya bukan kucingmu, Akashi-san."
"Kau penakut, Midorima?"
"Tidak juga, Nanodayo."
"Tapi kau pernah khawatir berlebihan ketika Akashi satu jam tidak kembali dari toilet." Aomine pernah membaca hal itu dari sebuah website.
"Itu karena dia tidak membalas pesanku, Nanodayo."
"Shut up, Midorima-kun. Baiklah selanjutnya."
Aomine Daiki : Misterius, Bodoh, Baik hati dan Penyayang binatang.
"Jika Aomine-san menyayangimu berarti dia menganggapmu binatang, deshou?" Akashi berkata sambil menatap dan menunjuk Kagami.
"Taiga, Tiger. Ne?" Midorima mendukung.
"Kurasa itu masuk akal, Midorima-kun. Hai, selanjutnya peserta terakhir kita…"
Kagami Taiga : Bodoh, Tidak peka, Polos dan Benci binatang.
"Kurasa ini aplikasi yang bagus.."
"Hei kalian jika diam saja, ngga kebagian cemilan lagi loh."
Aomine dan Kagami pun panik, ancaman Akashi mempertaruhkan kelangsungan hidup mereka malam ini. Keduanya berceloteh kembali saling menghina dan bertengkar, dan lagi-lagi Akashi dan Midorima merasa terasingkan di program acaranya sendiri.
'Orang kasmaran mah, dunia berasa milik berdua.' batin Akashi sambil menguap.
.
OxO
.
Midorima pulang dengan Takao yang entah kenapa tiba-tiba muncul di ruang tunggu sambil membawa sebuah boneka penguin ukuran yang sebenarnya. Setelah bertegur sapa dengan Kagami dan Aomine, Takao segera menyeret Midorima pergi.
"Aku akan mengambil mobil." Seakan sudah kewajiban Kagami, mengantar pulang Aomine ada hal yang harus ia lakukan berikutnya.
"Aku pulang dengan dia." Pluk. Aomine menepuk kepala Akashi yang sebenarnya numpang lewat, si rambut merah terkejut tapi ekspresinya tetap datar. Mungkin dia sudah memperlajari ilmu 'muka datar' dari kekasihnya.
"Eh?"
"Kami akan… eum.. membeli sepatu, ya kan Akashi?"
Kagami hanya mengangguk tidak ingin lebih tahu. Kenapa Akashi tidak memberontak? Karena Akashi tahu, Aomine sengaja menghindari Kagami. Untuk apa? Curhat, mungkin? Akashi mengedikkan bahu dan berjalan begitu saja, tapi Aomine tanpa di suruhpun mengikuti langkah kaki Akashi.
"Belakangan ini aku sering mengalami déjà vu."
"Wow. Aku kagum, ternyata kau tahu istilah semacam itu, Daiki." Seakan sudah kembali ke kepribadiannya yang lain, Akashi berganti memanggil Aomine, Daiki.
"Sial," Aomine sempat browsing kok tadi.
"Tidak ada masalah, itu normal untuk manusia normal. Apa yang kau cemaskan?" Akashi membeli dua kaleng kopi di vending machine terdekat, menyerahkan salah satunya pada Aomine.
"Aneh karena di semua kejadian itu, ada Kagami."
Akashi terlihat berpikir. Dia mengingat-ngingat siapa itu Kagami, dan beberapa detik kemudian ia tersenyum.
"Apa mungkin dia kekasihmu yang di Amerika?"
"Aku bukan homo sepertimu, Akashi." Aomine mendelik tidak suka. Akashi hanya tertawa, dia yakin Aomine sedang menyangkal tetapi ia tidak sadar jika kejadian hari ini berbanding terbalik dengan apa yang ia katakan sekarang. Seakan-akan kesadarannya dan segala tingkah laku terhadap Kagami adalah dua sisi mata koin yang berbeda. Satu tubuh, berbeda ingatan.
