Bagian II:
Papan penguman sore itu terlihat lengang setelah sebelumnya dipenuhi oleh kerumunan siswa-siswi SMA Konoha. Beberapa lembar kertas tertempel di sana bertuliskan nama-nama siswa dan peringkat paralelnya di sekolah. Menyebabkan bermacam-macam ekspresi bagi yang melihatnya. Terutama bagi anak kelas satu yang baru mengenal satu sama lain dan belum mengetahui kemampuan teman-temannya, lembar itu bisa menjadi bahan referensi yang cukup bagus.
Seseorang mendekati papan pengumuman itu. Sepatu hitamnya berkilat dengan kaus kaki hampir mencapai lutut. Sekitar sepuluh senti diatasnya, rok rempel terayun mengikuti gerak kakinya. Hinata, nama gadis itu, memandangi papan pengumuman penuh rasa ingin tahu seperti wajah-wajah yang mampir sebelumnya.
Ia berbisik pelan, "A-akhirnya sepi juga."
Tak perlu menelisik satu persatu, matanya menangkap tinta yang menggores namanya. Di pojok kiri atas baris kedua. Suara embusan napas yang agak keras tertangkap indra pendengarannya. Napasnya sendiri. Kemudian Hinata menggigit bibir bawahnya dengan pandangan nanar. Pandangan yang sama seperti setahun yang lalu.
Tap.
Suara langkah lain terdengar di sebelahnya. Seorang pemuda yang mempunyai tanda kelas yang sama juga tengah memandangi deretan nama. Lalu sebuah seringai tipis nampak di wajahnya yang angkuh. Tampaknya ia telah berhasil menemukan namanya. Jelas sorot kepuasan terlihat di iris jelaga itu.
Mata Hinata tak sengaja bertatapan dengan mata pemuda itu. Penuh rasa ingin tahu tersirat dari matanya mengenai penyebab kepuasan pemuda itu. Bagi Hinata ekspresi itu terlihat agak memuakkan. Merasa dipandangi, pemuda itu menoleh padanya.
Saat itulah awal perkenalan mereka dimulai. Tak ada kata yang terucap. Hanya mata yang bersitatap. Pemuda itu kemudian tersenyum mengejek. Meskipun sangat tipis entah kenapa Hinata bisa merasakannya. 'Ada apa?'
Manik bening Hinata menemukan jawabannya pada nametag yang terpasang di dada kiri pemuda itu, Uchiha Sasuke. Nama yang serupa dengan nama yang bersanding di sebelah angka satu di papan pengumuman. Nama yang serupa pula dengan nama yang dipanggil ketika upacara penyambutan murid baru. Darah Hinata kemudian sedikit berdesir. Refleks ia membungkukkan badan sedikit, "Yo-yoroshiku onegaishimasu, —salam kenal."
Namun Uchiha Sasuke sudah membalikkan punggungnya sambil tak henti-hentinya tersenyum. Meski hanya satu ujung bibir yang terangkat, namanya tetap senyuman, bukan? Dadanya mengembang. 'Yang selalu menjadi nomor dua tidak akan bisa mengalahkan seorang Uchiha.'
Mulanya Hinata tidak mengerti mengenai rasa berdebar yang aneh ketika Uchiha Sasuke meninggalkannya sore itu. Namun sedikit demi sedikit ia memahami bahwa memang seperti itu bila berhadapan dengan seorang Uchiha. Ia harus berjuang untuk mengalahkannya.
Di setiap pelatihan olimpiade, ajang perlombaan, mata mereka saling menatap tajam. Tak ada rasa segan dan rendah diri yang melanda seorang Hyuuga Hinata. Yang ia tahu kemudian hanya pandangan dingin dan menjatuhkan. Karena ia ingin Sasuke tahu bahwa Hyuuga juga tidak jauh berbeda dengan Uchiha.
/phiphiphi/
Seperti dejavu, siang ini sepatu Hinata mengetuk ubin lorong sekolah dengan tempo lambat. Menyusuri kelas-kelas, tak memedulikan tatapan mata penuh ingin tahu dari balik jendela terhadap sebuah rutinitas yang sudah hampir sering dilakukannya ketika istirahat usai. Di belakangnya, jejak-jejak basah terpeta jelas meninggalkan bayangan hitam dengan pola oval yang mengabur di pinggirnya. Terlalu banyak air. Begitulah keadaan Hinata sekarang.
