Bagian III:

Riuh lalu lalang orang silih berganti masuk ke dalam sebuah ruangan yang tak terlalu besar. Tak ada tawa maupun canda. Siluet hitam di mana-mana. Di pojok ruang, terdengar isak lirih seorang gadis kecil yang di tangannya tergenggam tangan adiknya.

"Otoucama ... otoucama ... " Adik gadis kecil itu, Hanabi, memanggil-manggil ketika seorang lelaki berjalan mendekati mereka. Raut wajah laki-laki itu keruh dan semakin menjadi melihat kedua buah hatinya. Hinata, gadis delapan tahun itu menangis. Sedang Hanabi menatap sekeliling tak mengerti. Perjamuan ini terlalu suram bagi keduanya.

Di tengah meja yang penuh bunga krisan dan jejeran dupa terpasang sebuah foto berbingkai sederhana. Meskipun begitu, banyak yang tergerak oleh senyum sederhana itu. Salah satunya, Hyuuga Hiashi, lelaki yang mencintai wanita itu setengah mati. Dan memang benar, hati Hiashi separuh mati ketika wanita itu, yang dari rahimnya memberikan dua orang anak untuknya, meninggalkan dirinya untuk selama-lamanya. Ah, salah, mungkin bukan sendiri karena masih ada dua permata hati mereka.

Hiashi berjongkok, menyejajarkan tubuhnya dengan Hinata dan Hanabi. Menatap keduanya dengan hati hancur. Setelah ini, tanpa seorang ibu, mampukah ia menjadi orangtua yang baik? Mampukah gadis-gadis kecilnya menjadi seorang wanita yang hebat kelak, tanpa sentuhan tangan ibunya?

"Otoucama ... " Suara cedal Hanabi membuyarkan lamunan Hiashi. "Otoucama ... kenapa lamai sekali di sini? Kenapa oneechan menangis? Mana Okaacama?"

Gerakan tangan Hiashi yang ingin memeluk, terhenti. Mungkin sekarang saatnya anak terkecilnya itu bertanya. Dipandanginya Hanabi yang menatap gusar sekelilingnya. Ia tidak suka jika tidak mengerti apa yang terjadi. Apalagi tidak ada ibu yang biasanya memberi tahunya. Hiashi menelan ludah, getir. Sebisa mungkin menghibur meski pedih. "Sst ... jangan ribut Hanabi, Hinata berhentilah menangis. Ibumu sedang tertidur dalam peti itu."

Hinata mendongak. Hanabi mengerutkan kening.

"Okaasama sekarang sedang tidur. Kalian tak ingin istirahatnya terganggu 'kan? Anak-anak baik tidak boleh bersedih, jadilah kuat. Jika kalian sudah jadi anak yang hebat nanti bisa bertemu Okaasama lagi."

"Benarkah itu Otousama?" tanya Hinata penuh harap. Matanya sembab. Ia menahan kuat-kuat isakannya.

"Un, nanti kita pasti bisa bertemu Okaasama lagi." Ucap Hiashi meyakinkan. Anak-anaknya tidak boleh tahu suaranya yang bergetar.

"Dimana?" Mata Hanabi yang polos hampir saja merobohkan pertahanan Hiashi yang langsung menghindar. Ia memeluk erat keduanya lalu katanya kemudian, mengusap pucuk kepala Hanabi, "Nanti, kita akan bertemu di surga. Mau 'kan?"

Kedua permatanya itu mengangguk.

Empat tahun kemudian Hinata dan Hanabi belajar artinya hidup tanpa ibu. Rasanya sudah lama keluarga kecil itu tidak menghabiskan waktu bersama. Ayah yang semakin sibuk dengan pekerjaannya juga tetek bengek klan. Dan Hinata harus berjuang keras memenuhi keinginan ayahnya, juga klannya.

Hyuuga adalah salah satu klan darah biru yang terhormat dan disegani. Banyak kiprahnya yang mengundang decak kagum karena tak sembarang orang bisa masuk ke dalam lingkarannya. Meski tidak secara verbal, Hinata tahu, ayahnya mengharapkannya dengan sangat. Nama Hyuuga yang diturunkan padanya, juga bebannya sebagai anak pertama. Ia harus menjadi contoh untuk Hanabi dan juga para bunke.

