Title : Sword Art Online
Author : V.D_Cho
Cast : Kibum, Kyuhyun dan teman-teman ^^
Genre : Dark, Action, Romance, Friendship
Type : GS
Rate : T+
Warning : It's a YAOI fanfict. As you see in other ff. DLDR. Don't be a plagiator, make your own story. Please appreciate my hard work. Take with full credit. ^^
Disclaimer: Cerita ini beserta plot-nya bukan milikku. Ini adalah cerita milik Kawahara Reki-sensei.
© Kawahara Reki
V.D Entertainment
.
.
Proudly Present
.
.
:::Sword Art Online:::
.
.
.
Chapter I
(All Kibum's P.O.V)
Sebilah pedang abu-abu menebas pundakku.
Garis tipis di ekor mataku berkurang sedikit. Pada saat yang bersamaan aku merasakan sebuah tangan yang dingin menembus jantungku.
Garis biru yang bernama 'HP Bar' –adalah sebuah penanda visual dari sisa hidupku. Disana masih tersisa sekitar 80 persen. Tidak, pernyataan itu kurang tepat. Sekarang, aku sudah 20 persen mendekati kematian. Nah, itu lebih tepat.
Aku segera melompat ke belakang sebelum pedang musuh mulai bergerak menyerang.
"Haaa…"
Aku memaksakan diri untuk menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan diri. 'Tubuh' di dunia ini tidak membutuhkan oksigen, tetapi tubuh yang di dunia nyata mungkin saja sedang bernapas dengan cepat. Tanganku mungkin saja sedang berkeringat dan jantungku berdetak dengan cepat.
Tentu saja.
Bahkan jika semua yang kulihat ini adalah Virtual Reality 3 dimensi, dan garis HP-ku yang sedang berkurang hanyalah sekumpulan angka yang menunjukkan sisa HP-ku, kenyataannya adalah aku sedang bertarung mempertaruhkan nyawa. Tidak lebih tidak kurang.
Saat kalian sedang memikirkannya, pertarungan yang sedang berlangsung ini sangatlah tidak adil. Itu karena musuh di depanku adalah monster berkepala dan berekor kadal, bertubuh manusia dengan kulit berwarna hijau gelap. Mereka hanyalah sekumpulan data digital yang akan terus muncul berapa kalipun dibunuh.
– Tidak.
Al yang mengendalikan lizardman –msusuhku saat ini– sedang mempelajari gerakanku dan memperbaiki kemampuannya merespon seiring berjalannya waktu. Tetapi, saat dia dihancurkan, data tentang pertarungannya pun hilang dan tidak diturunkan ke unit yang akan muncul kembali di area ini.
Ini membuat lizardman tersebut seperti makhluk hidup. Seperti makhluk yang memiliki pikiran masing-masing.
"… Benar, kan?"
Tidak mungkin dia mengerti apa yang kukatakan, tapi lizardman tersebut (seekor monster level 82 yang bernama Lizardman Lord) berdesis sambil menyeringai dan menunjukkan taring tajam yang keluar dari rahangnya.
Ini adalah kenyataan. Semua yang ada di dalam dunia ini ada virtual reality ataupun kepalsuan apa pun di dalam dunia ini.
Aku mengubah posisi longsword satu tangan-ku dengan tangan kanan sejajar dengan bagian tengah tubuhku sambil memperhatikan musuh.
Lizardman itu menggerakan buckler yang berada ditangan kirinya ke depan dan menarik scimitar di tangan kanannya ke belakang.
Angin bertiup kedalam dungeon yang gelap dan mengguncangkan api obor. Lantai yang basah dengan lembut memantulkan sinar dari obor yang berkelap-kelip.
"Kraaah!"
Bersamaan dengan teriakan keras tersebut sang lizardman melompat maju. Scimitar-nya membentuk kilatan cahaya yang tajam menuju ke arahku. Sebuah cahaya jingga yang menyilaukan menyala dari lintasan scimitar tersebut. Sebuah sword skill kelas atas dari pedang melengkung, Fell Crescent. Sword skill kelas atas yang dapat menempuh jarak 4 meter dalam waktu 0,4 detik.
Tapi, aku telah menantikan serangan itu.
Aku telah perlahan-lahan menambah jarak untuk menciptakan situasi agar Al yang menggerakkan lizardman itu menggunakan skill tersebut. Aku mencium bau terbakar dari tebasan scimitar yang hanya berjarak beberapa senti dari hidungku.
"Ha…!"
Dengan teriakan singkat, kuayunkan pedang secara horizontal. Pedang tersebut sekarang tertutupi oleh efek cahaya biru langit, memotong melalui perutnya yang hanya memiliki pelindung tipis, tetapi bukan darah yang keluar melainkan cahaya merah yang berterbangan. Moster itu berteriak dengan suara pelan.
Tetapi pedangku tidak berhenti. Sistemnya membimbingku mengikuti gerakan yang terprogram dan melanjutkan ke tebasan yang selanjutnya dengan kecepatan yang biasanya mustahil.
Ini adalah elemen paling penting dalam bertarung di dunia ini, Sword Skill.
