Bagian IV:
Sakura mengetuk apartemen bernomor 207 perlahan. Apartemen yang sudah sangat ia hafal. Pemilik apartemen itu pasti akan menghubunginya jika ia sedang terluka tanpa ingin diketahui oleh keluarganya. Ia pun tidak meminta apa-apa, karena melihat pemiliknya pun sudah membuatnya berbunga-bunga. 'Apa Sasuke habis berkelahi lagi?'
Sesosok wajah yang dikenalnya kemudian muncul, mengisyaratkan untuk masuk. Ia mengeryit ketika menyadari bahwa Sasuke baik-baik saja. 'Lalu untuk siapa Sasuke memanggilnya? Apakah mungkin ....'
Kaki Sakura melangkah mengikuti Sasuke ke kamarnya. Ia berdebar memikirkan mengapa Sasuke membawanya ke sana. Namun hatinya tiba-tiba ditusuk ribuan jarum ketika melihat sosok yang terbaring di sana.
"Obati dia. Kepalanya terluka." perintah Sasuke masih seperti biasa.
Sakura memandangi gadis itu dengan perasaan tak menentu. Tapi tak ingin Sasuke kecewa, ia pun mendekatinya. Gadis itu sungguh cantik meski wajahnya pucat dan bibirnya agak membiru. Selimut Sasuke menutupi tubuhnya hingga ke bawah dagunya. Kedua bibirnya yang mungil terbuka sedikit mencari udara.
Sakura menyentuh kepala gadis itu yang tertutup handuk. Ia tertegun melihat luka benturan di samping pelipisnya. Luka itu belum kering karena kepala gadis ini begitu basah seolah habis diguyur air. Ketika tanpa sengaja jemari Sakura menyentuh telinganya, ia tersentak oleh hawa panas yang tiba-tiba terhantar ke tubuhnya. Kamisama, gadis ini juga demam. Kening, leher, tangan, kemudian kaki semua terasa panas. Dengan tergesa ia mengambil termometer. 40 derajat. Mendadak ia merasa takut, suhu yang terlalu tinggi pada tubuh bisa menyebabkan kematian. Ditolehkan kepalanya pada Sasuke yang sedang duduk di kursi belajarnya sambil menatapnya dingin.
"Sasu-ke, kau punya obat penurun panas?"
"Cari saja di kotak obat." Sakura segera beranjak, ada beberapa penurun panas dengan antibiotik. Cukup bagus untuk sementara. Setelah membalut luka di kepalanya, Sakura segera meminumkan obatnya pada gadis itu yang sama sekali tak terusik.
"Kapan terakhir kali dia makan, Sasuke?" tanya Sakura lagi.
"Aku tidak tahu."
Sakura menghela napas, sudah menduga. "Kalau dia bangun nanti, beri dia makan kemudian minumkan obatnya setiap 6 jam sekali. Sehari sekali ganti perbannya. Jika kau punya pengering rambut lebih baik kau keringkan rambutnya."
Sasuke berdecak kesal. Sejak kapan ia disuruh-suruh apalagi untuk melayani gadis Hyuuga ini. Sakura yang mengerti akan sikap Sasuke kemudian berujar, "Sebenarnya ... siapa gadis ini?" jeda sesaat. "Jika kau tidak mau mengurusinya kenapa tidak kau kembalikan saja ia ke rumahnya?"
Ide bagus! Dan setelah itu Sasuke akan dibunuh oleh Hyuuga Hiashi juga ayahnya. Seluruh topengnya pasti akan terbongkar.
"Tidak. Aku bisa melakukannya sendiri." ucap Sasuke akhirnya.
Sakura yang sejak awal sudah sakit hati dan pasrah karena hanya inilah peran yang diberikan untuknya mulai membereskan barang-barangnya. Di ambang pintu ia bisa merasakan tatapan Sasuke yang dingin. "Jangan katakan pada siapapun tentang gadis ini."
Sakura hanya diam mendengarkan kata-kata yang selalu diulang Sasuke untuknya setiap kali keluar dari apartemennya pada waktu-waktu yang tidak biasanya. Sepatunya sudah terpasang. Ketika hendak melangkah, bahunya tertarik kembali, "Kapan demamnya akan turun?"
"Aku harap besok pagi." Dan pintu pun tertutup membiarkannya Sakura sendirian sambil mengigit bibirnya. Ia rasa sudah tak ada harapan untuknya.