Setiap hari setidaknya ada lima belas pelayan yang melayani dirinya. Mulai dari bangun tidur hingga tidur lagi. Belum lagi di sekolah, ia akan selalu diawasi dan diwanti-wanti. Prestasinya, dengan siapa ia bergaul, dan guru-gurunya. "Ini demi kebaikan diri kalian." Begitu kata ayahnya setiap kali Hanabi protes. Hinata hanya bisa terdiam. Sebagai anak tertua seharusnya ia mengerti seberapa besar pengorbanan ayahnya sebagai single parent, demi membesarkan mereka berdua. Dua anak tercintanya.

Meskipun semakin hari kadang-kadang Hinata pun tak mengerti tentang sikap ayahnya yang kadang tidak rasional. Satu-persatu jika ada orang yang dianggapnya mengganggu dan menghambat kehidupan kedua anaknya akan disingkirkan. Seperti kejadian pagi itu.

Hinata baru saja menyelesaikan sarapan saat Kaho, seorang pelayan senior menghampirinya tergopoh-gopoh. "Hinata-sama, ini persiapan untuk lomba hari ini." perempuan setengah baya itu menyodorkan sebuah sepatu khusus untuk menari. Hari itu Hinata akan mengikuti kontes menari. Karena agak terburu-buru juga, ia tak sempat mengecek dengan teliti perlengkapannya. Alhasil setelah lomba, meskipun memenangkan juara pertama tapi kakinya cedera. Hinata dimarahi karena kurang hati-hati. Sedang Kaho diberhentikan.

Pernah juga seorang temannya di SMP mengajaknya bermain terlalu lama. Hampir seharian dan mereka kehujanan. Malamnya Hinata demam. Esoknya Hinata tidak boleh berteman dengan temannya itu. Puncaknya, adalah ketika sebagian besar teman yang mengejeknya terbungkam dengan paksa dengan kedatangan ayahnya ke sekolah. Hinata menangis tak mengerti. Pada hari kelulusannya di SMP akhirnya ia harus mengucapkan keinginannya.

"Otousama, a-aku lulus dengan peringkat terbaik tahun ini." Mulai Hinata hati-hati. "Bolehkah aku mengajukan pe-permintaan?"

Hiashi bergeming. Matanya menatap Hinata tajam seolah berkata tanpa bersuara, Katakan keinginanmu, anakku.

"Te-tentang Kaho, bisakah Otousama mengembalikan lagi ke sini? Maksudku, ini bukan sepenuhnya salahnya. Dia tidak berhak menerima hukuman yang terlalu berat. Ju-juga tentang teman-temanku di sekolah. Um, O-otousama tidak usah terlalu khawatir. Aku bisa menjaga diriku sendiri." Hinata bergerak-gerak gelisah. Sungguh sebenarnya ia tidak enak mengucapkan hal tersebut pada ayahnya.

"Apakah kau ingin dibebaskan?"

"Bu-bukan begitu maksudku, Otousama." Hinata menunduk, matanya bergerak-gerak gelisah sembari otaknya mencari kata yang pas. "Aku, aku hanya ingin belajar mandiri ... dan menjadi kuat. Bukankah aku tidak akan bisa mengukur kemampuanku sendiri jika terus dibantu?"

"Kau sudah merasa kuat?" selidik Hiashi. Ia hanya tidak ingin putrinya sengsara atas pikiran gegabahnya.

"Mmh, hai, kurasa begitu."

"Kuat itu bukan hanya soal perasaan." Ujar Hiashi tajam. "Jika kau memang siap, Hinata. Mulai saat ini akan kuberikan tanggungjawab sepenuhnya padamu."

"H-hai. Terima kasih banyak Otousama." Hinata membungkuk dalam-dalam meski ada sedikit kebimbangan. Haruskah ia senang atau bersedih?

Di kamarnya gadis bermahkota indigo duduk di balik pintu. Termenung lama lalu menangis. Ia berbisik, "Okaasama ... aku rindu. Tapi, aku tidak boleh menyusahkan Okaasama juga Otousama." Beberapa menit kemudian ia menghapus air matanya. Anak baik tidak boleh cengeng, bukan? Dan ia harus kuat, menjadi lebih kuat dari pada sebelumnya. Semakin bertambah usia harusnya ia menyadari masalah akan datang lebih besar. Ia siap.

Sambil menatap cermin Hinata merapikan diri dan tersenyum. "Selamat datang hari yang baru."

