Ada tiga pengalaman paling menyesakkan dalam hidupku, yaitu saat berpisah dengan orang tua, terjebak di tengah kota penuh mayat hidup, dan satu lagi hal yang terjadi akibat terulangnya kebodohanku. Aku bukan orang yang mau terjatuh pada lubang sama berulang kali. Mungkin kali inilah pertama kalinya aku lakukan hal tersebut.

Malam ini Neil mengajakku makan malam di sebuah restoran mahal. Aku berusaha seceria mungkin karena dia pasti mati-matian membuatku kembali seperti semula. Hidup tenang tanpa terbayangi oleh ingatan akan Steve.

Kulihat Neil berpakaian sangat rapi, bahkan dia membelikanku seikat bunga. Tapi entah kenapa dia yang terlihat bertingkah aneh kali ini. Padahal ruangan terasa tidak panas dan tidak dingin, tapi dia berkeringat.

Kebanyakan orang tentu saja akan langsung tahu apa yang akan seorang pria lakukan jika terlihat seperti itu. Tapi, entah kenapa aku sama sekali tidak bisa menyadarinya. Hingga akhirnya aku melihat Neil mengeluarkan sebuah kotak kecil berwarna hitam. Dia membukanya di hadapanku. Sebuah cincin cantik berkilauan di dalamnya. siapa wanita yang tidak terkejut saat melihat hal tersebut. Aku mulai berdebar dan terlihat sama tegangnya dengan Neil.

"Claire... Mungkin akhir-akhir ini kita lebih sering berdebat. Tapi, aku yakin hal tersebut terjadi karena hubungan kita semakin erat. Dan, aku tidak ingin menunggu lebih lama lagi untuk mengatakan ini..."

Aku semakin berdebar. Sesekali aku lirikan mata ke arah lain untuk menenangkan diri. Beberapa saat lagi detik-detik berharga dalam hidupku akan terjadi. Akan tetapi... lagi-lagi sosok yang tak kuinginkan untuk muncul kembali terlihat di luar restoran. Kini dia tersenyum kepadaku meski aku tidak bisa melihat jelas wajahnya yang tertutup tudung jaket. Orang itu kembali pergi dan berjalan cukup pelan sehingga aku kembali bisa melihat tato barcode nya.

"Claire, maukah kamu..."

'Brugh!' kurasakan meja sedikit berguncang saat aku mendadak bangkit dan berlari untuk mengejar sosok Steve. Hal penting yang sedang dikatakan Neil seakan tidak bisa membuatku untuk tetap diam dan menunggu setidaknya beberapa detik lagi. Mataku hanya terfokus pada sosok tadi tanpa mendengarkan suara Neil yang memanggilku.

Aku terus berlari, tidak ingin melepaskan buruanku untuk yang kedua kalinya. Aku berharap bisa menemukannya karena di malam hari orang yang berlalu lalang tidak sebanyak saat siang. Kakiku terus berlari, bahkan saat sosok tadi sudah benar-benar menghilang. Tapi, aku tidak peduli.

Lariku tidak melambat karena sangat ingin menemukan orang tadi. Sayangnya, setelah tanpa sadar aku sudah berlari selama satu jam, tidak ada hasil apapun yang kudapat. Tubuhku sangat lemas, terutama kakiku yang terus berlari tanpa henti. Di atas trotoar aku terduduk, bersandar pada tiang lampu yang remang-remang. Gemuruh terdengar dari atas langit, diiringi dengan rintikan hujan yang semakin bertambah deras. Air itu membasuh wajah dan menyadarkanku akan keadaan Neil. Aku marah kepada diri sendiri yang sudah melakukan kesalahan besar. Kali ini aku akan benar-benar menyerah. Aku sudah lelah terus mengejar sebuah bayangan.

Kini aku akan meminta maaf dan menjelaskan semuanya kepada Neil tanpa ada yang ditutupi. Ya, seperti itulah seharusnya rencanaku saat beberapa hari lalu. Sekarang, semua sudah terlambat. Aku tidak akan bisa mengembalikan gelas yang pecah seperti sedia kala. Apalagi jika yang pecah adalah hati seseorang.

Kulihat Neil berdiri di depan restoran semari memandangi hujan. Restoran sudah terlihat sepi, sepertinya tak lama lagi akan tutup. Aku berjalan cepat di bawah hujan sembari tersenyum berharap sebuah pelukan saat Neil melirik ke arahku. Hanya saja, aku sudah tidak bisa mendapatkan kehangatan yang sama seperti sebelumnya. Neil bahkan tidak tersenyum sama sekali.

"Maaf..." ucapku.

"Sudah cukup," Neil memotongnya. "Sudah cukup, Claire. Aku tidak ingin mendengar apapun lagi. Semua sudah jelas tanpa perlu kamu jelaskan."

"Tapi, biarkanlah aku menjelaskan agar kamu mengerti."

"Aku sudah mengerti. Perbuatanmu akhir-akhir ini yang menjelaskan semuanya. Dan meyakinkanku akan sesuatu. Bahwa selama ini kamu tidak jujur kepadaku. Kamu masih menyembunyikan sesuatu yang ternyata hal tersebut begitu mempengaruhimu hingga seperti ini." Neil mendengus dan tersenyum kecil. "Bodohnya aku Claire. Kupikir masih bisa memberimu kesempatan. Seharusnya aku sudah tahu, bahwa lelaki yang selalu ada di dalam pikiranmu itu, bukan aku."

"Itu tidak benar!"

Neil menanggahkan kepala setelah mengusap wajahnya. Dia menarik napas panjang dan mulai berbicara tanpa memandang wajahku. "Ya, hari ini adalah hari terberat dalam hidupku. Karena aku harus mengatakan, bahwa ini adalah hari dimana hubungan kita berakhir."

Sebuah panah menusuk tepat di dadaku. Membuatku sesak seakan tidak ada lagi oksigen yang tersisa. Aku tidak bisa mengatakan apa-apa lagi. Hanya bisa termenung, menyaksikan sosok Neil yang menjauh dan menghilang dari hadapanku.

Kepalaku terasa berat dan pusing. Dadaku sesak. Hatiku sakit. Air mata tak hentinya berderai. Aku jatuh terduduk karena sudah tidak kuat menopang berat tubuhku. Air hujan sama sekali tidak kupedulikan. Justru membuatku memiliki memiliki teman untuk berbagi kesedihan saat ini.

Aku sudah tidak memiliki kekuatan untuk berlari dan menemui Neil lagi. Bahkan terjebak dalam Raccoon City seakan terasa jauh lebih baik untukku dibanding harus merasakan semua ini. Kali ini aku kehilangan sesuatu yang berharga. Tidak bisa, hal satu ini tidak akan bisa diperbaiki. Aku tahu benar seperti apa Neil. Dan aku tahu seperti apa diriku sendiri. Karena semua murni kesalahanku, maka aku pula yang harus menanggung kesedihan ini. Kebodohanku, membuatku pantas mendapatkan rasa sakit ini.

Entah apa yang dipikirkan orang-orang saat melihatku terduduk di bawah hujan seorang diri. Tapi, aku sudah tidak peduli. Bahkan, aku sudah tidak peduli kepada diriku sendiri.

"Claire?"