/phiphiphi/
Langit begitu gelap. Bulan telah tergantung tepat di tengah-tengahnya. Tak ada tanda tanda kehadiran sesosok makhluk pun. Kecuali seorang pemuda tanggung yang tengah terpaku menatap buku-buku pelajaran di depannya. Pensil di tangannya tak bergerak menunggu perintah dari sel-sel otak.
Pada ayahnya yang berada di rumah, pada ibunya, juga kakaknya di luar negeri. Sebenarnya apa arti kehadiran dirinya bagi mereka ... bagi dirinya sendiri?
Kadang ia merasa gamang terhadap keberadaannya. Ayahnya tidak pernah menunjukkan penerimaan, meskipun ibunya selalu memaksa Sasuke untuk percaya bahwa sebenarnya ayahnya menyayanginya. Dan orangtua menyayangi anaknya dengan cara berbeda-beda. Lalu kakaknya, jenius yang telah berhasil itu, apakah benar-benar menyayanginya dan tidak menyembunyikan senyum kemenangan dari balik meja?
Rasa itu kadang membuat kesal setengah mati, bahkan pada dirinya sendiri. Sehingga tanpa sadar ia begitu terhanyut pada pertarungan fisik. Susah payah ia bersembunyi pada dunia. Memaksa sekolahnya untuk tidak menyebarkan berita itu pada orangtua atau kolega keluarga Uchiha, dan hanya karena tidak mau kehilangan salah satu aset terbaik, sekolah mengabulkannya.
Ia bisa bebas melampiaskan emosi sekaligus meraih juara umum dan olimpiade setiap tahun. Semua seperti rutinitas baginya, sekolah sudah bosan mencegahnya berkelahi, pun Sakura, satu-satunya orang yang berhubungan langsung dengan keluarganya hanya diam setiap kali Sasuke memintanya mengobati luka akibat berkelahi.
Tapi kenapa ada orang asing yang merusak rutinitasnya? Hyuuga Hinata. Dia hanya seorang gadis yang punya riwayat tidak lebih menyedihkan daripada Sasuke. Berjuang agar sang keluarga menganggapnya pantas sebagai salah satu pewaris nama Hyuuga. Padahal ayah sendiri meragukan kemampuannya. Pun di sekolah, tak seorangpun mau dekat-dekat dengannya karena dianggap bisa membawa sial dekat pada orang yang memiliki segalanya. Dilecehkan, disiksa, tapi gadis itu seolah tak peduli, yang terpenting ia tidak mengotori tangan dengan berbuat hal-hal yang memalukan Hyuuga. Padahal ia sendiri selalu tidak bisa mengalahkan Sasuke, menjadi nomor dua. Mungkin di situlah kesialannya. Kebalikan yang memilukan. Dan sekarang, dia melarang Sasuke berkelahi? Oh, lelucon macam apa itu? Mengumbar tentang kekuasaan di luar tapi tak berdaya di dalam. Sungguh menggelikan.
Sasuke memandangi lagi gadis yang tertidur di ranjangnya dengan beribu arti. Ia tidak mengerti kenapa ia mau membiarkan gadis berdarah biru itu menginap di apartemennya. Belum pernah Sasuke mengijinkan temannya menginap apalagi perempuan, berdua, ya, hanya berdua dengannya! Apalagi gadis itu bukan siapa-siapanya. Mungkin ada perasaan mengerti jika ayah gadis itu menemukan anaknya dalam keadaan lemah dan berantakan seperti sekarang. Cih, sejak kapan Sasuke mengenal kata peduli selain pada diri sendiri?
/phiphiphi/
Hinata masih berbaring menggigil. Sesekali matanya bergerak-gerak akibat mimpi yang mungkin tidak menyenangkan. Gelap. Semuanya gelap. Tidak ada ibu, ayah, atau adiknya. Hinata sendirian. Kemudian ia terengah sambil membuka mata.
Yang pertama kali dirasakannya adalah kedinginan. Dan ia kemudian menyadari ia menggigil dengan suhu tubuh naik. Matanya menatap susah payah ke sekeliling. Ini bukan kamarnya juga bukan ruangan-ruangan yang pernah dikenalnya. Aroma maskulin yang menguar dari selimut tebal yang terbentang di atasnya membuatnya mengingat dengan susah payah. Tentu saja ini kamar Sasuke. Jangan tanya bagaimana ia bisa berada di sini sementara ingatan terakhirnya hanya sampai sofa.