Pedangku melesat dengan cepat dan menebas dari kiri ke dada lizardman. Dari posisi ini, aku berputar dan serangan ketiga mengenai lebih dalam dibanding sebelumnya.
"Raarrgh!"
Bersamaan dengan pulihnya lizardman dari keadaan stun setelah gagal menyerang dengan skill tingkat tinggi, dia berteriak dengan marah atau mungkin ketakutan dan mengangkat tinggi-tinggi scimitar-nya ke udara.
Tetapi rangkaian seranganku belum selesai. Pedang yang sedang mengayun ke kanan tiba-tiba berbalik arah dan mengenai jantungnya –titik vital-nya.
Jejak sinar di udara berbentuk kotak bekas serangan 4 kali berturut-turut dariku berpijar, kemudian terpencar. Sebuah teknik 4 tebasan horizontal, Horizontal Square.
Cahaya terang menyinari dungeon dan kemudian menghilang. Pada saat yang sama, HP Bar diatas kepala lizardman menghilang tanpa menyisakan satu titik pun.
Tubuh yang besar itu jatuh, meninggalkan jejak yang panjang, kemudian terhenti tiba-tiba.
Sama seperti kaca yang pecah, lizardman itu pecah menjadi pecahan kecil yang tak terhitung jumlahnya dan menghilang.
Ini adalah 'Kematian' di dunia ini, singkat dan cepat. Kehancuran sempurna tanpa meninggalkan jejak sedikitpun.
Aku melihat Experience Point dan Drop Item List, yang muncul dengan tulisan berwarna ungu di tengah penglihatanku, dan mengayunkan pedangku ke kanan dan ke kiri sebelum menyarungkan pedangku di sarung pedang yang berada di punggungku. Aku mundur beberapa langkah dan menyandarkan punggungku ke dinding dan perlahan terduduk.
Lalu aku menghela napasku yang kutahan sejak tadi dan menutup mataku. Keningku mulai terasa pening, mungkin karena letih akibat pertarungan yang panjang. Aku menggelengkan kepalaku beberapa kali untuk menghilangkan rasa pusing dan membuka mataku.
Jam yang bersinar yang berada di bagian kanan bawah penglihatanku menunjukkan bahwa sekarang sudah melewati jam 3 sore. Aku harus segera keluar dari dungeon ini atau aku tidak akan mencapai kota sebelum gelap.
"… Bagaimana kalau aku pulang sekarang?"
Di sini tidak ada seorangpun yang mendengar, tapi aku tetap mengatakannya dan perlahan-lahan terbangun.
Aku sudah menyelesaikan kegiatan hari ini. Entah bagaimana aku sekali lagi terhindar dari tangan kematian. Tetapi setelah istirahat sejenak, hari esok akan datang bersama dengan pertarungan yang lebih banyak lagi. Ketika berada dalam pertarungan yang tanpa 100 persen kemungkinan menang, sebanyak apa pun jaring-jaring pengaman yang kalian siapkan, akan datang suatu hari dimana keberuntungan kalian habis.
Masalahnya, apakan game ini akan 'Clear' atau tidak sebelum aku mati.
Kalau kalian menghargai nyawa kalian lebih dari apa pun, bertahan di kota dan menunggu seseorang menyelesaikan game ini adalah pilihan yang paling bijaksana. Tetapi aku tetap pergi solo ke garis depan seorang diri. Apakah aku hanya seorang pecandu VRMMO(Virtual Reality Massively Multiplayer Online) yang terus meningkatkan statusnya melalui pertarungan yang tak terhitung, ataukah – Apa aku hanyalah seorang idiot yang dengan mudahnya berpikir bahwa dia bisa membawa kemerdekaan untuk semua orang di dunia ini dengan pedangnya?
Saat ini aku berjalan menuju pintu keluar labirin dengan senyum tipis yang mencerca diriku sendiri, kuingat kembali hari itu.
Dua tahun yang lalu.
Saat semuanya berakhir dan dimulai…
:::Sword Art Online:::
"Ahh… ha… uwahh!"
Sebuah pedang mengayun bersamaan dengan teriakan aneh itu, tanpa mengenai apa pun kecuali udara.
Tepat sesudahnya, babi hutan biru itu bergerak dengan kecepatan yang cukup mengejutkan jika dibandingkan dengan badannya yang besar, menerjang ke arah pemburunya. Aku tertawa melihatnya terlempar ke udara dan berguling menuruni bukit setelah tertabrak oleh hidung pesek babi hutan itu.
"Hahaha, bukan seperti itu. gerakan awal itu sangat penting, Eunhyuk hyung."
"Argh… sialan."
Pemburu yang sedang menggerutu itu, Party Member-ku yang bernama Eunhyuk, berdiri dan melirik ke arahku sambil menjawab lesu.
"Tapi Kibum, meskipun kau bilang begitu, aku tak bisa mengenai musuh yang bergerak."
Aku bertemu dengan orang ini, orang yang berambut merah dan mengenakan bandana dan sebuah armor kulit sederhana di tubuhnya yang kurus itu, beberapa jam yang lalu.
Kaki orang yang sedang dibicarakan itu mulai bergetar.