Hinata masih mengingat dengan jelas saat ia izin meninggalkan kelas. Asuma-sensei yang kebetulan sedang mengajar sekarang, mengangguk maklum ketika Hinata mengangkat tangannya yang basah. Air mengalir hingga ujung sepatunya. Beberapa anak sengaja mengernyit menutup hidung, padahal sebenarnya tidak tercium bau apa-apa.
Kemudian ketika melewati meja guru, Hinata pun menangkap maksud Asuma-sensei untuk menemuinya sepulang sekolah. Beberapa pasang mata menatapnya dengan pandangan mencibir. Seolah itu adalah suatu keringanan yang harus disyukuri. Namun bagi Hinata tidak, baginya ini membuang-buang waktu.
Tapi dengan baju basah sepanjang hari? Kemudian pulang diinterogasi? Hinata lebih memilih untuk mengerjakan tugas yang bertumpuk, yang berarti tugasnya akan lebih banyak bahkan bisa mencapai lima kali lipat dari pada siswa lainnya.
Cklek.
Tangan pucat itu membuka pintu di ujung tangga menuju atap sekolah, tempat Hinata biasa menghabiskan sisa waktunya. Atap itu tidak terlalu luas namun cukup lapang jika ingin merasakan hening kesendirian. Sayangnya kali ini Hinata tidak sendiri. Di belakangnya ada seorang pemuda.
"Kenapa kau mengikutiku?" suara Hinata terdengar dingin.
Pemuda sebayanya itu tak menjawab. Matanya bahkan sama sekali tak memandang Hinata. Ia kemudian membaringkan tubuhnya tak jauh dari tempat Hinata duduk. Apakah dia sengaja ingin membuat Hinata kesal?
Jika iya maka itu berhasil sejak tadi. Pemuda inilah yang tadi mendobrak pintu kamar mandi tempat Hinata dikurung. Masih terasa segar di ingatan Hinata tatkala mereka sama-sama terdiam tanpa penjelasan, keduanya sama-sama kaget. Sasuke sepertinya tak sadar jika tempat itu adalah kamar mandi perempuan. Dan kemudian yang menyadarkannya adalah perlakuan Hinata terhadapnya.
Napas menderu Hinata terdengar. Ketakutan yang ditakuti Hinata muncul. Menyergap dirinya begitu hebat ketika manik beningnya menegang kaku, menangkap siluet merah dimana-mana pada sosok yang berdiri di hadapannya.
Segera ia lepas sweater putihnya kemudian mengguyurnya dengan air. Dengan tangan gemetar Hinata menyentuh wajah Sasuke tergesa-gesa. Di sana bercak merah itu paling banyak berada dan mungkin penyebab bercak-bercak merah lainnya, di dada, di lengan. Bahkan celana Sasuke tak luput darinya.
Dalam bayangan Hinata, apa yang terjadi pada Sasuke pasti mengerikan. Lebih mengerikan dari pada rutinitas penindasan pada dirinya. Bayangkan, Hinata yang sering disakiti secara fisik habis-habisan saja sakit, ya, Hinata mengakui bahwa dampak dari penyiksaan Karin biasanya berupa lebam yang terasa sakitnya sampai beberapa hari ke depan. Bagaimana dengan Sasuke yang bukan hanya lebam, tapi juga terkelupas kulitnya sehingga sobek pembuluh darahnya?
Hinata lebih dari tahu predikat Sasuke sebagai preman atau tukang berkelahi paruh waktu, begitu Hinata menyebutnya. Ia adalah saingan terberat Hinata. Namun, selain jago dalam akademis ia juga jago dalam memukul orang. Yang artinya Sasuke sama saja seperti penindas, orang yang suka menindas dan melihat orang kesakitan.
Namun kenapa sekarang Sasuke yang malah penuh luka? Apakah ia jadi lemah kemudian ditindas juga? Oh, salahkan pikiran polos Hinata yang tiba-tiba muncul. Hinata tidak tega melihat darah yang terus-menerus mengalir dramatis dari luka yang menganga itu. Lebih tepatnya ia tidak tega membayangkan bagaimana rasa sakit yang harus ditanggung oleh pemuda di depannya itu.
Tersadar oleh perlakuan Hinata, tangan Sasuke mencengkram pergelangan tangan Hinata. Sia-sia Hinata mencoba melepaskan pergelangan tangannya. Sebagai balasannya ia hanya bisa menatap Sasuke setajam-tajamnya.
"Apa yang kau lakukan?" seharusnya Hinata yang bertanya seperti itu.
"A-aku membersihkan lukamu."
"Aku tidak butuh."