Panik mulai menyergapnya ketika kesadaran-kesadaran lain mulai muncul. Sudah berapa jam aku tertidur? Tanyanya dalam hati sambil memegangi kepalanya yang terasa sakit akibat bangun tiba-tiba. Ia menyibak selimut, lalu menemukan sang empu kamar masih duduk di depan meja, mungkin belajar. Ada sebersit perasaan malu dan bersalah.
"Mau kemana?" suara khas laki-laki itu memecah ruangan membuat Hinata tersentak, meragukan kembali keputusannya. "Sekarang pukul 23.30."
Hinata terbelalak, seketika tubuhnya yang sudah lemah itu semakin terasa tidak berdaya. Apa yang sudah dilakukannya di sini? Bagaimana dan di mana Sasuke akan tidur? Apa kata ayahnya jika ia tidak memberi kabar tadi dan malah tidur di rumah teman laki-lakinya? Apakah Ko, sopirnya, akan mendapatkan hukuman? Begitu banyak hal yang tidak diketahuinya sekaligus membuat Hinata merasa lemas. Pusing di kepalanya semakin menjadi-jadi. Terhuyung ia berjalan mencari tasnya. Ia harus menelepon.
"Tasku?"
Sasuke menunjuk sebuah tas ungu muda yang masih basah dekat lemari di ruang tengah.
Ia bisa melihat Hinata sedang duduk di atas sofa dengan kening berkerut, tegang.
Wajahnya sedikit mengeras, suaranya terdengar seperti orang yang tidak sakit, ketika orang yang diteleponnya tampaknya sudah menjawab panggilan.
"Moshi-moshi Otousama –ayah?" Hinata memejamkan mata sejenak seolah mencari kekuatan.
"Aku minta maaf tidak mengabari kalau aku harus menginap di rumah teman. Tadi ponselku mati kehujanan. Dan aku harus mengerjakan tugas kelompok hari ini untuk dikumpulkan besok pagi."
"Ya, dengan beberapa teman lainnya." Omong kosong, sejak kapan Hinata mempunyai teman yang bersedia mengerjakan tugas dan menginap bersamanya, dalam hati Sasuke tertawa geli mendengar percakapan itu.
"Terima kasih banyak, Otousama. Besok pagi-pagi aku pulang." sambungan terputus. Hinata duduk merosot, seolah menelepon tadi menghabiskan hampir seluruh tenaganya. Ia juga mengigit bibirnya seolah menyesali setiap kebohongan yang telah terucap. Kemudian tubuhnya tersentak, ketika teringat sesuatu.
Matanya yang pucat menatap Sasuke takut dan bersalah. Bagaimana mungkin ia membiarkan dirinya menginap di tempat seorang pemuda, hanya berdua. Ia memandang telepon genggamnya berharap ada nama lain yang bisa digunakan sebagai alternatif menginap di tengah malam seperti ini. Tapi sayangnya tak kunjung muncul.
Terbata ia mengucapkan sesuatu,"Sa-su-ke ... " Hinata bingung memilih kata-kata. "A-aku ... "
Sasuke menunggu.
"A-apakah a-aku a-akan baik-ba-ik saja jika menginap di-tempatmu?" Hinata merutuk dalam hati, itu bahkan bukan kalimat permohonan. Ia kemudian semakin menyesali kata-katanya begitu didengarnya jawaban Sasuke yang dingin dan menusuk.
"Bukankah tadi pun kau tak perlu meminta izin untuk tidur di sofaku?"
Hinata menggigit bibir.
"Tidurlah di tempat terakhir kau meletakkan tubuhmu."
"L-lalu, Sa-sasuke?"
"Kepedulianmu tidak membuat keadaanku lebih baik, nona Hyuuga."
Hinata berjalan tertatih kembali ke kamar Sasuke. Dekat Sasuke duduk, Hinata membungkukkan badannya dalam sambil bertumpu erat-erat pada pinggiran ranjang, berterimakasih. "Sumimasen ... –maaf merepotkan."
Ia kemudian membaringkan tubuhnya. Sebelum benar-benar jatuh tertidur bibirnya melantunkan beberapa bait haiku musim panas. Ia baru ingat, ada tugas tentang itu besok.