Sepertinya dia sedikit pusing.
Aku mengambil sebuah kerikil di bawah kakiku dan mengangkatnya sedikit lebih tinggi dari bahuku. Sesaat setelah mendeteksi First Motion dari sebuah sword skill, kerikilnya mulai memancarkan sedikit sinar berwarna hijau.
Setelah itu tangan kiriku bergerak dengan sendirinya dan batunya terlempar, meninggalkan segaris cahaya dan mengenai babi hutan itu diantara alisnya. "Ggiik!" Babi hutan itu memekik kesal dan berbalik ke arahku.
"Tentu saja mereka bergerak. Mereka bukan boneka latihan. Tapi jika kau mulai dengan motion yang tepat, sistemnya akan meneruskan Sword Skill dan mengenai targetnya untukmu."
"Motion… motion…"
Sambil berkomat-kamit seperti sedang membaca mantra, Eunhyuk mengangkat cutlass yang ada di tangan kanannya.
Meskipun babi hutan biru, atau nama aslinya Frenzy Boar adalah moster level 1, Eunhyuk telah menghabiskan hampir setengah dari HP Bar-nya karena terkena serangan balasan akibat serangannya yang asal-asalan tadi. Yah, meskipun dia mati, dia akan dihidupkan kembali di Town of Beginnings dekat sini. Tapi, berjalan menuju daerah perburuan lagi itu agak menjengkelkan.
Sepertinya tinggal satu serangan lagi sebelum pertarungannya berakhir.
Aku sedikit memiringkan kepalaku saat aku menangkis terjangan babi hutan itu dengan pedang yang ada di tangan kananku.
"Hmm, bagaimana cara menjelaskannya ya, ini tidak seperti satu, dua, tiga lalu terjang, tapi lebih seperti mengumpulkan sedikit tenaga dan sesaat setelah kau merasakan kalau skill-nya dimulai, lalu BAM! Dan kau merasa kalau itu mengenai monsternya."
"Bam, ya?"
Muka Eunhyuk yang agak tampan itu –lebih tampanan aku– agak menyeringai hingga tidak enak dipandang mata dan dia mengangkat pedangnya setinggi perutnya.
Menarik dan menghela napas, setelah menarik napas yang dalam, dia menurunkan kuda-kudanya dan mengangkat pedangnya seakan ingin menyandangnya di bahu. Kali ini sistemnya mendetekasi kalau posenya benar dan pedangnya mulai memancarkan sinar berwarna jingga.
"Ha!"
Dengan teriakan kecil, dia melompat dengan gerakan yang sangat berbeda dibandingkan sebelumnya.
Swish!
Bersamaan dengan suara itu, pedangnya meninggalkan jejak merah menyala di udara. Reaver, skill dasar pedang melengkung satu tangan, menancap di leher bagian kanan babi hutan yang sedang menerjang dan melenyapkan seluruh HP-nya, yang sekitar setengah penuh (sama seperti Eunhyuk).
"Guekk!" Babi hutan itu menjerit dan tubuh besarnya mulai terpecah seperti kaca, dan angka-angka berwarna ungu muncul, menunjukkan berapa banyak Experience Point yang didapat.
"Yeeeeaaaahhh!"
Eunhyuk berpose kemenangan dengan senyuman besar di wajahnya dan mengangkat tangan kirinya. Aku menepuknya dan tersenyum padanya.
"Selamat atas kemenangan pertamamu, hyung. Tapi, babi hutan itu hanya selemah slime di game lain."
"Eh, benarkah? Kupikir babi hutan itu adalah semi-boss atau sejenisnya."
"Mustahil."
Senyumanku menjadi agak miris saat aku menyarungkan pedangku di punggungku.
Meskipun aku menggodanya, aku mengerti perasaannya sekarang. Karena aku punya pengalaman 2 bulan lebih daripada dia. Hanya saja sekarang dia bisa merasakan kegembiraan menghancurkan musuhnya dengan tangannya sendiri.
Eunhyuk mulai menggunakan Sword Skill yang sama berulang-ulang sambil berteriak. Mungkin itu adalah salah satu caranya untuk berlatih. Aku meninggalkannya sendiri dan melihat sekeliling.
Padang rumput yang terbentang sangat luas ini bersinar kemerahan saat matahari mulai terbenam. Di utara terlihat bayang-bayang hutan, danau yang berkilauan, dan aku bisa melihat tembok yang mengelilingi kota hingga ke timur. Di bagian barat ada langit yang tak terbatas dengan awan berwarna keemasan yang melayang di atasnya.
Kami ada di padang rumput yang terbentang di sebelah timur dari Town of Beginnings yang berada di ujung utara dari lantai utama kastil terbang raksasa Aincrad. Seharusnya ada banyak sekali player lain yang sedang bertarung dengan monster di sekitar sini, tapi karena terlalu luas, tidak ada satu pun dari mereka yang terlihat.
Terlihat puas, Eunhyuk menyarungkan pedangnya dan berjalan kemari sambil melihat sekeliling juga.
"Omong-omong, berapa kali pun aku melihat sekeliling seperti ini aku masih belum bisa percaya kalau kita ini berada di dalam game."