/phiphiphi/

Sasuke terbangun dengan kepala pening. Posisi tubuhnya yang tertekuk tak simetris semakin membuatnya ngilu. Dimana ini? Nanar matanya menatap pemandangan yang cukup familiar sehingga otaknya tak perlu terlalu keras bekerja. Ruangan seluas empat kali lima itu lengang dengan sofa dan karpet yang diam. Ruang tengah di apartemennya.

Kosong dan hening. Tak ada manusia pun tanda-tanda kehadiran makhluk hidup yang lain. Sasuke sendiri. Benar-benar sendiri. Meski gaung dari peristiwa kasat mata yang telah lalu masih membayang seperti proyektor bisu di hadapnya.

Pemuda itu seolah mematung, tak bergerak mengikuti sekelilingnya yang diam. Matanya mengernyit meski hampa. Menyaksikan kesakitan yang seperti cemilan. Tangan-tangan yang terkepal oleh hati yang mengeras. Tak kenal takut. Mati. Dan Sasuke mulai kecanduan dengan semua itu.

Hari itu, Sasuke pulang ke apartemennya. Tak peduli pada orang-orang yang meneriaki karena ditubruknya tanpa sengaja. Ia hanya ingin segera tiba dan menyendiri. Namun sepertinya takdir berkata lain. Seorang pemuda yang berkomplot tak terima oleh perlakuan Sasuke. Pukulnya semena-mena hanya untuk mengemis sepotong kata maaf. Sebegitu pentingkah? Che!

Uchiha Sasuke membungkam. Kemudian terpaksa menikmati kesakitannya satu persatu dengan hati yang terluka. Tangan pemuda itu bergetar kehabisan tenaga pada mulanya. Lalu menjadi-jadi saat luka itu memberikan kekuatan tak terperi. Untuk menghabisi lelaki bergigi runcing itu, untuk peringkatnya, serta untuk ayahnya dan harga diri. Uchiha.

/phiphiphi/

Aneh memang, minggu ini adalah awal musim panas. Namun hari ini hujan turun dengan deras. Seorang gadis berambut indigo berjalan terhuyung sambil memegangi payungnya gemetar. Ia menggigil. Baju dan tubuhnya basah bukan karena hujan. Tapi sesuatu yang lain yang menimpanya, sebelum hujan.

Hinata melangkah secepat mungkin yang ia bisa, berharap bisa sampai rumah dengan sesegera mungkin. Sejenak ia agak menyesal kenapa mobil jemputannya harus masuk bengkel sehingga sopirnya baru bisa menjemputnya tiga jam lagi. Pun ia tak ingin menyesali keputusannya untuk tidak menunggu di sekolah. Mungkin ia akan mati kedinginan karena tak bergerak.

Gadis itu menghela napas lirih. Kini dirasakan pening kepalanya. Oh, jangan sekarang. Aku harus pulang dengan selamat. Ia benci harus membuat khawatir ayahnya. Namun apa daya, kadangkala pertahanan manusia sebaik-baiknya pun akan runtuh oleh skenario Kamisama yang tak terduga.

Seharusnya Hinata, berbelok ke kanan jika ingin pulang. Namun, kakinya malah membawanya ke kiri, kemudian berhenti di sebuah tanah lapang di belakang toko yang sedang tutup. Dari matanya yang buram karena berair dan juga rintik hujan yang menghalangi, ia terfokus pada sebuah bayangan disana.

Lapangan itu tidak kosong. Beberapa sosok manusia, kalau ia tidak salah mengira dari posturnya, berjenis kelamin laki-laki. Mereka sedang berdiri di sana. Bergerombol menghadap seorang pemuda yang menghadap berlawanan. Mereka berteriak, tanpa payung, atau jas hujan.

Tidak terdengar jelas, Hinata memutuskan untuk mendekati mereka. Ia memicing, sayangnya wajah-wajah itu bukan pemandangan bagus untuk dilihat. Belum lagi, di setiap tangan tergenggam sesuatu seperti pipa besi, kayu panjang, hingga pisau lipat. Telinganya pun kini bisa mendengarkan cukup jelas apa yang mereka obrolkan, jika mereka benar-benar mengobrol.

"Hei bocah tengik. Berhenti berlagak di depan semuanya. Kau yang menyebabkan semua ini terjadi, malah tidak mendapat hukuman apapun. Cih, dasar pengecut."

Hinata mendongak, menatap satu-satunya wajah yang ia rasa cukup familiar di sana. Siapakah? Rambut hitamnya jatuh bersama lelehan air hujan, mengaliri seragamnya yang kuyup. Wajah angkuhnya yang datar semakin terlihat dingin di tengah dinginnya air hujan. Manik obsidiannya ...