Tapi itu tidak mungkin, Aomine kan bodoh. Hal yang sedang ia hadapi sekarang tidak lebih dari perasaan menyangkal sesuatu yang belum masuk akal di otaknya, bertingkah tidak ingin mengakui karena dia tidak ingin hal itu benar-benar terjadi.
"Tapi kalian berdua sama-sama dari Amerika, itu mungkin saja. Lagipula, bukankah kau tidak ingat apa yang terjadi saat umurmu 20 tahun?"
"Apa aku harus pulang ke Amerika?"
"Ya, dan pastikan untuk bertemu ibumu." Akashi membuang kalengnya yang kosong ke tempat sampah. "Dia merindukanmu, Daiki."
Sering Aomine menyangka jika Akashi sebenarnya punya ESP daripada mengakui jika pemuda itu jenius.
.
Malam ini Aomine begitu bersemangat, setelah beberapa hari yang lalu Kagami entah pergi kemana, berkali-kali mengirimi email namun tidak ada satupun yang dibalas. Dan akhirnya sore tadi, Aomine menemukan satu email dari orang yang begitu ia rindukan sekarang. Setelah mengerti alasan Kagami yang 'menghilang' beberapa hari yang lalu, Aomine bergegas ke tempat mereka berjanjian. Sebuah lapangan basket dekat bukit di belakang universitasnya.
Tidak lupa dengan sebuah bola basket di tangan, jaket hitam yang justru membuat penampilannya semakin terlihat berandalan, malam ini sangat dingin. Amerika di musim hujan seperti memang tidak pernah cocok dengan tubuh Aomine.
.
Kagami sudah ada di tempat ini sejak mengirimi pesan untuk temannya, Aomine. Pemuda berumur 16 tahun berwajah sangar tapi ada guratan kesedihan disana, keputus asaan namun juga harapan.
Tidak ada yang menjamin, apa yang akan dia lakukan sekarang adalah hal yang benar. Resikonya ada banyak. Di benci, di jauhi atau bahkan di pukul. Mengingat Aomine adalah tipe orang yang mudah marah.
Alasan sebenarnya ia tidak menemui Aomine beberapa hari terakhir adalah untuk menenangkan hatinya, memberinya kebebasan untuk berpikir jernih. Teman-temannya mendukung jika ia harus menyampaikan perasaannya, perkara nanti bagaimana reaksi Aomine, teman-temannya berjanji akan menghibur Kagami jika jawaban Aomine bukanlah yang di harapkan. Mereka teman-teman yang mendukungnya, bagaimanapun keadaan dirinya yang sering ia sebut 'tidak normal'.
.
Kejadian itu begitu singkat.
Aomine berjalan seperti biasa, sambil memantul-mantulkan bola basket hingga bola tersebut tidak bisa dicapai langkahnya. Langkah kakinya memanjang, sebisa mungkin untuk menangkap kembali bolanya.
Ada banyak orang disana.
Semuanya terjadi begitu saja.
Ketika semua orang berhenti menunggu lampu merah menyala, justru Aomine tetap mengejar bolanya.
"LOOK OUT!"
"KYAAA!"
"SOMEBODY HELP HIM!"
Teriakkan demi teriakkan membakar pendengarannya. Tubuh Aomine tergeletak begitu saja, matanya masih bisa melihat pemandangan di sekelilingnya walaupun darah mengucur deras di kepalanya. Banyak orang mengerubungi tubuhnya, bahkan dia masih bisa mendengar suara sirine ambulan meski ia sudah tidak lagi bisa membuka matanya.
"Ka… Kagami…"
Kagami Taiga hanya berdiri, tidak bisa bergerak. Sebuah bola basket menggelinding tepat di bawah kakinya. Mentalnya terlalu syok menyadari apa yang sebenarnya terjadi.
Aomine.
Di sebrang jalan.
Tergeletak tak berdaya.
.
"KAGAAAMIII!" hosh hosh hosh jantungnya bergetak begitu cepat. Ini mimpi yang sangat-sangat buruk, mimpi yang baginya terasa nyata.
Aomine memegang kepalanya,memijatnya sedikit.