"Yah, meskipun hyung bilang 'di dalam', bukan berarti kalau jiwa kita tersedot ke dalamnya atau sejenisnya. Yang melihat dan mendengar bukanlah mata dan telinga, melainkan otak kita dengan mengirimkan sinyal dari Nerve Gear." Aku berkata begitu sambil mengangkat bahuku. Eunhyuk mengerutkan bibirnya seperti anak kecil.
"Kau mungkin sudah terbiasa sekarang, tapi bagiku ini adalah pertama kalinya aku melakukan Full Dive. Bukankah ini luar biasa? … Aku benar-benar bersyukur dilahirkan di zaman ini!"
"Kau berlebihan, hyung."
Tapi, meskipun tertawa, aku setuju dengannya.
Nerve Gear, itulah nama perangkat keras yang menjalankan VRMMORPG –Sword Art Online.
Bentuk dasar mesin ini sangat berbeda dibandingkan dengan yang lama. Tidak seperti perangkat keras tipe lama yang seperti "monitor layar datar" atau "stick game", Nerve Bear mempunyai bentuk seperti helm yang menutupi seluruh kepala dan wajah.
Di dalamnya terdapat banyak pemancar sinyal, dan dengan menggunakan pemancar sinyal itu, Gear-nya langsung mengakses kedalam otak si pemakai. Si pemakai tidak menggunakan mata dan telinganya untuk melihat dan mendengar, melainkan menangkap sinyal yang dikirimkan langsung ke otak mereka. Ditambah lagi, mesinnya tidak hanya bisa mengakses ke pendengaran dan penglihatan, tapi juga bisa mengakses indra peraba, perasa dan penciuman. Singkatnya, kelima indra.
Setelah memakai Nerve Gear, kalian kunci tali pengikatnya di dagu dan mengatakan perintah inisiasi, Link Start, semua suara menghilang dan kalian akan diselimuti kegelapan. Segera setelah melewati lingkaran berwarna pelangi di tengah, kalian sudah berada di dunia yang terbuat sepenuhnya dari data.
Jadi…
Setengah tahun lalu, mesin ini (yang mulai dijual pada Mei 2022) berhasil membuat Virtual Reality. Perusahaan elektronik yang membuat Nerve Gear menyebut keadaan terhubung dengan Virtual Reality dengan istilah Full Dive.
Dunia yang sepenuhnya terpisah dari kenyataan, cocok dengan kata "full".
Alasannya adalah karena Nerve Gear tidak hanya mengirimkan sinyal palsu pada kelima indra, tetapi juga memblokir dan mengembalikan sinyal yang telah dikirimkan oleh otak ke tubuh.
Ini bisa dibilang syarat paling dasar untuk bergerak bebas di dalam Virtual Reality. Jika tubuhnya menerima sinyal dari otak ketika si pengguna dalam keadaan Full Dive, pada saat si pengguna memutuskan untuk Berlari, tubuh asli mereka akan menabrak tembok.
Karena, Nerve Gear mampu mengembalikan perintah yang dikirimkan oleh otak melalui tulang belakang, aku dan Eunhyuk bisa bebas menggerakkan avatar kami dan mengayunkan pedang kami sesukanya. Kami benar-benar terjun ke dalam game.
Pengalaman ini benar-benar memikatku dan banyak player lainnya, hingga membuat kami tidak akan pernah bisa kembali ke sensor gerakan.
Eunhyuk melihat ke arah angin yang berhembus melalui pada rumput dan tembok kastil dengan air mata sungguhan di matanya.
"Jadi, SAO adalah game pertama yang hyung mainkan dengan Nerve Gear?" Aku bertanya.
Eunhyuk yang terlihat seperti seorang prajurit tampan yang berasal dari zaman perang menengok kearahku dan mengangguk.
"Ya."
Jika dia menggunakan ekspresi yang serius di wajahnya, dia akan terlihat seperti aktor yang sedang memerankan drama zaman dulu. Tentu saja ini sangat berbeda dari tubuh aslinya di dunia nyata. Ini hanyalah avatar yang dibuat berasal dari memilih diantara daftar pilihan.
Tentu saja, aku juga terlihat seperti seorang protagonis yang sangat tampan dari sebuah anime fantasi.
Eunhyuk meneruskan pembicaraan dengan suaranya yang terdengar pelan tapi bersemangat, tentu saja ini juga berbeda dengan yang di dunia nyata.
"Yah, tepatnya aku membeli perangkat kerasnya segera setelah aku mendapatkan SAO. Hanya ada sepuluh ribu yang dikeluarkan sekarang, jadi kupikir aku memang sangat beruntung. Tapi, kalau dipikir-pikir kau sepuluh kali lebih beruntung daripada aku karena kau terpilih untuk beta testing. Mereka cuma mengambil seribu orang!"
"Ah, ya, benar juga."
Eunhyuk terus melihat ke arahku. Tanpa sadar aku menggaruk kepalaku.
Aku masih ingat kesenangan dan rasa antusias saat pembuatan Sword Art Online diumumkan sudah selesai lewat media seperti baru kemarin.