/phiphiphi/
Jalan pulang siang itu seakan berubah memanjang dan mengendur. Sasuke mengucek-kucek matanya kesal. 'Ini pasti gara-gara insomnia', pikirnya. Beberapa hari terakhir Sasuke mengalami gangguan pada jam tidurnya. Ia tidak bisa tidur pada jam-jam biasanya ia memejamkan mata. Akibatnya ia jadi tertidur pada waktu-waktu yang tidak seharusnya.
Tragedi yang ditimbulkan oleh nona besar Hyuuga beberapa hari lalu memang membuatnya pusing tujuh keliling. Selama ini Sasuke cukup puas dengan usahanya 'membantai' para preman-preman pembuat onar itu. Tak pernah sekalipun di pikirannya terlintas untuk mencoba berdamai dengan mereka. Mereka yang tidak peduli dengan apapun, yang menginginkan kebebaasan, atau sekedar bersenang-senang memuaskan nafsu 'terpendam' mereka. Mereka membuat Sasuke muak. Sedangkan ia sendiri berusaha mati-matian agar 'selingannya' itu tak terusik. Seperti sebuah aktivitas rutin. Terlihat namun dianggap lalu. Remeh.
Sejenak Sasuke berusaha menenangkan diri. Sejak kejadian itu, sepertinya tidak terjadi kejadian apapun yang lebih besar. Lebih tepatnya ia tak tahu karena ia belum bertemu Hinata lagi. Ia bisa mengira-kira jika Hinata pasti telah diincar oleh gerombolan preman kemarin. Pentolan geng tersebut, Suigetsu, merupakan orang yang lumayan licik, tidak mudah tertarik pada belas kasihan, juga memiliki jaringan yang luas. Sasuke saja hampir kewalahan kemarin gara-gara informasi yang didapatkan oleh Suigetsu mengenai latar belakang keluarganya. Untung saja sepertinya Suigetsu tidak tertarik pada latar belakangnya karena ada seseorang yang lebih menarik untuk dijadikan mainannya, Hyuuga Hinata.
Wajah Hinata yang angkuh dan dingin memenuhi matanya. Bibirnya yang mengendur dan terbuka sedikit ketika tertidur mengeluarkan uap-uap hangat. Darah yang tercampur di rambutnya yang basah. Matanya menatap kosong dan sendu. Sasuke mencengkram kepalanya erat. Bayangan-bayangan itu lama-lama membuatnya gila. Kenapa Sasuke harus peduli pada gadis itu? Meskipun peringkatnya selalu di bawah Sasuke, ia adalah saingan terberatnya. Segala macam hal selama itu sah, akan dilakukan pula oleh gadis itu demi mengalahkan Sasuke.
Sasuke ingat bagaimana pertama kali mereka bertemu. Bukan perkenalan yang menyenangkan meski Sasuke akui cukup mengesankan. Keangkuhan saat tertekan dan kelembutannya di saat yang bersamaan merupakan kontradiktif yang aneh. Menjadi bukti kerapuhannya.
Bayangan gadis lain berambut merah yang sedang menindas gadis berambut indigo membuatnya tersentak. Bayangan itu jelas bukan berasal dari cahaya pantulan matanya melainkan dari kilasan-kilasan memori otaknya. Sasuke terhenti dan mengingat kejadian pagi ini. Hari terakhir masuk sekolah sebelum liburan musim panas. Tidak ada yang istimewa baginya. Semua terasa membosankan. Terlalu damai sampai Sasuke sedikit merasa aneh.
Lalu muncullah pantulan gadis itu saat Sasuke melewati toilet perempuan. Terseret-seret oleh tangan-tangan tak bertanggungjawab. Ditontoni oleh gadis berambut merah. Mulanya biasa saja karena, kejadian itu telah sering dilihatnya. Namun di belakang si gadis, berdiri seorang lelaki bermulut tajam yang sedang tersenyum menyeringai.
/phiphiphi/
Napas Sasuke terengah. Kakinya masih kuat untuk berlari namun otaknya hampir buntu untuk memberikan perintah. Semua tempat yang diketahuinya sudah disambangi. Keberadaan Hinata masih terselubung misteri. Sasuke menarik rambutnya kesal. 'Kenapa ia harus peduli pada Hinata?' Tanyanya lagi. Gadis itu hanya menyusahkan hidupnya. Namun ketika diingatnya ekspresi sendu Hinata ia merasa ada yang salah jika meninggalkannya begitu saja.
