"Sudah lama kita tidak makan di tempat ini."

"Ya, sejak ulang tahunku tahun lalu."

"Maaf akhir-akhir ini pekerjaanku semakin banyak. Kita jadi tidak memiliki waktu bersama seperti dulu lagi."

Aku menggeleng sembari tersenyum. "Tidak masalah. Aku akan selalu mendukungmu."

Kukira kali ini hubunganku dengan Neil akan semakin membaik setelah selama dua tahun lebih kami hidup bersama, tapi nyatanya saat ini merupakan awal dari retaknya hubungan kami. Hanya karena sebuah khayalan yang masih terus menempel dalam kepalaku.

Di tengah makan siang kami di sebuah restoran, aku tidak sengaja menangkap sesosok orang yang entah kenapa membuat tubuhku bereaksi. Seakan aku mengenal orang tersebut hanya dari rambutnya semata. Aku tidak bisa memandanginya jelas, karena pohon besar menghalangi tubuhnya. Sedikit kilatan cahaya terpantul melalui anting kecil pada telinga sebelah kiri orang itu. Hal tersebut semakin membuatku tidak tahan untuk tidak merasa penasaran.

"Steve?" tanyaku spontan. Hampir aku ingin berlari ke luar kalau saja tidak ingat keberadaan Neil yang mulai bertanya-tanya.

"Ada apa?" tanya Neil sembari turut memandang ke arah sama.

"Ah, tidak. Aku mengira ada teman lamaku di sana. Tapi, sepertinya aku salah."

Berat rasanya saat harus berkata bohong kepada orang yang tidak pernah menyembunyikan sesuatu dariku. Sementara aku sendiri tidak pernah menceritakan soal Steve kepada Neil. Sepertinya hal tersebutlah yang akan segera menjadi bumerang untukku.

Saat kukembalikan pandangan ke arah sebelumnya, orang tadi sudah menghilang. Aku berusaha untuk menganggapnya sebagai khayalan semata. Sepertinya bayangan akan Steve semakin kuat, dan semakin buruk bagiku. Dengan mudahnya aku berkata 'Mungkin tadi hanya hayalanku semata karena mimpi semalam.' Aku tidak ingin mengambil pusing hal tersebut.

Akan tetapi, kejadian seperti tadi tidak hanya terjadi sekali, ternyata barusan hanya merupakan permulaan dari khayalan lainnya. Sejak saat itu aku merasa rasa rinduku, pikiranku, semakin bertambah buruk. Tak jarang aku terdiam, termenung, tenggelam dalam pikiran sendiri. Neil sempat menanyakan tentnag hal yang akhir-akhir ini menggangguku, tapi aku selalu memiliki alasan yang mengada-ada. Kuyakin Neil tahu aku menyembunyikan sesuatu, tapi dia terlalu lembut untuk memaksaku mengatakan hal yang sebenarnya.