Nerve Gear telah membuat dunia game menjadi lebih maju dengan Full Dive-nya. tapi, karena mesinnya masih baru selesai, hanya game-game yang tidak terkenal saja yang ada untuk dimainkan. Contohnya puzzle, dan game-game yang berhubungan dengan pelajaran atau lingkungan, itu membuat kecewa para penggemar game sepertiku.
Nerve Gear benar-benar bisa menciptakan Virtual Reality.
Tapi kau hanya bisa berjalan 100 meter sebelum kau mencapai batas dinding di dunia itu; itu benar-benar mengecewakan. Para pecinta game sepertiku, yang benar-benar menghargai pengalaman berada di dalam game, tidak mungkin kalau kami tidak menantikan suatu game dengan gaya tertentu.
Kami mulai menunggu untuk sebuah game network yang bisa memuat jutaan orang mendaftar dan masuk, bertarung bersama dan hidup sebagai karakter mereka sendiri, atau dengan kata lain –sebuah MMORPG.
Ketika rasa sntisipasi dan kesabaran kami mencapai puncaknya, VRMMROPG pertama diumumkan tepat waktunya, Sword Art Online. Panggung permainan ini adalah sebuah kastil raksasa yang terdiri dari 100 lantai.
Para player hidup di sebuah dunia dengan hutan dan danau, hanya mengandalkan pedang dan kemampuan mereka untuk menemukan rute untuk menuju ke lantai atas dan mengalahkan monster yang tak terhitung jumlahnya untuk membuka jalan menuju lantai teratas.
Magic yang dianggap merupakan bagian yang tidak bisa digantikan dari MMORPG fantasi telah dihilangkan dan skill yang tidak terhitung jumlahnya yang bernama Sword Skill dibuat. Itu mungkin adalah salah satu rencana untuk membuat para player bisa merasakan pengalaman dari pertarungan dengan tubuh mereka sendiri melalui Full Dive sebanyak mungkin.
Skill-nya bervariasi termasuk skill produksi seperti pandai besi, penjahit, dan kemampuan sehari-hari seperti memancing, memasak, dan bemain music, mengijinkan player tidak hanya perpetualang di dalam game besar ini tetapi juga benar-benar 'hidup' di dalamnya. Jika mereka mau, dan skill level mereka cukup tinggi, mereka bisa membeli rumah dan hidup bahagia sebagai pengembala domba.
Saat informasi ini disampaikan, rasa antusias para gamer menjadi semakin tinggi.
Beta test-nya hanya mengajak seribu orang pencoba. Katanya, ada seratus ribu orang, setengah dari jumlah Nerve Gears yang terjual saat itu, ingin menjadi pencobanya. Keberuntungan adalah satu-satunya alasanku bisa terpilih. Selain itu, Beta Tester mendapat keuntungan tambahan karena diberikan prioritas ketika game-nya sudah resmi keluar.
Dua bulan beta tesing terasa seperti mimpi saja. Di sekolah, aku selalu memikirkan tentang susunan skill-ku, equipment dan item, dan lari langsung ke rumah segera setelah sekolah berakhir dan masuk ke game hingga subuh. Beta test-nya berakhir dalam sekejap mata, dan di hari dimana karakterku di reset, aku merasa kehilangan yang sangat besar seperti setengah tubuh asliku menghilang.
Dan sekarang, 11 November 2022, Minggu.
Sword Art Online setelah semua persiapannya telah selesai, jam 1 siang servis server-nya resmi dimulai.
Tentu saja, aku telah menunggu selama 30 menit dan langsung masuk tanpa menunggu sedetik pun, tapi ketika aku memeriksa keadaan server-nya, Sembilan ribu lima ratus orang lebih sudah masuk ke dalam game. Sepertinya semua orang yang beruntung mendapatkan gamenya merasakan hal yang sama denganku. Semua situs penjualan online mengumunkan kalau gamenya terjual habis tepat setelah penualan dibuka dan penjualan offline, yang dimulai sejak kemarin, telah terbentuk barisan orang yang mengantri lebih dari empat hari, membuat keributan yang cukup hingga bisa masuk dalam berita.
Kelakuan Eunhyuk menunjukkan semua ini dengan jelas.
Setelah aku masuk ke dalam SAO, aku mulai berlari melalui jalan batu yang sudah ku kenal di Town of Beginnings untuk menuju ke toko senjata. Menyadari kalau diriku adalah Beta Tester setelah melihatku memulai dan berlaritanpa ragu, Eunhyuk berlari ke arahku.
"Hei, ajarkan aku beberapa hal!" dia memohon.
Aku heran, kenapa dia bisa dengan mudahnya memohon ke orang yang baru dia temui. Aku kehilangan kata-kataku karena takjub.
"Ah, kalau begitu… Bagaimana kalau kita ke toko senjata dulu?" Aku menjawabnya seperti seorang NPC; kami akhirnya membuat sebuah Party, dan aku mulai mengajarinya beberapa dasar bertarung –dan itulah mengapa kami berakhir seperti ini.