Meski tidak yakin, bisa saja itu sebagian ingatannya yang hilang, kan?
.
OxO
.
Kagami sering mengalami mimpi semacam ini, sampai terbiasa. Bukannya takut, tapi Kagami malah ingin selalu memimpikan hal tersebut. Tidak berarti ia menyukai pengalaman buruk di usianya yang ke 16. Tapi setidaknya mimpi itu mengingatkannya untuk tidak keluar jalur dari tujuannya sejak awal. Saat ia putuskan untuk ke Jepang, menjadi seorang seiyuu dan kembali melihatnya tanpa trauma.
Ia sudah memesan tiket pesawat untuk ke Amerika. Ia harus pulang menemui orang yang begitu ia sayangi, beberapa hari lalu ia masuk rumah sakit dan semakin hari kondisi turun. Tidak ada waktu lagi untuk menunda lebih lama, setelah ia pulang dari Amerika nanti, ia akan segera memberitahukan semuanya, sudah tidak ada yang perlu di sembunyikan.
.
Akashi dan Kuroko berbaik hati mengantarkan Aomine dan memberikan dukungan batin padanya. Menyakinkan hati Aomine jika semua akan baik-baik saja. Sudah saatnya dia siap mengetahui apapun yang terjadi dengan dirinya di masa lalu.
Kuroko meletakan tangannya diatas dada. Dengan wajah datar dan nada suara yang tidak ekspresif, Kuroko melafalkan sebuah mantra untuk senpai dan juga temannya.
"All is well…" kedua pemuda selain Kuroko terdiam, mungkin pemuda paling pendek ini berniat melucu tapi gagal.
"Baiklah, Daiki. Hati-hati di jalan."
"Thanks."
"Jangan lama-lama Aomine-san."
"Memangnya kenapa?"
"Ah. Betsuni.."
"Hei, Tetsu-"
Aomine ingin protes lebih banyak, tapi Akashi sudah menyuruhnya pergi. Hampir tidak ada waktu lagi, sudah saatnya Aomine pergi. Sebenarnya, Akashi hanya tidak ingin melihat keduanya bertengkar hal yang tidak penting. waktu luang Tetsu hanya miliknya, Akashi Seijurou.
Keduanya memutuskan mampir ke restoran china untuk makan siang. Entah benar atau tidak, Kuroko merasa seseorang yang ia kenal melewatinya, pria tinggi dengan kacamata hitam. Sebuah kalung dengan cincin perak. Sosoknya begitu mirip Kagami. Mungkin saja ia berhalusinasi, tangan putih terkesan pucat menggandeng tangan Akashi, takut ditinggal. Hawa keberadaannya kan tipis.
.
Aomine sudah meletakan tasnya di bagasi atas bangkunya. Kursinya tepat di samping jendela, pejalanan ke Amerika pertamanya setelah 14 tahun memutuskan menjauhkan diri dari Negara ayahnya. Ia tidak sempat menghubungi keluarganya untuk menjemput. Tapi setidaknya ada satu orang yang tahu kepulangan dirinya kerumah. Kakak sepupunya, Kasamatsu Yukio.
.
OxO
.
Keluar dari Bandara JFK, Aomine langsung di sambut pemuda yang lebih pendek darinya. Kulitnya putih, rambut dan matanya berwarna hitam legam. Busana kantornya sudah ala kadarnya, lagipula ini sudah malam. Yukio berkali-kali protes karena tubuh Aomine yang sekarang tinggi menjulang, tangannya tidak bisa lagi memukul kepalanya.
Mereka berdua menuju sebuah sedan Mercy warna silver yang mengkilat. Ada orang tua berpakain resmi berdiri di depan pintu depan membukakan pintu untuk Yukio, dan Aomine memilih untuk membuka sendiri pintu belakang dan langsung mendudukan tubuhnya tanpa sungkan.
