Dua buah helicopter melintas di langit atas kepalaku. Itu pasti Chris dan rekan-rekannya dari BSAA. Entah kali ini mereka akan menuju ke mana. Yang pasti, aku hanya ingin kembali menyaksikan kakakku berada di dalam helicopter yang sama saat benda tersebut kembali.

"Kamu baik-baik saja?" suara Ada memecah lamunanku. "Kopi mu sudah mulai dingin."

Lagi-lagi aku tenggelam dalam pikiranku sendiri, padahal jelas-jelas aku tidak sedang sendiri. Ada baru saja sampai dan tentu saja aku harus menyambutnya dengan hangat. Tapi, malah aku juga yang tidak sengaja mengacuhkannya.

"Maaf, aku sedang tidak bisa fokus belakangan ini." Aku tertawa garing.

Ada hanya tersenyum seakan langsung bisa membaca pikiranku. "Tidak perlu khawatir. Chris akan segera kembali."

Aku hanya bisa membalas senyumannya sembari mulai mencari topik pebicaraan baru. "Um... Tumben sekali kamu datang sendiri kali ini?"

"Leon sedang mendapat misi."

"Astaga, kenapa orang-orang sibuk sekali!"

"Menyenangkan bukan? Toh mereka memiliki kesibukan yang lebih baik dibandingkan dulu."

"Ya... sebenarnya iya. Tapi..."

"Tidak lama lagi kita semua bisa semakin sering berkumpul, aku yakin."

Kuseruput kopi dalam gelasku. Angin dingin bahkan sudah membuatnya tidak mengepulkan asap lagi. "Bagaimana denganmu, Ada?"

"Beruntungnya tugasku selesai lebih cepat. Aku tidak terlalu suka berada di tempat yang menjadi tujuan dari misiku kemarin. Keadaannya mengerikan sekali."

"Oya? Apa nama tempat itu?"

"Rockfort island."

Jantungku seakan berhenti sesaat karena mendengar sebuah nama yang tentu saja aku kenali sebelumnya. Semua kenangan sesaat bermunculan di dalam kepala. Dari mulai seperti apa keadaan tempat tersebut, si kembar yang menyeramkan, monster-monster menjijikan, dan pertemuan dengan seseorang...

"Claire?" Lagi-lagi aku melamun. Dahi Ada mulai mengerut karena heran. "Kamu tahu tempat itu?"

"Ya. Aku pernah terjebak di sana. Tapi, itu sudah lama sekali."

"Hmm..."

"Ada... Apa kamu menemukan seseorang di sana?"

"Seseorang?"

"Ya, dulu dia merupakan seorang tahanan. Namanya Steve Burnside."

Ada menyimpan gelas kopinya hingga berdenting pelan. Memberikan jeda waktu yang membuatku semakin berdebar. Kupikir dia hendak memberikan kabar bahagia, tapi ternyata aku harus kembali kecewa. "Maaf Claire, aku tidak bisa memberikan kabar baik. Lagi pula tempat itu sudah benar-benar menjadi kota mati."

Rasa kecewa tentu ada, tapi tidak terlalu menyakitkan karena aku sudah tahu jawabannya. Sangat bodoh jika aku terus berpikir bahwa Steve masih hidup. Padahal jelas-jelas aku melihatnya menderita karena virus dalam tubuhnya saat itu. Hanya saja... sesuatu di dalam hatiku terus memaksa agar aku tetap berharap bahwa dia masih hidup. Bahkan harapanku besar bahwa Wesker membawa Steve pergi dari tempat itu. Sayangnya, aku tidak bisa mencari tahu karena Chris telah menghabisi Wesker terlebih dahulu.

Aku memang bodoh, padahal jelas-jelas Neil telah mengisi kekosongan dalam hatiku, tapi entah kenapa tanpa sadar keberadaan Steve tidak pernah bisa hilang. Aku sudah melupakannya sejak lama seali, tapi di saat ada hal yang mengarah kepadanya, dengan mudah semua ingatanku akan lelaki itu kembali bermunculan. Dan sama halnya pada hari ini, bayangan akan dirinya kembali muncul tanpa aku pinta.