Sebenarnya, aku tidak terlalu akrab dengan orang di dunia nyata atau di dalam game, bahkan mungkin lebih sedikit di dalam dunia game di bandingkan dengan di dunia nyata. Selama beta testing aku mengenal beberapa orang, tapi aku tidak terlalu dekat dengan mereka hingga tidak bisa menyebut mereka sebagai teman.
Tapi Eunhyuk punya sisi yang agak bersahabat, dan aku juga tidak berpikir kalau itu tidak mengenakkan. Berpikir kalau aku mungkin bisa akrab dengannya, aku membuka mulutku.
"Jadi… Apa yang sekarang mau hyung lakukan? Apa hyung mau terus berburu hingga hyung terbiasa?"
"Tentu! Itu yang mau kubilang, tapi…"
Mata Eunhyuk melihat kea rah bawah kanan dari penglihatannya. Dia pasti sedang memastikan waktu.
"… Yah, aku harus keluar dari game dan makan. Aku memesan pizza untuk jam 5:30."
"Benar-benar sudah mempersiapkan segalanya."
Aku tidak bisa mengatakan hal lain, Eunhyuk membusungkan dadanya.
"Tentu saja!" dia berkata begitu dengan bangga. "Aku sudah janji untuk bertemu beberapa teman di Town of Beginnings sebentar lagi. Aku bisa memperkenalkan beberapa dari mereka dan kau bisa mendaftarkan mereka sebagai teman. Dengan begitu kau bisa kapan saja mengirimkan pesan. Bagaimana?"
"Errr… Hmmm…" Tanpa sadar aku bergumam.
Aku agak akrab dengan Eunhyuk, tapi tidak ada jaminan kalau aku bisa akrab dengan teman-temannya. Aku merasa kalau kemungkinannya lebih besar kalau aku tidak akan bisa akrab dengan mereka, dan sebagai akibatnya, aku juga tidak bisa berteman dengan Eunhyuk lagi.
"Haruskah aku…?"
Terlihat mengerti alasanku menjawab dengan tidak begitu yakin, Eunhyuk menggelengkan kepalanya.
"Ah, aku tidak bermaksud memaksamu. Lagipula aka nada kesempatan lain untuk memperkenalkan mereka."
"… Ya. Maaf, dan terimakasih."
Segera setelah aku berterima kasih padanya, Eunhyuk menggelengkan kepalanya sekuat mungkin.
"Hei, hei, seharusnya aku yang berterimakasih padamu. Aku menerima banyak bantuan darimu. Aku akan membalas jasamu lain kali. Kalau kita ketemu lagi."
Eunhyuk tersenyum dan melirik ke arah jam sekali lagi.
"… Yah, aku akan keluar sebentar. Terima kasih banyak, Kibum. Sampai jumpa lagi."
Dengan begitu, dia menaruh tangannya ke depan. Saat itu, kupikir orang ini pasti adalah seorang pemimpin yang hebat di dalam game lain dan bersalaman dengannya.
"Ya, sampai jumpa."
Kami melepaskan tangan masing-masing.
Itu adalah saat dimana Aincrad, atau Sword Art Online berhenti menjadi sebuah game yang menyenangkan bagiku.
Eunhyuk berjalan mundur sedikit dan menempelkan jari tengah dan jempol tangan kanannya lalu menarik ke bawah… Ini adalah hal yang perlu dilakukan untuk memanggil Main Menu Window. Segera setelahnya terdengar suara berdering dan muncul sinar kotak berwarna ungu.
Aku menyingkir sedikit dan duduk di sebuah batu lalu membuka menu-ku juga. aku mulai menggerakkan jariku untuk menyusun item yang kudapat setelah bertarung dengan boar tadi.
Lalu.
"Eh?" Eunhyuk berkata dengan nada aneh.
"Apa ini? … Tidak ada tombol Log Out-nya."
Saat itu aku berhenti menggerakkan jariku dan mengangkat kepalaku.
"Tidak ada tombolnya….? Mustahil, coba lihat lebih jelas."
Aku berkata dengan sedikit bingung. Dia membuka matanya lebar-lebar di bawah bandananya dan mendekatkan kepalanya ke menu. Kotaknya lebih panjang kesamping daripada ke atas, dan membunyai sekumpulan tombol di bagian kiri serta sebuah gambaran karakter yang menunjukkan equipment yang kaupakai di bagian kanan. Di bagian bawah menu ada tombol LOG OUT yang digunakan untuk keluar dari dunia ini.
Ketika aku kembali melihat ke aral list yang menunjukkan item yang kudapat setelah bertarung, Eunhyuk mulai berbicara dengan nada tinggi tidak seperti biasanya.
"Benar-benar tidak ada. Coba lihat Kibum."
"Sudah kubilang tidak mungkin tidak ada di sana…" aku bergumam sambil menghela napas lalu mengklik ke tombol di bagian kiri atas untuk kembali ke menu screen.
Storage Window dibagian kanan menutup dan kembali ke menu utama. Di sebelah kiri dari gambar karakter, yang masih memiliki banyak tempat kosong, tersusun tombol-tombol.
Aku menggerakkan tanganku ke bawah seperti biasa dan –
Tubuhku membatu.
Tidak ada.