Semua ini memang kesalahan gadis itu, tapi gadis itu tak akan terlibat sejauh ini jika tidak bertemu dengannya. Sasuke tadi baru teringat bahwa gadis berambut merah, yang biasanya menindas Hinata adalah pacar Suigetsu. Suigetsu pernah mengancam Sasuke jika berani-berani mengganggu pacarnya itu.
Satu-satunya tempat yang belum Sasuke jelajahi adalah sekolah. Ia memutuskan berlari ke sana. Melongok satu-persatu ruangan yang sudah terkunci. Dimana? Ia mulai putus asa. Jika gagal, ia hanya bisa berdoa supaya Tuhan sudah mengantarkan Hinata dengan selamat pulang ke rumahnya.
Belakang sekolah terlihat sepi. Gudang nampak terkunci seperti biasa. Sasuke melongok ke dalam. Tak ada tanda-tanda keberadaan manusia. Semilir angin membujuk Sasuke untuk pulang.
Kaki Sasuke kemudian tersandung sesuatu. Matanya menyiratkan keterkejutan yang teramat melihat beberapa sosok manusia yang tergeletak begitu saja di atas rumput dengan ekspresi kesakitan. Beberapa nampak tidak sadar meski tak ada bercak darah pada tubuh mereka. tak jauh dari tempat itu bersimpuh gemetar seorang gadis berambut indigo. Penampilannya sangat menyedihkan.
Tubuh yang setengah basah itu penuh dengan bercak darah dimana-mana. Kulitnya yang pucat semakin jelas tertimpa sinar matahari. Kedua tangannya menyilang, memeluk tubuhnya yang gemetaran. Hari ini tidak hujan, oleh sebab itu pastilah air yang mengaliri pipi gadis itu pasti air mata.
"Hinata!" Sasuke berteriak tertahan sambil berlari menghampiri gadis berambut indigo itu. Ia dapat mengira-kira apa yang telah terjadi. Ia sedikit lega melihat Hinata yang masih sadar. Namun kenapa di sekelilingnya anak buah Karin dan Suigetsu berjatuhan? Apakah ada yang membantu Hinata? Siapa? Lalu dimana Suigetsu?
Sasuke mengedarkan pandangannya dan hanya menemukan sosok Karin yang tergeletak tak sadarkan diri tak jauh dari Hinata. Ia merasa semua itu terasa agak janggal. Disentuhnya pundak Hinata perlahan. Ia tidak tahu di bagian tubuh sebelah mana memar Hinata akan bertambah.
"Sas-Sasuke?" Hinata menengadahkan kepalanya yang berdenyut hebat. Membalas tatapan sepasang obsidian yang menatapnya tajam sekaligus kasihan?
Pemuda berambut raven itu memandang Hinata dengan sedikit cemas. Tak pernah ditemuinya wajah Hinata yang seperti ini. Wajahnya menunjukkan kesakitan yang amat sangat. Matanya yang terus mengalirkan air mata itu menyimpan ketakutan, penderitaan, dan kekalahan. Selama diganggu oleh Karin dan teman-temannya Hinata tidak pernah sekalipun menampakkan wajah seperti itu. Paling-paling hanya pandangan kosong.
"A-aku takut, Sas," air mata Hinata tumpah. Tubuhnya bergetar, beringsut memeluk dirinya sendiri. "a-ku menyakiti mereka. A-aku me-melukai mereka se-semua."
Sasuke mendongak. Mengedarkan pandangannya sekali lagi ke sekeliling mereka. Hinata yang menyebabkan ini semua? Setidaknya begitu pengakuan Hinata barusan. Tapi kenapa? Bukankah Hinata membenci kekerasan? Dan, bagaimana?
"Mereka hanya pingsan." Ujar Sasuke menenangkan.
Hinata tergugu. Keadaannya tampak menyedihkan saat ini.
"Kau, bagaimana keadaanmu?"
"Ba-baik. Ti-tidak a-pa-apa." Dengan sebelah tangannya disekanya air mata bercampur darah di pipinya. "Ka-kau belum pulang? Ba-bagaimana kau bisa menemukanku?"
Ctak!