Yukio berbicara banyak hal, dalam bahasa jepang untungnya. Satu-satunya orang yang masih berkomunikasi setelah kepindahannya ke Jepang. Yukio banyak membantu keluarga dan mengabari jika ada sesuatu hal yang terjadi. Aomine merupakan anak tunggal, Yukio adalah anak dari kakak ayah Aomine. Umur mereka tidak terpaut jauh, hanya 3 tahun. Sekarang ia sudah menjadi pengusaha sukses penerus usaha keluarga.
"Kau mau ke rumah dulu, Daiki?"
"Ya. Boleh saja. Mungkin baru besok aku ke rumah sakit." Aomine mengantuk, meski disini baru jam tujuh malam tapi tubuhnya jet lag dan tidak lagi bisa di tolerir. Ia jatuh tertidur setelah sepuluh menit menahan berat matanya.
Yukio langsung menyuruh Aomine beristirahat di kamarnya. Untung dia sempat menyuruh pelayannya untuk membershikan ruangan yang hampir 15 tahun tidak terpakai. Akhirnya setelah sekian lama, hari yang dinantikannya akan datang. Aomine akan kembali dengan keluarganya, bertemu sang ibu yang selama ini malah hilang di ingatannya. Kecelakaan itu seperti terjadi baru kemarin, Yukio tidak lupa bagaimana suasana tegang saat Aomine di operasi, bibinya menangis sepanjang malam. Dan di hari berikutnya ketika Aomine bangun, tidak ada satupun orang dianggap ia kenal.
Keluarganya hampir menyerah saat lima bulan Aomine di rawat namun tidak juga menunjukkan perubahan. Seakan tidak cukup melihat sengsara, ayah Aomine berpulang. Tidak ada yang lebih menyakitkan lagi, Ibu Aomine sakit-sakitan. Yukio menjadi satu-satunya orang yang tetap berusaha tegar dan menjadi sandaran bagi Aomine, usahanya membuahkan hasil. Adik sepupunya akhirnya membuka diri dan mulai kembali 'hidup'. Yukio sering mengajak Aomine berjalan-jalan dan mengunjungi universitasnya.
Sampai akhirnya adik sepupunya itu ingin pergi ke Jepang, memulai kehidupan yang baru. Hampir 15 tahun yang lalu. Yukio akhirnya akan bisa kembali melihat senyum tulus Aomine Daiki.
.
Pagi di hari pertamanya di Amerika, Aomine sudah bangun dan sarapan dengan menu barat yang sehat.
"Ohayou.."
"Good morning, Daiki." Aomine sedikit tersenyum, ia mengambil kursi dan mendudukan pantatnya. Di depannya tersaji salad, spaghetti, roti bakar dan empat telur mata sapi. Porsi yang banyak, tapi Yukio sengaja menyiapkan banyak makanan karena Aomine tidak makan malam.
"Aku akan menemanimu ke rumah sakit."
"Tidak perlu, kau kan sibuk." Ada segelas susu coklat hangat di sebelah kiri piringnya.
"Bukan masalah aku membolos sekali dalam 15 tahun aku bekerja." Meski memaksa akhirnya jawabannya tetap sama. Aomine ingin sendiri, setidaknya supir bukan termasuk dalam hitungannya. Ia sudah lupa jalan-jalan di Boston.
.
Kagami menyapa beberapa orang suster yang ia kenal, sering berkunjung ke rumah sakit membuatnya terkenal, apalagi dengan ciri khas alis cabang yang unik dan mudah di ingat walaupun beberapa tahun terakhir kedatangan Kagami hanya setahun sekali.
Kata ibunya, ruangannya sudah di pindahkan untuk memberi suasana baru kepada pasien.
"Kaasan, Ohayou…"
"Daiki-kun?" Seorang wanita tua menyunggingkan senyuman. Tatapan matanya kosong, tapi raut wajahnya terlihat bahagia.
"Tadaima.."
Kagami mendudukan tubuhnya di pinggir ranjang dan memeluk wanita itu dengan sayang.
.
Yukio menceritakan sedikit tentang keadaan ibunya agar ia tidak terkejut sampai rumah sakit.