Hinata sedikit menyesal memberikan simpatinya pada pemuda Uchiha itu. "Lu-lukamu bisa infeksi. Sebaiknya kau pergi ke ruang kesehatan jika tidak ingin kubersihkan."
"Tidak usah pura-pura peduli pada luka orang lain. Urusi saja lukamu sendiri."
Ucapan itu sontak saja menohok Hinata. Ia mendengus kesal karena tindakannya benar-benar sia-sia. Melemparkan sweaternya yang penuh noda darah pada pemuda itu, Hinata beranjak pergi meninggalkan Sasuke, menuju atap sekolah. Kemudian Hinata memedulikan kepalanya yang baru terasa, hampir pecah. Ya, begitulah kejadian beberapa menit lalu.
"Empat kali." Sasuke mengangkat jari-jemarinya, memecah cahaya matahari yang memberkas di atas wajahnya. "Tak kusangka, Hyuuga juga hobi membolos."
Hinata mengernyit tak suka. "Te-terimakasih. Kukembalikan ka-kata-kata itu padamu, U-uchiha-san."
"Tapi aku tak sama denganmu ..." pandangan Hinata menengadah. Kedua tangannya menumpu tubuhnya.
"Hn?"
"A-aku sudah izin meninggalkan kelas."
Sasuke mencibir. "Mengeringkan baju? Che, alasan konyol."
"Tapi itu memang kenyataan." Bantah Hinata.
"Mau apapun alasannya, hasilnya tetap sama, bukan? Aku dan kau sama-sama tidak mengikuti pelajaran. Aku bahkan tidak tahu apa yang menyebabkan peringkatmu tetap berada di atas. Menyuap, eh?" Sasuke mengerjap-kerjapkan matanya yang mulai silau.
"Kita hanya berusaha yang terbaik, bukan, Uchiha-san? Kau tidak curang karena selalu menyelesaikan setiap tugas dan ujian dari sekolah dengan sangat baik. Se-sehingga pihak sekolah pun tidak mempermasalahkan keabsenanmu selama pelajaran. Be-begitu pun denganku, a-aku juga menerima konsekuensi yang harus aku hadapi selama tidak bisa mengikuti pelajaran."
"Alasan bagus."
"Dan aku pun tak tahu dengan cara apa kau selalu meraih juara satu paralel." Rupanya Hinata mulai emosi. Melupakan Sasuke adalah prodigy sebenarnya.
Sasuke mencibir. "Anak ayam memang tidak bisa menyamai elang yang terbang bebas di langit."
Hinata terengah. Memegangi kepalanya yang tiba-tiba sakit lagi. "Dunia memang sudah gila. Membiarkan preman sekolah hanya karena selalu juara pararel dan memenangkan olimpiade? Aturan macam apa itu? Bisa-bisa rusak semuanya jika ada yang 'meneladani' sikapmu."
"Ini dunia kita. Tempat manusia mengemis kehidupan."
"Mungkin itu persepsimu dan orang-orang. Tapi aku punya pemahaman tentang dunia sendiri, Uchiha. Dan aku tidak akan mengemis pada dunia."
"Hn? Dengan keadaanmu sekarang kau cocok jadi pengemis. Lagi pula Uchiha tidak akan mengemis. Dunialah yang mengemis pada Uchiha."
"Be-begitu? Kupikir kau tak ada bedanya dengan orang-orang di luar sana. Kau buat orang mengemis dengan apa? Kesewenang-wenanganmu? Nama leluhurmu? Kekuatan fisikmu? Bagiku itu hanya cara lain untuk meminta perhatian orang. Mengemis akan eksistensi."
"Dunia idealmu, huh? Kau hanya terlalu naif, Hyuuga..."
Hinata menyergah cepat, "N-namaku Hinata."
Sasuke mengangkat sebelah alisnya kemudian tersenyum lebar. Ia terkekeh perlahan. Sedangkan Hinata mengernyit kesal karena gemanya sekaligus ngeri, tidak mengerti. "Sasuke. Panggil aku Sasuke, tanpa Uchiha."
"Kau tahu, orang yang naif itu ... biasanya lemah."
Sejak saat itu mereka saling memanggil dengan nama lahir mereka. Berusaha melupakan bahwa mereka adalah seorang Uchiha atau Hyuuga. Meskipun kenyataannya, ketika memandang satu sama lain, mereka sadar nama keluarga mereka tidak akan bisa terlepas begitu saja.