"Pasti ini gara-gara ayahnya. Ya, dasar Uchiha sialan!"

... semakin gelap. Deg! Hinata tiba-tiba merasa cemas dan takut secara bersamaan. Ia tak menyesali prediksinya yang tiba-tiba muncul saat pening kepalanya bertambah. Tanpa berpikir dua kali, tubuhnya yang hampir mati rasa ketika beberapa tetes hujan pertama menerpa tubuh mungilnya itu, menerjang ke depan.

/phiphiphi/

Sasuke berdiri sambil menahan dirinya agar tak menerjang duluan ke depan. Ia sudah termakan umpan mereka tadi, tidak ingin untuk kedua kalinya. Namun ucapan, 'Pasti ini gara-gara ayahnya. Ya, dasar Uchiha sialan!' Kenapa nama ayah dan klannya juga dibawa-bawa? Ia membenci mereka namun ini semua tidak ada hubungannya. Sasuke ingin menyalahkan hujan yang bukan hanya membuatnya pusing, tapi juga tidak bisa melihat dengan jernih. Ditahannya tubuh yang bergetar menahan amarah. "Jangan bawa-bawa nama mereka. Aku, Sasuke. Tidak ada hubungannya dengan mereka!"

"Cih, mengelak saja. Sini maju!" Seorang lelaki bertubuh paling besar rupanya tak tahan dengan obrolan terlalu lama di bawah hujan. Kayu yang tergenggam di tangannya berayun-ayun cepat ke arah Sasuke.

Belum sempat tubuh Sasuke merespon, sesosok tubuh yang seharusnya tidak berada di sana menerjangnya.

Buak!

Tiga detik yang hampa. Harusnya Sasuke merasakan sesuatu menghantam kepalanya, namun ia tidak merasakan apa-apa. Pun tak ada darah yang meleleh di wajahnya. Kemudian pertanyaannya terjawab ketika matanya menatap ke bawah, di hadapnya. Hatinya seketika mencelos melihat rambut indigo itu memenuhi retina. Bukan hanya warna indigo saja yang kini mewarnainya tapi juga merah, yang meleleh.

Tangan mungil itu kemudian menggenggam pergelangan Sasuke kuat-kuat. Entah untuk menahan sakit atau menahan tubuh Sasuke yang hendak menerjang ke depan dengan mata menggelap.

"Ja-jangan lakukan i-ini, kumohon." suara itu hampir berbisik tak bertenaga, ia menyisakan sedikit tekanan di akhirnya. "Kau bisa diDO."

Sasuke terpaku. Napasnya memburu. A-apa yang dilakukan gadis itu di sini? Dan apa katanya barusan? Di DO? Keh, jangan bercanda. Sudah berkali-kali ia berkelahi dan berkali-kali pun ia lolos dari tangan guru-guru Konseling. Bagaimana mungkin satu kejadian ini bisa membuatnya di DO? Lagipula lokasi mereka agak jauh dari sekolah. Tidak akan ada yang tahu. Sasuke tersenyum mencibir. Mungkin kecuali gadis ini. Sasuke benar-benar tak habis pikir. Belum tuntas keterkejutannya, gadis itu kemudian berbalik menghadap gerombolan laki-laki yang tidak takut apapun, apalagi mati. Mereka terkekeh menatap, gadis berwajah pucat itu, dengan darah yang meleleh di pipinya, balas menatap mereka dengan dingin.

"K-kalian memang pengecut. Be-beraninya mengeroyok seorang pemuda yang bahkan tidak bersenjata. A-pa yang kalian inginkan?"

Lagi-lagi Sasuke dibuat terkesiap dengan tindakan Hinata. Apa gadis ini sudah gila? Hal ini sama saja mengumpankan diri ke singa-singa buas. Tidak cukupkah Karin dan kawan-kawannya menindasnya di sekolah?

"Heh, gadis sok jagoan. Ngomong apa sih? Tergagap-gagap begitu." Cela laki-laki bertubuh kerempeng. "

"Sekarang juga kami bisa menghabisimu." Sahut yang lainnya. Tawa mereka semakin keras seolah hujan bukan halangan. "Tentu bersama bocah tengik itu."