Setahun kepergian Aomine ke Jepang, ia mengalami kebutaan. Ada seorang dokter bernama Kishitani Veena yang merawat ibunya, ia adalah teman ibunya yang juga mempunya suami orang Amerika. Jika Aomine kesulitan menemukan ibunya, tanyakan saja pada wanita itu.
Selain itu, ada seorang pemuda yang sering menjenguk ibunya. Tidak ada yang tahu namanya tetapi Kishitani bilang ia adalah anaknya.
Dan entah kenapa, walaupun Aomine tidak ada di Amerika. Sang ibu justru tidak pernah lagi menanyakan tentang dirinya.
Aomine menghampiri ruang resepsionis dan dengan terbata-bata dan bahasa inggris yang seadanya, ia menanyakan keberadaan Kishitani. Beruntung tidak perlu waktu lama untuk bertemu dengan orang yang selama ini merawat ibunya. Sambil mengobrol akhirnya mereka sampai ke ruangan Aomine Shiina.
"Yukio sudah menceritakan padamu kan?"
"Ya."
Kishitani menepuk bahu Aomine pelan dan menyuruhnya segera masuk.
Pintu berdecit, dan terbuka dengan pelan.
Wanita yang berada di dalam ruangan itu sedikit tersentak.
Ia buta, tapi mata hati tetap tajam. Angin yang berhembus dari jendela menguarkan baru yang tidak biasa, laut. Bibir tuanya bergetar, namun ia sedikit tersenyum, kedua matanya meneteskan airmata haru.
"Okaeri, Dai-chan."
Aomine perlahan melangkah mendekati ranjang. Jantungnya berdetak tidak karuan, tiba-tiba ia sendiri tidak yakin dengan keberadaanya di ruangan ini. Seperti mimpi tapi nyata, pertemuan haru itu membuat Aomine meneteskan airmatanya dan langsung memeluk tubuh ringkih itu.
.
.
Kishitani Veena sebenarnya adalah namanya ketika muda, sekarang namanya berubah menjadi Kagami Veena. Suaminya seorang keturunan campuran Jepang dan Amerika, keduanya bertemu ketika liburan di Okinawa.
Anak satu-satunya Kagami Taiga tadi malam menelfon dan mengabarkan jika ia sudah sampai di Amerika, tapi keduanya belum bertemu karena ia sedang dinas malam, dan sejak subuh ia ada di ruang operasi.
"O-" Kishitani sedang menghisap rokoknya di smoking area rumah sakit ketika Kagami juga masuk kedalam ruangan itu, untuk merokok tentu saja.
"Kau merokok lagi, bu." Kagami protes.
"Gez, sama denganmu kalau begitu."
Mereka berdua bukanlah perokok berat, hanya sekedar saja untuk menghilangkan penat. Veena duduk melipat kakinya, rambut hitamnya ia kuncir tinggi. Kacamatanya memberi penegasan jika ia benar-benar seorang dokter. Jas putihnya teronggok begitu saja di samping kakinya. Kagami dudu di sofa yang berhadapan dengan ibunya,
"Kau sudah bertemu dengan Shiina?"
Kagami batal merokok setelah melihat ibunya, napsu merokoknya menghilang entah kemana.
"Ya, aku sudah mengobrol banyak dan sekarang aku mau pulang ke rumah."
"Ah dan mumpung kau di rumah, kau harus memasak hari ini."
"Yeah."
Veena membuang putung rokoknya di asbak.
"Kau masih menjadi 'Daiki'?" Kagami mengangguk. "Dan apa yang akan kau lakukan jika Daiki yang asli datang?"
Kagami melotot dengan mulut terbuka.
"Uso."
"Lihat saja sendiri." Veena mengedikkan bahu.
Drap.
Kagami pergi secepat yang ia bisa.
Berlari di koridor rumah sakit sungguh tidak di anjurkan, tetapi Kagami tidak peduli lagi.
.
"Kau.. baik-baik saja?" Akhirnya Aomine buka suara. Ia duduk di sebuah kursi di dekat ranjang, tangannya masih menggenggam tangan ibunya.