"A-aduh," Hinata mengelus dahinya yang disentil Sasuke.
"Bodoh! Benar-benar bodoh!" hardik Sasuke. "Kau tak tahu hah, sudah menyusahkan orang?"
Mencicit pelan, Hinata menunduk. "M-ma-ma-af." Kemudian terkejut ketika Sasuke menubrukkan diri padanya. Melingkarinya dengan sebuah pelukan. Lengan Sasuke yang kokoh memberikan rasa aman pada Hinata , memecah isak Hinata yang sedari tadi tertahan.
Sasuke mendengar detak jantungnya sendiri yang berjalan lambat. Baru kali ini ia merasa damai yang menenangkan. Pada titik ini pun, ia kehilangan alasan atas apa yang sedang diperbuatnya. Memeluk gadis Hyuuga? Dalam keadaan normal hal itu sangat tidak mungkin terjadi. Namun sejak awal pertemuan mereka memang tidak pernah normal.
Mereka terikat dengan ikatan tak kasatmata. Aroma tindas-menindas, kekuasaan absolut, dan harga diri menjadi makanan sehari-hari keduanya. Perasaan sok mengerti satu sama lain kadang menguat. Bisakah mereka disebut sebagai teman jika demikian?
Bukan berarti Sasuke mencari pelarian baru. Tapi gadis ini juga membutuhkannya, bukan? Orang tua mereka sama-sama sibuk. Sangat sibuk. Hingga tak sempat mengerti kebutuhan anak-anaknya. Apa yang mereka inginkan hanyalah hasilnya. Hasil yang memuaskan ekspektasi mereka. Hinata kadang hidup dalam negeri dongeng. Drama adalah rutinitasnya. Menjadi putri dengan segala kemewahannya tak tersentuh oleh kesengsaraan. Di lain waktu menjadi orang paling menderita tanpa benar-benar tahu kapan lingkaran itu berakhir.
Sasuke, Hinata. Nama mereka kini dipertemukan oleh waktu dan permainan takdir. Sasuke tidak tahu, akankan hubungan ini sirna setelah keadaan ini memang akan berakhir suatu hari nanti? Sasuke tidak tahu, bagaimana rasanya punya teman yang sebenarnya? Sasuke juga tidak tahu, bagaimana harusnya ia memperlakukan orang lain, —perempuan terutama?
Ia hanya mengikuti instingnya. Ia hanya mengikuti apa yang terasa nyaman di hatinya. Mimpi-mimpinya yang mengabur tak dihiraukannya. Bertahan hingga saat ini pun merupakan keajaiban, jika Sasuke menyadari. Tak perlu hal muluk-muluk lainnya.
Saat ini, ia ingin membeku saja meski sinar matari menyorot mereka dengan gamblang.
/phiphiphi/
"Sasuke, awas!" Hinata mencengkeram lengan Sasuke kuat-kuat ketika seseorang datang dari belakang Sasuke sambil membawa sebatang pipa besi. Di wajah itu ada senyum yang memuakkan sekaligus menakutkan. Sayangnya Hinata terlambat. Belakang kepala Sasuke terkena benturan keras. Dan orang itu nampaknya ingin menghabisi mereka berdua. Dipukulkannya pipa besi itu ke arah keduanya. Pada Sasuke yang hampir tak sadarkan diri atau pada Hinata yang tengah memeluk Sasuke.
"He-hentikan. Kumohon Suigetsu-san! Sasuke tidak salah apapun!" ceracau Hinata putus-putus. Ia hampir pingsan juga terkena hantaman pipa besi bertubi-tubi dari Suigetsu.
"Per-gilah ... Hinata ..." bisik Sasuke. "Dari awal ini salahku."
"Ti-tidak, Sasuke ti-tidak salah apa-apa." napas Hinata tersengal. "Ma-maafkan aku, sa-sadarlah. Jangan pergi ..." Hinata meraung ketika dilihatnya darah mulai meleleh dari tubuh Sasuke. Suigetsu pun tak mengurangi pukulannya meskipun Hinata memohon. Keduanya sudah tidak berdaya.
"Hahaha! Rasakanlah itu bocah tengik! Kau pikir kekayaan bisa membuatmu menguasai semuanya?" Suigetsu terbahak dengan mata gelap. Ia tak berpikir akibat perbuatannya.
"Kekuatan! Ya, kekuatan! Kau harus memilikinya!"
