Sudah tiga hari aku tinggal di rumah Jill. Sebenarnya ini rumahku juga, mengingat dulu aku tinggal di sini bersama Chris. Selama itu juga, aku belum masuk kerja kembali. Bahkan pikiranku belum kembali seperti semula. Setiap saat aku mengurung diri di dalam kamar. Tidak berbicara kepada siapapun, bahkan kepada Jill sekalipun. Dia harus mati-matian memaksaku makan karena memang aku sudah tidak memiliki nafsu untuk melakukan apapun.
Semua itu tentu saja membuat tubuhku semakin melemah dan jatuh sakit. Bahkan aku merasa semua hal yang baru saja terjadi telah merenggut pikiran dan perasaanku. Aku tidak bisa merasa bersalah padahal sudah merepotkan dan membuat Jill khawatir.
Akhirnya, Chris yang mendapatkan laporan akan keadaanku segera pulang. Dia terlihat sangat khawatir saat aku melihatnya masuk ke dalam kamar. Saat itu juga aku segera memeluknya yang baru saja duduk di atas kasur. Aku kembali menangis sejadi-jadinya. Bahkan Chris belum sempat mengatakan sepatah katapun.
Tidak ada orang yang ingin kuceritakan tentang semua ini selain kakakku sendiri. Chris akhirnya berani bertanya setelah tangisku mulai reda. Dan akupun mulai bercerita hingga ke hal yang terkecil. Dia hanya mendengarkan tanpa menginterupsi sembari terus menenangkanku. Tanpa sadar, malam ini aku tertidur dalam dekapan Chris.
Keesokan harinya aku merasa jauh lebih baik. Perasaan dan pikiranku jauh lebih ringan. Aku bahkan sudah bisa merasa lapar dan segera menghabiskan sandwich buatan Jill yang sudah tersedia di atas meja. Aku melahapnya hingga tidak tersisa, dan segera keluar kamar untuk mencari Chris. Tapi, aku hanya menemukan Jill yang sedikit terkejut melihat perubahan pesat dalam diriku. Dia berkata bahwa Chris sedang pergi ke markas BSAA dan menunguku di sana.
Aku tidak mengerti kenapa Chris ingin aku pergi kesana. Apa mungkin dia berubah pikiran dan memperbolehkanku untuk bergabung bersamanya? Yang pasti, aku yagn sedang dalam keadaan prima ini tidak ingin berpikir panjang lagi dan segera pergi ke sana. Sebenarnya Jill sangat mengkhawatirkanku. Tapi dia hanya tertawa saat aku berkata sudah pulih sepenuhnya berkat sandwichnya.
Semua orang di BSAA sudah mengenalku. Mereka bahkan tidak segan mempersilahkanku masuk ke dalam markasnya. Aku pernah beberapa kali pergi ke sini dan melihat Chris yang sedang bekerja di dalam ruangannya. Kali ini pun aku bergegas ke tempat tersebut, berharap Chris ada di sana. Tapi, aku hanya mendaatkan ruangan kosong. Kuputuskan untuk menunggu karena mungkin saja dia sedang keluar sebentar.
Aku duduk di atas kursi empuk milik Chris saat terdengar suara pintu dibuka. "Chris?" panggilku spontan. Hanya saja seorang lelaki lain yang sedang terkejut muncul dari balik sana.
"Hai, maaf aku bukan orang yang sedang kamu cari."
"Piers? Apa kamu tahu Chris pergi kemana?"
"Dia baru saja berangkat untuk menyelesaikan misi."
"Hah?" aku semakin tidak mengerti kenapa Chris menyuruhku ke sini sedangkan dia pergi begitu saja tanpa berpamitan.
"Chris memintaku untuk menyerahkan ini kepadamu."
Kini aku mendapatkan sebuah hadiah berupa beberapa berkas yang entah tentang apa. Aku bergegas membuka dan melihat isinya. Betapa terkejutnya aku saat membaca semua tulisan di dalamnya. Ternyata berkas yang kudapat ini berisi tentang data mengenai Steve. Aku tahu berkas tersebut mengatakan bahwa orang tersebut sudah dinyatakan tidak selamat dalam bencana di Rockfort. Sedih memang membacanya, hanya saja hal tersebut pula yang membuatku merasa tenang. Amat tenang.
"Aku memang tidak mengerti ada apa. Sebenarnya dari beberapa hari lalu setelah mendapat kabar dari Neil, Chris memintaku untuk melihat keadaanmu. Tapi, ternyata aku menemukanmu, um... di depan sebuah restoran..."
"Jadi, itu kamu?" Bahkan aku sendiri tidak tahu bahwa malam itu Piers yang mengantarku pulang.
"Ya. Aku sedikit panik karena tiba-tiba saja kamu pingsan saat itu. Tapi, entah kenapa aku hanya berpikiran untuk membawamu ke rumah Chris. Setelah itu Chris menyuruhku untuk meminta tolong Ada mencarikan berkas ini dan memberikannya kepadamu sekarang. Chris tidak memiliki pilihan lain untuk segera pergi karena memang kemarin dia memaksakan untuk kembali hanya untuk memastikan kamu akan baik-baik saja. Dia hanya bilang, mungkin kamu hanya sedang menunggu sebuah kepastian dari hal yang selama ini terus kamu pendam sendirian. Hmm... kira-kira seperti itu." Piers menusap-usap bagian belakang kepalanya. Mulai terlihat kebingungan ingin berkata apa.
Aku kini bisa tersenyum seperti sedia kala. Meski aku masih tetap marah kepada Chris. "Dia memang selalu seenaknya sendiri. Terimakasih, Piers."
"Aku tidak melakukan apa-apa."
"Oiya, kenapa kamu tidak pergi dengan Chris?"
Piers terdiam sejenak. Aku sadar dia tengah memikirkan sesuatu dan enggan untuk menjawab pertanyaanku. Apa mungkin aku sudah mengatakan hal yang salah?
"Chris memberikanku misi yang lain."
"Misi apa?"
"Misi untuk adiknya."
"Dasar, Chris! Dia memang selalu seenaknya saja!" Aku tertawa di saat Piers terlihat sedikit menahan malu. "Baiklah kalau begitu, kamu harus bersiap menjalankan misi. Karena aku berencana pergi ke suatu tempat."
"Kemana?"
"Ada kedai pancake yang enak di kota. Dan, aku ingin pengawalku berganti pakaian lebih dulu."