"Menurutmu?"
15 tahun mereka tidak bertemu, suasananya sedikit canggung. Apalagi Aomine hampir tidak mengingat apapun tentang ibunya, apa yang harus ia bicarakan?
"Ibu bertemu orang yang juga bernama Daiki, oh ya barusan ia juga datang kemari. Apa kalian bertemu?"
"Tidak."
"Soukka, Daiki-kun lah yang selalu menemani ibu, setidaknya ibu tidak merasa kesepian. Dia orang yang baik, kau pasti menyukainya." Wajah itu kembali tersenyum, Aomine hanya diam tapi ia juga penasaran, siapa sesungguhnya sosok 'Daiki' yang ibunya katakan.
Blam.
Suara pintu tertutup dengan sendirinya. Aomine terkejut mendengar suaranya, apa itu hantu?
"Oh, mungkin itu dia."
Jantung Kagami berdegup kencang. Hampir saja ia tadi langsung masuk, ia belum siap bertemu Aomine sekarang. Apa yang harus ia bilang pada Aomine?
Aomine membuka pintu, dan menyeringai ketika melihat Kagami berdiri dengan tubuh gemetar.
"Yo, Salam kenal 'Daiki-kun' namaku Aomine Daiki, kebetulan ya?"
"Eh? Eum.. emmh…" Kagami menatap Aomine sekilas, lalu kembali melihat lantai.
.
.
Kagami menyetujui usulan Aomine untuk berbicara di tempat lain, ini hampir waktu makan siang. Kagami yang lebih paham dengan lingkungan sekitar rumah sakit menawarkan sebuah restoran perancis untuk makan siang.
"Aku traktir."
Kagami berjalan lebih dulu, ia mengobrol akrab dengan seorang pelayan yang kemudian mengantar mereka ke meja yang terletak di dekat jendela.
Kagami menelan ludahnya dengan berat.
Aomine hanya diam sambil menatap Kagami yang gugup.
Dua gelas champagne di sajikan, Kagami meminumnya sekali tegup. Oke, dia benar-benar gugup.
"Aku menunggu, Kagami."
Kagami mulai berhitung dalam hati, hal yang selalu ia lakukan jika gugup saat audisi sebuah peran. Sepuluh detik kemudian dia lebih tenang dan berani menatap Aomine.
"Aom-"
"Yappa dame da… suasana disini terlalu berat. Aku tahu kau lapar. Kita akan menuju tempat lain setelah ini." Kagami mengerucutkan bibirnya, kesal.
Aomine sama sekali tidak merasa jika Kagami imut.
Ia sendiri menyangkal jika dia adalah homo seperti Akashi, tapi tidak bisa dipungkiri jauh di dalam hatinya ia senang melihat ekspresi Kagami yang seperti ini.
Aomine tersenyum lembut.
Kagami seperti terlempar ke masa lalu ketika mereka bertemu.
.
"Aku suka basketmu, Kagami." Tangan dim mengepal lalu menjulur ke depan. "Ayo bermain bersama selamanya." Aomine tersenyum lembut dan ramah.
.
Masih di gedung restoran yang sama. Rupanya Kagami pernah part time menjadi koki disini. Dan sampai sekarang ia sering berkunjung ke sini. Di belakang gedung ada sebuah halaman yang biasanya di sewa untuk acara pernikahan, tempat yang sangat kontras dengan keadaan kota yang di penuhi gedung-gedung tinggi.
Kedua pemuda berbeda warna itu duduk saling berjauhan di masing-masing bangku taman bercat putih.
Aomine duduk menyandar dengan santai, kedua kakinya terbuka lebar, kepalanya menengadah memperhatikan langit yang cerah.
Rileks dan kenyang.
Dengan posisi yang mirip, hanya saja Kagami menunduk sambil memainkan jari-jarinya di pangkuan.
"Bisa kita mulai?"
Kagami mengangguk.
"Maaf, aku berpura-pura menjadi dirimu, Aomine-san."