Tubuh memiliki memori sendiri. Pun Hinata, terhadap kehidupannya selama 18 tahun di dunia. Sekecil apapun aksi pasti tubuhnya bereaksi. Entah itu dengan diam atau terpaksa bergerak ketika terdesak. Seperti ketika Karin dan komplotannya menyeretnya ke gedung belakang sekolah. Bukan hanya makian dan cengkeraman dengan kuku panjang. Biasanya Karin tak menyertakan benda-benda tajam yang berkatagori berbahaya namun, kali ini tidak. Kemarahan Karin lebih dari ini terasa berbeda. Bukan, bukan hanya kesenangan semata yang ada dalam hasrat matanya.
"H-hentikan Karin!" Hinata berusaha mengelak tapi gagal. Tubuhnya terempas ke tanah kosong yang tak bersalah. Tubuhnya bergetar ngilu. Bayangan mereka yang semakin merangsek maju mulai menakuti Hinata. Darah pada wajah Sasuke dan komplotan orang-orang yang berwajah memuakkan. Hardikan ayahnya saat latihan taekwondo, 'Bangkit, Hyuuga! Kau harus menjadi kuat dan melindungi dirimu sendiri ketika otak tak berguna lagi!' Saat ia baru saja mulai bangkit, satu tendangan meluncur.
Hinata mencengkram pergelangan tangan Karin lalu merunduk, dengan satu sapuan ia menjatuhkan Karin. Kemudian satu persatu Hinata merobohkan komplotan itu.
Hinata terengah. Lelehan keringatnya bercucuran. Berusaha merebut pipa besi dari genggaman Suigetsu. Tak dihiraukannya tubuhnya yang membiru dan ngilu. 'Suigetsu harus dihentikan. Atau dia akan membunuh kami berdua!'
Ketika Suigetsu lengah ditendangnya kaki Suigetsu sekuat tenaga. Malang bagi Suigetsu karena langsung oleng kemudian terjatuh. Pipa besi di genggamannya ikut goyah dan jatuh tepat di atas matanya. Hinata memekik ngeri.
Suigetsu tergeletak tak sadarkan diri dengan pipa besi berlumuran darah tergeletak di sampingnya. Kemudian yang terdengar hanyalah isakan Hinata. Suaranya yang panjang terdengar memilukan. Sayup terdengar hingga gerbang.
Matahari semakin meninggi. Sinarnya semakin terik. Memanggang tiap-tiap partikel materi yang terpapar olehnya. Menariknya ke awan jika itu adalah liquid. Seperti halnya genangan merah yang tercecer sembarangan di atas rerumputan, di atas tubuh-tubuh. Meninggalkan jejak yang mengering perih.
Hinata menangkap berkas-berkas cahaya matahari yang tersaring bulu matanya. Ia memandang kosong ke atas, matahari musim panas. Biasanya ia akan tersenyum sambil meresapi kehangatannya. Namun kali ini terasa menyakitkan sekaligus menakutkan. Cahayanya terlalu terang. Hinata tak sanggup melihat apapun. Kehangatan yang diharapkannya berubah menjadi panas yang menusuk.
Matahari musim panas seolah tertawa, mengejek raut-raut tak berdaya. Memanggang ironi menyisakan elegi. Apa yang bisa diharapkan dari siswa-siswi senior seperti Hinata dan Sasuke? Mungkin mereka belum cukup besar untuk mengerti akan membayar budi.
tamat.
Kuroi Natsu — Black Summer [5.9.2015]
.
.
.
A/N— Fiuuuuuuuuh, akhirnya selesai dipublis juga. Karena ini sebenarnya oneshot yang sangat panjang (dan kemudian saya bagi menjadi beberapa bagian dengan pertimbangan tertentu) saya ucapkan terima kasih banyak, hontou ni arigatou buat kamu yang sudah membaca dari awal hingga akhir. Juga buat uchihajin27, siskap906, liyaneji, cintyahyuuga1, ucihaii, Line-chan SHL, Fleur Choi, Euiko Katayanagi terimakasiiih. Untuk Yukeh dan Kumo hiks, saya ndak tahu harus bilang apa. Pokoknya salam ketjup manis dari saya.
Bagaimana menurut kalian? Jika berkenan, silahkan tinggalkan jejak.
Sugu mata ne,