Hinata menghela napasnya yang semakin berat. Ia sudah terlanjur masuk dan tidak bisa kembali lagi. Demi apapun yang bernama pembulian dengan menguatkan hati ia menegaskan diri, "Na-namaku Hyuuga Hinata. Ke-kelas 3-A Konohagakuen. Ka-kalian bisa mencariku di sana. Ingat jika kalian berani menantang berkelahi lagi, akan kupastikan riwayat kalian tidak ada esoknya."

"Hahaha ... " Mereka tentu saja sama sekali tidak takut dengan ancaman Hinata. Gadis berpostur mungil yang terluka dan terlihat hampir pingsan. Apa dia anggap semua ini hanya main perang-perangan?

"Jangankan besok, sekarang pun kami bisa menghabisi kalian."

Melihat gelagat yang tidak baik itu, Sasuke akhirnya segera menarik Hinata sambil berlari meninggalkan gerombolan itu. Persetan dengan jumlah mereka yang tak seimbang ditambah lagi keadaan Hinata yang sangat buruk. Tertatih-tatih, mereka bersembunyi di sebuah gang sempit sambil berharap darah yang mengalir dari kepala Hinata tidak meninggalkan jejak yang menguntungkan bagi para pengejar.

"Gadis bodoh!" bentak Sasuke akhirnya sambil terengah. Seharusnya Sasuke bersyukur Hinata masih bisa mengikuti larinya. Agak terkejut ditatapnya wajah Hinata yang sudah sangat pucat dengan bibir membiru. Rambutnya kusut masai. Sebagian sudah tidak berwarna indigo lagi karena tercampur warna merah, darah. Tangan mungil digenggamannya terasa panas dan bergetar hebat. Jika diperhatikan agak mengerikan juga. Satu-satu tanda kehidupannya adalah bahu yang naik turun dengan napas tersengal.

"K-kau lebih bo-doh lagi." balas Hinata tajam dengan suara lirih. Jemarinya yang bergetar naik menyentuh pipi Sasuke, menekan luka yang ada di sana.

"Li-lihat, lu-kamu ba-bahkan belum kering be-nar. Da-dan kau berniat me-menambah luka baru?" Hinata tahu luka itu kemarin saat berpapasan dengan Sasuke di koridor sekolah.

Sasuke menggeram marah. Bahkan di keadaannya yang seperti ini Hinata masih mengajaknya beradu mulut. "Berhenti mengasihaniku, Hinata!"

Hinata memandang dari balik kelopaknya yang sayu, katanya setengah mengejek, "A-aku tidak mengasihanimu, Sa-sasuke. Beruntung mereka tidak bermulut besar sehingga menyebarkan berita tentangmu hingga sampai telinga ayahmu. Jika hari ini kau kalah dari mereka kemudian berita tentangmu yang berkelahi tersebar, apa yang akan dikatakan ayahmu?"

Ada garis air lain yang mengalir di pipi Hinata, yang tersambung dengan ujung matanya bergabung dengan lelehan air hujan. "Katakan padaku. Apa yang akan kau lakukan dan apa yang akan terjadi padamu jika kejadian itu sampai terjadi, hei, pemegang juara umum?"

Pemuda itu membuang muka. Tahu apa dia tentang hubungannya dan ayahnya? Selama ini mulutnya mengatup erat-erat. Harga dirinya sebagai Uchiha tak ingin kecacatan apapun terlihat. Ia ingin menyangkal, tapi tidak bisa menolak bahwa ketidakharmonisan dalam keluarganya merupakan aib yang memalukan. Topeng yang selama ini dijaganya dengan rapi, dikoyak paksa oleh Hinata.

"Dan, kau juga berhentilah mengkhawatirkanku. Aku sudah terbiasa dengan hal ini, bukan?" ucapan Hinata terputus-putus, tak lebih dari berbisik. Ia menyeka darah yang akan masuk ke matanya. "Begini rasanya ya?" Hinata berucap lirih. Kadang-kadang ia membayangkan rasanya Sasuke yang berdarah-darah.

Sesakit inikah yang dirasakan Sasuke? Perih. Hinata sendiri tidak mengerti. Pada titik ini ia kembali bertanya, tanpa berniat menyesali, alasan keberadaannya di sini. Bukan, bukan karena mengasihani Sasuke. Ia tahu, laki-laki tanggung itu kuat secara fisik melebihi ekpektasi siapapun. Namun, secara psikis, Hinata tidak tahu seberapa rapuh Sasuke.