"Bukan, bukan itu yang ingin aku dengar. Bisakah, kau menceritakan kecelakaan itu?"
"Kau ingat?!"
"Yah, sedikit. Aku memimpikannya beberapa hari yang lalu."
Aomine menceritakan kejadian di dalam mimpinya. Mungkin karena termasuk memorinya, ia bisa mengingat mimpi itu secara detail. Walaupun masih ada kejadian yang tidak bisa ia ingat dengan jelas seperti apa saja yang terjadi setelah kejadian itu, di rumah sakit.
Kagami merasa lega tapi juga takut. Lega karena ia tidak perlu bersusah payah untuk menrangkai kata menceritakan kejadian mengerikan itu. Takut, karena mungkin sama Aomine tidak lagi mau berteman dengannya.
"Apa yang sebenarnya ingin kau katakan waktu itu?"
"Eh?!" Kagami memucat, Oh. Holy. Crap. "Itu sudah lama sekali, Aomine."
"Oh, tapi kau sekarang hanya memanggilku Aomine. U-waw." Aomine sok terkejut, ya dia terkejut atas perubahan nada suara Kagami saat memanggil namanya. Seperti, rasa rindu yang akhirnya terbayarkan. Kelegaan yang begitu luar biasa.
"M-Maaf…" Kagami menunduk semakin dalam, meminta maaf.
"Apa itu, Kagami? Katakanlah sekarang."
"Tidak."
"HEI, AKU MENUNGGUMU 15 TAHUN! SEKARANG KATAKAN! BAKAGAMI!"
"AKU YANG MENUNGGU, BUKAN KAU! AHOMINE!" Aomine mengangkat kerah Kagami, tangan mengepal bersiap menonjok wajah Kagami.
"KAU PIKIR SIAPA YANG KEHILANGAN KELUARGA GA-"
Airmata Kagami menetes. "Gomen… Gomen, Aomine… Gomen…"
Rasa bersalah Kagami selama 15 tahun. Seperti luka yang di taburi garam. Kagami merasakan dadanya sangat sakit.
"Andai saja, aku tidak menghubungi malam itu…."
Aomine menatap Kagami dengan buas.
"Andai saja, aku bisa menggantikan tempatmu…"
Kepalan tangan itu mengendur, genggaman tangannya di kerah Kagami mengendur. Kagami jatuh merosot ke tanah.
"Andai saja aku orang yang normal… maafkan aku, Aomine… Maafkan aku…"
Aomine tidak tahu harus bagaimana lagi menghadapi Kagami.
Normal? Apa maksud orang ini?, Aomine memaki dalam hati.
"Katakan padaku sekarang, atau anggap saja kita tidak pernah kenal. Anggap saja 15 tahun tidak ada hal yang terjadi di antara kita. Aku sudah lelah."
Rahang Kagami mengeras, ia tidak terima dengan kata-kata Aomine. Mana mungkin bisa dilupakan begitu saja?!
Masih tidak ada jawaban dari Kagami. Aomine berbalik melangkahkan kakinya, pulang.
"Hari itu.." Aomine langsung berhenti. "Aku… ingin memberitahukan padamu, tentang perasaanku." Kagami bangkit, berdiri dan berjalan mendekati Aomine yang memebelakanginya.
Genggaman ringan di dua sisi pakaian Aomine, kepalanya di tundukkan mengambang di punggung Aomine yang bidang.
"Sukki… Sukki da yo… Aku mencintaimu, Daiki."
.
.
.
TAMAT
.
.
.
Horeee tamaaaaattt yeeeaaayyyyy (9=v=)9
.
.
.
.
Akhirnya selesai juga ya.
Walaupun FF ini ternyata tanggepannya mengecewakan ya sudahlah, yang pasti aku udah berusaha menyelesaikannya.
FF ini selesai di chapter 3. Aku pgn liat reviewnya dulu. Baru aku posting omakenya. Ini udah 4k ya, wah rekor terpanjang ff ku di satu chapter. Biasanya malah bisa jadi 4 chapter. Bwahahahahah
Silahkan di review, minna.