Seperti yang dikatakan Eunhyuk, tombol yang ada di sana ketika beta test –tidak, bahkan tombol yang masih ada ketika aku masuk ke dalam game– telah menghilang.
Aku memandangi tempat kosong itu selama beberapa detik, lalu melihat ke seluruh bagian menu, memastikan kalau itu bukan dipindahkan saja posisinya. Eunhyuk melihatku dengan kata "Benar, kan?" tertulis diwajahnya.
"… Tidak ada, kan?"
"Ya, tidak ada."
Aku mengangguk, meski itu agak menjengkelkan untuk langsung setuju dengannya. Eunhyuk tersenyum dan mulai mengusap-usap dagunya.
"Yah, ini kan hari pertama, jadi bug seperti itu mungkin terjadi. Seharusnya sekarang para GM sedang kewalahan dengan jumlah pesan yang membanjiri pesan masuk-nya." Eunhyuk berkata dengan tenang.
"Apakah tidak apa-apa hyung hanya berdiri saja seperti itu? hyung bilang kalau hyung memesan pizza, ya 'kan?" aku sedikit menggodanya.
"Ah, benar juga!"
Aku tersenyum saat melihatnya kepanikan, dan membuka matanya lebar-lebar.
Aku melempar beberapa item yang tidak diperlukan dari inventory, yang telah menjadi merah karena terlalu banyak item di dalamnya, lalu aku berjalan kearah Eunhyuk.
"Argh! Pizza ikan teri dan ginger ale ku~!"
"Kenapa hyung tidak coba menghubungi GM? Mereka mungkin bisa memutuskan hubungan servermu dari sana."
"Sudah kucoba, tapu tidak ada respon sama sekali. Ini sudah pukul 5:25! Hei, Kibum! Apa tidak ada cara lain untuk Log Out?"
Setelah mendengarkan apa yang Eunhyuk katakan sambil melambaikan tangannya –
Wajahku menjadi kaku. Entah kenapa aku merasa takut dan merinding di punggungku.
"Coba kupikir… untuk Log Out…" Aku berbicara sambil berpikir.
Untuk keluar dari Virtual Reality ini dan kembali ke kamarku, aku harus membuka Main Menu, menekan tombol 'Log Out' dan 'Yes' di jendela yang muncul di sebelah kanan. Itu sangat simpel. Tapi pada saat yang sama, selain prosedur itu, aku tidak tahu cara lain untuk keluar dari game.
Aku melihat ke wajah Eunhyuk, yang berada tepat di hadapanku dan menggelengkan kepalaku.
"Tidak… Tidak ada. Jika kau mau Log Out dari game, kau harus menggunakan tombol di menu, selain itu tidak ada cara lain."
"Itu mustahil… Pasti ada suatu cara!" Eunhyuk tiba-tiba mulai berteriak seperti kalau dia tidak mempercayai kata-kataku.
"Kembali! Log Out! Kabur!"
Tapi tentu saja, tidak akan ada yang terjadi. Di SAO tidak ada perintah suara seperti itu. setelah dia berteriak ini dan itu dan bahkan melompat, aku berbicara padanya.
"Eunhyuk hyung, itu sia-sia. Bahkan di manual tidak tertulis apapun tentang pemutusan akses darurat."
"Tapi… Ini gila! Bahkan jika ini adalah bug, aku bahkan tidak bisa kembali ke kamarku semauku!" Eunhyuk berteriak dengan ekspresi bingung diwajahnya.
Aku sangat setuju dengannya. Ini mustahil. Benar-benar tidak masuk akal. Tapi ini kebenaran yang tidak bisa dibantah.
"Hei… Apa-apaan ini? Ini benar-benar aneh. sekarang, kita tidak bisa keluar dari game ini!"
Eunhyun tertawa menyedihkan dan mulai berbicara lagi, "Tunggu, kita cukup mematikannya saja. Atau lepas saja Gear-nya."
Ketika aku melihat Eunhyuk menggerakkan tangannya, yang bergerak seperti sedang melepas helm yang tidak terlihat, aku merasa kalau kegelisahanku kembali.
"Itu mustahil, dua-duanya. Sekarang ini kita tidak bisa menggerakkan tubuh asli kita. Nerve Gear-nya meneriman semua sinyal yang dikirim daro otak kita dan mengirimkannya kemari…" Aku memgang bagian belakang kepalaku. "… Dan menyampaikannya ke tubuh kita disini."
Eunhyuk perlahan-lahan menutup mulutnya dan menurunkan tangannya. kami berdua masih berdiri tanpa berbicara selama beberapa saat, saling berpikir.
Untuk mendapat keadaan Full Dive, Nerve Gear memblokir semua sinyal yang dikirim oleh otak kita dan mengirimkannya kemari supaya kita bisa mengontrol tubuh kita di dunia ini. Jadi, berapa liarpun aku menggerakkan tubuhku di sini, tubuhku di dunia nyata, yang sedang terbaring di kasur sekarang tidak akan bergerak sedikitpun; memastikan kalau aku tidak akan membenturkan kepalaku ke sisi meja atau apa pun.
Tapi, karena fungsi ini, kita tidak bisa bebas keluar dari kondisi Full Dive.