Mungkin nama Uchiha itulah yang membuat Hinata kadang merasa memahami. Uchiha juga merupakan salah satu klan ternama. Kiprahnya di dunia bisnis jangan ditanya. Setiap pewarisnya terkenal akan kejeniusan dan ketegasannya. Dan setiap anak pemimpin klan menanggung beban yang sama.

Derap kaki yang tersamar oleh hujan terdengar di sebelah kanan mereka. "Dimana bocah- bocah tengik sialan itu?"

Sasuke merapatkan tubuhnya ke arah Hinata. Dicengkramnya bahu Hinata kuat-kuat seolah takut Hinata akan jatuh kapan saja. Setelah dirasa orang-orang itu sudah agak jauh ia merasakan sesuatu yang panas menyentuh dadanya. Kening Hinata. Dalam hati ia merutuk, berapa kali lagi dalam sehari gadis ini akan menyusahkannya.

"Kita harus pergi dari sini, sebelum mereka kembali. Bagaimana kau akan pulang?" Sasuke melepaskan pelukannya.

"Ja-jalan kaki."

Sasuke menghela napas berat. Ia tidak tahu tahu dimana tepatnya letak rumah gadis itu, tapi yang jelas cukup jauh dari sini.

"Kita ke apartemenku saja," putusan Sasuke. Tidak mungkin ia membiarkan seorang gadis Hyuuga, di tengah hujan, tanpa payung, dikejar-kejar preman, dalam keadaan demam pulang sendirian. Sebelum iris bening itu mengajukan penolakan, ia menariknya keluar gang. Apartemennya hanya berjarak lima rumah dari situ.

"Sa-sasuke, a-aku tidak bisa ke rumahmu." Giliran seperti ini, suara Hinata terdengar benar-benar memelas. "K-kau tau 'kan, tidak baik seorang gadis ke tempat seorang pemuda sendirian."

"Diamlah. Aku tidak tertarik berbuat macam-macam padamu. Yang terpenting kita harus ke tempat yang lebih aman. Kau mau kutinggalkan di sini kemudian dicincang?" dalam hati Sasuke ingin memaki dirinya yang tidak bisa menenangkan seorang gadis. Beruntung Hinata kemudian terdiam dan mengikuti langkahnya sambil sesekali menatap khawatir depan dan belakang jika ada orang yang mengikuti.

Mereka semakin dekat dengan apartemen Sasuke. Namun tubuh Hinata terasa semakin berat. Beberapa kali ia terantuk langkahnya sendiri membuat Sasuke harus menunggunya dengan wajah dingin.

"Gantilah pakaianmu dengan ini!" ucap Sasuke sambil menyodorkan tiga lembar pakaian pada Hinata yang tengah bersandar pintu depan, berusaha berdiri. Ia menolak masuk lebih dalam.

"Kau mau mati kedinginan di situ, hah?" tampaknya Sasuke sudah kehilangan kesabarannya. Didorongnya Hinata ke dalam kamar mandi bersama baju yang dipinjaminya.

"Cepat ganti! Kalau tidak, aku yang akan mengganti bajumu." Tentu saja itu hanya gertakan.

Sasuke sudah mandi dan berganti baju. Ia tengah duduk di salah satu kursi di ruang tengah sambil menghela napas berat beberapa kali. Ia tidak tahu sejak kapan dirinya begitu peduli pada seorang gadis. Apalagi ini adalah gadis Hyuuga. Mungkin sejak gadis itu mencampuri urusannya. Ya, pasti begitu.

Cklek. Pintu kamar mandi terbuka. Hinata berdiri gemetar sambil memegangi baju seragamnya yang basah. Wajahnya yang pucat kini sedikit memerah malu. Kameja dan sweater Sasuke tampak terlalu besar di tubuh Hinata yang menjuntai hampir selutut. Rambutnya yang masih basah tertutup oleh handuk mungil. Sesaat Sasuke terpana melihat Hinata yang nampak begitu polos dan rapuh. Namun ia segera mengingatkan pada dirinya perbuatan Hinata yang telah merugikannya itu. Suasana jadi canggung. Hinata disuruhnya duduk di sofa, sementara ia membuat coklat panas. Tapi begitu ia kembali, Sasuke mendapati Hinata tertidur.

Tanpa sadar dibelainya wajah Hinata yang terasa menyengat. Kemudian jemarinya menyentuh rambutnya yang halus. Warna merah kemudian tertinggal di buku-buku jarinya menyentakkan Sasuke kembali ke alam nyata.

bersambung ...