/phiphiphi/
Rumah besar itu berdiri tegak sama seperti sebelumnya. Pagar-pagarnya yang tinggi seolah bersedekap angkuh di depan Sasuke. Deretan pilarnya hanya menyisakan kaki untuk dipandang. Beberapa orang pelayan yang berdiri menyambutnya, diabaikan Sasuke. Ia lebih memedulikan dentaman jantungnya yang kini terdengar semakin jelas. 'Ada apa sebenarnya Ayah menyuruhku pulang ... di tengah semester begini?'
Seminggu sebelumnya, Sasuke mengabarkan mengenai kemenangannya dalam sebuah olimpiade sains beberapa waktu lalu. Tapi tak ada tanggapan yang berarti. Semua berjalan seperti biasa. Kiriman sebuket bunga dari Ibu dan secarik surat di baliknya.
'Ada salam dari Otousan.' Ibu pasti hanya ingin menghibur Sasuke.
Pintu berdaun dua itu membelah terbuka, menampilkan seorang pelayan yang membungkuk hormat pada Sasuke, mempersilahkannya masuk. Tubuh Sasuke bergerak otomatis mencari satu-satunya tujuan ia mendatangi tempat ini.
Seorang laki-laki setengah baya duduk di ruang tamu sambil memegang layar tablet. Di sampingnya, perempuan yang setia mendampinginya selama seperempat abad itu tersenyum menatap Sasuke.
"Otousan ..." ucap Sasuke berusaha menarik perhatian laki-laki itu.
Yang dipanggil balas menatapnya. Wajahnya datar tak menyiratkan ekspresi apapun. Sedang rahang Sasuke mengerat tegang, menunggu.
"Kau baru datang?"
Sasuke tetap berdiri. Ibu berkata, "Biarkan dia duduk dulu, anata —sayang." Berpaling pada anak lelaki bungsunya, "Duduklah, Sasuke."
"Hn." Ia tahu ia tidak sopan, menjawab dengan tenggorokan tercekat.
Mata tua lelaki itu menyiratkan ketidaksukaannya akan menunggu. "Bersiap-siaplah. Sejam lagi kita akan pergi ke London."
Sasuke mengernyitkan kening samar. Setahunya ini belum waktunya liburan.
"Kita akan menghadiri pesta kenaikan pangkat Itachi."
"Bagaimana dengan sekolahku?" Sasuke mengonfirmasi.
"Seharusnya seorang Uchiha tidak masalah mengejar ketertinggalannya."
Rahang Sasuke semakin rapat, gemeretak.
"Toh, lama-lama di sana tidak menghasilkan apa-apa untukmu." Ucapan itu menyindir telak. 'Apa maksudnya ini mengenai olimpiade kemarin?'
"Tapi ..."
"Jangan membanggakan hasil olimpiade terakhir. Kau cuma selisih seratus poin bukan, dari juara kedua?" Suara-suara itu berdenging di kepala Sasuke. Memuntahkan semua angan baiknya.
"Aku tidak bisa ikut." suara Sasuke meninggi. Ibunya berdiri.
Ayah terdiam menerima penolakan itu. Memegang lengan Ibu yang hendak menahan Sasuke. "Terserah. Jika kau ingin berhasil, setidaknya kau harus melihat langkah Itachi lebih dekat."
Sasuke berdiri. Tubuhnya gemetar menyadari bahwa sejak awal ia tertolak. Tak satu pun yang ia perbuat akan dipandang oleh ayahnya. Sekeras apapun usahanya akan sia-sia jika di depannya masih ada Itachi yang berjalan lebih dulu. Sayangnya, ini adalah garis takdir untuk mereka.
"Jika Otousan menganggap Itachi satu-satunya yang benar, kenapa tidak sekalian saja Otousan jadikan dia satu-satunya anak kalian? Pewaris tunggal Uchiha?"
Tanpa menunggu gemanya selesai berbicara, Sasuke melangkah pergi. Berlari menuju stasiun. Berganti kereta sekali, kemudian bersandar pada tiang sambil menarik kaosnya. Ada yang terasa sesak di dadanya. Matanya bahkan terasa sakit, seolah tak berada di tempatnya. Ia merasakan sinar matahari yang terik mengejeknya.
Langkah Sasuke terhuyung menyusuri gang. Tangannya yang tadi tertekuk seolah memeluk tubuhnya itu kini terjatuh. Kemudian melayang bersamaan teriakan. Nada suara yang bercampur. Warna-warna yang membaur. Semua hanya satu bagi Sasuke. Gelap.
bersambung ...