"… Jadi, selain bug-nya diperbaiki atau seseorang dari dunia nyata melepaskan Gear-nya, kita hanya bisa menunggu?" Eunhyuk bergumam, terlihat sedikit pusing. Aku diam-diam setuju.
"Tapi aku tinggal sendiri. Kau?"
Aku sedikit ragu-ragu tapi aku mengatakan yang sebenarnya padanya.
"… Aku tinggal dengan ibuku dan adik perempuanku, bertiga. Kupikir aku pasti akan dipaksa keluar dari kondisi Dive jika aku tidak keluar saat makan malam…"
"Apa? Be-berapa umur adik perempuanmu?" Eunhyuk tiba-tiba melihat ke arahku, matanya bercahaya. Aku mendorong kepalanya menjauh.
"hyung agak tenang sekarang, ya 'kan? Dia anggota klub olahraga yang membenci game, jadi dia tidak mungkin bisa akrab dengan orang seperti kita… Tapi, daripada itu," Aku membentangkan tangan kananku untuk mengganti jalan pembicaraannya. "Apa hyung tidak berpikir… Kalau ini aneh?"
"Tentu saja. Ini kan bug."
"Bukan, maksudku bukan hanya bug saja, ini adalah bug-mustahil-untuk-Log-Out, ini masalah yang cukup besar yang bisa membuat pengoperasian game itu sendiri terganggu. Seperti pizza-mu di dunia nyata yang semakin mendingin setiap detik, ini benar-benar merugikan keuangan, ya 'kan?"
"… Sebuah pizza dingin… Itu sama saja dengan natto keras!"
Aku mengabaikan komentar yang tidak berarti itu dan melanjutkan pembicaraan.
"Jika sudah seperti ini, seharusnya operator akan segera mematikan server-nya dan membuat semua player Log Out apa pun yang terjadi. Tapi… ini sudah lebih dari 15 menit sejak kita menyadari hal ini dan belum ada satupun pesan dari system yang muncul, meski kita abaikan penghentian server-nya, ini sudah terlalu aneh."
"Hmm, sekarang kupikir-pikir kau benar juga."
Sekarang Eunhyuk mulai mengusap dagunya dengan ekspresi serius diwajahnya. Di bagian bandananya yang menutupi dahinya, pengetahuan terpancar di dalam matanya. Aku mulai mendengarkan Eunhyuk, merasa sedikit aneh berbicara dengan orang yang tidak akan pernah kutemui jika aku telah menghapus akun milikku.
"… Perusahaan yang membuat SAO, Argus, adalah perusahaan yang terkenal karena sangat memperhatikan penggunanya, ya 'kan? Itulah kenapa orang-orang berebutan membeli kasetnya meskipun ini adalah game online pertamanya. Semua itu akan sia-sia jika mereka membuat kesalahan seperti ini di hari pertamanya."
"Aku setuju, dan SAO adalah VRMMORPG pertama. Jika ada sesuatu yang salah sekarang, mereka pasti akan segera memperbaikinya."
Eunhyuk dan aku melihat wajah virtual masing-masing dan menghela napas.
Musim di Aincrad dibuat berdasarkan kenyataan, jadi sekarang di sini juga sedang memasuki musim gugur. Aku melihat ke atas, menghirup udara virtual, menarik napas dingin yang dalam.
Sekitar 100 meter di atas aku bisa melihat atap berwarna ungu muda yang merupakan bagian bawah dari lantai 2. Sambil mengikuti permukaannya yang tidak rata, aku melihat menara besar –labirin yang merupakan jalan menuju ke lantai atas, dan melihatnya terhubung dengan jalan keluarnya.
Saat itu jam 5:30 lewat dan garis kecil di langit yang terlihat berwarna merah seperti matahari terbenam. Meski berada di situasi seperti ini, melihat padang rumput yang luas yang berwarna keemasan memantulkan sinar matahari sore, aku menemukan diriku tidak bisa berbicara di depan keindahan dunia virtual ini.
Tepat sesudahnya.
Dunia berubah selamanya…
:::Sword Art Online:::
.
.
.
To Be Continued…
Glosarium:
Buckler: Perisai kecil berbentuk bulat
Scimitar: Pedang lengkung
Stun: Lumpuh sesaat
Experience Point: Parameter untuk kenaikan level dalam suatu game
Drop Item List: Daftar barang yang di dapatkan setelah mengalahkan musuh
Party: Kelompok dalam game
Armor: Pakaian untuk melindungi tubuh dari serangan
First Motion: Ancang-ancang untuk meng-inisiasi Sword Skill
Cutlass: Pedang pendek dengan mata pedang melengkung
Slime: Lendir atau lumpur, biasa monster paling lemah dalam game.
Author's Note:
Selesai juga nih chapter satunya…
Semoga kalian suka, jangan lupa Reviewnya ya… ^^v
Kritik dan saran selalu di terima. Jika ada yang ingin ditanyakan, silahkan saja, bisa melalui Review-an anda, atau PM juga boleh.
Thanks banget buat yang udah nge-review di bagian prolog kemarin.
See you all at next chapter ^^
=HAPPY KIHYUN DAY=
