"Bertahanlah! Kami akan mengeluarkanmu dari sini."

"Ti-tidak. Aku tidak akan mampu. Kamu tahu itu. Virus ini sudah ada dalam tubuhku."

"Tidak! Kamu akan pergi bersama kami!

"Claire... A-aku, mencintaimu..."

"Steve? Steve?"

"Steve!"

"Claire?"

Tubuhku tersentak. Kurasakan kesedihan yang nyata meski telah terbangun dari mimpi. Keringat bercucuran, membuat tidurku tidak nyaman. Napasku masih memburu, dan kurasakan buliran air mata mulai terjatuh dari ujung mata.

Neil turut terbangun karena teriakkanku. Dia terlihat khawatir dan mencoba menenangkanku yang justru kembali menangis. Padahal langit masih gelap. Bahkan aku baru tertidur beberapa jam. Entah berapa kali aku mengalami mimpi yang sama di tiap malam. Seakan tidak ingin membiarkanku untuk terlelap dengan nyenyak, atau mungkin tidak membiarkanku untuk melupakan seseorang dalam mimpi itu.

Akhirnya Neil sudah tidak bisa membendung lagi rasa khawaitrnya. Dia membawaku kepada seorang psikiater yang memberitahunya bahwa aku mungkin terpengaruh oleh seseorang yang hingga saat ini masih kupikirkan. Semua itu tidak cukup untuk membuat dia tenang. Mau tidak mau Neil terus mendesakku untuk mengatakan siapa lelaki bernama Steve yang sering kali muncul dalam igauanku tiap malam. Tapi, aku memilih untuk terus bungkam. Hal tersebut tentu saja membuat sebuah perubahan besar. Aku bisa merasakan bahwa Neil menyimpan sebuah kekesalan, atau mungkin kecemburuan terhadap seseorang yang tidak dia ketahui.

Semua hal yang diberikan dan diajarkan oleh psikiater tidak merubah apapun. Aku masih bisa merasakan keberadaan Steve. Bahkan aku selalu merasa dia mengikutiku kemanapun aku pergi. Terkadang aku melihatnya melintas di depan mataku. Apa mungkin sebentar lagi aku akan gila? Pikirku dalam hati.

Suatu saat, hal yang tidak pernah kuharapkan terjadi. Aku sedang bekerja seperti biasa dan kebetulan sedang berdiskusi dengan seorang rekan. Di saat yang sama, aku kembali melihat bayangan Steve di luar gedung tempat kerja. Saat itu aku sedang berada di lantai satu.

Tentu saja aku berpikir ringan dan menganggapnya sebagai sebuah khayalan yang biasa tejadi. Hanya saja, aku tidak bisa melepaskan pandangan dari orang yang sangat mirip dengan Steve itu hingga dia benar-benar melintas di depan gedung. Saat itu rekanku sedang berbicara, namun aku sama sekali tidak bisa fokus. Mataku terus memperhatikan lelaki tersebut. Dia melintas, aku melihatnya dari kaca. Sebagian besar kepalanya tertutupi oleh tudung dari jaket. Tapi aku masih bisa melihat poni yang menyembul.

Kuperhatikan orang tersebut semakin teliti. Lengan jektnya sedikit tergulung, dan itu menyebabkan sebuah tato pada lengan kirinya terlihat jelas. Banyak orang memiliki tato pada lengannya, namun tidak banyak yang berbentuk seperti barcode. Aku tidak bisa menahan diri untuk tidak segera menemui orang tersebut. Alhasil, aku abaikan rekanku yang masih terus berbicara dan berlari ke luar gedung. Rekanku memanggil, namun aku tidak berhenti.

Aku berusaha mengejar sosok yang kini sudah sangat sulit ditemukan di dalam kerumunan. Aku berusaha mengingat warna jaketnya.

"Itu dia!" gumamku saat mendapati pria berjaket biru tua yang sedang berjalan menjauh. Aku memacu gerakkan kaki dnegan lebih cepat agar tidak perlu tertinggal. Beberapa orang terjatuh akibat tertabrak tubuhku. Aku hanya mengucapkan maaf sambil berlalu.

Meski banyak halangan, akhirnya keberadaanku semakin dekat, dan semakin dekat dengan sasaranku. Langsung saja kujenggut bagian belakang jaketnya hingga orang tersebut berhenti. Bisa kulihat warna yang sama pada rambutnya yang sudah tidak terhalang oleh tudung jaket. Aku sangat antusias menunggu orang tersebut berbalik. Hanya saja, entah kenapa aku merasa menemukan orang yang salah.

"Hmm... ya?" ucap orang tersebut kebingungan.

"A-umm... maaf. Saya sepertinya salah orang." Aku bergegas berbalik setelah yakin lelaki berwajah lonjong tersebut benar-benar bukan Steve. Tentu saja aku kecewa, dan kesal sekesal-kesalnya. Seperinya kepalaku membuat semua orang terlihat seperti Steve. Seharusnya aku tidak mempercayai penglihatanku untuk sementara waktu.

Malam itu aku pulang dengan lesu. Tadi siang rekanku marah habis-habisan karena aku pergi tanpa izin saat dia sedang memberikan laporan. Dan, Neil semakin memperburuk mood-ku. Rekanku tadi ternyata menceritakan semuanya. Bahkan diapun bercerita bahwa aku meneriakan nama Steve sesaat sebelum pergi.

"Aku tidak tahu kenapa orang bernama Steve itu begitu mempengaruhimu belakangan ini. Bahkan kamu tidak mau menceritakannyakepadaku. Apa orang itu sangat penting untukmu?" Baru kali ini aku melihat Neil semarah ini kepadaku. Seakan dia sedang mengalami kebangkrutan akibat perbuatanku.

"Justru karena tidak penting sama sekali aku merasa tidak perlu menceritakannya."

"Lantas untuk apa kamu meninggalkan pekerjaan untuk hal yang sama sekali tidak penting?"

Tanpa sadar aku meneteskan air mata saat Neil masih terus berbicara tanpa henti. Aku sendiri tidak mengerti kenapa tiba-tiba seperti ini. Rasa sedih menyeruak seketika tanpa dipinta. Neil kembali dibuat terkejut olehku. Dia berhenti berbicara dan duduk di sampingku. Mungkin dia berpikir sudah terlalu keras hingga membuatku menangis. Padahal bukan karena hal itu.

Aku tidak berkata-kata hingga akhirnya terlelap. Meski samar-samar, namun bisa kutangkap Neil akhirnya berbicara dengan lembut dan meminta maaf. Inti dari pembicaraannya adalah bahwa dia percaya padaku dan tidak akan menyinggung mengenai Steve lagi. Dia hanya berpikir bahwa aku membutuhkan waktu untuk terlepas dari masalah ini.

Hal tersebut membuatku sadar akan kehadiran Neil yang tidak boleh kusia-siakan. Tidak banyak lelaki baik sepertinya yang dapat kutemui. Sungguh menyesal jika aku ternyata tidak bisa membuatnya terlepas dari beban pikiran, hanya karena khayalanku semata.

Oleh karena itu, aku benar-benar bertekad untuk menghapus Steve secara permanen dari dalam pikiranku. Tidak peduli apakah dia benar-benar ada atau hanya ada dalam pikiran semata.